Mana Tahan (23)
Oleh Wak Amin
TIDAK semulus yang diperkirakan saat Maria dan Mayor Hanafi menu ju kantor Pangsar Jenderal Sutarm an. Selain macet, mobil yang diso piri Mayor Hanafi itu ada yang mem buntuti. Semakin lama semakin de kat.
"Kita jalan saja Non Maria," kata Ma yor Hanafi. Turun dari mobil yang terjebak di tengah kemacetan.
Kedua bergegas menyeberang ja lan. Lalu menghilang di balik jalan setapak gedung pencakar langit ya ng tinggi megah menjulang.
Sebuah mobil melaju sangat cepat, melewati jalan sempit. Lalu belok kanan dan ...
"Itu mereka Bos," kata si anak buah sambil menunjuk ke kiri. Mayor Ha nafi dan Maria berlari menyusuri jembatan layang.
Dooor ...
Dooor ..
Si anak buah melepaskan tembak an. Mayor Hanafi dan Maria terus berlari. Tepat di tengah jembatan keduanya berhenti.
Ada truk tronton lewat ...
"Non ... Satu, dua, tii ga."
Huupp ..
Keduanya meloncat dari atas jembatan, jatuhnya persis di tengah bak tronton yang mengangkut barang-barang tekstil dari pe labuhan laut menuju mal besar di pusat kota.
"Kampret." Umpat si anak buah se raya melepaskan tembakan berkali-kali ke arah mobil tronton yang me laju dengan kecepatan sedang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar