Bola Pingpong (4)
Oleh Wak Amin
MARIA terus mengejar. Tepat di tepi jalan dia paksa berhenti pengenda ra motor. Karena takut, si pria peng endara buru-buru turun dari sepeda motornya sambil menyerahkan kun ci.
"Maaf ya Mas. Pinjam sebentar," ka ta Maria dengan raut muka ramah.
Reeeen ...
Reeeen ...
Melaju kencang menyusuri jalan ra ya. Kali ini dia beroperasi sendirian. Tidak ditemani Letnan Subekti dan Mayor Hanafi. Kedua temannya ini tewas ditembak.
Dari sebuah bengkel ...
"Ayo cepat kejar taun," perintah Ah mad pada Johan yang keasyikan merokok dan tengok cewek masuk kafe.
"Siap Bos."
Mesin ngadat ...
Ahmad marah.
"Tadi nyala, kenapa sekarang tidak. Mobil yang rusak mesinnya atau kamu yang bodoh, haaa?"
"Biar saya periksa Bos Ahmad."
Firdaus turun dari mobil. Dia buka kap dan periksa mesin. Sedangkan Johan menyalakan mobil.
Kriiiing ...
Telepon masuk. Biasa, dari Big Bos Rahmat.
"Gimana? Berhasil kagak?" Tanya Rahmat dengan suara datar.
"Berhasil satu Bos. Satunya masih lolos."
"Bagus, bagus. Yang masih hidup siapa, yang mati siapa?"
"Yang mati yang laki Bos. Yang perempuan belum."
"Waduh. Justru yang perempuan harusnya dulu kalian dooor. Laki belakangan tak apa-apa."
"Yah gimana lagi Bos. Memang gitu keadaannya," jawab Ahmad seraya meminta Johan tak otak-atik dulu kunci kontak mobil.
"Ya sudah. Sekarang tugas lu same tu dua orang harus habisi perempu an sok jagoan itu. Mengerti?"
"Mengerti Bos."
"Kalu sampe gagal aku makan kepa la kalian bertiga. Paham?"
"Paham Bos."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar