Rabu, 27 Mei 2015

Koing (5)



Serial Detektif Cilik
KOING (5)
Menangkap Penjambret ….
Oleh Wak Amin

KALA Koing asyik menyapu di pekarangan belakang  pada pagi di hari libur, sebuah mobil Hyundai berhenti persis di depan pintu pagar rumahnya. Tak lama kemudian, seorang laki-laki membuka pintu dan keluar dari mobil itu dengan sedikit tergesa-gesa.
“Assalamualaikum … Mbak Yu!”
Ibunya Koing bergegas ke depan. Dia membukakan pintu dan betapa gembiranya ia setelah tahu lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini, tak lain dan tak bukan, adik kandungnya sendiri, Paman Yos.
“Tambah gemuk saja kamu, Yos. Mana anak dan istrimu. Ajaklah mereka masuk,” kata Mbak Yu, ibunda Koing.
“Enggak ikut Mbak Yu. Aku sendirian saja kemari. Eeeem … aku sebenarnya ada perlu sama Koing.”
“Koing?  Ada dia … lagi bersih-bersih di belakang. Sebentar ya … Mbak Yu panggilkan dulu ..”
“Makasih Mbak Yu.”
Koing menyeka pluh di sekujur tubuhnya. Baju dibuka, jadi penyeka peluh kayak handuk pengering badan. Sambil duduk-duduk di bawah pohon jambu, dia minum air the manis buatan ibunya. Sedap dan nikmat di lidah serta kerongkongan.
 Melihat ibunya dating, Koing bersegera menghampiri. Dia menemui sang paman setelah dibisiki sesuatu oleh ibunya tadi. Koing mencium tangan lelaki ramah itu, dibalas dengan pelukan dan ciuman hangat penuh kasih saying di pipi kanan dan pipi kiri.
Setelah itu, Paman Yos mengutarakan maksudnya untuk mengajak Koing ikut serta menemani anaknya jalan-jalan ke pantai.  Tentu saja Mbak Yu tak keberatan. Dia malah senang karena Koing sudah lama menginginkan bisa bermain di tepian pantai.
“Mau ya, Ing. Sekalian gantikan paman. Paman kan enggak bisa ikut. Nanti sopirnya paman saya yang menemani. Termasuklah kamu …”
“Sudah, tukar pakaiannya dulu sana,” sahut sang ibu. Dia ketawa geli melihat Koing lupa mengenakan baju. Buru-buru masuk kamar sambil berlari dengan kepala separo menunduk.
Sendiriankah Koing?
Tentu tidak. Dia mengajak serta Brendo. Apalagi sang paman tak keberatan. Paling tidak, Koing selain punya teman dalam perjalanan, juga bisa saling bahu membahu seandainya ada kejadian yang menimpa mereka nantinya.
Karena menggunakan mobil anyar yang baru keluar dari show room, jalana mulus nyaris tak ada lubang dan tidak macet merayap, kurang dari satu jam mereka sudah tiba di lokasi pantai.
Pintu mobil dibuka ….
“Horeeee … Kita berenang!” Teriak keempat anam Paman Yos. Perempuan semuanya.  Si sulung duduk di bangku sekolah dasar kelas  lima, sama dengan Koing dan Brendo.  Sedangkan si bungsu baru kelas satu.
“Aduh anak-anak … Nanti. Ing, susul dan temani mereka,” pinta Bibi Yos dengan raut muka cemas.
Namanya juga anak-anak. Sampai di bibir pantai satu-satu mulai pasang aksi. Si nomor tiga dn dua main percik-percikan air, sedangkan si sulung dan si bungsu memasukkan kedua kakiny ke dalam air sambil memandang perahu nelayan menuju tengah lautan.
Saat Brendo dan Koing asyik dan fokus mengawasi anak-anak Paman Yos bermain, tiba-tiba terdengar suara wanita menjerit minta tolong.  Koing menoleh,  bersegera ia menghampiri.
“Tolong bibi, Ing … Bibi dijambret,” katanya. Dia meminta Koing mengejar pelaku penjambretan yang kabur menggunakan  sepeda motor barusan.
Koing terpaksa mengejar sendirian. Sebab, Brendo ditugasi sang bibi mengawasi anak-anaknya bermain. Koing terus mengayuh sepeda BMX nya melewati pohon-pohon pinus dan cemara.
Menuruni tanah yang menurun dan mendaki, sampailah ia di ujung pantai. Di sana ada sebuah gubuk kecil. Di luar gubuk  terparkir sebuah sepeda motor trail keluaran terbaru. Motor itu dibiarkan tak terkunci.
Sesaat kemudian, dua orang laki-laki berperawakan sedang keluar dari gubuk sambil menjinjing tas jinjing yang disematkan ke punggung.
Koing tak berdiam diri. Dia menyiapkan sebatang kayu yang panjangnya kira-kira satu meter. Kayu itu digunakan sebagai perangkap menangkap pelaku. “
“Bukankah motor mereka nanti lewat sini?” Tanya Koing dalam hati.
Benar saja. Motor yang dikendarai penjambret itu melaju kencang melewati jalan setapak tempat Koing bersembunyi sambil memegang kayu dan batu. Sempat berhenti sejenak, meng-over gigi dan memperbesar gas, motor kembali melaju dengan kecepatan di atas enam puluh.
Dan praaaaak! … gaaaaar!
Hanya dengan satu kali lemparan serempak kanan kiri dengan kayu dan batu,  dua penjambret itu ber hasil dirobohkan.  Motor terbalik sementara tas yang disandang teman pembonceng terlempar bebe rapa meter dari tempat Koing berdiri. Koing tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Itu anaknya. Cepat kejar!” Teriak salah seorang penjambret  seraya menunjuk geram ke arah Koing yang berhasil membawa kabur tas berisi uang hasil jambretan mereka.
Mesin motor dinyalakan kembali. Balik arah. Kedua penjembret itu mengejar Koing yang sudah jauh berada di depan. Sayangnya, sampai di pertigaan, mereka kehilangan jejak Koing. Sebelum akhirnya dikejutkan dengan aksi nekat Koing dengan sepeda BMX kesayangannya melompat persis di atas kepala mereka.
“Busyet Lu!
“Cepat kejar dia!” Kata lelaki gemuk besar kepada temannya yang membonceng.
“Jangan sampai lepas.”
“Kalau lepas kita bakal ditebas.”
Koing memutar ke kanan. Dia mengau sepedanya sekencang mungkin. Melewati jalan setapak yang dinaungi ranting pephonan. Belok kanan, belok kiri dengan lincahnya. Sampai di bibir jalan ujung pantai, Koing tetap belum terkejar oleh kawanan jambret itu.
Baru setelah melewati jalan beraspal, kawanan jambret berhasil menemukannya. Koing cuek saja. Ia seolah-olah tak tahu. Ia terus mengayuh sepedanya. Kejar-kejaran kembali terjadi.
“Cepat sedikit bloon,” hardik penjambret satunya sambil memukul-mukulkan tinjunya di bido motor.
Hanya terpau beberapa sentimeter saja jarak antara mereka. Koing mengerem mendadk sepedanya seraya menendang si penjambret dan jatuh saat itu juga.
“Kalian tu … jambret goblok,” ejek  Koing yang sesekali menjulur-julurkan lidahnya
Karena geram dan malu sudah terjatuh, lelekai gemuk besar tadi berusaha mengejar Koing seorang diri. Sedangkan temannya tetap memacu motor dengan harapan bisa secepatnya menangkap  Koing.
Saat tangan kiri pnjambret hamper menyentuh sepeda Koing, lepas lagi karena Koing berhasil mela kukan zig zag. Pria brewokan it terus mengejar dan berhasil mendahului Koing.  Saat penjambret hen dak belok,  Koing mengayuh sepedanya  sekencang mungkin. Belum sempat mengejar, kaki Koing sudah lebih dulu mengenai paha penjambret. Jatuh tersungkur dari motor.
“Apes deh … lepas lagi,” gerutu teman si penjambret yang tertinggal  agak jauh di belakang. Dia terus berlari  ingin membantu temannya yang jatuh dan tak juga bangun-bangun itu.
Sudah diguncang-guncang tubuhnya berulangkali tetap tak sadarkan diri. Baru siuman setelah dibisiki kalau  orang sepantai mengejar mereka berdua.
“Tangkaaaap!” Teriak orang sepantai. Meneriaki penjembret yang berusaha kabur dengan sepeda motornya.
Berhasilkah mereka kabur?
Berhasil. Tapi, karena yang mengejar jumlahnya banyak, ada dengan berlari doang, pakai sepeda motor, bahkan kendaraan roda empat, dua penjambret tadi akhirnya kewalahan. Tak berdaya. Mereka dikepung dari depan, kanan, kiri dan belakang.
Mereka menyerah, itulah akhirnya.



Senin, 25 Mei 2015

koing (3)



Serial Detektif Cilik
KOING  (3)
Sumpah Tukang Palak
Oleh Wak  Amin

“KOIIIIING!” Panggil sang ibu dari ruang tamu.
“Ya Buuu,” sahut Koing sambil mengenakan celana sekolahnya di kamar.
“Mbak Anggun, nanyain kamu, Ing. Cepatlah kemari, nak!”
“Ntar  ya Bu. Tanggung …”
Seusai menyisir rambut, Koing keluar kamar dengan mengenakan tas sekolah punggung. Berseragam putih merah, pagi ini Koing tampak gagah.
Saat tiba di teras, dia mencium tangan Mbak Anggun yang cantik itu. Disebelahnya duduk manis sang ibu tercinta.
“Begini, Ing. Mbak minta tolong kamu. Belakangan ini Husni selalu minta antar Mbak kalau pergi ke sekolah. Padahal selama ini kan enggak. Berani pergi sendiri. Pulangnya juga.”
“Sudah berapa lama, Mbak?” Tanya Koing sambil mengeluarkan notes kecil dari tas kulitnya.
“Kira-kira sudah seminggulah,” kata Mbak Anggun.
Tak banyak yang ditanyakan Koing. Selain kapan mulai kejadiannya, juga uang jajan yang diberikan pada Husni setiap hari. Apakah masih utuh atau sudah habis dibelanjakan.
“Waduh, Ing. Kalau itu sih Mbak enggak sampai tanya Ing ke Husni. Sebab, selama ini uang jajan yang Mbak Anggun kasih ke dia, utuh. Sepuluh ribu, kadang lebih sedikitlah. Nah, untuk apa dan dikemanakan uang jajan itu, Mbak enggak pula tahu …”
“Ya sudah. Taka pa-apa, Mbak.”
“Tolong  ya Ing cari tahu. Kalau perlu apa-apa, temui saja Mbak ya sayang ya!”
“Baik Mbak. Sekarang Mbak Anggun tenang saja. Beri waktu Koing satu hari …”
“Oke anak manis. Mbak tunggu ya hasilnya …”
Meski ditawari naik motor bebek, Koing lebih suka jalan kaki. Lambaian tangan Mbak Anggun semakin mempercepat langkah kaki Koing ke sekolah.
Di depan pintu gerbang sekolah, seperti biasa Koing sudah ditunggu Brendo, sobat karibnya. Tanya kabar, PR sekolah dan pelajaran sekolah hari ini.  Kadang sama-sama pergi ke sekolah, lain waktu enggak.
Husni memang satu sekolahan dengan Koing dan Brendo. Tapi tidak satu kelas. Husni baru duduk di kelas empat, setingkat di bawah. Jadi dia menyebutnya kakak kelas.
Ketika istirahat, siswa lain menyempatkan diri jajan dan bermain-main, Koing dan Bredo justru tidak. Keduanya berbagi tugas. Brendo nanya ke teman dekat Husni, Koing ke guru kelas dan beberapa orang wali murid yang sering duduk di ruang tunggu depan sekolah.
Hasilnya mereka diskusikan berdua. Sepulang sekolah, mereka tidak langsung pulang ke rumah. Tapi duduk di sebuah warung jajanan tak jauh dari sekolah. Cukup ramai disesaki siswa dan orang yang singgah untuk sekadar mengisi perut agar tidak keroncongan.
Warung ini adalah perlintasan siswa yang pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Selain dinaungi rindangnya pepohonan, jalan setapak tanah liat in dinilai aman dan lebih cepat sampai di rumah.
“Itu mereka, Do!.” Tunjuk Koing. Dia menunjuk dengan tatapan mata kea rah dua siswa yang  hendak menyeberang menuju jalan perlintasan.
“Langsung sikat saja, Ing,” kata Brendo sudah tak sabar hendak memukul siswa satu sekolahan itu.
“Tunggulah dulu!” Koing menenangkan Brendo.
Sengaja Koing membiarkan dua siswa itu berjalan lebih dahulu. Mereka hanya mengikutinya dari belakang. Saat tiba di kelokan kanan, Koing bertanya.
Namun, belum sempat bertanya, siswa bertubuh kurus itu langsung melayangkan tinju ke muka Koing. Mengelak sedikit, Koing melepskan pukulan kearah perut.
“Aduh .. ekkh!”
Jatuh terjerembab. Sedangkan siswa satunya yang berpostur tambun secara membabi buta me lepaskan beberapa  tendangan kea rah Brendo.  Hanya menghindar dan untuk sementara tidak melakukan serangan balasan.
Saat lawan lengah.
“Hiyaaat!”
Dengan hanya satu tendangan memutar, lawan tersungkur. Mukanya penuh dilepoti tanah. Mengerang kesakitan.
“Sekarang ngaku. Kalian berdua kan yang sering memalaki Husni?”
“Husni mana, Kak?” Tanya si tambun meringis kesakitan.
“Ah, jangan bohong. Kamu kan?!” Brendo menjepit  tangan si tambun dengan kaki. Mengaduh kesakitan.
Sementara Koing melepaskan cengkraman tangannya dari rambut si kurus. Keduanya minta ampun dan belas kasihan.
“Apa kalian berdua ini mau kami bawa ke kantor polisi?” Gertak Brendo.
“Jangan, Kak. Jangan … Kami mengaku salah. Kami minta maaf. Kami khilaf,” ucap si tambun sesunggukan.
“Sudah .. sekarang kalian berdua ikut kami,” kata Koing meminta keduanya segera berdiri.
“Kemana, Kak?”
“Ke kantor polisi,” sahut Brendo.
“Jangan, Kak. Jangan …” Jerit  si tambun dan si kurus berulangkali.
“Kalau pulang ke rumah, mau enggak?” Tanya Koing.
“Mauuu!” Jawab keduanya serentak.
“Berjanjilah … ikuti ucapan saya ..”
“Maksudnya, Kak?”
“Saya yang ngomong, kamu berdua ikuti omongan saya. Paham?”
Si tambun dan kurus mengangguk  paham.
Inilah ucapan Koing: “Kami bersumpah tidak akan memalak lagi. Dan kami berdua berjanji akan menaati sumpah ini sampai mati. Amiiin …”


Serial Detektif Cilik
KOING (4)
Bebaskan Sandera ….
Oleh Wak Amin

“Elang Satu … Roger!”
“Elang Dua di sini…  Roger!”
“Elang Tiga di sini … Roger!”
ELANG satu, nama sandi Koing, menyelinap masuk lewat pintu belakang. Diikuti Wak Ji si Elang Dua. Sedangkan Elang Tga, Brendo, bingung.  Mau manjat pagar atau jalan memutar tapi jauh dan gelap.
“Lompat aja, Do. Penakut amat lu ..” Kata Wak Ji ketawa geli.
“Kawat semua, Wak. Luka kakiku nanti. Penuh koreng. Pasti diejek teman-temanku nanti. Si koreng … si koreng. Kaki Brendo penuh koreng.”
“Peduli amat. Daripada mati dimakan hantu .. Coba, ayooo!”
“Kau cobalah dulu dengan memanjat, Do. Siapa tahu kamu bias. Cepat!” Saran Koing.
Tak ada pilihan buat Brendo. Suka tidak suka ia harus memanjat. Kalau tidak, selain terlambat, boleh jadi korban yang disekap keburu hilang.
Huppp .. sreeet!
Meringis kesakitan terkena kawat. Brendo terus memanjat. Badan berkeringat. Dari sela betis dan kaki ada darah mengucur sedikit. Meski terluka, ia berhasil memanjat dan dengan satu kali lompatan sudah berada di dalam gedung.
“Elang Tiga di sini … Kalian dimana?” Tanya Brendo. Mengendap-endap melewati jalan setapak tak berlampu. Penuh lubang dengan semak belukar di kiri dan kanan.
Karena tak ada jawaban, Brendo memutuskan sendiri harus kemana. Posisi amannya di mana. Sesaat ia mendongakkan kepalanya ke atas, atap gedung. Berpikir sejenak, akhirnya ia menaiki atap dengan memanjat dan melampaui beberapa tiang penyangga.
Sampai di atas, sambil melihat suasana sekitar, ia meniti petak atap satu-satu. Agak di ujung, ia melihat sedikit cahaya. Mendekatlah ia. Dan benar, dari tempat itu, setelah salah satu atapnya dibuka pelan-pelan,  ia melihat ada orang yang disekap.
Karena jarak antara yang tersekap dengan dirinya curup tinggi,  Brendo mengurungkan niat untuk turun.  Dia masih ragu. Saat ragu itulah, HP besarnya bordering.
“Elang Tiga … Elang Tiga. Roger!”
“Ya Elang Tiga disini.”
“Elang  Satu di sini bersama Elang Dua. Kami berhasil masuk. Tepat berdiri dekat toilet.”
“Dimengerti. Elang Tiga di atas atap. Lihat korban disekap. Terlalu tinggi untuk turun. Roger!”
“Penakut Lu..” Ejek Wak Ji.
“Elang Tiga bukan penakut. Roger!” Jawab Brendo.
“Kalau bukan penakut, lalu apa?”
“Pemberani …”
Hampir saja tawa Wak Ji terdengar lepas kalau tidak secepatnya ditahan Koing dengan telapak tangan.
Wak Ji geli.  Enggak jadi ketawa. Senyum sendiri.
“Elang Tiga … Elang Tiga …”
“Elang Tiga menerima perintah.”
“Putuskan sendiri yang baik buatmu!”
“Elang Tiga siap laksanakan!”
Di dalam gedung ada dua orang penyekap. Badannya tegap dan besar. Salah satu dari mereka tak berhenti menelepon. Entah siapa yang ditelepon. Sedangkan agak ke ujung tampak seorang wanita dalam posisi duduk di kursi. Tangannya terikat sementara mulutnya disekap dengan kain panjang.
Brendo merentangkan tali dari ujung ke ujung atap. Kemudian tali itu dijulurkan ke bawah. Dengan amat hai-hati Brendo meniti tali itu sampai ke bawah. Karena letaknya rada ke belakang, Brendo lepas dari pengawasan  penyekap.
“Aman, Elang Satu.” Bisik Brendo bangga. Dia menepuk-nepuk dadanya karena sukses menirukan Ninja beraksi masuk gedung.
“Cepat amat Lu, Do. Bohong ah. Kamu pasti min-main kan?” Kata Wak Ji penasaran.
“Benar, Wak,” ucap Brendo sambil mengintip penyekap berkepala plontos  yang sedari tadi asyik telepon-teleponan.
“Elang Satu, Elang Satu. Elang Tiga lapor.”
“Elang Satu di sini. Elang Tiga silakan lapor!”
“Temui cepat di ujung sebelah kanan kalian. Aku tunggu. Roger!”
“Siap ke sana. Roger!”
Sembari menunggu kedatangan Koing dan Wak Ji, Brendo mengeluarkan betetan. Dia arahkan itu betetan ke pantat seorang penyekap. Tepat mengenai punggung, bukan pantat.
Tak ada reaksi. Tampaknya si penyekap betul-betul kuat dan kekar. Walau sudah kena betet pakai batu kerikil, meringis pun tidak. \
“Tunggu, Do. Jangan betet dulu,” kata Koing menepis tangan Brendo yang sudah siap melpaskan betetannya.
“Wak Ji aja yang embetetnya,” sahut Wak Ji menawarkan diri.
“Nanti salah betet, Wak.” Sindir Brendo.
“Do. Tua-tua gini, dulunya Wakmu ini jago embetet  burung.”
“Betul. Tapi kan sekara ng ini Wak sudah tidak muda lagi. Sudah tua. Entar lagi masuk ke liang kubur.”
“Walaupun  Wak sudah tua, Do, masih tokcer. Coba kemari kan itu betetan!”
Brendo mengambil batu kerikil dari balik saku celananya. Lalu diserahkan ke Wak Ji bersama betetannya. Koing senyum-senyum saja. Wak Ji benar-benar tua keladi. Makin tua makin seksi.
Wak Ji konsentrasi penuh. Lama juga dia membidikkan  betetan dan huup! Peluru betetan lepas. Tapi bukan kena si penyekap. Tapi melenceng kena kayu, mengarah dan memantul ke dinding atap plafon.
Suasana berubah riuh seketika. Puluhan kelelawar terbang mengitari ruangan gedung. Bukan hanya dua orang penyekap tadi yang panik dan tunggang langgang menghindari kelelawar-kelelawar buruk rupa itu. Koing, Wak Ji dan Brendo pun demikian.
“Ayi kita bergerak cepat!” Teriak Koing mengajak dua rekannya melepaskan si wanita dari ikatan penyekap. Untuk kemudian bersembunyi sejenak di tempat semula.
Dua penyekap itu terlibat adu mulut setelah kelelawar pergi menghilang dari balik gedung dan sandera mereka pergi  entah kemana.
“Kenapa kau lepaskan, Mec?” Tanya si kepala pelontos.
“Siapa yang lepaskan, Jon. Aku kan jaga dekat pintu. Sedangkan kamu asyik ngomong dengan pacar kamu.”
“Pacar? No … Aku bicara sama wanita itu benar. Tapi bukan pacar, bodoh.”
“Kalau bukan pacar, kenapa bilang sayang .. kapan aku bisa ngapel … mau dibawakan apa…suka filem apa segala. Dasar pecundang. Gatal. Play boy kelas teri.” Jawab si bahu lebar tak mau kalah.
“Masa bodoh, ah. Pokoknya tanggung jawab. Titik.”
“Ogah, Elu yang mesti tanggung jawab.”
 Lama juga mereka bertengkar. Adu mulut. Hampir sepuluh menit. Saling ejek, saling  tendang dan dorong-dorongan badan. Sesekali terjatuh. Bangun lagi. Begitulah berulangkali. Silih berganti. Keduanya baru berhenti setelah terdengar suara klakson mobil di luar gedung.
Keduanya buru-buru membuka pintu garasi gedung. Sebuah mobil mewah berwarna hitam tampak ga gah dengan sorot lampu depan tajam dan terang benderang berjalan lambat memasuki area garasi. Selang beberapa detik itu lampu padam. Bersamaan dengan itu, keluarlah seorang pria berpakaian necis dengan rokok cerutu menempel di mulut. Ekspresi wajahnya begitu dingin dengan sorot mata tajam, liar dan menakutkan.
“Bawa kepada saya kembali paling lambat sampai besok. Kalau tidak, kepala kalian berdua aku bakar dalam tungku. Mengerti?”
 Mec dan Jon mengangguk. Tangan Big Bos mengangkat silih berganti dagu keduanya, seraya berkata lantang:
“Aku tak mau kalian gagal malam ini.”
Saat Big Bos berbicara dengan dua rekannya di suatu tempat di luar gedung, Mec dan Jon seperti orang kebingungan. Berjalan loyo  keluar gedung guna mencari tawanan mereka yang lepas.
Koing akhirnya mengontak pihak berwajib.
Koing melaporkan ada penyenderaan di sebuah gedung bertingkat di ujung kota dekat taman. Pihak berwajib merespon dengan baik dan segera mengirimkan tim khusus ke lokasi penyanderaan.
“Alhamdulillah!” Kita bisa  pulang sekarang. Wak udah capek.  Wak mau mandi bersihkan badan dan bobok. “Kata Wak Ji dengan nada bicara kepayahan.
“Tak bisa, Wak Ji,” jawab Brendo.
“Kenapa? Kan yang disandera sudah di tangan kita sekarang. Tunggu apalagi. Kita serahkan saja ke orangtuanya. Habis perkara.”
Ssssssssst …
Koing minta kedua rekannya itu diam. Pasalnya, si Big Bos tampak  tergesa-gesa menuju luar gedung.  Mendekati  Mec dan Jon dengan nafas turun naik amat kencang.  Lelaki berkulit putih bersih itu marah besar.  Mata melotot, mukanya merah.  Bukannya mencari tawanan yang melarikan diri, eee ini anak buah malah asyik sesunggukan dekat danau bertaman.
Tak lama kemudian terdengarlah suara lantang dari pengeras suara.
“Menyerahlah … Kalian sudah dikepung!”





   
     

Minggu, 24 Mei 2015

doa minta impian


Ya
Allah! Perhatikanlah kami kebenaran dengan yang benar, dan berilah kami jalan mengikutinya dan perhatikanlah kami kebatilan dengsn yang batil dan berilah kami jalan menjauhinya.


Sabtu, 23 Mei 2015

Koing (1)



Serial Detektif Cilik
KOING (1)
Mencari Ayam yang Hilang …..
Oleh Wak Amin

“Assalamualaikum …. Koing, Koing!” Wak Ji memanggil-manggil Koing dari depan pintu.
“Waalaikumsalam.” Pintu terbuka. Yang membuka Koing. Tak pakai baju. Cuma mengenakan  celana pendek berumbai-rumbai.
“Wak minta tolong, Ing. Ayam Wak hilang semalam. Sampai pagi ini belum ketemu. Belum balik-balik ke sangkarnya.”
“Sudah Wak Ji cari ayamnya?” Tanya Koing sambil menguap dan membetulkan letak celananya yang sempat kedodoran tadinya.
“Sudah, Ing. Tapi tak ketemu juga oleh Wak. Tolonglah Wak Ji, Ing,” pinta Wak Ji.
“Laki atau perempuan Wak Ji?”
“Betina, Ing.”
Koing masuk ke kamar sebentar. Keluar lagi sambil membawa notes kecil. Dicatatnya cirri-ciri itu ayam , perkiraan harganya, kapan hilangnya, termasuk jenis dan pasarannya. Diburu orang atau tidak itu ayam kesayangan Wak Ji.
“Sudah, Wak. Balikla Wak sekarang. Tunggu saja ayamnya di rumah.”
“Terima kasih, Ing. Kau ini memang benar-benar anak hebat,” puji Wak Ji sambil pamitan pulang ke rumah.
Hari Minggu, Koing tidak sekolah. Makanya dia bisa sendirian mencari ayam Wak Ji yang hilang. Dengan menggunakan seped a BMX dia leluasa  keluar masuk lorong. Juga pasar dan komplek perumahan.
Tapi sebelum mencari ayam, Koing singgah terlebih dahulu di rumahnya Wak Ji. Dia meminjam ayam lanang yang digunakan sebagai umpan. Wak Ji tentu saja tidak keberatan. Dia justru senang karena bisa  mempermudah Koing menemukan si ayam yang hilang.
Pertama kali yang ia datangi pasar tak jauh dari rumahnya. Ramai pembeli pagi  itu. Koing melepaskan ayam jago Wak Ji ke sekitar puluhan ayam yang ada dalam sangkek besar. Diberinya makanan. Ikut berbaur dengan ayam yang dijual lelaki bertubuh tambun itu.
Lepas itu, Koing pamitan pergi sambil menggendong ayamnya Wak Ji . Di tengah jalan dia bertemu teman satu kelasnya, Brendo yang hendak pergi ke warung membeli sayur mayur. Koing tak banyak tanya, dia cuma berpesan kepada sobatnya itu hati-hati menyeberang jalan.
 “Nanti sore, jangan lupa main ya di rumah aku,” ajak Koing.
“Oke, Ing. Aku ke warung dulu. Daaagh!”
“Oke .. daagh juga.”
Ke mana lagi Koing mencari ayam?
Tidak ke mana-mana. Dia cuma duduk-duduk saja dekat pos ronda sambil menunggu Brendo  pulang dari belanja di warung.
Benar saja. Baru beberapa menit meleps penat, Brendo keluar dari warung dan hendak menyeberang jalan. Dilihatnya Koing, wajahnya sumringah.
“Aku memang menunggu kau, Do,” ucap Koing, ikut membawakan sayur-sayuran yang dibeli Brendo barusan. Ada kentang, tomat. Pokoknya macam-macamlah.
“Emakku masak ayam, Ing. Kalau mau, makanlah di rumahku siang nanti,” kata Brendo penuh harap Koing mau datang ke rumahnya.
“Kapan emakmu menyembelihnya, Do?”
“Semalam,” jawab Brendo sambil ketawa lebar. Wajar dia ketawa. Hampir setahun dia tak pernah makan ayam.
“Perasaanku kamu tak pelihara ayam, kan, Do?”
“Tidak, Ing. Kamu ini ada-ada saja. Dari mana emakku punya duit mau beli dan pelihara ayam segala.”
“Lantas, ayam itu kapan belinya?” Tanya Koing.
“Kata  emakku, tak belilah. Ada ayam masuk rumah. Ditangkap emakku. Dielus-elusnya. Entah kenapa, emakku iba-tiba ingin menyembelihnya. Kata emakku, dia sudah kangen sama daging ayam. Begitu ceritanya, Ing.”
Koing mengangguk-angguk kayak burung kutilang bernyanyi sambil berangguk. Dia berpikir sejenak. Setelah itu dia membisikkan sesuatu di telinga Brendo.
“Bagus sekali, Ing. Aku tunggu siang nanti rumah ya. Jangan tak datang. Awas lho!”
“iya .. iya.”
Sebagaimana janjinya pada Brendo, Koing datang memenuhi undangan makan siang bersama Wak Ji. Mereka berdua datang tepat pukul 12.00. Disambut Brendo dan emaknya yang sudah menunggu lama sejak tadi.
Mereka berempat makan siang lahap sekali. Lauknya pindang ayam, opor,  semur dan goreng ayam. Sebelum makan Wak Ji memimpin doa agar makanan yang mereka makan siang ini mendapat berkah dari-Nya. Walupun Wak Ji sendiri sudah diberitahu Koing kalau gulai ayam yang tersaji di rumah Brendo adalah ayamnya yang hilang semalam. 


Serial Detektif Cilik
KOING (2)
Menangkap Hantu …
Oleh Wak Amin

Uukh … ukh. Ukh … ukh…
Anjing melolong.
“Ing, Ing. Tunggu Wak, Ing. Kain sarunnya Wak  tersangkut kayu,” ucap Wak Ji gemetaran.
“Aku juga, Ing. Kedua kakiku tak bias kugerakkan. Kenapa ya?” Brendo berkeringat dingin.
Saa Koing melepaskan sangkutan ujung kain Wak Ji, Brendo terus menggerakkan kedua kakinya sambil meringis menahan rasa sakit.
Saat ujung kain Wak Ji terlepas, kedua kaki Brendo sudah bisa  digerakkan. Dua-duanya, Wak Ji dan Breno, menarik  nafas lega.
“Kita lewat sini saja,” kata Koing, mengajak belok kanan menyusuri jalan setapak becek karena disiram air hujan barusan.
Suasana sekitar memang gelap. Sesekali terdengar suara aneh, seperti orang menangis, tertawa histeris, bahkan memukul-mukulkan sesuatu.
“Astaghfirullah,” ucp Wak Ji, berpegangan di pundak Koing.  Barusan terdenar suara pintu nuka tutup disertai sekelebat bayang-bayang hitam.
“Ing, kita pulang saja, yuk!” Ajak Brendo, sudah tak tahan. Karna semakin dekat ke lokasi yang dituju, bulu kuduk sudah tak terhitung lagi berdiri merinding. Blum lagi cucuran keringat dingin dengan pandangan mata yan g hanya bertumpu pada lampu senter.
“Sssst!”. Koing meminta  Wak Ji dan Brendo menunduk. Lambat tapi pasti, mereka berhasil menylinap dan mengintip di balik kaca yanh penuh debu dan kotoran kelelawar.
Di ruan itu ada meja dan kursi. Bergerak-gerak mengikuti arah jarum jam yan terus berdetak. Sesekali terdengar suara gelas, orang minum dan kata-kata yang suli dimengerti Koing, Brendo dan Wak Ji.
“Itulah tempatnya, Wak Ji.” Bisik Koing ke tlinga Wak Ji. Brendo makin ketakutan. Nafasnya turun naik  amat kencang.
Koing bersiap masuk dari jendela. Karena harus ekstra hati-hati, takut nanti ketahuan, ketiganya masuk bergantian. Pertama Koing, disusul Wak Ji dan terakhir Brendo.
“Aduh!” Ringis Brendo. Untunh tak terdengar  karena keburu ditutup mulunya oleh Wak Ji.
Di dalam, keigany duuk bersila. Melihat situasi aman, mereka mulai pasang aksi. Wak Ji berpakaian pocong,  menati-nari di atas meja. Diterangi lampu senter dan emergency yang dipancarkan dai arah Koing berdiri.
Bagaimana dengan Brendo?
Mini compo yang ia bawa mulai diutak-atik. Kaset dangdut dimasukkan, play ditekan. Terdengarlah irama dangdut.
Mereka pun bergoyang. Wak Ji jai pocong, sedangkan Koing dan Brendo Cuma mengenakan clana dalam saja. Goyang ketiganya lama kelamaan memancing keluar penunggu gedung tak berpenghuni itu.
Sambil komat-kamit tak karuan, raja penunggu gedung itu mendekati Wak Ji, Koin dn Brendo. Dengan Wak Ji, ia usap baju pocong itu mulai dari ujung kaki sampai ubun-ubun.
“Cocok,” komentarnya.
Saat mendekati Koing, si penunggu ini kut joget, bahkan seolah mengajak berdansa. Koing tak kuasa untuk menolak. Walaupun darah seolah enggan mengalir lagi saking pucatnya. Ia harus padu dengan penunggu.
“Lompat!”
Koing melompat. Memutar-mutarkan badan, meliuk-liukkan tubuh mengikuti irama si penunggu. Terasa pas dengan irama lagu.
“Cocok,” ucapnya.
Selanjutnya giliran Brendo. Sakin takutnya, ia pejamkan mata. Tak terlihat memang. Tapi rabaan sang penunggu gedung itu mulai teras.
“Geli enggak?” Tanyanya, mencuil bawah ketiak Brendo.
Tentu saja geli.
Berkali si penunggu menggelitik, berkali-kali pula Brendo kegelian. Sampai akhinya tak tahan lagi.
Saat Brendo kepayahan, Wak Ji dan Koing berhasil menankap si hantu dari belakang. Lalu mengikat tubuhnya dengan tali pocong. Denan hanya tiga kali putaran, si hantu tak berkutik lagi.
“Mampuslah kau hantu!” Teriak Wak Ji geram. Sudah tak tahan. Akibat ulah si penungu, warga tak berani lagi melintasi gedung bertingkat itu lepas magrib.
“Mau dibawa kemana aku?” Tanya sang penunggu meronta-ronta minta dilepaskan.
“Nanti, setelah di luar  gedung,” jawab Wak Ji sambil menepuk-nepuk punggung si penunggu  gedung. 
“Di sini aja. Aku ukan hantu, oi. Aku manusia. Tolong lpskn!” Rengeknya.
“Ah, bohon kamu. Kalau kamu bukan hanu, kenapa di sini dan berpakaian seperti ini sendirian di tempat gelap?”
“Kamu sendiri kenapa?” Si penunggu balik bertanya.
“Kami ingin menangkap kamu. Wak Ji Cuma menyamar supaya kamu keluar, dan kami berhasil menangkap kamu,” kata Koing. Mulai ragu dan curiga, kenapa kok kaki si penunggu justru menginjak tanah. Kalau hantu kan tidak?
“Na, salah tangkap kan!” kata si penunggu, bersikeras minta dilepaskan.
Wak Ji, Koing dn Brendo bertukr pndapat sjnak. Lepas idk, tidk lepas. Kalau dilepas, sia-sialah tugas mereka. Kalau tidk, kasihan juga lihat si penunggu. Iya kalau benar hantu. Kalau ternyata tidak, gimana?
“Kita serahkan saja dulu pada Pak Erte. Kan beliau yang minta tolong ke kita. Habis iu, terserah beliau maunya gimana. Oke?” Wak Ji menawarkan kesepakatan.
Koing dan Brendo setuju. Tak ada pilihan memang. Inilah pilihan yang terbaik.
Pak Erte yang sudah menunggu di luar gedung tampak gelisah. Mengusir rasa cemas gelisahnya, dia menyulut rokok. Menghisapnya sambil berjalan ke sana kemari .
Ketika hendak beranjak meninggalkan gedung, karena sebentar lagi terdengar azan subuh, ada orang memanggil namanya. Dia kenal suara itu. Pasti Koing, katanya dengan raut muka ceria.
“Ya Pak Erte. Saya Koing. Saya melapor. Hantunya berhasil kami tangkap,” kata Koing, menunjuk kea rah Brendo dan Wak Ji yang tengah memapah hantu misterius itu.
Pak Erte mengucapkan selamat kepada Wak Ji, Brendo dan Koing. Dengan syarat tentunya, sebelum diamankan lbih lanjut, Pak Erte ingin melihat wajah asli hantu yang suka berbuat aneh-aneh itu, seperti apa gerngan.
“Buka Ing!” Perintah Wak Ji.
“Huuup .. baaa!”
“Emaaak?” ucap Brendo setengah berteriak. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Juga Wak Ji dan Koing, apalag Pak Erte yang ganteng berkumis tebal itu.