Sabtu, 01 Juni 2019

Peluk Aku Ya Allah (11)

Peluk Aku Ya Allah (11)
Oleh Wak Amin




DARI balkon rumahnya yang jauh dari keramaian, Jenderal Mansyur, komandan pasukan pribumi, me nyaksikan dengan sungguh-sung guh latihan rutin setiap pagi yang dilakuan para anak buahnya.

Jumlah mereka tidak banyak. Ha nya 50 personil saja. Tapi mereka adalah laskar terlatih. Sudah ke n yang pengalaman. Siap bertempur dalam situasi apa pun.

Latihan yang dilakukan bervariasi. Mulai dari tangan kosong, menggu nakan senjata tajam dan senjata api, teknik gempur dan bertahan, hingga bertahan dan menyerang balik serangan udara dari pihak musuh.

Selain fokus ke lapangan, ke 50 pra jurit khusus ini, di waktu tertentu harus masuk kelas. Mereka diwa jibkan mengikuti pembekalan khu sus yang terkait dengan pepera n gan mengingat beberapa bulan te rakhin penyerangan yang dilakukan pasukan pemberontak semakin me ningkat.

"Saya minta kalian semua yang ada di ruangan ini terus meningkatkan kewaspadaan," pinta Jenderal Man syur berulangkali ketika memberi kan pembekalan terhadap 50 anak buahnya.

"Mereka pasukan pemberontak itu bukan anak kemarin sore. Camkan itu .."

Mereka sudah terlatih. Mereka di pimpin oleh salah seorang jenderal terbaik di negeri ini.

"Tujuan mereka adalah untuk me lumpuhkan peme rintahan saat ini sekaligus mengu asai negeri ini."

"Saya Jenderal."

"Silakan Kapten Adi."

"Apa tidak sebaiknya kita bersama pasukan pemerintah menumpas  pasukan pemberontak itu."

"Ide yang bagus. Tapi sejauh ini kita belum mendapatkan sinyal kalau pasukan pemerintah mau menjalin kerjasama dengan kita," kata Jen deral Mansyur.

"Apa tidak sebaiknya kita yang leb ih dulu mengirim sinyal ke mereka Jenderal."

"Sebuah ide yang bagus, Kapten. Ta pi menurut saya, kita seperti biasa lah. Siapa pun yang mencoba meng habisi kita, kita sikat habis."

Kita, kata Jenderal Mansyur, tidak mencari musuh. "Kita cinta damai. Kita berjuang demi rakyat. Kita ber perang atas kepentingan rakyat. Rakyat adalah segala-galanya. Paham?"

"Paham Jenderal."

"Sekarang bubar."

Haaa?

"Maksud saya, istirahat buat shalat dan makan siang," kata Jenderal Mansyur, bergegas mengajak anak buahnya menunaikan shalat zuhur berjamaah







Tidak ada komentar:

Posting Komentar