Langit tak Berbintang (17)
Oleh Wak Amin
(Oh, bayangkan sebuah tanah, itu adalah tempat yang jauh
Tempat karavan unta berkeliaran
Dimana kau berkeliaran di antara setiap budaya dan bahasa
Ini kacau, tapi hei, ini rumah
Saat angin dari timur
Dan matahari dari barat
Dan pasir di gelas itu benar
Ayo turun, mampir
Hop karpet dan terbang
Untuk malam di Arab lainnya
Saat kau berkelok-kelok di jalan-jalan di pasar-pasar terkenal
Dengan kios-kios yang penuh kapulaga
Kau bisa mencium setiap bumbu
Sementara kau menawar harganya
Dari sutra dan syal satin
Oh, musik yang diputar saat kau bergerak melalui labirin
Dalam kabut kesenangan murnimu
Kau terjebak dalam tarian
Kau tersesat dalam trans
Malam di Arab lainnya
Malam di Arab
Seperti hari-hari Arab
Lebih sering daripada tidak lebih panas daripada panas
Dalam banyak hal baik
Malam di Arab
Seperti mimpi orang Arab
Tanah mistis ajaib dan pasir ini
Lebih dari kelihatannya
Ada jalan yang bisa menuntunmu
Baik atau keserakahan
Kekuatan perintah yang kau inginkan
Biarkan kegelapan terungkap atau menemukan kekayaan yang tak terhitung
Baik, takdirmu ada di tanganmu
Hanya satu yang bisa masuk kesini, yang nilainya jauh di dalamnya. Berlian di kasar
Malam di Arab
Seperti hari-hari Arab
Mereka tampak bersemangat, lepas landas, dan terbang
Terkejut dan takjub
Malam di Arab
Menghadapi bulan Arab
Orang bodoh yang lengah bisa jatuh dan jatuh
Di luar sana, di bukit pasir)
Maria berbalik arah. Dia tidak kem bali ke tempat duduknya semula se telah tahu ada yang mematai-ma tainya sejak tadi.
Mereka adalah Sanaf, Arman dan Bos Malik. Mereka tak berani men dekat untuk menangkap Maria, kare na berisiko terjadi keributan, semen tara mereka sendiri bukan warga Yauman.
"Sebaiknya kita tunggu sampai dia selesai bernyanyi," kata Malik keti ka Maria bernyanyi di atas pang gung.
Maria pura-pura tidak tahu. Dia te rus bernyanyi. Suara emasnya mam pu menyihir pengunjung kedai dog an. Ada yang berbisik, takjub dan bahkan ada pula yang bersiap naik ke atas panggung menemani Maria bernyanyi.
"Bos. Maria!" Tegur Arman, melihat Sang Bos justru asyik ngobrol den gan dua perempuan muda yang lagi asyik menikmati es dogan.
"Mana .. Mana?" Tanya Malik. Ke cele dia kali ini. Tak sempat tengok Maria turun dari panggung.
Karena dia menduga Maria pasti kembali ke tempat duduknya.
Dugaan itu meleset rupanya ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar