Serial Detektif Cilik
KOING (5)
Menangkap Penjambret
….
Oleh Wak Amin
KALA Koing asyik
menyapu di pekarangan belakang pada pagi
di hari libur, sebuah mobil Hyundai berhenti persis di depan pintu pagar
rumahnya. Tak lama kemudian, seorang laki-laki membuka pintu dan keluar dari
mobil itu dengan sedikit tergesa-gesa.
“Assalamualaikum …
Mbak Yu!”
Ibunya Koing bergegas
ke depan. Dia membukakan pintu dan betapa gembiranya ia setelah tahu lelaki
yang berdiri di hadapannya saat ini, tak lain dan tak bukan, adik kandungnya
sendiri, Paman Yos.
“Tambah gemuk saja
kamu, Yos. Mana anak dan istrimu. Ajaklah mereka masuk,” kata Mbak Yu, ibunda
Koing.
“Enggak ikut Mbak Yu.
Aku sendirian saja kemari. Eeeem … aku sebenarnya ada perlu sama Koing.”
“Koing? Ada dia … lagi bersih-bersih di belakang.
Sebentar ya … Mbak Yu panggilkan dulu ..”
“Makasih Mbak Yu.”
Koing menyeka pluh di
sekujur tubuhnya. Baju dibuka, jadi penyeka peluh kayak handuk pengering badan.
Sambil duduk-duduk di bawah pohon jambu, dia minum air the manis buatan ibunya.
Sedap dan nikmat di lidah serta kerongkongan.
Melihat ibunya dating, Koing bersegera
menghampiri. Dia menemui sang paman setelah dibisiki sesuatu oleh ibunya tadi.
Koing mencium tangan lelaki ramah itu, dibalas dengan pelukan dan ciuman hangat
penuh kasih saying di pipi kanan dan pipi kiri.
Setelah itu, Paman
Yos mengutarakan maksudnya untuk mengajak Koing ikut serta menemani anaknya
jalan-jalan ke pantai. Tentu saja Mbak
Yu tak keberatan. Dia malah senang karena Koing sudah lama menginginkan bisa
bermain di tepian pantai.
“Mau ya, Ing.
Sekalian gantikan paman. Paman kan enggak bisa ikut. Nanti sopirnya paman saya
yang menemani. Termasuklah kamu …”
“Sudah, tukar
pakaiannya dulu sana,” sahut sang ibu. Dia ketawa geli melihat Koing lupa mengenakan
baju. Buru-buru masuk kamar sambil berlari dengan kepala separo menunduk.
Sendiriankah Koing?
Tentu tidak. Dia
mengajak serta Brendo. Apalagi sang paman tak keberatan. Paling tidak, Koing
selain punya teman dalam perjalanan, juga bisa saling bahu membahu seandainya
ada kejadian yang menimpa mereka nantinya.
Karena menggunakan
mobil anyar yang baru keluar dari show room, jalana mulus nyaris tak ada lubang
dan tidak macet merayap, kurang dari satu jam mereka sudah tiba di lokasi
pantai.
Pintu mobil dibuka ….
“Horeeee … Kita
berenang!” Teriak keempat anam Paman Yos. Perempuan semuanya. Si sulung duduk di bangku sekolah dasar
kelas lima, sama dengan Koing dan
Brendo. Sedangkan si bungsu baru kelas
satu.
“Aduh anak-anak …
Nanti. Ing, susul dan temani mereka,” pinta Bibi Yos dengan raut muka cemas.
Namanya juga
anak-anak. Sampai di bibir pantai satu-satu mulai pasang aksi. Si nomor tiga dn
dua main percik-percikan air, sedangkan si sulung dan si bungsu memasukkan
kedua kakiny ke dalam air sambil memandang perahu nelayan menuju tengah lautan.
Saat Brendo dan Koing
asyik dan fokus mengawasi anak-anak Paman Yos bermain, tiba-tiba terdengar suara
wanita menjerit minta tolong. Koing
menoleh, bersegera ia menghampiri.
“Tolong bibi, Ing …
Bibi dijambret,” katanya. Dia meminta Koing mengejar pelaku penjambretan yang
kabur menggunakan sepeda motor barusan.
Koing terpaksa
mengejar sendirian. Sebab, Brendo ditugasi sang bibi mengawasi anak-anaknya
bermain. Koing terus mengayuh sepeda BMX nya melewati pohon-pohon pinus dan
cemara.
Menuruni tanah yang
menurun dan mendaki, sampailah ia di ujung pantai. Di sana ada sebuah gubuk
kecil. Di luar gubuk terparkir sebuah
sepeda motor trail keluaran terbaru. Motor itu dibiarkan tak terkunci.
Sesaat kemudian, dua
orang laki-laki berperawakan sedang keluar dari gubuk sambil menjinjing tas
jinjing yang disematkan ke punggung.
Koing tak berdiam
diri. Dia menyiapkan sebatang kayu yang panjangnya kira-kira satu meter. Kayu
itu digunakan sebagai perangkap menangkap pelaku. “
“Bukankah motor
mereka nanti lewat sini?” Tanya Koing dalam hati.
Benar saja. Motor
yang dikendarai penjambret itu melaju kencang melewati jalan setapak tempat
Koing bersembunyi sambil memegang kayu dan batu. Sempat berhenti sejenak,
meng-over gigi dan memperbesar gas, motor kembali melaju dengan kecepatan di
atas enam puluh.
Dan praaaaak! …
gaaaaar!
Hanya dengan satu
kali lemparan serempak kanan kiri dengan kayu dan batu, dua penjambret itu ber hasil dirobohkan. Motor terbalik sementara tas yang disandang
teman pembonceng terlempar bebe rapa meter dari tempat Koing berdiri. Koing tak
menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Itu anaknya. Cepat
kejar!” Teriak salah seorang penjambret
seraya menunjuk geram ke arah Koing yang berhasil membawa kabur tas
berisi uang hasil jambretan mereka.
Mesin motor
dinyalakan kembali. Balik arah. Kedua penjembret itu mengejar Koing yang sudah
jauh berada di depan. Sayangnya, sampai di pertigaan, mereka kehilangan jejak
Koing. Sebelum akhirnya dikejutkan dengan aksi nekat Koing dengan sepeda BMX
kesayangannya melompat persis di atas kepala mereka.
“Busyet Lu!
“Cepat kejar dia!”
Kata lelaki gemuk besar kepada temannya yang membonceng.
“Jangan sampai
lepas.”
“Kalau lepas kita
bakal ditebas.”
Koing memutar ke
kanan. Dia mengau sepedanya sekencang mungkin. Melewati jalan setapak yang
dinaungi ranting pephonan. Belok kanan, belok kiri dengan lincahnya. Sampai di
bibir jalan ujung pantai, Koing tetap belum terkejar oleh kawanan jambret itu.
Baru setelah melewati
jalan beraspal, kawanan jambret berhasil menemukannya. Koing cuek saja. Ia
seolah-olah tak tahu. Ia terus mengayuh sepedanya. Kejar-kejaran kembali
terjadi.
“Cepat sedikit bloon,”
hardik penjambret satunya sambil memukul-mukulkan tinjunya di bido motor.
Hanya terpau beberapa
sentimeter saja jarak antara mereka. Koing mengerem mendadk sepedanya seraya
menendang si penjambret dan jatuh saat itu juga.
“Kalian tu … jambret
goblok,” ejek Koing yang sesekali
menjulur-julurkan lidahnya
Karena geram dan malu
sudah terjatuh, lelekai gemuk besar tadi berusaha mengejar Koing seorang diri.
Sedangkan temannya tetap memacu motor dengan harapan bisa secepatnya
menangkap Koing.
Saat tangan kiri
pnjambret hamper menyentuh sepeda Koing, lepas lagi karena Koing berhasil mela kukan
zig zag. Pria brewokan it terus mengejar dan berhasil mendahului Koing. Saat penjambret hen dak belok, Koing mengayuh sepedanya sekencang mungkin. Belum sempat mengejar, kaki
Koing sudah lebih dulu mengenai paha penjambret. Jatuh tersungkur dari motor.
“Apes deh … lepas
lagi,” gerutu teman si penjambret yang tertinggal agak jauh di belakang. Dia terus berlari ingin membantu temannya yang jatuh dan tak juga
bangun-bangun itu.
Sudah diguncang-guncang
tubuhnya berulangkali tetap tak sadarkan diri. Baru siuman setelah dibisiki
kalau orang sepantai mengejar mereka
berdua.
“Tangkaaaap!” Teriak
orang sepantai. Meneriaki penjembret yang berusaha kabur dengan sepeda
motornya.
Berhasilkah mereka
kabur?
Berhasil. Tapi,
karena yang mengejar jumlahnya banyak, ada dengan berlari doang, pakai sepeda
motor, bahkan kendaraan roda empat, dua penjambret tadi akhirnya kewalahan. Tak
berdaya. Mereka dikepung dari depan, kanan, kiri dan belakang.
Mereka menyerah,
itulah akhirnya.