Jumat, 01 Februari 2019

Tawa Rasulullah SAW (10)

Tawa Rasulullah SAW (10)
Oleh aminuddin



Adab Tertawa

"TIdakkah kamu perhatikan bagai mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS Ibrahim: 24-26).

Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sampailah lurus hatinya dan tidak akan lurus hatinya, sampailah lurus lidahnya.” (Riwayat Ahmad).

Berikut 13 adab tertawa :

1. Tidak Terkekeh-Kekeh.
Perumpamaan dalam Al- Quran di atas amat menarik untuk direnungkan. Hal itu menggambarkan betapa mulia dan terhormatnya orang yang senantiasa berbicara dengan perkataan yang baik dan yang bermanfaat.

Dalam hadits Rasulullah SAW tadi, dijelaskan bahwa lurusnya iman seseorang merupakan syarat lurus nya hati. Juga syarat lurusnya hati dengan lurusnya lisan. Penjelasan yang amat terang ini sudah pasti mudah untuk dipahami.

Lurusnya lisan antara lain tidak mudah tertawa dalam hal-hal yang sia-sia dan mubadzir atau diistilahkan dengan tertawa tanpa sebab.

Kalaupun ada sebab-sebab harus tertawa, hal ini dilakukan dengan mengikuti kaidah dan adabnya, yaitu tertawa dengan memperbanyak senyum dan tidak terkekeh-kekeh seperti suara keledai.

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu mence ritakan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyaknya bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.” (Riwayat at-Tirmidzi).


Rasulullah SAW pernah memberi kan beberapa nasihat kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, di antaranya:

“Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. At-Tirmidzi)

Oleh karena itulah, Umar ibnul Khaththab pernah berkata:

“Barangsiapa banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya dan orang yang banyak salahnya berarti banyak dosanya, dan nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.”

Ucapan Umar ini amat tepat karena lidah manusia sebenarnya amat mudah tergelincir dan mudah untuk mengungkapkan kata-kata dusta, sia-sia atau dosa.

Malahan karena lidahlah kita tertawa terkekeh-kekeh sampai-sampai lupa mengingat Allah SWT.


2. Tidak Tentu Arah.
Mu’adz pernah menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kamu jika saya katakan kepadamu tentang sendi dari semua kebaikan itu?”

Aku (Mu’adz) menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.”

Maka beliau menunjukkan pada lidahnya, seraya berkata, “Jagalah ini!”

Aku berkata, “Ya Nabi Allah, apakah kami akan memperoleh siksa akibat ucapan kami?”

“Betapa celakanya engkau wahai Mu’adz, bukankah orang yang tersungkur ke dalam neraka itu, melainkan hasil menabur fitnah melalui lidah-lidah mereka, akhirnya menuai siksa-Nya?” (Riwayat Tirmidzi dan Al-Hakim).

Lidah tidak bertulang. Inilah ungkapan orang tua kita berkaitan dengan mudahnya lidah melakukan dosa. Ia terlalu lembut dan mudah untuk digerak-gerakkan.

Justru itu, beruntunglah orang yang menjaga lidahnya dari perkara-per kara yang berdosa dan bergelak tawa yang tidak tentu arah.


3. Tidak Keras.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan :

“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah melalui dua lubang (yaitu lubang) mulut dan faraj (kemaluan).” (Riwayat at-Tirmidzi)

Mulut yang tidak dijaga akan menyebabkan tertawa yang terkekeh-kekeh dengan suara keras.

Tertawa dengan suara keras adalah tertawa setan sewaktu dikeluarkan dari sisi Allah di dalam surga.

Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah berbicara melebihi dari dzikrullah. Sesungguhnya dengan banyak berbicara akan mengeraskan hati dan bila hatinya telah keras maka ia akan menjadi semakin jauh dari Allah.”


4. Nada yang Jelas.
Tertawalah dengan nada yang jelas tanpa ada rasa keraguan dan jangan tertawa dengan nada yang samar-samar atau ragu-ragu.

5. Secara Berhadapan.
Tertawalah di depan orang dengan cara bertentangan mata dan jangan tertawa di belakang. Ini untuk menghindari timbulnya keraguan dan salah paham.

6. Jangan Tertawa Tiba-Tiba.
Jika seorang sedang berbicara tentang sesuatu topik dan topik itu belum habis dibicarakan, janganlah tertawa karena berarti memotong pembicaraannya. Tertawa ketika perbincangan belum habis berarti tertawa tiba-tiba yang bisa mengagetkan orang lain.

7. Jangan Tertawa ketika  Makan.
Jika seseorang sedang makan, maka janganlah tertawa karena perbuatan itu amat menjijikkan dan tidak disukai orang.

8. Jangan Tertawa di Depan Orang Sakit.
Jangan tertawa di depan orang yang sedang sakit karena hal itu dapat membuatnya sedih. Sebaliknya, ucapkanlah sesuatu yang menyenangkan dan menghiburnya.

9. Jangan Meniru Gaya Tertawa Orang Jahil.
Jangan sesekali meniru gaya tertawa atau percakapan orang yang jahil dalam agama.

10. Jangan Menertawai Orang Lain.
Jangan menertawai orang lain, karena itu dapat menimbulkan fitnah serta mencaci maki orang.

11. Jangan Menertawai Orang Tua.
Jangan menertawai orang yang lebih tua dari kita, sebaiknya tertawalah dengan senyum untuk memuliakan mereka.

12. Jangan Tertawa Gelak dan tidak Menyenangkan.

Jangan menertawai seseorang dengan gelak tawa yang tidak menyenangkan karena itu dapat menimbulkan sakit hati dan permusuhan.

13. Jangan Tertawa Tanpa Sebab.
Jangan menertawai sesuatu perkara yang Anda sendiri masih belum memahami topiknya.








______

Syahida.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar