Kamis, 09 Mei 2019

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (25)

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (25)

By aminuddin





131. Ayat 228 :

"Wal muthallaqaatu yatarobbashna bisnfusihinna tslaatsata quruu-i. Wala yahillu lahunna ayyaktumna maa khalaqallaahu fi arhaamihinna in kunna yu-' minna billaahi wal yaumil aakhir. Wabu'uulatuhunna ahaqqu biraddihinna fii zaalika in araaduu ishlaahaa. Walahunna mitslullazie 'alaihinna bil ma'ruufi walirrijaali 'alaihinna darajah. Wallaahu 'aziizun hakiim."

(Wanita-wanita yang ditalak hen daklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru' (60). Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akherat. Dan suami-sua minya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya (61). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).


132. Ayat 229 ;

" ... Walaa yahillu lakum an ta-'khuzuuhs mimmaa aataitumuuhunna syai-an illa ayyakhaafa alla yuqiimaa huduudallaah. Fain khiftum alla yuqiima huduudallaah. Falaa junaaha 'alaihimaa fiimaaf tadat bih. Tilka huduudallaahi falaa ta'taduuhaa. Wamayyata'adda huduudallaahi fa-ulaaika humudzh dzhaalimuun."

(... Tidak halal bagi kamu mengam bil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecu ali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya (62). Itulah hu kum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim).



133. Ayat 230 :

"... Fain thalkaqahaa falaa junaaha 'alaihimaa ayyataraaja'aa in dzhannaa ayyuqiimaa huduudallaah. Watilka huduudallaahi yubayyinuha liqaumiyya'lamuun."


( ...Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya ber pendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui).













______

(60). Quru' dapat diartikan suci arau haidh.

(61). Hal ini disebabkan karena sua mi bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga.

(62). Ayat inilah yang menjadi dasar hukum Khulu' dan penerimaan 'Iwadh. Khulu' yaitu permintaan cerai kepada suami dengan pembayaran yang disebut 'Iwadh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar