Senin, 15 Juni 2015

Koing (20)






Serial Detektif Cilik
KOING (20)

Gerebek Judi
Wak Amin


EMPAT orang tampak asyik bermain kartu. Dua lainnya berjaga-jaga, pengawas. Semacam bodyguard lah. Di atas meja berderet kartu domino dan sejumlah uang kertas serta logam. Sementara di setiap sisi meja berjejer botol minuman keras berbagai merek berikut gelas besar dan kecil serta beberapa piring makanan gorengan.
Kepulan asap rokok  makin pekat, membentuk bulatan dan keluar perlahan dari balik lubang pintu ka yu rumah bertingkat itu. Suara batuk dan mendehem sesekali terdengar mewarnai bantingan kartu dari tangan lincah dan kekar di atas meja  marmer dan kayu jati.
Di tempat inilah, kamar persegi empat dengan dinding dan atap genteng, beberapa warga memanfaatkannya untuk berjudi. Judi kartu dan siapa yang menang akan mendapat sejumlah uang serta bonus minuman keras. Kegiatan terlarang ini bisa berlangsung mulus sejak beberapa bulan terakhir ini.
Usia mereka rata-rata 20-30an. Kebanyakan laki-laki dan sudah berumah tangga. Tidak setiap malam mereka melakukan perjudian. Ada malam-malam tertentu. Karena sebagian besar mereka adalah pekerja lepas bangunan. Malam minggu lah yang kerapkali dijadikan pilihan.
Tentu keberadaan para penjudi kelas ‘teri’ ini cukup meresahkan warga. Pasalnya, selain memancing warga lain untuk ikut taruhan dan larut dalam permainan judi, mabukan-mabukan serta pulang teler di pagi hari, hal lain yang lazim ditemui.
“Kita naik atap saja, Wak Ji,” i Koing pada Wak Ji. Setelah melihat salah seorang penjudi keluar dari rumah untuk buang air kecil di parit berumput.
Karena Wak Ji yang usianya jauh lebih tua, dial ah yang lebih dulu masuk. Disusul Brendo dan terakhir, Koing. Udara dingin memang, menusuk tulang sumsum, baru turun hujan tadinya, lepas Magrib.
Sssssst …
Terdengar suara ribut-ribut di dalam. Koing, Brendo dan Wak Ji mencaritahu asal suara itu, ternyata bersumber dari ujung kanan atap. Mereka bergerak ke tepi, mendekati atap genteng yang sudah lapuk, dan benar ….
“Kamu itu mentang-mentang menang mau berhenti. Tak boleh lah. Itu sudah peraturan. Taati,” sergah laki-laki bertato kepala anjing di tangan dengan raut muka marah.
“Siapa yang bikin peraturan itu. Gue enggak peduli. Gue udah menang dan mau berhenti sekarang. Titik,” tantangnya.
“Coba saja kalau mau berhenti. Aku robek perutmu dan makan kamu punya jantung,” ancam bertato sambil menunjukkan pisau belati karat, dijilat-jilatnya berulangkali.
“Pisau ini sudah lama tak makan …” ucapnya dengan sorot mata tajam.
“Ayo cepat tujah kalau berani,” kata si pria berkumis itu tak kalah sengitnya.
Ribut-ribut itu pun mereda setelah salah seorang dari kawanan penjudi yang menamakan dirinya Bos Besar ikut menyapih. Tak lama setelah itu, judi kartu dimulai lagi dengan masing-masing pihak serempak menyulut rokok, menghisapnya dalam-dalam.
“Gimana, Ing?” Tanya Brendo yang sudah tak sabar mengeluarkan kawanan ular dari sangkek rotan.
“Bentar .. Kutelepon dulu Pak Erte,” jawab Koing dengan  berbisik.
“Hati-hati, Ing. Sepertinya mereka …” Wak Ji tak meneruskan ucapannya, karena ketika akan menengok ke bawah, salah seorang dari para penjudi itu memandang ke atas. Tak tahu lah apa orang ceking dengan rambutan panjang berantakan itu melihat Wak Ji atau tidak.
“Alhamdulillah, dia tidak tahu, Wak Ji,” ujar Brendo setelah melihat laki-laki tadi itu kembali duduk dani melanjutkan permainan lagi setelah sebelumnya menenggak segelas bir hitam.
“Gimana, Ing. Sudah lum?” Tanya Wak Ji.
“Bereeees … Wak!”
Sesaat mereka mundur beberapa sentimeter dari atap genteng yang digeser sedikit itu.  Brendo mem buka sangkek berisi ular. Ular yang semula melingkar mulai bergerak lambat, menuruni tiang penyang ga atap rumah berlantai dua itu. Sedangkan Pak Erte dan warga sudah sampai di depan teras. Mereka bersiap masuk setelah ular pencari mangsa itu sudah mematuk.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar