Peluk Aku Ya Allah (33)
Oleh Wak Amin
KEESOKAN harinya perang dilanjut kan kembali. Berawal dari tewasnya salah seorang anggota pasukan uta ma dua terkena anak panah bera cun di dada.
Saat itu juga meriam ditembakkan ke sasaran disertai panah api yang diluncurkan bertubi-tubi. Mengarah ke pasukan berkuda pimpinan Jen deral Komar dan Jenderal Fatoni.
Korban berjatuhan di pihak pasu kan lawan mencapai belasan ora ng. Belum lagi kuda yang jatuh dsb mati tersungkur ke tanah terkena anak panah.
"Tembaaaak!" Teriak Jenderal Bais berulang kali.
Sang Jenderal meminta sebagian pasukan maju ke depan ...
Merasa terdesak, Jenderal Komar dan Jenderal Fatoni menginstruk sikan pasukan untuk mundur meng hindari bantaknya jatuh korban di pihak mereka.
Mayor Kandar tak setuju untuk mun dur. Baginya mundur adalah penge cut. Tak ada kamusnya tentara mundur dari medan perang.
Sikap berbeda diperlihatkan tiga koleganya masing-masing Mayor Tolib, Letnan Bagus dan Kapten Sambas.
Mereka berempat memilih mundur untuk mencari cara lain membalas serangan. Karena bila dipaksakan dengan kondisi seperti ini, medan terbuka dan serangan beruntun dari segala arah, pasti kalah dan akhir nya menyerah.
"Majuuu!" Teriak Mayor Kandar. Dia memberi aba-aba untuk membalas serangan dengan berlari ke depan sambil meluncurkan anak panah dan peluru ke pasukan pemerintah dan pasukan pribumi.
Hua ha ha ha ...
Mayor Kandar tertawa. Dia merasa banyak jatuh korban akibat terkena peluru yang dimuntahkan dan anak panah yang diluncurkan.
Dia terus maju tanpa mengindah kan permintaan Letnan Bagus un tuk segera mundur.
Sampai akhirnya sebuah ledakan besar mencabik-cabik dirinya dan membakar kawasan hutan di seki tarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar