Kamis, 18 Juni 2015

(Koing 22-25)



Serial Detektif Cilik
KOING (22)

Luka Lebam
Wak Amin


SETELAH sempat mencak-mencak dan mengancam akan menghabisi nyawa Pak Budi  serta beberapa guru lainnya, ayah Wasir akhirnya pulang ke rumah dengan diantar Bu Retno sampai teras sekolah.
Semua guru pada bernafas lega, terutama Pak Budi. Dia sempat kuatir Pak Saleh bakal mengamuk dan mencederai dirinya, Bu Retno, bahkan mungkin para siswa yang sedang belajar di kelas.
Kejadian barusan ini  kemudian diceritakan Bu Retno pada Bu Guru Linda saat jam istirahat kedua. Keduanya tampak berbincang-bincang serius, memberikan saran dan pendapat serta kemungkinan terjadinya aksi balas dendam.
“Saya percaya pada siswa saya, Bu. Berilah kepercayaan kepada keduanya,” ujar Bu Guru Linda setelah menyebut nama Koing dan Brendo.
Koing dan Brendo, setelah diberitahu Bu Guru Linda, segera melakukan penyelidikan, tentu dibantu juga oleh Wak Ji.  Diawali dari kediaman Pak Saleh.
Siapa Pak Saleh?
“Menurut Wak, dia orangnya baik, Cuma jarang bergaul saja,” kata Wak Ji. Bersama Koing dan Brendo, mereka bertiga mendatangi rumah Pak Saleh.
Tak ada orang di rumah tu. Rumah beton yang posisinya cukup jauh dari rumah warga lainnya. Sepi  dan tampak dari luar ada motor terparkir dekat pintu pagar.
“Kemana orangnya Wak Ji?” Tanya Brendo. Sejenak ia berpikir, lalu melepaskan anak betetan ke pohon besar tak jauh dari kediaman Pak Saleh.
Klonteeengg …
Meski atap rumah terkena kerikil anak betetan, si penghuni rumah tak beraksi.
“Itu berarti tidak ada orangnya, Wak Ji,” jelas Koing.
“Ssss .. coba lihat itu!”
Wak Ji  menunjuk ke sebuah mobil pick up yang baru saja berhenti. Tak lama kemudian keluarlah se orang laki-laki yang tak lain adalah Pak Saleh, isterinya dan Wasir. Setelah masuk rumah, Pak Saleh keluar lagi dan pergi entah ke mana dengan mobil pick upnya.
“Kita dekati saja rumahnya yuk!” Ajak Koing.
Menyelinap masuk dengan cara melompati pagar, Wak Ji, Koing dan Brendo akhirnya ampai dekat jendela belakang rumah. Mereka pasang telinga lebar-lebar. Terdengar orang berbicara sambil menangis tersedu sedan.
“Sabar ya, Nak.” Kata isteri Pak Saleh dengan suara lirih.
Di pangkuannya ada Wasir. Sekujur tubuhnya luka lebam bekas dipukul.
Siapa yang memukul?
“Jangan berisik. Kita dengar dulu apa kata ibunya,” ujar Koing.
“Bapakmu memang jahat anakku ..”
“Ibu ….” Wasir merintih kesakitan.
Sang ibu membuka pelan-pelan baju seragam sekolah Wasir. Lalu mengompres bekas luka lebam itu dengan air hangat. Diberi obat agar tidak melebar itu luka dan Wasir tidak terus menerus menahan sakit.
“Maafkan bapakmu ya, Nak.”
Wasir tidak menjawab. Dia hanya bisa menangis dan meringis kesakitan. Permintaan dari ibunya tak sempat ia dengarkan, sebelum akhirnya tertidur pulas dalam dekapan sang bunda.
“Bagaimana Wak Ji?” Brendo mulai naik darah.
“Nanti dulu. Kita pikir masak-masak,” kata Wak Ji menanggapi ajakan Brendo untuk masuk ke dalam rumah.
“Dia tertidur. Sebentar lagi lah,” saran Koing.
“Kalau dia keburu mati, gimana Wak Ji, Ing?”
“Tak mungkinlah, Do … Takut amat lu!”
“Bukan takut Wak … Tapi kalau ….”
Ya sudah,” Koing menengahi.
Wak Ji masih berpikir keras.
 “Oke kalau begitu,” kata Wak Ji. “Kita masuk sajalah.”
“Nah begitu Wak. Itu baru namanya Wak Ji Brendo … Ya  kan, Ing”
“Iya iya …”
Ternyata mereka diterima dengan baik oleh ibunda Wasir. Tak ada rasa takut karena ibu muda ini sudah kenal, walau tak begitu dekat dan akrab, dengan Wak Ji sebagai pedagang pakaian.
“Ini … Koo ..”
“Koing, Bu Saleh,” jawab Brendo.
“Kami akan membantu ibu membawa Wasir ke puskesmas kalau ibu berkenan. Ibu mau kami bantu?”
Tanya Koing.
Tak ada jawaban selain bergegas masuk ke kamar Wasir untuk melihat keadaan terkini anak semata wayangnya yang masih tertidur pulas.
  


Serial Detektif Cilik
KOING (23)

Hilang Keseimbangan
Wak Amin


DENGAN mengendarai sepeda motor, Wak Ji membonceng Wasir dan ibunya menuju puskesmas terdekat untuk berobat. Sedangkan Koing dan Brendo menyusul dari belakang dengan mengendarai sepeda BMX. Cukup jauh juga  jarak yang harus mereka tempuh. Sekitar setengah jam perjalanan.
Siang hari. Arus lalu lintas tak terlalu ramai. Wasir dengan lancar tiba  di puskesmas. Diberi pengo batan secukupnya. Luka-luka di sekujur tubuhnya dibersihkan,  diobati oleh dokter dan diizinkan pulang untuk proses penyembuhan.
Namun, kata sang dokter, belum boleh banyak bergerak. Buat sementara waktu, Wasir tak usah sekolah sampai luka yang dideritanya sembuh total.
Pada perjalanan pulang, motor yang dikendarai Wak Ji hampir bersenggolan dengan mobil pick up Pak Saleh yang membawa pasir dan batu koral. Motor sempat oleng dan nyaris nyungsep ke parit.
“Taruh dimana mata bapak, haaa?” Hardik Pak Saleh setelah turun dari mobil. Ia mendekati Wak Ji yang masih gugup akibat peristiwa yang menimpanya barusan.
“Ada, Pak. Ini di depan bapak,” ucap Wak Ji seraya memperlihatkan dua matanya yang berhadapan langsung dengan matanya Pak Saleh.
“Kalau bermotor itu lihat-lihat Pak. Ini bukannya jalan nenek moyang bapak …”
“Memangnya jalan ini punya nenek moyang bapak?” Tantang Wak Ji.
“Bapak menantang saya?”
“Kalau iya kenapa Pak? Bapak takut apa?”
“Ayo kita duel kalau mau …” Kata Pak Saleh, bergegas membuka bajunya, mengajak Wak Ji berkelahi.
“Ayo … siapa takut. Biar di kaki gunung ai ladeni.”
Koing, Brendo, Wasir dan ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Cuma menonton apa yang bakal terjadi pada Pak Saleh dan Wak Ji.
“Kenapa diam, Pak. Takut?” Ejek Wak Ji setelah melihat Pak Saleh ragu untuk memulai perkelahian.
“Siapa yang diam. Tak uk uk ya …!”
“Kalau tak diam kenapa tak langsung memukul saya. Ayo! ”
Pak Saleh geram mendengar  ocehan Wak Ji. Dia pasang kuda-kuda. Bergerak ke kanan dan kiri dengan dua kaki serta tangan silih berganti didorong ke depan.
Hiyaaaaat …!
Satu pukulan tangan kanan mengarah ke muka Wak Ji. Dengan entengnya lelaki tua tapi masih bugar ini menangkisnya dengan tangan, lalu melepaskan pukulan tangan kiri kea arah perut.
“Eeeekh!”
Kendati sempat mengaduh kesakitan, Pak Saleh masih sempat melepaskan tendangan geledeknya yang menyasar ke perut Wak Ji. Sayang meleset.  Wak Ji mengelak ke kanan. Dia balas tendangan itu dengan meninju pipi kiri Pak Saleh.  Jatuh tersungkur, sempoyongan.
“Bapaaak!” Jerit ibunya Wasir. Merasa kasihan melihat suaminya jadi bulan-bulanan Wak Ji.
“Biarkan Wak Ji yang beri pelajaran, Bu Saleh. Taka pa-apa,” ucap Koing menenangkan hati wanita berkulit cokeleat dan berparas lumayan cantik itu.
“Sebentar juga beres, Bu.” Sahut Brendo.
Benar kata Brendo. Setelah sempat sempoyongan tadi, Pak Saleh akhirya mengaku kalah karena dia merasa tak sanggup lagi melanjutkan duel tangan kosong dengan Wak Ji.
“Tunggu pembalasanku!” Ancam Pak Saleh, dipapah salah seorang karyawannya masuk mobil.
Wak Ji mengejarnya.
“Taj usah menunggu Pak. Sekarang juga. Ayo, pukul ane kalau berani,” tantang Wak Ji.
Berbekal tenaga yang masih tersisa, Pak Saleh berusaha melepaskan pukulan mautnya.  Sayang, sebelum pukulan berantai itu menyentuh pipi Wak Ji, ia keburu jatuh karena lelah dan hilang kesimbangan.   



Serial Detektif Cilik
KOING (24)

Dibobol Maling
Wak Amin


SATU minggu terakhir ini, tempat dimana Koing dan Brendo menimba ilmu, selalu dibobol maling. Pembobolan itu terjadi tepat etengah malam. Pasalnya, keesokan harinya baru diketahui beragam fasiltas dan kelengkapan barang di sekolah ada yang hilang, entah siapa yang mengambilnya.
Mulai dari mesin tik, kotak spidol, jam beker hingga sejumlah uang yang disimpan dalam laci. Tidak sampai puluhan juta rupiah memang. Tapi aksi pembobolan rumah sekolah ini membuat para guru dan siswa menjadi tidak nyaman.
“Kuatirnya merebak ke orang per orang,” kata Bu Retno saat memimpin rapat dewan guru. Beberapa guru yang hadir di antaranya Pak Budi dan Bu Guru Linda.

Barang habis dimaling. Karena tidak ada lagi yang bakal dimaling, kita-kita ini lah yang bakal diram pok, dimalingi. Sudah dirampok, dibunuh pula. “Naudzubillahi mindzaalik,” ucap Bu Retno sambil menyeka peluh di seputar hidung dan mulutnya.
Udara di ruangan rapat terasa panas. Kipas angin yang diharapkan membantu mendinginkan ruangan ternyata hanya angin lalu saja karena selain cuaca di luar teramat panas juga masalah yang tengah dihadapi saat ini amat pelik dan menyita energi serta pikiran.
“Apakah ibu-ibu dan bapak sekalian punya ide dan saran?” Tanya Bu Retno membuka forum curhat dari hati ke hati untuk mencari titik temu dan solusi.
“Saya, Bu.” Bu Susi mengangkat jari telunjuk.
 Menuru saya, kata Bu Susi, kita juga minta bantuan pihak keamanan untuk ikut mengawasi rumah sekolah ini.
“Jadi, sesekali satu atau dua orang polisi kita mintakan kesediaannya menjaga rumah sekolah ini,” terang Bu Susi.
Tentu, kata Bu Susi lagi, dibantu juga oleh warga sekitar. “Insya Allah, kalau kita sungguh-sungguh akan berhasil.”
“Menurut saya,” sahut Pak Budi, menimpali saran Bu Guru Susi, “Apa yang disampaikan beliau itu bagus dan bisa diterima. Tapi itu solusi akhir, Bu.”
“Maksud Pak Budi?” Tanya Bu Retno.
“Kita coba dulu cara lain, Bu.” Pak Budi mempersilakan Bu Guru Linda angkat bicara.
“Mungkin Bu Guru Linda ada usulan atau pemikiran lain, silakan Bu,” ujar Bu Retno.
Suasana rapat yang semula berlangsung tegang mulai mencair. Agak sedikit rileks. Ketawa-tawa kecil dengan sesekali mengunyah tempe goreng dan peyek.
“Saya lebih memilih kenapa kita tidak coba tenaganya Koing dan Brendo. Bukankah selama ini mereka berdua selalu berhasil menjalankan tugasnya ..”

“Tapi,  saya agak ragu sedikit, Bu Linda,” potong Bu Retno.
“Ragu dan kuatirnya, mereka kan masih kecil  sedangkan masalah yang kita hadapi sekarang ini jauh lebih besar ...”
“Mengganggu, begitu Bu maksudnya?”
“Betul sekali Bu Linda,” jawab Bu retno. “Bukan kita tak percaya kemampuannya Koing dan Brendo. Tapi itu lho, usia mereka masih anak-anak. Terus bagaimana dengan orangtua mereka …”
“Takutnya, sambung Bu Retno, “bukan menyelesaikan masalah, justru menambah masalah yang baru.”
Agak lama juga rapat berlangsung. Masing-masing guru punya alasan tersendiri dalam menyampai kan sekaligus menyikapi saran dan usulan. Selepas makan siang belum bulat dan ada kata sepakat.
Kata sepakat baru tercapai setelah para siswa pulang sekolah karena jam pelajaran siswa  sudah ber akhir. Disepakati, selain Pak Budi, diminta juga kesediaan Wak Ji mendampingi Koing dan Brendo mengungkap misteri pembobolan rumah sekolah yang sebelumnya tak pernah terjadi.
  





Serial Detektif Cilik
KOING (25)

Kecolongan
Wak Amin

KARENA penyelidikan dilakukan pada malam hari, Pak Budi dan Wak Ji meminta Koing dan Brendo datang ke sekolah lepas magrib. Usai makan malam dan mengaji.
Keduanya tidak keberatan. Selain lebih nyaman karena sudah menunaikan kewajiban, mereka bisa santai datang ke sekolah. Apalagi Koing tidak cuma berdua Brendo, juga ditemani beberapa warga yang sempat mengantar mereka ke pintu gerbang rumah sekolah.
Pengintaian berlangsung tak lama setelah Koing dan Brendo tiba di sekolah. Dari balik gudang yang berkuran sempit itu mereka menunggu hingga tengah malam. Anehnya, yang ditunggu tak juga nongol
“Jangan, jangan mereka sudah tahu rencana kita Pak Budi,” kata Brendo yang kegatalan karena pantatnya barusan digigit nyamuk malam.

Sabar, Do. ‘Ntar juga datang. Yakinlah,” jelas Pak Budi.
“Iya Do. Kalau tak tahan juga tidur sana di rumput dekat parit itu.” Wak Ji menunjuk rerumputan di bawah pohon pisang. Nyaman tapi suasananya gelap gulita.
“Ngeri Wak Ji. Gelap,” jawab Brendo yang sudah beberapa kali menguap.
“Ngeri apa takut?” Ledek Wak Ji.
“Dua-duanya Wak Ji,” ucap Brendo sekenanya.
Senda gurau terhenti tatkala dari samping sekolah ada sekelebat bayang-bayang melompat masuk ke ruang kantor guru. Muka mereka tak tampak karena ditutupi kain sarung. Hanya kelihatan mata, kaki dan kedua tangan.
Kelebatan bayang-bayang itu seketika hilang bersamaan terdengarnya suara pintu dibuka. Wak Ji, Pak Budi, Koing dan Brendo berusaha mendekat. Mereka berpencar. Dua lewat samping kanan dan duanya lagi memilih jalur samping kiri.
“Awas, Wak.” Bisik Koing.
Ada suara aneh di dekat pintu. Rupanya hanya seekor lipas dan tikus lagi berseiweran cari makan.
“Cepatlah sedikit, Do.” Kata Pak Budi. Dia menarik tangan Brendo yang keenakan menggaruk bekas gigitan nyamuk yang menjalar hingga ke paha.
“Ntar ketahuan,” kata Pak Budi.
Kawanan pencuri itu mulai beraksi. Mereka, setelah mencongkel jendela kantor, memeriksa brankas dengan menggunakan lampu senter, satu persatu brankas dibuka.
“ Yang ini, Bos?” Tanya salah seorang dari pencuri menunjuk mesin tik kuno berukuran gede di atas meja kayu.
“Libas sajalah!”
“Horeee .. aku dapat,” teriak teman pencuri satunya yang serta merta disempal mulutnya dengan sebatang rokok oleh sang bos.
Koing dan Wak Ji sempat mendengar suara teriakan sesaat itu. Lalu mengintip dari balik lubang bawah jendela, ternyata ….
“Apa Ing?”Tanya Wak Ji.
“Duit, Wak Ji. Buanyaaak sekali. Tapi … “Koing ketawa geli.
“Kenapa, Ing?” Apa ada yang lucu?”
“Ribuan semuanya.”
“Eeeem, lantas?”
“Logamnya juga banyak, Wak Ji.”
Kawanan pencuri yang jumlahnya empat orang itu, setelah memasukkan duit hasil curian ke dalam tas besar, segera angkat kaki lewat pintu belakang yang sudah mereka bobol lebih dulu. Berhasil kabur dan lepas dari pengintaian Koing, Brendo, Wak Ji dan juga Pak Budi yang mulai mengantuk karena lupa tidur siang.

 


 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar