Sambungan dari serial 'Mana Tahan' ..
Bola Pingpong (1)
Oleh Wak Amin
TIBA di markas dengan kepala di perban, Ahmad melapor kepada Bos Rahmat, nyaris menembak mati Mayor Hanafi dan Maria.
"Nyaris, nyaris. Apaan nyaris. Itu sama artinya kalian berdua ini gagal tau .."
Mata Bos Rahmat memerah. Dia marah besar.
"Kenapa kepala lu diperban-perban segala?"
"Luka Bos," jawab Ahmad gugup. Le bih gugup lagi Johan. Sempat ter kencing di celana.
"Kena gocoh si perempuan atau oleh mayor itu?"
"Bukan Bos. Jatuh dari truk, tak sengaja kepala mengenai aspal," kata Johan.
"Diam kamu bodoh. Aku tak tanya kamu tau. Aku tanya bosmu yang tekak ini ..."
Johon terpaksa diam.
Kriiiing ...
Telepon berbunyi ..
Firdaus bergegas mendekati meja telepon batu di ruang belakang. Ha nya sebentar. Lalu berjalan tergo poh-gopoh menemui Bos Rahmat.
Dia membisikkan sesuatu ...
Sang Bos sedikit terperanjat, sebe lum tertawa terbahak-bahak.
Juga ikut tertawa Johan dan bos nya, Ahmad.
"Kenapa tertawa ha?"
"Bos ketawa, kami ketawalah," kata Johan rada gemetaran.
"Tak boleh tau .."
Hua ha ha ha ...
Hua ha ha ha ...
"Kenapa kalian diam?" Satu-satu di plototi Bos Rahmat.
"Ayo, ketawalah ..."
"Siap Bos"
Ha ha ha ha ...
He he he he ...
Hi hi hi hi ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar