Minggu, 18 Agustus 2019

Mana Tahan (21)

Mana Tahan (21)
Oleh Wak Amin



ORANG yang paling kaget dan ter kejut atas tewasnya Kamil adalah Maria. Penasaran bercampur geram dia telepon Mayor Hanafi sekadar meminta konfirmasi.

"Ini saya lagi di rumah sakit Non Maria," kata Mayor Hanafi. Bersa ma Letnan Subekti dan petugas ke polisian, dia ikut melihat kondisi sal tempat dimana Kamil dirawat dan diketemukan tewas.

"Baik, saya segera kesana Mayor," kata Maria.

Dia bergegas ke luar rumah. Dari ba lik kaca jendela samping kanan pin tu utama keluar masuk, persis di lu ar pagar, ada dua lelaki berbadan te gap mondar-mandir mengitari mo bil putih yang parkir di tepi jalan.

Maria berpikir sebentar. Dia tak jadi lewat pintu depan.

Lalu?

Lewat belakang dengan cara me lo mpati pagar kawat berduri. Kete mu lorong, dia menumpang sebuah mo bil yang hendak keluar dari lorong itu.

Di persimpangan lampu merah dia turun. Lalu naik gojek menuju ru mah sakit. Sepuluh menit kemu dian dia tiba disana.

Rumah sakit masih beroperasi se perti biasa. Hanya di beberapa sal yang berdekatan dengan sal Kamil disterilkan. Pasien terus berdata ngan dari dalam dan luar kota.

"Pagi Mayor."

"Pagi Non Maria," jawab Mayor Ha nafi. Dia mengajak Maria ke dekat pos jaga sal.

"Motifnya belum tahu Non. Dugaan sementara untuk menghilangkan jejak," jelas Mayor Hanafi.

"Yang bikin penasaran, udah dijaga ke tat eeh malah kebobolan. Gima na enggak kesel Mayor, coba?"

"Saya juga kesal Non. Tapi ya begi tulah realitanya. Mau gimana lagi."

"Udah kontak Panglima Mayor?"

Ssssst ..

Ada dua petugas lewat di dekat me reka berdiri saat ini. Keduanya si buk menulis dan memotret.

"Gimana kalau kita ke mobil saja Non?"

"Oke ..."

Sambil menuruni anak tangga, Ma yor Hanafi mencerirakan bahwa dia sudah berusaha menelepon Pang lima Yauman, Jenderal Sutarman.

"Tapi tak berhasil ..."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar