Minggu, 28 Juli 2019

Langit tak Berbintang (24-tamat)

Langit tak Berbintang (24)
Oleh Wak Amin

KEDUANYA adalah Mayor Hanafi dan Letnan Subekti. Pengiriman ini dilakukan amat rahasia. Sayang ketika sampai di airport Yauman, kedua perwira terbaik Jasina ini langsung diamankan pihak berwa jib.

Keduanya tidak bisa mengelak saat diinterogasi pasukan khusus Yaum an setibanya di airport. Keduanya di bawa menggunakan mobil khu sus kemiliteran untuk ditanyai lebih lan jut ikhwal kedatangan keduanya se cara rahasia ke negeri Yauman.

Sementara Sanaf dan Arman yang sempat beberapa saat berada di air port untuk menjemput Mayor Hana fi dan Letnan Subekti harus gigit ja ri setelah dua 'teman baru' mereka ini diamankan pihak berwajib.

Belum sempat melapor ke Pangli ma Besar Jasina, Jenderal Daud, Arman dan Sanaf segera kabur me nggunakan sepeda motor, keluar dari airpiort menuju jalan raya uta ma simpang lima.

Maria sudah menunggu keduanya sedari tadi. Dia duduk di atas motor yang diparkir di bawah batang po hon besar dan rindang.

Setelah melihat sepeda notor yang dikemudikan Arman dan Sanaf me lintas tak jauh dari pohon yang usi anya sudah ratusan tahun itu, Ma ria menyalakan mesin motor.

Langsung tancap gas. Kurang dari dua menit dia sudah berhasil me mepet sepeda motor di depannya. Sanaf menoleh ..

"Cepat Bro. Dia di belakang kita," bisik Sanaf mulai gelisah.

"Siapa?"

"Maria tau ..."

Reeen ...

"Hai ..." Sapa Maria. Dia dahului Ar man, memotong jalan ke sebelah kiri.

Syiiiit ...

Arman terpaksa mengerem.

Tak lama kemudian ...

Dooor ...

Dooor ...

Setelah memastikan Arman dan Sa naf tewas, Maria meniup sisa asap tembakan di mulut pistol, sebelum dimasukkannya kembali ke saku jaket tebalnya. (TAMAT)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar