Serial Detektif Cilik
KOING (15)
Maling Sandal
Wak Amin
KARENA sudah
berkali-kali hilang sandal saat menunaikan salat berjamaah di masjid, bapak
pengurus masjid akhirnya meminta bantuan Koing untuk mencari para pelakunya.
Sebab, jika dibiarkan bukan tidak mungkin warga bakal sungkan untuk datang lagi
ke masjid sekadar salat berjamaah lima waktu.
“Bapak takutnya nanti
masjid jadi sepi, Ing,” kata Pak Syafri, pengurus masjd suatu sore di teras
masjid sebelum menunaikan salat magrib bersama.
“Tapi enggak ada
jamaah yang mengeluh, kan Pak?” Pancing Koing.
“Ada, Ing. Tapi bapak
sering bilang ke mereka, ya sudah. Mereka juga kebanyakan pasrah saja. Tidak
memperdulikan hilangnya sandal. Rumah juga kan dekat. Jalan kaki ayam tak mengapa.
Lagian sandal yang hilang tidak terlalu mahal harganya,” jelas Pak Syafri.
“Jadi ini murni
inisiatif dari Pak Syafri?” Tanya Koing yang tampak tersenyum lebar pada jamaah
yang baru datang ke masjid dengan sebagian besar mengenakan kain sarung tipis
kotak-kotak dan kopiah putih.
“Betul, Ing,” jawab
Pak Syafri.
“Sudah berapa lama
kejadiannya, Pak Syafri?” Brendo yang baru saja nguping memberanikan diri
bertanya. Nebak-nebak apa salahnya.
“Yah, kira-kira tiga
bulan berjalan. Belum lama, Do. Tapi bagi bapak rasanya sudah setahun. Entah
kenapa. Apa mungkin bapak terlalu kuatir saja.”
“Ah, tidak pak. Bapak
benar. Tidak salah bapak bertanya dan menceritakan soal sandal itu. Tapi bapak
tenang saja. Nanti, lepas salat magrib kita bicarakan lagi,” jelas Koing.
Pembicaraan
dihentikan sementara waktu karena beduk magrib sudah ditabuh, yang berarti
sebentar lagi Koing akan mengumandangkan azan magrib sebagai tanda masuknya
waktu magrib.
Suara azan yang
dikumandangkan Koing nyaring terdengar. Syahdu dan sejuk orang mendengarnya.
Semua jamaah mulai dari anak-anak hingga lansia tekun mendengar. Sama
menundukkan kepala dengan muka menghadap ke sajadah lalu berdoa …
“Allahumma robba
haadzihid da’watittammati washshalaatil qooimah, aati muhammadanil washilata
wal fadhilata wab ‘ashu maqoomam mahmuudanilladzi wa ‘adtah. Innaka la tuhliful
mi’aad …”
Tak ada yang tersisa
di luar masjid ketika Pak Syafri mngucapkan Allahu Akbar sebagai pertanda dimu
lainya salat magrib berjamaah. Lidahnya fasih mengeja ayat suci denga suara
melantun bagaikan em bun menjelang subuh, sore ke malam tak terasa.
Begitu kaki ini
melangkah keluar masjid hendak pulang ke rumah, hari sudah gelap. Hanya
diterangi lampu masjid yang berwarna kekuning-kuningan dengan satu dua cahaya
lampu menerangi setiap teras rumah warga.
Di dekat pintu
masjid, Pak Syafri, Brendo dan Koing masih asyik mengobrol. Tak lama. Cuma
sekitar sepuluh menit. Lepas itu keduanya pulang, menyusul belakangan Pak
Syafri.
Keesokan harinya,
usai pulang sekolah, Brendo dan Koing mendatangi kediaman kakak pengurus re
maja masjid, Maulana. Keduanya bertanya seputar hilangnya beberapa sandal di
masjid. Maulana mau terbuka. Dia memang sudah lama juga ingin bicara soal ini.
“Untungnya ada kalian
berdua. Jadi klop lah,” ujarnya sembari mempersilakan Koing dan Brendo mencicipi
kue apem dan es teh manis.
“Kak Maulana punya
info siapa kira-kira pelakunya?” Tanya Koing.
“Punya sih punya.
Tapi ini baru sebatas menduga-duga saja,” jelas Maulana.
“Siapa
kira-kira,Kak?”Brendp penasaran. Ingin rasanya menonjok hidung pelakunya.
“Dua orang. Satu
Husen satunya lagi Hasan …”
“Anak kampung sebelah
kan, Kak?”
“Betul , Ing … Tapi
ini baru dugaan kakak saja. Benar atau tidak, kalian berdua lah yang harus cari
tahu.”
“Tapi,” buru-buru
Maulana menambahkan, “kalau kalian perlu bantuan kakak, kakak akan bantu
semampunya.”
“Baiklah, Kak. Terima
kasih.”
Tak perlu
berlama-lama menjebak Hasan dan Husen. Karena pada saat kampungnya Koing
menggelar acara Isra’ Mi’raj, kedua pencuri sandal itu datang lebih dulu, tentu
bersama yang lain.
Karena penampilannya
kalem, tak banyak orang yang tahu kalau Husen dan Hasan lah pelaku pencu rian
sandal jamaah di masjid. Keduanya berpakaian rapi, berkopiah dan bersarung
kotak-kotak serta baju koko.
Sandal jamaah sengaja
dipindah-pindah. Ada beberapa tumpukan dan rak sepatu. Dikelompokkan jadi satu
sesuai bentuk dan ciri khas sandal. Kalau bahannya kulit, dikumpulkan dengan
sesama bahan kulit, begitulah seterusnya.
Sekitar pukuls Sembilan
lebih tiga puluh menit, acara Isra’ Mi’raj berakhir. Satu persatu jamaah berba ris
keluar masjid. Ada yang tertawa, senyum dan sebagian besar merasa puas
mendengar ceramah yang disampaikan ustad muda barusan.
Tapi ada juga yang
menangis setelah menyimak kisah yang disampaikan penceramah. Mungkin begitu
mengena di hati mereka, akrab dengan keseharian dan sering ditemui dalam
pekerjan sehari-hari.
Pertanyaannya, kemana
Koing dan Brendo?
Rupanya mereka sudah
duduk berlima dengan selain Hasan dan Husen, juga Pak Syafri, pengurus masjid.
Apa yang mereka
bicarakan?
Tak ada. Selain
pengakuan Hasan dan Husen, bahwa mereka terpaksa mencuri sandal dan juga sepatu
di masjid untuk biaya berobat emak
mereka yang sudah lama sakit akibat lanjut usia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar