Senin, 29 April 2019

Pramasastra Bahasa Arab (7)

Pramasastra Bahasa Arab (7)
Oleh aminuddin

E. Berbagai Bentuk Kata Kerja

I. Bahan Pelajaran :

a. Napoleon telah keluar dari Mesir (Kharaja Naa bulyuuna min mishra).

b. Ia menghadapkan tentaranya ke Palestina (Wawajjaha jaisyahu ilaa Filasthiina).

c. Dan tentara Turki menghadapi nya (menemuinya) (Waqaabalahul jaisyut turkiyyu),

d. (Tentara) yang dikirimkan oleh Al-Jazzar ke Jaffa (Allazii arsalahul jazzaaru ilaa yaafaa).

e. Tentara Napoleon maju (menghadapi) tentara Turki (Taqaddama jaisyu Naa bulyuuna ilaal jaisyit turkiyyi).

f. Dan (saling bertukar) tembakan (tembak-menembak) dengannya (Watabaadalan naara ma'ah),

g. Maka hancurlah tentera Turki (Fankasarol jaisyut turkiyyu).

h. Napoleon menduduki kota itu, dan membunuh setiap laki-laki yang jadi tawanan di tangannya (Wahtallu Na bulyuunu al madiinata wa qatala kulla rajulin waqa'a asiiran fii yadihi),

i. maka merahlah bumi dari (karena) darah. Kemudian Napoleon bergerak ke 'Akka (Fahmarratil ardhu minad dami. Tsua zahafa Naa bulyuunu ila 'Akka),

j. dan menghentikan perang disana (Wasta-'nafal harba hunaaka).

Tetapi dia tak sanggup menduduki (= menang atas) kota itu, dan akhirnya (walaakinnahu mastatho'a fathal madiinati wa-akhiiraa)

Ia mengundurkan diri dari Palestina dan kembali ke Mesir (dengan) kegagalan (Ansahaba min Filasthiina waraja'a ilaa mishran faasyilan).
___________

II. Pembahasan Tata Bahasa Arab :

2. Dalam kalimat verbal ini (bagian b) kata kerja Wajjaha dibentuk de ngan mentasydidkan suku kedua kata akarnya Wajha. Kata kerja bentuk ini dinamakan pola II de ngan bentuk Fa'aala. Kata kerja pola II ini mengandung arti causatif = menyebabkan) atau intensif (= menjadi lebih/sangat) serta berulang-ulang, menjadikannya transitif (berpenderita).

3. Kata kerja Qaabala dibentuk dengan menambahkan alif antara suku pertama dan suku kedua, dari akar Qabala. Ini adalah pola III de ngan pengertian percobaan, pelak sanaan tindakan pada object, atau pengertian aksi satu sama lain. Um pamanya disini : Qabala = bertemu, dan pola III-nya Qaabala = bertemu satu sama lain, menantang atau menghadapi.

4. Dalam ungkapan ini kata kerja Arsala dibentuk dengan menam bahkan awalan "hamzah" fathah pada kata akarnya Rasala dan me mberi sukun pada huruf awalnya. Kata kerja seperti ini adalah pola IV dengan bentuk Af'ala.

Pola IV berarti causatif dan fictif, atau menjadikan yang tidak tran sitif menjadi transitif dalam pola ini ...

Kata ganti Hu ... pada Arsala menunjuk pada Allazii. Anak kalimat (ungkapan) memakai kata ganti relatif harus memakai kata ganti yang menunjuk kepada yang relatif itu.

5. Kata kerja Taqaddama dibentuk tambahan awalan Ta ... pola II, dan bentuk ini menjadi pola V yaitu ben tuk Tafa'ala (ain bertasydid). Ben tuk ini dengan pengertian reflectif (pantulan) dari pola II.

Misalnya Qadama = maju dan Qaddama = menyebabkan maju, ke depan, sedangkan Taqaddama = menghadapi (memajukan diri).

6. Kata kerja Tabaadala dengan penambahan Ta ... pada pola III. Bentuk ini adalah pola VI dalam bentuk Tafaa 'ala. Pola VI berarti reflectif pola III atau realisasinya, atau berpura-pura, dan berturut-turut. Dalam hal ini berarti = saling bertukar.

7. Kata kerja Inkasaro dengan pe nambahan awalan In .. pada akar nya Kasaro dan menjadi bentuk po la VII dalam bentuk Infa'ala. Pola VII mengandung arti pasif kata akar nya. Jadi Kasaro = memecah tran sitif = berpenderita) sedangkan In kasaro = hancur (terpecah-pecah).

8. Kata kerja Ihtalla dari bentuk Halla dengan tambahan alif dan hamzah serta sisipan tasydid sete lah suku pertama yang diberi harkat sukun. Kata kerja ini adalah pola VIII dalam bentuk Ifta'ala. Kata kerja akar dari Ihtalla ini adalah kata kerja bertasydid pada akhirannya.

Pola VIII kata kerja berarti : reflectif
dari kata akar, dan mengerjakannya sendiri. Kata kerja Ihtalla dengan akarnya Halla = berdiam, mengu raikan, membuka dan Ihtalla = me netapi sendiri, menduduki (menak lukkan).

Kata benda Kullu = setiap (tiap-tiap), sekalian, tergantung pada kata benda yang sesudahnya da lam hal definitif atau tidak. Kullur rajuli = setiap laki-laki.

Kata Asiiran di sini menjadi adverb keadaan = jadi tawanan (tertawan).

9. Kata kerja Ihmarra dari Hamura dengan tambahan alif + hamzah, dan memberi harkat sukun pada huruf pertamanya serta mentasy didkan suku terakhir. Kata kerja ini menjadi pola IX dengan bentuk If'alla.

Pola IX kata kerja biasanya digu na kan dalam pengertian mengenai warna dan cacat (kerusakan).

Ahmarrati adalah dalam feminin karena subjectnya Al ardhu juga feminin ...

Al ardhu sebuah kata benda femi nin tanpa tanda feminin. Jadi kata kerjanya harus berakhiran Ta (su kun). Di sini kata kerja diiringi kata sanda ng definitif Al .. yang ham zahnya tidak berharkat. Untuk dapat dibunyikan, ditambahkan harkat kasrah pada Ta menjadi Ti.

10. Kata kerja Ista-' nafa dengan tambahan Ista dan mensukunkan suku pertama pada kata kerja akar nya. Kata kerja seperti ini adalah pola X dengan bentuk Istaf'ala.

Pola X berarti pengharapan, doa dan seolah-olah. Jadi Ista'nafa = mengharap, menetapkan, meng hentikan.

Adverb Hunaaka berharkat tetap.

Maa sebuah partikel negatif = tidak yang dipakai sebelum kata kerja perfect.

Istathaa'a adalah pola X dari kata kerja lemah Thaa'a.

Participle aktif Faasyilan sebagai adverb keadaan = gagal (kegagalan).


Catatan :

1. "Hamzah" kata kerja pola IV ada lah -Aa (alif + hamzah) sama seper ti pola VII, VIII, IX dan X, jika didahu lui kata lain, menjadi tidak berhar kat.

2. Tashrif kata kerja perpect sama dengan akarnya.

3. Uraian mengenai bentuk-bentuk pola kata kerja di atas memerlukan keterangan lanjut, yaitu :

a. Tidak semua pola dapat dilaku kan pada setiap kata kerja.

b. Dalam beberapa hal (kasus) ter tentu memang dibentuk demikian walaupun akarnya tidak bisa digu nakan.

c. Walaupun satu kata kerja sudah sesuai dengan pola tertentu, tetapi pengertiannya jauh menyimpang dan tidak ada hubungannya dengan akarnya.


III. Latihan :

1. Panitia (komite) politik (bagi) Liga Arab berapat pada hari ini (Ihtama'atil lajnatus siyaasiyyatu lil jaami'atil 'arabiyyati fi haazal yaumi).

2. Dan (ia) menyimpulkan pemba hasan urusan Syria yang terbesar (Wasta-' nafat bahtsa amri suuriyyatal kubraa).

3. Dan Nuri Pasya Assa'id, Kepala Pemerintahan Irak berbicara dalam sidang ini (Waqad takallama nuurii baasyassa'iidu ra-isul hukuumatil 'iraaqiyyati, fi hazihil jalsah).

4. Maka (dia) berkata bahwa persa tuan Arab adalah kebenaran yang nyata (terjadi) (Faqaala innal wahdatal 'arabiyyata hiya haqiiqatun waaqi'atun).

5. Dan semoga cintanya akan bangsa sendiri lebih besar dari cintanya akan kehidupannya sendiri (Wa la'alla hubbahaa fii nafsisy sya'bi a'dzhamu min hubbihi lil hayaati nafsihaa).


IV. Ulangan :

a. Terjemahkan ke bahasa Indonesia :

1. Laqiyatil hukuumatul 'aadilatu hubban 'adzhiiman minasy sya'bi.

2. Istahabtu minan naadii fis sanatil maadhiyati.

3. Waqa'tu fil waadii fankasarat yadii.

4. Qaabaltu shadiiqii'umaral kaatibal qadiira fis suuqi faqaala lii innahu arsala ilaal jaami'ati 'adadan min majalkatihil jadiidati.

5. Ihtallal amiiru faishalun madiinata dimasyqa fil harbil 'aalamiyyati wadakhalaha raakiban 'ala farasihil mahbuubati.


b. Terjemahkan ke bahasa Arab :

1. Umar mengirim Khalid bin Walid ke Irak, tetapi sesudah waktu yang singkat, ia menghadapkan tenta ranya ke Syria.

2. Khalid pergi ke Damsyik dan menaklukkannya (mendudukinya).

3. Sebelum Umar menduduki Al-Qads (Jerusalem), dia berapat de ngan kepala pemerintahan Israel, dan berbicara dengannya tentang penaklukan kota itu.

4. Kemudian Umar kembali ke Madinah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar