Rabu, 04 September 2019

Bola Pingpong (12)

Bola Pingpong (12)
Oleh Wak Amin





KEESOKAN harinya ...

Para nelayan melambaikan tangan ketika kapal motor yang ditumpa ngi Rahmat cs melewati beberapa nelayan yang sedang menebar jaring di pinggir pantai.

Rahmat tampak bicara sambil keta wa lebar dengan Pak Taslim yang pegang kemudi. Sementara Ujang rebahan di belakang, Fadil dan Syu kur sibuk main game di gadget.

Berangkat saat matahari mulai ter bit. Mereka tiba di lokasi dua jam kemudian. Sekitar pukul delapan kurang sedikit.

Air laut tenang. Ikan-ikan kecil ber seliweran di permukaan air ...

"Sebelah sana saja Pak Taslim." Ra hmat menunjuk  dermaga besi tua dekat sebuah pohon besar yang da unnya nyaris menyentuh permuka an air laut.

"Apa tidak kejauhan Bos?" Tanya Ujang. Pasalnya di dekat mereka ada tanah kosong. Bisa untuk me nyandarkan kapal dan memancing ikan."

"Kurang gede Jang," jawab Rahmat. Di atas dermaga selain memancing juga makan dan tidur-tuduran.

"Bosen tidur, jalanlah ke darat. Tul kan Pak Taslim?"

"Betul Pak. Di darat ada pemuki m an warga. Semua pada baik dan ra mah kepada pendatang.

"Apa gadisnya cantik-cantik Pak Ta slim?" Tanya Fadil yang memang doyan goda perempuan muda yang cantik dan seksi.

Rasanya, sebulan tak ketemu dan godain wanita cantik, sakit semua badan. Dari mulai pangkal rambut hingga ke ujung kaki.

"Tentu Pak Fadil. Mereka juga mau diajak menikah oleh orang luar kam pung mereka, asalkan .."

"Kaya Pak Fadil?"

"Tidak mutlak Pak. Yang miskin juga banyak ..."

"Ganteng kah?"

"Tidak mesti Pak Fadil."

"Atau ..."

"Bapak harus menetap di kampung mereka. Itu saja syaratnya?"

Waduuuh ....

Fadil garuk-garuk kepala ...

Ha ha ha ha ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar