Sabtu, 24 Desember 2016

Ki Saleh (3)



Novel  Lepas
Ki Saleh (3)
Edisi Ketiga
By  Pak Amin

XI
LEPAS salat Zuhur dan makan siang bersama Ki Saleh, suami tercinta, Sri Hapsari menuju masjid Nurul Falah. Seperti biasa, menjelang sore hari, dia mengajar dan membimbing anak-anak di Taman Pendi dikan Nurul Falah.
Taman Pendidikan Nurul Falah kini sudah semakin maju. Selain tempat belajarnya lebih luas, pasca re hab dan penambahan tempat wudhu’ dan parkir, meja dan kursinya baru dengan lantai marmer yang dilapisi hambal merah, biru dan hijau.
Ada dapur kecil. Siswa Nurul Falah, jika haus, bisa mengambil air minum sendiri dari galon air yang tersedia. Mau bikin teh juga bisa. Tapi kalau mau makan, semisal mie, bawa dari rumah, atau beli di warung dan meraciknya di dapur bersama ini.
Siswa Taman Pendidikan Nurul Falah ini sudah memasuki angkatan V. Angkatan I yang berjumlah se pu luh orang, di antaranya Murni, Leni, Nabila, Dahlia dan Maskur sudah selesai dan berhasil mena matkan pendidikan mereka. Selama enam bulan digodok Sri Hapsari dengan berbagai ilmu agama secara teori dan praktik di masjid Nurul falah.
Sebagian besar dari mereka kini sudah melanjutkan sekolah ke jenjang es em pe dan madrasah tsanawi yah di kam pung lain serta kota besar. Mereka meninggalkan Taman Pendidikan Nurul Falah dengan ke pala tegak, penuh sukacita dan mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada Bu Sri Hapsari selaku pengajar yang setia mengajar dan mendidik mereka menjadi anak yang berakhlak mulia, berjiwa agamis dan santun kepada siapapun.
Bu Sri sangat terharu. Dia sendiri tak menyangka siswa yang ia didik di Taman Pendidikan Nurul Falah ini sudah memasuki angkatan kelima. Jumlah siswanya bukan lagi sepuluh, tapi sudah lima belas. Usia me reka rata-rata antara 6-12 tahun, berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Kelima belas siswa itu adalah Udin, Purwo, Sableng, Kuncoro, Muhsin, Ali, Maryam, Tina, Susilawati, Yana, Fatimah, Sulastri, Rahma, Tatik dan Lena.
“Selamat sore anak-anak!”
“Sore juga Bu Ustazah Sri …!”
“Pelajaran apa kita hari ini?”
“Cara berdoa yang baik,” jawab siswa serempak.
“Baiklah. Kalian pasti sudah tahu dan sudah membuat sendiri serta menghafal doa tersebut bukan?”
Siswa tak menjawab.
“Sekarang, yang namana ibu panggil, maju ke depan memimpin doa. Siap anak-anak?”
“Siap Bu Guruu,” jawab siswa dengan suara pelan.
“Kenapa loyo?”
“Belum makan Ustazah,” jawab Udin.
Ha ha ha ha …
“Bohong Bu. Udin aku lihat tadi pulang sekolah jajan mie di warung sebelah rumahku,” kata Sableng.
“Kamu Fatimah, sudah makan belum?”
“Sudah Bu.”
“Lauk apa?”
“Ikan teri, Bu.” Jawab Fatimah malu-malu.
Siswa kembali tenang.
“Udin …” sebut Bu Sri dengan suara lantang.
Udin maju ke depan. Dia membawa sehelai kertas putih kecil berisikan tulisan. Tulisan itu sengaja ia bawa supaya, kalau misalnya lupa, bisa nyontek.
“Itu apa Din?”
“Kertas Bu Ustazah.”
“Coba ibu tengok.”
Setelah dibaca Bu Sri sebentar, kertas itu diberikannya kembali pada Udin. Setelah itu Udin berdiri di tengah membelakangi papan tulis.
Siswa diam. Bersiap mendengarkan.
Udin berucap …

“Marilah kita sama-sama mengangkat tangan, berdoa kepada Allah SWT ..”
Siswa mengangkat tangan. Menengadah. Juga Bu Sri Hapsari …

“Audzubillahi minasysyaithanirrojim. Bismillahirrohmanirrohim. .. Ya Allah, kami berdoa kepada-Mu, mohon  turunkanlah air hujan agar sawah ladang kami basah, bisa panen besar dan menghasilkan banyak uang. Amin …
Robbana aatina fiddunya hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqina azaabannar. Wasallalaahu ala sayyidil mursalin, walhamdulillahi robbil alamin …”

Plak pak plak pak …
“Pendek amat Bu. Enak sekali si Udinnya,” protes Muhsin.
Bu sri Hapsari menengahi.
“Tak mengapa Muhsin. Ini kan latihan. Kalau sungguhan, bisa diketawai orang. Betul tidak?”
“Betuuuul …”
“Udin. Terima kasih ya,” ucap Bu Sri kembali ke tempat duduknya semula.
“Ya Bu,” jawab Udin. Agak terlambat dia menjawabnya karena kertas ia bawa tadi diambil paksa Sab leng. Kertas itu sempat berpindah-pindah tangan. Ketika  ada di tangan Maryam, ia berikan ke Udin.
“Berikutnya … Maryam!”
Plak pak plak pak …
Bergaya keibuan, Maryam berjalan ke depan kelas sambil memegang tengahan kain yang ia kenakan, tersenyum mengembang ke sesama rekannya.
“Maryam,” sapa Bu Sri yang merasa takjub dengan penampilan Maryam kali ini. Berbaju lengan panjang, kain bermotifkan bunga dengan selendang penutup kepala berwarna putih.
“Mau nyanyi qasidah Bu Ustazah.” Ledek Sulastri.
“Bukan Bu,” sahut Rahma, “tapi mau nyuci ke sungai.”
Ha ha ha ha …
“Maryam. Ayo Nak, bacalah doanya …”
“Baik Bu Ustazah,” jawab Maryam.  Setelah merapikan tutup kepalanya, ia atur nafas dan berucap …


“Ya Allah, ya Tuhan kami. Limpahkanlah rezeki kepada orangtua kami … Lakukanlah dagangannya, biar kami dapat duit buat bayar uang sekolah …
Sehatkanlah ia karena mereka berdua adalah gantungan hidup kami. Ya Allah, kabulkanlah doa kami. Amin …”
Plak pak plak pak …
“Bagus sekali. Terima kasih Maryam. Silakan duduk kembali.”
Suasana kelas kembali riuh. Bukan karena bercanda dan saling ejek, tapi saling menerka siapa gerangan berikutnya yang bakal kena panggil Bu Sri Hapsari.
“Kuncoro …”
“Betul kan kataku,” kata Ali bangga.
“Bu Sri. Seharusnya Sableng Bu, bukan Kuncoro.” Protes Sulastri. Ia menduga Bu Sri salah memanggil.
“Oh iya. Ibu salah. Yang benar adalah Sableng …”
“Horeee. Aku yang benar, Ali yang salah.” Sulastri senang karena tebakannya benar.
Bu sri Hapsari cuma terenyum.
“Sableng. Ke depan Nak. Bukan duduk melamun di kursi.” Bu Sri mendekatinya. Ia rupanya larut dengan sikap senang Sulastri dan kecewa beratnya Ali.
Ha ha ha ha …
Sableng tiba-tiba lupa apa yang hendak diucapkan. Dia hanya menggaruk-garuk kepala dan malu hati sama Bu Guru karena lupa hafalan doanya.
“Sudah. Enggak usah gugup. Yang kamu ingat sajalah. Ada kan?”
Sableng mengingat-ingat sesuatu. Lalu ia tersenyum.
“Ada Bu Ustazah …”
“Nah, coba kamu ucapkan …”
“Baik Bu …”
Sableng mengucap … “Bismillahirrohmanirrohim.” Agak gugup, ia melanjutkan ucapannya …

“Ya Allah … sehatkanlah ibu guru kami. Agar beliau bisa terus mengajar kami. Jangan memarahi kam. Tapi menyayangi kami selalu setiap kali mengajar … Amin.”

Plak pak plak pak …
“Merayu Bu Sri,” komentar Purwo. Ketawa cekikikan bersama Udin dan Kuncoro. Mereka heran kenapa Bu Guru Sri Hapsari yang disebut-sebut. Dia kan sudah sehat, selalu sayang dan ikhlas dalam mengajar.
“Terima kasih Sableng. Berikutnya ibu panggil … Kuncoro.”
“Hidup Kuncoro. Hiduuup …” kata Ali sambil bertepuk tangan, diikuti beberapa teman yang lain.
“Sore teman-teman.” Kuncoro menyapa teman-temannya sembari tersenyum lebar.
“Sore juga …”
Karena suara Maryam lebih nyaring menjawab “sore juga”, jadi bahan ledekan Ali dan kawan-kawan.
Ssssst …
Bu Sri Hapsari meminta anak didiknya yang laki-laki diam. Tidak ribut.
“Dengarkan dan aminkan doa dari temanmu ini ya …”
“Ya Bu Guruuu …”

“Bismilillahirrohmanirrohim … Ya Allah, ya Tuhan kami. Sehatkanlah orangtua kami. Limpahkanlah mereka rezeki yang banyak agar kami belajar enak dan tidur nyenyak.
Ya Allah, ya Tuhan kami .. Berilah kami, orangtua kami dan guru kami yang cantik dan baik hati ini kese hatan, agar selalu setia dan ikhlas melaksanakan tugas mereka sehari-hari serta selalu menyayangi  dan mengasihi kami sepenuh hati.
Ya Allah, ya Tuhan Kami. Sayangilah kami, siswa Taman Pendidikan Nurul Falah ini. Jadikanlah kami anak yang saleh, berbakti kepada kedua orangtua, menyayangi Bu Guru kami, dan hormat selalu kepada orang yang lebih tua dari kami …
Ya Allah, ampunilah dosa kami. Mudahkanlah segala urusan kami. Terimalah amal kami dan masukkanlah kami kelak di surga yang telah Engkau janjikan. Amin …”

Maryam dan  rekan siswi lainnya  bertepuk tangan. Sementara Ali dan beberapa siswa hanya terheran-heran. Kenapa begitu bersemangatnya para siswa bertepuk tangan. Baru berhenti setelah Kuncoro duduk kembali dan ikut bertepuk tangan bersama Ali dan kawan-kawan.


XII      
“BERIKUTNYA adalah Muhsin …” Siswa serempak bertepuk tangan. Berdiri, lalu duduk lagi. Baru berhenti bertepuk tangan setelah Muhsin mengucapkan salam dan membacakan doa …
“Sebentar Sin …”
“Ya Bu,” jawab Muhsin.
“Kamu enggak bawa kertas hafalan?”
“Enggak Bu.”
“Jadi hafal semuanya di luar kepala?”
“Mudah-mudahan Bu Guru.”
“Baguslah …”
Muhsin menggeser posisinya ke dekat meja Bu Guru Sri Hapsari, bukan ke tengah seperti teman-teman nya tadi.

“Ya Allah .. jadikanlah kami yang ada di sini sebagai hamba-Mu yang dapat bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah Engkau berikan.
Ya Allah ya Tuhan kami. Bimbinglah kami agar menjadi anak yang saleh, berguna bagi masyarakat, bangsa  dan negara.
Ya Allah ya Tuhan kami. Kami serahkan hidup dan mati kami hanya kepada-Mu. Berilah kami kesehatan dan ampunilah dosa kami, dosa ibu bapa kami baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Ya Allah ya Tuhan kami .. Rukunkanlah kami, menghargai dan menghormati sesama, saling membantu dengan sesama dan selalu dalam lindungan-Mu. Amin …” 


 Plak pak plak pak …
“Berikutnya Ali .. ke depan!”
Ali sudah siap berdiri. Tapi dia belum beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya. Dia sibuk membuka tas, merogoh kantong celana dan saku bajunya.
“Ali … kenapa?”
“Hilang Bu ..” Jawab Ali dengan raut muka bingung.
“Apanya yang hilang Ali?”
“Duit Bu …” Celetuk Sableng.
Ha ha ha ha …
“Bukan Bu, tapi kepekan.”
Ha ha ha ha …
“Bohong Bu. Ali pura-pura saja, biar bu tak panggil dia ke depan,” sahut Tina ketawa cekikikan.
Karena tak ketemu juga itu kepekan, sementara teman-temannya pada terus ngeledek dia, Ali dengan berat hati maju ke depan dengan perasaan cemas.
“Benar kepekannya hilang Ali?” Bu Sri melihat ada perubahan pada diri Ali. Tadinya periang, kok sekarang ‘meriang.’
“Kamu enggak apa-apa kan?”
“Enggak Bu.”
“Lalu kenapa mukamu pucat sekali?”
“Takut sama ibu.”
“Kenapa?”
“Ibu marah kalau Ali tidak hafal doa.”
Ha ha ha ha …
“Suruh berdiri dengan kaki satu Bu Guru,” kata Purwo dan Udin.
“Jangan Bu,”  sahut Maryam, “ Nanti kalau dia jatuh atau sakit bagaimana?”
“Bawa saja ke rumah sakit,” timpal Susilawati.
Bu Sri Hapsari meminta siswanya tenang. Dia ingin Ali tetap berdoa di depan kelas.
“Apa saja yang kamu ingat sekarang, itulah yang kamu omongkan. Mau kan?”
“Mau Bu …” jawab Ali seakan sudah siap dan telah mempersiapkan jauh-jauh hari doa yang bakal dia baca di hadapan Bu Guru dan rekan-rekannya.
“Teman-teman semua. Marilah kita sama-sama mengheningkan cipta. Mengheningkan cipta dimulai ……..”
Semua siswa dengan kepala menunduk mengheningkan cipta selama lebih kurang sepuluh detik. Setelah itu, Ali mengucapkan terima kasih dan kembali ke tempa dia duduk.
Tak ada tepuk tangan. Bukan karena tak suka dan tak elok penampilan Ali sore hari ini. Tapi tak sempat mengeluarkan komentar. Setelah Ali duduk, rekan-rekannya baru mulai mengeluarkan komentar.
Komentar itu datang berawal dari Maryam dan Susilawati. Menyusul Udin, Purwo,  Sableng, Kuncoro dan Sulastri. Meskipun ada yang memuji, dan tak sedikit yang mengeritik, Ali tetap duduk sopan di kursi belajarnya. Dia cuma cengar- cengir, berganti ketawa setelah Bu Sri Hapsari memanggil nama Sulastri.
Sulastri sengaja memperlambat langkah kakinya, membuat teman-temannya kesal. Sudah lambat, mam pir dulu ke  teman siswi lainnya. Ngomong sebentar dan baru sampai di meja Bu Sri tiga menit kemudian.
“Sulastri!”
“Ya Bu. Disini Sulastri … berdiri di sebelah ibu …”
Ha ha ha ha …
“Hafal tidak doanya?”
“Hafal Bu Guru …”
“Bacakan sama teman-temanmu yang lain …”
“Baik Bu.”
Seluruh siswa diam. Tenang, tekun menyimak ke depan. Bersiap mendengarkan  doa apa gerangan yang akan dibaca Sulastri. Ternyata inilah doanya …

“Ya Allah, ya Tuhan kami. Jadikanlah kawan-kawanku sekelas ini kawan-kawan yang baik. Tidak mengejek, tidak mengolok-olok dan tidak membuat kesal serta amarah …
Ya Allah, ya Tuhan kami. Bimbinglah kami hari ini sekiranya mereka berbuat tidak baik kepada kami. Tegurlah mereka kalau salah, dan maafkanlah mereka sekiranya telah berbuat dosa …
Ya Allah, ya Tuhan kami. Limpahkanlah rezeki kepada orangtua kami, kesehatan pada mereka, agar mereka tetap bisa memberi kami duit jajan sehingga pulang dari sini tidak sampai kelaparan …”
Hik  hik  hik hik  hik …
Muhsin tak bisa menahan gelinya. Ia lalu tertawa. Ternyata ketawanya ini didengar Bu Sri Hapsari. Si ibu guru tidak marah. Dia hanya mengingatkan Muhsin agar tidak membuat keributan saat belajar.
“Teruskan doanya Sulastri …”
“Ya Bu …”

“Ya Allah, ya Tuhan kami. Capaikanlah cita-cita kami. Karena kami disini ingin macam-macam samamu ya Allah. Ada yang ingin jadi dokter, guru seperti Bu Guru Sri Hapsari, insinyur, bidan, pengusaha dan bah kan juga ada yang kepingin jadi orang kaya …
Karena ya Allah, jadi orang kaya itu enak. Kemana mana bis. Beli sepatu mahal bisa, beli rumah apalagi. Pokoknya semua bisa. Bisa menolong sesama karena banyak uang.
Ya Allah, ya Tuhan kami. Jauhkan kami dari fitnah dan godaan, bala kecil dan besar, terhindar dari terje rumusnya kami ke lembah dosa. Bantu kami ya Allah. Amin.”

Plak pak plak pak …
Setelah Sulastri, giliran Tina yang dipanggil. Dia bersegera mendekati meja Bu Sri. Dia bicara sesuatu, entah apa.
“Angkat tangan yang tidak hafal.” Pinta Bu Sri. Dia kaget setelah melihat semua siswanya yang belum mendapat giliran menghafal di depan kelas, angkat tangan semuanya.
“Ke depan semuanya!” Bu Sri Hapsari berdiri dan mengatur posisi Tina, Susilawati, Yana, Fatimah, Rah ma, Tatik, Lena dan Purwo.
“Kenapa tidak hafal?”
“Saya Bu jawabnya,” ucap Susilawati. Ia beralasan, semalam dia membantu kedua orangtuanya menumbuk padi.
“Alhamdulillah selesai Bu Guru. Mulai pagi tadi kami sudah bisa makan nasi …”
“Saya Bu,” kata Rahma. “Semalam saya bantu ibu bikin keripik ubi jajanan.  Alhamdulillah selesai. Pagi tadi ibu dan saya jualan keliling. Habis Bu, tapi …”
“Kenapa Rahma?”
“Saya baru tahu sebelum berangkat tadi Bu Guru. Kalau saya lupa menghafl doa,” aku Rahma menyesali kenapa sampai lupa menghafal doa. Padahal ada waktu senggang, meski hanya setengah jam.
“Kamu Tatik?”
“Saya Bu. Anu Bu .. apa ya?” Karena garuk-garuk kepala, teman-temannya ngeledeki dengan ledekan “banyak kutunya.”
“Anu kenapa Tik?”
“Enggak hafal-hafal Bu,” jelas Tatik. Dia meminta maaf karena belum hafal. Dia berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa dan mengingat hafalan.
“Mana mau hafal Bu. Tatik sukanya nonton sinetron di televisi,” celetuk Sableng memancing Tatik marah.
Ha ha ha ha …
Bu Sri Hapsari memang bijaksana. Dia pandangi satu-satu siswanya. Terutama Tina dan Susilawati. Da lam hati kecilnya ia menangis. Ia terharu mendengar pengakuan keduanya. Dia takjub karena penam pilan dua siswinya itu berbeda. Tetap riang, mau diajak bercanda dan ramah kepada siapa saja.
“Karena tidak hafal, ibu minta kalian qasidahan saja. Mau kan?”
“Mauuuu …”
“Yang mimpinnya adalah …”
“Tina Bu Guru,” ujar Fatimah.
Tina menyanggupi. Karena mereka sudah terbiasa melihat orang qasidahan, dan pernah ikut rame-rame memeriahkan  acara maulidan, diminta mengaji di depan kelas, kenapa mesti ditolak.
“Lagu apa?” Tanya Bu Guru Sri. Ikut duduk bersama siswanya di kursi Fatimah.
“Lagu dangdut saja Bu,” teriak Purwo ketawa geli.
“Jangan Bu. Lagu barat saja,” sahut Udin. Malu sendiri karena Bu Guru Sri ternyata ikut duduk di tengah-tengah mereka.
“Lagu apa?”
“Insyaflah Bu,” jawab Tina dan rekan-rekannya serentak.
Seperti apakah qasidahnya?
Tak ada rebana. Musiknya hanya dengan menepuk-nepeuk kedua belah telapak tangan silih berganti, bernyanyi  bersama, dan inilah di antara syairnya …

“Insyaflah wahai manusia
Jika dirimu berdosa
Agar tidak menyesal nantinya
Setelah kekal di neraka

Berbuat baiklah wahai manusia
Jika dirimu merasa berguna
Hidup di dunia tak sia-sia
Balasannya hanyalah surga dari-Nya

Jangan kau sakiti sesama
Karena itu dosa
dan membuat-Nya murka
Di akhirat tak luput jua …”

XIII
“API … api … api … tolooong!” Teriak seorang pedagang memberitahu sesama pedagang lain bahwa api dari belakang pasar makin membesar.
“Mang Dul, cepat kau selamatkan uang dan daganganmu,” ucap Mang Kur yang tampak sigap memasuk kan  beberapa potong daging sapi yang tersisa ke dalam kotak tempat penyimpanan daging.
Beberapa warga di sekitar pasar bahu membahu memadamkan kobaran api. Karena derasnya angin, api sulit dipadamkan. Merembet ke kios lain di tengah pasar, meluluhlantakkan atap seng dan bangunan kayu di belakang pasar.
Mang Dul dan puluhan pedagang lain sibuk mengangkut kotak dan barang dagangan ke luar pasar. Para pembeli, terutama ibu-ibu menjerit histeris. Panik dan saling tabrak serta dorong-dorongan satu sama lain.
Karena secara bersamaan, dari luar pasar banyak orang yang masuk, ikut membantu pedagang mengun jal dagangan sementara jalan di dalam pasar tidak terlalu lebar. Berhimpit-himpitan di lorong lapak pasar sayur dan ikan tak terhindarkan.
Beberapa petugas keamanan pasar sibuk mengatur lalu-lalang pembeli dan pedagang. Bahkan beberapa di antaranya ikut menggendong bayi dan anak-anak guna diselamatkan  dari himpitan keramaian orang.
Selama tiga puluh menit api belum berhasil dipadamkan. Api baru berhenti berkobar setelah petugas pemadam kebakaran menyemperotkan air lewat selang besar. Para pedagang, sebagian kecil pembeli dan warga sekitar  pasar hanya bisa menyaksikan betapa kemudian Pasar Falah yang lumayan megah itu kini tinggal puing dan nyaris rata dengan tanah.
Sri Hapsari yang diberitahu seorang kenalan Ki Saleh bahwa Pasar Falah terbakar siang itu sempat syok. Namun hanya beberapa saat. Karena setelah itu, setelah mendapat kabar dari Ki Saleh via telepon selu ler, lega dan sudah bisa melakukan aktivitasnya lagi. Mengajar pada jam terakhir.
Memang, tak satu pun pedagang dan pembeli yang mengalami cedera serius apalagi tewas, kecuali luka lecet karena terinjak batu dan kaki orang yang lalu-lalang di dalam pasar. Hanya saja, kerugian material belum bisa ditaksir berapa jumlahnya. Sebab, petugas belum bisa menghitungnya secara rinci. Diperki rakan men capai ratusan juta rupiah , boleh jadi mencapai angka dua miliar lebih.
Hal ini dilihat dari banyaknya kios yang terbakar. Kios-kios itu menjual beragam dagangan mulai dari pa kaian seragam sekolah, pakaian anak-anak dan remaja serta busana dengan berbagai macam corak dan warna yang lagi ngetren. Belum lagi buku-buku tulis, buku bacaan, minyak sayur dan rumah makan.
Ada puluhan kios besar dan kecil yang buka di Pasar Falah. Kios-kios itu memang bukan hak milik, hanya disewakan orang per orang. Tapi barang dagangannya itu milik si penyewa. Puluhan juta rupiah mereka keluarkan modal, itu pun yang paling kecil.  Kalau kiosnya besar paling tidak keluar uang modal ratusan juta rupiah.
Selain modal melayang, kini para pedagang harus mencari tempat lain buat berdagang. Dimana? Itulah pertanyaan yang dilontarkan sebagian pedagang. Mereka meminta pihak terkait secepatnya menye diakan tempat buat mereka berdagang.
“Tolonglah Pak Wali, bagaimana dengan nasib kami ini. Kami hanya bergantung dari  dagang inilah. Lain tidak. Kalau kami tidak berdagang, mau makan apa anak dan isteri kami,” keluh pedagang pakaian bekas  mengiba.
“Kami juga Pak Wali. Hutang kami sudah menumpuk. Ditambah lagi modal yang juga hilang. Entah kami tak tahu lagi kemana harus mencari modal. Beberapa hari ke depan kami harus makan apa. Entahlah,” kata pedagang tahu dan tempe tertunduk lesu. 
 Bukan hanya pedagang tahu dan tempe saja yang tertunduk lesu. Beberapa pedagang lain mulai dari pedagang manisan hingga buah-buahan tertunduk lesu. Kendati sebagian besar barang dagangan berhasil diselamatkan, untuk menjualnya di tempat lain belum tentu laku.
“Jadi kami harap Pak Wali secepatnya memberi tempat kami berdagang yang bukan saja terjangkau oleh pembeli, tapi juga aman dan nyaman seperti di Pasar Falah ini,” kata Mang Kur penuh harap.
Harapan senada juga disampaikan Mang Dul dan rekan-rekan sesama pedagang daging. “Kalau bisa di tempat terbakar inilah juga kami diizinkan berdagang. Selain sudah dikenal luas masyarakat, tempat ini juga memberi kami rezeki yang lumayan.”
“Janganlah kami ditempatkan di tempat yang sepi. Jauh dari keramaian. Tapi tempatkanlah kami di tempat yang ramai pengunjungnya,” pinta Mang Sen.
“Kami tak keberatan pasar ini dibangun kembali. Tapi tempatkanlah kami di tempat yang kosong dekat Pasar Falah ini juga. Bukankah di samping masih ada lahan kosong duhai Pak Wali. Nah, izinkanlah kami menempatinya buat berdagang,” ucap Mang Jaiz.
Pak Wali sengaja memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pedagang menyampaikan uneg-unegnya pada silaturahmi yang berlangsung harmonis  di kediamannya.  Dengan demikian  dia bisa memberikan solusi terbaik beberapa hari ke depan.
“Sekarang saya selaku walikota ingin bertanya kepada bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Tolong sepa kati dulu sesama kalian lokasi manakah untuk sementara ini yang akan dijadikan tempat berdagang.”
Mendengar permintaan Pak Wali, para pedagang pun berembuk. Mereka menunjuk Ki Saleh memimpin rembukan ini. Ki Saleh tak keberatan. Mereka pun meminta waktu kepada Pak Wali untuk berembuk di  samping luar kediaman Pak Wali.
Pak Wali tak keberatan. Namun, demi efisiensi waktu, Pak Wali menskors silaturahmi selama satu jam. Diharapkan tempat berdagang yang diinginkan pedagang sudah bisa diketahui dan tentunya pihak peme rintah kota akan memberi keputusan yang terbaik untuk pedagang Pasar Falah.
Kepada rkan-rekannya, Ki Saleh menawarkan dua pilihan tempat berdagang. Pertama, dekat Pasar Fa lah. Kedua, jauh dari Pasar Falah yang lokasinya ditentukan kemudian. Dari dua tawaran ini, seluruh pedagang sepakat memilih berdagang dekat Pasar Falah.
“Semua setuju?” Ki Saleh meminta ketegasan dari seluruh pedagang yang hadir.
Karena sudah sepakat setuju, Ki Saleh yang ditemani Mang Dul dan Mang Kur, menemui Pak Walikota yang sedang berbincang-bincang dengan para stafnya. Kertas selembar putih itu, Ki Saleh serahkan kepada Pak Wali.
Tak berapa lama setelah itu, acara temu silaturahmi antara pedagang dengan Pak Wali dimulai lagi. “Teri ma kasih bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Saya telah terima surat  pernyataan tempat berdagang yang kalian inginkan …”
Pak Wali menoleh ke stafnya, kepala dinas pasar.
“Bagaimana Pak Darus?
“Siap Pak Wali,” jawabnya yang menyetujui pilihan apapun yang dipilih para pedagang.
“Terima kasih Pak Darus. Jadi saya setujui pilihan bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian.”
Plak pak plak pak …
“Hidup Pak Wali …”
“Hidup pedagang …”
“Goyang terus sampai tua.”
“Dagang terus sampai peyot …”
Teriakan pada pedagang  ini spontan dilakukan pedagang menyusul  telah disetujuinya  tempat baru me reka berdagang. Mereka berdagang di dekat Pasar Falah.
“Jadi mulai detik ini, sekembalinya bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian dari tempat saya pagi menjelang siang hari ini, silakan langsung gelar tikar di dekat Pasar Falah …”
Plak pak plak pak …
“Jangan takut. Kalau ada yang coba menghalangi saudara-saudara berdagang, lapor langsung kepada Pak Sakil atau ke Pak Darus, bos kalian…”
“Hidup Pak Darus …”
“Hidup Pak Sakil …”
Para pedagang pun sepakat mengangkat tinggi-tinggi badan Pak Sakil. Dilempar ke atas, lalu jatuh dan dilempar lagi. Begitutulah berulangkali sehingga menjadi riuh suasana silaturahmi penuh kekeluargaan itu.
Pak Walikota hanya tersenyum. Dia meminta stafnya membiarkan sejenak luapan kegembiraan para pedagang, dengan tetap menjaga keamanan tanpa berlebihan.
“Tak ada lagi yang ingin saudara-saudara tanyakan?” Tanya Pak Wali, berharap semua pedagang puas dan siap berdagang mulai hari ini dan seterusnya.
“Saya Pak Wali.” Ki Saleh menyarankan, supaya berkah, pertemuan keakraban ini disudahi dengan pembacaan doa.”
“Setujukah bapak-bapak dan ibu-ibu dengan usulan Ki Saleh ini?
“Setujuuu Pak Wali.”
Ki Saleh tidak berkeberatan ketika didapuk menjadi pembaca doa. “Doa ini,” katanya kepada Pak Wali, “Jangan dilihat panjang pendeknya. Tapi resapkanlah apa yang terkandung di dalam doanya …”
Hening seketika …

“Audzubillahi inasysyaithaanirrojim, bismillahirohmanirrohim. Ahamdulillah rabbil alamin, washshalatu wassalamu ala asyrofil anbiyaa’i wal mursalin. Wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain …
Ya Allah, ya Tuhan kami. Berkahilah pertemuan kami  pada pagi menjelang siang hari ini. Jadikanlah per temuan kami dengan Pak Walikota yang tampan dan ramah ini membawa berkah dan rahmah serta  selalu naungan maghfirah dari-Mu …
Ya Allah .. Berilah kesehatan kepada pemimpin kami. Bimbingan dan petunjuk-Mu yang dengannya mereka dapat memimpin kami dengan baik, bijak, adil, arif dan bijaksana …
Ya Allah … Berilah juga kesehatan kepada kami para pedagang, agar dapat berdagang dengan baik menurut ketentuan  yang telah Engkau syariatkan …
Ya Allah … Bimbinglah kami dan ampunilah dosa dan kesalahan kami, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, jika dalam kami berdagang telah merugikan pembeli dan menyakiti mereka …
Ya Allah … Kami tahu, kami adalah hamba-Mu yang lemah. Maka itu, ya Allah, bantulah kami agar men jadi hamba-Mu yang saleh, pedagang yang jujur, amanah dan tidak mengambil untung semata …
Ya Allah, ya Tuhan kami. Limpahkanlah rezeki dan rahmat-Mu kepada kami. Rezeki yang Engkau ridhai, dan dengan rezeki itu kami dapat terus giat mencarinya untuk kepentingan dunia dan akherat, untuk meraih hidayah da inayah-Mu …
Ya Allah .. Kami sangat berharap ke depan ini persaudaraan dan hubungan kami dengan sesama peda gang dan pemimpin kami, terutama di daerah tempat kami diami ini, semakin erat, dan tidak ada lagi saling curiga mencurigai sesama kami. Saling fitnah, sikut menyikut dan benci membenci …
Ya Allah .. Kami akhiri doa ini dengan satu permintaan, jadikanlah kampung kami ini kampung yang aman, nyaman, penuh berkah dan rahmah, baldatun thayyibatun warobbun ghafur …
Robbana aatina fid dunya hasanah, wafil aakhirati hasanah, wa qina adzaaaban naar. Walhamdulillahi rabbil alamin …”

XIV     
KURU … kuruuuu …
Hujan turun lebat.
Sebagian tenda plastik roboh. Membuat para pedagang di sekitar Pasar Falah yang terbakar kelabakan. Mereka berlari menyelamatkan diri dengan berteduh di rumah warga seberang jalan.
Sementara barang dagangan dibiarkan tergeletak di atas lapisan tikar plastik yang ditutupi terpal dan plastik besar. Mereka berharap hujan segera reda sehingga mereka bisa berjualan kembali seperti semula.
“Tunggulah dulu sebentar lagi,” saran Ki Saleh saat beberapa rekannya sesama pedagang ingin ‘mengunjal’ barang dagangan mereka.
Seperti Mang Dul. Sejak hutan turun tadi, dia gelisah. Kegelisahannya beralasan. Selain daging jualannya baru laku sedikit, dengan hujan turun lebat berarti untung yang bakal ia peroleh hari ini sangat sedikit. Boleh jadi balik modal atau rugi.
Demikian pula halnya dengan Mang Kur. Menjelang tengah hari ini dia baru mengantongi uang dua ratus ribu perak. Padahal seharusnya, saat masih jualan di dalam Pasar Falah, dia sudah mengantongi uang satu hingga dua juta rupiah.
Bagaimana dengan Mang Sen?
Lumayanlah. Walau tidak sebesar untung yang ia peroleh ketika masih berjualan di dalam Pasar Falah, tapi dengan mengantongi keuntungan seratus ribu rupiah sudah bisa membeli beras dan lauk pauk seperlunya nanti.
Ikan dagangannya hari ini lumayan banyak dibeli warga. Selain murah dan masih segar, sebagian besar masih hidup. Hari ini banyak yang membeli ikan dagangannya. Rata-rata dua sampai lima kilo, entah itu berjenis ikan betok, sepat, gabus, gurami, seluang  maupun lele dan patin.
Hal serupa juga dialami Mang Jaiz. Buah-buahan yang dia jual masih dicari warga. Mulai dari jeruk, duku, semangka, duren hingga cempedak dan rambutan. Ada yang makan di tempat, juga ada dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga di rumah.
Mendekati hujan  semakin ramai warga yang membeli. Mungkin cuaca panas. Warga ingin menghilang kan rasa haus dan lapar dengan memakan semangka dan rambutan. Apalagi kaum ibu yang memang doyan membawa pulang beberapa kilo duku, durian dan rambutan. Termasuk sawo dan jeruk manis.
Paling apes justru dialami Mpok Leni. Manisan buah-buahan yang dia jual belum dilirik pembeli.  Hanya sekadar bertanya soal harga dan manisan apa yang dijual dalam gelok besar. Lepas itu, mereka pergi dan sebelum pulang ke rumah membeli buah-buahan dan makanan ringan seperti kerupuk kempelang dan buah salak.
“Makanya Mpok. Jualan saja kerupukkempelang. Pasti laris, ya enggak Mang Dul?” Sindir Mang Kur.
“Betul Mpok. Kalau misalnya mau tambah lagi, boleh. Jangan kerupuk kempelang saja. Apa misalnya? Pempek, lontong dan pecal barangkali …” Kata Mang Kur.
“Enggak mau ah,” jawab Mpok Leni cemberut karena terus diledeki Mang Dul dan Mang Kur sejak berjualan pagi tadi.
“Lho … Kalau Mpok enggak mau, ya rugi teruslah,” sahut Mang Sen.
“Enggaklah. Buktinya hari-hari kemarin, dan kemarinnya lagi, manisan yang aku jual habis. Kebetulan saja hari ini tak seorang pun yang beli,” terang Mpok Leni beralasan.
“Terserah Mpok lah,” kata Mang Dul dan Mang Kur.
Karena hujan tak kunjung reda, malah tetap lebat, diputuskan mengunjal dagangan untuk ditaruh di teras rumah warga.
Basah kuyup tak pula mereka hiraukan. Yang penting barang dagangan selamat. Sebab, di sekitar tempat mereka berdagang sudah ada genangan air. Walau belum terlalu besar, lama kelamaan akan membesar juga yang bisa menyebabkan banjir besar.
Fenomena bakal terjadinya banjir mulai terlihat ketika parit di seberang jalan tak mampu lagi menam pung air. Selain tidak terlalu besar, kelancaran air parit terganggu oleh tumpukan sampah dan tempat air tumpahan mengalir.
Air dari parit mengalir ke sungai kcil dan sungai inipun kewalahan bila intensitas hujan tetap tinggi, lebat dan tak kunjung berhenti. Jadi banjir terjadi akibat tidak mampunyai  parit untuk menampung air hujan, sehingga melebar ke badan jalan dan pemukiman warga.
Sementara sungai kecil yang menerima tumpahan air tak mampu meneruskan air lantaran terkendala tertutupnya saluran air dari sungai ke anak sungai. Air jadi tergenang sehingga masa surutnya akan memakan waktu yang lama.
Yang ditakutkan pedagang justru menjadi kenyataan. Hujan tak kunjung reda, banjir tak terelakkan. Un tungnya, warga sekitar Pasar Falah sudah terbiasa mengalami banjir. Mereka tidak panik lagi. Rumah mereka dibuat bertingkat. Jadi, bila banjir datang, mereka naik ke lantai dua, paling atas.
Sebagian kecil perabotan rumah di lantai satu. Warga mengisinya dengan sekenanya dan seperlunya saja. Kur si misalnya, mebel jati mereka taruh di lantai dua. Sedangkan di lantai satu hanya kursi kayu dengan perabot rumah tangga lainnya yang terbikin dari kayu yang tahan air.
Jadi saat hujan turun mendadak tengah malam, mereka tak kerepotan lagi. Hanya perlu menyelamatkan motor dan mobil dengan menumpang di rumah warga yang tinggi letaknya dari permukaan tanah.
Kendati demikian ada juga sebagian kecil warga yang justru menempatkan perabotan sama bagusnya di setiap lantai. Akibatnya, saat hujan turun lebat mereka harus cepat mengangkut barang itu untuk dita ruh di lantai dua.
Karena jika terlambat maka barang-barang berharga itu ikut terendam air dan untuk mengangkutnya menunggu   air surut kembali. Apalagi bila hujan itu turun saat  warga terlelap tidur.
Warga yang rumahnya tidak kebanjiran, bukannya tidak mau menolong. Tapi karena kejadiannya sering kali tiba-tiba dan pada malam hari, mereka hanya bisa menjadi penonton dan ikut prihatin. Sebab, air ya ng masuk ke dalam rumah warga itu sangat besar dan dalam. Bisa mencapai setinggi badan manusia berukuran normal.
Sebagai tetangga, mereka menyiapkan tempat untuk menaruh barang-barang jiran yang rumahnya ke banjiran. Membantu apa yang bisa dibantu. Bagi mereka yang berkecukupan, bukan hanya tenaga, uang pun biasa mereka gelontorkan  hanya untuk penyelamatan nyawa dan harta benda.
Banjir yang datang tidak setiap hari, minggu dan bulan ini tampaknya sulit untuk diantisipasi. Kalau se kadar mengungsi bisa dan warga yang membangun rumahnya di tanah yang tinggi, siap sedia menam pung mereka. Tapi untuk menghilangkan banjir sulit dilakukan.
Karena sulitnya mengatasi banjir yang masuk ke pemukiman warga, warga yang rumahnya rutin dilanda banjir, menempuh empat cara. Pertama, menimbun rumahnya dengan tanah, kedua,meningkatkan bangunan rumah. Ketiga, pindah rumah, dan keempat, pasrah.
Tak sedikit warga yang menimbun rumahnya dengan tanah. Risikonya tentu ada. Biaya yang dikeluarkan cukup besar untuk membeli tanah dan tetek bengek lainnya. Itu pun belum mutlak  terbebas dari musi bah banjir. Hanya saja frekuensinya jadi menurun. Jika sebelumnya sampai masuk rumah, kini cuma asal basah saja. Paling seperempat jari telunjuk. Tidak lebih da tidak pula kurang.
Yang paling banyak adalah meningkatkan fondasi rumah. Jika sebelumnya berlantai satu, ditingkatkan  lagi menjadi lantai dua. Sama dengan menimbun tanah, biaya meningkatkan rumah sangat mahal ka rena sama dengan kita membuat rumah yang baru.
Tetapi kelemahannya tetap banjir besar. Air akan tetap masuk rumah. Kelebihannya, warga bisa tidur pu las karena banjir tak bakalan merambah sampai lantai dua.  Hanya saja mereka harus membersihkan sisa-sisa banjir  dan sampah yang berserakan di lantai dasar, agar terlihat bersih sediakala.
Sedangkan alternatif yang ketiga, mudah dilakukan tapi sulit direalisasikan. Warga lain biasanya sudah paham mana daerah langganan banjir dan mana pula yang tidak. Jadi, saat pindah rumah dan rumah lama akan dijual, sulit lakunya.
Karena warga tak ingin mengambil risiko. Apalagi warga sekarang ingin yang serba beres, aman dan tenang. Rumah itu dibeli, siap untuk ditinggali.
Jauh dari kesan seram dan menakutkan. Andaikata tidak juga ditempati, bisa disewakan atau dikon trakkan. Atau diubah bentuknya menjadi rumah toko yang siap digunakan untuk berbisnis.
Bagi yang tidak punya pilihan lain, alternatif yang ditempuh adalah membiarkan rumah tidak ditimbun, tidak ditingkatkan, apalagi dijual dan pindah rumah.
Pilihan yang terakhir ini ternyata cukup banyak. Mereka membiarkan rumah dan pekarangan kemasukan air, dan setelah banjir surut mereka baru berbenah lagi.
Pilihan ini menimbulkan banyak risiko, di antaranya selalu waspada saat musim hujan tiba. Hujan tak ten tu datangnya, walaupun dengan intensitas yang tidak lebat. Karena begitu air merambah masuk, motor dan mobil, barang berharga pertama yang harus diselamatkan. Jika dibiarkan terendam dalam air, mesin akan rusak dan biaya perawatannya sangatlah besar.
Belum lagi terganggunya tidur malam. Kendati air tidak sampai menenggelamkan atap bubungan, kare na surutnya tidak bisa cepat, aktivitas keseharian jelas terganggu. Anak-anak yang berangkat ke sekolah, saat meninggalkan rumah,  berpakaian seadanya dulu, dan baru ditukar dengan seragam sekolah ketika sampai di jalan besar. Atau mereka bisa menumpang di rumah tetangga yang tidak mengalami keban jiran.
Demikian pula halnya dengan kedua orang tua mereka yang sama-sama bekerja. Terpaksa berangkat ker ja dengan menggunakan jasa opelet lantaran sepeda motor dan mobil kepunyaan sendiri ikut terendam air. Atau mengutak-atik kendaraan yang ngadat terlebih dulu sebelum menukar pakaian dan berangkat kerja ke tempat kerja masing-masing.
Kondisi ini terus menerus terjadi, berulang-ulang, sehingga membuat biasa yang mengalaminya. Sele bihnya hal luar biasa bagi mereka yang baru pertama kali melihatnya …
    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar