Rabu, 05 Januari 2022

Novel Sayonara (20)

Novel Sayonara (20) 
Oleh Aminuddin 
ID : Pub-4876570404296850 
 
BAB X AWAL dan kedua rekannya berhasil menemukan sampan sehingga me reka bisa menyeberang sungai. Sementara Letnan Slamet cs baru tiba di lokasi penyeberangan sungai beberapa saat kemudian.

"Itu mereka Let!" Ucap Sersan Komar dengan raut muka penuh dendam. Sudah tak sabar ia ingin menangkap Awal cs sebagai tindakan balasan atas tewasnya Sersan Yahya. Cuma masalahnya tidak ada sampan di sekitar tepian sungai. 

Di saat masih mencari cara untuk mengejar Awal cs lewatlah motor ketek. Sersan Yuni melambaikan tangan. Meminta pertolongan kepada si empunya ketek. Dia menepikan motor keteknya. 

"Tolong Pak kami," kata Sersan Yuni. 

"Tolong susul kan sampan itu," imbuh Sersan Komar. "Baik," jawab si empunya motor ketek. 

Saat sampan sudah tiba di sebe rang sungai, motor ketek masih berada di tengah sungai. Sersan Komar mulai gelisah. Dia khawatir yang dikejar berhasil meloloskan diri. 

Dooor ... 

Dooor .. 

Awal melepaskan tembakan. Kena atap motor ketek. Seng terbelah. Jatuh ke dalam sungai. 

Dooor ... 

Doooor ... 

Dibalas Sersan Yuni. Tepat mengenai kaki Awal. Meringis kesakitan. 

"Tolong, jangan tinggalkan aku," ucapnya lirih. Motor ketek semakin dekat. 

Dooor ... 

Dooor ... 

Dooor ... Kali ini tembakan yang dilesakkan Sersan Komar mengenai betis Akhir. Sempat oleng sebelum jatuh tersungkur ke tanah rerumputan. 

Amang cemas melihat kedua rekannya tertembak. Untung Awal masih bisa berdiri lagi. Tapi untuk berlari, apalagi segesit sebelum ini, mana mungkin. 

"Tinggalkan saja kami Mang," kata Akhir. 

Sebaliknya Awal justru tak mau ditinggal pergi Amang begitu saja. Kalau tertangkap gimana coba? 

"Ya paling tidak ada teman kita bisa meloloskan diri bro." 


Awal tetap pada pendiriannya. Meski kemudian dia memutuskan ikut bersama Amang. Akhir setuju. "Tinggalkan saja aku sendirian. Per gilah kalian berdua sekarang. Cepat sebelum tertangkap." 

Dengan berat hati Amang dan Awal pergi meninggalkan Akhir. Terpaksa itu dilakukan. 

Door .. 

Door ... 

Auuugh. 

Akhir mengerang kesakitan. Sambil meraba perutnya yang mulai berdarah terkena timah panas, kedua matanya mulai berkunang-kunang sebelum akhirnya tewas. Awak terkejut. Sedangkan, dalam keadaan panik, Amang bergegas pergi. Berlari menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya dinaungi pepohonan besar nan rindang. 

Ketika Letnan Selamet cs tiba di seberang sungai, Awal hanya pasrah. Dia menyerah dan tidak melakukan perlawanan sedikit pun. 

Praaak .. 

Gedebug. 

Begitu juga ketika Sersan Komar melampiaskan amarahnya dengan menendang dan menampar mukanya. 

Beruntung Sersan Yuni berhasil mencegahnya, sehingga tindak kekerasan terhadap Awal tidak berlanjut. 

Letnan Selamet melaporkan keja dian barusan ke mabes. Dia memin a bantuan satu helikopter untuk mengejar Amang yang kini sudah jauh meninggalkan mereka.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar