Serial Detektif Cilik
KOING (16)
Piknik Bersama
Wak Amin
LIBURAN semester
tiba. Kendati bukan semester genap, cuma ganjil. Siswa kelas lima memutuskan
untuk libur bersama.
Kemana?
Enggak jauh-jauh.
Juga tidak dekat. Masih dalam kota yang sama. Dipilihnya pantai karena selama
ini siswa kelas lima belum pernah berlibur ke pantai. Mereka lebih sering ke taman
dan museum.
Mereka menyewa bus
pariwisata. Bus berangkat pukul tujuh pagi. Tiba di lokasi pantai menjelang
siang, tengah hari sekitar pukul sebelas. Selama dalam perjalanan, selain
bernyanyi, para siswa masing-masing membacakan puisi dan deklamasi.
Tepuk tngan riuh
terdengar. Selama perjalanan diriuhkan oleh dendang solo dan bersama para
siswa. Suasana semakin riuh tatkala Koing melawak bersama Brendo. Lawakan
mereka berdua mampu mengocok perut rekan-rekan satu kelasnya.
Riuh dan ceria wajah
serta hati terus terbawa ketika mobil gede ber AC dan toilet khusus itu tiba
tak jauh dari bibir pantai. Hanya saja, sesuai dengan ikrar mereka sebelum berangkat,
sesampainya di tepian pantai harus berbaris rapi dan mengikuti petunjuk Bu Guru serta guide
yang disewa khusus untuk mendampingi sekaligus mengamankan siswa selama
berwisata di pantai.
“Hidup kelas lima …
Hidup kelas lima,” teriak Bu Guru Linda berulangkali, diikuti para siswa dengan
gaya dan suara sekeras mungkin. Tentu disertai dengan rasa gembira dan raut
muka ceria.
“Nah, sekarang ikut
aturannya anak-anak. Pertama-tama kalian tak boleh memisahkan diri. Kedua,
saling membantu satu sama lain. Ketiga atau yang terakhir, a terlalu jauh dan
pandai-pandailah menjaga diri. Paham ya?”
“Pahaaaam …!”
Tanpa dikomando Bu
Guru Linda dan guie, siswa kelas lima membentuk lima kelompok.
Buat apa?
Mereka hendak bermain
bola voli pantai. Tapi atas saran Bu Guru Linda, satu kelompok saja. Mainnya
gantian.
“Bagaimana, setuju
tidak?”
Siswa diam. Hanya
bergumam dalam hati tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Merasa keberatan bila
cuma bermain secara bergantian.
Bu Guru Linda diskusi
sejenak dengan guide. Diperoleh putusan boleh membentuk lima kelompok bermain
dengan syarat tak boleh digabung.
“Yang puteri ya puteri.
Yang putera sesama putera,” kata Bu Guru Linda.
Selama hampir dua jam
bermain bola voli pantai, siswa lupa kalau Bu Guru Linda sudah tidak ada lagi
di tengah-tengah mereka.
Kemana gerangan dia?
Rupanya dia tersesat
jalan bersama guide.
Benarkah?
“Tadi saya lihat
mereka berdua lewat jalan ini,” terang Pak Sopir. “Setelah itu saya tak lihat
mereka lagi. Kira-kira setengah jam yang lalu.”
Mendengar penjelasan
barusan, Koing dan rekan siswa lainnya rame-rame mencari Bu Guru mereka yang hilang. Semua
jalan ditelusuri. Mulai dari bibir pantai, dari ujung ke ujung hinga
tempat-tempat pemandian dan kios penjual minuman serta makanan.
Karena sebagian besar
siswa sudah kelelahan, diputuskan kembali ke posko. Beristirahat di mobil.
Makan yang perlu dan bisa untuk dimakan.
Minum bila haus, me-rileks-kan badan, menunggu pencarian.
Pada pencarian tahap
kedua ini, Brendo dan Koing memaksakan diri ikut serta, walaupun sempat
dilarang warga setempat.
“Takutnya mereka
belum terbiasa saja. Lagi pula mereka kan masih anak-anak,” kata orang pintar
warga di sekitar pantai. “Tapi mereka bersikeras mau ikut, saya persilakan.”
“Jadi tak ada
salahnya juga mengajak mereka, asalkan ada batasan, ikut aturan dan hati-hati,”
imbuh si orang pintar dihadapan tim pencarian.
Mereka melakukan
pencarian menggunakan perahu karet. Jumlah mereka hanya enam orang, tidak
lebih. Brendo dan Koing, si orang pintar dan warga sekitar.
Perahu karet meluncur
cepat ke ujung pantai. Di balik bebatuan cadas ada tempat khusus yang sering
digunakan untuk mandi. Masalahya, buat apa Bu Guru Linda kesana?
Mau mandi kah?
“Tak mungkin, Pak.” Ucap Koing dengan raut muka yang sedih.
Begitu juga dengan Brendo. Semenjak naik perahu karet, tak sepatah kata pun
kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Mudah-mudahan saja
Bu Guru segera diketemukan,” harap Koing lirih. Dia sempat menitikkan air mata.
“Itu, Pak mereka!”
Teriak si orang pintar.
Perahu dibelokkan ke
kanan. Ada perahu kecil di sana, dekat batu cadas. Perahu ditambatkan. Satu
persatu mereka memanjat bibir batu itu. Tidak terlalu tinggi. Hanya beberapa
menit sudah sampai di atas.
“Ya Allah. Bu
Guruuuu?” Teriak Koing dan Brendo, histeris. Bersama-sama menangisi Bu Guru
Linda yang tak sadarkan diri tergeletak di dekat tumpukan batu kecil berwarna
hitam kecokelat-cokelatan.
Kemana si guide?
“Ibu tendang jatuh ke laut,” ucap Bu Guru
Linda, sesaat setelah siuman. Masih terbaring lemas di kamar rumah kakaknya,
Fian.
“Apa yang telah
terjadi, Bu?” Tanya Brendo.
“Panjang ceritanya,
Do. Nantilah ibu ceritakan panjang lebar setelah sehat. Tak ngambek kan?”
“Tidaklah Bu Guru.
Kami sama sekali tidak ngambek. Mau sekarang atau nanti tak masalah bagi kami.
Yang penting ibu segera sembuh dan mengajar..” Koing menoleh ke belakang ….
“Mengajar kamiiii …”
ucap puluhan siswa kelas lima serentak.
Sebelum pamitan,
Koing berkenan membacakan puisi “Dari Karawang ke Bekasi” buah karya pujangga
ternama, Khairil Anwar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar