Sabtu, 24 Desember 2016

Rahasia Terkabulnya Doa



SIRAMAN ROHANI

Rahasia Terkabulnya Doa
By  Aminuddin

MENURUT Ustad Ahmd Filyan al-Hazza dalam kitabny ‘Kumpulan Do Berbagai Macam Keperluan’, ada lima kunci rahasia terkabulnya doa. Apa saja?
1.       Ihsan
Ihsan artinya kita seakan-akan melihat Allah SWT, dan jika tidak mampu berbuat demikian, hen daknya kita yakin Dia melihat kita. Kita harus sadar Allah SWT mengetahui. Maka itu, kita harus selalu berbuat baik.
Orang ihsan adalah mereka yang berhati baik dalam perkataan dan perbuatan. Segala sesuatu nya selalu disertai dengan niat yang baik pula. Jadi, orang ihsan bila berdoa kepada Allah SWT, ia selalu merasa dirinya dekat kepada-Ny. Menyampaikan permohonannya secara langsung dengan kata-kata yang tersusun dengan baik.
2.       Khusyu’
Khusyu’ ialah memusatkan pikiran secara bulat-bulat kepada Allah SWT. Selain pikiran terpusat  dan tetap kehadlirat-Nya semata, kita harus mendengarkan perkataan lisan dan hati kita dengan seksama serta memperhatikan pula maksud dan tujuannya. Begitulah hendakny keadaan kita sampai berakhirnya doa yang kita panjatkan.
3.       Takwa
Orang yang bisa bersamaan dengan Allah SWT adalah orang yang takwa. Karena orang yang bertakwa itu selalu tunduk dan patuh terhadap kehendak Sang Pencipta. Baik berupa takdir maupun perintah dan larangan. Takdir yang berlaku atas dirinya atau apa yang berlaku di luar dirinya, semuanya itu ia terima dengan hati yang tulus, dengan rasa syukur sebagai kemauan Allah SWT.
4.       Berkeyakinan
Senantiasa berdoa seusai menunaikan salat. Lakukanlah dengan penuh semangat, tidak menge nal  jemu dan bosan. Jangan berhenti di tengah jalan. Tapi berdoalah terus dengan harapan doa itu akan dikabulkan. Lain kata, berdoa itu harus penuh pengharapan dan keyakinan.
5.       Berjihad
Tanda kesungguhan dalam berdoa itu kita barengi dengan bekerja keras (berjihad). Yaitu dengan semangat yang berapi-api serta semakin meningkatnya kita dalam berusaha demi mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.
Janganlah anda berdoa minta kaya, meminta didatangkan rezeki yang melimpah, sementara an da hanya berpangku tangan, tidak mau bekerja dan enggan berusaha untuk mencari rezeki yang halal.
Pada suatu hari Ibrahim bin Adham berkunjung ke negeri Basrah. Lalu datanglah seseorang menemui beliau dan bertanya:
“Apakah yang menyebabkan keadaan dan nasib kami tidak berubah, padahal kami senantiasa berdoa kepada Allah SWT. Dan bukankah Allah SWT sendiri telah menjanjikan bahwa Dia akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya, sebagaimana termaktub dalam Alquranulkarim surah Al-Mukmin ayat 60, “Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doa itu.?”
Ibrahim bin Adham menjawab, ada sepuluh penyebab doa seseorang itu tertolak:
1.       Kamu mengenal-Nya, tapi hak-hak-Nya tidak kamu penuhi.
2.       Kamu mengakui mencintai Rasul SAW, tetapi sunnahnya tidak kamu amalkan.
3.       Kamu membaca Al-Quran, tetapi isi yang terkandung di dalamnya tidak pernah kamu amalkan.
4.       Kamu mengakui setan itu adalah musuhmu, tetapi kamu tetap patuh kepadanya.
5.       Kamu telah berdoa untuk menghindarkan dirimu dari siksa api neraka, tetapi kamu campakkan ke dalamnya dengan berbuat dosa dan maksiat.
6.       Kamu selalu berdoa agar bisa masuk surga, tetapi kamu tidak beramal untuknya.
7.       Kamu telah sibuk mencaturkan aib saudaramu, tetapi kamu telah melupakan aibmu sendiri.
8.       Kamu percaya bahwa kematian itu pasti datang, tetapi kamu tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu.
9.       Kamu kuburkan oran-orang yang mati, tetapi kamu tidak mengambil pelajaran  dari peristiwa kematian tersebut.
10.   Kamu telah memakan rezeki dari Tuhanmu, tetapi kamu tidak mau bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan kepada-Mu.

Lebih jauh Ustad Fadil mengatakan, perbuatan berdoa itu memiliki beberapa persyaratan (Misteri, Edisi 589/2014). Syarat pertama, hasrat dan kehendak itu sesungguhnya muncul dalam eksistensi manusia itu sendiri, sehingga setiap unsur dalam dirinya menjadi manifestasi hasrat dan apa yang dikendakinya merupakan suatu kebutuhan yang mendesak.
Syarat kedua, kata Fadil, iman dan keyakinan. Iman akan rahman dan rahim yang tiada berbatas dari Ya ng Maha Esa. Iman bahwa tidak ada rintangan bagi-Nya untuk melimpahkan rahmat-Nya. Iman bahwa pintu ridha Allah tidak pernah tertutup bagi hamba-hamba-Nya, dan kekurangan dan kesalahan terletak pada makhluk.
Syarat berikutnya ialah doa itu tidak boleh bertentangan dengan sistem penciptaan dan sunnah ilahi. Doa dimaksudkan untuk mencari pertolongan dan bantuan agar manusia mencapai tujuan-tujuan yang telah dispesifikasikan baginya dalam kerangka penciptaan dan dalam sunnatullah yang sejalan dengan hukum alam dan penciptaan.
Syarat keempat, demikian Fadil, situasi-situasi lainnya dari kehidupan orang yang berdoa itu seharmoni dengan tujuan-tujuan penciptaan dan sunnah Allah. Hati harus suci dan bersih. Nafkah hidupnya harus diperoleh dengan jalan yang halal dan orang yang berdoa itu tidak boleh berbeban dengan apa  yang diperolehnya dari manusia secara haram.
Ja’far Ash-Shadiq mengatakan, “Apabila seseorang diantara kamu menghendaki agar doanya dikabulkan, ia harus membersihkan pekerjaannya dan membersihkan dirinya dari apa yang  diperolehnya secara ti dak halal dari manusia. Karena Allah tidak akan menerima doa dari seorang hamba yang mengandung sesuatu yang diperoleh menjadi miliknya dari orang lain secara tidak halal.”
Syarat yang kelima menghendaki agar orang yang berdoa itu, yang diharapkannya akan berubah dan dipulihkan, bukanlah sebagai akibat langsung dari pelanggarannya atas tanggung jawab dan kewajibannya.
Lain kata, keadaan  dari mana si pendoa itu mengharapkan kelepasannya bukanlah hukuman dan akibat yang logis dari dosa-dosanya; karena manakala demikian halnya maka keadaannya tidak akan berubah sampai dia bertobat dan memperbaiki dirinya.
Syarat terakhir bahwa doa itu haruslah merupakan manifestasi kebutuhan yang sesungguhnya, dalam keadaan manusia tidak mempunyai jalan untuk memperoleh apa yang didambakannya, ketika ia tidak berdaya dan tidak berkemampuan.  
Mengapa kita berdoa?
Berdoa adalah panggilan dari tiap-tiap jiwa manusia. Karena Allah SWT sendiri menciptakan manusia dalam keadaan yang lemah, senantiasa membutuhkan tempat untuk mengadu dan meminta. Sesuai firman-Nya, “dan diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah.” (QS An-Nisaa’ 28).
Demikian pula halnya yang terjadi pada Adam dan Hawa, tatkala keduanya termakan buju rayu iblis untuk memakan buah khuldi. Allah SWT berfirman kepada mereka berdua dalam QS Al-A’raaf ayat  22-23:
“Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah khuldi itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutu pinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang ka mu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telh menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak me ngampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Berdoa adalah perintah dari Allah SWT. Kita juga tahu sesungguhnya doa itu adalah otaknya ibadah. Makanya kita tidak diperkenankan menghadapkan doa kita kepada selain Dia:
“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala  yang mereka sembah se lain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan  seperti orang yang mem bukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.” (QS Ar-Ra’d 14).
Berdoa adalah bentuk komunikasi dengan Allah SWT. Setiap manusia membutuhkan komunikasi, baik  kepada sesama manusia maupun kepada Tuhan sebagai tempat untuk bergantung.
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala se suatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlash 1-4).
Di lain surah dan ayat, Allah SWT berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa,  apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah 186)
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul_ kepada umat-umat yang sebelum kamu. Kemudi an Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah)  dengan tunduk merendahkan diri.
Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Al-An’aam 42-43).
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai  orang-orang yang melampaui batas.
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muk bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah itu amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. “(QS Al-A’raaf 55-56).
“Doa  mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma” (Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Kami), dan dalam penghormatan mereka ialah: “Salam” (sejahtera dari segala bencana) dan penutup doa mereka ialah : “Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamin” (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).” (QS Yunus 10).
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesung guhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS Maryam 3-4).   
“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhya Dia mengetahui rahasia yang lebuh tersembunyi (tidak perlu mengeraskan suara dalam berdoa, karena Allah SWT mendengar doa itu, walaupun diucapkan dengan suara rendah. Pen). Dia-lah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Di. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik.” (QS Thaahaa 7-8).
Al-Quranulkarim mengajak kita agar selalu berdoa, sesuai firman-Nya:
“Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia): “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling bak.
Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu menertawakan merela.
Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguh nya mereka itulah orang-orang yang menang).” (QS Al-Mu’minuun 109-111).
Pertanyaannya, adakah waktu yang mustajab dalam berdoa?
Jawabnya, ada.
Sedikitnya ada 14 waktu yang mustajab apabila kita berdoa, yakni:
-          Malam Lailatul Qadar
-          Bulan suci Ramadhan
-          Wukuf di Arafah
-          Hari Jumat
-          Malam Jumat
-          Di antara dua khutbah Jumat
-          Mendengar azan
-          Antara azan dan iqamah
-          Usai salat fardhu
-          Ketika sujud
-          Saat perang sedang berkecamuk
-          Khatam Al-Quran
-          Minum air zam-zam
-          Ceramah ilmiah/pengajian agama.

Wallahu a’lam bishshawab.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar