Selasa, 19 Maret 2019

Tangga Bahagia (2)

Tangga Bahagia (2)
Oleh aminuddin




TANGGA pertama adalah perasaan kelezatan dalam hidup.

• Ada manusia yang ketika mengha dapi makanan seperti menghadapi barang yang tidak ada rasanya, ti dak ada lezatnya, betapapun enak dan mahal harganya. Orang seperti ini adalah orang yang belum men coba bagaimana rasa lapar. Dan belum pula merasakan bagaimana hasrat selera kepada makanan di kala susah mencarinya.

• Kaum Epicurian yang makan ha nya sekadar untuk hidup saja. Lebih dari jangkaan itu, dia mendongkol dan sudah dipandangnya berlebihan.

(Atau sebagai kaum Suluk Thariqat Naqsyabandi yang di dalam Rabi thah 40 hari, makannya hanya ditentukan setakar nasi dengan garam, tidak boleh makan daging dan lada. - Penyalin).

• Orang yang sangat rakus. Baru saja melihat makanan, belum sampai masuk mulutnya, air seleranya telah titik. Orang ini tidak mau berhenti makan sebelum lebih dari kenyang.

• Orang yang mempunyai pencerna an yang sehat dan fikiran yang wa ras. Mereka suka kepada makanan, dan makan dengan nafsu yang ba ik, tetapi sebelum sampai kepada kenyang, dia sudah berhenti. Dia tidak mengisi perutnya sampai penuh.

Orang yang merasa bahagia di da lam hidup, hampir samalah keada annya dengan orang makan pada poin keempat ini. Mereka merasa dan mengakui bahwa makanan itu memang lezat, tetapi tidak mereka perturutkan kehendak nafsunya lebih dari yang semestinya.

Kebahagiaan seorang insan sangat berhubungan dan bersangkut paut dengan tarikan hidup. Bertambah kuat tarikan tali itu, bertambah kuat pula pertalian diri dengan bahagia.

Yang menyebabkan kebencian ke pada hidup, yang menyebabkan hidup ini tidak menarik hati jika tidak tahu rahasia hidup. Manusia yang arif akan arti hidup dengan sedalam-dalamnya, bukan seteng ah-setengah jalan, senantiasa me rasa beruntung dan tenteram.

Akal adalah alat yang pertama da lam menyeberangi hidup. Dia ambil segala lukisan lahir yang terbentang di luar, dibawanya masuk ke dalam akalnya. Ketika itu timbullah lezat dan puas.

Bekerja dan berusaha dengan tidak mempergunakan akal, dan tidak kuat membawa apa yang di luar ke dalam "pabrik" akal supaya beroleh bentuk yang spesial menyebabkan akal menjadi "pengangguran", tum pul.

Kecewa datang, bahagia terbang .....

Apa yang membawa akal kepada tarikan hidup?

Dengan cara bagaimana akal dapat mencari bahan buat diberi bentuk di dalam batin?

Jawabnya adalah dengan jalan me nghadapi hidup dan tidak justru mengutuki hidup. Sebab hilang ke kuatan akal itu ada pada kebanya kan manusia di hari ini lantaran te rikat oleh rasam basi (adat istia dat), etiket, yang dibuat oleh kemajuan.

Cobalah perbandingkan bagaimana kaum biadab Afrika berburu menja ngan atau mrnjaring ikan, dengan orang pergi ke kantor.

Keduanya sama-sama mencari makan, namun kelezatan yang dirasai orang biadab itu atas ma kanan yang didapatnya, lebih dari kelezatan orang makan gaji atas gaji yang didapatnya setiap bulan atau setiap minggu.

Karena orang primitif itu hanya se mata-mata mengobati kelaparan, sedangkan orang kota sudah di tambahi keperluan-keperluan lain yang pada hakikatnya tidak perlu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar