Minggu, 12 Juni 2016

Pondok Cinta (2)



Novel Serial Bije
Pondok Cinta
Oleh Pak Amin

VIII
DENGAN agak terburu-buru, Pak Patra bermaksud menemui Kepala Sekolah Es Em A Mawar, Pak Jack. Salah seorang guru, Pak Unus, yang secara kebetulan melihatnya mengetuk pintu ruangan atasannya itu, menegurnya ramah sambil mengatakan ‘Bapak belum datang.’
“Kemana beliau?” Tanya Pak Patra dengan nada tinggi.
Si guru menjawab,” Beliau belum pulang dari menghadiri rapat di pemda.”
“Jam berapa dia pulang?”
“Mungkin tak lama lagi Pak. Silakan duduk dulu,” jawab si guru mempersilakan tamunya mengambil tempat duduk di sebelah kiri luar ruangan kepala sekolah.
Tak lama menunggu, sepuluh menit kemudian Pak Jack sudah kembali. Setelah berbicara dengan be berapa orang guru di pintu masuk ruangan guru, Pak Jack baru memasuki ruangan kerjanya. Lalu, ber sama Pak Unus, Pak Patra ikut masuk ke ruangan ber-AC itu.
Semula pembicaraan berlangsung dalam tempo biasa-biasa saja. Pak Patra memperkenalkan dirinya, lalu tujuannya menemui kepala sekolah. Namun suasana berubah tegang ketika Pak Jack menolak menghadirkan Bu Guru Siska ke ruangannya tanpa kehadiran Ira, anak Pak Patra.
“Dia sakit, Pak. Makanya tak bisa saya bawa kemari, “terang Pak Patra.
“Makanya Pak Patra, saya tak bisa memenuhi permintaan bapak untuk menghadirkan Bu Siska langsung ke ruangan ini …”
“Kenapa Pak? Anak saya Ira sakit justru sudah diusir dan dibentak oleh Bu Guru Siska.”
“Saya mengerti itu Pak. Tapi mana mungkin dengan hanya mendengar keterangan bapak saja, lalu kita panggil Bu Siska, tanpa kehadiran Ira dan saksi lagi, kemudian persoalannya selesai,” jelas Pak Jack.
“Tapi kan Pak. Tak mungkin anak saya bohong. Lagian ini kan kejadiannya di dalam kelas. Disaksikan teman-teman sekelasnya. Saya maunya Bu Siska mengakui kesalahannya, dan pihak sekolah dalam hal ini bapak sebagai atasannya memberi sanksi beliau karena telah berbuat semena-mena kepada anak muridnya,” kata Pak Patra dengan nada tinggi.
Begitu panasnya tensi pertemuan antara kepala sekolah dengan Pak Patra, beberapa orang guru yang baru saja keluar ruangan kelas setelah selesai mengajar jam kedua, berkumpul di depan pintu masuk ruangan kerja Pak Jack.
“Tunggulah dulu di sini. Jangan kemana-mana …” Ucap Pak Unus saat keluar dari ruangan kerja Pak Jack.
“Masalah apa?” Tanya beberapa orang guru keheranan karena selama ini jarang sekali orang luar, terma suk wali murid menemui Pak Jack untuk suatu urusan karena biasanya cukup diselesaikan lewat Dewan Guru atau Wakil Kepala Sekolah.
Pak Unus kemudian menceritakan secara singkat kronologis kejadiannya. Betapa serunya perdebatan di dalam ruangan.
“Mudah-mudahan tak terjadi apa-apa,” harap Pak Unus. “Tapi saya harap bapak-bapak tetaplah di sini untuk mengantisipasi sekiranya terjadi hal-hal yang tak diinginkan.”
“Siap …”
Ha ha ha ha …
“Sssssst. Aku masuk lagi,” ucap Pak Unus.
Di ruangan kepala sekolah, perdebatan antara Pak Jack dan Pak Patra masih berlangsung. Kali ini, mung kin kecapekan ngomong dari tadi,nada suara keduanya datar-datar saja. Seperti dua orang teman yang saling berbagi cerita dan kenangan.
“Jadi Pak Patra, saya harapkan bapak bersabarlah sedikit. Nanti kami proses dengan sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya. Namun, anak bapak yang bernama Ira, setelah sembuh dari sakitnya nanti, diharapkan ju ga hadir. Sekali lagi, saya mohon pengertian dan kerjasamanya,” harap Pak Jack.
“Saya siap bekerjasama pak. Tapi, jika nanti prosesnya justru merugikan anak saya, jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu pada diri Bu Siska …” Ancam Pak Patra.
“Bapak mengancam?”
“Betul Pak. Sebab, saya datang menemui bapak saja untuk menyampaikan hal ini, waktu saya banyak terbuang. Klien bisnis saya harus menunggu, pertemuan ditunda. Belum lagi rapat-rapat dengan pihak lain. Juga anak saya, Ira. Sudah sakit, malu lagi karena terang-terangan telah dibentak dan diusir dari ruangan kelas. Ke mana akal sehat bapak. Padahal saya cuma menginginkan bapak menghadirkan Bu Guru Siska sekarang dan mengakui perbuatannya …”
Pak Jack tak memberikan komentar apa pun.
Praaak …
Pintu terbuka. Beberapa orang guru menyeruak masuk.
“Saya minta bapak segera keluar dari ruangan ini secepatnya,” kata Pak Raden, salah seorang dari beberapa guru yang masih muda usia itu.
“Apa kalian bilang? Menyuruh saya keluar dari ruangan ini? Kalian semuanya belum tahu siapa saya.” Tantang Pak Patra.
“Cukup … cukup. Sudah.” Potong Pak Jack. Dia meminta para guru tidak terpancing emosi dan bertindak anarkis. Lebih mengutamakan kepala dingin dan akal sehat ketimbang memperturutkan amarah yang tak karuan pangkal dan ujungnya.
“Tak senang, ayo kita berkelahi di luar.” Tantang Pak Patra.
“Oke. Siapa takut,” jawab Pak Raden.
Satu dorongan kuat, Pak Raden terjatuh. Patra bermaksud menendangnya, tapi keburu dicegah Pak Unus dan Pak Jack.
“Sudah pak. Sudah …”
Keduanya, Pak Jack dan Pak Unus, membawa Patra keluar ruangan sementara Pak Raden, yang semula meladeni tantangan, memilih diam setelah diamankan rekan-rekannya sesama guru.
Kepada ayahnya Ira, Pak Jack mengharapkan kesabaran dan pertimbangan akal sehatnya. Tak cocok ra sanya menyelesaikan suatu persoalan yang sebenarnya bisa diatasi dengan akal sehat, bukan dengan kekerasan dan adu fisik.
“Saya mohon. Beri kami waktu pak. Kami berjanji akan menyelesaikannya.”
“Pegang janjinya ya pak,” ucap Patra sambil membanting keras pintu mobil, melesat cepat menuju gerbang luar Es Em A Mawar.
Bu Guru Siska yang baru saja hendak pulang dijemput Darwin, dicegat Pak Unus. Katanya, bapak kepala sekolah ingin bertemu dengannya.
“Tidak apa-apa, Bu Sis. Cuma bapak ingin ngomong sesuatu pada ibu. Penting katanya,” kata Pak Unus, berlalu pergi karena ada urusan dengan wakil kepala sekolah.
“Mas,” kata Siska via HaPe, “Bisa tunggu enggak. Ada yang penting kayaknya.”
“Lama atau sebentar?” Tanya Darwin.
“Lama juga enggak apa-apa, Bu.” Potong Puspa lewat HaPe sang kakak, yang sempat ia rebut sebelum dikembalikan lagi.
Siska cuma ketawa, tapi enggak lama. Dia tahu jawaban itu bukan suaranya Darwin, tapi Puspa, anak didiknya.
“Belum tahu Mas,” jawab Siska.
“Pokoknya, lama atau sebentar, Mas tunggulah ya …”
“Makasih ya Mas atas kesediaannya …”
Tanpa berbasa-basi lagi, Pak Jack memberitahukan hasil pertemuannya dengan Pak Patra. Pertemuan itu membahas satu masalah dari berbagai sudut pandang.  Dicapai kata sepakat untuk mencari solusi sebaik-baiknya atas kejadian, yang menurut Pak Patra, amatlah memalukan ini.
“Saya tak mengharapkan pengakuan dari ibu sekarang. Tapi apa ibu berkenan untuk menghadiri pertemuan besok untuk membahas masalah ini?”
“Berkenan saya, Pak. Asalkan saya juga minta perlindungan …” Terang Siska.
“Maksud ibu?”
“Saya juga sempat diancamnya lewat telepon, Pak.”
“Sejauhmana ancamannnya?”
“MInta saya mengaku salah. Tapi permintaan itu dengan berat hati saya tolak, Pak.”
“Kenapa Bu?”
“Karena saya benar-benar merasa tidak bersalah, Pak. Saya tidak membentaknya. Cuma, ketika saya suruh dia keluar ruangan, dia tidak mau. Karena itu saya marah. Dan saya minta dia segera meninggalkan ruangan kelas,” kata Bu Siska.
“Masalahnya apa Bu kalau boleh saya tahu?”
“Sepele Pak. Dia itu suka usil sama siswa lain. Suka merokok dan tak sungkan-sungkan ia berbuat tidak senonoh dengan teman-temannya. Omongannya jorok dan susah diatur …”
“Maaf Bu, yang dimaksud ibu dengan tidak senonoh itu apa, misalnya?”
“Berciuman. Buka baju dan rok. Macam-macamlah tingkahnya Pak.”
“Baik Bu. Besok itu kan kita mau gali sedalam-dalamnya masalah yang menimpa ibu ini. Nah, karena kejadiannya di kelas, saya minta ibu hadirkan nantinya beberapa siswa sebagai saksi, biar terang dan bisa kita simpulkan secepatnya …”
“Baik Pak.”
“Dan satu hal lagi Bu Sis. Ibu harus siap mental menghadapi masalah ini. Maksud saya, walau pernah diancam, kalau ibu merasa benar, pertahankanlah kebenaran itu. Tak usah takut. Kami para guru siap berjuang mendukung ibu …”
“Terima kasih Pak. Saya akan coba.”

***
IX
PARA saksi seperti Olisa dan Hapsari membenarkan kejadian yang menimpa teman mereka Ira dan Bu Guru Siska. Namun mereka membenarkan tindakan yang dilakukan Bu Guru Siska, karena menurut mereka, hal itu merupakan pembelajaran, lain tidak.
“Menurut saya tidak ada masalah Pak,” kata Olisa di depan Majelis Dewan Guru yang dipimpin Kepala Sekolah, Pak Jack. “Ira juga kami lihat biasa-biasa saja. Tidak menangis dan masih sempat melemparkan senyum.”
“Lagian tidakada kekerasan fisik. Misalnya ditampar Bu Guru Sika, atau apa gitu,” jelas Olisa.
“Setahu Olis, apa si Iranya teman yang baik?” Tanya Pak Jack.
“Ya baik Pak Kepala Sekolah. Sama kami dia baik. Artinya, tidak macam-macamlah …”
“Apa misalnya?”
“Berkelahi atau menghasut seseorang lalu dikeroyok sampai babak belur …” Terang Olisa.
“Kami dengar teman kalian si Ira itu sering buat gaduh. Maksud bapak, suka usil sama teman begitu. Benarkah itu Olisa?”
“Ya benar, Pak.” Jawab Olisa.
“Terima kasih ya Lis …”
“Sama-sama Pak.”
Giliran berikutnya yang dimintai keterangan adalah Hapsari. Berbeda dengan Olisa, Hapsari tampil seadanya. Lengan baju digulung, kemudian dirapikan setelah diminta para Dewan Guru. Mengunyah permen, terpaksa ditelan lebih cepat, agar leluasa menjawab pertanyaan yang diajukan .
“Siapa nama?” Tanya Pak Jack.
“Hapsari, Pak Kepala Sekolah,” jawab Hapsari sambil menyibakkan rambutnya yang hitam lurus sebatas bahu.
“Apa yang kamu ketahui tentang Ira, Hapsari?”
“Banyak Pak,” kata Hapsari terus terang.
“Coba kamu contohkan …”
“Ira itu Pak ya, kalau makan bakso tak cukup semangkuk. Harus tiga mangkuk …”
Ha ha ha ha …
“Yang lain?”
“Dia tidak terlalu suka makan nasi Pak. Sukanya ya Pak, kalau siang, enggak rujak ya pempek panggang …”
Ha ha ha ha …
“Ada lagi Hapsari?”
“Ada Pak. Kalau sendirian ya Pak, suka aneh-aneh Pak.”
“Aneh-aneh apa Hap?”
“Bersiul Pak Kepala Sekolah …”
Ha ha ha ha …
“Nah, sekarang Hap, bapak mau minta tanggapanmu saja. Siap enggak?”
“Siap selalu Pak Kepala Sekolah,” jelas Hapsari melirik Bu Guru Siska yang tampak masih ketawa karena lucunya si anak didik satu ini menjawab pertanyaan.
“Begini Hapsari. Menurut kabar yang beredar, Ira seringkali berbuat tidak senonoh. Misalnya, berciuman, buka baju dan rok. Bagaimana menurut Hapsari sendiri, benar atau tidak?”
“Benar Pak Kepala Sekolah,” kata Hapsari berapi-api.
“Coba ceritakan kepada kami, para gurumu yang hadir disini …”
“Baik Pak. Soal berciuman, memang pernah saya saksikan sendiri Pak. Beberapa waktu yang lalu, saya diajaknya menginap di rumahnya. Tidur sekamar dan berangkat sekolahnya sama-sama. Berdua gitu. Waktu itu ya Pak. Saya lihat, mulai dari bapak, ibu dan saudaranya bergantian mencium si Ira. Malah, waktu saya baru tiba di rumahnya untuk menginap, karena kebetulan ada ulangan besoknya, Ira biasa-biasa saja mencium saudara dan kedua orang tuanya.”
Ha ha ha ha …
“Teruskan ceritanya, Hap.” Pinta Pak Jack.
“Soal buka baju dan rok. Itu benar sekali Pak. Saya lihat sendiri … Pulang sekolah. Setelah lempar sepatu dan kaos kaki, serta tas sekolah, nyelonong masuk kamar. Lepas baju dan rok. Lalu ganti pakaian rumah. Begitu yang saya lihat Pak.”
Ha ha ha ha …
“Terima kasih ya Hapsari …”
“Sama-sama Pak,” jawab Hapsari, membungkukkan badan memberi hormat, lalu mengambil tempat duduk di sebelah kanan Bu Guru Siska.
Berikutnya Weny, teman karibnya Ira.
Ketika namanya dipanggil Pak Kepala Sekolah, Weny rada-rada menolak. Namun setelah dibujuk Olisa dan Hapsari, akhirnya dia mau juga jadi saksi kasus pengeluaran Ira dari dalam kelas.
“Kamu sehat-sehat saja, Wen?” Tanya Pak Jack.
“Separo saja, Pak.”
Ha ha ha ha …
“Separo gimana Wen?”
“Sekarang sehat, Pak. Kalau pulang sekolah nanti kena hujan, ya demam …”
Ha ha ha ha …
“Kamu siap jadi saksi, Wen?” Tanya Pak Jack yang agak ragu setelah melihat mukanya Weny sedikit pucat dan agak kurusan.
“Separo juga Pak Kepala Sekolah.”
Hua ha ha ha …
“Jelaskan maksudnya Weny?”
“Kalau saya bisa jawab berarti saya siap. Tapi kalau tak bisa saya jawab berarti saya tidak siap Pak Kepala Sekolah …”
Ha ha ha ha …
“Oke kalau begitu. Jawab dengan jujur ya Wen. Menurut kamu, Ira itu teman baik atau tidak?”
“Kadang-kadang, Pak.” Jawab Weny jujur.
He he he he …
“Tadi separo, sekarang kadang-kadang, apa maksudnya Wen?”
“Kadang-kadang Iranya baik pada saya, Pak. Lain waktu tidak Pak.”
“Kapan baiknya dan kapan tidak baiknya?”
“Kalau Weny lagi banyak duit, tanggal muda gitu, Iranya baik kepada Weny. Tapi kalau kebetulan tanggal dan bulannya tua, Weny lagi bokek dan enggak ada uang jajan, dia tak mau dekat-dekat aku …”
Hu hu hu hu …
“Menurut Weny, apa benar temanmu si Ira itu sering berbuat tidak senonoh?”
Weny masih mikir.
“Weny?”
“Ya Pak.”
“Gimana jawabnya?”
“Gimana ya Pak. Kalau saya bilang benar, saya takut Pak. Tapi kalau saya jawab tidak benar,  saya takut juga Pak Kepala Sekolah.”
“Oke. Bapak minta penjelasan kepadamu tentang takut yang pertama. Takut karena benar.”
“Takut diapa-apain Pak. Saya pasti bakal dikerjain oleh Iranya. Bakal tak nyamanlah gitu Pak.Bukan tak mungkin saya bakal dihabisi Pak.”
Haaaa …
Huuuuu …
“Oke. Takut yang kedua?”
“Takut kepada Yang di Atas, Pak. Allah SWT. Saya merasa berdosa telah membohongi bapak-bapak di sini. Saya pasti masuk neraka …”
Waaaa …
Wuuuu ….
“Jadi Weny pilih yang mana. Takut yang pertama atau takut yang kedua?”
“Dua-duanya, Pak.”
“Kenapa bisa dua-duanya Wen, enggak satu saja misalnya?”
“Begini Pak. Terus terang apa yang, maksud saya kabar yang beredar, itu benar. Saya akui itu. Tapi manakala saya ketemu Ira dan ortunya misalnya, saya jawab tidak benar …”
Oooook …ooooo …
“Oke, apa permintaan Weny kepada kami dan semua yang hadir disini?”
“Bantulah Weny untuk berani mengatakan  itu benar. Jangan takut pada ancaman, Pak Kepala Sekolah.”
“Kami akan bantu Wen.” Jelas Pak Jack.
“Terima kasih Pak.”
Terakhir, giliran Rijal yang maju ke depan, menghadap wajahnya ke para Dewan Guru. Cowok yang lebih suka berteman dengan jenis kelamin cewek ini, tampil letoy dengan rambut, meski pendek, awut-awutan.
“Ada apa denganmu Jal?”
“Lapar Pak. Belum makan,” aku Rijal terus terang.
Ha ha ha ha …
“Semua yang disini juga lapar, Jal. Kamu harus semangat. Tak boleh loyo begitu.”
“Ya Pak.”
“Nah, sekarang jawab pertanyaan bapak dengan jujur. Apa Ira suka merokok?”
“Betul Pak.”
“Sama siapa?”
“Saya, salah satunya Pak.”
“Dimana? Di kelas atau di luar kelas dan sekolahan?”
“Di luar jam belajar, Pak.”
Ooooooo …
“Kapan?”
“Udah lama jugalah Pak sayanya. Kalau Iranya baru aja. Katanya sih coba-coba gitu,” jelas Rijal.
“Kamu ada di kelas kan waktu Bu Siska menyuruh Ira keluar?”
“Iya Pak.”
“Menurut kamu, bapak ulangi sekali lagi, ini menurut kamu, salah enggak Ira itu?”
“Salah Pak.”
“Dimana letak salahnya?”
“Dia enggak langsung minta maaf,” jelas Rijal.
“Oooo begitu …”
“Coba kalau dia langsung minta maaf, kan tidak  serumit seperti sekarang ini. Mana udah lapar, duit jajan habis, kena omel lagi …”
Ha ha ha ha …
“Kamu menyesal jadi saksi hari ini, Jal?”
“Tidak, Pak.”
“Kenapa?”
“Karena saya ingin Ira segera minta maaf dan kasusnya selesai.  Titik …”
***

X
“Turun kamu …!” Bentak seorang laki-laki bertato di tangan setelah berhasil menyetop mobil yang disopiri Darwin.
Garrr … kraaash ..
Lelaki satunya berbadan kekar hitam memukul kaca mobil. Darwin tersentak. Ketika baru akan membu ka pintu, kerah bajunya ditarik sang preman.
“Kamu pacarnya Bu Siska kan?” Tanya si preman sambil menarik keluar paksa Darwin yang baru saja pulang dari mengantar Bu Siska mengajar.
Siang itu, suasana perempatan gang pusat kota itu sepi. Hanya satu dua unit kendaraan roda dua dan empat lalu-lalang, berseliweran. Hal ini dikarenakan pusat keramaian justru tertumpah di alun-alun kota karena digelar pemeran dagang berskala internasional.
Berbagai produk dan peserta ikut serta meramaikan pameran. Mereka bukan hanya berasal  dari kota Palembang saja, tapi juga dari seluruh provinsi di tanah air, mancanegara dan berbagai belahan negara eropa.
Karena tak banyaknya kendaraan, sehingga bebas dari kemacetan, membuat leluasa preman bayaran itu memukul Darwin sampai babak belur. Sementara mobilnya rusak parah akibat dihantam besi dan pukulan tangan yang dilakukan secara membabi buta. Darwin pun akhirnya terkapar di pinggir jalan.
Beberapa warga sekitar, tak lama kemudian datang berbondong-bondong memberikan bantuan setelah dua preman yang amat ditakuti warga itu berhasil melarikan diri dengan sepeda motornya. Warga pun bahu membawa Darwin ke rumah sakit terdekat.
Mendengar kabar sang kakak tak sadarkan diri, yang kini sudah berada di rumah sakit, Puspa menjerit histeris. Begitu juga dengan Bu Siska, tak henti-hentinya menangis sesunggukan, sampai tak sadarkan diri.
Selama di rumah sakit, gantian Bu Bima yang tak henti-hentinya menangis. Meraung-raung, meronta-ronta dan sampai memukuli dada suaminya. Dia sangat mengutuk kebiadaban dua preman yang telah menghajar habis-habisan anak laki-laki satu-satunya itu.
“Terkutuklah mereka,” umpat Bu Bima sambil menangis sesunggukan di pelukan suami dan anak-anaknya di ruang tunggu gawat darurat.
Meski diminta suaminya tenang, Bu Bima belum juga habis menumpahkan kekesalannya pada kedua pre man itu. Tak henti-hentinya ia mengutuk dan meminta pihak kepolisian untuk secepatnya mengambil tindakan.
Puspa yang tak henti-hentinya menyebut dengan terbata-bata nama sang kakak, berharap Tuhan Yang Maha Pengasih mmberikan kesempatan hidup buat kakak tercinta. Dia tak ingin kehilangan kakak yang ia kasihi, sayangi dan cintai melebihi cintanya kepada diri sendiri.
Dia rela berkorban apa saja, asalkan Darwin sembuh sediakala. Walau tidak bisa cepat, kesembuhan sa ng kakak sangat ia harapkan. Entah berterima kasih dengan siapa selain kepada Allah SWT,  sekiranya es ok atau lusa Darwin sudah sembuh dan bisa bersama-sama lagi dengannya, jalan berdua, main berdua serta makan juga berdua.
Puspa tak pernah membayangkan sang kakak akan mati muda karena nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Dia juga sangat tidak menghendaki Darwin mengalami cacat seumur hidupnya. Jadi beban orang lain, belas kasihan dan tak punya masa depan.
Orang lain boleh pergi selama-lamanya. Tapi buat Darwin, kakakku, bisik Puspa, tak boleh. Haram bagi nya melihat tubuh sang kakak terbujur kaku, lalu dimandikan sebelum akhirnya diantar ke pemakaman. Dimasukkan ke liang kubur. Lalu pulang, dan setelah itu Darwin hanya tinggal kenangan.
Kenangan yang serba manis itulah yang hingga kini membuat Puspa begitu lengket dengan sang kakak. Tak heran, saat kakaknya melanjutkan studi di luar kota, jika tak ada waktu telepon-teleponan, es em esan pun jadilah. Bahkan suatu kali, saking rindunya ia, menatap foto sang kakak, lalu didekap dan dibawanya tidur.
Bagaimana dengan Pak Bima?
Sang Papa memang tidak sepenuhnya mencurahkan kasih sayang sama Darwin. Dia harus berbagi hati antara isterinya dan Puspa. Sebab, mereka juga perlu kasih sayang, teman bermain, kawan curhat dan tempat bertukar pikiran, pengalaman, berbagi suka dan duka.
Hanya saja, sesibuk-sibuk Pak Bima bekerja dan membagi kasih sayangnya dengan isteri dan anak perem puan satu-satunya, masih sempat bercengkrama lewat udara. Tidak lewat telepon, via email, BBM dan SMS. Jika sedang liburan ke Palembang, Pak Bima sering mengajak serta Darwin ngobrol berdua di suatu tempat, masih di sekitar rumah. Bosan berdua, ngobrol bareng isteri dan Puspa.
Jadi kedekatan Pak Bima dengan Darwin, sekilas biasa-biasanya saja. Layaknya hubungan pertemanan dua laki-laki yang sudah saling mengenal dekat, keduanya bukan tanpa pertengkaran.Beda pendapat selalu ada, namun itu sirna setelah ditengahi Bu Bima dan Puspa.
Pendapat boleh beda, tapi keutuhan keluarga dan pereratan hubungan antara anak dan ayah, harus te tap terjaga dan malah terus ditingkatkan sebagai bentuk teladan pada diri sendiri dan orang lain sehing ga terciptalah potret dan sosok generasi muda yang tumbuh baik serta bermoral  di dalam sebuah keluarga dan masyarakat.
Darwin  dan mamanya?
Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tapi bisa didekati denga sepak terjang Bu Bima kala mengasuh Darwin sejak kecil. Seluruh kasih sayang ia curahkan pada Darwin kecil. Pelukan dan ciuman hangat selalu ia daratkan, membuat anak sulungnya itu semakin gemas saat dipandang.
Begitu tumbuh dan memasuki usia remaja, Bu Bima, meski sudah lahir anak kedua, bernama Puspa, ti dak menyurutkannya untuk menyayangi Darwin. Malah seringkali terjadi, saking sayangnya pada Dar win, Sang Mama kerap melupakan Puspa, dengan lebih memilih tidur berdua menemani Darwin di kamarnya.
Rasa kasih sayang itu tak juga surut ketika Darwin menginjak dewasa dan matang seperti saat ini. Hanya saja, bentuk dan caranya yang berbeda. Kalau dulu lebih banyak ‘mengeloni’ sang anak, sekarang bermain kata dan lebih pada upaya memandirikan Darwin.
Suatu kali, ketika Darwin terlambat bangun pagi, Sang Mama tak segan-segan mengetuk pintu kamar nya. Membangunkannya dengan penuh kasih sayang. Tak lupa mandi dan mengingatkannya untuk sarapan pagi. Sambut hari penuh ceria, penuh harapan dan optimisme.
Barangkali, tak semua ibu bersikap sama seperti yang diperlihatkan Bu Bima, saat ia, misalnya, menaruh nasi di atas piring, menuangkan air di gelas dan menyiapkan peralatan sepatu Darwin beserta suaminya, Pak Bima.
Untunglah, dari sekian banyak bentuk kasih sayang yang diperlihatkan ibunya, Puspa melihatnya sebagai pembelajaran bagi dirinya, apalagi dia juga wanita, calon ibu, tentu apa yang dicontohkan ibunya amat penting ia pelajari sebagai bekal kelak saat berumah tangga.
Bagaimana dengan Siska?
Setelah sempat tak sadarkan diri, Bu Guru SMA Mawar ini sudah bisa menemani Darwin di ruang sal Melati. Emosinya sudah stabil. Dia tidak menangis lagi. Matanya yang semula merah, kini sudah kembali normal sediakala. Begitu teduh bola mata itu. Bening sebening  telaga bening yang airnya belum pernah dijamah seorang manusia pun.
Bu Guru Siska sudah bisa menyuapi Darwin dengan bubur ayam. Sambil menyuapi, ia sisipkan senyuman dan doa agar cepat sembuh. Tiap kali ia kembangkan senyuman itu, setiap kali pula jari tangan Darwin bergerak. Mulai bisa membuka mata dan berkata-kata, walau hanya bisa didengar lewat telinga.
“Malam Bu Guruku yang cantik,” ucap Darwin, sampai dua kali dia mengulangi perkataan itu karena hanya samar-samar kedengaran di telinga Bu Guru Siska.
Siska tersenyum dan membalasnya dengan ucapan .. “Malam juga Mas Darwin yang ganteng selangit.”
Puspa yang ikut mendampingi di sebelahnya tak kuasa menahan geli saat Darwin melepas tawa, suara ketawa kagak ada, perut yang masih dibalut perban bergerak-gerak sambil menahan rasa perih dan sakit.
Ketika Darwin tertidur kembali, Puspa menuliskan sesuatu di secarik kertas dengan spidol hitam biar terlihat jelas saat Darwin membacanya….

              “Mas Darwinku … Engkau adalah bunga, Siska tangkainya. Engkau batu cincin, Siska
              Gagangnya … Engkau bulan, Siska bintangnya … I love you so much Mas Darwinku ..
               Lekaslah sembuh …”

Lama juga Siska menunggu Darwin terjaga kembali. Jarum jam sudah berdentang sembilan kali, Darwin masih tertidur pulas. Puspa yang tidur merem di sebelahya menggantikan Siska untuk istirahat di ran jang sebelah.
“Bu Siska istirahat dulu,” kata Puspa. Tak lama Siska rebahan, dia tertidur pulas sementara Puspa mem baca tulisan di secarik kertas yang ditulis Bu Guru Siska.
Ingin rasanya Siska membangunkan Darwin dari tidur pulasnya sekadar ingin memperlihatkann isi hati Bu Guru Siska barusan.  Dia berdoa sang kakak segera bangun, dan doanya terkabul. Darwin membuka matanya kembali.
“Kak …”
Puspa memperlihatkan tulisan yang dibuat Bu Guru Siska. Darwin menatapnya lekat. Dia baca dalam ha ti.
“Tuliskan juga buat kakak,” bisiknya pada Puspa.
Ada pena di dalam laci, Puspa mengambilnya dan siap menuliskan sesuatu di balik kertas yang ditulis Bu Guru Siska.
“I love you so uch,” ucap Darwin.
Puspa menuliskannya. Ia berharap Bu Siska senang membacanya …
***  

XI
KEESOKAN harinya, begitu membaca tulisan “I love you so much”, yang ia yakin ditulis oleh Puspa, anak didiknya, Siska senangnya bukan main. Persis kayak anak kecil dikasih bombon. Senyum lepas mengem bang dan mentari yang sinarnya menembus hangat kaca kamar seolah berkata, ‘sambutlah pagi dengan ceria.’
Sayang, kegembiraan hati itu hanya sesaat, kala Darwin menyapanya dengan sapaan ‘Hai’. Lepas itu, kala orang yang sangat dia cintai itu tak sadarkan diri, lalu dibawa tim medis ke ruang khusus isolasi, Siska berubah pucat. Mulutnya terkunci rapat. Matanya berkunang-kunang dan gelap seketika. Ia tak ingat apa-apa lagi.
Dia baru sadar setelah dibangunkan ibunya selepas Magrib. Kedua adiknya, Lia dan Dery, serempak mencium kedua pipi Siska sambil membisikkan kata-kata ‘Kami sayang kakak.’Oleh Siska, ucapan barusan dijawab dengan ‘Kakak juga sayang sama kalian berdua.’
Kepada Siska, sang ibu mengatakan, meski Darwin masih dirawat di rumah sakit, keadaannya tidak ter lalu mengkhawatirkan. “Hanya dalam tahap penyembuhan saja. Beberapa hari ke depan sudah diizinkan pihak rumah sakit untuk dibawa pulang.”
Kepada Siska, Bu Odi juga menyampaikan pesan Bu Bima agar tak terlalu memikirkan Darwin. “Yang penting nak Siska sehat, kami sekeluarga sudah senang. Darwin, biarlah kami yang jaga bergantian.”
“Bu …!”
“Ibu harap kamu istirahat dulu ya nak,” kata Bu Odi, setelah membelai rambut anak sulungnya itu, berlalu keluar kamar.
Kini Siska hanya ditemani kedua adiknya. Keduanya sepakat untuk tidak cerita soal Darwin. Karena akan menambah rasa sedih sang kakak sementara pihak keluarga Pak Bima berharap Siska segar bugar dan sudah bisa mengajar kembali.
“Kak Sis, mau dengar cerita Lia enggak?” Tanya si nomor dua sambil meletakkan kedua telapak tangan sang kakak ke pipinya.
Siska mengangguk.
Suatu hari, kata Lia memulai ceritanya, Nasrudin dan isterinya pulang dan mendapati rumah mereka telah dijarah pencuri. Segala sesuatu yang berguna dibawa kabur oleh si maling.
“Ini semua salahmu,” kata isteri Nasrudin, “karena kamu selalu merasa yakin bahwa pintu rumah sudah terkunci sebelum kita pergi.”
Para tetangganya juga ikut berkomentar. “Kamu sih tidak mengunci pintu-pintu,” ujar seorang tetangga.
“Heran. Kenapa kamu tidak membayangkan apa yang bakal terjadi,” ujar yang lain.
“Kunci-kunci rumahmu ternyata sudah rusak dan kamu tidak menggantinya,” sahut orang ketiga.
“Sebentar,” kata Nasrudin, “kenapa harus aku yang disalahkan, dan tentunya bukan aku satu-satunya orang yang harus disalahkan.”
“Kalau bukan dirimu, lalu siapa yang seharusnya disalahkan?” Teriak orang-orang dengan gemas.
“Pencurinya itu dong! Bukankah mereka yang telah menjarah dan membawa kabur barang-barang mi likku. Aku yang menderita kerugian, masih juga disalahkan,” jawab Nasrudin dengan enteng seraya meninggalkan mereka.
“Sekarang gantian Dery yang cerita, kak.” Ujar Dery sambil memijat-mijat betis Bu Siska.
Pada suatu hari, kata Dery, Imam Syibli sedang berada di sebuah kebun yang subur. Tiba-tiba kedengaran suara memanggil-manggil namanya, “Syibli, Syibli!”
Imam Syibli berhenti dari pekerjaannya sambil mencari-cari, siapakah gerangan yang telah memanggil-manggilnya itu. Ternyata suara itu datang dari sebatang pohon mangga.
“Apa maumu memanggil-manggil aku?” Tanya Imam Syibli.
Makhluk gaib yang menyatu dengan pohon mangga itu menjawab, “Jadilah orang yang memiliki sifat mulia seperti aku.”
“Maksudmu?” Tanya Imam Syibli kurang senang.
“Aku, jika dilempari orang dengan batu, akan melempari orang itu dengan buahku yang lezat-lezat.”
Imam Syibli menjawab, “Ah, memang baik hatimu. Tapi mengapa nasibmu tidak sebaik penghabisannya?”
Kini si pohon mangga yang keheranan. Ia pun bertanya, “Maksudmu?”
Imam Syibli menerangkan, “Kalau engkau sudah tidak ada gunanya lagi, sudah tua, batangmu akan ditebang, daun-daunmu akan digunduli, dan dirimu akan dimangsa api sebagai kayu bakar.”
Pohon mangga itu dengan sedih berkata, “Itulah kesalahanku. Aku tidak seperti pohon cemara, yang bisa condong kebarat bila bertiup ke barat, dan akan condong ke timur jika angin bertiup ke timur.”
“Jadi, mana yang lebih baik, nasibmu atau nasib pohon cemara?” Tanya Imam Syibli.
“Inilah kebanggaan saya. Memang pohon cemara dapat selamat dengan cara begitu, tetapi kalau sudah tua pohon cemara hanya akan roboh begitu saja, dan tidak ada yang mengambilnya menjadi ka bakar, apalagi buat arang. Sedangkan aku, meskipun penghabisanku dibakar orang, namun aku hancur dengan terhormat. Sebab manusia tidak akan sembarangan membakar tubuhku bila tidak untuk memasak atau keperluan lainnya, seperti membuat arang, misalnya. Jadi aku masih ada gunanya sampai akhir hidupku. Abu bekas pembakaran diriku pun masih dicari orang untuk menggosok perabotan mereka, karena abu ku terkenal mahal dapat membuat barang-barang logam menjadi bersih dan mengkilap. Jadi nasibku lebih baik dari pohon cemara.”
Imam Syibli mengangguk-anggukkan kepala tanda menyetujui pendapat pohon mangga, lebih baik mati terhormat daripada menjual harga diri dengan bersikap munafik, bersedia mengikuti arus, kemanapun angin bertiup.
“Demikianlah kak, akhir kisahnya,”  kata Dery menutup kembali lembaran buku cerita itu sebelum dia masukkan kembali ke saku bajunya.
“Sekarang giliran kakak yang cerita, tapi yang bacain ceritanya kalian berdua secara bergantian. Gimana? Mau kan?”
“Maulah, kak.” Jawab keduanya.
Bu Siska meminta Lia mengambilkan buku diary di dalam laci meja kerjanya. Setelah itu dia meminta sang adik membacakan isi cerita di lembaran catatan harian kekasih Darwin ini.
“Siap kak?”
“Siap,” kata Siska bersemangat.
Iblis berkata, Lia mengawali cerita yang tertulis di notes kecil tapi tebal itu, “Assalamualaika ya Mu hammad, assalamu alaikum ya jamaa’atal muslimin (salam untuk kalian semua wahai golongan muslimin?”
Rasulullah SAW menjawab, “Assalamulillah  ya la’iin (Keselamatan hanya milik Allah SWT makhluk yang terlaknat). Aku telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai iblis?”
Iblis berkata, “Wahai Muhammad, aku datang bukan karena keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa (diperintah).”
Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini, wahai terlaknat?”
Iblis berkata, “Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan yang Maha Agung. Ia berkata kepa daku, sesungguhnya Allah SWT telah menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam ke adaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaan dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu.”
“Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepadamu. Allah SWT berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu.”
“Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah. Tanyakanlah kepa daku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku.”
Rasulullah SAW mulai bertanya, “Jika kamu jujur, beritahukanlah kepadaku, siapakah orang yang paling kamu benci?”
Iblis laknatullah menjawab, “Engkau, wahai Muhammad. Engkau adalah makhluk Allah SWT yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu.”
Rasulullah SAW bertanya lagi, “Siapa lagi yang kamu benci?”
Iblis laknatullah: “Anak muda yang takwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT.”
Rasulullah: “Lalu siapa lagi?”
Iblis laknatullah : “Orang alim dan wara’ (menjaga diri dari syubhat) yang saya tahu, lagi penyabar.”
Rasulullah SAW: “Lalu siapa lagi?”
“Iblis laknatullah: “”Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran.”
Rasulullah SAW: “Lalu siapa lagi?”
Iblis laknatullah : “Orang miskin (fakir) yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya.”
Rasulullah SAW: “Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar?”
Iblis laknatullah : “Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh-kesahnya kepada makhluk sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar.”
Rasulullah SAW: “Lalu siapa lagi?”
Iblis laknatullah : “Orang kaya yang bersyukur.”
Rasulullah SAW : “Bagaimana kau tahu bahwa ia bersyukur?”
Iblis laknatullah : “Jika aku melihatnya mengambil dan meletakkannya pada tempat yang halal.”
Rasulullah SAW : “Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan salat?”
Iblis laknatullah : “Aku merasa panas dan gemetar.”
Rasulullah SAW : “Kenapa, wahai terlaknat?”
Iblis laknatullah : “Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah SWT sekali sujud saja, maka Allah SWT mengangkat derajatnya satu tingkat.”
Rasulullah SAW : “Jika mereka shaum?”
Iblis laknatullah : “Saya terbelenggu sampai mereka berbuka puasa.”
Rasulullah SAW : “Jika mereka menunaikan haji?”
Iblis laknatullah : “Saya menjadi gila.”
Rasulullah SAW : “Jika mereka membaca Alquran?”
Iblis laknatullah : Aku meleleh seperti timah meleleh di atas api.”
Rasulullah SAW : “Jika mereka berzakat?”
Iblis laknatullah : “Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji/kapak dan memotongku menjadi dua.”
Rasulullah SAW : “Mengapa begitu, wahai Abu Murrah (sebutan untuk iblis)?”
Iblis laknatullah : “Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan
                                 berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang berzakat itu disenangi makh
                                 luk-Nya yang lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya
                                 dengan api neraka. Keempat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan mala-
                                 petaka agar tidak menimpanya.”
***  

XII
KE kiri aja Pus ….!”
“Oke …”
Kursi roda dorong melaju ke kiri.  Puspa sangat hati-hati mendorongnya. Jangan sampai menyentuh orang yang lalu-lalang, apalagi sampai jatuh terguling saat menuruni anak tangga batu.
“Stooop …!”
Kreteeek … syiiiut.
Persis berhenti di depan taman bunga. Darwin tampak senang memandang taman bunga, berwarni-warna. Teduh rasanya hati.
“Biarlah kakak di kursi saja,” ucap Darwin menyahuti keinginan adiknya Puspa agar turun dari kursi roda, berjalan, walau masih harus menggunakan tongkat kayu, mencium aroma bunga dari dekat.
“Kak Darwin!” Sapa Puspa, lalu mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya.
 “Surat lagi. Dari siapa Pus?” Tanya Darwin tak jemu-jemunya ia memandang lekat aneka bunga yang tertata apik di atas rerumputan serba hijau.
“Bukan kak. Tapi puisi buatan Puspa khusus dipersembahkan buat kakakku, Darwin.”
“Wah-wah .. Pandai juga kamu buat puisi ya Pus. Pasti bagus puisinya …” Puji sang kakak.
“Puspa. Sang jawara  jaman bahulak ,” kelakar Puspa, ikut senang tengok Darwin bisa ketawa lagi.
“Ya namanya juga adik Darwin. Pasti selalu juara, walau pesertanya cuma satu. Ayo bacain. Kakak pengen dengar …”
“Siap bos …”
Puspa membacanya sambil berdiri membelakangi bunga, menghadap ke Darwin yang tampak santai menyandarkan tubuhnya di kursi roda.

                    “Pagiku mekar
                             siang kubekelakar
                                sorenya kubersandar
                                   malamnya kuberistighfar …
  
                                     Ya Robb Tuhanku
                                         wangikan aku
                                             agar hamba-hamba-Mu yang bernama
                                                manusia menyenangiku …

                                                     Ya Robb Tuhanku
                                                        indahkanlah aku supaya
                                                           hamba-Mu yang beriman
                                                             leluasa memandangku …
                                                             
                                                                  Aku tak ingin ya Robb
                                                                            kehadiranku menambah pelik
                                                                              hamba-Mu yang tiada henti
                                                                                berjibaku dengan panasnya
                                                                                  matahari dan dinginnya malam
                                                                                       hanya untuk sesuap makan …

                                     Aku tak ingin ya Robb
                                          kehadiranku membuat hamba-Mu
                                            yang beriman jadi terganggu
                                               padahal mereka ingin selalu
                                                 dekat dengan-Mu …

                                                           Aku hanya ingin mereka
                                                              selalu di dekat-Mu
                                                                 menyapa-Mu selalu
                                                                     pengobat rasa rindu
                                                                        pelipur lara
                                                                            dalam suka dan duka …”

Plak … plak … plak …
Tepuk tangan itu berasal dari Bije dan Iqbal. Keduanya sengaja datang setelah diingatkan Puspa untuk membesuk kakaknya di rumah sakit.
“Kita bawa kakakmu ke belakang,” bisik Bije pada Puspa, sempat kaget.
“Orang suruhan bapaknya Ira sudah turun dari mobil. Cepat!” Kata Iqbal , membantu  Puspa  mendoro ng kursi roda yang diduduki Darwin.
Mereka menuju ruang belakang rumah sakit. Beberapa orang juru rawat hanya senyum-senyum melihat tingkah mereka ketika mendorong kursi roda.
Iqbal misalnya. Sempat berputar-putar sementara tangannya tetap fokus mendorong kursi roda dengan sesekali melambaikan tangan kepada juru rawat yang cantik memikat menuju ruangan pasien inap.
Sedangkan BiJe dan Puspa, keduanya melenggok-lenggok seperti orang lagi berdansa. Bersiul-siul sambil berdendang riang. Ketiganya baru berhenti  berulah setelah sampai di ruang kosong bercat serba putih.
Ruangan itu besar dan luas. Tapi, namanya juga tak ditempati, sudah lama dikosongkan, mana ada yang namanya kasur, tempat tidur, apalagi bantal guling. Jadi kalau mau tidur terpaksa ngapar.
Sementara dua preman bayaran tadi, setelah bertanya pada petugas medis, segera menuju ruang inap rawat Darwin. Alangkah terkejutnya mereka. Ruangan itu ternyata kosong  melompong. Tak ada lagi penghuninya.
“Kemana dia?” Tanya pria berkumis tebal, geram sambil mengepalkan tinjunya seakan hendak memukul orang lain yang ada di dekatnya.
“Apa perlu kita tanya lagi?” Kata temannya bermata juling.
“Okeee …”
Karena jawaban yang diperoleh sangat tidak memuaskan, petugas rumah sakit juga pada enggak tahu duduk persisnya kemana Darwin dan Puspa saat ini, kedua preman ini sepakat mengontak Pak Patra, melaporkan bahwa yang mereka cari sudah tidak ada lagi di kamar inapnya.
“Saya enggak mau tahu. Pokoknya dapatkan dia,” kata Patra dengan  nada tinggi. Saking tingginya HaPe yang dipegang preman berkumis hampir terlepas sedangkan gendang telinga terasa sakit dan menyisa kan dengung.
“Tapi bos,” jelas si kumis.
“Tidak ada tapi-tapian. Harus dapat pokoknya. Kalau sampai lolos, kalian berdua akan saya panggang sampai hangus. Mengerti?”
“Mengerti bos …”
“Tunggu apa lagi?”
“Duit rokoknya bos kurang,” sahut si juling.
“Kan sudah dikasih tiga ratus. Kurang apalagi.”
“Ya bos. Kuranglah. Masak kagak tau aje. Ongkos taksi piro, makan piro, kan habis bos.”
“Ya sudah. Kamu bawa kartu ATM kagak?”
“Bawa bos …”
“Saya transfer lima ratus. Tunggu di ATM kira-kira lima menit.”
“Siap bos …”
Seolah lupa dengan tugas utama mereka, dua preman berbadan tegap ini bergegas ke ATM. Kebetulan ada beberapa orang lagi ngantre. Terpaksalah keduanya ikut antre.
BiJe dan Iqbal, dari tadi melihat ulah si kumis dan si juling. Mereka masih menunggu gerangan apa yang bakal dilakukan keduanya setelah mengambil uang transferan dari ATM.
Keduanya mengaso sejenak di kursi panjang batu marmer. BiJe memberitahu Puspa agar tetap hati-hati karena dua preman masih ngantre di depan ATM.
“Lucu ya Je. Ngambil duit segala,” kata Puspa, yang baru kali ini orang-orang yang mengejar dia dan ka kaknya masih santai-santai di depan mesin ATM.
“Aku matikan dulu ya Pus, HaPenya. Mereka sudah keluar,” jelas BiJe. Bersama Iqbal mengikuti kemana dua preman kampung itu berjalan.
Rupanya berhenti dekat loket pembayaran obat. Apa yang mereka kerjakan?
“Kamu dua ratus saja. Aku tiga ratus. Aku lebih banyak seratu karena aku kan bos,” terang si kumis.
“Tak bisalah Mis,” kata si juling, “sesama kita tidak ada yang namanya bos. Kita kan sama. Kamu teman saya, saya temannya kamu ..”
“Tapi yang pertama disuruh bos, kan aku, bukan kamu. Jadi wajar kalau aku nyebut diriku bos. Sedangkan kamu anak buahku,” terang si kumis.
“Jangan gitulah Mis. Aku bukannya apa-apa.  Aku lagi butuh uang sekarang. Tolonglah Mis, tambah lagi,” rengek si juling.
“Janganlah Ling. Aku sekarang juga butuh duit. Anakku perlu makan, isteriku juga. Kamu enak. Kawin saja belum. Lah, aku?”
“Udah gini aja. Tambahlah dua lima lagi Mis. Aku mohonlah sama kamu.”
“Gimana ya?” si kumis menggaruk-garuk kepalanya. Dihitungnya kembali duit tiga lembar seratusan ribu itu.
“Nantilah ya. Aku enggak punya duit kecil sekarang.”
“Ya taka apa-apa nanti,” jawab si juling. Keduanya barengan memasukkan dompet ke saku celana.
Praaak …
Keduanya, saat mau melangkah ke kanan, tabrakan dengan BiJe dan Iqbal. Sama-sama hampir terjatuh.
“Punya mata enggak?” Hardik si juling pada Iqbal.
“Punya. Dua. Ini …” Menunjuk kedua matanya yang tengah memelototi kumis si preman berkumis.
***       
                                   
XIII
DUUUUP … duuup … duuup.
Masing-masing pihak mendaratkan pukulan dan tendangan. Sama-sama kena dada, muka dan paha.
Husyaaaa …
Kumis melepaskan pukulan, tepat mengenai perutnya Iqbal. Meringis kesakitan. Ketika mau menda ratkan pukulan kedua, BiJe yang lebih banyak mengelak dari pukulan yang dilesakkan si juling, menen dang tangan si kumis.
“Aduh …!” Ringisnya, mengetahui BiJe lah yang melepaskan tendangan barusan, buruan mendaratkan pukulan ke telinga BiJe.
Duuuup …
Ditangkis BiJe dengan tapak tangan. Saat bersamaan Iqbal menendang perutnya, si kumis terpental.
Uuuuuukh …
“Kurang ajar,” ucap Juling, melepaskan pukulan satu dua. Berhasil dielakkan BiJe dan Iqbal.
“Cuma segitu ya Bro. Pulang sana,” ejek Iqbal tertawa terkekeh-kekeh.
“Setan alas.” Si Juling membabi buta memukul, melepaskan tendangan dan memutar badannya agar mudah ‘mengambil’ kaki lawan yang lengah, dan terjatuh.
Sayang, taktik itu sudah dibaca Iqbal dan BiJe. Mereka hanya melakukan gerakan mundur beberapa langkah ke belakang, membiarkan lawan duel sendirian.
Plak .. plak … plak …
Merasa dipermainkan BiJe dan Iqbal, si Juling bersama si Kumis yang suda siap pasang jurus lagi, bermaksud hendak mengurung lawan.
Berbisik, BiJe dan Iqbal mengambil langkah seribu. Keduanya berlari  menuju tanah rerumputan di sam ping kanan rumah sakit. Kejar-kejaran pun tak terelakkan. Para pasien kursi roda, anggota keluarga pa sien, petugas medis, karena kaget, sebagian menjerit karena ketakutan.
Saking takutya, ada di antara juru rawat itu yang tersandar di tiang bangunan atap rumah sakit. Harus menepi jika tidak ingin kena senggol  yang berakibat jatuh ke lantai.
Ana-anak pada menangis. Ibu-ibu saling berbisik dan kompak untuk menghindar sambil berharap tak ada kegaduhan di rumah sakit, yang dapat mengganggu kelancaran tugas petugas medis.
“One bye one kalau berani,” tantang Iqbal.
“All right,” jawab si Juling dan si Kumis serempak.
Mereka pun berpencar. BiJe dan Juling ke kanan, sedangkan Iqbal versus si Kumis ke kiri. Duel mereka sudah ditunggu-tunggu para jukir yang menyaksikan dari balik terali tanah lapang.
Husyaaa …
Juling membuka lebar-lebar kedua kakinya dengan posisi tangan menyilang, dibalas BiJe dengan mengge rakkan kedua kakinya. Sebentar ke depan, kiri, kanan dan belakang dengan kedua tangan berpindah-pin dah posisi. Kadang menyilang, ke depan barengan, bersusun dua, kanan atas, pergelangan tangan kiri di bawah.
Keduanya masih mencari celah melepaskan pukulan. Hanya berputar-putar. Begitu juga dengan Iqbal dan Kumis. Keduanya tidak mau menyerang lebih dulu. Sama-sama menunggu. Diserang, baru balas menyerang.
“Wuuuu … Pengecut semuanya ..!” Ejek para jukir ketawa mengejek.
Priiiit …
Pak Satpam rumah sakit meniup pluit agar duel segera dihentikan. Tak baik berkelahi, apalagi sampai  adu jotos di rumah sakit. Ternyata pluit itu salah ditanggapi BiJe dan Iqbal. Keduanya malah kompak menyerang Kumis dan Juling.
Pak Satpam yang semula bingung, akhirnya membiarkan berempat duel di tanah lapang. Ikut menonton bersama para keluarga pasien, beberapa petugas medis dari jarak tak terlalu dekat.
Selain tidak menggunakan senjata tajam, duel berlangsung lucu. BiJe dan Juling misalnya, keduanya sama-sama terpental saat kedua kaki mereka berbenturan ketika melepaskan tendangan.
Berbeda dengan Iqbal dan Kumis. Setelah keduanya sama-sama memukul angin dan sama-sama tak kena saat lawan melepaskan pukulan, serempak jatuh terjerembab ke rumut dalam posisi telungkup.
Ha ha ha ha …
“Wuuuu … Loyo. Amit-amit deh.! Teriak jukir ketawa geli melihat Iqbal dan Kumis yang saat mau berdiri, jatuh terjerembab lagi.
“Payah deh lu … Kebanyakan makan jengkol sih,” ledek salah seorang keluarga pasien berusia muda dengan rambut panjang diikat ke belakang.
Semua penonton makin ketawa geli kala melihat Iqbal dan Kumis saling melepaskan pukulan. Sama-sama kena, tapi lambat. Setelah itu saling dorong, sempoyongan dan jatuh bergulingan di reremputan.
Lain lagi dengan BiJe dan Juling. Mereka mulai serius berduel. Saling melepaskan pukulan, tendangan dengan sesekali  melakukan gingkang. Memutar badan dengan sasaran perut dan dada lawan.
Suatu kesempatan, BiJe berhasil mencederai hidung lawan, kena sampai mengucurkan darah. Si Juling bukannya menurunkan tempo serangan. Malah justru tak henti-hentinya ‘menggocoh’ tangan, perut dan leher BiJe.
Dari beberapa kali gocohan itu, BiJe sempat meringis kesakitan setelah lehernya tiba-tiba sakit akibat ter kena tendangan geledek si Juling. Mundur beberapa langkah, ubah jurus dan lebih banyak menunggu.
Harapan agar lawan terus menyerang, terwujud. Dengan tangkisan satu dua, serangan gencar yang dilakukan Juling dapat dengan mudah dimentahkan.
“Rasakan ini!” Teriak si Juling. Memutar badannya sambil melepaskan pukulan liar mengarah ke kiri BiJe. Oleh BiJe, tendangan dahsyat dan mematikan itu ia atasi dengan melompat sambil mendaratkan pukulan ke kepala lawan.
Duuup … Praaak.
“Uuuuukh!”
Si Juling berguling-gulingan menahan kepalanya yang sakit akibat pukulan. Sempat muntah, tapi berhasil berdiri lagi dan siap meladeni serangan berikutnya dari BiJe.
Kali ini BiJe yang lupa dengan pertahanan. Melihat lawan mulai kewalahan, dia lepaskan tendangan sam bil  memutar badan. Tendangan itu berhasil ditangkis Juling, lalu memelintir mata kaki BiJe, jatuh terhempas.
Saat bersamaan, lawan melompat sambil mendaratkan pukulan ke wajah. Meski berhasil dielakkan BiJe, pukulan keras itu menghantam pergelangan tangannya.
“Aduuuuh …!”
Secepat kilat BiJe memutar badannya. Dia hanya bisa menghindar sambil memegang tangan kirinya yang sulit digerakkan karena terkena pukulan.
Hiyaaaat …
Si Kumis tak memberi kesempatan sedikit pun pada BiJe untukmelepaskan pukulan. Akibatnya,  badan nya mulai dari kaki hingga muka, jadi sasaran empuk serangan lawan.
Guuuup … sreeet.
BiJe terjengkang dalam posisi badan menelentang. Kumis melepaskan tendangan, dibalas BiJe dengan memutar kedua kakinya, menangkap dan berhasil menjepit  kedua kaki lawan.
Saat Kumis jatuh, BiJe berhasil menindihnya. Duduk di atas perut seraya mencekik leher lawan. Masih sempat melepaskan tendangan  mengenai belakang kepala BiJe, membuatnya tersungkur. Si Juling gantian menjepit leher BiJe. Tak berkutik.
Ha ha ha ha …
Si Juling ketawa ngakak. Merasa di atas angin, dia terus memperkuat jepitannya. BiJe, yang mulai kesakitan dan susah bernafas, masih bisa melepaskan tendangan persis mengenai dagu lawan.
Lawan terdorong ke belakang. Setelah berdiri, ia angkat badan Juling tinggi-tinggi, dihempaskannya ke paha kanannya, dan …
Kraaaak …
Gedebug.
Si Juling tak bangun lagi.
***                                             

XIV
BAGAIMANA dengan Iqbal dan si Kumis?
Makin seru dan lucu saja. Keduanya saling tarik-tarikan baju, saling jambak-menjambak rambut dan saling menendang. Sama-sama kena, meringis kesakitan.
“Kapan selesainya kalau gini terus,” celetuk salah seorang penonton yang mulai bosan melihat Iqbal dan Kumis duel kayak orang perempuan.
“Oi sikat oi!” Teriak seorang jukir sambil mengepal-ngepalkan tinjunya.
“Serang oi, Mis,” sahut yang lain.
Si Kumis terpancing emosinya, sedangkan Iqbal tetap tenang. Dia hanya berlari ke sana kemari menghindari pukulan dan tendangan si Kumis.
Kehabisan akal, Si Kumis memutuskan untuk mengejar Iqbal. Terjadilah saling kejar mengejar. Serunya saat keduanya berada di dekat ayunan.
“Awas lu ya,” ancam Kumis.
“Lu juga awas,” balas Iqbal.
“Pukul gue kalau berani.”
“Sori ya. Gue lagi enggak mood,” ejek Iqbal.
Si Kumis mengejar ke kanan, Iqbal berlari ke kiri. Si Kumis ke kiri, Iqbal ke kanan. Meski bosan diper mainkan, si Kumis  terus mengejar lawannya, meski dengan cara berkeliling.
Suatu ketika, si Kumis pura-pura mengejar ke kanan. Iqbal berlari, berhasil ia cegat dan nyaris dapat kalau tidak cepat-cepat melompat ke balik ayunan.
Wiiiish … wiiing …
Iqbal mendorong kuat-kuat itu ayunan, papan ayunan meluncur deras, turun naik dan mengenai kepala si Kumis.
Buuuk …
Kumis terjengkang.
Ha ha ha ha …
Kena sorak, si Kumis bangkit dan berdiri lagi.
Buuuk …
Kena lagi. Puyeng juga jadinya. Si Kumis mirip orang mabuk berat. Jalan sempoyongan. Mata merem-melek dengan anggota badan seperti tangan dan kaki terasa berat untuk digerakkan.
“Ayo Mis. Pukul aku!” tantang Iqbal.
“Dimana kamu?”
Ha ha ha ha …
“Di WC taun,” celetuk laki-laki tambun yang baru selesai dari makan di kantin rumah sakit.
“Hei kawan,” kata si Kumis mengangkat jari telunjuknya, turun naik dengan kedua kaki yang tak lurus lagi.
“Enggak berani?”
“Bukan,” jawab si Kumis dengan badan mulai melayang-layang. Tak karuan.
“Lalu kenapa?”
“Kita kawan, bukan lawan,” ucap si Kumis dengan suara disendatkan dan berirama.
“Jangan percaya Bro,” kata jukir bermata besar.
“Itu namanya nekat,” sahut jukir yang lain.
“Apa itu nekat Bro?” Tanya temannya.
“Kita meleng dia sikat …”
Ha ha ha ha …
Benar saja. Ketika Iqbal asyik ngobrol dengan BiJe, Kumis menyerangnya dari belakang. Karena ditangkis BiJe itu tendangan kilat, pantat Iqbal tidak kena.
“Bangsat. Keroyokan,” umpat si Kumis.
BiJe memutuskan untuk tidak ikut berduel. Agar tercipta fair-play, biarlah Iqbal sendiri yang meladeni si Kumis.
Kendati diserang habis-habisan, Iqbal bersih dari pukulan dan tendangan. Dia hanya mengelak dengan sesekali mendorong maju dan mundur itu ayunan. Selebihnya dia lompat dan berlari ke sana kemari.
“Babi lu!” Mulai kesal rupanya si Kumis.
Iqbal akhirnya secara perlahan mulai meladeni si Kumis. Dia tak lagi berlari. Satu dua pukulan berhasil dia tangkis.
“Nah begitu dong,” kata penonton wanita penjual jagung dan kacang rebus  dengan meletakkan  bas kom besar di atas kepalanya.
“Ayo cepat selesaikan,” kata temannya yang menjual es lilin dan keripik ubi serta telur asin.
“Majulah!” Tantang Kumis.
Kali ini si Kumis tak berpikir lebih jauh lagi. Dia lepaskan tendangan berkali-kali. Kali yang terakhir tepat mengenai perut lawan.
Mengerang kesakitan.
“Wuuuu .. gitu aja sakit. Nih gue, endorong motor taka pa-apa,” teriak jukir berambut cepak.
Sambil menahan rasa sakit, si Kumis masih sempat melayangkan pukulan ke muka Iqbal. Lambat mengelak, Iqbal terpundur. Pipinya sebelah kanan tampak memerah.
Si Kumis menambah serangan dengan menendang kaki Iqbal. Dia tangkis dengan kedua tangan dan kakinya. Saling beradu kaki, keduaya mengobral pukulan, saling sikut dan dorong.
Gedebuuuk …
Sama-sama jatuh terlentang di atas rerumputan. Lalu berguling-gulingan. Saling mencekik dan melepaskan pukulan.
Byuuuur …
Kecebur dalam kolam buatan. Penonton mendekat. Pak Satpam berusaha melerai, tapi dia juga tak mampu menghentikan duel itu. Malah badannya ikut terdorong nyemplung ke kolam.
Bertiga di dalam kolam, Pak Satpam jadi sasaran. Badannya di over ke kanan dan kiri. Oleh si Kumis didorong ke Iqbal, lalu Iqbal mendorong laki-laki ceking seperti kurang vitamin itu ke tempat Kumis berdiri.
Karena tak kuat lagi menahan dorongan, Pak Satpam akhirnya kehabisan nafas. Dia berjalan menuju tepian kolam dengan terengah-engah. Sebelum akhirnya diselamatkan oleh penonton dengan me mapahnya sampai ke tempat duduk dekat ruang tunggu.
Di kolam praktis hanya menyisakan Iqbal dan si Kumis. Keduanya sepakat melanjutkan duel lagi. Na manya juga di dalam air, sekuat-kuatnya pukulan, tak sekuat ketika memukul di daratan. Serba loyo. Kaki loyo, pukulan asal dilepaskan saja.
Keduanya saling berpelukan. Sama-sama beradu kepala, lalu terpental ke dalam air. Iqbal yang lebih du lu berdiri, melompat dan mencekik leher lawan. Dia tenggelamkan itu kepala, dipukulnya berkali-kali.
Tak ada reaksi. Iqbal pun berpuas diri. Setelah melihat lawan tak berkutik lagi, ia beringsut menuju te pian kolam.Maksud hati naik ke rerumputan karena sudah tak tahan dengan dinginnya air kolam.
Huuup …
Kumis berhasil keluar dari dalam air. Dia sergap Iqbal yang masih berdiri sempoyongan di tepi kolam. Dia piting lehernya. Nafas pun tersengal, Iqbal terdorong ke belakang. Sama-sama nyemplung ke dalam air lagi.
Penonton harap-harap cemas. Belum seorang pun yang muncul ke permukaan air. Beberapa penonton, terutama Pak Satpam berusaha menolong, tapi secara tiba-tiba …
Byaaar …
Keduanya muncul barengan. Saling memapah dan berjalan mendekati penonton yang heran melihat kelakuan keduanya.
“Tobat niyeee,” celetk ibu yang rambutnya sudah memutih semuanya. Tak menyisakan lagi warna hitam.
Pak Satpam dan beberapa anggota keluarga pasien memapah keduanya menuju ruang tunggu, sudah menunggu BiJe, Puspa dan Darwin.
***                                       

XV
DI lain tempat, Kuyung mempercepat laju mobilnya guna menghindari kejaran orang suruhan Pak Patra. Dia terpaksa mengambil jalan pintas dengan memasuki lorong pasar loak, barang antik dan pakaian ser ba baru serta lama.
“Itu mereka!” Teriak pria berpantat teos menunjuk ke sebuah mobil berwarna biru tua yang belok kanan setelah melewati tangga batu berusia tua.
Dengan hanya menggunakan motor trail, kedua preman ini leluasa menapaki anak tangga batu, meliuk-liuk di lorong sempit dan bahkan bisa melayang melewati anak sungai yang cuma berjarak kedua sisinya sejauh tiga meter.
“Itu mereka, Yung!” Ucap Bu Siska mulai ketakutan setelah melihat penampilan kedua preman itu yang seram dengan muka brewokan dan berbulu lebat di seluruh badan.
Jarak antara mobil dan motor trail dalam pososi sejajar dengan hanya dipisahkan oleh anak sungai dan jembatan. Kedua preman itu melepaskan tembakan mengenai roda , namun tidak sampai membuat mo bil zig-zug.
“Hati-hati Yung!”
“Siap Bu,” jawab Adam.
Kuyung terus memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi lurus ke depan. Begitu juga halnya dengan ke dua preman tadi. Mereka malah berteriak-teriak sambil mengacungkan tinju dan senjata api. Mereka tertawa dan meminta Kuyung segera menghentikan mobil dan menyerahkan diri.
Mana maulah Kuyung. Dia tak merasa takut sama sekali. Si preman ‘menjebili’, dia balas jebili. Mengacu ng-acungkan tinju, membalasnya dengan melakukan hal yang sama. Saling cibir, perlihatkan tinju dan terakhir, sebelum belok menuju jalan raya besar, adu tunjuk pantat.
“Adam, jangan!” Cegah Bu Siska. Melihat Adam, siswanya bermaksud membuka celana dengan hanya memperlihatkan celana dalam (sempak) kepada para preman itu.
Meski hanya memperlihatkan bagian belakang celana yang Adam kenakan, cukup membuat dua preman itu kerepotan. Asyik pamer pantat, tak lihat ada batu besar di depan, dan …
Braaak … Tuuuum …
Motor trail menabrak batu, terbalik dan tentu saja kedua preman itu jatuh bergulingan. Nyaris  masuk ke anak sungai.
“Rasain lu. Mampus deh.” Kata Adam, girang bukan main setelah melihat kedua lelaki berkulit hitam legam itu terjungkal dari motor.
“Gimana Yung?” Tanya Bu Siska, berharap para preman itu tidak mengejar mereka lagi, dan secepatnya tiba di rumah sakit.
“Kayaknya masih mau ngejar Bu,” jelas Kuyung, sempat nengok dari kaca spion  kedua preman itu sudah naik motor lagi.
“Cuek ajalah, Yung.” Kata Adam.
Bu Guru Siska menelepon BiJe. Dia mempertanyakan keadaan terkini di rumah sakit. Puspa dan Darwin, apa mereka berdua terluka atau tidak.
“Alhamdulillah tidak Bu,” terang BiJe lega.
“Alhamdulillah juga,” ucap Bu Siska.
“Tapi Je, ibu minta tolong nih, bisa ya?”
“Bisa, bisa. Apa Bu?”
“Kami ini lagi di jalan. Dikejar para preman. Kami mau ke rumah sakit. Nah jadi, kalau kau tak keberatan, susullah kami …”
“Dimana posisinya sekarang Bu?”
“Sebentar Je. Jangan tutup dulu. Ibu mau tanya ke Kuyung ,” kata Bu Guru Siska.
“Yung!”
“Simpang Tugu, tak jauh Bu.” Jawab Adam.
BiJe sengaja tidak membawa serta Iqbal. Dia hanya sendirian bermotor. Teman sekelasnya itu diminta untuk menjaga sekaligus mengawal Darwin dan Puspa, mengantisipasi serangan susulan dari preman bayaran .
Sementara mobil yang disopiri Kuyung bersama puluhan mobil lain berhenti   di lampu merah. Yang membuat jantung Bu Siska berdegup amat cepat, kedua preman yang mengejar mereka,  berada di belakang mobil. Hanya dipisahkan oleh dua mobil.
“Tutup saja Bu, kacanya,”  pinta Kuyung. Semua kaca mobil ditutup rapat.
Salah seorang preman turun dari motor. Melihat dan memeriksa dari dekat pengemudi serta penum pang mobil yang berhenti di depan mereka. Kaca mobil diketuknya. Saat tiba di samping kanan mobil Kuyung, lampu hijau menyala, mobil pun melaju.
Sempat tersenggol, membuat preman tadi terjatuh dan mengeluarkan sumpah serapah di tengah bisi ng an suara klakson mobil. Dia sama sekali tak tahu kalau yang menyenggolnya barusan mobil incaran mere ka. Karena ada lima mobil hampir serupa di perempatan lampu merah dengan nomor plat yang tak ter lihat jelas karena ditutup bagian depan mobil yang mengantri di belakangnya.
Kalau saja Adam tidak mengeluarkan kepalanya, melambai-lambaikan tangan, para preman itu tidak akan serta merta melakukan pengejaran.
“Cepat sedikit bos,” kata teman preman yang sudah tak sabar mau mencincang badan Adam dan Kuyung.
Reeen sret … reeen sret …
Motor jalannya tersendat-sendat sebelum akhirnya mogok.
“Kenapa bos?”
“Enggak tahu …”
Mesin oke. Preman berpantat teos membuka jok belakang motor, lalu membuka tutup tangki bensin, melihatnya dan …
“Kampret,” umpatnya.
“Kenapa bos?”
“Habis bensin …”
Itu motor ditendang, lalu terbalik. Dibiarkan terguling di pinggir jalan, dekat trotoar.
“Apa rencana bos?”
Ssssssst …
Sebuah sepeda motor berhenti persis di dekat mereka yang lagi berdiri di trotoar. Pengemudinya seora ng pria muda usia dengan tas ransel melilit di punggungnya. Dia turun dari motor, karena baru saja mendapat telepon dari seseorang.
“Ayo kita sikat …!” Kata preman bermata biru.
Kunci motor masih tergantung di stop kontak, kedua preman itu dengan cepatnya menyalakan motor, melaju kencang menyusul Kuyung yang sudah jauh meninggalkan mereka.
Si pemlik motor hanya bisa melongo. Dia tak percaya betapa mudah dan cepatnya si maling menggasak motor kreditannya itu. Untuk mengejarnya tak mungkin, dengan apa dia mengejar dua maling motor itu.
Paling dia hanya menelopon polisi melaporkan bahwa ia baru saja kemalingan motor di tengah jalan. Tak bisa berbuat apa-apa, saking cepatnya motor berpindah tangan.
Kita tinggalkan dulu si empunya motor yang ngumpat ke sana kemari, alihkan sejenak ke BiJe. Dari ke jauhan dia melihat mobil yang dikemudian Kuyung. Ingin dia mendekat, tapi diurungkan karena di belakang mobil ada sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi.
Kriiiing …
“Ya, kenapa Je?” Bu Siska menimpali.
“Di belakang kalian, Bu, ada sepeda motor. Apa …?”
“Sebentar Je, ya.”
Adam memastikan si pengemudinya adalah preman yang mengejar mereka. Kini sudah berganti motor.
“Oke ya Bu. Saya susul  mereka dari belakang,” kata BiJe.
Posisi preman berada di tengah, di depan mobil Kuyung dan Bu Siska, di belakang BiJe siap mengawal dan tentu saja tidak akan membiarkan Bu Siska dan kedua temannya tu terluka.
Kuyung membelokkan mobilnya ke kiri, ke tempat yang agak sepi dengan kiri kanan terhampar pema tang sawah. Dia memperlambat laju mobil, lalu  berhenti di dekat sebuah warung.
Menyusul tak lama kemudian motor Sang Preman. Keduanya turun dan mendekati  Adam yang baru saja membeli kue untuk dimakan di dalam mobil.
“Tangan ke belakang, cepat!” Hardik preman berpantat teos sambil menodongkan senjata.
Adam tak memberikan perlawanan. Begitu juga dengan Kuyung, ketika dipaksa turun oleh preman satunya, dia menurut. Praktis, hanya Bu Siska yang masih aman bersembunyi di dalam mobil.
”Mana wanita itu?” Ancam si Teos pada Adam.
***

XVI
GEDEBUUUUK …
Sebilah kayu besar menghantam kepala si Teos. Terkapar. Melihat konconya terkapar, si Mata Biru ber maksud  menembakkan senjata apinya, namun keburu ditepis Kuyung. Jatuh itu senjata api ke tanah. Berhasil diamankan BiJe.
Buuuk … buuuk …
Adam mengamuk. Dia pukul sampai babak belur si Mata Biru. Kedua temannya berusaha mencegah, tapi Adam tak perduli. Ia tendang perut dan pukul muka si preman sampai tak sadarkan diri.
“Dam .. Dam, sudah.” BiJe menarik tangan kanannya yang, walaupun si Mata Biru sudah tak ingat apa-apa lagi, tetap berusaha melepaskan pukulan kea rah perut, dada, punggung dan kaki.
“Dam … Udah. Dia sudah pingsan,” Kuyung mengingatkan.
Sementara di rumah sakit, Darwin yang semula cemas dan mengkhawatirkan keselamata dirinya dan Puspa, berusaha berdiri dengan dipapah Puspa dan Iqbal.
“Kita ke kamar aja lagi, Kak,” kata Puspa, diiyakan Iqbal.
Suasana rumah sakit tempat Darwin dirawat kembali normal. Dua preman yang sempat bikin kegaduhan sudah diamankan Pak Satpam untuk kemudian diserahkan kepada pihak berwajib. Para juru rawat hilir mudik melayani pasien. Keluar dari satu ruangan kamar, masuk lagi ke kamar rawat pasien yang lain.
Kepada Puspa, Darwin menanyakan keadaan Bu Siska. Diperoleh kabar, ujar Iqbal, mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Sabar ya, Kak. Simpan dulu rindunya,” canda Puspa.
“Tahu aja kamu Pus. Kakak mau istirahat dulu ya.”
“Enggak nunggu Bu Siska dulu, Kak?” Tanya Iqbal.
“Udah ngantuk banget, Bal.”
Belum sempat Iqbal bertanya lagi, Darwin sudah tertidur pulas. Puspa menyelimuti kakaknya dengan selimut tipis. Tak seberapa lama masuklah seorang juru rawat memeriksa keadaan Darwin.
“Udah lama dik?”
“Baru aja Sus,” jawab Puspa.
“Tak lama lagi dokternya datang. Adik berdua jangan jauh-jauh,” pesan si juru rawat tersenyum ramah.
Telepon genggam berdering. Rombongan Bu Guru Siska sudah datang.  Mereka kini baru turun dari mo bil menuju pintu masuk utama rumah sakit. Iqbal yang menerima telepon bergegas ke ruang depan. Sementara Puspa menemani kakaknya di kamar perawatan.
Bu Siska mempercepat langkahnya, lebih dulu daripada BiJe, Kuyung dan Adam. Dia sudah tak sabar melihat pujaan hatinya itu. Dia tak memperdulikan yang lain, termasuk Iqbal yang menemaninya ke ruang rawat inap Darwin.
BiJe dan kawan-kawan mendapat laporan dari pihak sekolah bahwa hasil investigasi awal  mereka mengarah ke pelaku utamanya adalah Pak Patra. Kini kasusnya sudah ditangani pihak berwajib.
Pak Jack selaku kepala sekolah mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. “Tanpa bantuan kalian, entahlah, apa bisa kasus yang melibatkan sekolahan kita ini bia selesai lebih cepat,” ucap Pak Jack.
“Sampaikan salam bapak kepada Bu Siska dan Darwin ya,” kata Pak Jack.
“Insya Allah, Pak.” Jawab BiJe, mendekati kedua temannya segera menyusul Bu Siska dan Iqbal.
Puspa menyambut lega dan penuh sukacita kedatangan Bu Guru Siska. Dia peluk wanita idaman kakaknya itu. Ingin rasanya dia cium habis muka ayu dan penuh keibuan itu.
Begitu juga dengan Bu Guru Siska. Selain salah seorang anak murid kesayangannya, Puspa dianggap seperti adik kandungnya sendiri. Dimana ada Darwin, ia akan selalu ingat Puspa. Suka bercanda, perhatian dan tidak mudah ngambek, apalagi sampai merajuk.
Hubungan keduanya terjalin sangat erat, akrab. Jauh sebelum berhubungan khusus dengan Darwin, ibu dan murid ini seringkali bersama, tentu dengan siswa lain seperti Zuleha, Nile, BiJe dan Maisaroh. Ber bagi cerita, menanyakan soal pelajaran sekolah, bercanda sekedar pelepas penat yang mendera, mengusir rasa jemu dan bosan.
Kepada kakaknya, Puspa sering mengingatkan bahwa Bu Guru Siska adalah pilihannya. Soal suka atau tidak suka, dia berharap sang kakak mengutamakan akal sehat ketimbang nafsu dan rasa ego.
“Dia pilihan Puspa, kak.” Ucap Puspa pada Darwin, suatu kali.
“Kakak juga …”
“Apa kak?” Karena tak kedengaran, Puspa meminta kakaknya mengulangi sekali lagi biar puas hati ini.
“PIlihan kakak juga,” aku Darwin sambil memeluk erat Puspa. Yang dipeluk senangnyan tiada terkira.
“Sekarang tak ada masalah lagi kan? Pancing Darwin.
“Masihlah Kak.”
“Lhoo .. kan udah …”
“Yang itu udah memang. Tapi yang lain kan belum dong kak,” jelas Puspa.
“Apa dong misalnya?”
“Kawin …”
Ha ha ha ha …
Darwin mulai terjaga. Dia menyebut nama Siska. Siska yang sudah ada di sebelahnya membalasnya dengan sebutan ‘Mas Darwin.’
“Senang aku jumpa kamu lagi, Sis,” ucap Darwin terus terang.
“Siska juga senang, Mas.” Jawab Siska.
“Pus …” Bisik Darwin.
“Ya kak.”
“Mama sama papa, mana?”
“Masih di perjalanan kak. Kira-kira sepuluh, lima belas menit lagilah mereka sampai di rumah sakit ini.”
“Sis …”
“Ya Mas.”
“Orangtuamu?”
“Di rumah Mas. Adak kok. Apa suruh mereka datang sekarang, Mas?”
“Enggak usah kalau tak sempat,” jawab Darwin.
Puspa dan Bu Siska mendekatkan wajahnya ke mulut Darwin. Keduanya mulai was-was dan merasa aneh dengan ucapan Darwin barusan.
“Enggak apa-apa kok. Aku cuma nanya doang, dimana mereka, itu saja.” Bisik Darwin tersenyum geli.
“Betul enggak apa-apa, kak?”
“Betul,” jelas Darwin.
Lega hilang. Cuma sebentar, lalu timbul lagi setelah Darwin meminta Puspa membacakan Surah Yasin. Kalang kabut ia mencarinya. Kitab Yasin berukuran kecil itu akhirnya dapat di mushala rumah sakit. Di sana, selain Kitab Yasin, juga berjejer kitab suci Alquranulkarim berikut liharnya.
Kepada Siska, Darwin minta tolong diajari mengucapkan dua kalimah syahadat. Sambil berlinang air ma ta, disaksikan BiJe dan kawan-kawan, termasuk Puspa yang datang belakangan, Bu Guru Siska dengan terbata-terbata dan sesunggukan mengucapkan … “Asyhadu anal ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah…”
Bu Guru Siska mengulanginya sampai tiga kali. Setelah itu suara Darwin tak terdengar lagi. Yang ter dengar cuma suara tangisan, yang tiba-tiba pecah menyesaki ruangan serba putih itu.
Innalillahi wa inna ilaihi raajiun …
TAMAT DEH … 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar