Selasa, 21 Desember 2021
Novel Sayonara (9)
Novel Sayonara (9)
Oleh Aminuddin
ID pub-8800179315466420
BAB IV
BOS Awal cs, Aliong marah besar setelah tahu misi menghabisi Pak Presiden gagal total lewat tayangan televisi ke seluruh negeri.
Marahnya Aliong kian menjadi-jadi setelah Awal cs tak kunjung mem beri kabar dan tidak ada kontak sama sekali.
Padahal seharusnya di saat genting seperti ini laporan terbaru harus ma suk. Sehingga diketahui posisi dan langkah apa yang harus dilakukan berikutnya.
"Kalau begini bisa-bisa gue dong melayang. Mana tahaan," ujar Ali ong sambil menggerutu.
Aliong bangkit dari tempat duduk nya. Berdiri dan berjalan mendekati pintu. Melihat ke sudut jalan.
Lalu lintas ramai.
Kemudian dia kembali ke tempat duduknya semula. Dia menelepon orang kepercayaannya, Ameng dan Amung.
Meminta keduanya segera masuk ke ruang kerjanya.
"Siap Bos,"jawab Ameng.
"Tapi Bos ..." Amung ragu.
"Tapi kenapa?" Tanya Aliong sambil melotot.
"Kalau mereka tidak diketemukan gimana? Apa masih harus dicari Bos?"
"Harus dong. Sampai dapat. Mengerti?"
"Mengerti Bos," jawab Ameng.
Amung cuma diam.
"Jangan pernah kembali kalau belum ketemu mereka, Mang. Paham?"
"Paham Bos," kata Amung gemetaran. Tapi masih tetap memaksakan diri untuk bertanya.
"Saya kasih usul sama Bos, boleh tidak?"
"Usul apa?" Tanya balik Aliong dengan nada tinggi.
"Bagaimana kalau mereka kita habisi saja. Itu menurut saya lebih baik Bos."
"Jangan," kata Aliong. "Saya mau mereka hidup dan bawa ke saya. Paham tidak?"
"Paham Bos."
Kali ini Amung benar-benar tak bisa berkutik. Tak bisa berkata-kata lagi.
Mulutnya seolah terkunci. Apalagi setelah Sang Bos mengancamnya, jika gagal nyawa taruhannya.
"Jangan coba main-main dengan saya ya!"
Kerah baju ditarik. Baru dilepas setelah Aliong setelah Ameng menenangkan Sang Bos.
"Kita harus selesaikan ini dengan kepala dingin Bos," ucap Ameng.
"Kepala dingin jidat lu." Bentak Aliong sambil memukul meja.
Untunglah, sebelum kemarahan Aliong memuncak, Ameng dan Amung buru-buru pergi mening galkan ruangan kerja Sang Bos.
Pintu ditutup.
"Sudah mulai berani ya mereka sama saya," kata Aliong sambil menggerutu.
Marah dan kesal belum juga hilang. Baru reda setelah mendapat tele pon dari salah satu koleganya yang bernama Mr Aseng.
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-8800179315466420
Tidak ada komentar:
Posting Komentar