Minggu, 14 Juni 2015

Koing (15)



Serial Detektif Cilik
KOING (15)

Maling Sandal
Wak Amin

KARENA sudah berkali-kali hilang sandal saat menunaikan salat berjamaah di masjid, bapak pengurus masjid akhirnya meminta bantuan Koing untuk mencari para pelakunya. Sebab, jika dibiarkan bukan tidak mungkin warga bakal sungkan untuk datang lagi ke masjid sekadar salat berjamaah lima waktu.
“Bapak takutnya nanti masjid jadi sepi, Ing,” kata Pak Syafri, pengurus masjd suatu sore di teras masjid sebelum menunaikan salat magrib bersama.
“Tapi enggak ada jamaah yang mengeluh, kan Pak?” Pancing Koing.
“Ada, Ing. Tapi bapak sering bilang ke mereka, ya sudah. Mereka juga kebanyakan pasrah saja. Tidak memperdulikan hilangnya sandal. Rumah juga kan dekat. Jalan kaki ayam tak mengapa. Lagian sandal yang hilang tidak terlalu mahal harganya,” jelas Pak Syafri.
“Jadi ini murni inisiatif dari Pak Syafri?” Tanya Koing yang tampak tersenyum lebar pada jamaah yang baru datang ke masjid dengan sebagian besar mengenakan kain sarung tipis kotak-kotak dan kopiah putih.
“Betul, Ing,” jawab Pak Syafri.
“Sudah berapa lama kejadiannya, Pak Syafri?” Brendo yang baru saja nguping memberanikan diri bertanya. Nebak-nebak apa salahnya.
“Yah, kira-kira tiga bulan berjalan. Belum lama, Do. Tapi bagi bapak rasanya sudah setahun. Entah kenapa. Apa mungkin bapak terlalu kuatir saja.”
“Ah, tidak pak. Bapak benar. Tidak salah bapak bertanya dan menceritakan soal sandal itu. Tapi bapak tenang saja. Nanti, lepas salat magrib kita bicarakan lagi,” jelas Koing.
Pembicaraan dihentikan sementara waktu karena beduk magrib sudah ditabuh, yang berarti sebentar lagi Koing akan mengumandangkan azan magrib sebagai tanda masuknya waktu magrib.
Suara azan yang dikumandangkan Koing nyaring terdengar. Syahdu dan sejuk orang mendengarnya. Semua jamaah mulai dari anak-anak hingga lansia tekun mendengar. Sama menundukkan kepala dengan muka menghadap ke sajadah lalu berdoa …
“Allahumma robba haadzihid da’watittammati washshalaatil qooimah, aati muhammadanil washilata wal fadhilata wab ‘ashu maqoomam mahmuudanilladzi wa ‘adtah. Innaka la tuhliful mi’aad …”
Tak ada yang tersisa di luar masjid ketika Pak Syafri mngucapkan Allahu Akbar sebagai pertanda dimu lainya salat magrib berjamaah. Lidahnya fasih mengeja ayat suci denga suara melantun bagaikan em bun menjelang subuh, sore ke malam tak terasa.
Begitu kaki ini melangkah keluar masjid hendak pulang ke rumah, hari sudah gelap. Hanya diterangi lampu masjid yang berwarna kekuning-kuningan dengan satu dua cahaya lampu menerangi setiap teras rumah warga.
Di dekat pintu masjid, Pak Syafri, Brendo dan Koing masih asyik mengobrol. Tak lama. Cuma sekitar sepuluh menit. Lepas itu keduanya pulang, menyusul belakangan Pak Syafri.    
Keesokan harinya, usai pulang sekolah, Brendo dan Koing mendatangi kediaman kakak pengurus re maja masjid, Maulana. Keduanya bertanya seputar hilangnya beberapa sandal di masjid. Maulana mau terbuka. Dia memang sudah lama juga ingin bicara soal ini.
“Untungnya ada kalian berdua. Jadi klop lah,” ujarnya sembari mempersilakan Koing dan Brendo mencicipi kue apem dan es teh manis.
“Kak Maulana punya info siapa kira-kira pelakunya?” Tanya Koing.
“Punya sih punya. Tapi ini baru sebatas menduga-duga saja,” jelas Maulana.
“Siapa kira-kira,Kak?”Brendp penasaran. Ingin rasanya menonjok hidung pelakunya.
“Dua orang. Satu Husen satunya lagi Hasan …”
“Anak kampung sebelah kan, Kak?”
“Betul , Ing … Tapi ini baru dugaan kakak saja. Benar atau tidak, kalian berdua lah yang harus cari tahu.”
“Tapi,” buru-buru Maulana menambahkan, “kalau kalian perlu bantuan kakak, kakak akan bantu semampunya.”
“Baiklah, Kak. Terima kasih.”
Tak perlu berlama-lama menjebak Hasan dan Husen. Karena pada saat kampungnya Koing menggelar acara Isra’ Mi’raj, kedua pencuri sandal itu datang lebih dulu, tentu bersama yang lain.
Karena penampilannya kalem, tak banyak orang yang tahu kalau Husen dan Hasan lah pelaku pencu rian sandal jamaah di masjid. Keduanya berpakaian rapi, berkopiah dan bersarung kotak-kotak serta baju koko.
Sandal jamaah sengaja dipindah-pindah. Ada beberapa tumpukan dan rak sepatu. Dikelompokkan jadi satu sesuai bentuk dan ciri khas sandal. Kalau bahannya kulit, dikumpulkan dengan sesama bahan kulit, begitulah seterusnya.
Sekitar pukuls Sembilan lebih tiga puluh menit, acara Isra’ Mi’raj berakhir. Satu persatu jamaah berba ris keluar masjid. Ada yang tertawa, senyum dan sebagian besar merasa puas mendengar ceramah yang disampaikan ustad muda barusan.
Tapi ada juga yang menangis setelah menyimak kisah yang disampaikan penceramah. Mungkin begitu mengena di hati mereka, akrab dengan keseharian dan sering ditemui dalam pekerjan sehari-hari.
Pertanyaannya, kemana Koing dan Brendo?
Rupanya mereka sudah duduk berlima dengan selain Hasan dan Husen, juga Pak Syafri, pengurus masjid.
Apa yang mereka bicarakan?
Tak ada. Selain pengakuan Hasan dan Husen, bahwa mereka terpaksa mencuri sandal dan juga sepatu di masjid  untuk biaya berobat emak mereka yang sudah lama sakit akibat lanjut usia.      


Tidak ada komentar:

Posting Komentar