Serial Detektif Cilik
KOING (1)
Mencari Ayam yang
Hilang …..
Oleh Wak Amin
“Assalamualaikum ….
Koing, Koing!” Wak Ji memanggil-manggil Koing dari depan pintu.
“Waalaikumsalam.”
Pintu terbuka. Yang membuka Koing. Tak pakai baju. Cuma mengenakan celana pendek berumbai-rumbai.
“Wak minta tolong,
Ing. Ayam Wak hilang semalam. Sampai pagi ini belum ketemu. Belum balik-balik
ke sangkarnya.”
“Sudah Wak Ji cari
ayamnya?” Tanya Koing sambil menguap dan membetulkan letak celananya yang
sempat kedodoran tadinya.
“Sudah, Ing. Tapi tak
ketemu juga oleh Wak. Tolonglah Wak Ji, Ing,” pinta Wak Ji.
“Laki atau perempuan
Wak Ji?”
“Betina, Ing.”
Koing masuk ke kamar
sebentar. Keluar lagi sambil membawa notes kecil. Dicatatnya cirri-ciri itu
ayam , perkiraan harganya, kapan hilangnya, termasuk jenis dan pasarannya.
Diburu orang atau tidak itu ayam kesayangan Wak Ji.
“Sudah, Wak. Balikla
Wak sekarang. Tunggu saja ayamnya di rumah.”
“Terima kasih, Ing.
Kau ini memang benar-benar anak hebat,” puji Wak Ji sambil pamitan pulang ke
rumah.
Hari Minggu, Koing
tidak sekolah. Makanya dia bisa sendirian mencari ayam Wak Ji yang hilang.
Dengan menggunakan seped a BMX dia leluasa
keluar masuk lorong. Juga pasar dan komplek perumahan.
Tapi sebelum mencari
ayam, Koing singgah terlebih dahulu di rumahnya Wak Ji. Dia meminjam ayam
lanang yang digunakan sebagai umpan. Wak Ji tentu saja tidak keberatan. Dia
justru senang karena bisa mempermudah
Koing menemukan si ayam yang hilang.
Pertama kali yang ia
datangi pasar tak jauh dari rumahnya. Ramai pembeli pagi itu. Koing melepaskan ayam jago Wak Ji ke
sekitar puluhan ayam yang ada dalam sangkek besar. Diberinya makanan. Ikut
berbaur dengan ayam yang dijual lelaki bertubuh tambun itu.
Lepas itu, Koing
pamitan pergi sambil menggendong ayamnya Wak Ji . Di tengah jalan dia bertemu
teman satu kelasnya, Brendo yang hendak pergi ke warung membeli sayur mayur.
Koing tak banyak tanya, dia cuma berpesan kepada sobatnya itu hati-hati
menyeberang jalan.
“Nanti sore, jangan lupa main ya di rumah
aku,” ajak Koing.
“Oke, Ing. Aku ke
warung dulu. Daaagh!”
“Oke .. daagh juga.”
Ke mana lagi Koing
mencari ayam?
Tidak ke mana-mana.
Dia cuma duduk-duduk saja dekat pos ronda sambil menunggu Brendo pulang dari belanja di warung.
Benar saja. Baru
beberapa menit meleps penat, Brendo keluar dari warung dan hendak menyeberang
jalan. Dilihatnya Koing, wajahnya sumringah.
“Aku memang menunggu
kau, Do,” ucap Koing, ikut membawakan sayur-sayuran yang dibeli Brendo barusan.
Ada kentang, tomat. Pokoknya macam-macamlah.
“Emakku masak ayam,
Ing. Kalau mau, makanlah di rumahku siang nanti,” kata Brendo penuh harap Koing
mau datang ke rumahnya.
“Kapan emakmu
menyembelihnya, Do?”
“Semalam,” jawab
Brendo sambil ketawa lebar. Wajar dia ketawa. Hampir setahun dia tak pernah
makan ayam.
“Perasaanku kamu tak
pelihara ayam, kan, Do?”
“Tidak, Ing. Kamu ini
ada-ada saja. Dari mana emakku punya duit mau beli dan pelihara ayam segala.”
“Lantas, ayam itu
kapan belinya?” Tanya Koing.
“Kata emakku, tak belilah. Ada ayam masuk rumah.
Ditangkap emakku. Dielus-elusnya. Entah kenapa, emakku iba-tiba ingin
menyembelihnya. Kata emakku, dia sudah kangen sama daging ayam. Begitu
ceritanya, Ing.”
Koing
mengangguk-angguk kayak burung kutilang bernyanyi sambil berangguk. Dia
berpikir sejenak. Setelah itu dia membisikkan sesuatu di telinga Brendo.
“Bagus sekali, Ing.
Aku tunggu siang nanti rumah ya. Jangan tak datang. Awas lho!”
“iya .. iya.”
Sebagaimana janjinya
pada Brendo, Koing datang memenuhi undangan makan siang bersama Wak Ji. Mereka
berdua datang tepat pukul 12.00. Disambut Brendo dan emaknya yang sudah
menunggu lama sejak tadi.
Mereka berempat makan
siang lahap sekali. Lauknya pindang ayam, opor, semur dan goreng ayam. Sebelum makan Wak Ji memimpin
doa agar makanan yang mereka makan siang ini mendapat berkah dari-Nya. Walupun
Wak Ji sendiri sudah diberitahu Koing kalau gulai ayam yang tersaji di rumah
Brendo adalah ayamnya yang hilang semalam.
Serial Detektif Cilik
KOING (2)
Menangkap Hantu …
Oleh Wak Amin
Uukh … ukh. Ukh …
ukh…
Anjing melolong.
“Ing, Ing. Tunggu
Wak, Ing. Kain sarunnya Wak tersangkut
kayu,” ucap Wak Ji gemetaran.
“Aku juga, Ing. Kedua
kakiku tak bias kugerakkan. Kenapa ya?” Brendo berkeringat dingin.
Saa Koing melepaskan
sangkutan ujung kain Wak Ji, Brendo terus menggerakkan kedua kakinya sambil
meringis menahan rasa sakit.
Saat ujung kain Wak
Ji terlepas, kedua kaki Brendo sudah bisa
digerakkan. Dua-duanya, Wak Ji dan Breno, menarik nafas lega.
“Kita lewat sini
saja,” kata Koing, mengajak belok kanan menyusuri jalan setapak becek karena
disiram air hujan barusan.
Suasana sekitar
memang gelap. Sesekali terdengar suara aneh, seperti orang menangis, tertawa
histeris, bahkan memukul-mukulkan sesuatu.
“Astaghfirullah,” ucp
Wak Ji, berpegangan di pundak Koing.
Barusan terdenar suara pintu nuka tutup disertai sekelebat bayang-bayang
hitam.
“Ing, kita pulang
saja, yuk!” Ajak Brendo, sudah tak tahan. Karna semakin dekat ke lokasi yang
dituju, bulu kuduk sudah tak terhitung lagi berdiri merinding. Blum lagi
cucuran keringat dingin dengan pandangan mata yan g hanya bertumpu pada lampu
senter.
“Sssst!”. Koing
meminta Wak Ji dan Brendo menunduk.
Lambat tapi pasti, mereka berhasil menylinap dan mengintip di balik kaca yanh
penuh debu dan kotoran kelelawar.
Di ruan itu ada meja
dan kursi. Bergerak-gerak mengikuti arah jarum jam yan terus berdetak. Sesekali
terdengar suara gelas, orang minum dan kata-kata yang suli dimengerti Koing,
Brendo dan Wak Ji.
“Itulah tempatnya,
Wak Ji.” Bisik Koing ke tlinga Wak Ji. Brendo makin ketakutan. Nafasnya turun
naik amat kencang.
Koing bersiap masuk
dari jendela. Karena harus ekstra hati-hati, takut nanti ketahuan, ketiganya
masuk bergantian. Pertama Koing, disusul Wak Ji dan terakhir Brendo.
“Aduh!” Ringis
Brendo. Untunh tak terdengar karena keburu
ditutup mulunya oleh Wak Ji.
Di dalam, keigany
duuk bersila. Melihat situasi aman, mereka mulai pasang aksi. Wak Ji berpakaian
pocong, menati-nari di atas meja.
Diterangi lampu senter dan emergency yang dipancarkan dai arah Koing berdiri.
Bagaimana dengan
Brendo?
Mini compo yang ia
bawa mulai diutak-atik. Kaset dangdut dimasukkan, play ditekan. Terdengarlah
irama dangdut.
Mereka pun bergoyang.
Wak Ji jai pocong, sedangkan Koing dan Brendo Cuma mengenakan clana dalam saja.
Goyang ketiganya lama kelamaan memancing keluar penunggu gedung tak berpenghuni
itu.
Sambil komat-kamit
tak karuan, raja penunggu gedung itu mendekati Wak Ji, Koin dn Brendo. Dengan
Wak Ji, ia usap baju pocong itu mulai dari ujung kaki sampai ubun-ubun.
“Cocok,” komentarnya.
Saat mendekati Koing,
si penunggu ini kut joget, bahkan seolah mengajak berdansa. Koing tak kuasa
untuk menolak. Walaupun darah seolah enggan mengalir lagi saking pucatnya. Ia
harus padu dengan penunggu.
“Lompat!”
Koing melompat.
Memutar-mutarkan badan, meliuk-liukkan tubuh mengikuti irama si penunggu.
Terasa pas dengan irama lagu.
“Cocok,” ucapnya.
Selanjutnya giliran
Brendo. Sakin takutnya, ia pejamkan mata. Tak terlihat memang. Tapi rabaan sang
penunggu gedung itu mulai teras.
“Geli enggak?”
Tanyanya, mencuil bawah ketiak Brendo.
Tentu saja geli.
Berkali si penunggu
menggelitik, berkali-kali pula Brendo kegelian. Sampai akhinya tak tahan lagi.
Saat Brendo
kepayahan, Wak Ji dan Koing berhasil menankap si hantu dari belakang. Lalu
mengikat tubuhnya dengan tali pocong. Denan hanya tiga kali putaran, si hantu
tak berkutik lagi.
“Mampuslah kau
hantu!” Teriak Wak Ji geram. Sudah tak tahan. Akibat ulah si penungu, warga tak
berani lagi melintasi gedung bertingkat itu lepas magrib.
“Mau dibawa kemana
aku?” Tanya sang penunggu meronta-ronta minta dilepaskan.
“Nanti, setelah di
luar gedung,” jawab Wak Ji sambil
menepuk-nepuk punggung si penunggu
gedung.
“Di sini aja. Aku
ukan hantu, oi. Aku manusia. Tolong lpskn!” Rengeknya.
“Ah, bohon kamu.
Kalau kamu bukan hanu, kenapa di sini dan berpakaian seperti ini sendirian di
tempat gelap?”
“Kamu sendiri
kenapa?” Si penunggu balik bertanya.
“Kami ingin menangkap
kamu. Wak Ji Cuma menyamar supaya kamu keluar, dan kami berhasil menangkap
kamu,” kata Koing. Mulai ragu dan curiga, kenapa kok kaki si penunggu justru
menginjak tanah. Kalau hantu kan tidak?
“Na, salah tangkap
kan!” kata si penunggu, bersikeras minta dilepaskan.
Wak Ji, Koing dn
Brendo bertukr pndapat sjnak. Lepas idk, tidk lepas. Kalau dilepas, sia-sialah
tugas mereka. Kalau tidk, kasihan juga lihat si penunggu. Iya kalau benar
hantu. Kalau ternyata tidak, gimana?
“Kita serahkan saja
dulu pada Pak Erte. Kan beliau yang minta tolong ke kita. Habis iu, terserah
beliau maunya gimana. Oke?” Wak Ji menawarkan kesepakatan.
Koing dan Brendo
setuju. Tak ada pilihan memang. Inilah pilihan yang terbaik.
Pak Erte yang sudah
menunggu di luar gedung tampak gelisah. Mengusir rasa cemas gelisahnya, dia
menyulut rokok. Menghisapnya sambil berjalan ke sana kemari .
Ketika hendak
beranjak meninggalkan gedung, karena sebentar lagi terdengar azan subuh, ada
orang memanggil namanya. Dia kenal suara itu. Pasti Koing, katanya dengan raut
muka ceria.
“Ya Pak Erte. Saya
Koing. Saya melapor. Hantunya berhasil kami tangkap,” kata Koing, menunjuk kea
rah Brendo dan Wak Ji yang tengah memapah hantu misterius itu.
Pak Erte mengucapkan
selamat kepada Wak Ji, Brendo dan Koing. Dengan syarat tentunya, sebelum
diamankan lbih lanjut, Pak Erte ingin melihat wajah asli hantu yang suka
berbuat aneh-aneh itu, seperti apa gerngan.
“Buka Ing!” Perintah
Wak Ji.
“Huuup .. baaa!”
“Emaaak?” ucap Brendo
setengah berteriak. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Juga Wak Ji dan
Koing, apalag Pak Erte yang ganteng berkumis tebal itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar