Sabtu, 23 Mei 2015

Koing (1)



Serial Detektif Cilik
KOING (1)
Mencari Ayam yang Hilang …..
Oleh Wak Amin

“Assalamualaikum …. Koing, Koing!” Wak Ji memanggil-manggil Koing dari depan pintu.
“Waalaikumsalam.” Pintu terbuka. Yang membuka Koing. Tak pakai baju. Cuma mengenakan  celana pendek berumbai-rumbai.
“Wak minta tolong, Ing. Ayam Wak hilang semalam. Sampai pagi ini belum ketemu. Belum balik-balik ke sangkarnya.”
“Sudah Wak Ji cari ayamnya?” Tanya Koing sambil menguap dan membetulkan letak celananya yang sempat kedodoran tadinya.
“Sudah, Ing. Tapi tak ketemu juga oleh Wak. Tolonglah Wak Ji, Ing,” pinta Wak Ji.
“Laki atau perempuan Wak Ji?”
“Betina, Ing.”
Koing masuk ke kamar sebentar. Keluar lagi sambil membawa notes kecil. Dicatatnya cirri-ciri itu ayam , perkiraan harganya, kapan hilangnya, termasuk jenis dan pasarannya. Diburu orang atau tidak itu ayam kesayangan Wak Ji.
“Sudah, Wak. Balikla Wak sekarang. Tunggu saja ayamnya di rumah.”
“Terima kasih, Ing. Kau ini memang benar-benar anak hebat,” puji Wak Ji sambil pamitan pulang ke rumah.
Hari Minggu, Koing tidak sekolah. Makanya dia bisa sendirian mencari ayam Wak Ji yang hilang. Dengan menggunakan seped a BMX dia leluasa  keluar masuk lorong. Juga pasar dan komplek perumahan.
Tapi sebelum mencari ayam, Koing singgah terlebih dahulu di rumahnya Wak Ji. Dia meminjam ayam lanang yang digunakan sebagai umpan. Wak Ji tentu saja tidak keberatan. Dia justru senang karena bisa  mempermudah Koing menemukan si ayam yang hilang.
Pertama kali yang ia datangi pasar tak jauh dari rumahnya. Ramai pembeli pagi  itu. Koing melepaskan ayam jago Wak Ji ke sekitar puluhan ayam yang ada dalam sangkek besar. Diberinya makanan. Ikut berbaur dengan ayam yang dijual lelaki bertubuh tambun itu.
Lepas itu, Koing pamitan pergi sambil menggendong ayamnya Wak Ji . Di tengah jalan dia bertemu teman satu kelasnya, Brendo yang hendak pergi ke warung membeli sayur mayur. Koing tak banyak tanya, dia cuma berpesan kepada sobatnya itu hati-hati menyeberang jalan.
 “Nanti sore, jangan lupa main ya di rumah aku,” ajak Koing.
“Oke, Ing. Aku ke warung dulu. Daaagh!”
“Oke .. daagh juga.”
Ke mana lagi Koing mencari ayam?
Tidak ke mana-mana. Dia cuma duduk-duduk saja dekat pos ronda sambil menunggu Brendo  pulang dari belanja di warung.
Benar saja. Baru beberapa menit meleps penat, Brendo keluar dari warung dan hendak menyeberang jalan. Dilihatnya Koing, wajahnya sumringah.
“Aku memang menunggu kau, Do,” ucap Koing, ikut membawakan sayur-sayuran yang dibeli Brendo barusan. Ada kentang, tomat. Pokoknya macam-macamlah.
“Emakku masak ayam, Ing. Kalau mau, makanlah di rumahku siang nanti,” kata Brendo penuh harap Koing mau datang ke rumahnya.
“Kapan emakmu menyembelihnya, Do?”
“Semalam,” jawab Brendo sambil ketawa lebar. Wajar dia ketawa. Hampir setahun dia tak pernah makan ayam.
“Perasaanku kamu tak pelihara ayam, kan, Do?”
“Tidak, Ing. Kamu ini ada-ada saja. Dari mana emakku punya duit mau beli dan pelihara ayam segala.”
“Lantas, ayam itu kapan belinya?” Tanya Koing.
“Kata  emakku, tak belilah. Ada ayam masuk rumah. Ditangkap emakku. Dielus-elusnya. Entah kenapa, emakku iba-tiba ingin menyembelihnya. Kata emakku, dia sudah kangen sama daging ayam. Begitu ceritanya, Ing.”
Koing mengangguk-angguk kayak burung kutilang bernyanyi sambil berangguk. Dia berpikir sejenak. Setelah itu dia membisikkan sesuatu di telinga Brendo.
“Bagus sekali, Ing. Aku tunggu siang nanti rumah ya. Jangan tak datang. Awas lho!”
“iya .. iya.”
Sebagaimana janjinya pada Brendo, Koing datang memenuhi undangan makan siang bersama Wak Ji. Mereka berdua datang tepat pukul 12.00. Disambut Brendo dan emaknya yang sudah menunggu lama sejak tadi.
Mereka berempat makan siang lahap sekali. Lauknya pindang ayam, opor,  semur dan goreng ayam. Sebelum makan Wak Ji memimpin doa agar makanan yang mereka makan siang ini mendapat berkah dari-Nya. Walupun Wak Ji sendiri sudah diberitahu Koing kalau gulai ayam yang tersaji di rumah Brendo adalah ayamnya yang hilang semalam. 


Serial Detektif Cilik
KOING (2)
Menangkap Hantu …
Oleh Wak Amin

Uukh … ukh. Ukh … ukh…
Anjing melolong.
“Ing, Ing. Tunggu Wak, Ing. Kain sarunnya Wak  tersangkut kayu,” ucap Wak Ji gemetaran.
“Aku juga, Ing. Kedua kakiku tak bias kugerakkan. Kenapa ya?” Brendo berkeringat dingin.
Saa Koing melepaskan sangkutan ujung kain Wak Ji, Brendo terus menggerakkan kedua kakinya sambil meringis menahan rasa sakit.
Saat ujung kain Wak Ji terlepas, kedua kaki Brendo sudah bisa  digerakkan. Dua-duanya, Wak Ji dan Breno, menarik  nafas lega.
“Kita lewat sini saja,” kata Koing, mengajak belok kanan menyusuri jalan setapak becek karena disiram air hujan barusan.
Suasana sekitar memang gelap. Sesekali terdengar suara aneh, seperti orang menangis, tertawa histeris, bahkan memukul-mukulkan sesuatu.
“Astaghfirullah,” ucp Wak Ji, berpegangan di pundak Koing.  Barusan terdenar suara pintu nuka tutup disertai sekelebat bayang-bayang hitam.
“Ing, kita pulang saja, yuk!” Ajak Brendo, sudah tak tahan. Karna semakin dekat ke lokasi yang dituju, bulu kuduk sudah tak terhitung lagi berdiri merinding. Blum lagi cucuran keringat dingin dengan pandangan mata yan g hanya bertumpu pada lampu senter.
“Sssst!”. Koing meminta  Wak Ji dan Brendo menunduk. Lambat tapi pasti, mereka berhasil menylinap dan mengintip di balik kaca yanh penuh debu dan kotoran kelelawar.
Di ruan itu ada meja dan kursi. Bergerak-gerak mengikuti arah jarum jam yan terus berdetak. Sesekali terdengar suara gelas, orang minum dan kata-kata yang suli dimengerti Koing, Brendo dan Wak Ji.
“Itulah tempatnya, Wak Ji.” Bisik Koing ke tlinga Wak Ji. Brendo makin ketakutan. Nafasnya turun naik  amat kencang.
Koing bersiap masuk dari jendela. Karena harus ekstra hati-hati, takut nanti ketahuan, ketiganya masuk bergantian. Pertama Koing, disusul Wak Ji dan terakhir Brendo.
“Aduh!” Ringis Brendo. Untunh tak terdengar  karena keburu ditutup mulunya oleh Wak Ji.
Di dalam, keigany duuk bersila. Melihat situasi aman, mereka mulai pasang aksi. Wak Ji berpakaian pocong,  menati-nari di atas meja. Diterangi lampu senter dan emergency yang dipancarkan dai arah Koing berdiri.
Bagaimana dengan Brendo?
Mini compo yang ia bawa mulai diutak-atik. Kaset dangdut dimasukkan, play ditekan. Terdengarlah irama dangdut.
Mereka pun bergoyang. Wak Ji jai pocong, sedangkan Koing dan Brendo Cuma mengenakan clana dalam saja. Goyang ketiganya lama kelamaan memancing keluar penunggu gedung tak berpenghuni itu.
Sambil komat-kamit tak karuan, raja penunggu gedung itu mendekati Wak Ji, Koin dn Brendo. Dengan Wak Ji, ia usap baju pocong itu mulai dari ujung kaki sampai ubun-ubun.
“Cocok,” komentarnya.
Saat mendekati Koing, si penunggu ini kut joget, bahkan seolah mengajak berdansa. Koing tak kuasa untuk menolak. Walaupun darah seolah enggan mengalir lagi saking pucatnya. Ia harus padu dengan penunggu.
“Lompat!”
Koing melompat. Memutar-mutarkan badan, meliuk-liukkan tubuh mengikuti irama si penunggu. Terasa pas dengan irama lagu.
“Cocok,” ucapnya.
Selanjutnya giliran Brendo. Sakin takutnya, ia pejamkan mata. Tak terlihat memang. Tapi rabaan sang penunggu gedung itu mulai teras.
“Geli enggak?” Tanyanya, mencuil bawah ketiak Brendo.
Tentu saja geli.
Berkali si penunggu menggelitik, berkali-kali pula Brendo kegelian. Sampai akhinya tak tahan lagi.
Saat Brendo kepayahan, Wak Ji dan Koing berhasil menankap si hantu dari belakang. Lalu mengikat tubuhnya dengan tali pocong. Denan hanya tiga kali putaran, si hantu tak berkutik lagi.
“Mampuslah kau hantu!” Teriak Wak Ji geram. Sudah tak tahan. Akibat ulah si penungu, warga tak berani lagi melintasi gedung bertingkat itu lepas magrib.
“Mau dibawa kemana aku?” Tanya sang penunggu meronta-ronta minta dilepaskan.
“Nanti, setelah di luar  gedung,” jawab Wak Ji sambil menepuk-nepuk punggung si penunggu  gedung. 
“Di sini aja. Aku ukan hantu, oi. Aku manusia. Tolong lpskn!” Rengeknya.
“Ah, bohon kamu. Kalau kamu bukan hanu, kenapa di sini dan berpakaian seperti ini sendirian di tempat gelap?”
“Kamu sendiri kenapa?” Si penunggu balik bertanya.
“Kami ingin menangkap kamu. Wak Ji Cuma menyamar supaya kamu keluar, dan kami berhasil menangkap kamu,” kata Koing. Mulai ragu dan curiga, kenapa kok kaki si penunggu justru menginjak tanah. Kalau hantu kan tidak?
“Na, salah tangkap kan!” kata si penunggu, bersikeras minta dilepaskan.
Wak Ji, Koing dn Brendo bertukr pndapat sjnak. Lepas idk, tidk lepas. Kalau dilepas, sia-sialah tugas mereka. Kalau tidk, kasihan juga lihat si penunggu. Iya kalau benar hantu. Kalau ternyata tidak, gimana?
“Kita serahkan saja dulu pada Pak Erte. Kan beliau yang minta tolong ke kita. Habis iu, terserah beliau maunya gimana. Oke?” Wak Ji menawarkan kesepakatan.
Koing dan Brendo setuju. Tak ada pilihan memang. Inilah pilihan yang terbaik.
Pak Erte yang sudah menunggu di luar gedung tampak gelisah. Mengusir rasa cemas gelisahnya, dia menyulut rokok. Menghisapnya sambil berjalan ke sana kemari .
Ketika hendak beranjak meninggalkan gedung, karena sebentar lagi terdengar azan subuh, ada orang memanggil namanya. Dia kenal suara itu. Pasti Koing, katanya dengan raut muka ceria.
“Ya Pak Erte. Saya Koing. Saya melapor. Hantunya berhasil kami tangkap,” kata Koing, menunjuk kea rah Brendo dan Wak Ji yang tengah memapah hantu misterius itu.
Pak Erte mengucapkan selamat kepada Wak Ji, Brendo dan Koing. Dengan syarat tentunya, sebelum diamankan lbih lanjut, Pak Erte ingin melihat wajah asli hantu yang suka berbuat aneh-aneh itu, seperti apa gerngan.
“Buka Ing!” Perintah Wak Ji.
“Huuup .. baaa!”
“Emaaak?” ucap Brendo setengah berteriak. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Juga Wak Ji dan Koing, apalag Pak Erte yang ganteng berkumis tebal itu.



     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar