Oleh aminuddin
Bacaan Tafkhim dan Tarqiq
TAFKHIM menurut bahasa adalah Tebal. Sedangkan menurut istilah adalah sifat huruf yang harus diba ca tebal dengan sebab tertentu.
TARQIQ menurut bahasa adalah Tipis. Sedangkan menurut istilah adalah sifat huruf yang harus diba ca tipis karena sesuatu sebab.
Sebelum mempelajari Tafkhim dan Tarqiq hendaklah terlebih dahulu mengetahui huruf Isti'la'. Adapun huruf Isti'la' itu terkumpul dalam kalimat ...
Khushsho .. Dhaghthin .. Fidzh =
Shad .. Dhad .. Ghin .. Tha ..
Qaf ... Dzha ..
Huruf Hijaiyyah, bila dilihat dari segi sifat, terbagi menjadi tiga macam :
• Dibaca Tafkhim
• Dibaca Tarqiq
• Boleh dibaca Tafkhim dan Tarqiq. 1
_____
1
Tafkhim ( تَفْخِيْمُ ) merupakan masdar dari Fakhama ( فَخَّمَ) yang berarti menebalkan. Sedang yang disebut dengan bacaan Tafkhim adalah menyembunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tebal.
Pada pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bacaan tafkhim itu menebalkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf di bibir (mulut) dengan menjorokkan ke depan (bahasa jawa: Mecucu), bacaan tafkhim kadang-kadang disebut isim Maful Mufakhamah ( مُفَخَّمَةٌ ).
Tarqiq ( تَرْقِيْقٌ ) merupakan bentuk masdar dari raqqaqa ( رَقَّقَ ) yang berarti Menipiskan. Sedang yang dimaksud bacaan Tarqiq adalah menyembunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tipis.
Pada pengertian itu tampak bahwa tarqiq menghendaki adanya bacaan yang tipis dengan cara mengucap kan huruf dibibir (mulut) agar mun dur sedikit dan tampak agak me ringis.
Bacaan Tarqiq kadang-kadang disebut sebagai isim mafulnya yakni muraqqaqah ( مُرَقَّقَةٌ).
- Bacaan Tafkhim
Huruf hijaiyah yang wajib dibaca tafkhim terdapat 7 huruf yaitu huruf istila’ yang berkumpul pada kalimat خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ kesemuanya harus dibaca tebal.
Contoh:
اُدْخُلُوْهَا , وَالصَّافَّاتِ , فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ , وَالَّطيِّبُوْنَ , فَالحَقُّ اَقُوْلُ , اِنَّامُنْتَظِرُوْنَ
Selain ke tujuh huruf tersebut, harus dibaca tarqiq kecuali huruf lam dan ra yang mempunyai ketentuan sendiri.
Pertama, huruf lam tetap dibaca tafkhim jika berada pada lafazh jalalah (لَفْظُ اْلجَلَالَة) , yakni lam yang terdapat pada lafazh الله dengan syarat lam tersebut didahului tanda baca fathah atau dhammah.
Contoh:
صَلَاةُ اللهِ Dibaca Shalatullah
سَلَامُ اللهِ Dibaca Salamullah
سُبْحَانَ اللهِ Dibaca Subhanallah
شَهِدَاللهِ Dibaca Syahidallah
Kedua, ra’ wajib dibaca tafkhim (tebal) apabila:
1. Ra’ bertanda baca fathah.
Contoh :
رَحْمَةَ اللهِ , حَشَرَةٌ , الرَّحْمنِ الَّرحِيْمِ , الفُقَرَآءَ
2. Ra’ bertanda baca dhammah.
Contoh :
الأَخْيَارُ , كَفَرُوْا , أُذْكُرُوااللهَ , رُفِعَتْ
3. Ra’ bertanda sukun (mati), sedangkan huruf di belakangnya berupa huruf yang fathah.
Contoh:
مَرْحَبًا , تَرْزُقُكُمْ , مَرْيَمُ , قَرْيَةٍ
4. Ra’ bertanda sukun, sedangkan huruf di belakangnya berupa huruf yang didhammah.
Contoh :
ذُرِّيَّةً , قُرْبَةً , عُرْيَانًا , حُرْمَةً
5. Ra’ yang bertanda baca sukun, sedangkan huruf di belakangnya berupa huruf yang dikasrah, namun kasrah ini bukan asli namun yang baru datang.
Contoh:
إِرْجِعِى , إِرْحَمْ , إِرْجِعُوْا ,اَمِ ارْتَابُوْا
6. Ra’ bertanda baca sukun, sedangkan huruf yang di belakangnya berupa huruf berharakat kasrah asli dan sesudah ra’ bertemu huruf istila’ (حرف استلاء) yang terdapat tujuh huruf yang terkumpul dalam kalimat خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ.
Contoh :
يَرْضَاهُ , فُرْقَةٌ , لَبِالْمِرْصَادِ , قِرْطَاسٌ
Bacaan Tarqiq
Pertama, huruf lam dibaca tarqiq (tipis), jika huruf lam itu berada dalam lam jalalah yang didahului huruf yang bertanda baca kasrah.
Contoh:
الحَمْدُلِلّٰهِ , بِاللهِ , مِنْ عِنْدِ اللهِ , بِسْمِ اللهِ
Semua lam yang tidak berada lafa zh jalalah sebagaimana di atas maka harus dibaca tarqiq (tipis).
Contoh:
لَيَعْلَمُوْنَ , اِلَى اْلِابِل , مِنَ اْلعِلْمِ , كَلَّا لَوْتَعْلَمُوْنَ عِلْمَ اْليَقِيْنِ , بِكُلِّ اٰيَةٍ
Kedua, ra’ wajib dibaca tarqiq (tipis) jika :
1. Huruf ra’ bertanda baca kasrah.
Contoh :
رِضْوَانٌ , مَعْرِفَةٌ , رِجْسٌ , سَنُقْرِئُكَ
2. Huruf ra’ bertanda baca hidup yang jatuh setelah ya’ mati atau huruf lien, contoh :
الكَبِيْرُ , البَصِيْرُ , مِنْ خَيْرٍ , لَخَبِيْرٌ
3. Huruf ra’ mati dan sebelumnya ada huruf yang berharakat kasrah asli, sedangkan sesudah ra’ bukan huruf istila’.
Contoh :
شِرْكٌ , اَاَنْذَرْهُمْ , فِرْعَوْنُ , لَشِرْذِمَةٌ
Untuk bahan latihan, mari perhati kan kalimat berikut ini dan bedakan bacaannya Tafkhim dan Tarqiq:
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, إِذَاجَاءَ نَصْرُاللهِ وَاْلفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِى دِيْنِ اللهِ اَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (الفتح)
(https://tajwid.web.id>hukum- tafkhim dan tarqiq)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar