Novel Serial
BiJe
Pondok Cinta
Oleh Pak Amin
I
SEBUAH mobil sedan berwarna hitam berhenti persis di depan
kantin gerbang luar rumah sekolah Es Em A
Mawar. Seorang pria berkacamata turun dari mobil. Sesaat dia melihat
tulisan yangterpampang di pin tu gerbang. Lalu mengalihkan pandangannya ke
dekat mobil yang dia parkir.
“Kantin Mawar,” ucapnya, sedikit bergegas masuk kantin
Mawar.
Sebuah kantin yang tidak begitu besar dan mewah. Tapi hampir
semua jajanan favorit ada di kantin ini. Mulai dari soto, bakso, sate, pempek,
burger hingga kerupuk kempelang dengan berbagai rasa.
Selain beragam es seperti es campur , es kelapa muda, es
kopi dan teh, serta es krim berbagai rasa, kantin Mawar juga menyediakan nasi
murah meriah. Di antaranya nasi ayam, nasi rendang, pindang betok dan patin
serta lele jumbo.
Kantin Mawar buka dari pagi sampai tengah hari menjelang
sore. Semula kantin ini diperuntukkan siswa Es Em A Mawar. Namun, karena
banyaknya permintaan dari warga di sekitar kantin, jenis jajanannya ditambah
dan di perluas.
Tidak lagi melulu menu anak sekolahan, tapi juga masyarakat
dari berbagai lapisan dan kalangan. Tak disangka, peminatnya cukup banyak. Tak
heran, sebelum sore menyambut, jajanan ludes, dan kantin pun tutup lebih awal.
Dulu, kantin ini hanya fokus pada makan di tempat. Tapi
sekarang sudah bisa dipesan dan diantar di tempat. Ke manapun, selagi itu masih
dalam wilayah kota, akan diantar sampai alamat, tentu dengan pesanan yang tidak
sedikit, atau sesuai kesepakatan sebelumnya.
Pesanan diantar menggunakan sepeda motor dan mobil. Harganya
tetap sama dengan kualitas pesanan sama dengam ketika kita makan di tempat.
Pemesan hanya tinggal mengontak pihak kantin, berikan identitas lengkap berikut
alamat yang jelas, bayar di belakangan setelah pesanan tiba.
Kantin Mawar dikelola swasta perorangan, bekerja sama dengan
pihak Yayasan Es Em A Mawar. Lokasi parkir yang lumayan luas kalau untuk sepeda
dan sepeda motor. Sedangkan mobil dalam
jumlah terba tas di samping parkir kendaraan roda dua.
Namun jika lokasi parkir sudah disesaki kendaraan, penyewa
kantin sering menggunakan lahan samping sekolah sesuai aturan dan perjanjian
bersama dengan pihak yayasan dan warga.
Karena pengunjung yang datang ramai, baik anak sekolahan
yang sudah pulang sekolah, maupun kar yawan swasta dan negeri yang tak bawa
bekal dari rumah, tersisa tempat duduk di ujung kanan bela kang. Darwin, nama
pria yang kita ceritakan ini, tidak mempersoalkannya.
Dia sudah terbiasa, saat pengunjung kantin dan restoran atau
kafe penuh, duduk di manapun pasti mau dan suka. Karena baginya, yang terpenting bisa
menikmati hidangan dengan perasaan lepas, riang dan gembira.
Siang itu, Darwin memesan es kopi dan sepiring gado-gado.
Walau lapar, dia sengaja tak makan nasi karena belum happy sebelum bersua Puspa, sang adik tercinta. Lama juga
dia tak bersua. Hampir dua tahun lamanya.
Darwin kini tinggal merampungkan disertasi S-3 nya, di sebuah perguruan tinggi
swasta di Pulau Jawa. Dia mengambil jurusan arsitektur. Usianya masih sangat
muda, baru 23 tahun. Sebentar lagi bakal diperbolehkan menyandang gelar Dr
(PhD).
Dalam satu kesempatan, saat ditanya rekan-rekan
mahasiswanya, Darwin mengaku tak terlalu ngotot menyelesaikan S-3 nya, meski
kanyataannya, kalau tak ada aral melintang, lebih cepat dari perkiraan semula.
Seperti kebanyakan mahasiswa yang kutu buku, Darwin sampai
kini belum punya gandengan. Dia mera sa belum
saatnya mencari pendamping hidup. Dia tak ingin memaksakan diri. Usia
masih sangat muda. Masih banyak yang harus dipikirkan dan dikerjakan.
“Tapi nanti ketuaan lho, Win.” Kata Sang Mama sesaat dia
baru tiba pagi tadi di bandara. Setelah meng antar Puspa sekolah, Bu Bima
bersama suaminya menyempatkan diri menjemput Darwin di lapangan terbang.
Darwin tahu, pertanyaan itu tak perlu dia jawab, karena
seperti pertanyaan lain yang kerap dilontarkan ibunya, akan hilang sendiri
dengan banyaknya pekerjaan lain yang harus dikerjakan.
“Mas, pesanannya …” Sapa seorang wanita muda berkulit sawo
matang, pelayan kantin dengan ramah.
“Makasih ..” Jawab Darwin singkat.
Darwin merasa gado-gado yang ada dihadapannya kini lebih
lezat dari yang biasa dia santap di tempat lain. Begitu juga dengan es kopi.
Pasti manis dan nikmat di kerongkongan.
Darwin berharap, gado-gado yang dia makan siang ini cukup
mengganjal perutnya dari rasa lapar saat pertama kali menginjakkan kakinya di
kantin Mawar. Begitu juga dengan es kopi
manis. Rasa haus yang menyengat kerongkongannya bisa secepatnya hilang, sehingga ia leluasa bicara saat
ketemu Puspa nantinya.
Puspa adalah adik satu-satunya Darwin, lain tidak. Mereka
hanya dua bersaudara. Yang sulung Darwin, si bungsu bernama Puspa. Keduanya
sangat akrab sejak kecil. Puspa sangat manja dan sayang sama kakak nya itu.
Lama mereka bersama. Sekolah perginya bersama-sama, piknik
juga bersama,bahkan ke pasar, mal dan
ke mana saja jalan, hampir selalu berdua.
Namun setelah Darwin memutuskan kuliah di Pulau Jawa, sejak
S-1 sampai S-3 yang kini mendekati rampung, hanya sesekali jalan berdua. Hal
ini dikarenakan Darwin jarang pulang. Dia sibuk kuliah dan praktik lapangan sehingg lebih banyak menyita
waktunya selama di perantauan.
Bukan tidak rindu untuk pulang kampung. Darwin ingin sekali
pulang saat liburan semester. Dia rindu melepas tawa dan canda bersua Puspa dan
kedua orang tuanya. Juga rindu dengan tanah kelahirannya, Palembang Darussalam.
Rindu dengan keramahan warganya dan pempek kesukaannya.
Pernah suatu kali, saat libur semester S-1, Darwin sudah
berkemas-kemas hendak pulang kampung, terpaksa diurungkan karena di saat
bersamaan dia harus menyelesaikan tugas penelitiannya sebagai syarat mengikuti
ujian akhir sarjana lengkap.
Namun bagi Darwin, walaupun dia tak sempat dan jarang
pulang, kontak jarak jauh rutin dilakukan. Paling sedikit seminggu sekali atau
dua kali dalam seminggu. Tak ada yang istimewa yang ia bicarakan, biasa-biasa
saja. Tapi karena disadari kasih sayang dan cinta, meski jauh di mata, terasa
dekat di hati. Hangat dan mesra.
Kepada Sang Mama, Darwin sering menanyakan masakan apa yang
dimasak pada hari itu. Atau sesekali berguyon dengan guyonan ‘Apa mama tidak
rindu Darwin?’ Kalau Sang Mama menjawab ‘iya’, rindu. Maka Darwin pun akan
menjawab, “Dari jauh Darwin peluk hangat mama …”
Mesra bukan?
Begitulah Darwin. Kepada Sang Papa lain lagi. Selain
menanyakan makanan kesukaan, dia juga seringkali menanyakan olah raga apa yang
disukai ayahnya saat ini. Apakah perlu dikirimi paket, semisal bola kaki, bola
pingpong, atau bola bulutangkis, bet dan raket. Macam-macamlah.
Darwin sama sekali tidak pernah menanyakan, misalnya, soal
pekerjaan. Apalagi itu menyangkut gaji, bonus dan kenaikan pangkat atau jenjang
karir. Apakah bahagia dengan pekerjaannya sekarang atau justru sebaliknya.
Darwin merasa senang terhadap apa yang dia lakukan. Baginya
Sang Papa, selain ayahnya, pemimpin rumah tangga, juga teman dan tempat saling
tukar pikiran. Keduanya sama-sama terbuka tentang apa saja kecuali hal-hal yang
tidak selayaknya untuk dibuka dan dibicarakan.
Hubungannya yang erat dengan ayah dan ibunya, tak membuat
Darwin tumbuh sebagai anak manja. Dia justru mandiri. Berlama-lama di rantau,
bukannya dia yang tak betah, justru mamanyalah yang terka dang selalu
mengingatkannya untuk jangan tidak pulang kalau libur kuliah.
Di mata kedua orang tuanya, Darwin adalah sosok laki-laki
yang baik. Dia jujur dan bertanggung jawab. Tak pernah neko-neko, merasa cukup
apa yang dia punya. Banyak teman dan luas pergaulannya. Sayang sama mereka, dan
selalu berharap tidak berubah rasa sayang itu sampai ajal menjemput.
Sebaliknya, di mata sang adik, Puspa, Darwin adalah sosok
kakak yang penyayang, mudah diajak bicara dan tempat curhat, berbagi rasa, pengalaman dan teman dalam suka serta duka.
Pernah suatu ketika, saat liburan semester, Puspa mengajak
sang kakak menemaninya jalan-jalan ber keliling kota. Tak segan-segan ia
menggandeng tangan, memeluk hangat sang kakak, lalu naik kuda berdua
mengelilingi pantai.
Amboi indahnya. Begitu sejuk dekat dengan sang kakak.
Kedekatan itu membuat Puspa seringkali mem bayangkan betapa enaknya punya pacar
dan calon suami kelak seperti saudara laki-lakinya ini. Amat penyayang,
perhatian dan peduli sama dirinya.
“Mas … mau tambah lagi?” Sapa pelayan wanita tadi tersenyum
ramah.
Sebelum menjawab iya atau tidak, Darwin melirik jam
tangannya. Sudah pukul satu siang. Sebentar lagi Puspa pulang sekolah.
“Enggak usah, Mbak,” jawab Darwin, juga dengan senyum ramah.
Bergegas ia ke kasir. Dari kasir ia menuju pos jaga sekolah.
Dia menyempatkan diri bertanya kepada salah seorang satpam, diperoleh jawaban
bahwa sebentar lagi seluruh siswa pulang.
Tenang dan lega juga perasaan Darwin mendengarnya. Dia tak
ingin melewatkan kesempatan langka ini. Jarang dia bisa datang langsung ke
sekolahan Puspa. Apalagi sampai antar jemput. Pulang dijemput an tar dan jajan
di tempat yang adiknya sukai.
Mumpung masih bisa membahagiakan Puspa, kenapa harus
setengah-setengah. Orang lain saja harus kita bahagiakan semampu kita, mengapa
saudara sendiri kita justru enggan. Mumpung belum berdua, punya isteri dan anak-anak,
tak ada salahnya menemani adik seikhlas kita.
“Supaya Mas tak panas, masuk saja ke sini,” kata Pak Satpam,
menyilakan Darwin masuk ke dalam pos. duduk sambil menonton acara musik di
televisi.
“Terima kasih, Pak. Biar saya di mobil saja,” kata Darwin,
berlalu pergi.
Dari dalam mobil, Darwin mengontak ibunya, dan memberitahu
sebentar lagi Puspa pulang. Jadi tak usah cemas.
Piiiiin … piiiin … piiiin …
Darwin membunyikan klakson mobil sebanyak tiga kali. Ketika
Puspa menoleh, dia keluar dari mobil dan ….
“Kak Darwiiiiin …” Seru Puspa.
Teman-teman sekelasnya pada terkejut dan melongo melihat
Puspa berlari kencang mendekati sang kakak, lalu memeluknya erat. Hangat nian.
***
II
BU Guru Siska senyum-senyum melihat Puspa bertingkah seperti
anak kecil. Sambil mendorong mo tornya keluar dari lokasi parkir, dari balik
kaca spion dia melihat jelas bagaimana anak didiknya itu bergelayut manja di
dekapan sang kakak.
Tiiiiin …
Bu Guru Siska membunyikan klakson sepeda motornya yang siap
melaju. Dia belum juga berangkat. Duduk, lalu berdiri dan menoleh kea rah Puspa
yang bersiap masuk ke mobil.
Tiiiin …
Kali ini Puspa menoleh.
“Bu Guru Siska?” Gumamnya.
“Siapa Pus?” Tanya sang kakak.
“Bu Guru Siska, Kak,” ucap Puspa, mengajak Darwin
mengenalkannya dengn Bu Guru kesayangan murid Es Em A Mawar itu. Ingin juga dia
mengenalkan kakak satu-satunya itu ke teman sekelasnya, tapi kebu ru sudah
pulang duluan.
“Belum pulang kamu, Pus?”
“Belum Bu. Oh ya Bu. Kenalkan. Ini kakaknya Puspa.” Puspa meminta sang kakak memperkenalkan lebih
dulu kepada Bu Guru Siska.
Keduanya saling bersalaman.
“Darwin …”
“Siska …”
Sempat adu pandang.
Eheeeem …
“Bu Sis …!”
Siska melepas tangannya, juga Darwin.
“Udah ya Bu … Duluan …!” Kata Siska.
“Oh iya .. Hati-hati ya ….”
“Bu Guru juga hati-hati,” pesan Darwin, disambut anggukan
lemah Bu Guru Siska.
Kendaraan berbeda roda itu melaju pelan meninggalkan gedung
Es Em A. Tentu sama-sama meluncur ke samping gerbang sekolah sampai di pusat
kota. Saling membunyikan klakson, Bu Guru Siska dan Puspa saling menebar
senyuman serta melambaikan tangan ketika memasuki arah jalan yang sama sekali
berbeda.
Bu Guru Siska, dengan sepeda motor yang ia kemudikan,
melewati jalan pintas motor, mirip sebuah gang. Kendati kecil, pengguna
kendaraan roda dua selalu menggunakan jalan ini pada siang dan sore hari,
karena jalan raya besar pusat kota macet merayap. Selain lebih cepat, selama
ini keadaannya aman-aman saja.
Sementara Darwin dan Puspa, sebelum melewati simpang empat
menuju kediaman mereka, mampir sejenak di kedai ‘Sapu Bersih’. Sebuah kedai
kecil, tapi banyak peminatnya. Yang dijual cuma bakso dan model serta aneka
minuman dingin seperti es dogan, es selasih, es krim dan minuman hangat.
Tak sampai berlama-lama keduanya menikmati jajanan bakso dan
es dogan di kedai ini. Selain pengunju ng setiap menit terus bertambah dan yang
pulang semakin berkurang jumlahnya, telepon dari Sang Ma ma yang meminta
keduanya cepat kembali ke rumah, membuat
Darwin dan Puspa segera angkat kaki dari kedai terlaris itu.
Dengan sedikit mempercepat lajunya mobil, Darwin sempat
melontarkan candaan kalau sesungguhnya Bu Guru Siska itu orangnya baik, keibuan
dan sepertinya sayang pada anak muridnya.
“Emang betul, Kak.” Jawab Puspa seraya ketawa.
“Ada yang lucu Pus?”
“Takut aja Kak.”
“Takut kenapa?”
“Biasalah Kak. Cinta kilat. Baru tadi saling lihat, besoknya
langsung sepakat …”
“Sepakat untuk apa?”
“Kawin …”
Ha ha ha ha …
Tiba di perempatan, Puspa melihat kerumunan orang dekat
trotoar. Sebuah motor terbalik, akibat tab rak lari. Puspa penasaran. Makanya
dia turun dari mobil untuk memastikan bahwa korban bukan Bu Guru Siska.
Betapa kagetnya ia, ketika tahu wanita yang tergeletak di
jalan beraspal dan jadi tontonan sebagian kecil warga itu adalah gurunya
sendiri, Bu Siska. Dia menjerit histeris dan berlari memanggil-manggil
kakaknya.
Saat bersamaan lampu traffic light berubah hijau. Darwin
memutuskan untuk meminggirkan mobil dan memarkirkannya dekat pos jaga. Hingar
bingar klakson mobil tak ia hiraukan. Begitu juga sumpah sera pah dari
pengemudi angkutan kota yang terpaksa mengerem mendadak setelah Darwim
membelokkan mobilnya ke kiri.
Tanpa memberitahu petugas jaga parkir di dekatnya yang
berdiri melongo, Darwin setengah berlari men dekati Puspa yang hanya bisa menangis
sesunggukan di samping Bu Guru Siska tergeletak. Beberapa warga mencoba untuk
menolongnya, tapi tak berani untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.
“Biar saya saja, Pak.” Ucap Darwin. Dibantu beberapa orang,
membawa Bu Guru Siska ke mobil yang disopiri Darwin.
Sementara motor Bu Guru Siska, Puspa titipkan sama Pak
Polisi, lalu ia tuliskan alamat dan identitas pe miliknya , pikirannya justru melayang
jauh. Masih tetap jauh tatkala mobil melaju kencang melewati lalu-lalang
kendaraan, jalan pintas dan trotoar yang sambung menyambung ke deretan
pepohonan besar lagi rindang.
Sulit membayangkan bagaimana sosok Puspa yang tadinya
ketawa-ketawa lalu bermanja-manja, beru bah seketika saat harus mondar-mandir
menemui dokter dan perawat rumah sakit selain mengurus te tek bengek
adminstrasi rawat inap Bu Guru Siska. Sedangkan Darwin menemani Siska sampai di
ruang emergency.
Kendati tidak terlalu parah, memar di bagian leher, kaki dan
wajah, lalu sempat pingsan karena kian me lemahnya seluruh persendian badan, dan
diperkirakan hanya semalam menginap di rumah sakit, Puspa masih juga meragukan wali muridnya itu bisa
sembuh lebih cepat.
“Kepalanya Bu Siska, Puspa tengok mengeluarkan darah juga, Kak
Darwin.”
“Kata dokter, mudah-mudahan beliau taka pa-apa,” jelas
Darwin di ruang tunggu emergency.
“Tapi Kak …”
“Ya sudah. Kita berdoa saja semoga ibu gurumu itu lekas
sembuh dan cepat pulang ke rumah.”
Sampai pukul tiga sore dua kakak beradik ini menunggu hasil
pemeriksaan lanjutan tim dokter yang me nangani Bu Guru Siska. Sang Mama tiada
henti-hentinya menelepon dan menanyakan kenapa belum juga sampai di rumah.
Beliau kuatir buah hati dan belahan jantungnya ini akan jatuh sakit. Berharap
tetap bugar, walau terlambat untuk makan siang.
Ketika kedua orang tua Siska tiba di rumah sakit, terlambat
datang karena macetnya jalan menuju ru mah sakit, barulah Darwin lega. Tak tahu
harus mengucapkan apa, keduanya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan
berharap pada Darwin dan Puspa ikut mendoakan kesembuhan serta memberi semangat
kepada buah hati mereka kelak setelah sembuh tetap bersemangat mengajar.
Bagi Darwin, yang terpenting sekarang ini adalah menolong Bu
Siska. Nyawanya harus diselamatkan. Ter hindar dari cedera yang serius. Sebab,
kehadir annya di depan kelas, di hadapan para siswanya, amat dibutuhkan. Paling
tidak, adiknya Puspa ikut senang melihat gurunya sembuh sediakala.
Puspa pun demikian. Sebelum tidur malam, dia ingin sekali
menemani Bu Guru Siska di rumah sakit. Memberinya obat, menyuapinya makan dan,
kalau sudah diperbolehkan bicara, dia akan bercerita tentang kakaknya yang
pulang liburan ke Palembang.
“Ah, andaikata saja aku bisa menemaninya malam ini, alangkah
senangnya hati ini,” ucapnya sambil tertawa sendiri.
Nyeeeet … nyeeeet …
“Besok sekolah kagak ya!” Sapa Sang Mama dari balik pintu.
“Ai Mama, ngagetin aja …”
“Boleh dong mama masuk …?”
“Ai mama, bikin Puspa kesal aja.”
Sang Mama, setelah menutup pintu pelan-pelan, duduk di
samping Puspa yang rebahan memeluk bantal guling di atas tempat tidur.
“Masih marah sama mama ya?”
“Enggaklah Ma,” jawab Puspa, meminta mamanya baringan juga
biar lebih enak kalau bertukar cerita.
“Bener enggak marah?”
Puspa mengangguk.
“Ini baru benar-benar anak mama,” kata Sang Mama sambil
mencubit penuh kasih pipi dan hidung Puspa.
Tak sampai di situ. Sang Mama juga menggelitiki Puspa. Yang
digelitiki tentu saja kegelian. Mendesah manja. Sempat ngambek, kesal, lalu
tertawa lagi.
“Ma …”
“Apa mama-mama?”
“Mau dengar cerita Puspa enggak Ma?”
“Males ah … Paling soal pelajaran di sekolah.”
“Enggak Ma. Ini dijamin seru mama.”
“Seru apanya?”
“Pelaku utamanya …”
“Siapa emangnya?”
“Kak Darwin,” bisik Puspa. Sang Mama kaget. Lalu
menyembunyikan rasa kagetnya dengan tersenyum lebar.
“Mau bohongi mama lagi ya …”
“Enggaklah Ma. Mau dengar Pusa kan Ma?” Desak Puspa,
berharap Sang Mama, walau sebentar saja, mau mendengarkan ceritanya.
Akhirnya Sang Mama mengangguk.
“Bu Guru Siska Ma.”
“Ah, masak?”
“Benar dong Ma. Gini ya ceritanya. Sebelum kecelakaan,
sewaktu Kak Darmin jemput Puspa di sekolah, bertemu dengan Bu Siska, yang juga
mau pulang. Nah …”
“Nah .. nah apa?”
“Sebentar Ma. Tarik nafas dulu,” kata Puspa.
“Jangan lama-lama ah tarik nafasnya. ‘Ntar enggak ketarik
lagi gimana?”
“Enggaklah Ma. Gini ya Ma kelanjutannya. Puspa kenalin sama
Bu Guru Siska … Nah …”
“Nah .. nah terus. Kapan habisnya. Udah ah … mama mau …”
“’Ntar Ma. Tunggu dulu. Nah, waktu salaman, kakak sama Bu
Guru Siska sempat saling pandang Ma.”
“Lalu jatuh cinta gitu. Kayak di film Bollywood aja …”
Komentar Sang Mama.
“Ketika mau pulang, di tengah jalan, kakak nyebut-nyebut Bu
Guru Siska lagi Ma.”
“Lantas?”
“Kalau enggak ada apa-apanya, ngapain Kak Darwin nyebutin Bu
Siska segala.”
“Ya mungkin saja. Soalnya, Bu Siska itu kan gurumu …”
“Tak mungkinlah Ma. Soalnya, waktu di rumah sakit, Kak Darwin selalu
tengokin wajah Bu Siska. Tak jemu-jemu dia memandangnya.”
“Lho. Apa enggak boleh nengok wajahnya Bu Siska. Boleh aja
kan sayang. Yang enggak boleh itu kalau pegang-pegang …”
“Wah mama. Gitu sih jawabnya sama Puspa …”
Tahu Puspa merajuk, Sang Mama mencium keningnya.
“Ya deh. Maafin mama ya.”
Puspa tak bergeming.
“Terus maunya Puspa gimana?”
“Gini Ma. Mama setujuk enggak kalau Kak Darwin jadian sama
Bu Siska?”
“Jadian apa. Pacaran aja belum. Udah ah … mama mau ke kamar.
Bobok …”
“Bentar Ma. Bentar aja Ma.” Puspa mencegat ibunya di depan
pintu.
“Bantu Kak Darwin, Ma.”
“Bantu apa?”
“Please Ma. Jodohin gitu …”
“Enggak mau ah. Nanti kalau enggak cocok, mama yang
disalahin.”
“Yach mama. Please Ma,” rengek Puspa. Rengekan ini membuat Bu Bima mengurungkan niat untuk keluar dari
kamar anaknya.
Kembali baring di samping Puspa. Puspa berharap, malam ini
sudah ada keputusan penting yang dibuat mamanya.
***
III
EHEEEEM …
“Pagi Papaaa …” Sapa Puspa.
“Pagi juga Puuuus …” Jawab Sang Papa. Mau duduk di kursi,
sudah lebih dulu kursi itu ditarik pelan Puspa.
“Silakan Pa.”
“Terima kasih anakku,” ucap Sang Papa sambil berbagi senyum
dengan Puspa dan isteri tersayang yang sudah lebih dulu duduk di sebelahnya.
Bu Bima seperti tak tenang duduknya.
“Darwin mana Pa?” Tanyanya.
“Pus .. Kak Darwinnya mana?” Sang Papa melemparkan tanya
kepada Puspa yang belum juga makan apa-apa karena masih menunggu kakaknya.
“Nah, itu dia orangnya. Panjang umurnya si Darwin ya Pa.”
Kata Puspa.
Darwin mengenalan stelan putih biru. Baju putih celananya
biru.
“Pagi semuanya.” Ucapnya penuh semangat.
“Pagi juga …” Jawab yang hadir di meja makan, serempak.
Pak Bima menyantap nasi goreng, begitu juga dengan Darwin. Sedangkan Puspa dan Bu Bima belum
menyantap apapun kecuali minum setengah gelas air susu hangat.
“Lho .. mama sama Puspa belum …?”
“’Ntar papa,” jawab Puspa.
“Nanti terlambat pergi ke sekolah,” nasehat Sang Papa.
“Mam …” Bisik Puspa
seraya mengedipkan mata.
“Ya .. ya.” Sang Mama mengangguk.
“Puspa … makan ya say …!
“Oke Kak Darwin. Kita makan ini nasi goreng, telur mata sapi
dan tomat mentahnya …”
Aaaaam …
Berdua mama, Puspa barengan menyendok nasi goreng,
dimasukkan ke dalam mulut. Lalu dikunyah pelan.
“Gimana Pa nasi gorengnya. Enak kan?”
“Bukan lagi enak, Ma. Tapi lezat. Mama memang pintar kalau
memasak nasi goreng,” puji Pak Bima.
“Terima kasih Pa. Sayang enggak ada uang recehan mau kasih
hadiah pujiannya,” canda Bu Bima sambil melirik Darwin yang kelihatan sangat
menikmati nasi goreng racikannya pagi hari ini.
“Oh ya Pa,” kata Bu Bima, “Kebetulan Bu Siska, Bu Gurunya
Puspa, pulang dari rumah sakit hari ini. Gima na kalau mama ikut membesuknya
Pa. Boleh tidak?”
“”Boleh .. boleh. Tapi bapak boleh tak ikut kan Ma?”
“Ya, Papa kan kerja …”
“Puspa juga Ma. Sori enggak bisa ikut. Kan harus sekolah …”
“Iya sayang …”
Diam sejenak.
“Jadi yang nemenin mama siapa ya orangnya?”
“Darwin boleh Ma,” ujar Darwin usai menyeruput air teh susu.
“Yes,” kata Puspa dalam hati. Ia betul-betul girang. Ternyata Darwin mau menemani Sang
Mama membesuk Bu Guru Siska.
“Apa mama enggak salah dengar nich?”
“Enggaklah Ma. Benar kok. Darwin yang nemenin. Kasihan kan
mama sendirian pergi ke rumah sakit. Apa kata orang-orang …”
“Emangnya kata orang-orang apa, Kak Darwin?”
“Ini ibu cantiknya selangit. Kok tega-teganya dibiarin jalan
sendiri. Diambil orang baru tau rasa,” ledek Darwin.
Ha ha ha ha …
“Sudah, sudah. Enggak usah dibahas. Pokoknya, mama ada temen
ke rumah sakit. Dan temen
Mama adalah Darwin, anak mama yang ganteng selangit,” puji
Bu Bima.
Yang dipuji senyum-senyum saja.
“Oke Mam. Sekarang berangkat ya?” Darwin mau beranjak dari
tempat duduknya.
“’Ntarlah sayang. Duduklah dulu. Biarin mama antar papa dan
adikmu dulu sampai ke teras …”
Di rumah sakit …
Belum begitu ramai. Tapi antrean di depan loket panjangnya
minta ampun. Dari pintu depan, Bu Bima dan Darwin bergegas menuju kamar rawat
inap. Beberapa perawat mulai sibuk hilir
mudik . Berpakaian serba putih dengan menenteng map dan terkadang mendorong
pasien berkursi roda atau mereka yang
masuk dan keluar dari meja operasi.
Sampai di ujung jalan, belok kanan, keduanya tiba di pusat
pelayanan. Mereka mengaku masih keluarga dekat Bu Siska. Lalu diantar ke
ruangan di mana Bu Siska menginap rawat. Mereka disambut kedua orang tua ibu
guru Puspa.
Karena masih tertidur pulas, ayah dan ibu Siska tak berani
membangunkan anak mereka. Bu Bima tak ke beratan menunggu. Begitu juga dengan
Darwin. Mereka berempat akhirnya sepakat menunggu di luar kamar.
Kepada Bu Bima dan Darwin, Pak Odi, ayahnya Siska bercerita,
tadi malam suhu badan anaknya sempat naik. Panas di atas rata-rata. Tapi
untunglah segera turun setelah diberi obat penurun panas dan anti biotik.
“Kami takut sekali kalau sampai terjadi apa-apa pada Siska,”
aku Pak Odi.
“Kenapa enggak menghubungi saya saja, Pak. Kan sudah saya
tinggalin nomor telepon rumah dan hape saya ..” jelas Darwin.
“Hilang nak Darwin nomornya,” sahut Bu Odi. Dia
mempersilakan Darwin dan ibunya mencicipi telok gabus ‘bawakan’ guru-guru
temannya Siska.
“Jadi …”
“Iya Bu. Saya juga enggak nyangka. Semalam banyak guru yang
membesuk anak saya. Tak lama. Cuma sebentar. Soalnya, Siska sendiri belum boleh
terlalu banyak diajak bicara,” terang Bu Odi.
“Pulangnya apa jadi hari ini Bu, Pak Odi?”
“Rencananya begitu, Bu,” kata Pak Odi, “ Tapi tergantung
dokter lah. Kalau dari hasil pemeriksaan dok ter nantinya, Siska masih belum
diperbolehkan pulang, ya kami menurut saja. Tak memaksakan diri untuk pulang.
Tapi kalau memang sudah diperbolehkan pulang, kami selaku orang tuanya tentu
sangatlah senang …”
“Bu .. ibu …!”
Siska memanggil.
Darwin bersegera masuk.
Dia mendekati Bu Guru Siska yang masih terbaring lemah di
atas tempat tidurnya.
Kaget sesaat, lalu tersenyum gembira.
“Sendirian Mas? Tanya Siska dengan suara yang masih lemah.
“Sama mama, Sis.”
Belum sempat mencium tangan Bu Siska, Bu Bima sudah nongol
dari balik pintu.
“Bu …!”
Siska berusaha bangun. Dia ingin duduk. Tapi karena belum
kuat, Darwin memintanya berbaring lagi.
“Gimana Sis. Udah …” Tanya Bu Bima sambil meraba keningnya
Siska.
“Lumayanlah Bu. Cuma badan ini terasa lesu saja. Pengennya
mau tidur melulu,” aku Siska.
“Ya namanya juga sakit, nak Sis. Harus sabar dan telaten
dalam berobat,” nasehat Bu Bima.
“Iya Bu,” jawab Siska seadanya.
Sementara Bu Bima dan kedua orang tuanya Siska ngobrol di
luar, kepada Darwin, Siska banyak mengu capkan terima kasih.
“Ya sudah terima kasihnya,” kata Darwin. “Ntar kebanyakan,
enggak bisa ngebawanya pulang.”
“Ya enggak apa-apa Mas Darwin. Lebih banyak lebih bagus …”
“Iya deh, bagus …” Darwin mengalah.
Lalu Darwin pun bercerita …
Suatu ketika, Nasaruddin diundang untuk menghadadiri sebuah
pesta perkawinan. Sebelumnya, di rumah orang yang mengundangnya, ia pernah
kehilangan sandal.
Karenanya sekarang Nasaruddin tidak lagi meninggalkan
sepatunya di dekat pintu masuk, tapi menyim pannya di balik jubah.
“Buku apa itu di dalam sakumu?” Tanya tuan rumah kepada
Nasaruddin.
“Ha, mungkin dia sedang mencari-cari sepatuku,” pikir
Nasaruddin.
“Untung aku dikenal sebagai kutu buku.”
Maka dengan sekeras-kerasnya
ia berkata:
“Tonjolan yang engkau lihat ini adalah keselamatan …”
“Menarik sekali. Dari toko mana engkau dapatkan itu?”
“Yang jelas, aku mendapatkannya dari toko sepatu …”
He he he he …
“Lucu juga ya Mas …”
“Mau lagi kan ceritanya?”
Bu Guru Siska mengangguk.
Gini ceritanya …
Suatu ketika seseorang bertanya kepada Nasaruddin.
“Berapa umurmu, Nasaruddin?”
“Empat puluh,” jawab Nasaruddin.
“Lho! Dulu, dua tahun yang lalu kau menyebut angka yang sama
ketika aku menanyakan umurmu itu?” Tanya orang itu lagi.
“Ya, aku memang selalu berusaha konsisten dengan apa yang
pernah kukatakan …”
“Ah, begitukah cara menepati omongan?”
“Masak kau enggak tahu,” sahut Nasaruddin sambil tersenyum.
Hi hi hi hi …
Ketawa, tapi karena lemah suaranya, hampir tak terdengar.
Hanya gerakan mulut dan matanya yang me nyipit bisa dilihat dan dirasakan
Darwin.
“Mau lagi kan …?”
Siska mengangguk.
Ceritanya, kata Darwin, Nasaruddin bersama seorang
temannya merasa haus, lalu berhenti di
sebuah warung untuk minum. “Mereka memutuskan membagi segelas susu untuk
berdua.”
Lalu, sambung Darwin, Si teman Nasaruddin bilang, “Kamu
minum dulu setengah gelas. Karena aku hanya pula gula yang hanya cukup untuk
setengah gelas. Setelah kau meminum setengah gelas, aku akan menuangkan gula
ini ke dalam setengah gelas susu bagianku.”
“Tuangkan saja sekarang,” kata Nasaruddin, “Dan aku akan
minum setengahnya.”
Lantas si teman Nasaruddin berkata, “Aku tidak mau. Sudah
kukatakan, gula ini hanya cukup membuat manis setengah gelas susu saja.”
Akhirnya Nasaruddin pergi menemui pemilik warung, dan
kembali dengan sekantong garam.
“Ada berita baik,” kata Nasaruddin, “Seperti telah kita
setujui bersama, aku akan minum susu ini lebih dulu, aku akan minum bagianku
dengan garam …”
Heeeegh … heeegh … heeeeegh …
Siska tidak ketawa lagi.
Dia tertidur pulas.
“Baru atau …?” Tanya Bu Odi.
“Baru saja, Bu.” Jawab Darwin.
Ia ikut membantu Bu Odi menyelimuti Siska dengan selimut tebal.
***
IV
“GIMANA tadi ngajarnya?”
“Ya, lancar-lancar aja Mas,” ujar Siska, yang baru saja
berpisah jalan dengan Puspa. Puspa pulang bersama Nile, Zuleha dan Maisaroh.
Sedangkan Bu Guru Siska baru hendak men-starter motornya.
“Waduh .. Maaf ya Sis, enggak semput jemput,” kata Darwin,
baru saja mengantar pulang ibunya dari belanja keperluan dapur.
“Ya, enggak apa-apa, Mas,” jawab Siska. Mesin menyala, motor bergerak, melesat maju ke pusat kota. Kontak
antar HaPe pun terhenti.
Kontak via HaPe dilanjutkan sore harinya. Supaya hemat biaya
dan lebih aman dari gangguan, menggu nakan jalur es em es saja. Berikut urutan
pesan yang tertulis di HaPe Darwin dan Siska …
Darwin : Lagi ngapain Sis?
Siska : Minum
teh sama baca buku …
Darwin : Tehnya teh
apa, bukunya buku apa?
Siska : Tehnya teh melati celup, sedangkan bukunya ya
buku pelajaran yang hendak diajarkan besok
Mas.
Darwin : Lho … katanya engak mau mikirin yang
berat-berat dulu ..
Siska : Ya maunya Siska gitu Mas. Tapi kalau enggak baca, yang diajarin besok apa dong.
Siska : Ya maunya Siska gitu Mas. Tapi kalau enggak baca, yang diajarin besok apa dong.
Darwin : Iya juga ya …
Siska : Mas Darwin aja bingung, apalagi Siska.
Siska : Mas Darwin aja bingung, apalagi Siska.
Darwin : Enggak …
enggak Mas Darwin enggak bingung. Cuma …
Siska : Cuma apa
Mas?
Darwin : Mikirin
kamu aja … gimana gimana gitu.
Siska : Gimana
apanya?
Darwin : Kamu kan enggak boleh mikir terlalu berat
dulu. Sebab dikuatirkan kamu jatuh sakit lagi. Nah,
kalau kamu sakit gimana. Mas Darwin jadi kepikiran gitu …
Siska : Mas
Darwin sih gimana. Yang sakit Siska, yang mikir situ. Lucu ah …
Darwin : Mas Darwin
pengennya Siska jangan sampai sakit lagi ya …
Siska :
Emangnya kalau sampe sakit kenapa?
Darwin : Kan enggak
selamanya Mas Darwin bisa nemenin Siska di rumah sakit ..
Siska : Oooo
gitu ya.
Darwin : Mas Darwin
kan harus beresin kuliahnya. Kalau besok-besok Siskanya sakit, Mas masih bisa
jagain. Tapi kalau lebih dari itu mungkin Mas Darwin tak bisa. Mas sudah
di luar kota.
Siska : Balik lagi enggak?
Darwin : Ha ha ha
ha … (ketawa)
Siska : Kok
ketawa Mas. Lucu ya?!
Darwin : Ya ialah.
Kenapa enggak lucu. Yang ditanya balik apa enggak, ya baliklah. Masak enggak
balik.
Siska : Maksud
Siska, baliknya ke Palembang, lama enggak gitu.
Darwin : Tergantung
Sis …
Siska : Lho …
kok gantung menggantung. Gimana bisa begitu ceritanya Mas Darwin?
Darwin : Ya, kalau
mau yang sebenarnya, libur semester pulang ke Palembang, walaupun untuk jen
jang
S-3 tak ada lagi yang namanya libur semester. Artinya, secara formal memang
masih
ada
, tapi sibuk mencari bahan PR dan data untuk disertasi. Tapi ya Sis, di
sela-sela itu kan
masih ada waktu luang. Nah, waktu luang itu kan bisa digunakan untuk
pulang ke Palem
bang …
Siska : Kapan mudik ke Jawanya Mas?
Darwin : Tanggal pastinya belum tahu Sis. Kalau sudah
pasti nanti Mas Darwin kasih tahu lah ..
Siska : Awas ya kalau sampe enggak kasih tahu …
Darwin : Ngancem ya?
Siska : Hi hi hi hi … (ketawa ditahan-tahan) ..
Darwin : Nanti sebelum berangkat kita ketemuan dulu
ya. Mau kan?
Siska : Buat apa?
Darwin : Curhat-curhatan dong …
Siska : Emangnya kalau Mas Darwin di sana enggak
bisa curhat-curhatan apa …
Darwin : Ya bisa aja sih. Cuma kalau curhatnya
langsung ketemu dengan orangnya, pasti lebih
Asyik …
Siska : Asyiknya dimana Mas?
Darwin : Banyak Sis …
Siska : Sekarung, dua karung atau …
Darwin : Satu kapal … ha ha ha ha …
Siska : Bisa aja Mas Darwin.
Darwin : Kalau ketemu langsung kan puasnya lebih
banyak …
Siska : Apa misalnya Mas?
Darwin : Mas bisa tengok kamu. Gimana mukamu hari
itu. Sakit apa enggak. Kalau sakit, apanya
yang sakit. Atau kalau kamu lagi bahagia atau sebaliknya. Semua
kelihatan disitu. Enggak
bisa pura-pura lho Sis. Enggak bisa boong-boongan. Jadi kalau lewat es
ems es ini kamu kan
bisa aja bilang, ‘Mas Darwin, Siska baik-baik saja’. Apa benar baik.
Nah, boongnya ketahuan
kalau lain yang diomongin lain pula kenyataannya.
Siska : Kalau misalnya ya Mas, nanti pas ketemuan apa
yang dilihat jauh beda dengan yang diomo
ngin lewat udara, gimana reaksi Mas Darwin. Kecewa, lalu marah sama
Siska, dan nantinya
enggak temenan lagi sama Siskanya …
Darwin : Ya enggaklah Sis … kecewa sih kecewa Mas Darwin. Tapi paling sebentar kok. Lagian
yang
rugi kan bukan juga Mas Darwin. Tapi Siska sendiri. ‘Tul enggak?
Siska : Betul barangkali …
Darwin : Kok barangkali-barangkalian?
Siska :
Soalnya belum dijalani. Ketemuan aja belum …
Darwin : Ha ha ha ha …
Siska : Mas!
Darwin : Iya. Mas Darwin di sini.
Siska : Udahan ya …?!
Darwin : Boleh … ‘ntar malem, kalau Sis mau cuap-cuap
lagi lewat es em es atau via telepon,
Boleh. Mas tunggu ya … Daaagh!
Siska : Dagh juga Mas … Salam dari udara
Darwin : Salam juga …
Magrib hampir tiba. Siska membantu ibunya menutup jendela,
menyalakan lampu depan dan belakang. Sementara ayahnya, Pak Odi, sibuk memberi
makan ayam, burung peliharaan dan bebek jawa serta serati.
Usai salat magrib
berjamaah, doa dan wirid serta membaca ayat suci Alquranulkarim,
dilanjutkan dengan makan malam bersama. Keluarga Pak Odi sudah terbiasa makan
malam bersama. Hal ini di lakukan Pak Odi sejak masih muda dulu. Kedua
orangtuanya lah yang membiasakannya
untuk selalu menyempatkan diri makan malam bersama.
Selain bisa lebih mengakrabkan sesama anggota keluarga,
dengan makan malam bersama membawa keberkahan dan menumbuhkan semangat untuk
melangkah bersama, bahu membahu, saling tolong menolong dan mempererat tali
persaudaraan.
Bu Guru Siska mempunyai dua saudara yang jarak usinya jauh
di bawahnya. Nomor dua cewek, namanya Lia, baru duduk di kelas dua sekolah
menengah pertama. Si bungsu Dery, cowok, masih duduk di bangku sekolah dasar.
Sementara Pak Odi, ayahnya Siska, bukan pegawai negeri. Dia
hanya seorang wiraswasta. Dagang kecil-kecilan. Dia buka toko di pasar, yang
dijual macam-macamlah. Mulai dari baju orang dewasa, remaja dan ana-anak,
hingga aneka macam minyak wangi.
Sedangkan Bu Odi, kalau lagi tidak membantu suaminya
berdagang di pasar, berada di rumah yang jika tengah hari sudah ditemani kedua
puteranya yang lucu, menyusul Siska, menjelang sore dan terkadang hampir
Magrib, Pak Odi sampai di rumah dari pasar.
Keluarga Pak Odi adalah keluarga sederhana. Selain motor dan
sepeda, tak ada kendaraan pribadi yang lain seperti mobil yang parkir di teras
rumahnya. Namun keluarga ini sangatlah rukun dan harmonis. Tak terdengar
ribut-ribut, apalagi sampai berantem.
Anak dan isteri Pak Odi sangat menyayanginya. Mere ka
menganggap Pak Odi adalah sosok ayah
yang tegas, suami yang menyayangi isteri, dan lebih mengu tamakan keluarga
ketimbang lainnya. Baginya, kebahagiaan anak dan isterinya adalah kebahagiaan dia juga.
Tak heran jika di waktu senggang dia menyempatkan diri
bertatap muka dengan ketiga anaknya. Mena nyakan perasaan mereka sekarang.
Khusus kepada Siska, anak sulungnya, Pak Odi selalu berpesan pandai-pandailah
membawa dan menjaga diri.
“Kamu seorang guru, guru wanita lagi. Jangan lupa jaga
martabat profesimu itu. Sebagai guru kamu ha rus tunjukkan contoh dan tata
krama yang baik pada semua orang, terutama kepada para muridmu, anak didikmu …”
“Camkanlah itu, Nak.” Kata Pak Odi.
Hampir setiap minggu Siska menerima weyangan dari ayahnya.
Dia hanya tekun menyimak, dan enggak berkomentar banyak. Termasuk ketika Pak Odi menyindirnya soal
pendamping hidup. Siska seolah mati kutu. Dia terkadang cuma diam, padahal sang
ayah menginginkannya bicara agar tahu di mana dan kenapa ‘sulit mencari’ calon
suami.
“Ayah tidak memaksamu untuk cepat-cepat menikah, Sis anakku.
Yang penting kamu bisa menjaga diri mu. Sebab, kalau nanti ayah memaksamu itu
tak baik buat ayah, apalagi buatmu. Tapi jika kelak kamu sudah punya calon,
jangan lupa, segeralah perkenalkan kepada ayahmu ini.”
Siska kali ini baru bisa tersenyum.
“Ayah dan ibumu selalu berdoa buatmu, agar kelak kau
menemukan sosok laki-laki yang sesuai dengan keinginanmu. Laki-laki yang jujur,
saleh dan benar-benar menyayangimu dan menyayangi keluarga kita ini.”
“Terima kasih ayah,” jawab Siska memberanikan diri.
“Pesan ayah lagi, sayangilah kedua adikmu, Dery dan Lia.
Didik dan bimbinglah keduanya. Memang ayah dan ibumu bisa dan akan selalu
mendidik serta membimbing mereka. Tapi kamu sebagai kakaknya, bagi keduanya
terasa lain karena di mata mereka Siska adalah sosok panutan, harapan dan
diharapkan bisa mengarahkan keduanya menjadi anak yang baik serta punya masa
depan yang cerah …”
Kali ini Siska tak memberikan jawaban.
Namun, kendati tak satu patah kata pun keluar dari mulutnya,
semua weyangan ayah tercinta, lambat
tapi pasti harus bisa direalisasikan. Karena ia mengandung banyak harapan,
terselip semangat hidup, apalagi Siska kini sudah punya teman curhatan baru,
sekaligus tambatan hati, bernama Darwin.
***
V
“OKE Pa … tariiiik …!” Teriak Darwin.
Sebuah kapal motor cepat berukuran kecil menarik perlahan
tali ski yang dipegang Darwin. Lambat tapi pasti, badan Darwin yang semula
hanya menyisakan kepala, kini mulai terangkat ke permukaan.
Bersamaan dengan itu, teriakan penuh semangat dari Puspa dan
Bu Guru Siska dari tepian pantai, terus terdengar. Keduanya melompat kegirangan
setelah Darwin dengan papan skinya berhasil melewati rin tangan papan besar
sambil melakukan gerakan memutar. Kedua tangannya, kiri ke kanan dan kanan ke
kiri, bertukar pegangan di tali ski.
“Auuuw …!” Jerit Puspa dan Siska.
Ada apa?
Sesaat setelah melewati papan rintangan, karena hilang keseimbangan,
pegangan terlepas, Darwin te nggelam sementara Pak Bima, karena tidak sempat
menoleh ke belakang, tak pula tahu kalau si anak sulung itu sudah tidak ada lagi di belakang kapal.
“Papa …!” Teriak Bu Bima, isterinya. Dia melambaikan baju
kaos suaminya sambil menunjuk ke arah Darwin yang mulai berenang ke tepian.
“Ma …!” Puspa kuatir mulanya.
“Enggak kenapa-kenapa say. Itu sudah berenang kakakmu,” kata
Sang Mama.
Melihat Darwin sudah berenang, tak jadi ke tepian, justru
kembali naik ke atas kapal, Puspa tak kuatir lagi. Dia takut sang kakak
tenggelam. Juga Bu Guru Siska.
“Kakakmu itu kan pandai berenang,” jelas Sang Mama, mengajak
Puspa dan Bu Guru Siska kembali ke tenda mereka dekat jembatan pelabuhan.
“Sorri ya Win. Papa betul-betul enggak tengok,” ucap Pak
Bima, memberikan sehelai handuk kepada Darwin untuk mengeringkan sekaligus
menghangatkan badan.
“Sama dong Pa kalau gitu. Setelah meluncur dari papan
rintangan tadi itu, aku lupa lihat ke depan. Ma lah fokus tengok papannya yang
masih bergerak-gerak. Terus, waktu aku mau tengok ke depan, kapal melesat
cepat, pegangan terlepas dan Darwin jatuh, tenggelam dalam air …”
“Kita istirahat dulu ya …”
“Oke Pa …”
Dari kejauhan Bu Gusu Siska melambaikan tangannya. Sedangkan
Puspa berlari menyambut sang kakak. Keduanya berpelukan, menyusul kemudian Sang
Mama.
“Mas Darwin!” Siska memberikan sebotol air lemon manis. Diminum sedikit. Kepada Siska, Pak Bima
cerita bahwa main ski itu asyik dan menyenangkan.
“Nanti ajarin Puspa ya Pa,” pinta Puspa, diiyakan Sang Papa,
juga mamanya yang kali ini berkenan ikut menumpang kapal, bukan untuk bermain
ski.
Hari mulai beranjak siang. Semakin siang semakin banyak
warga yang datang. Ada sendirian, berdua, berombongan dan bersama keluarga.
Mereka membentang tikar, lalu meletakkan peralatan makan seperti gelas, piring,
mangkok, magic jer, termos air, batu es dan beragam lauk pauk.
Setelah makan siang bersama, satu-satu dari mereka berlarian
ke tepian pantai. Membuka pakaian dan mandi. Panas terik tak terasa, saking
asyiknya berenang, lupa kembali ke daratan, jika tak ada yang memanggil,
saudara, teman, atau ayah bunda.
Sementara Puspa sudah mulai berlatih bermain ski, Darwin dan
Puspa memilih duduk di teras sebuah ru mah makan pantai. Banyak juga pasangan
muda-mudi yang duduk di situ. Sambil menikmati es kelapa muda, pandangan
sesekali tertuju ke pantai, disertai gelak tawa semakin menambah keakraban dan
kehangatan suasana jalinan asamara.
Inilah salah satu tempat memadu cinta, menebar benih asmara.
Bosan berlama-lama duduk berdua, bisa jalan barengan mengelilingi pantai. Pakai kuda bisa, delman tersedia. Ingin
mencoba bersepeda juga bisa. Tapi rutenya dekat pintu gerbang. Ada jalan
beraspal melingkari luasnya badan
pantai.
Capek bersepeda, bisa singgah sejenak di pondok jajanan. Di
sepanjang jalan, berderet pondok-pondok
menjajakan beragam makanan. Juga ada souvenir berharga murah hingga mahal.
Souvenir-souventir itu bisa berbentuk rumah adat, lambing kota bersejarah, atau
aset unggulan daerah setempat, seperti batu granit dan batu cincin.
“Aku pilih ini satu ya …” Kata Darwin pada Bu Guru Siska
ketika mampir sejenak di salah satu pondokan paling ujung.
“Manis-manis kok ya Mas.” Semula enggan turun dari sepeda.
Setelah diajak Darwin melihat lebih dekat souvenir dan pernak-pernik, Siska
kepincut.
Kini dia bingung mau pilih yang mana.
“Ayo … bingung kan?” Goda Darwin.
“Bukan bingung lho Mas. Belum ketemu aja yang di hati.”
“Yang di dekat ini, enggak mau apa?”
Siska mendehem.
“Aduh ..!” Ringis Darwin. Pahanya dicubit mesra Bu Guru Siska.
Penjaga pondok, seorang cewek berkulit sawo matang,
tersenyum simpul melihat Darwin kena cubit Sis ka. Dia sepertinya tahu kalau
cubitan itu merupakan cubitan sayang. Karena setelah itu Siska menarik lengan
Darwin, menunjuk ke deretan batu cincin berbagai rupa.
“Dik, tolong yang ini,” Kata Siska menunjuk sebuah batu
cincin berwarna hijau.
Kecil bentuknya. Tapi begitu dicoba di jari manis Siska,
wooow … pas benar. Manis dipandang, enak dikenakan …”
“Apa namanya dik batu ini?’ Tanya Darwin, mengeluk-elus batu
cintin.
“Kecubung Mas,” jawab si cewek. Bergegas ia ke dalam, lalu
keluar lagi sambil membawa kotak berisi batu kecubung berbagai bentuk dan gaya.
“Wooow … indah sekali!” Terkagum-kagum Bu Guru Siska
melihatnya.
Batu-batu itu siap pakai. Tinggal dikenakan di jari tangan.
Ada berbentuk segi empat, bulat dan juga ada yang segitiga. Jika diletakkan di
tempat yang ada cahayanya, seolah memancarkan sinar. Terang bende rang dan
mengkilat lagi. Begitu disentuh terasa dingin.
“Udah lum say?” Bisik
Darwin.
“Bentar dong Mas, ah.”
Siska memilih ulang batu-batu itu. Sebentar-sebentar mundur,
maju dan mendekat lagi. Lalu melihatnya dari posisi menyamping ke kiri dan
kanan.
“Daah. Yang ini aja …”
Siska memilih warna yang sama. Hijau. Itu cincin ia kenakan
di jari manis. Ia tampak senang mengenakan batu cincin pembelian Darwin
barusan. Saking senang dan perhatiannya sama itu batu, Siska tak tahu kalau
sekarang dia sudah berada di boncengan sepeda.
“Sis …!” Sapa Darwin.
“Ya Mas.”
“Kita keliling sebentar ya. Mau kan?”
“Mereka sudah dikasih tahu enggak?”
“Sudah. Kata mereka boleh, asal jangan sampai malam.”
“Ngapain juga sampai malam. Amit-amit Mas.”
“Aduh …”
Kena cubit lagi. Tapi cubitannya kali ini lebih lambat dan
santun. Bagi Darwin, kuat atau pelannya cubi tan itu tak perlu ia pusingkan.
Sebab, melihat Bu Guru Siska bisa senyum saja, dia sudah lega setengah mati.
Apalagi lebih dari itu.
“Sis …!”
“Ada di sini. Enggak kemana-mana, Mas.”
“Kita turun yuk sebentar …”
“Ngapain Mas. Mau berkebun?” Ledek Siska.
Keduanya berhenti di Pondok Cinta, orang sering
menyebutnya. Kenapa dikatakan Pondok
Cinta, karena sehabis jalan-jalan di
tepian pantai, pengunjung menggunakannya
sebagai tempat memadu kasih. Mengutarakan isi hati masing-masing.
Pondok Cinta terdiri dari beberapa bagian pondok yang
menyatu satu sama lain. Sebenarnya, sebelum ini banyak pengunjung yang membawa
keluarganya mampir ke tempat ini. Tapi, karena tak ada yang di lihat di sini,
padahal sebelumnya ingin menengok pantai, kecuali areal perkebunan warga. Mulai
dari jagung, pisang, jeruk, papaya hingga durian menggoda selera.
Jadi, kalau pun ada pengunjung yang tetap nekad ke Pondok
Cinta, sekadar singgah sebelum pu lang
ke rumah, berteduh karena kehujanan, selebihnya mereka yang benat-benar men
cintai alam serba hijau, mencicipi sekaligus membeli untuk oleh-oleh
buah-buahan segar dengan harga yang murah, akrab di kantong.
Seirin g berputarnya waktu, kini, setelah ada besi pembatas
antara pondok dengan perkebunan warga, dengan cat hitam putih, sore harinya Pondok
Cinta semakin ramai didatangi muda-mudi. Akses ke kota dekat, jalan mulus
membentang, panorama serba hijau dan
alami.
Sunset mulai jadi pilihan. Banyak diabadikan lewat kamera
besar, kecil dan HaPe. Foto berdua dengan latar belakang matahari terbenam jadi
rebutan pengunjung. Tak jarang dari mereka harus sabar berjep retan ria atau
kucing-kucingan mencari lokasi yang tepat dan menyisakan banyak kenangan.
“Sis …” Ucap Darwin saat keduanya memandang jauh ke areal
perkebunan.
“Panas Mas di sini,” kata Siska kegerahan. Mukanya mulai
memerah, haus kian terasa.
“Di sana aja ya.” Darwin mengajak Siska singgah di salah
satu pondok bagian tengah. Yang paling ujung sudah ditempati pasangan muda-mudi
yang sudah lebih dulu tiba dari mereka.
Ada bangku kayu panjang. Di bangku inilah, bersama pasangan
muda-mudi lainnya, Darwin dan Siska me ngaso sejenak, tentu saja mencoba
menikmati apa yang diiinginkan orang seusia mereka saat duduk ber dua …
***
VI
“SUKA Sis?”
Siska tidak mengangguk. Cuma dari senyuman yang ia
kembangkan, Darwin yang kini duduk sopan tapi santai di sampingnya, Siska
berharap ada pertanyaan lain yang selalu ia tunggu.
“Lho, kok senyum-senyum?”
“Suka.” Akhirnya Siska menjawabnya.
Pembicaraan pun menyerempet ke masalah hubungan
keduanya.Inilah yang ditunggu-tunggu Bu Guru Siska. Ingin rasanya dia memencet
mulut Darwin agar teruslah bicara tentang mereka berdua.
“Sis …” Darwin membisikkan sesuatu di telinga Siska. Walau
tak sebesar telinga gajah, Siska sangat jelas mendengarnya. I Love you,
katanya.
Ah, sudah umur segini, bukan bagian dari ABG lagi, Bu Guru
Siska biasa-biasa saja mendengarnya. Tidak melonjak kegirangan, atau
membalasnya dengan rebahan di pundaknya Darwin.
Ada apa dengan Siska?
Dia hanya berharap, cowok yang kini lagi kasmaran itu tidak
sekadar mengucapkan I love you saja. Tapi harus dibuktikan dengan perbuatan.
Jadi tidak sebatas wacana, omong kosong saja.
“Apa jawabmu Sis?”
“Jawab apa Mas?” Siska pura-pura tidak tahu.
“Yang Mas bisikan tadi itu.”
“Apa ya jawabnya yang bagus ..?” Siska berbalik ragu, bukan
karena jawaban yang bakal dia berikan. Tapi konsekuensi dari jawaban itu.
Ah, kenapa aku sebodoh ini cara berpikirnya. Terlalu
bertele-tele, membuat yang melihat dan men dengarnya, jadi bingung dan serba
salah.
Aku tak boleh bersandiwara di depan Mas Darwin. Sebab, kalau
meleset, risikonya besar. Bisa-bisa aku dibilang ego, sok jual mahal dan
terlalu banyak menuntut ini dan itu.
Aku tak boleh seperti itu. Aku ini Siska. Ya, Bu Guru Siska.
Aku sudah terbiasa menghadapi murid-murid ku, anak es em a, teman-teman yang
satu profesi denganku. Sering menghadapi dan berbicara dengan orang banyak.
Bahkan, aku sangat disenangi siswaku karena cara mengajarku yang baik,
komunikatif dan dekat dengan siswa.
“Pikir dulu boleh,” ucap Darwin. Agak kecewa dia, tapi tidak
marah. Dia tidak minta macam-macam pada Siska. Hanya satu permintaannya: Love …
“I love you too Mas Darwin.” Jawab Siska malu-malu kucing.
Kepala menunduk lalu menyembunyikan kegeliannya di pundak Darwin.
“Alhamdulillah,” kata Darwin sambil mengusap mukanya dengan
kedua telapak tangan.
“Terima kasih ya Sis …”
Ucapan barusan amat menyentuh hati Siska. Dia merasa begitu
pentingnya jawaban itu bagi Mas Dar win. Entah apa yang dirasakan laki-laki
baik hati ini. Bergetarkah hatinya. Gembira atau merasa puas karena Siska sudah
menjawab apa adanya, sejujurnya.
Siska tak merasakan apapun saat berdekatan dengan Mas
Darwin. Pundak yang sempat ia gunakan un tuk menyandarkan kepala dan
membenamkan wajahnya, biasa-biasa saja. Cuma yang berbeda, ya itu, raut mukanya
Darwin berseri-seri. Es kelapa muda yang ia sesapi seolah memberi isyarat, si
penyesapnya saat ini lagi bermunajat cinta.
“Sis …”
Bu Guru Siska mendongakkan wajahnya.
“Kamu siap enggak …?”
“Auuuwww … kampret kamu ..!” Jerit si cewek di pondok
sebelah sambil memukul-mukul cowoknya dengan sepatu, terus menghindar dan lari
terbirit-birit menuju perkebunan warga.
Ternyata, si cowok baru saja meremas payudara si cewek tanpa
sepengetahuannya. Walaupun tidak ku at remasannya, mem buat jengkel si cewek ,malu bercampur
marah karena merasa telah dikerjai.
Bukan hanya Darwin dan Siska yang ketawa menyaksikan adegan
barusan. Pasangan muda-mudi lainnya bersikap sama. Malah ada yang bertepuk
tangan dan menyoraki si cowok yang dinilai sebagian wanita muda usia itu tipe
laki-laki penakut dan tak bertanggung jawab.
“Lucu juga,” kata Darwin.
“Apanya yang lucu Mas?”
“Dua-duanyalah Sis. Si cowok lucu, ceweknya juga lucu …”
“Lucunya dimana Mas ya?”
“Kejar-kejarannya itu,” terang Darwin.
“Mas suka ya?” Pancing Siska.
“Suka apanya?”
“Kejar-kejarannya itu …”
Darwin ketawa …
“Enggaklah Sis. Tapi kalau kejar-kejaran yang lain Mas suka
…”
“Apa itu Mas?”
“Misalnya … sandalnya Siska Mas ambil, lalu Siska nyari
kesana kemari. Enggak ketemu-ketemu. Pas ketemu ada di tangan Mas. Siska
kesal, lalu kejarlah Mas Darwin … “
“Lantas diapain?”
“Ya kamu yang ngejar, Mas terus berlari, dan Siska terus
mengejar …”
“Enggak kasihan Mas?”
“Kasihan juga sih, tapi …”
“Masih ada tapi lagi …”
“Ya namanya juga orang pacaran, pasti ada bunga-bunganya.
Ada lucu-lucuannya juga. Kalau enggak ada ya enggak menariklah … Hambar. “
“Apa perlu Mas Darwin sekarang Siska kejar?”
Darwin terbatuk-batuk. Bukan karena kaget dengan omongan
Siska barusan. Tapi minum es kelapa mudanya terlalu cepat, tergesa-gesa.
“Buat apa?”
“Lho … katanya tadi harus ada bunganya,” ujar Siska yng juga
ikut menyesapi es kelapa muda.
“Ya maksud Mas itu, kalau memang timing-nya , tak jadi
apa..”
“Mas, gimana kalau sekarang Siska langsung kejar aja ya!”
“Siska kejar apa?”
“Cinta …”
Ha ha ha ha …
Saking kencangnya ketawa, pasangan muda-mudi di sebelah
menyebelah pondok pada kaget. Serentak mereka mengarahkan pandangan ke Darwin
dan Siska. Merasa jadi pusat perhatian, Darwin buru-buru membalasnya dengan
senyuman dan lambaian tangan.
“Mas Darwin sih, kencang amat ketawanya,” gerutu Siska sedikit kesal.
“Kenapa enggak kencang, wong kalau ngejar itu karena ada
sesuatu, misalnya kesal. Lah yang ini kan cinta. Apa enggak …”
“Jangan kuat-kuat ah. Tak enak didengar mereka …"
Darwin menahan diri sejenak untuk tidak berkata sepatah
katapun sampai Siska yang menyuruhnya berbicara.
“Mas Darwin …”
“Ya …”
“Nah gitu dong. Pelan.
Cukup Siska aja yang mendengarnya. Orang lain enggak usah tahu karena
enggak perlu …”
“Sis … Mas mau ngomong sama kamu. Boleh kan?”
“Jadi selama ini Mas Darwin belum …”
“Bukan .. bukan begitu. Maksud Mas Darwin, begini. Ngomongin
cinta udah. Nah yang belum ngomongin soal kita berdua …”
Merasa ditatapi lekat sang pujaan hati, Bu Guru Siska jadi
salah tingkah. Entah kenapa dia tidak berani membalas tatapan itu. Begitu lekat
selekat lem perekat. Jantungnya berdebar-debar. Nafasnya turun naik tak
beraturan.
“Lusa Mas berangkat …”
Lega juga Siska kini. Dia pikir Darwin bicara soal lain.
Kalau soal berangkat ke luar kota untuk urusan studi, no problem. Itu harus
didukung, bukan dihalangi. Apa kata orang tua Darwin. Belum jadi isteri, sudah
bisa bertindak sendiri-sendiri, tanpa kompromi lagi.
Lain hal kalau sekiranya Darwin bicara tentang kawin. Belum
siap. Bukan fisiknya, tapi mengenali kepri badian masing-masing dulu. Setelah
saling kenal, baru bicara kelanjutannya.
Biar matang. Boleh juga cepat asal sepakat. Tak baik juga
cinta kilat, buru-buru memikat. Kemudian bertengkar hebat sampai sekarat. Siska
camkan betul hal ini. Baginya, biarlah lambat asalkan selamat dunia dan
akherat.
“Berikanlah Mas harapan, Sis. Sedikit saja,” bisik Darwin
penuh harap.
“Harapan apa ya?” Tanyanya dalam hati. Belum pernah ia seego
hari ini.
“Sis …”
“Iya Mas. Harapan …”
Siska menggenggam erat tangan Darwin, dengan terbata-bata ia
berucap …
“Disaksikan kaumku … matahariku dan juga
pancaindraku. Aku, Siska binti Odi, dengan ini siap melepas keberangkatan Mas
Darwin, pujaan hatiku, belahan jiwaku …”
“Sis …” Darwin mengingatkan Siska yang masih terbata-bata,
antara menangis dan ketawa.
“Ya Allah, harapanku padanya … pergi selamat .. pulangnya
juga selamat.”
“Amin,” ucap Darwin.
***
VII
“KANAN … Pa.” Ucap Puspa.
“Kok kanan, Pa?” Sang Mama bingung. Kiri jalannya lebih
besar dari kanan. Kenapa harus pilih kanan.
“Itu kak Darwinnya, Ma.! Teriak Puspa sumringah.
Di Pondok Cinta Darwin dan Puspa asyik mengobrol. Tak pedul
sekitar, keduanya seolah tengah dimabuk cinta. Padahal sesungguhnya tidaklah
demikian. Hanya saja, saking asyiknya,
lupa kalau lebih dari dua jam singggah di pondok yang atapnya terbikin dari
bahan asbes itu.
Juga ketika kedua orang tua dan adiknya Puspa tiba di pondok
itu, Darwin tak mengetahuinya. Dia baru tahu setelah Puspa meneriakinya dan
berlari mendekatinya.
“Lhooo … Puspa?!”
“Kakak sih enggak dengar ..” Kata Puspa. Karena haus, ia
minum es kelapa muda miliknya Darwin.
“Mama sama papa, mana Pus?”
“Di belakang …”
Darwin menoleh ke belakang. Ke kiri, kanan dan depan, yang
dicari tidak ada. Namun ketika bermaksud menuruni tangga kecil ke pematang
sawah, dia tersenyum-senyum saja.
Ada apa?
Ooook … oooo. Rupanya Pak Bima dan isteri tercinta tengah
duduk berduaan dekat tangga. Kuatir meng ganggu, Darwin memutuskan untuk
kembali ke Pondok Cinta menemui Puspa dan Bu Guru Siska.
“Ketemu kak?”
“Ada. Ketemu,” jawab Darwin tersenyum geli.
“Kenapa enggak diajak kemari, Mas?” Tanya Siska. Ingin
rasanya dia menyusul Pak Bima dan isterinya bersama Puspa.
“Tak usah Sis,” cegah Darwin dengan suara lembut mendayu.
“Mereka lagi bernostalgia kayaknya.”
“Puspa gimana dong?”
“Sama Kak Darwin aja,”
sahut Siska.
“Enggak ganggu apa?”
“Enggaklah Sis,” kata Siska, “Kayak orang lain saja.”
“Udah. Yuk kita jalan aja bertiga. Asyik pakai sepeda …”
Sepeda roda tiga. Darwin membonceng, Puspa di tengah dan Bu
Siska di belakang. Mereka bertiga me ngelilingi areal perkebunan dari sebelah
kanan, tak jauh dari Pondok Cinta. Ramai juga petani mencang kul dan merapikan
kebun mereka. Sesekali melambaikan tangan pada orang yang lalu-lalang berkendara
roda dua dan empat.
“Ingat waktu pacaran dulu ya Ma,” kata Pak Bima pada
isterinya.
“Mama lupa nih. Dimana ya Pa?” Tanya sang isteri dengan nada
manja.
“Lho … kok lupa, kenapa Ma?”
“Udah lama Pa. Coba bayangin ajalah Pa. Darwin aja sekarang
udah 23. Terus kita pacaran kan enggak langsung jalan-jalan. Ngorol-ngobrol
dulu. ‘Tul kan Pa?”
“Iya betul …”
“Jadi tolong kasih tahu Mama, Pa. Dimana ya?” Pinta
isterinya. Dia sungguh tak tahu persis ingatnya itu dimana.
“Itu, Ma.” Akhirnya Pak Bima menjelaskannya, “ Waktu papa
ngajak mama ziarah itu, lho …”
“Ziarah? Ziarah apa, Pa?” Tambah bingung mama jadinya …”
“Ziarah ke makam buyutku …”
Lama juga Bu Bima mengingatnya.
“Waktu itu hujan turun gerimis,” aku sang suami yang
berharap isterinya cepat mengingatnya kembali.
Kembali mengingat, setelah itu baru tertawa …
“Baru ingat mama, Pa sekarang. Kalau tak salah, waktu itu
papa enggak pakai sandal kan, karena putus talinya …”
“Betul sekali, Ma. Syukurlah mama sudah mengingatnya
kembali. Itu pertanda perjalanan honey moon
kedua kita hari ini berjalan lancar …”
“Ah papa. Ada-ada saja,” ucap sang isteri sambil mencubit
gemas paha suami tercinta.
“Tua-tua keladi nih papa. Makin tua makin menjadi-jadi …”
“Mama kok bilang gitu sama papa. Tak enak lho papa jadinya.”
“Kesinggung ya Pa?”
“Enggak ah .. Cuma enggak enak aja. Masak dibilang tua-tua
keladi. Seharusnya mama bilang semangka pisang, semangka pisang, itu lho ..”
“Apa sih Pa semangka pisang, semangka pisang itu?”
“Makin tua makin sayang …”
Ha ha ha ha …
“Genit ah papa,” kata Bu Bima, mendadak ingin dipeluk suami
tercinta.
“Kalau ini bukan papa yang genit, tapi mama.”
“Papa enggak?”
“Sama jugalah Ma …”
Lama juga keduanya berpelukan. Kepada isteri tersayang, Pak
Bima mengatakan, umur boleh tidak muda lagi, tapi soal kehangatan dan
kemesraan, tak boleh lapuk oleh kesibukan sehari-hari.
Mengurusi anak itu penting, kata Pak Bima sambil mencium
kening sang isteri, tapi juga penting mengu rusi diri sendiri, suami terkasih.
Bukan maksud hati ingin menagih kewajiban, tapi paling tidak sejenak melupakan
kebosanan, kehambaran dan menambah kasih sayang dalam keluarga.
Mereka sekarang sudah besar, Ma. Tapi jangan lupa dulu
mereka pernah kecil. Ingat waktu kecil dulu, mama suka juga mara pada
anak-anak. Mama bilang bandel lah, pemalas
lah. Tapi se karang kan tidak lagi. Karena mereka sudah besar.
“Sebentar lagi bakal hidup memisah …”
“Kamu takut, Ma?”
Sang isteri melepaskan pelukannya. Lalu merebahkan kepalanya
di pangkuan suaminya.
“Iya Pa,” aku Bu Bima terus terang. Kalau mereka suda hidup
memisah nantinya, membentuk rumah tangga, otomatis yang jaga rumah sendirian.
“Papa kerja …”
“Kan ada pembantu kita yang nemenin,” terang Pak Bima.
Sekarang saja, kata Bu Bima, sudah terasa. Darwin lebih
banyak menghabiskan waktunya bersama Siska.
“Paling sama Puspa doang, Pa.”
“Papa enggak …?”
“Papa gimana nih. Mama serius lho, Pa.”
“Iya .. iya. Papa mengerti. Tapi itu sudah hukum alam.
Mereka harus saling kenal dulu, ngobrol panjang lebar. Penjajakanlah. Kita
selaku ortu harus kasih waktu ke mereka. Biarkan mereka saling kenal lebih
jauh. Kalau sudah sama-sama kenal, kan enak ketika akan melangkah ke jenjang
selanjutnya …”
“Papa lucu ah …” Kata Bu Bima tersenyum manja.
“Mama juga lucu.”
Saling gelitikan, Pak Bima dan isteri akhirnya bergulingan
di rerumputan. Untungnya, tak ada orang yang menengok mereka arena pengunjung
tertumpah ke Pondok Cinta dan perkebunan
warga. Praktis suami isteri yang tidak muda lagi ini leluasa bercengkrama.
Huuuup …
Pak Bima menggendong isterinya.
“Dibawa kemana, Pa? Jerit manja sang isteri sambil memukul
lembut punggung sang suami.
“Ke Pondok Cinta. Mau kan Ma?”
“Pondok Cinta mana?”
“Tuh …”
Masih tersisa satu pondok lagi di sana. Walau berat, Pak
Bima ogah membawa isterinya pakai mobil. Dia lebih suka menggendong isterinya
sampai ke Pondok Cinta. Tak mudah memang. Perlu banyak keringat untuk
menggendong orang yang amat dikasihi. Selain karena usia tidak muda lagi,
tenaga tentunya sudah tak sekuat dulu lagi.
“Alhamdulillah …” Ucap Pak Bima. Tak kuasa berdiri lagi ia. Duduk
bersandar di dinding dalam pondok.
“Udah mama bilang enggak usah. Masih juga papa sih,” ujar
sang isteri seraya menyeka peluh suaminya di sekitar leher, muka dan tangan.
“Tapi papa senang lho, Ma.”
“Senang sih senang, Pa. Kalau sampai nyusahin badan gini apa
enggak berlebihan …”
“Mama, gitu ah …”
“Habis, yang payah kan juga papa.”
“Demi mama, papa rela.”
“Gombal ah …”
“Ma, airnya tolong …” Pinta Pak Bima.
Karena persediaan air ada di mobil dan memerlukan waktu
untuk mengambilnya, Bu Bima dengan berat
hati ‘berasan’ ke pondok sebelah yang ditempati
pasangan muda-mudi yang lagi asyik makan berdua di atas pelepah daun
pisang. Sebotol air yang tersisa tak sungkan mereka berikan kepada Bu Bima.
Walau cuma sebotol air putih kecil, kalau dipindahkan ke
dalam gelas ukuran sedang, tak sampai dua ge las penuh, bagi Pak Bima lebih
dari mencukupi. Badannya terasa segar kembali dan sudah bisa tertawa-tawa lagi.
“Telepon aja mereka, Ma.” Pinta Pak Bima.
Ketika asyik melahap rambutan saat sepeda berjalan, HaPe
miliknya Darwin berdering. Tak sangka dia kalau yang menelepon mamanya. Meminta
mereka segera kembali ke Pondok Cinta.
Untuk sekadar menyenangkan hati Sang Mama, Darwin memesan
buah durian dalam jumlah banyak. Le bih dari sepuluh, tapi kurang dari dua puluh.
Durian itu diambil langsung oleh pemiliknya dari batang po hon duran yang sudah
berbuah lebat.
Harganya tak terlalu mahal. Apalagi membeli dalam jumlah
yang banyak. Ada bonus, dua sampai lima buah durian masak. Pemilik sekaligus
penjualnya akan membelah salah satu durian sebagai contoh dan bukti bahwa
duarian yang mereka jual berkualitas tinggi dan bisa dipertanggung jawabkan.
“Sebelah mana pondoknya, Mas?” Tanya lelaki berkulit hitam
legam, penjual durian, warga sekitar.
“Paling ujung kanan, Pak.” Jelas Puspa, mencicipi sebiji
durian. Karena enak dan lezat, ketagihanlah dia. Habis tiga biji akhirnya.
“Mas tunggu aja di sana. Nanti kami yang antar,” kata si
penjual sembari mengikat beberapa buah durian dalam satu ikatan tali agar tidak
tercecer dan mudah dibawa.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar