SIRAMAN ROHANI
Rahasia Terkabulnya
Doa
By Aminuddin
MENURUT Ustad Ahmd Filyan al-Hazza dalam kitabny ‘Kumpulan
Do Berbagai Macam Keperluan’, ada lima kunci rahasia terkabulnya doa. Apa saja?
1.
Ihsan
Ihsan artinya kita seakan-akan melihat
Allah SWT, dan jika tidak mampu berbuat demikian, hen daknya kita yakin Dia
melihat kita. Kita harus sadar Allah SWT mengetahui. Maka itu, kita harus
selalu berbuat baik.
Orang ihsan adalah mereka yang berhati baik
dalam perkataan dan perbuatan. Segala sesuatu nya selalu disertai dengan niat
yang baik pula. Jadi, orang ihsan bila berdoa kepada Allah SWT, ia selalu
merasa dirinya dekat kepada-Ny. Menyampaikan permohonannya secara langsung
dengan kata-kata yang tersusun dengan baik.
2.
Khusyu’
Khusyu’ ialah memusatkan pikiran secara
bulat-bulat kepada Allah SWT. Selain pikiran terpusat dan tetap kehadlirat-Nya semata, kita harus
mendengarkan perkataan lisan dan hati kita dengan seksama serta memperhatikan
pula maksud dan tujuannya. Begitulah hendakny keadaan kita sampai berakhirnya
doa yang kita panjatkan.
3.
Takwa
Orang yang bisa bersamaan dengan Allah SWT
adalah orang yang takwa. Karena orang yang bertakwa itu selalu tunduk dan patuh
terhadap kehendak Sang Pencipta. Baik berupa takdir maupun perintah dan
larangan. Takdir yang berlaku atas dirinya atau apa yang berlaku di luar
dirinya, semuanya itu ia terima dengan hati yang tulus, dengan rasa syukur
sebagai kemauan Allah SWT.
4.
Berkeyakinan
Senantiasa berdoa seusai menunaikan salat.
Lakukanlah dengan penuh semangat, tidak menge nal jemu dan bosan. Jangan berhenti di tengah
jalan. Tapi berdoalah terus dengan harapan doa itu akan dikabulkan. Lain kata,
berdoa itu harus penuh pengharapan dan keyakinan.
5.
Berjihad
Tanda kesungguhan dalam berdoa itu kita
barengi dengan bekerja keras (berjihad). Yaitu dengan semangat yang berapi-api
serta semakin meningkatnya kita dalam berusaha demi mendapatkan sesuatu yang
kita inginkan.
Janganlah anda berdoa minta kaya, meminta
didatangkan rezeki yang melimpah, sementara an da hanya berpangku tangan, tidak
mau bekerja dan enggan berusaha untuk mencari rezeki yang halal.
Pada suatu hari Ibrahim bin Adham berkunjung ke negeri
Basrah. Lalu datanglah seseorang menemui beliau dan bertanya:
“Apakah yang menyebabkan keadaan dan nasib kami tidak
berubah, padahal kami senantiasa berdoa kepada Allah SWT. Dan bukankah Allah
SWT sendiri telah menjanjikan bahwa Dia akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya,
sebagaimana termaktub dalam Alquranulkarim surah Al-Mukmin ayat 60, “Berdoalah
kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doa itu.?”
Ibrahim bin Adham menjawab, ada sepuluh penyebab doa
seseorang itu tertolak:
1.
Kamu mengenal-Nya, tapi hak-hak-Nya tidak kamu
penuhi.
2.
Kamu mengakui mencintai Rasul SAW, tetapi
sunnahnya tidak kamu amalkan.
3.
Kamu membaca Al-Quran, tetapi isi yang
terkandung di dalamnya tidak pernah kamu amalkan.
4.
Kamu mengakui setan itu adalah musuhmu, tetapi
kamu tetap patuh kepadanya.
5.
Kamu telah berdoa untuk menghindarkan dirimu
dari siksa api neraka, tetapi kamu campakkan ke dalamnya dengan berbuat dosa
dan maksiat.
6.
Kamu selalu berdoa agar bisa masuk surga, tetapi
kamu tidak beramal untuknya.
7.
Kamu telah sibuk mencaturkan aib saudaramu,
tetapi kamu telah melupakan aibmu sendiri.
8.
Kamu percaya bahwa kematian itu pasti datang,
tetapi kamu tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu.
9.
Kamu kuburkan oran-orang yang mati, tetapi kamu
tidak mengambil pelajaran dari peristiwa
kematian tersebut.
10.
Kamu telah memakan rezeki dari Tuhanmu, tetapi kamu
tidak mau bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan kepada-Mu.
Lebih jauh Ustad Fadil mengatakan, perbuatan berdoa itu
memiliki beberapa persyaratan (Misteri, Edisi 589/2014). Syarat pertama, hasrat
dan kehendak itu sesungguhnya muncul dalam eksistensi manusia itu sendiri,
sehingga setiap unsur dalam dirinya menjadi manifestasi hasrat dan apa yang
dikendakinya merupakan suatu kebutuhan yang mendesak.
Syarat kedua, kata Fadil, iman dan keyakinan. Iman akan
rahman dan rahim yang tiada berbatas dari Ya ng Maha Esa. Iman bahwa tidak ada
rintangan bagi-Nya untuk melimpahkan rahmat-Nya. Iman bahwa pintu ridha Allah
tidak pernah tertutup bagi hamba-hamba-Nya, dan kekurangan dan kesalahan
terletak pada makhluk.
Syarat berikutnya ialah doa itu tidak boleh bertentangan
dengan sistem penciptaan dan sunnah ilahi. Doa dimaksudkan untuk mencari
pertolongan dan bantuan agar manusia mencapai tujuan-tujuan yang telah
dispesifikasikan baginya dalam kerangka penciptaan dan dalam sunnatullah yang
sejalan dengan hukum alam dan penciptaan.
Syarat keempat, demikian Fadil, situasi-situasi lainnya dari
kehidupan orang yang berdoa itu seharmoni dengan tujuan-tujuan penciptaan dan
sunnah Allah. Hati harus suci dan bersih. Nafkah hidupnya harus diperoleh
dengan jalan yang halal dan orang yang berdoa itu tidak boleh berbeban dengan
apa yang diperolehnya dari manusia
secara haram.
Ja’far Ash-Shadiq mengatakan, “Apabila seseorang diantara
kamu menghendaki agar doanya dikabulkan, ia harus membersihkan pekerjaannya dan
membersihkan dirinya dari apa yang
diperolehnya secara ti dak halal dari manusia. Karena Allah tidak akan
menerima doa dari seorang hamba yang mengandung sesuatu yang diperoleh menjadi
miliknya dari orang lain secara tidak halal.”
Syarat yang kelima menghendaki agar orang yang berdoa itu,
yang diharapkannya akan berubah dan dipulihkan, bukanlah sebagai akibat langsung
dari pelanggarannya atas tanggung jawab dan kewajibannya.
Lain kata, keadaan dari mana si pendoa itu mengharapkan
kelepasannya bukanlah hukuman dan akibat yang logis dari dosa-dosanya; karena
manakala demikian halnya maka keadaannya tidak akan berubah sampai dia bertobat
dan memperbaiki dirinya.
Syarat terakhir bahwa doa itu haruslah merupakan manifestasi
kebutuhan yang sesungguhnya, dalam keadaan manusia tidak mempunyai jalan untuk
memperoleh apa yang didambakannya, ketika ia tidak berdaya dan tidak
berkemampuan.
Mengapa kita berdoa?
Berdoa adalah panggilan dari tiap-tiap jiwa manusia. Karena
Allah SWT sendiri menciptakan manusia dalam keadaan yang lemah, senantiasa
membutuhkan tempat untuk mengadu dan meminta. Sesuai firman-Nya, “dan
diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah.” (QS An-Nisaa’ 28).
Demikian pula halnya yang terjadi pada Adam dan Hawa,
tatkala keduanya termakan buju rayu iblis untuk memakan buah khuldi. Allah SWT
berfirman kepada mereka berdua dalam QS Al-A’raaf ayat 22-23:
“Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah khuldi
itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah
bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutu pinya dengan
daun-daun surga. Kemudian Tuhan menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang ka
mu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu
adalah musuh yang nyata bagimu.”
Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telh menganiaya diri
kami sendiri, dan jika Engkau tidak me ngampuni kami dan memberi rahmat kepada
kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Berdoa adalah perintah dari Allah SWT. Kita juga tahu
sesungguhnya doa itu adalah otaknya ibadah. Makanya kita tidak diperkenankan
menghadapkan doa kita kepada selain Dia:
“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan
berhala-berhala yang mereka sembah se
lain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang mem bukakan kedua telapak
tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak
dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu hanyalah
sia-sia belaka.” (QS Ar-Ra’d 14).
Berdoa adalah bentuk komunikasi dengan Allah SWT. Setiap
manusia membutuhkan komunikasi, baik kepada sesama manusia maupun kepada Tuhan
sebagai tempat untuk bergantung.
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah
Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala se suatu. Dia tiada beranak dan tiada
pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS
Al-Ikhlash 1-4).
Di lain surah dan ayat, Allah SWT berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,
maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang mendoa, apabila ia berdoa
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah
mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS
Al-Baqarah 186)
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul_ kepada
umat-umat yang sebelum kamu. Kemudi an Kami siksa mereka dengan (menimpakan)
kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.
Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan
tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati
mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan
apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Al-An’aam 42-43).
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara
yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muk bumi, sesudah
(Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan
diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah itu amat
dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. “(QS Al-A’raaf 55-56).
“Doa mereka di
dalamnya ialah: “Subhanakallahumma” (Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Kami), dan
dalam penghormatan mereka ialah: “Salam” (sejahtera dari segala bencana) dan
penutup doa mereka ialah : “Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamin” (segala puji bagi
Allah, Tuhan semesta alam).” (QS Yunus 10).
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang
lembut. Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesung guhnya tulangku telah lemah dan
kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada
Engkau, ya Tuhanku.” (QS Maryam 3-4).
“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhya Dia
mengetahui rahasia yang lebuh tersembunyi (tidak perlu mengeraskan suara dalam
berdoa, karena Allah SWT mendengar doa itu, walaupun diucapkan dengan suara
rendah. Pen). Dia-lah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Di. Dia mempunyai al
asmaaul husna (nama-nama yang baik.” (QS Thaahaa 7-8).
Al-Quranulkarim mengajak kita agar selalu berdoa, sesuai
firman-Nya:
“Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di
dunia): “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah
kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling bak.
Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga
(kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan
adalah kamu selalu menertawakan merela.
Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini,
karena kesabaran mereka; sesungguh nya mereka itulah orang-orang yang menang).”
(QS Al-Mu’minuun 109-111).
Pertanyaannya, adakah waktu yang mustajab dalam berdoa?
Jawabnya, ada.
Sedikitnya ada 14 waktu yang mustajab apabila kita berdoa,
yakni:
-
Malam Lailatul Qadar
-
Bulan suci Ramadhan
-
Wukuf di Arafah
-
Hari Jumat
-
Malam Jumat
-
Di antara dua khutbah Jumat
-
Mendengar azan
-
Antara azan dan iqamah
-
Usai salat fardhu
-
Ketika sujud
-
Saat perang sedang berkecamuk
-
Khatam Al-Quran
-
Minum air zam-zam
-
Ceramah ilmiah/pengajian agama.
Wallahu a’lam bishshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar