Langit tak Berbintang (15)
Oleh Wak Amin
"UNTUNG .. Untung. Untung Mbah mu tau."
Bos Malik marah besar ..
"Kayaknya tak untung lagi ini Bos. Sudah tak sabar mau mati dia Bos. Mohon petunjuk."
"Petunjuk. Petunjuk. Petunjuk apaan haa?"
"Andai dia mati Bos, dikubur dimana Bo?"
"Lempar aja ke laut."
Waduuuh ...
"Jangan Bos."
"Lho emangnya kenapa?"
"Ntar kalau keluarganya mau zia rah gimana Bos?"
"Bilang aja nanti kalau ketemu kelu arganya Muhsin hilang tau."
"Siap Bos. Cuma .." Amran garuk-ga ruk kepala. Pasalnya, Muhsin be lum juga 'koid.'
Nafas masih ada ...
"Tunggu aja dulu," pesan Bos Ma lik.
"Jangan sekarang dilemparnya tau ..."
"Kenapa Bos?"
"Lum mati tau ..."
"Oh iya. Kelupaan Bos. Ingat waktu kecil dulu Bos. Bosan berenang, ya gantian lempar ke sungai. Asyik Bos. Kayak dogan jatuh ke air dari pohonnya. Bunyinya itu Bos. Je gum. Jegum ..."
Eheeem ...
"Terus?"
"Astaghfirullah Bos. Nafasnya Bos," teriak Arman karena terkejut.
"Kenapa dengan nafasnya Man?"
"Berhenti Bos .."
Busyeet ...
"Itu tandanya sudah mati tau ..."
"Kok enggak bilang-bilang ke saya ya Bos. Padahal saya di dekatnya sekarang .."
"Enggak sempet mungkin. Sudah .. Sudah. Cepet lempar sana. Sebe lum ketahuan sama pihak berwajib."
"Siap Bos!"
Berat nian. Aneh, pikir Arman. Ada apa ya? Padahal, kalau tengok bodi, tak seberapa. Gemuk tidak. Ceking juga tidak.
Sedang-sedang saja ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar