Nabi Isa (7)
16. QS Al-Maaidah (5) Ayat 75-77 :
- (Celaan terhadap mereka yang mempertuhankan Nabi Isa)
"Al- Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul dan ibunya seorang yang sangat benar, ke dua-duanya biasa memakan makanan (a11). Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemu dian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)."
"Katakanlah : "Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" Dan Allah lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
" Katakanlah : "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui ba tas) dengan cara tidak benar dalam aga mamu. Dan janganlah kamu mengi kuti hawa nafsu orang-orang yang telah se sat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menye satkan kebanyakan (manusia) dan me reka tersesat dari jalan yang lurus."
17. QS Az-Zukhruf (43) Ayat 57-58 :
"Dan tatkala putera Maryam (Isa) dijadi kan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya."
"Dan mereka berkata : "Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)? Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar." (a12).
____________________
(a11). Maksudnya, Isa as dan ibunya adalah manusia, yang memerlukan apa yang diperlukan manusia, seperti makan, minum dan sebagainya.
(a12). Dua ayat ini (57-58) menceritakan kembali kejadian saat Rasulullah SAW membacakan di hadapan orang Quraisy ayat 98 Surat Al-Anbiyaa' yang artinya : "Sesungguhnya Kami dan yang kamu sembah selain Allah adalah kayu bakar jahanam."
Maka seorang Quraisy bernama Abdul lah bin Az-Zab'ari menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang keadaan Isa ya ng disembah orang Nasrani. Apakah beliau juga menjadi kayu bakar neraka jahanam seperti halnya sembahan-semvahan mereka.
Rasulullah SAW terdiam dan mereka pun menertawakannya, lalu mereka menanya kan lagi mengenai mana yang lebih baik antara sembahan-sembahan mereka dengan Isa as.
Pertanyan-pertanyaan mereka ini hanyalah mencari perbantahan saja, bukanlah mereka mencari kebenaran. Jalan pikiran mereka itu adalah kesalahan yang besar. Isa as tidak mengetahui bahwa beliau disembah dan tidak pula rela dijadikan sembahan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar