Minggu, 14 Juni 2015

Koing (16)



Serial Detektif Cilik
KOING (16)

Piknik Bersama
Wak Amin

LIBURAN semester tiba. Kendati bukan semester genap, cuma ganjil. Siswa kelas lima memutuskan untuk libur bersama.
Kemana?
Enggak jauh-jauh. Juga tidak dekat. Masih dalam kota yang sama. Dipilihnya pantai karena selama ini siswa kelas lima belum pernah berlibur ke pantai. Mereka lebih sering ke taman dan museum.
Mereka menyewa bus pariwisata. Bus berangkat pukul tujuh pagi. Tiba di lokasi pantai menjelang siang, tengah hari sekitar pukul sebelas. Selama dalam perjalanan, selain bernyanyi, para siswa masing-masing membacakan puisi dan deklamasi.
Tepuk tngan riuh terdengar. Selama perjalanan diriuhkan oleh dendang solo dan bersama para siswa. Suasana semakin riuh tatkala Koing melawak bersama Brendo. Lawakan mereka berdua mampu mengocok perut rekan-rekan satu kelasnya.
Riuh dan ceria wajah serta hati terus terbawa ketika mobil gede ber AC dan toilet khusus itu tiba tak jauh dari bibir pantai. Hanya saja, sesuai dengan ikrar mereka sebelum berangkat, sesampainya di tepian pantai harus berbaris rapi  dan mengikuti petunjuk Bu Guru serta guide yang disewa khusus untuk mendampingi sekaligus mengamankan siswa selama berwisata di pantai.
“Hidup kelas lima … Hidup kelas lima,” teriak Bu Guru Linda berulangkali, diikuti para siswa dengan gaya dan suara sekeras mungkin. Tentu disertai dengan rasa gembira dan raut muka ceria.
“Nah, sekarang ikut aturannya anak-anak. Pertama-tama kalian tak boleh memisahkan diri. Kedua, saling membantu satu sama lain. Ketiga atau yang terakhir, a terlalu jauh dan pandai-pandailah menjaga diri. Paham ya?”
“Pahaaaam …!”
Tanpa dikomando Bu Guru Linda dan guie, siswa kelas lima membentuk lima kelompok.
Buat apa?
Mereka hendak bermain bola voli pantai. Tapi atas saran Bu Guru Linda, satu kelompok saja. Mainnya gantian.
“Bagaimana, setuju tidak?”
Siswa diam. Hanya bergumam dalam hati tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Merasa keberatan bila cuma bermain secara bergantian.
Bu Guru Linda diskusi sejenak dengan guide. Diperoleh putusan boleh membentuk lima kelompok bermain dengan syarat tak boleh digabung.
“Yang puteri ya puteri. Yang putera sesama putera,” kata Bu Guru Linda.
Selama hampir dua jam bermain bola voli pantai, siswa lupa kalau Bu Guru Linda sudah tidak ada lagi di tengah-tengah mereka.
Kemana gerangan dia?
Rupanya dia tersesat jalan bersama guide.
Benarkah?
“Tadi saya lihat mereka berdua lewat jalan ini,” terang Pak Sopir. “Setelah itu saya tak lihat mereka lagi. Kira-kira setengah jam yang lalu.”
Mendengar penjelasan barusan, Koing dan rekan siswa lainnya rame-rame   mencari Bu Guru mereka yang hilang. Semua jalan ditelusuri. Mulai dari bibir pantai, dari ujung ke ujung hinga tempat-tempat pemandian dan kios penjual minuman serta makanan.
Karena sebagian besar siswa sudah kelelahan, diputuskan kembali ke posko. Beristirahat di mobil. Makan  yang perlu dan bisa untuk dimakan. Minum bila haus, me-rileks-kan badan, menunggu pencarian.
Pada pencarian tahap kedua ini, Brendo dan Koing memaksakan diri ikut serta, walaupun sempat dilarang warga setempat.
“Takutnya mereka belum terbiasa saja. Lagi pula mereka kan masih anak-anak,” kata orang pintar warga di sekitar pantai. “Tapi mereka bersikeras mau ikut, saya persilakan.”
“Jadi tak ada salahnya juga mengajak mereka, asalkan ada batasan, ikut aturan dan hati-hati,” imbuh si orang pintar dihadapan tim pencarian.
Mereka melakukan pencarian menggunakan perahu karet. Jumlah mereka hanya enam orang, tidak lebih. Brendo dan Koing, si orang pintar dan warga sekitar.
Perahu karet meluncur cepat ke ujung pantai. Di balik bebatuan cadas ada tempat khusus yang sering digunakan untuk mandi. Masalahya, buat apa Bu Guru Linda kesana?
Mau mandi kah?
“Tak mungkin,  Pak.” Ucap Koing dengan raut muka yang sedih. Begitu juga dengan Brendo. Semenjak naik perahu karet, tak sepatah kata pun kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Mudah-mudahan saja Bu Guru segera diketemukan,” harap Koing lirih. Dia sempat menitikkan air mata.
“Itu, Pak mereka!” Teriak si orang pintar.
Perahu dibelokkan ke kanan. Ada perahu kecil di sana, dekat batu cadas. Perahu ditambatkan. Satu persatu mereka memanjat bibir batu itu. Tidak terlalu tinggi. Hanya beberapa menit sudah sampai di atas.
“Ya Allah. Bu Guruuuu?” Teriak Koing dan Brendo, histeris. Bersama-sama menangisi Bu Guru Linda yang tak sadarkan diri tergeletak di dekat tumpukan batu kecil berwarna hitam kecokelat-cokelatan.
Kemana si guide?
 “Ibu tendang jatuh ke laut,” ucap Bu Guru Linda, sesaat setelah siuman. Masih terbaring lemas di kamar rumah kakaknya, Fian.
“Apa yang telah terjadi, Bu?” Tanya Brendo.
“Panjang ceritanya, Do. Nantilah ibu ceritakan panjang lebar setelah sehat. Tak ngambek kan?”
“Tidaklah Bu Guru. Kami sama sekali tidak ngambek. Mau sekarang atau nanti tak masalah bagi kami. Yang penting ibu segera sembuh dan mengajar..” Koing menoleh ke belakang ….
“Mengajar kamiiii …” ucap puluhan siswa kelas lima serentak.
Sebelum pamitan, Koing berkenan membacakan puisi “Dari Karawang ke Bekasi” buah karya pujangga ternama, Khairil Anwar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar