Novel Lepas
Ki Saleh (3)
Edisi Ketiga
By Pak Amin
XI
LEPAS salat Zuhur dan makan siang bersama Ki Saleh, suami
tercinta, Sri Hapsari menuju masjid Nurul Falah. Seperti biasa, menjelang sore
hari, dia mengajar dan membimbing anak-anak di Taman Pendi dikan Nurul Falah.
Taman Pendidikan Nurul Falah kini sudah semakin maju. Selain
tempat belajarnya lebih luas, pasca re hab dan penambahan tempat wudhu’ dan
parkir, meja dan kursinya baru dengan lantai marmer yang dilapisi hambal merah,
biru dan hijau.
Ada dapur kecil. Siswa Nurul Falah, jika haus, bisa
mengambil air minum sendiri dari galon air yang tersedia. Mau bikin teh juga
bisa. Tapi kalau mau makan, semisal mie, bawa dari rumah, atau beli di warung
dan meraciknya di dapur bersama ini.
Siswa Taman Pendidikan Nurul Falah ini sudah memasuki
angkatan V. Angkatan I yang berjumlah se pu luh orang, di antaranya Murni,
Leni, Nabila, Dahlia dan Maskur sudah selesai dan berhasil mena matkan
pendidikan mereka. Selama enam bulan digodok Sri Hapsari dengan berbagai ilmu
agama secara teori dan praktik di masjid Nurul falah.
Sebagian besar dari mereka kini sudah melanjutkan sekolah ke
jenjang es em pe dan madrasah tsanawi yah di kam pung lain serta kota besar.
Mereka meninggalkan Taman Pendidikan Nurul Falah dengan ke pala tegak, penuh
sukacita dan mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada Bu Sri
Hapsari selaku pengajar yang setia mengajar dan mendidik mereka menjadi anak
yang berakhlak mulia, berjiwa agamis dan santun kepada siapapun.
Bu Sri sangat terharu. Dia sendiri tak menyangka siswa yang
ia didik di Taman Pendidikan Nurul Falah ini sudah memasuki angkatan kelima.
Jumlah siswanya bukan lagi sepuluh, tapi sudah lima belas. Usia me reka
rata-rata antara 6-12 tahun, berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Kelima belas siswa itu adalah Udin, Purwo, Sableng, Kuncoro,
Muhsin, Ali, Maryam, Tina, Susilawati, Yana, Fatimah, Sulastri, Rahma, Tatik
dan Lena.
“Selamat sore anak-anak!”
“Sore juga Bu Ustazah Sri …!”
“Pelajaran apa kita hari ini?”
“Cara berdoa yang baik,” jawab siswa serempak.
“Baiklah. Kalian pasti sudah tahu dan sudah membuat sendiri
serta menghafal doa tersebut bukan?”
Siswa tak menjawab.
“Sekarang, yang namana ibu panggil, maju ke depan memimpin
doa. Siap anak-anak?”
“Siap Bu Guruu,” jawab siswa dengan suara pelan.
“Kenapa loyo?”
“Belum makan Ustazah,” jawab Udin.
Ha ha ha ha …
“Bohong Bu. Udin aku lihat tadi pulang sekolah jajan mie di
warung sebelah rumahku,” kata Sableng.
“Kamu Fatimah, sudah makan belum?”
“Sudah Bu.”
“Lauk apa?”
“Ikan teri, Bu.” Jawab Fatimah malu-malu.
Siswa kembali tenang.
“Udin …” sebut Bu Sri dengan suara lantang.
Udin maju ke depan. Dia membawa sehelai kertas putih kecil
berisikan tulisan. Tulisan itu sengaja ia bawa supaya, kalau misalnya lupa,
bisa nyontek.
“Itu apa Din?”
“Kertas Bu Ustazah.”
“Coba ibu tengok.”
Setelah dibaca Bu Sri sebentar, kertas itu diberikannya
kembali pada Udin. Setelah itu Udin berdiri di tengah membelakangi papan tulis.
Siswa diam. Bersiap mendengarkan.
Udin berucap …
“Marilah kita
sama-sama mengangkat tangan, berdoa kepada Allah SWT ..”
Siswa mengangkat tangan. Menengadah. Juga Bu Sri Hapsari …
“Audzubillahi
minasysyaithanirrojim. Bismillahirrohmanirrohim. .. Ya Allah, kami berdoa
kepada-Mu, mohon turunkanlah air hujan
agar sawah ladang kami basah, bisa panen besar dan menghasilkan banyak uang.
Amin …
Robbana aatina
fiddunya hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqina azaabannar. Wasallalaahu ala
sayyidil mursalin, walhamdulillahi robbil alamin …”
Plak pak plak pak …
“Pendek amat Bu. Enak sekali si Udinnya,” protes Muhsin.
Bu sri Hapsari menengahi.
“Tak mengapa Muhsin. Ini kan latihan. Kalau sungguhan, bisa
diketawai orang. Betul tidak?”
“Betuuuul …”
“Udin. Terima kasih ya,” ucap Bu Sri kembali ke tempat
duduknya semula.
“Ya Bu,” jawab Udin. Agak terlambat dia menjawabnya karena
kertas ia bawa tadi diambil paksa Sab leng. Kertas itu sempat berpindah-pindah
tangan. Ketika ada di tangan Maryam, ia
berikan ke Udin.
“Berikutnya … Maryam!”
Plak pak plak pak …
Bergaya keibuan, Maryam berjalan ke depan kelas sambil
memegang tengahan kain yang ia kenakan, tersenyum mengembang ke sesama
rekannya.
“Maryam,” sapa Bu Sri yang merasa takjub dengan penampilan
Maryam kali ini. Berbaju lengan panjang, kain bermotifkan bunga dengan
selendang penutup kepala berwarna putih.
“Mau nyanyi qasidah Bu Ustazah.” Ledek Sulastri.
“Bukan Bu,” sahut Rahma, “tapi mau nyuci ke sungai.”
Ha ha ha ha …
“Maryam. Ayo Nak, bacalah doanya …”
“Baik Bu Ustazah,” jawab Maryam. Setelah merapikan tutup kepalanya, ia atur
nafas dan berucap …
“Ya Allah, ya Tuhan
kami. Limpahkanlah rezeki kepada orangtua kami … Lakukanlah dagangannya, biar
kami dapat duit buat bayar uang sekolah …
Sehatkanlah ia karena
mereka berdua adalah gantungan hidup kami. Ya Allah, kabulkanlah doa kami. Amin
…”
Plak pak plak pak …
“Bagus sekali. Terima kasih Maryam. Silakan duduk kembali.”
Suasana kelas kembali riuh. Bukan karena bercanda dan saling
ejek, tapi saling menerka siapa gerangan berikutnya yang bakal kena panggil Bu
Sri Hapsari.
“Kuncoro …”
“Betul kan kataku,” kata Ali bangga.
“Bu Sri. Seharusnya Sableng Bu, bukan Kuncoro.” Protes
Sulastri. Ia menduga Bu Sri salah memanggil.
“Oh iya. Ibu salah. Yang benar adalah Sableng …”
“Horeee. Aku yang benar, Ali yang salah.” Sulastri senang
karena tebakannya benar.
Bu sri Hapsari cuma terenyum.
“Sableng. Ke depan Nak. Bukan duduk melamun di kursi.” Bu
Sri mendekatinya. Ia rupanya larut dengan sikap senang Sulastri dan kecewa
beratnya Ali.
Ha ha ha ha …
Sableng tiba-tiba lupa apa yang hendak diucapkan. Dia hanya
menggaruk-garuk kepala dan malu hati sama Bu Guru karena lupa hafalan doanya.
“Sudah. Enggak usah gugup. Yang kamu ingat sajalah. Ada
kan?”
Sableng mengingat-ingat sesuatu. Lalu ia tersenyum.
“Ada Bu Ustazah …”
“Nah, coba kamu ucapkan …”
“Baik Bu …”
Sableng mengucap … “Bismillahirrohmanirrohim.” Agak gugup,
ia melanjutkan ucapannya …
“Ya Allah …
sehatkanlah ibu guru kami. Agar beliau bisa terus mengajar kami. Jangan
memarahi kam. Tapi menyayangi kami selalu setiap kali mengajar … Amin.”
Plak pak plak pak …
“Merayu Bu Sri,” komentar Purwo. Ketawa cekikikan bersama
Udin dan Kuncoro. Mereka heran kenapa Bu Guru Sri Hapsari yang disebut-sebut.
Dia kan sudah sehat, selalu sayang dan ikhlas dalam mengajar.
“Terima kasih Sableng. Berikutnya ibu panggil … Kuncoro.”
“Hidup Kuncoro. Hiduuup …” kata Ali sambil bertepuk tangan,
diikuti beberapa teman yang lain.
“Sore teman-teman.” Kuncoro menyapa teman-temannya sembari
tersenyum lebar.
“Sore juga …”
Karena suara Maryam lebih nyaring menjawab “sore juga”, jadi
bahan ledekan Ali dan kawan-kawan.
Ssssst …
Bu Sri Hapsari meminta anak didiknya yang laki-laki diam.
Tidak ribut.
“Dengarkan dan aminkan doa dari temanmu ini ya …”
“Ya Bu Guruuu …”
“Bismilillahirrohmanirrohim
… Ya Allah, ya Tuhan kami. Sehatkanlah orangtua kami. Limpahkanlah mereka
rezeki yang banyak agar kami belajar enak dan tidur nyenyak.
Ya Allah, ya Tuhan
kami .. Berilah kami, orangtua kami dan guru kami yang cantik dan baik hati ini
kese hatan, agar selalu setia dan ikhlas melaksanakan tugas mereka sehari-hari
serta selalu menyayangi dan mengasihi
kami sepenuh hati.
Ya Allah, ya Tuhan
Kami. Sayangilah kami, siswa Taman Pendidikan Nurul Falah ini. Jadikanlah kami
anak yang saleh, berbakti kepada kedua orangtua, menyayangi Bu Guru kami, dan
hormat selalu kepada orang yang lebih tua dari kami …
Ya Allah, ampunilah
dosa kami. Mudahkanlah segala urusan kami. Terimalah amal kami dan masukkanlah
kami kelak di surga yang telah Engkau janjikan. Amin …”
Maryam dan rekan
siswi lainnya bertepuk tangan. Sementara
Ali dan beberapa siswa hanya terheran-heran. Kenapa begitu bersemangatnya para
siswa bertepuk tangan. Baru berhenti setelah Kuncoro duduk kembali dan ikut
bertepuk tangan bersama Ali dan kawan-kawan.
XII
“BERIKUTNYA adalah Muhsin …” Siswa serempak bertepuk tangan.
Berdiri, lalu duduk lagi. Baru berhenti bertepuk tangan setelah Muhsin
mengucapkan salam dan membacakan doa …
“Sebentar Sin …”
“Ya Bu,” jawab Muhsin.
“Kamu enggak bawa kertas hafalan?”
“Enggak Bu.”
“Jadi hafal semuanya di luar kepala?”
“Mudah-mudahan Bu Guru.”
“Baguslah …”
Muhsin menggeser posisinya ke dekat meja Bu Guru Sri
Hapsari, bukan ke tengah seperti teman-teman nya tadi.
“Ya Allah ..
jadikanlah kami yang ada di sini sebagai hamba-Mu yang dapat bersyukur atas
karunia dan nikmat yang telah Engkau berikan.
Ya Allah ya Tuhan
kami. Bimbinglah kami agar menjadi anak yang saleh, berguna bagi masyarakat,
bangsa dan negara.
Ya Allah ya Tuhan
kami. Kami serahkan hidup dan mati kami hanya kepada-Mu. Berilah kami kesehatan
dan ampunilah dosa kami, dosa ibu bapa kami baik yang disengaja maupun tidak
disengaja.
Ya Allah ya Tuhan kami
.. Rukunkanlah kami, menghargai dan menghormati sesama, saling membantu dengan
sesama dan selalu dalam lindungan-Mu. Amin …”
Plak pak plak pak …
“Berikutnya Ali .. ke depan!”
Ali sudah siap berdiri. Tapi dia belum beranjak pergi
meninggalkan tempat duduknya. Dia sibuk membuka tas, merogoh kantong celana dan
saku bajunya.
“Ali … kenapa?”
“Hilang Bu ..” Jawab Ali dengan raut muka bingung.
“Apanya yang hilang Ali?”
“Duit Bu …” Celetuk Sableng.
Ha ha ha ha …
“Bukan Bu, tapi kepekan.”
Ha ha ha ha …
“Bohong Bu. Ali pura-pura saja, biar bu tak panggil dia ke
depan,” sahut Tina ketawa cekikikan.
Karena tak ketemu juga itu kepekan, sementara teman-temannya
pada terus ngeledek dia, Ali dengan berat hati maju ke depan dengan perasaan
cemas.
“Benar kepekannya hilang Ali?” Bu Sri melihat ada perubahan
pada diri Ali. Tadinya periang, kok sekarang ‘meriang.’
“Kamu enggak apa-apa kan?”
“Enggak Bu.”
“Lalu kenapa mukamu pucat sekali?”
“Takut sama ibu.”
“Kenapa?”
“Ibu marah kalau Ali tidak hafal doa.”
Ha ha ha ha …
“Suruh berdiri dengan kaki satu Bu Guru,” kata Purwo dan
Udin.
“Jangan Bu,” sahut
Maryam, “ Nanti kalau dia jatuh atau sakit bagaimana?”
“Bawa saja ke rumah sakit,” timpal Susilawati.
Bu Sri Hapsari meminta siswanya tenang. Dia ingin Ali tetap
berdoa di depan kelas.
“Apa saja yang kamu ingat sekarang, itulah yang kamu
omongkan. Mau kan?”
“Mau Bu …” jawab Ali seakan sudah siap dan telah
mempersiapkan jauh-jauh hari doa yang bakal dia baca di hadapan Bu Guru dan
rekan-rekannya.
“Teman-teman semua.
Marilah kita sama-sama mengheningkan cipta. Mengheningkan cipta dimulai ……..”
Semua siswa dengan kepala menunduk mengheningkan cipta
selama lebih kurang sepuluh detik. Setelah itu, Ali mengucapkan terima kasih
dan kembali ke tempa dia duduk.
Tak ada tepuk tangan. Bukan karena tak suka dan tak elok
penampilan Ali sore hari ini. Tapi tak sempat mengeluarkan komentar. Setelah
Ali duduk, rekan-rekannya baru mulai mengeluarkan komentar.
Komentar itu datang berawal dari Maryam dan Susilawati.
Menyusul Udin, Purwo, Sableng, Kuncoro
dan Sulastri. Meskipun ada yang memuji, dan tak sedikit yang mengeritik, Ali
tetap duduk sopan di kursi belajarnya. Dia cuma cengar- cengir, berganti ketawa
setelah Bu Sri Hapsari memanggil nama Sulastri.
Sulastri sengaja memperlambat langkah kakinya, membuat
teman-temannya kesal. Sudah lambat, mam pir dulu ke teman siswi lainnya. Ngomong sebentar dan
baru sampai di meja Bu Sri tiga menit kemudian.
“Sulastri!”
“Ya Bu. Disini Sulastri … berdiri di sebelah ibu …”
Ha ha ha ha …
“Hafal tidak doanya?”
“Hafal Bu Guru …”
“Bacakan sama teman-temanmu yang lain …”
“Baik Bu.”
Seluruh siswa diam. Tenang, tekun menyimak ke depan. Bersiap
mendengarkan doa apa gerangan yang akan
dibaca Sulastri. Ternyata inilah doanya …
“Ya Allah, ya Tuhan
kami. Jadikanlah kawan-kawanku sekelas ini kawan-kawan yang baik. Tidak
mengejek, tidak mengolok-olok dan tidak membuat kesal serta amarah …
Ya Allah, ya Tuhan
kami. Bimbinglah kami hari ini sekiranya mereka berbuat tidak baik kepada kami.
Tegurlah mereka kalau salah, dan maafkanlah mereka sekiranya telah berbuat dosa
…
Ya Allah, ya Tuhan
kami. Limpahkanlah rezeki kepada orangtua kami, kesehatan pada mereka, agar
mereka tetap bisa memberi kami duit jajan sehingga pulang dari sini tidak
sampai kelaparan …”
Hik hik hik hik
hik …
Muhsin tak bisa menahan gelinya. Ia lalu tertawa. Ternyata
ketawanya ini didengar Bu Sri Hapsari. Si ibu guru tidak marah. Dia hanya
mengingatkan Muhsin agar tidak membuat keributan saat belajar.
“Teruskan doanya Sulastri …”
“Ya Bu …”
“Ya Allah, ya Tuhan
kami. Capaikanlah cita-cita kami. Karena kami disini ingin macam-macam samamu
ya Allah. Ada yang ingin jadi dokter, guru seperti Bu Guru Sri Hapsari,
insinyur, bidan, pengusaha dan bah kan juga ada yang kepingin jadi orang kaya …
Karena ya Allah, jadi
orang kaya itu enak. Kemana mana bis. Beli sepatu mahal bisa, beli rumah
apalagi. Pokoknya semua bisa. Bisa menolong sesama karena banyak uang.
Ya Allah, ya Tuhan
kami. Jauhkan kami dari fitnah dan godaan, bala kecil dan besar, terhindar dari
terje rumusnya kami ke lembah dosa. Bantu kami ya Allah. Amin.”
Plak pak plak pak …
Setelah Sulastri, giliran Tina yang dipanggil. Dia bersegera
mendekati meja Bu Sri. Dia bicara sesuatu, entah apa.
“Angkat tangan yang tidak hafal.” Pinta Bu Sri. Dia kaget
setelah melihat semua siswanya yang belum mendapat giliran menghafal di depan
kelas, angkat tangan semuanya.
“Ke depan semuanya!” Bu Sri Hapsari berdiri dan mengatur
posisi Tina, Susilawati, Yana, Fatimah, Rah ma, Tatik, Lena dan Purwo.
“Kenapa tidak hafal?”
“Saya Bu jawabnya,” ucap Susilawati. Ia beralasan, semalam
dia membantu kedua orangtuanya menumbuk padi.
“Alhamdulillah selesai Bu Guru. Mulai pagi tadi kami sudah
bisa makan nasi …”
“Saya Bu,” kata Rahma. “Semalam saya bantu ibu bikin keripik
ubi jajanan. Alhamdulillah selesai. Pagi
tadi ibu dan saya jualan keliling. Habis Bu, tapi …”
“Kenapa Rahma?”
“Saya baru tahu sebelum berangkat tadi Bu Guru. Kalau saya
lupa menghafl doa,” aku Rahma menyesali kenapa sampai lupa menghafal doa.
Padahal ada waktu senggang, meski hanya setengah jam.
“Kamu Tatik?”
“Saya Bu. Anu Bu .. apa ya?” Karena garuk-garuk kepala,
teman-temannya ngeledeki dengan ledekan “banyak kutunya.”
“Anu kenapa Tik?”
“Enggak hafal-hafal Bu,” jelas Tatik. Dia meminta maaf
karena belum hafal. Dia berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa dan
mengingat hafalan.
“Mana mau hafal Bu. Tatik sukanya nonton sinetron di
televisi,” celetuk Sableng memancing Tatik marah.
Ha ha ha ha …
Bu Sri Hapsari memang bijaksana. Dia pandangi satu-satu siswanya.
Terutama Tina dan Susilawati. Da lam hati kecilnya ia menangis. Ia terharu
mendengar pengakuan keduanya. Dia takjub karena penam pilan dua siswinya itu
berbeda. Tetap riang, mau diajak bercanda dan ramah kepada siapa saja.
“Karena tidak hafal, ibu minta kalian qasidahan saja. Mau
kan?”
“Mauuuu …”
“Yang mimpinnya adalah …”
“Tina Bu Guru,” ujar Fatimah.
Tina menyanggupi. Karena mereka sudah terbiasa melihat orang
qasidahan, dan pernah ikut rame-rame memeriahkan acara maulidan, diminta mengaji di depan
kelas, kenapa mesti ditolak.
“Lagu apa?” Tanya Bu Guru Sri. Ikut duduk bersama siswanya
di kursi Fatimah.
“Lagu dangdut saja Bu,” teriak Purwo ketawa geli.
“Jangan Bu. Lagu barat saja,” sahut Udin. Malu sendiri
karena Bu Guru Sri ternyata ikut duduk di tengah-tengah mereka.
“Lagu apa?”
“Insyaflah Bu,” jawab Tina dan rekan-rekannya serentak.
Seperti apakah qasidahnya?
Tak ada rebana. Musiknya hanya dengan menepuk-nepeuk kedua
belah telapak tangan silih berganti, bernyanyi
bersama, dan inilah di antara syairnya …
“Insyaflah wahai
manusia
Jika dirimu berdosa
Agar tidak menyesal
nantinya
Setelah kekal di
neraka
Berbuat baiklah wahai
manusia
Jika dirimu merasa
berguna
Hidup di dunia tak
sia-sia
Balasannya hanyalah
surga dari-Nya
Jangan kau sakiti
sesama
Karena itu dosa
dan membuat-Nya murka
Di akhirat tak luput
jua …”
XIII
“API … api … api … tolooong!” Teriak seorang pedagang
memberitahu sesama pedagang lain bahwa api dari belakang pasar makin membesar.
“Mang Dul, cepat kau selamatkan uang dan daganganmu,” ucap
Mang Kur yang tampak sigap memasuk kan
beberapa potong daging sapi yang tersisa ke dalam kotak tempat
penyimpanan daging.
Beberapa warga di sekitar pasar bahu membahu memadamkan
kobaran api. Karena derasnya angin, api sulit dipadamkan. Merembet ke kios lain
di tengah pasar, meluluhlantakkan atap seng dan bangunan kayu di belakang
pasar.
Mang Dul dan puluhan pedagang lain sibuk mengangkut kotak
dan barang dagangan ke luar pasar. Para pembeli, terutama ibu-ibu menjerit
histeris. Panik dan saling tabrak serta dorong-dorongan satu sama lain.
Karena secara bersamaan, dari luar pasar banyak orang yang
masuk, ikut membantu pedagang mengun jal dagangan sementara jalan di dalam
pasar tidak terlalu lebar. Berhimpit-himpitan di lorong lapak pasar sayur dan ikan
tak terhindarkan.
Beberapa petugas keamanan pasar sibuk mengatur lalu-lalang
pembeli dan pedagang. Bahkan beberapa di antaranya ikut menggendong bayi dan
anak-anak guna diselamatkan dari
himpitan keramaian orang.
Selama tiga puluh menit api belum berhasil dipadamkan. Api
baru berhenti berkobar setelah petugas pemadam kebakaran menyemperotkan air
lewat selang besar. Para pedagang, sebagian kecil pembeli dan warga
sekitar pasar hanya bisa menyaksikan
betapa kemudian Pasar Falah yang lumayan megah itu kini tinggal puing dan
nyaris rata dengan tanah.
Sri Hapsari yang diberitahu seorang kenalan Ki Saleh bahwa
Pasar Falah terbakar siang itu sempat syok. Namun hanya beberapa saat. Karena
setelah itu, setelah mendapat kabar dari Ki Saleh via telepon selu ler, lega
dan sudah bisa melakukan aktivitasnya lagi. Mengajar pada jam terakhir.
Memang, tak satu pun pedagang dan pembeli yang mengalami cedera
serius apalagi tewas, kecuali luka lecet karena terinjak batu dan kaki orang
yang lalu-lalang di dalam pasar. Hanya saja, kerugian material belum bisa
ditaksir berapa jumlahnya. Sebab, petugas belum bisa menghitungnya secara
rinci. Diperki rakan men capai ratusan juta rupiah , boleh jadi mencapai angka
dua miliar lebih.
Hal ini dilihat dari banyaknya kios yang terbakar. Kios-kios
itu menjual beragam dagangan mulai dari pa kaian seragam sekolah, pakaian
anak-anak dan remaja serta busana dengan berbagai macam corak dan warna yang
lagi ngetren. Belum lagi buku-buku tulis, buku bacaan, minyak sayur dan rumah
makan.
Ada puluhan kios besar dan kecil yang buka di Pasar Falah.
Kios-kios itu memang bukan hak milik, hanya disewakan orang per orang. Tapi
barang dagangannya itu milik si penyewa. Puluhan juta rupiah mereka keluarkan
modal, itu pun yang paling kecil. Kalau
kiosnya besar paling tidak keluar uang modal ratusan juta rupiah.
Selain modal melayang, kini para pedagang harus mencari
tempat lain buat berdagang. Dimana? Itulah pertanyaan yang dilontarkan sebagian
pedagang. Mereka meminta pihak terkait secepatnya menye diakan tempat buat
mereka berdagang.
“Tolonglah Pak Wali, bagaimana dengan nasib kami ini. Kami
hanya bergantung dari dagang inilah.
Lain tidak. Kalau kami tidak berdagang, mau makan apa anak dan isteri kami,”
keluh pedagang pakaian bekas mengiba.
“Kami juga Pak Wali. Hutang kami sudah menumpuk. Ditambah
lagi modal yang juga hilang. Entah kami tak tahu lagi kemana harus mencari
modal. Beberapa hari ke depan kami harus makan apa. Entahlah,” kata pedagang
tahu dan tempe tertunduk lesu.
Bukan hanya pedagang
tahu dan tempe saja yang tertunduk lesu. Beberapa pedagang lain mulai dari
pedagang manisan hingga buah-buahan tertunduk lesu. Kendati sebagian besar
barang dagangan berhasil diselamatkan, untuk menjualnya di tempat lain belum
tentu laku.
“Jadi kami harap Pak Wali secepatnya memberi tempat kami
berdagang yang bukan saja terjangkau oleh pembeli, tapi juga aman dan nyaman
seperti di Pasar Falah ini,” kata Mang Kur penuh harap.
Harapan senada juga disampaikan Mang Dul dan rekan-rekan
sesama pedagang daging. “Kalau bisa di tempat terbakar inilah juga kami
diizinkan berdagang. Selain sudah dikenal luas masyarakat, tempat ini juga
memberi kami rezeki yang lumayan.”
“Janganlah kami ditempatkan di tempat yang sepi. Jauh dari
keramaian. Tapi tempatkanlah kami di tempat yang ramai pengunjungnya,” pinta
Mang Sen.
“Kami tak keberatan pasar ini dibangun kembali. Tapi
tempatkanlah kami di tempat yang kosong dekat Pasar Falah ini juga. Bukankah di
samping masih ada lahan kosong duhai Pak Wali. Nah, izinkanlah kami menempatinya
buat berdagang,” ucap Mang Jaiz.
Pak Wali sengaja memberi kesempatan seluas-luasnya kepada
pedagang menyampaikan uneg-unegnya pada silaturahmi yang berlangsung harmonis di kediamannya. Dengan demikian dia bisa memberikan solusi terbaik beberapa
hari ke depan.
“Sekarang saya selaku walikota ingin bertanya kepada
bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Tolong sepa kati dulu sesama kalian lokasi
manakah untuk sementara ini yang akan dijadikan tempat berdagang.”
Mendengar permintaan Pak Wali, para pedagang pun berembuk.
Mereka menunjuk Ki Saleh memimpin rembukan ini. Ki Saleh tak keberatan. Mereka
pun meminta waktu kepada Pak Wali untuk berembuk di samping luar kediaman Pak Wali.
Pak Wali tak keberatan. Namun, demi efisiensi waktu, Pak
Wali menskors silaturahmi selama satu jam. Diharapkan tempat berdagang yang
diinginkan pedagang sudah bisa diketahui dan tentunya pihak peme rintah kota
akan memberi keputusan yang terbaik untuk pedagang Pasar Falah.
Kepada rkan-rekannya, Ki Saleh menawarkan dua pilihan tempat
berdagang. Pertama, dekat Pasar Fa lah. Kedua, jauh dari Pasar Falah yang
lokasinya ditentukan kemudian. Dari dua tawaran ini, seluruh pedagang sepakat
memilih berdagang dekat Pasar Falah.
“Semua setuju?” Ki Saleh meminta ketegasan dari seluruh pedagang
yang hadir.
Karena sudah sepakat setuju, Ki Saleh yang ditemani Mang Dul
dan Mang Kur, menemui Pak Walikota yang sedang berbincang-bincang dengan para
stafnya. Kertas selembar putih itu, Ki Saleh serahkan kepada Pak Wali.
Tak berapa lama setelah itu, acara temu silaturahmi antara
pedagang dengan Pak Wali dimulai lagi. “Teri ma kasih bapak-bapak dan ibu-ibu
sekalian. Saya telah terima surat pernyataan
tempat berdagang yang kalian inginkan …”
Pak Wali menoleh ke stafnya, kepala dinas pasar.
“Bagaimana Pak Darus?
“Siap Pak Wali,” jawabnya yang menyetujui pilihan apapun
yang dipilih para pedagang.
“Terima kasih Pak Darus. Jadi saya setujui pilihan
bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian.”
Plak pak plak pak …
“Hidup Pak Wali …”
“Hidup pedagang …”
“Goyang terus sampai tua.”
“Dagang terus sampai peyot …”
Teriakan pada pedagang
ini spontan dilakukan pedagang menyusul
telah disetujuinya tempat baru me
reka berdagang. Mereka berdagang di dekat Pasar Falah.
“Jadi mulai detik ini, sekembalinya bapak-bapak dan ibu-ibu
sekalian dari tempat saya pagi menjelang siang hari ini, silakan langsung gelar
tikar di dekat Pasar Falah …”
Plak pak plak pak …
“Jangan takut. Kalau ada yang coba menghalangi
saudara-saudara berdagang, lapor langsung kepada Pak Sakil atau ke Pak Darus,
bos kalian…”
“Hidup Pak Darus …”
“Hidup Pak Sakil …”
Para pedagang pun sepakat mengangkat tinggi-tinggi badan Pak
Sakil. Dilempar ke atas, lalu jatuh dan dilempar lagi. Begitutulah berulangkali
sehingga menjadi riuh suasana silaturahmi penuh kekeluargaan itu.
Pak Walikota hanya tersenyum. Dia meminta stafnya membiarkan
sejenak luapan kegembiraan para pedagang, dengan tetap menjaga keamanan tanpa
berlebihan.
“Tak ada lagi yang ingin saudara-saudara tanyakan?” Tanya
Pak Wali, berharap semua pedagang puas dan siap berdagang mulai hari ini dan
seterusnya.
“Saya Pak Wali.” Ki Saleh menyarankan, supaya berkah,
pertemuan keakraban ini disudahi dengan pembacaan doa.”
“Setujukah bapak-bapak dan ibu-ibu dengan usulan Ki Saleh
ini?
“Setujuuu Pak Wali.”
Ki Saleh tidak berkeberatan ketika didapuk menjadi pembaca
doa. “Doa ini,” katanya kepada Pak Wali, “Jangan dilihat panjang pendeknya.
Tapi resapkanlah apa yang terkandung di dalam doanya …”
Hening seketika …
“Audzubillahi inasysyaithaanirrojim,
bismillahirohmanirrohim. Ahamdulillah rabbil alamin, washshalatu wassalamu ala
asyrofil anbiyaa’i wal mursalin. Wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain …
Ya Allah, ya Tuhan
kami. Berkahilah pertemuan kami pada
pagi menjelang siang hari ini. Jadikanlah per temuan kami dengan Pak Walikota
yang tampan dan ramah ini membawa berkah dan rahmah serta selalu naungan maghfirah dari-Mu …
Ya Allah .. Berilah
kesehatan kepada pemimpin kami. Bimbingan dan petunjuk-Mu yang dengannya mereka
dapat memimpin kami dengan baik, bijak, adil, arif dan bijaksana …
Ya Allah … Berilah
juga kesehatan kepada kami para pedagang, agar dapat berdagang dengan baik
menurut ketentuan yang telah Engkau
syariatkan …
Ya Allah … Bimbinglah
kami dan ampunilah dosa dan kesalahan kami, baik yang disengaja maupun tidak
disengaja, jika dalam kami berdagang telah merugikan pembeli dan menyakiti
mereka …
Ya Allah … Kami tahu,
kami adalah hamba-Mu yang lemah. Maka itu, ya Allah, bantulah kami agar men jadi
hamba-Mu yang saleh, pedagang yang jujur, amanah dan tidak mengambil untung
semata …
Ya Allah, ya Tuhan
kami. Limpahkanlah rezeki dan rahmat-Mu kepada kami. Rezeki yang Engkau ridhai,
dan dengan rezeki itu kami dapat terus giat mencarinya untuk kepentingan dunia
dan akherat, untuk meraih hidayah da inayah-Mu …
Ya Allah .. Kami sangat
berharap ke depan ini persaudaraan dan hubungan kami dengan sesama peda gang
dan pemimpin kami, terutama di daerah tempat kami diami ini, semakin erat, dan
tidak ada lagi saling curiga mencurigai sesama kami. Saling fitnah, sikut
menyikut dan benci membenci …
Ya Allah .. Kami
akhiri doa ini dengan satu permintaan, jadikanlah kampung kami ini kampung yang
aman, nyaman, penuh berkah dan rahmah, baldatun thayyibatun warobbun ghafur …
Robbana aatina fid
dunya hasanah, wafil aakhirati hasanah, wa qina adzaaaban naar. Walhamdulillahi
rabbil alamin …”
XIV
KURU … kuruuuu …
Hujan turun lebat.
Sebagian tenda plastik roboh. Membuat para pedagang di
sekitar Pasar Falah yang terbakar kelabakan. Mereka berlari menyelamatkan diri
dengan berteduh di rumah warga seberang jalan.
Sementara barang dagangan dibiarkan tergeletak di atas
lapisan tikar plastik yang ditutupi terpal dan plastik besar. Mereka berharap
hujan segera reda sehingga mereka bisa berjualan kembali seperti semula.
“Tunggulah dulu sebentar lagi,” saran Ki Saleh saat beberapa
rekannya sesama pedagang ingin ‘mengunjal’ barang dagangan mereka.
Seperti Mang Dul. Sejak hutan turun tadi, dia gelisah.
Kegelisahannya beralasan. Selain daging jualannya baru laku sedikit, dengan
hujan turun lebat berarti untung yang bakal ia peroleh hari ini sangat sedikit.
Boleh jadi balik modal atau rugi.
Demikian pula halnya dengan Mang Kur. Menjelang tengah hari
ini dia baru mengantongi uang dua ratus ribu perak. Padahal seharusnya, saat
masih jualan di dalam Pasar Falah, dia sudah mengantongi uang satu hingga dua
juta rupiah.
Bagaimana dengan Mang Sen?
Lumayanlah. Walau tidak sebesar untung yang ia peroleh
ketika masih berjualan di dalam Pasar Falah, tapi dengan mengantongi keuntungan
seratus ribu rupiah sudah bisa membeli beras dan lauk pauk seperlunya nanti.
Ikan dagangannya hari ini lumayan banyak dibeli warga.
Selain murah dan masih segar, sebagian besar masih hidup. Hari ini banyak yang
membeli ikan dagangannya. Rata-rata dua sampai lima kilo, entah itu berjenis
ikan betok, sepat, gabus, gurami, seluang
maupun lele dan patin.
Hal serupa juga dialami Mang Jaiz. Buah-buahan yang dia jual
masih dicari warga. Mulai dari jeruk, duku, semangka, duren hingga cempedak dan
rambutan. Ada yang makan di tempat, juga ada dibawa pulang untuk dimakan
bersama keluarga di rumah.
Mendekati hujan
semakin ramai warga yang membeli. Mungkin cuaca panas. Warga ingin
menghilang kan rasa haus dan lapar dengan memakan semangka dan rambutan.
Apalagi kaum ibu yang memang doyan membawa pulang beberapa kilo duku, durian
dan rambutan. Termasuk sawo dan jeruk manis.
Paling apes justru dialami Mpok Leni. Manisan buah-buahan
yang dia jual belum dilirik pembeli.
Hanya sekadar bertanya soal harga dan manisan apa yang dijual dalam
gelok besar. Lepas itu, mereka pergi dan sebelum pulang ke rumah membeli
buah-buahan dan makanan ringan seperti kerupuk kempelang dan buah salak.
“Makanya Mpok. Jualan saja kerupukkempelang. Pasti laris, ya
enggak Mang Dul?” Sindir Mang Kur.
“Betul Mpok. Kalau misalnya mau tambah lagi, boleh. Jangan
kerupuk kempelang saja. Apa misalnya? Pempek, lontong dan pecal barangkali …”
Kata Mang Kur.
“Enggak mau ah,” jawab Mpok Leni cemberut karena terus
diledeki Mang Dul dan Mang Kur sejak berjualan pagi tadi.
“Lho … Kalau Mpok enggak mau, ya rugi teruslah,” sahut Mang
Sen.
“Enggaklah. Buktinya hari-hari kemarin, dan kemarinnya lagi,
manisan yang aku jual habis. Kebetulan saja hari ini tak seorang pun yang
beli,” terang Mpok Leni beralasan.
“Terserah Mpok lah,” kata Mang Dul dan Mang Kur.
Karena hujan tak kunjung reda, malah tetap lebat, diputuskan
mengunjal dagangan untuk ditaruh di teras rumah warga.
Basah kuyup tak pula mereka hiraukan. Yang penting barang
dagangan selamat. Sebab, di sekitar tempat mereka berdagang sudah ada genangan
air. Walau belum terlalu besar, lama kelamaan akan membesar juga yang bisa
menyebabkan banjir besar.
Fenomena bakal terjadinya banjir mulai terlihat ketika parit
di seberang jalan tak mampu lagi menam pung air. Selain tidak terlalu besar,
kelancaran air parit terganggu oleh tumpukan sampah dan tempat air tumpahan
mengalir.
Air dari parit mengalir ke sungai kcil dan sungai inipun
kewalahan bila intensitas hujan tetap tinggi, lebat dan tak kunjung berhenti.
Jadi banjir terjadi akibat tidak mampunyai parit untuk menampung air hujan, sehingga
melebar ke badan jalan dan pemukiman warga.
Sementara sungai kecil yang menerima tumpahan air tak mampu
meneruskan air lantaran terkendala tertutupnya saluran air dari sungai ke anak
sungai. Air jadi tergenang sehingga masa surutnya akan memakan waktu yang lama.
Yang ditakutkan pedagang justru menjadi kenyataan. Hujan tak
kunjung reda, banjir tak terelakkan. Un tungnya, warga sekitar Pasar Falah
sudah terbiasa mengalami banjir. Mereka tidak panik lagi. Rumah mereka dibuat
bertingkat. Jadi, bila banjir datang, mereka naik ke lantai dua, paling atas.
Sebagian kecil perabotan rumah di lantai satu. Warga mengisinya
dengan sekenanya dan seperlunya saja. Kur si misalnya, mebel jati mereka taruh
di lantai dua. Sedangkan di lantai satu hanya kursi kayu dengan perabot rumah
tangga lainnya yang terbikin dari kayu yang tahan air.
Jadi saat hujan turun mendadak tengah malam, mereka tak
kerepotan lagi. Hanya perlu menyelamatkan motor dan mobil dengan menumpang di
rumah warga yang tinggi letaknya dari permukaan tanah.
Kendati demikian ada juga sebagian kecil warga yang justru
menempatkan perabotan sama bagusnya di setiap lantai. Akibatnya, saat hujan
turun lebat mereka harus cepat mengangkut barang itu untuk dita ruh di lantai
dua.
Karena jika terlambat maka barang-barang berharga itu ikut
terendam air dan untuk mengangkutnya menunggu air
surut kembali. Apalagi bila hujan itu turun saat warga terlelap tidur.
Warga yang rumahnya tidak kebanjiran, bukannya tidak mau
menolong. Tapi karena kejadiannya sering kali tiba-tiba dan pada malam hari, mereka
hanya bisa menjadi penonton dan ikut prihatin. Sebab, air ya ng masuk ke dalam
rumah warga itu sangat besar dan dalam. Bisa mencapai setinggi badan manusia
berukuran normal.
Sebagai tetangga, mereka menyiapkan tempat untuk menaruh barang-barang
jiran yang rumahnya ke banjiran. Membantu apa yang bisa dibantu. Bagi mereka yang
berkecukupan, bukan hanya tenaga, uang pun biasa mereka gelontorkan hanya untuk penyelamatan nyawa dan harta benda.
Banjir yang datang tidak setiap hari, minggu dan bulan ini
tampaknya sulit untuk diantisipasi. Kalau se kadar mengungsi bisa dan warga
yang membangun rumahnya di tanah yang tinggi, siap sedia menam pung mereka.
Tapi untuk menghilangkan banjir sulit dilakukan.
Karena sulitnya mengatasi banjir yang masuk ke pemukiman
warga, warga yang rumahnya rutin dilanda banjir, menempuh empat cara. Pertama,
menimbun rumahnya dengan tanah, kedua,meningkatkan bangunan rumah. Ketiga,
pindah rumah, dan keempat, pasrah.
Tak sedikit warga yang menimbun rumahnya dengan tanah.
Risikonya tentu ada. Biaya yang dikeluarkan cukup besar untuk membeli tanah dan
tetek bengek lainnya. Itu pun belum mutlak terbebas dari musi bah banjir. Hanya saja
frekuensinya jadi menurun. Jika sebelumnya sampai masuk rumah, kini cuma asal
basah saja. Paling seperempat jari telunjuk. Tidak lebih da tidak pula kurang.
Yang paling banyak adalah meningkatkan fondasi rumah. Jika
sebelumnya berlantai satu, ditingkatkan
lagi menjadi lantai dua. Sama dengan menimbun tanah, biaya meningkatkan
rumah sangat mahal ka rena sama dengan kita membuat rumah yang baru.
Tetapi kelemahannya tetap banjir besar. Air akan tetap masuk
rumah. Kelebihannya, warga bisa tidur pu las karena banjir tak bakalan merambah
sampai lantai dua. Hanya saja mereka
harus membersihkan sisa-sisa banjir dan
sampah yang berserakan di lantai dasar, agar terlihat bersih sediakala.
Sedangkan alternatif yang ketiga, mudah dilakukan tapi sulit
direalisasikan. Warga lain biasanya sudah paham mana daerah langganan banjir
dan mana pula yang tidak. Jadi, saat pindah rumah dan rumah lama akan dijual,
sulit lakunya.
Karena warga tak ingin mengambil risiko. Apalagi warga
sekarang ingin yang serba beres, aman dan tenang. Rumah itu dibeli, siap untuk
ditinggali.
Jauh dari kesan seram dan menakutkan. Andaikata tidak juga
ditempati, bisa disewakan atau dikon trakkan. Atau diubah bentuknya menjadi
rumah toko yang siap digunakan untuk berbisnis.
Bagi yang tidak punya pilihan lain, alternatif yang ditempuh
adalah membiarkan rumah tidak ditimbun, tidak ditingkatkan, apalagi dijual dan
pindah rumah.
Pilihan yang terakhir ini ternyata cukup banyak. Mereka
membiarkan rumah dan pekarangan kemasukan air, dan setelah banjir surut mereka
baru berbenah lagi.
Pilihan ini menimbulkan banyak risiko, di antaranya selalu
waspada saat musim hujan tiba. Hujan tak ten tu datangnya, walaupun dengan
intensitas yang tidak lebat. Karena begitu air merambah masuk, motor dan mobil,
barang berharga pertama yang harus diselamatkan. Jika dibiarkan terendam dalam
air, mesin akan rusak dan biaya perawatannya sangatlah besar.
Belum lagi terganggunya tidur malam. Kendati air tidak
sampai menenggelamkan atap bubungan, kare na surutnya tidak bisa cepat,
aktivitas keseharian jelas terganggu. Anak-anak yang berangkat ke sekolah, saat
meninggalkan rumah, berpakaian seadanya
dulu, dan baru ditukar dengan seragam sekolah ketika sampai di jalan besar. Atau
mereka bisa menumpang di rumah tetangga yang tidak mengalami keban jiran.
Demikian pula halnya dengan kedua orang tua mereka yang
sama-sama bekerja. Terpaksa berangkat ker ja dengan menggunakan jasa opelet
lantaran sepeda motor dan mobil kepunyaan sendiri ikut terendam air. Atau
mengutak-atik kendaraan yang ngadat terlebih dulu sebelum menukar pakaian dan
berangkat kerja ke tempat kerja masing-masing.
Kondisi ini terus menerus terjadi, berulang-ulang, sehingga
membuat biasa yang mengalaminya. Sele bihnya hal luar biasa bagi mereka yang
baru pertama kali melihatnya …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar