Minggu, 06 November 2016

Kampung Kami (5)



Novel  Lepas
Kampung Kami  (5)
Edisi Kelima
By  Mang Amin

I
KETIKA pulang dari kalangan, dan berjalan sendirian sambil menenteng tas berisi sayur dan ikan, Aryati dikagetkan dengan sekelebat bayang-bayang orang melintas di samping kiri dan kanan jalan kecil me nuju kediamannya.
“Astaghfirullah,” ucapnya sambil mengusap dadanya karena terkejut.
“Setan atau manusia ya?” Tanyanya dalam hati. Aryati menghentikan langkahnya sejenak. Dia menunggu apa mungkin kelebatan bayang-bayang itu muncul lagi.
“Kalau setan tak mungkin. Ini kan masih terang hari. Jangankan sore, siang saja belum. Pasti manusia,” bisiknya dalam hati.
“Eheeem …” Aryati  memancingnya dengan ‘ehem’. Dia berharap ada suara balasan, atau paling tidak penampakan orang di depannya saat ini.
“Biar puas hati ini. Tidak penasaran melulu,” katanya, meneruskan langkahnya yang kali ini agak dipercepat.
Kreseeek …
Hik … hik … hik …
Aryati mulai ketakutan. Ingin rasanya dia berlari. Tapi niatnya itu terpaksa diurungkan karena si Tinggi dan si Pendek  sudah berdiri di depannya.
“Astaghfirullah … Bang Tinggi dan Bang Pendek rupanya.”
Seketika hilang rasa takut dan kuatir. Hanya saja, si Tinggi dan si Pendek heran kenapa Aryati tiba-tiba terkejut dan seolah melihat setan.
“Benar Bang. Yati kira tadinya abang berdua adalah setan,” aku Aryati terus terang.
Ha ha ha ha …
“Tapi tidak kan Yati?” Tanya si Tinggi.
“Masa orang seganteng ini disamakan dengan setan. Abang proteslah,” ucap si Pendek seraya merapikan rambutnya dengan jari tangan.
“Geeee … er kamu,” ujar si Tinggi. “Coba tanya Aryati, siapa yang ganteng. Aku atau kamu. Coba Dik Aryati, katakana sejujurnya,” pinta si Tinggi.
Aryati jadi serba salah. Mau dibilang jelek nanti marah, dikatakan cakep, jauh panggang dari api.
“Ganteng aku kan Dik Aryati?” Desak Tinggi dengan suara mendesah merayu.
“Abang pendeklah Yati. Tul kan?” Pendek tak mau kalah. Dia melenggok-lenggok di depan Aryati, agar dikatakan super ganteng.
“Mau sekarang jawabannya?” Aryati mengisyaratkan pada keduanya untuk terus berjalan, karena belanjaan dari pasar ini akan dimasak untuk lauk makan siang dan malam nanti.
“Mau ya Bang sambil jalan?”
“Maulah Dik Aryati,” kata keduanya. “Kalau gadis secantik adik yang minta pasti abang kabuli. Tul enggak Dek?”
“Betul .. betul Aryati. Tapi …” Si Pendek mengernyitkan dahinya.
“Soal mana yang ganteng kan Bang Dek?”
Si Pendek mengangguk.
“Dua-duanya abang,” jawab Aryati.
“Benarkah?”  Barengan si Pendek dan si Tinggi berucap.
“Benar abang. Abang berdua di mata Aryati guanteeeng sekali,” puji Aryati.
“Seganteng apakah itu wahai Dik Aryati. Abang berdua penasaran nich,” kata Tinggi sambil berjingkrak-jingkrak di depan Aryati.
“Seganteng bulan purnama …”
Haaaa …
“Bulan purnama?” Tinggi dan Pendek saling tatap, lalu berangkulan …
“Betul abang …”
“Alhamdulillah,” ujar keduanya bangga.
Keduanya  menemani Aryati hingga ke jalan menurun. Melihat Aryati agak kepayahan mencangking tas belanjaan, Tinggi dan Pendek berebutan hendak membawakan tas kulit hewan itu. Aryati ketawa geli. Hanya karena tas, keduanya nyaris adu jotos.
“Abanglah Yati,” rengek si Tinggi. Aryati belum mau melepaskan tas dari genggamannya karena ingin  melihat dulu reaksi dari si Pendek.
“Kasih ke abanglah,” sahut Pendek.
“Tapi Dik, tak cocoklah kalau si Pendek yang bawa tas adik Aryati ini,” sindir Tinggi.
“Kenapa? Sirik kamu,” prostes Pendek dengan suara tinggi.
“Badannya sudah pendek. Terus kalau bawa itu tas, apa tidak lucu. Kayak bebek Dik Aryati …”
Ha ha ha ha …
“Hei Tinggi. Pendek-pendek begini, tuh karung beras sepikul bisa aku pikul,” kata si Pendek pamer kekuatan di dekat Aryati. Tak mau kalah gengsi dengan si Tinggi.
“Jelas saja … Karungnya kosong. Cuma diisi kapuk doang. Pastilah terangkat. Anak kecil saja bisa,” ledek Tinggi cekikikan.
“Apa kamu bilang barusan?”
“Sudah … sudah …” Aryati akhirnya memutuskan dua-duanya boleh membawa tas belanjaan.
Caranya?
Dijinjing. Yang kiri si Tinggi, sebelah kanan dipegang si Pendek.
Klop kan?
“Baguslah,” ucap keduanya. Meski sempat tak terima, demi mendapatkan hati Aryati, keduanya mau berbagi membawa tas.
“Berat tidak abang?” Tanya Aryati.
“Tidak,” jawab keduaya dengan langkah tegap.
Ciyaaat …
Husyaaa …
Stooop …
Hua ha ha ha …
Mamat dan Karim muncul seketika dari balik semak dekat rumah warga yang jarang didiami. Keduanya memandang sinis si Tinggi dan si Pendek. Lalu tersenyum penuh gairah kala melihat kemolekan tubuh Aryati.
“Cantik juga,” ucap Mamat. Mengedipkan mata, dibalas Aryati dengan sapaan .. ‘siang abang’.
“Belum ada yang punya ya?” Goda Karim.
“Sudah,” jawab si Pendek.
“Siapa Dik kalau boleh abang tahu?”
“Saya,” jawab Pendek dengan raut muka masam.
Ha ha ha ha …
“Orang kayak begini yang adik pilih? Apa enggak salah pilih?” Ejek Karim.
Aryati mengiyakan saja.
“Hei Dek. Kamu itu tahu dirilah. Berkaca gitu. Masa orang semanis adik ini kamu pacari. Tak cocoklah. Jangan-jangan …”
“Apa .. apa?” Si Pendek mulai menggulung lengan bajunya. Emosinya tersulut.
“Jangan-jangan kamu Dik sudah kena pelet si Pendek …”
“Kurang ajar.” Tanpa pikir panjang lagi si Pendek menyerang Karim.
Aryati ketakutan. Dia bersembunyi di balik pohon besar setelah si Tinggi dan Mamat ikut-ikutan berke lahi. Mulanya mau mengeroyok Pendek, tapi terhalangi ketika Tinggi menahan pukulan yang mengarah ke kepala temannya itu.
Braaak 
Celana Karim robek.  Aryati menutup mukanya. Malu dia menyaksikan celana Karim yang robek di selangkangan.
“Makanya jangan pelit lu. Tuh beli yang baru. Yang bagus, biar tak mudah robek,” kata si Pendek dengan nada mengejek.
“Kampret. Belum tahu dia …”
Karim melepaskan tendangan beberapa kali ke muka, perut dan dada Pendek.  Semua tendangan lurus ke depan itu dengan mudah dihindari tapi di lain kesempatan, saat dia menangkis tendangan Karim, law annya ini justru dengan cepat meliukkan badan sambil  mendaratkan pukulan kiri dan kanan.
Duuuup … duuup … duuuup … duuup …
Karena Pendek tak menduga sebelumnya, pukulan ringa badan menggunakan telapak tangan itu tepat mengenai dada. Saat itu juga si Pendek terjungkal. Dia mencoba bangkit, namun …
“Baru tahu kan?”
Karim menindih muka Pendek dengan sepatu bututnya. Tentu saja sakit. Aryati tak tega melihatnya. Dia bermaksud menolong, tapi tak bisa. Hanya bisa menggigit bibirnya, seolah ikut menahan sakit yang di rasakan si Pendek.
Aryati memanggil-manggil si Tinggi. Baru menoleh pada panggilan ke tujuh. Melihat lawan lengah, Ma mat  melepaskan tendangan keras ke rahang lawannya itu. Mengerang kesakitan. Tinggi jatuh tersungkur.
Aryati menjerit minta tolong. Rupanya jeritan itu didengar Mamat dan Karim. Keduanya  mendekat dan  merayu Aryati, salah saeorang kembang Kampung Falah.
“Mau kemana? Goda Mamat.
“Mau pulang abang,” jawab Aryati menyeka air matanya. Kendati  sedih bercampur panik, dia masih bisa menjawab godaan Mamat dengan tenang.
“Ikut abanglah.” Rayu Karim.
“Abang sajalah,” kata Mamat.
“Kalau tak mau kenapa abang?” Tanya Aryati mulai gugup.
“Kenapa tak mau?”Karim balik bertanya.
“Karena abang berdua jahat …”
Ha ha ha ha …
“Kalau abang berdua jahat, lantas siapa yang bagus?” Mamat gantian bertanya.
“Bang Tinggi dan Bang Pendek lah,” jawab Aryati. Mulai ketakutan karena si Tinggi dan si Pendek belum juga sadar. Masih terlentang dihantam Mamat dan Karim.
“Boleh tidak kalau abang suka sama situ?” Karim mulai  nekad. Dia bermaksud  mengelus pipi hitam manis itu.
“Jangan Bang. Dosa tahu,” jerit Aryati menghindar ke kanan. Ketika mau lari …
“Ayo … mau kemana?” Mamat merentangkan kedua tangannya. Menghalangi Aryati agar tak bisa kabur darinya.
“Sudah. Jangan takutlah. Sama abang saja. Kenapa takut? Abang enggak gigit lho adik manis. Abang cuma ingin adik mau jadi pacar abang. Mau kan?”
Karim bergaya bak penari panggung. Berlenggak-lenggok ke kiri dan kanan, mencari perhatian Aryati.
“Enggak mau …” Aryati menepis tangan Mamat dan Karim yang ‘nakal’ hendak meraba payudaranya.
Saat Mamat dan Karim memaksa hendak memeluk Aryati, datanglah Ki Badrun. Dengan tangkasnya pen dekar silat ini menggagalkan rencana jahat anak buah Ki Duren ini. Dia tidak memukul.  Hanya menarik paksa badan Mamat dan Karim, lalu dilempar kencang ke dekat Tinggi dan Pendek jatuh terlentang.
Buuuk …
Grooosek …
Eeeeugh …
Sakit bukan main.  Mamat dan Karim terdorong kuat ke depan.  Kepala dan anggota badan yang lain se perti kaki dan tangan terasa berat digerakkan. Penglihatan gelap dan sulit untuk bangun serta berdiri, apalagi harus memberikan perlawanan pada Ki Badrun.
“Terima kasih Ki,” ucap Aryati lega. Rasa takutnya hilang karena lelaki yang berdiri di depannya sekarang ini tampak gagah, tampan dan sejuk dipandang.
“Lain kali jangan sendirianlah. Tak baik gadis secantik kamu jalan sendiri. Pasti banyak lelaki iseng yang akan menggoda kamu …” kata Ki Badrun.
Aryati tak menjawab sepatah katapun.
Dia cuma menunduk, menyunggingkan senyuman.
“Mari Ki antar …”
Aryati tak menolak. Tapi sebelum diantar, dia minta pada Ki Badrun, menolong si Tinggi dan si Pendek yang belum juga siuman setelah dihajar dua kakak seperguruannya.

II
APA kabar Ki Baut?
Rupanya,  setelah dilepas sepuluh pendekar kesohor yang dimotori Ki Duren, Ki Baut pergi merantau ke kota.  Di kota besar dia bertemu dengan seorang mantan ‘penjahat besar’, Ki Petruk namanya. Ki Petruk memiliki beberapa anak buah yang bertugas mengamankan wilayah usahanya.
Meski Ki Petruk sudah tidak segarang dulu, lebih banyak mendelegasikan tugasnya sehari-hari dengan orang kepercayaannya, cap sebagai penjahat tetap disandangnya.  Siapapun mereka  yang mengganggu wilayah kekuasaannya, termasuk mereka yang berada di bawah penguasaannya dan setiap bulan mem berikan upeti kepadanya, nyawalah taruhannya.
Ki Petruk tak segan-segan akan membunuh, menyiksa sampai mati, termasuk anggota keluarga pengga nggunya.  Makanya, amat  jarang penjahat mengambil risiko berseberangan dengannya. Mereka lebih banyak menempuh jalan aman.  Menjalin pertemenan dengan orang yang paling disegani di dunia ke jahatan ini.
Satu hal yang membuat orang tak sepenuhnya membenci Ki Petruk. Sikap kedermawanannya. Dia tak se gan-segan  membantu orang yang memang perlu dibantu. Lebih dari separo anak buahnya saat ini bekas anak jalanan, gelandangan dan tak punya sanak saudara. Ki Petruk memberinya pekerjaan, dan mereka bisa hidup layak saat ini.
Hal ini juga terjadi pada diri Ki Baut. Datang ke kota sepeser pun uang tak punya. Kulu-kilir mencari ma kan, tak lebih dari pengemis jalanan. Bedanya, karena Ki Baut pandai bersilat, dia sering mencari uang dengan mementaskan ilmu silat di tanah lapang terbuka.
Suatu ketika, lewatlah Ki Petruk beserta anak buahnya. Dia turun dari kendaraannya karena penasaran melihat kerumunan orang di tanah lapang. Tak biasanya warga berkumpul dengan cara berkerumun se perti itu. Terkecuali ada pesta atau pertunjukan musik dangdut yang sangat digemari warga dari berba gai lapisan.
Ki Petruk ikut bergabung dengan penonton lain yang tampak terpesona dengan kepiawaian Ki Baut me mainkan ilmu silat. Jurus-jurus yang dia peragakan mengundang decak kagum dan tepuk tangan warga yang menyaksikan, termasuk Ki Petruk dan anak buahnya.
Hampir satu jam pertunjukan itu berlangsung. Tak sekejap pun warga beringsut meninggalkan lokasi pertunjukan. Padahal  siang itu cuacanya sangat panas. Mereka tak rasakan itu dan imbas dengan kepuasan yang mereka peroleh setelah melihat Ki Baut piawai beraksi.
Mendekati Ashar, ketika Ki Baut mengemasi buntalannya dan pergi meninggalkan tanah lapang yang mulai sepi itu, Ki Petruk melihatnya, lalu berkata …
“Hebat juga jurus-jurus silat yang kau peragakan itu duhai …”
“Ki Baut.” Ki Baut memperkenalkan diri. Dia sangat senang bertemu dan bisa berkenalan dengan ‘orang hebat’ seperti Ki Petruk.
“Kamu  memang hebat anak muda. Jago silat dan masih muda pula,” puji Ki Petruk.
“Terima kasih Ki …”
“ Ki Petruk namaku …”
“Ya Ki Petruk.”
“Kamu sepertinya orang baru di kota ini ya?” Ki Petruk mengajak Ki Baut singgah sejenak di kedai kopi dekat pasar.
“Betul Ki,” jawab Ki Baut. Lebih memilih kopi kental manis saat ditawari Ki Petruk mau minum apa.
Pembicaraan pun berlanjut ke persoalan rekrutmen. Ki Baut ditawari Ki Petruk mengawasi pertokoan warga. Cuma Ki Baut ragu. Selain dia belum mengenal kota ini, ilmu silatnya pun belum mumpuni dibanding para pendekar lain di negeri ini.
“Apa tak salah Ki pilih saya?” Tanya Ki Baut sembari menyeruput kopi dan melahap pisang goreng kepok.
Ha ha ha ha …
“Kamu ini kayak enggak  kenal Ki Petruk saja,” ucap Ki Petruk ketawa lebar. Dia tampak sangat menik mati mi  kuah campur telur rebus semangkuk ukuran sedang.
“Maafkan saya Ki …”
Hua ha ha ha …
“Taka pa-apa Ki Baut. Yang penting elu terima tidak tawaranku tadi?”
Ki Baut tak punya pilihan. Jika dia menolak, hidupnya bagaimana.  Pekerjaan tak punya, rumah apalagi. Saudara dan famili juga tak ada.
“Sudah … terima sajalah Ki. Apa kamu mau gaji yang tinggi barangkali?” Pancing Ki Petruk.
“Oh tidak Ki. Bukan itu maksud saya Ki.”
“Lalu?”
“Maksud saya. Saya kan orang baru di sini, dan baru saja Ki Petruk kenal saya. Saya kuatir Ki Petruk salah pilih dan menyesal nantinya …”
He he he he …
“Kalau Ki tak keberatan, bisa tidak Ki kasih tahu ke saya, alasan penawaran Ki kepada saya?”
“Okkk .. ooooo.”
Ki Petruk tertawa lagi. Saking enaknya ketawa, lupa jika mi dalam mangkuknya sudah habis, tapi masih saja dia sendoki. Sang pemilik kedai hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Ki Petruk. Dia sudah tahu, mau menegurnya tapi segan karena lelaki yang kini menyantap mi di kedainya ini bukan orang samba rangan.
“Terus terang aku kepincut dengan ilmu silatmu Ki Baut,” kata Ki Petruk dengan volume suara jelas tapi dipelankan.
“Cuma karena itukah Ki pilih saya?”
“Betul  Ki Baut. Tapi sebenarnya banyak faktor lain yang menjadi pertimbangan, di antaranya masih muda dan kamu bisa diandalkan,” jelas Ki Petruk.
Ki Baut tak berkomentar. Dia buru-buru menghirup air kopi yang masih tersisa separo itu dengan nik matnya.
“Tugasmu nanti tidaklah susah Ki. Hanya mengawasi pertokoan saja. Itu pun tak banyak. Paling hanya sepuluh toko lah. Tak lebih. Cuma jam kerjanya full time Ki.”
“Sampai malam Ki Petruk?”
“Oh tidak. Dari pagi sampai sore hari saja. Mau kan?”
“Eeeem . Maulah saya Ki. Saya akan coba.” Kali ini Ki Baut spontan menerima tawaran Ki Petruk .
“Nah begitu … itu baru sahabat Ki Petruk. Jujur, terbuka, tegas dan dan tidak plin plan,” kata Ki Petruk mengajak Ki Baut barengan mengangkat gelas, disentuhkan  sampai mengeluarkan suara, lalu diminum airnya. Tanda telah tercapainya kesepakatan kerja kedua belah pihak.
Keesokan harinya. Ki Baut sudah mulai bekerja. Dia diantar sopir Ki Petruk.  Setibanya di areal pertokon, oleh Bang Sopir, Ki Baut diperkenalkan dengan beberapa pemilik toko dengan aneka ragam dagangan. Mulai dari toko emas, buku, kelontongan, onderdil kendaraan hingga tokok alat-alat pertanian dan sembilan bahan pokok.
Ki Baut tampak sumringah. Bukan karena  sudah bisa bekerja, tapi penerimaan para pemilik toko sangat baik padanya. Mereka mengharapkan keamanan di sekitar areal pertokoan lebih ditingkatkan lagi. Juga kenyama nan calon pembeli saat berkunjung ke toko untuk membeli barang-barang  yang diperda gangkan.
Ki Baut juga merasa tersanjung ketika ditawari pemilik toko emas secangkir kopi di depan ruko. Tentu penawaran ini tak ia ia sia-siakan.  Selain ajang mengenal lebih dekat pemilik toko dan ruko, juga paling tidak mempelajari suasana di sekitar wilayah kerjanya.
“Permisi Bang!” Kata seorang remaja putri  ketika hendak melewati  Ki Baut, masuk ke toko kelontongan.
“Maaf Bang. Boleh tanya kan?” Kata seorang ibu muda berparas cantik.
“Boleh Bu …”
“Toko yang menjual makanan hewan di mana ya Bang?”
“Ooo itu … tunggu sebentar ya Bu.” Ki Baut menemui pemilik toko emas. Diperoleh jawaban toko dimak sud tak ada di sekitar areal pertokoan.
“Mungkin ibu berjalan lagi kira-kira sepuluh meter. Belok kiri. Nah, disitu mungkin ada, Bu.” Jelas Ki Baut menirukan ucapan pemilik toko emas.
“Terima kasih Bang.”
“Sama-sama …”
Belum sempat duduk, seorang lansia minta diseberangkan jalan. Dia mengaku sudah tidak kuat karena dari rumahnya ke tempat di mana Ki Baut berada saat ini, dia tempuh dengan berjalan kaki. Lelah bukan main.
“Saya juga tak kuat lagi dengan suara bising dan klakson kendaraan,” aku si kakek sambil memegang erat pergelangan tangan Ki Baut.
Karena tak begitu ramai, menyeberanglah si kakek dan dia tampak lega karena sudah berhasil  menye berang jalan.
Ki Baut kembali ke tempat duduknya semula.
“Pagi Bang …” Sapa seorang pemuda mengenakan tas ransel punggung.
“Pagi juga Dik. Ada yang bisa saya bantu barangkali?” Tanya Ki Baut ramah.
“Gini Bang. Saya mau beli emas,” ujar si pemuda sembari mengeluarkan dompetnya.
“Uangnya cukup,” kata si pemuda setelah menghitung lembaran uang yang ia ambil dari dompet kulitnya.
“Tapi …”
“Tapi kenapa Dik?”
“Saya kuatir dirampok.”
“Kan belum beli emasnya.”
“Maksud saya Bang. Saya kan mau beli emas. Nah, itu dia. Saya belinya banyak juga kan. Kira-kira enam belas suku. Saya pulang kan naik motor. Nah,  takutnya saya, di tengah jalan nanti saya dirampok orang. Bisa enggak Bang bantu saya. Pleaaase …”
“Mengawalmu begitu?”
Si pemuda mengangguk.
Ki Baut belum memberikan jawaban apa pun. Dia menelepon Ki Petruk dulu. Atas dasar kemanusiaan, akhirnya Sang Bos memberi izin dengan syarat tidak terlalu lama dan sedapat mungkin diketahui pemilik toko emas dan rekan-rekannya yang lain.
Si pemuda melonjak kegiranga usai Ki Baut bersedia menemaninya sampai ke kantor membawa emas perhiasan. Selama dalam perjalanan,  dia tak henti-hentinya memuji kebaikan hati Ki Baut yang bersedia ikut dengannya menggunakan sepeda motor.
Saking asyiknya mengobrol dan memuji, si pemuda lupa kalau sudah berada di lampu merah. Hijau baru saja berlalu, berarti si merah belum lama menyala. Artinya, tidak sebentar antrean di atas motor dengan pengendara yang lain.
Saat itulah, sebuah sepeda motor menghampiri Ki Baut. Dengan cepat merampas tas kecil yang melilit di pinggang si pemuda.
Cekekeeeek ..
Sereeet …
Lepaslah tas pingang itu. Tapi si perampas tas tak bisa kabur . Pasalnya, setelah berhasil menyikat tas si pemuda yang berisi emas, dan hendak kabur dengan emas rampasannya, dua sepeda motor berhenti di depan, sehingga menghalangi laju motor dua lelaki begal itu.
Duuuup …
Kelepaaaak …
Guuuup …
Hanya dengan satu kali pukulan menyasar ke muka, dan tendangan kaki mengarah ke perut, kedua perampas tas itu terjatuh dari motornya.
Gaaar …
Auuuwww …
Motor lumayan besar itu menimpa si perampas. Keduanya menjerit kesakitan. Jangankan mau lari, mele paskan diri dari tindihan motor saja tak bisa. Kenapa? Karena motor yang ikut terjatuh dengan mesin ma sih menyala ini diinjak kuat oleh  Ki Baut, dan beberapa pengendara motor lain yang kesal melihat ulah begal khir-akhir ini.

III
SORE hari ini siswa Taman Pendidikan Nurul Falah belajar sekaligus praktik salat Dhuha. Sebelum Bu ri Hapsari datang.  Maskur dan teman-temannya yang berjumlah sepuluh orang meluangkan waktu  ber main cak ingkling dan yeye di pelataran masjid. Juga ada yang bermain kelereng, lubang cino, orang menyebutnya. Seru nian. Riuh terdengar.
Keriuhan itu bermula ketika Murni dan Leni berebutan untuk main yeye. Keduanya sama-sama meng klaim paling duluan bermain yeye. Bukan hanya mereka berdua. Yandi, Andi, Bagus dan Maskur pun sempat cekcok mulut ikhwal lubang cino. Masing-masing mengaku menang dan yang kalah harus mengikhlaskan kelereng mereka diambil si pemenang.
Namun cekcok mulut dan keriuhan itu mereda setelah Bu Sri Hapsari tiba di masjid. Setelah memberi salam, ia kemudian meminta para siswanya untuk mengambil air wudhu guna menunaikan salat Ashar berjamaah.
”Baru setelah itu kita memulai pelajaran,” kata Bu Sri. Siswa pun berebutan menuju kran dekat kamar kecil. Gelak tawa dan saling dorong mewarnai tingkah polah mereka sore hari ini.
Andaikata saja Bu Sri tidak menasihati mereka agar jangan berlama-lama mengambil air wudhu, tentu lah Bagus dan kawan-kawan keenakan bermain air. Ciprat sana ciprat sini. Dingin dan terasa sejuk di tengah panasnya ciaca hari ini.
Sekitar pukul empat sore, salat Ashar berjamaah it selesai dikerjakan. Pelajaran pun segera dimulai.
“Hari ini kita belajar bagaimana mengerjakan salat Dhuha dengan cara yang baik dan benar,” kata Bu Guru Sri sambil menuliskan ‘Salat Dhuha’ di papan tulis. Siswa serempak menulis, lalu …
“Apa itu Bu, Dhuha?” Tanya Nabila.
“Dhuha atau salat Dhuha adalah salat sunat yang dikerjakan pada waktu matahari naik setinggi penggalan atau setinggi tombak. Rasulullah SAW SAW sangat menganjurkan kita untuk menunaikannya,” jelas Bu Guru Sri.
Kenapa?
“Ya, kenapa Bu Guru?” Dahlia, saking bersemngatnya bertanya, lupa untuk duduk setelah berdiri tadinya.
“Karena membuat kehidupan yang mengerjakannya menjadi tenteram dan damai serta segala kebutu hannya akan dicukupi oleh Allah SWT. Selain tentunya sebagai pengganti shadaqah,” terang Bu Sri.
“Selain itu anak-anakku,” kata Bu Sri, “Dengan kita salat Dhuha dapat menyelamatkan kita dari jilatan api neraka, sesuai dengan sabda Nabi: “Barangsiapa yang mengerjakan salat Subuh, kemudian terus duduk d tempat salatnya untuk dzikrullah sampai matahari terbit, kemudian ia teruskan dengan mengerjakan salat Dhuha dua rakaat, Allah SWT haramkan api neraka untuk menyentuhnya atau memakan dirinya.”
“Terakhir anak-anakku, siapa yang suka dan gemar menunaikan salat Dhuha, maka yang bersangkutan akan dimasukkan ke dalam golongan  orang-orang yang bertobat,” tandas Bu Sri.
“Waw .. keren sekali ya Bu. Aku mau Bu,” ucap Yandi bersemangat.
“Sudahlah Yandi. Subuh saja sering lewat kamu itu,” ledek Maskur.
“Siapa bilang?”
“Ibumu …”
Ha ha ha ha …
“Ketahuan … Malu oi,” sindir siswa perempuan.
“Mending aku, cuma Subuh. Kamu Kur, Ashar juga lewat. Payah kamu …”
“Kata siapa?”
“Kata bapakmu …”
He he he he …
“Ketahuan kamu, Kur. Bikin malu kita saja,” kata teman-temannya yang laki-laki.
“Buuu …!”
Siswa serentak menoleh ke belakang. Marni mau bertanya. Tak seperti biasanya, ia tunjuk tangan. Selama ini lebih banyak diam dan bercanda dengan teman-teman sekelasnya saja.
“Kalau kita yang di sekolah bagaimana Bu? Apa perlu juga kerjakan salat Dhuha?”
Plak .. pak .. plak … pak …
Teman-teman sekelasnya memberi appluse …
“Anak-anakku yang wajib tetap dahulukan. Khusus salat Dhuha, seminggu sekali tak mengapa juga diker jakan. Misalnya hari Minggu. Kan tidak sekolah. Nah, daripada melamun tak ada kerjaan, mending salat Dhuha. Bagaimana, setuju tidak dengan pendapat ibu barusan?”
“Setujuuuuu …”
“Tapi …” Dahlia tampak keberatan.
Walah walaaaah … payaaah.
“Kenapa Dahlia? Kamu tak suka apa?”
“Bukan tak suka Bu. Tapi pagi Minggu sudah di sawah bersama orangtua …”
“Ya disawahlah Dahlia salatnya. Begitu saja rebet amat kamu,” celetuk Andi.
“Iya Dah. Nanti kamu masuk neraka, baru tahu rasa.” Timpal Marni.
“Jangan melawan ibu guru Dahlia. Kuwalat nantinya,” nasihat Nabila.
Ribut-ribut soal Dahlia, Bu Guru Sri menasehati siswa didiknya agar pandai-pandailah membagi waktu. “Kalau lagi sibuk ya taka pa-apa,” jelas Bu Sri.
“Betul Bu Guru?” Dahlia seolah tak percaya.
“Betul Dahlia.”
Horeeee …
Dahlia pun berdiri sambil mengepalkan tinjunya, lalu berkata … Hidup Dahlia .. Hidup Dahlia …
Teman sekelasnya pada terheran-heran melihat tingkah Dahlia barusan. Sampai harus mengepalkan tinju segala. Apa memang mau mengajak berkelahi.
“Tidak Bu. Senang saja. Artinya, saya bebas bu dari Dhuhanya.”
“Iya  iya …” Kata Bu Sri seraya mengingatkan siswa yang lain untuk tidak melupakan salat Dhuha.
“Mau kan?”
“Mau Bu Guruuuuu …”
Sekarang, kata Bu Guru Sri, kita lanjutkan dengan waktu dan bilangan rakaat salat Dhuha.
“Ternyata anak-anak waktu mengerjakan salat Dhuha adalah ketika matahari naik setinggi tombak sampai tengah hari sebelum masuknya waktu Dzuhur,” terang Bu Sri.
Kapan?
“Kira-kira mulai dari pukul tujuh pagi sampai pukul sebelas waktu setempat,” ujar Bu Guru Sri. Sedang kan bilangan rakaatnya paling sedikit dua rakaat dan sebanyak-banyaknya delapan rakaat.
“Mengerti anak-anak sampai disini?”
“Mengerti Bu Guru,” jawab siswa serempak.
“Cuma mengerjakannya bagaimana Bu Guru?” Tanya Maskur.
“Ada yang bisa dari kalian anak-anak menjawabnya?”
Siswa terdiam. Sama-sama menggelengkan kepala.
“Baiklah, sekarang ibu terangkan ya. Dengarkan baik-baik,” ujar Bu Sri. Meski sore hari, tak sedikit pun terlihat gurat kelelahan di wajah siswa didiknya.
“Jadi anak-anakku,” kata Bu Sri, “Cara mengerjakan salat Dhuha itu pada dasarnya sama dengan salat sunat lainnya. Hanya niatnya saja yang berbeda …”
Niat salat sunat Dhuha sebagai berikut : “Ushalli sunnatadh dhuha rok’ataini lillaahi ta’ala, allahu akbar …” Artinya,  Saya berniat salat sunat Dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala … Allaahu akbar …”
Sedangkan surat yang dibaca adalah, setelah membaca surat  Al-Fatihah pada rakaat yang pertama, di lanjutkan dengan membaca surah Asy-Syams. Pada rakaat kedua, setelah membaca surat Al-Fatihah, kita membaca surat Adh-Dhuha.
Doa yang dibaca setelah selesai salat Dhuha adalah …
   “Ya Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah dhuha-Mu, keagungan adalah Keagungan-Mu, kein dahan adalah Keindahan-Mu, kekuatan adalah Kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, penja gaan adalah Penjagaan-Mu ….
    Wahai Tuhanku, apabila rezeki di atas langit, maka turunkanlah, apabila berada di bumi, maka keluarkanlah. Apabila sukar, maka mudahkanlah. Apabila haram, maka sucikanlah, apabila jauh, maka dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, Keagungan-Mu, Keindahan-Mu, Kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu  
     Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku rezeki sebagaimana rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah …”

IV
DI Kampung Mawar …
“Ayo ibu-ibu dan bapak-bapak … Kok pada loyoooo .. “Teriak Ki Suri dan Ki Badrun kala mengomandoi latihan silat warga Kampung Mawar. Keduanya sepakat untuk menggabungkan laki-laki dan perempuan guna menghemat waktu dan mengefektifkan latihan.
“Bu Salim, kenapa berhenti? Tegur Bu Eko. Baru satu kali putaran lari berkeliling tanah lapang, Bu Salim sudah ngos-ngosan.
“Capek, Bu Eko.” Jawab Bu Salim sejujurnya.
Dia berjalan ke pinggir lapangan agar tidak ‘ketabrak’  teman-teman lain sekampung yang ikut berlatih ilmu bela diri silat.
“Ini aku bawa minyak angin cap kapak,” kata Bu Eko, yang menemani Bu Salim, memberikan sebotol ke cil minyak angin untuk diteteskan di tangan sebelum diusapkan ke  anggota badan yang sakit.
Sementara warga yang lain tetap berlari, Ki Badrun mendekati dua siswa latih silatnya yang masih duduk di pinggir lapangan. Melihat kedatangan Ki Badrun, keduanya buru-buru berdiri.
“Waduh .. kompak amat,” kata Ki Badrun tersenyum ramah.
“Sore Ki,” sapa keduanya sambil membungkukkan badan memberi hormat.
“Saya lihat tadi …”
“Betul Ki,” ujar Bu Eko, “Ini kakinya Bu Salim, sepertinya menyut-menyut. Tapi, sudah tidak lagi. Begitu kan Bu Salim?”
“Benar Ki Badrun. Berkat minyak angin cap kapak Bu Eko, kaki saya sembuh seketika …”
Ha ha ha ha …
“Alhamdulillah,” ucap Ki Badrun lega. Dia kuatir siswa didiknya mengalami cedera karena bisa mengganggu kegiatannya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.
“Kalau mau stop dulu latihannya hari ini boleh Bu Salim,” imbuh Ki Badrun.
“Janganlah Ki. Sudah tanggung. Kita kan jarang bisa ketemuan seperti ini kecuali acara ngantenan,” kata Bu Eko.
“Bu Salim?”
“Iya Ki. Rasanya masih kuat untuk berlari asalkan tidak cepat. Cuma nanti kalau terasa nyeri dan menyut lagi, boleh kan Ki istirahat lagi,” ujar Bu Salim.
“Boleh Bu Salim. Saya ingin ibu-ibu santai tapi serius. Saya juga tak ingin ibu-ibu mengalami cedera. Kan bisa repot nantinya,” ujar Ki Badrun.
“Yang masak siapa nanti ya Ki,” ledek Bu Eko.
Ha ha ha ha …
Dua putaran Bu Eko dan Bu Salim masih sanggup. Keduanya dapat menyelesaikan lari mengitari lapa ngan bersama ibu-ibu yang lain, kendati  harus berada di posisi paling buncit.
“Sekarang baris yang rapi ya ibu-ibu.” Kata Ki Badrun dan Ki Suri.
Ada apa?
Para ibu cemas menunggu. Apa masih harus berlari lagi. Soalnya, menyelesaikan lima putaran saja sudah capeknya minta ampun.
“Tidak ibu-ibu. Larinya sudah selesai. Sekarang dua-dua maju ke depan.” Ki Badrun memberikan kesem patan pada Bu Eko dan Bu Salim tampil lebih dulu ke depan.
“Ini  bolanya Bu. Memang tidak besar bolanya. Nah, nanti Bu Eko atau Bu Salim pegang ini bola, lalu yang lain mengambilnya tanpa menyentuhnya, apalagi sampai mendorong tubuh temannya. Usahakan dapat, tapi kalau tidak, ya tidak apa-apa,” jelas Ki Suri.
“Ada pertanyaan Bu?” Tanya Ki Badrun.
“Ada Ki,” kata Bu Eko.
“Silakan Bu Eko …”
“Itu bola persisnya dipegang atau ditaruh dimana Ki?”
“Dipegang saja, Bu. Begini saya contohkan …”
Ki Badrun memegang itu bola. Lalu Ki Suri mencoba mengambil bola itu  tanpa menyentuh  tangan dan anggota badan Ki Badrun yang lain.
“Begitulah kira-kira Bu. Yang mengambil bola boleh kemana saja. Tapi tidak boleh menyentuh badan yang pegang bola. Kalau bola dapat permainan selesai. Paham ya Bu Eko dan Bu Salim?”
“Paham Ki,” jawab keduanya serempak.
Bu Eko yang memegang bola. Dipegang dengan tangan kanan. Lalu Bu Salim mencoba mengambilnya. Dapat. Tapi tangan Bu Eko yang dapat. Bolanya jatuh menggelinding di tanah.
Ha ha ha ha …
“Kebanyakan nyiang iwak Ki,” teriak seorang bapak berbadan kerempeng berkopiah hitam miring ke kanan.
“Bukan iwak, tapi duit.” Kata yang lain.
Hua ha ha ha …
“Jadi selanjutnya bagaimana Ki?” Bu Eko bermaksud memberikan itu bola tapi Ki Badrun meminta siswa latihnya itu tetap memegangnya.
“Diulang ya Bu,” ujar Ki Suri.
“Nanti .. usahakan tak sampai jatuh ya Bu Eko. Pegangnya agak kuat dan Bu Salim harus cepat mengam bilnya. Kayak orang …”
“Nyolong ya Ki,” kata si bapak berbadan tambun tapi berkaki kurus.
“Ya begitulah …”
Ha ha ha ha …
Warga yang menonton ketawa terpingkal-pingkal menyaksikan Bu Salim yang berusaha mengambil itu bola dari tangannya Bu Eko. Soalnya, selalu dihalangi Bu Eko dengan badannya. Misalnya, tangan kanan. Ketika Bu Salim mau mengambil itu bola, Bu Eko menghalanginya dengan bergeser ke kanan. Jadi yang kena, kalau tidak teteknya, ya pusar.
Auuuw …
Ha ha ha ha …
Karena kesal tak pernah berhasil mendapatkan itu bola, Bu Salim akhirnya memegang puting susu Bu Eko. Ditarik cepat, lalu dilepaskan kembali.
Ki Badrun dan Ki Suri terpaksa ketawa melihat adegan barusan.
“Enggak biasa neteki bayi  Bu Eko itu, Ki.” Ledek bapak berjidat lebar.
Bu Eko masih meringis kesakitan. Walaupun bukan sakitnya itu yang ia sesalkan. Tapi malunya itu bikin dia terdiam.
“Maafkan saya Bu Eko.” Bu Salim mengusap lembut sekitaran payudara Bu Eko yang sakit.
“Malu ah … “Ucap Bu Eko seraya meminta Bu Salim menghentikan usapannya.
“Bu Eko …”
“Ya sudah. Saya maafkan Bu Salim,” terang Bu Eko.
Ki Badrun, selanjutnya meminta Bu Seli dan Bu Sani maju ke depan. Menggantikan Bu Eko dan Bu Salim yang sudah kembali ke tempat duduknya masing-masing.
“Ayo Bu Sani. Jangan malu-malu kucing,” teriak pemuda berambut gondrong.
Bu Sani memang ragu-ragu untuk ke depan. Dia bersikap seperti itu karena menunggu Bu Seli yang ma sih membetulkan letak bajunya yang kusut di bagian bawahnya.
Plak … pak … plak … pak …
Para siswa didik silat dan warga yang ikut hadir menyaksikan ikut memberikan tepuk tangan setelah Bu Seli melambaikan tangannya dengan mengangkat silih berganti kedua tangannya. Keduanya kini sudah berdiri di hadapan Ki Suri dan Ki Badrun. Mereka menunggu instruksi.
“Sudah tahu kan ya Bu permainannya,” kata Ki Suri seraya menyerahkan bola plastik itu kepada Bu Seli.
“Bu Seli yang pegang, Bu Sani yang mengambilnya.  Setuju?”
“Setuju Ki.”
“Baiklah kalau begitu. Bapak-bapak dan ibu-ibu serta penonton sekalian. Permainan dimulai …”
Huuuup …
Terlalu kuat mendorong tubuhnya untk mengambil bola di tangan kanan Bu Seli, Bu Sani jatuh ter sungkur karena dengan cepatnya Bu Seli menarik tangan kanannya ke kiri dan …
He he he he …
“Aduh!” Hidung dan mulut Bu Sani terkena batu kerikil dan tanah liat. Tidak sampai berdarah, tapi lecet dan perih rasanya.
“Nangkap hantu, Ki.” Seloroh penonton.
“Hantu tak berkaki, Ki.” Sahut penonton yang lain.
“Bukan nangkap hantu, tapi nangkap laki yang takut dimintai uang belanja,” timpal bapak berkepala gundul.
Ha ha ha ha …
“Sakit ya Bu. Maafkan saya!” Bu Seli mengusap kotoran tanah yang masih menempel di tangan Bu Sani.
“Maaf ya Bu. Tak sengaja.”
“Ya ya. Sudah …”
Ki Badrun memberikan obat tetes merah merek betadine kepada Bu Seli. Obat itu ia teteskan di kapas, lalu diusapkan di sekitar pergelangan tangan  Bu Sani yang terluka.
 Sempat meringis menahan sakit. Namun Ssetelah itu sudah bisa tertawa lagi . Penonton pun berteriak histeris.
“Lanjut …”
“Pantang mundur Bu Sani.” Teriak yang lain memberi semangat.
“Hidup Bu Sani.”
“Hidup Bu Seli.”
“Mau lanjut Bu?”
“Bagaimana ya Ki Suri?” Bu Seli jadi ragu. Sedangkan Bu Sani bersedia melanjutkan tapi yang pegang bola dia, bukan Bu Seli.
“Bu Seli masih …?” Tanya Ki Badrun.
“Baiklah Ki. Saya lanjut …”
Saat Bu Seli bersiap mengambil bola di tangan Bu Sani, dua ekor kucing saling berkejaran. Melompat dan bikin kaget Bu Sani. Bola terlempar ke atas, jatuh persis di mulut penonton yang ngorok karena ketidu ran.

V
“CUKUP bapak-bapak …! Kata Ki Semangka dan Ki Anas kepada beberapa lelaki warga Kampung Berkah yang mengikuti latihan silat di pelataran balai desa.
Lelaki yang sebagian besar berkulit hitam legam itu secara bersama-sama membawa puluhan genteng bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Genteng-genteng itu ditumpuk jadi satu di bawah pohon mangga yang lebat buahnya.
Genteng-genteng itu kemudian dijejerkan jadi tiga bagian. Selain kaum bapak, ibu-ibu Kampung Berkah juga ikut dalam latihan silat bersama-sama ini. Mereka dibagi dua kelompok. Kelompok bapak-bapak dan kelompok ibu-ibu.
Dari puluhan warga yang tampak bersemangat ingin mempelajari ilmu silat itu, ada juga remaja belasan tahun, tanpa mengikutsertakan anak-anak yang lebih suka menonton dan meramaikan latihan bela diri tersebut.
Mereka tidak dalam posisi berdiri, tapi duduk lesehan menghadap ke depan. Di depan Ki Semangka dan Ki Anas sudah duduk lebih dulu sambil berdiskusi. Warga tak pula tahu apa yang keduanya diskusikan. Selain tawa dengan sesekali tersenyum ramah kepada siswa latih sore hari ini.
“Nah, bapak-bapak dan ibu-ibu,” kata Ki Semangka yang segera berdiri, lalu berjalan mendekati jejeran genteng yang hampir berlumut itu.
“Ini ada tiga tumpukan genteng ya bapak-bapak dan ibu-ibu. Masing-masing tumpukan itu ada dua buah genteng …”
Warga tampak antusias mendengar penjelasan awal Ki Semangka.
Pertanyaannya, untuk apa genteng-genteng ini dijejerkan dan ditumpukkan jadi dua lapis?
“Ya Ki. Untuk apa memangnya?” Tanya lelaki berhidung betet.
“Untuk bikin pondok,” celetuk beberapa lelaki yang masih muda usia.
Ha ha ha ha …
“Genteng ini untuk dipukul oleh …” Ki Semangka sengaja tidak meneruskan kata-katanya. Dia ingin siswa latihnya mencari jawaban sendiri.
“Tukang pukul, Ki.” Jawab remaja berambut cokelat.
Ha ha ha ha …
“Bukan Ki. Tapi dipukulkan ke kepala,” kata yang lain.
Hua ha ha ha …
“Tentu,” jelas Ki Semangka, “ Dipukul oleh bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian …”
Haaaa?
Kebanyakan kaum ibu terkejut. Apa mungkin mereka akan memukul dan memecahkan genteng dua la pis itu. Soalnyam ini genteng bukan ikan atau sisa kayu hutan yang sering mereka belah kecil-kecil jadi kayu bakar untuk menanak nasi, air dan lauk pauk.
Suasana pun riuh. Ada yang mau pulang, ada juga minta izin tidak ikut latihan kali ini. Baru akan ikut pada latihan berikutnya. Namun tak sedikit ada juga yang tetap memaksa, mencoba walaupun masih tersirat tanda tanya, bisa atau tidak.
Kaum bapak pada senyum-senyum geli mlihat kegelisahan  kaum ibu. Adajuga rasa iba. Tapi ini kan latihan. Kalau tidak dicoba, kapan bisanya.
“Tenang saja ibu-ibu,” kata bapak beralis tebal yang sudah memutih.
“Anggap saja lagi memukul anak kita yang nakal dan kurang ajar,” ujar yang lain disambut derai tawa.
“Ki … boleh tanya?” Bu Jali memberanikan diri bertanya karena desakan teman-teman di dekatnya.
“Boleh Bu,” kata Ki Anas.
“Sakit enggak ya Ki? Soalnya kami ini belum pernah coba itu genteng,” jelas Bu Jali.
Ha ha ha ha …
“Biasa numbuk cabe,” ledek bapak-bapak serempak sambil tertawa lepas.
“Sakitnya enggak seberapa ibu-ibu. Kan tak usah kuat-kuat mukulnya. Pelan saja. Misalkan tak pecah ya sudah, ganti yang lain ….”
“Oooooo …”
Ibu-ibu pun tersenyum mendengar penjelasan Ki Anas barusan. Mereka tidak terbebani lagi. Yang penti ng, pukul itu genteng. Pecah atau tidak urusan belakangan.
“Siap Ki,” jawab ibu-ibu dengan wajah ceria. Sumringah.
“Baiklah kalau begitu. Oh ya saya lupa. Setelah ibu-ibu, bapak-bapak giliran berikutnya.” Terang Ki Anas.
“Untuk bapak-bapak harus lebih dari dua Ki,” teriak ibu dengan rambut berkepang dua.
“Gentengnya harus sepuluh Ki,” sahut Bu Rizki, Ketua PKK Kampung Berkah.
“Kalau tidak pecah suruh mereka nyangkul sampai tengah malam, Ki,” ujar Bu Jana.
“Bila perlu diarak sekalian, Ki.” Kata Bu Jali.
“Enggak usah pakai celana dan baju, Ki.” Sahut Bu Tumis.
Ha ha ha ha …
“Ya sudah. Untuk bapak-bapak harus bersabar. Menunggu giliran setelah ibu-ibu mendapat giliran pecahkan genteng,” jelas Ki Semangka.
“Sekarang kita panggil ke depan Bu Jali, Bu Tumis dan Bu Jana,” kata Ki Anas dengan suara lantang.
Majulah ketiganya ke depan. Duduk bersimpuh menghadapkan muka mereka ke genteng dua lapis.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Kaum bapak bertepuk tangan. Memberi semangat sekaligus menunggu harap-harap cemas apa yang bakal terjadi …
“Siap ya. Telapak tangannya lurus. Kayak kita mau bersalaman …”
“Luruskan lagi, jangan letoy,” ujar Ki Semangka.
“Maaf ya Bu Jali,” kata Ki Semangka seraya meluruskan tangan siswa didiknya itu …
“Coba Bu luruskan,” imbuh Ki Semangka.
Bu Jali tarik nafas sebentar. Lalu meluruskan telapak tangan kanannya ke depan, persis di atas tumpukan genteng.
“Bagus Bu Jali,” ucap Ki Anas.
“Siap ya?” Ki Semangka memberi aba-aba.
“Siap Ki.” Jawab Bu Jali, Bu Tumis dan Bu Jana.
“Satu … dua … tiiiii … ga.”
Huuup …
Dug …
Auuwww …
“Aduuuuh …”
Ha ha ha ha …
Penonton tertawa melihat Bu Jali dan dua rekannya mengaduh kesakitan. Jangankan pecah, bergerak saja tidak gentengnya. Mereka serempak mengusap-usap telapak tangan yang memerah tapi tidak sampai menimbulkan luka.
“Kita coba sekali lagi ya,” kata Ki Anas.
“Mau kan ibu-ibu.” Ki Semangka terus  memberi semangat kepada Bu Jali, Bu Tumis dan Bu Jana untuk mencoba sekali lagi. Mana tahu berhasil.
Apa mau?
“Harus mau, Ki.” Kata Pak Erte, “Goyang sedikit jadilah …”
Ha ha ha ha …
“Goyang apa Pak Erte?” Tanya pria bermata sipit sebelah kanan.
“Goyang dangdut …” Teriak yang lain serempak.
Hua ha ha ha ha …
Bu Jali, Bu Jana dan Bu Tumis masih berpikir. Mereka berunding sejenak, mau lanjut atau stop. Ki Se mangka memberi kesempatan, tapi jangan lama-lama, kasihan yang lain, sudah menunggu giliran.
“Ayo Buuuu …” Teriak Pak Erte memberi semangat.
“Jangan bikin malu Bu. Lebih baik tetap maju daripada bikin malu, apalagi sampai mati kutu,” kata bapak berhidung jambu.
He he he he …
“Baiklah KI, tapi …” Bu Jali mengajukan permintaan. Sengaja dia tak omongkan karena kuatir bahan ledekan bapak-bapak. Cukup dibisikkan saja ke telinga Ki Anas dan Ki Semangka.
“Baiklah kalau begitu,” jawab Ki Semangka.
Bu Jali dan dua temannya ini duduk berdekatan. Lalu dengan cepat mereka pukul sama-sama itu genteng.
Braaak …
Kraaagh …
Plak .. pak .. plak .. pak …
Pecah juga gentengnya. Ketiganya diminta Ki  Semangka berdiri dan membungkukkan badan. Memberi hormat kepada siswa yang lain, termasuk penonton yang belum juga mau berhenti bertepuk tangan.
“Wuuu .. kalau cuma begitu, kami juga bisa Bu Jali,” kata bapak berambut cepak.
“Jangankan dua genteng, sepuluh genteng disikat habis,” sahut bapak di dekatnya.
Bu Jali tidak mengomentari ucapan bapak-bapak itu. Dia sudah menduga bakal banyak protes karena ber tiga memecahkan tumpukan genteng. Pertimbangan Bu Jali, daripada gagal kalau sendiran, kan lebih ba ik berhasil tetapi dilakukan sama-sama.
“Nah .. sekarang giliran bapak-bapak,” kata Ki Semangka tertawa lebar menyusul para ibu yang ketawa lebar melihat Pak Erte garuk-garuk kepala.
“Tak usah takut Pak Erte,” kata Bu Jali.
“Siapa yang takut?” Ucap Pak Erte.
“Tadi kenapa garuk-garuk kepala segala. Aduh Pak Erte .. Ngomong saja kalau tak mampu …”
“Potong saja burungnya Pak Erte kalau sampai gagal pecahkan genteng,” seloroh Bu Jana.
Ha ha ha ha …
“Bagaimana Pak Erte? Mau sendirian atau ditemani?” Tanya Ki Anas.
Pak Erte berpikir sebentar.
“Berdua saja Ki.”
“Silakan dipilih sendiri temannya Pak Erte,” ujar Ki Semangka.
Pak Erte memandang satu persatu  warganya. Mondar-mandir sampai tiga kali. Belum ada yang dia pilih. Kenapa? Karena warga pada menunduk semua. Muka tak tampak.
“Dasar enggak punya nyali.” Kata Bu Jali.
“ Takut dipilih. Pengecut. Ngomongnya saja yang besar, nyalinya sebatas tali pusar,” ujar Bu Tumis.
Ho ho ho ho …
Merasa diejek, kompak mengangkat kepala, tampaklah muka. Mengacungkan jari telunjuk, siap menemani Pak Erte.
“Satu saja bapak-bapak,” kata Ki Semangka.
Terpilihlah Pak Sawer yang menemani  Pak Erte memecahkan genteng.
“Senangnya Pak Erte dan Pak Sawer,” ucap Ki Anas setelah menumpuk lebih dari dua belas lapis ganteng jadi satu.

VI
BAGAIMANA dengan warga Kampung Melati?
Ki Saung dan Ki Solar. Keduanya punya cara unik dalam latihan perdana silat sore hari ini. Mereka meminta warga, baik laki-laki maupun perempuan, untuk berkumpul di tepian sungai dengan me nyiapkan peralatan mandi yang dibawa dari rumah.
Mau berenang?
Bukan. Mereka diminta untuk menyelam. Setiap peserta latihan akan diuji berapa lama mereka menye lam di dalam air. Hal ini baru kali pertama dilakukan warga Melati. Selama ini, terutama ibu-ibu, kalau tidak mandi dan mencuci pakaian, mereka biasanya menumpang perahu ketek untuk menyeberang ke kampung sebelah. Jadi berlama-lama menyelam jarang mereka lakukan, dan bahkan ada yang tidak pernah melakukannya sama sekali.
“Kalau takut, ngomong ya. Jangan diam saja,” kata Ki Solar setelah melihat beberapa orang ibu berbisik-bisik dengan nada takut.
“Yang takut tunjuk tangan …” Ujar Ki Saung.
Serempak menunjuk.
“Ibu-ibu semua ya? Bapak-bapaknya berani tidak?” Tanya Ki Saung.
Dasar gengsi. Tak seorang pun dari remaja dan bapak-bapak yang mau dan bersedia angkat jari tangan nya. Hanya ada seorang lansia. Karena keburu dicolek rekannya yang masih muda, dia turunkan lagi jari tangannya.
“Baiklah, kalau begitu kami mau nanya sama ibu-ibu, kenapa takut menyelam?”
“Saya, Ki Solar.” Seorang ibu berbadan tambun minta kesempatan bicara.
“Silakan ibu … ibu, siapa nama?”
“Bu Tesi …”
Ha ha ha ha …
“Ngomong saja Bu takut dengan hantu banyu,” celetuk Pak Sandi.
Ha ha ha ha …
“Enggak usah takut Bu. Kan kita awasi enggak jauh. Dekat sini. Kalau tak tahan lama, ya sebentar saja. Kita tidak marah Bu. Yang penting Bu Tesi dan ibu-ibu yang lain mau mencoba merasakan enaknya menyelam …”
“Tapi Ki, apa saat kita menyelam nanti, aman dari gangguan buaya begitu?” Tanya Bu Reni.
“Insya Allah aman Bu,” jawab Ki Saung.
Mendengar penjelasan Ki Saung dan Ki Solar, para ibu dan remaja puteri mulai sedikit demi sedikit ada rasa berani. Selain tak dipaksa untuk menyelam beberapa lama, lokasinya pun hanya di pinggiran sungai dan dekat dengan penonton. Jadi kalau ada sesuatu yang menimpa kita, toh ada yang cepat menolong, memberikan bantuan dan menyelamatkan kita.
“Jadi artinya ibu-ibu, yang menyelam itu bukan hanya satu orang, tapi bisa dua, tiga dan bahkan empat orang. Enak kan? Nah, pasti seru ..” Jelas Ki Solar.
“Bagaimana? Mau kan menyelam?” Tanya Ki Saung dengan suara lantang.
“Mau Kiiiii …” jawab para ibu dan remaja puteri Kampung Melati dengan raut muka cerah ceria.
“Alhamdulillah,” ucap Ki Solar dan Ki Saung, kemudian mengalihkan pandangannya ke kaum bapak dan remaja putera yang sedari tadi tak henti-hentinya cekikikan.
“Coba saya tanya kepada bapak yang sudah berubah rambutnya itu,” tunjuk Ki Saung pada laki-laki lansia yang sempat mengangkat jari tangannya tadi.
“Saya Ki?” kata bapak yang paling tua dari warga Kampung Melati yang ikut latihan ilmu bela diri silat.
“Bapak sudah siap untuk menyelam?”
“Sudah siap Ki. Tapi kepalanya tidak ikut masuk air kan?”
Hua ha ha ha …
“Ya semuanyalah Pak. Jadi seluruh anggota badan kita ini, kita masukkan ke dalam air. Tak ada yang tertinggal lagi,” jelas Ki Saung.
“Iiikh ngeri Ki. Apa tidak mati nanti Ki?”
Ha ha ha ha …
“Yang namanya mati itu kan Kek, dimana saja kita berada, bersembunyi, jika ajal tiba kita bakal mati. Tak ada yang bisa lari dari mati,” kata Pak Sandi.
Ha ha ha ha …
“Tidaklah Pak. Kalau misalnya tak bisa lama menyelam, sebentar juga boleh. Seberapa lama kita bisa bertahan dalam air, sebarapa kuatkah bapak menyelam …” Jelas Ki Saung.
“Ooooo …”
“Mudah kan Pak?”
“Iya Ki. Guampang sekali,” kata si lansia ketawa lebar terlihat jelas urat-urat lehernya.
“Yang lain bagaimana? Siapkah?”
“Siaaap …” Jawab Pak Sandi bersama warga lain dengan penuh percaya diri.
Ki Solar dan Ki Saung sepakat yang lebih dulu menyelam adalah kaum wanita. Disepakati menampilkan tiga orang. Mereka adalah Bu Tiwi, Bu Reni dan Bu Tesi.
Tepuk tangan pun riuh terdengar. Para bapak dan kawula muda sampai harus berdiri untuk memberi semangat kepada Bu Tiwi dan dua rekannya menuju tepian sungai. Dari atas jembatan kayu, di sanalah ketiganya berdiri sebelum turun ke dalam air yang dingin bersama-sama.
“Gimana Bu?” Ki Saung hanya menginginkan kata ‘siap’ dari siswa latihnya.
“Dingin sekali Ki, airnya.” Kata Bu Reni. Tersenyum lebar ke arah penonton yang menyaksikannya bersama Bu Tiwi dan Bu Tesi memulai melakukan penyelaman.
“Tahan sajalah Bu. Anggap saja lagi ngumpet dalam kulkas,” ledek Pak Sandi.
“Iya Bu. Tenang saja. Kami ada di sini … Siap membantu ibu-ibu semuanya,” teriak beberapa pemuda berkaos oblong yang di belakangnya bertuliskan ‘Melati.’
“Oke ibu-ibu?”
“Oke Ki Solar,” kata Bu Tiwi.
Menyelam pun dimulai …
Luuup …
Byuuuurrr …
“Gelap Ki,” keluh Bu Reni. Baru tiga detik menyelam dalam air sudah nongol kembali ke permukaan air.
Ha ha ha ha …
Byuuuur …
“Ada yang colek Ki,” kata Bu Tiwi setelah keluar dari dalam air.
Hua ha ha ha …
“Hantu banyu  itu Bu …” Sahut bapak berkacamata minus tebal.
“Bukan Bu. Itu kerjaan ikan-ikan kecil yang kebetulan suka sama ibu,” ujar bapak berkain sarung dan berpeci htam.
Byuuur …
Ruuuuar …
“Anget Ki,” aku Bu Tesi yang terakhir memunculkan kepalanya dari dalam air.
Hu hu huh u …
“Anget kayak apa Bu Tesi?” Tanya tetangga sebelah rumahnya yang berkuit hitam manis.
“Kayak telur yang baru ditetas dari emaknya ayam …”
Ha ha ha ha …
“Baiklah ibu-ibu dan bapak-bapak serta penonton sekalian. Rasanya untuk Bu Reni, Bu Tiwi dan Bu Tesi sudah cukup sore hari ini,” jelas Ki Saung.
“Walah Ki. Tambah sekali lagilah, Ki.”  Pak Sandi kasih usul.
“Jangan begitulah Pak Sandi,” kata Pak Rauf, teman sepermainannya ketika masih kecil,” Kasihan mere ka. Sudah pada mengigil. Betul kan Bu?”
“Betul Pak Rauf,” ujar Bu Tiwi, berharap Ki Saung dan Ki Solar menyudahi penyelaman.
“Sudah ya Ki?!” Rengek Bu Reni.
Ki Saung mengangguk setuju. Dia bersama Ki Solar bersyukur ketiga ibu yang sudah berkepala tiga lebih itu sehat walafiat.
“Sekarang giliran bapak-bapak,” jelas Ki Saung yang tampak aneh melihat bapak-bapak Kampung Melati gugup dan tak percaya diri. Antar mereka saling pandang, dan saling berbisik, entah apa yang dibisikkan.
“Kita selang seling saja ya Bu dan Pak. Tadi tiga wanita, sekarang tiga laki-laki. Nanti tiga wanita lagi. Begitulah seterusnya. Tapi kalau waktu tidak mencukupi kita tambah jumlah penyelamnya, agar bisa kebagian semua dan selesai hari ini juga,” terang Ki Saung.
“Setuju Ki,” ujar Pak Rauf. Dengan begitu semua siswa mendapat giliran menyelam.
Ada apa dengan Pak Sandi?
Tiba-tiba gelisah. Membuat Pak Rauf angkat bicara.
“Jangan cari alasan Pak Sandi. Kalau takut bilang sajalah. Mumpung menyelamnya belum dimulai …”
“Bukan takut Pak Rauf . Tapi …”
“Tak bisa menyelam …” Beberapa remaja tanggung ketawa lebar.
“Bukan itu, tapi saya lupa pakai celana dalam,” aku Pak Sandi terus terang.
Ha ha ha ha …
He he he he …
Hi hi hi hi …
Kali ini yang ketawa bukan cuma kaum bapak saja, tapi juga para ibu dan remaja puteri. Saking enaknya ketawa, dari kelopak mata mereka mengalir air mata. Belum lagi keringat di seputar  wajah, bagian dada serta perut.
“Telanjang bulat sajalah Pak Sandi,” teriak bapak berkepala gundul.
“Sekali-kali boleh kan, Ki?” Sindir Pak Rauf.
“Tak bolehlah Pak Rauf. Walaupun cuma menyelam, pakaian harus rapi. Menutup aurat,” terang Ki Solar dan Ki Saung.
Semua mata masih tertuju pada Pak Sandi. Dia tengah berbisik dengan lelaki yang ada di dekatnya.
Membisikkan apa?
Pinjam celana dalam kah?
Ternyata, Pak Sandi meminta lelaki bernama Pak Kun itu mau menggantikannya menyelam. Pak Kun ti dak berkeberatan. Tapi warga yang lain keberatan. Soalnya, dari awal latihan menyelam ini, Pak Sandi tak henti-hentinya bicara, berkomentar, seolah dia seorang yang paling pandai sore hari ini.

VII
KETIKA Ki Tama dan Ki Daus mengetahui bahwasanya latihan sore hari ini diawali dengan permainan panco, serempak warga Kampung Zaitun, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, tertawa ngakak.
Kenapa?
Karena permainan panco lazim dilakukan ana-anak dan remaja di waktu senggang. Baik di bawah rumah maupun di tempat lain, seperti pondok pematang sawah dan tempat hajatan. Meski diakui permainan adu tangan dan otot ini kurang populer dibandingkan sepakbola, bola voli dan bulatangkis.
“Apa digabung, Ki?” Tanya Pak Jono pada Ki Tama dan Ki Daus yang sudah lebih dulu duduk lesehan di atas tikar depan kediaman pasirah.
“Maksudnya diadu antara laki-laki dengan perempuan begitu?”
“Betul sekali Ki Tama,” kata Pak Jono, “Biar lebih seru …”
“Seru atau pengen tahu,” seloroh Pak Leman, ketawa lebar.
“Janganlah Ki,” sahut Pak Rais. “Bahaya kalau sampai diadu antara bapak-bapak dan ibu-ibu.”
“Kenapa Pak Rais?”
“Ini Pak Sukiman … salah adu nanti.”
Ha ha ha ha …
“Porno ah,” celetuk Bu Kemal.
“Porno apanya Bu Kemal?” Tanya Pak Jono.
“Ah bapak Jono ini. Kayak tidak tahu saja,” timpal Bu Syawal, “Kalau laki-laki dan perempuan berdekatan, biasanya mata laki-laki jelalatan …”
He he he he …
“Jelalatan kenapa Bu” Goda Pak Leman.
“Ah kayak enggak pernah muda saja Pak Leman ini. Dulu waktu muda dan dekatan sama ibunya, gimana?” Pancing Bu Sayawal.
“Ehem .. ehem ….” Pak Leman ketawa enggak jadi.
“Kenapa Pak Leman?” Tanya Bu Syawal.
“Enggak kenapa-kenapa Bu,” ujar Pak Leman.  Baru bisa ketawa.
“Bohong Pak Leman ini.  Bilang saja kalau …” Bu Syawal ketawa geli, diikuti dua rekan sebaya di dekatnya.
“Kalau kenapa Bu Syawal?” Pak Rais ikut-ikutan bertanya.  Sekadar bertanya saja, bukan cari perkara.
Hi hi hi hi …
“Sudah .. sudah. Ditahan dulu senda guraunya. Jadi ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian yang telah berkenan hadir. Kita bagi dua kelompok sekarang. Yang bapak-bapak sama bapak-bapak. Juga sebaliknya. Yang ibu-ibu sama ibu-ibu. Ini sudah kami putuskan berdua Ki Daus,” terang Ki Tama.
Waaaa ..
Payaaah …
Letoy deeeh …
“Penonton juga,” jelas Ki Tama.
Enggak serulah …
Enggak rame dooong …
Berbeda dengan kaum bapak yang pada lesu serempak, kaum ibu dan remaja puteri malah bersorak sorai karena dengan pengelompokan ini mereka leluasa bermain panco dengan cara dan gaya masing-masing yang tentunya berbeda.
“Boleh kita mulai sekarang ya ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian?”
“Boleh Ki Tama,” ucap Bu Mirna.
“Bapak-bapak?”
“Bolehlah Ki,” kata Pak Jono, lesu darah.
Ha ha ha ha …
Mendapat giliran pertama tampil adalah Bu Syawal dan Bu Kemal. Kedua-duanya berpostur besar tinggi dengan tangan yang juga besar. Keduanya melemparkan senyuman kepada penonton, disambut tepuk tangan yang riuh sementara kaum bapak hanya sempat melihat  dari kejauhan, mesem-mesem dan menggaruk-garuk kepala.
“Siap Bu Syawal dan Bu Kemal?” Ki Tama dan Ki Daus memberi aba-aba.
“Siaaap …!” kata keduanya. Mereka berdua diawasi oleh Bu Mirna.
“Sebentar Ki. Mau buang ludah dulu,” kata Bu Kemal, berlalu pergi ke dekat rumput bawah pohon beringin.
“Saya juga, Ki.” Ujar Bu Syawal.
Setelah berludah di pinggir tanah lapang, Bu Syawal dan Bu Kemal duduk lagi di kursi, saling berhadap-hadapan dengan tangan ditaruh di atas meja kayu.
Tangan Bu Syawal dan Bu Kemal saling menempel di garis lingkar tengah meja segi empat. Semakin lama semakin kuat tempelan itu. Saling berusaha menarik tangan lawan, karena tangan yang lebih dulu jatuh menyentuh meja dinyatakan kalah.
Bu Syawal dan Bu Kemal sama-sama tak ingin menyerah dan kalah. Maka itu, tangan keduanya silih ber ganti hampir menyentuh permukaan meja. Bahkan, saat Bu Kemal menggaruk keningnya, Bu Syawal sempat menarik kuat tangan tetangganya itu …
“Terus Bu …” Teriak penonton yang gemas melihat tangan Bu Kemal, walau sudah miring ke kanan, tak juga jatuh menyentuh meja. Malah secara perlahan terangkat kembali. Sampai sejajar tegak dengan tangannya Bu Syawal.
Priiit …
Bu Mirna meniup pluit tanda babak pertama lomba panco berakhir. Belum ada pemenangnya. Masih sama-sama kuat.  Peluh bercucuran, membasahi ketiak yang hitam, rambut dan muka Bu Syawal serta  Bu Kemal. Nafas tersengal-sengal. Keduanya duduk. Bersandar di cagak rumah pasirah.
Para ibu yang lain pun segera mengerumuni Bu Syawal dan Bu Kemal.  Ada yang mengipas-ngipas. Juga ada yang memijat-mijat anggota badan seperti tangan dan kaki, bahkan berebutan untuk memberi keduanya air susu putih hangat.
Babak kedua?
Ditiadakan, karena setelah menunggu hampir sepuluh menit, Bu Kemal dan Bu Syawal masih kepayahan. Selain masih harus dipijat-pijat, nafas keduanya tak kunjung normal. Masih turun naik tak teratur. Akhir nya disepakati babak kedua tak jadi dimainkan.
Sekarang giliran bapak-bapak?
“Mau kemana Pak Jono?” Teriak Pak Leman. Semua menoleh, hendak kemanakah Pak Jono?
“Mau pipis,” ucap Ki Daus menirukan Pak Jono yang hendak ke toilet tadinya.
“Alasansaja Ki,” gerutu Pak Leman seolah tak terima Pak Jono diberi izin ke toilet.
“Alasan bagaimana Pak Leman?” Ki Daus mendekatkan telinganya.
“Tak mau ikutan panco Ki …”
Ha ha ha ha …
“Betul Ki. Tadi juga kan bisa kalau memang mau ke toilet. Kenapa baru sekarang? Setelah adu panco baru akan dimulai …” Kata Pak Rais.
“Benar Ki,” jawab yang lain. “Masa tiba-tiba kebelet mau ek ek. Pura-pura Ki.”
 “Tanya saja lagi Ki kalau Pak Jononya sudah kembali dari kamar kecil,” desak Pak Sukiman.
Ki Daus dan Ki Tama, setelah Pak Jono kembali dari kamar mandi, meminta laki-laki sepuh itu beradu panco dengan ‘lawan’ yang dia pilih sendiri.
Apa jawab Pak Jono?
“Tidak ada lawan panconya Ki Tama.”
“Kenapa Pak Jono?”
“Takut Ki. Dasar banci. Penampilan sopan suka mencaci,” kata bapak berkacamata tebal.
Ha ha ha ha …
“Maunya saya dengan Bu Syawa Ki. Boleh kan?”
Wuuuuuuuu …
Lanang kurapan lu …
Taik kucing lu …
Taik anjing lu …
“Ssssst … bapak- bapak tak boleh begitu. Penesan boleh tapi yang sopan,” nasihat Ki Tama.
“Habis kesal Ki. Memangnya kami ini dia anggap apa?” Kata Pak Rais geleng-geleng kepala.
“Perempuan, Pak Rais.” Teriak yang lain sambil ketawa cekikikan.
He he he he …
Setelah dibujuk rayu, akhirnya Pak Jono bersedia adu panco dengan sesama lelaki. Karena dia diberi ke sempatan memilih sendiri lawan tandingnya, dipilihlah Pak Syukran. Lelaki tertua di Kampung Zaitun.
Kendati sempat diperotes warga yang lain, adu panco tetap berjalan. Duduklah keduanya berhadap-ha dapan di satu meja dengan meletakkan tangan kanan dalam posisi agak miring dan saling menempel bagian atasnya.
Priiit …
“Sebentar Ki.” Buru-buru Pak Syukran membuang sisa rokok daun dari mulutnya.  Dia masukkan ke da lam kotak sampah. Sampah terbuat dari kayu berbentuk segi empat itu khusus buat warga yang ingin membuang sampah sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir sampah.
“Sudah Pak Syukran?” Tanya Ki Tama, siap meniup pluitnya tanda adu panco segera dimulai.
Plak .. pak … plak … pak …
Panco dimulai dan ..
Gedebuk ..
Tooook …
Tangannya Pak Syukron jatuh menyentuh permukaan meja. Dia kalah cepat. Walau sudah tua, dia tetap kecewa karena baru sedetik sudah di- KO Pak Jono.
“Jono … Jono … Jono …”
Pak Jono mengangkat tinggi kedua tangannya. Lalu berdiri menghadap penonton dan rekan-rekannya yang lain berlatih silat.
“Jono … Jono … Jono …”
Yel-yel pun akhirnya diikuti beberapa penonton. Meneriakkan secara bersama-sama. ‘Hidup Pak Jono .. Juara panco tidak ada tandingannya. Siapa lawan pasti keteteran. Sekali goyang, musuh terjengkang.’
Pak Jono, Pak Leman, Pak Rais dan Pak Sukiman tampak kesal bukan kepalang. Mereka berempat segera mengerumuni Ki Daus dan Ki Tama. Mereka minta diizinkan tanding panco dengan Pak Jono.
Tapi apa jawab Ki Tama?
“Maaf bapak-bapak ya. Hari sudah sore. Kita lanjutkan di hari yang lain. Bagaimana? Setujukah?”
“Setuju,” jawab ibu-ibu kesenangan.
“Tidak setuju,” sahut Pak Sukiman dan kawan-kawan.
Karena lebih banyak yang setuju  latihan silat dilanjutkan pada hari yang lain, Ki Tama dan Ki Daus mengajak warga berdoa bersama-sama sebelum kembali ke rumah masing-masing.

BERSAMBUNG … 
  
  




  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar