Siraman Rohani
Takut kepada Allah SWT (3)
Oleh Aminuddin
Edisi Ketiga
SITI Aisyah ra meriwayatkan bahwasanya
jika angin bertiup dan cuaca berubah, maka wajah Rasu lullah SAW berubah. Ia
selalu berdiri dan berputar-putar di kamar sambil keluar masuk. Semua itu
karena takut siksa Allah SWT.
Anas bin Malik ra meriwayatkan,
Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Malaikat Jibril as:
“Apa bagiku, aku tidak melihat
Mikhail tertawa?”
Jibril menjawab : “Mikhail tidak
tertawa sejak neraka diciptakan.”
Nabi Daud as menangis selama empat
puluh hari dalam keadaan bersujud. Beliau tidak mengangkat kepalanya, sehingga
rumput tumbuh dari air mata beliau dan menutupi kepalanya.
Kemudian ada seruan :
“Hai Daud, apakah engkau lapar,
sehingga engkau diberi makan? Ataukah dahaga sehingga engkau diberi minum?
Ataukah telanjang sehingga diberi pakaian?”
Daud pun meratap, dan akibat ratapannya
itu, kayu terbakar karena panasnya perut beliau. Kemu dian Allah SWT menurunkan
taubatnya kepada beliau.
Juga diriwayatkan, bahwasanya Nabi
Daud as tidak pernah memandang ke atas karena malu kepada-Nya, Allah SWT.
Beliau berkata ketika bermunajat :
“Ya Tuhanku, jika aku ingat
kesalahanku, maka bumi ini terasa sempit meskipun luas. Dan jika aku ingat
rahmat-Mu, maka ruhku kembali kepadaku. Maha Suci Engkau, ya Tuhanku. Aku
mendatangi beberapa tabib dan hamba-hamba-Mu agar mereka mengobati kesalahanku.
Kesemuanya menun jukkan aku kepada-Mu.
Maka betapa jelek mereka yang berputus asa dari rahmat-Mu.”
Diriwayatkan, bahwasanya Abu Bakar
ra berkata kepada burung: “Wahai, andai aku sepertimu, hai burung, dan tidak
diciptakan sebagai manusia …”
Abu Dzar ra berucap : “Aku suka menjadi pohon yang
ditebang …”
“Aku suka jika aku mati aku tidak
dibangkitkan,” kata Utsman.
“Aku suka jika aku dilupakan sama
sekali,” aku Aisyah.
Suatu kali, Umar melewati rumah
sseorang yang sedang menunaikan salat dan membaca surah Ath-Thur. Beliau berhenti untuk mendengarkan.
Ketika orang itu sampai pada ayat
“Inna adzaaba robbika lawaa qi’u man lahu min daafi’.” (Ath-Thur 7-8) yang
artinya : “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti
terjadi. Tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya.”
Umar pun turun dari keledai dan
bersandar pada tembok untuk beberapa saat. Lalu beliau kembali ke rumah,
kemudian jatuh sakit selama sebulan. Orang-orang pun membesuk beliau, namun
mereka sama sekali tidak tahu penyakit apa yang beliau derita.
Usai salat subuh dan salam, dalam
keadaan sedih sambil membalikkan tangan, Imam Ali Karramallu Wajhah berkata
:
“Sunngguh aku telah melihat pada
sahabat Nabi SAW. Namun saat ini aku tidak melihat sesuatupun yang menyerupai
mereka. Mereka menjelang pagi dengan keadaan kusut, berwarna seperti debu dan
pucat. Di antara mereka ada tanda seperti orang yang kesusahan.
Mereka bertobat kepada Allah SWT.
Mereka beristirahat di antara kening dan kaki mereka. Ketika bangun di pagi
hari, mereka pun berzikir kepada Allah SWT, dan mata mereka tergenang air mata,
sampai membasahi pakaian mereka.”
Selesai berkata, beliau (Ali)
berdiri dan tidak pernah tertawa setelah itu, sampai akhirnya dibunuh oleh Ibnu
Muljam.
Imam Ali bin Al-Husain ra berubah
menjadi pucat jika selesai berwudhu’. Melihat hal itu, keluarga beliau
bertanya:
“Apa yang menyebabka engkau begitu
pucat ketika engkau berwudhu?”
Beliau menjawab : “Tahukah kamu,
kepada siapa (aku berwudhu) aku menghadap?”
Ibnu Abbas, ketika ditanya tentang
orang-orang yang khauf, beliau menjawab:
“Hati mereka bergembira karena
takut dan mata mereka menangis. Mereka berkata: “Bagaimana kami bergembira
sementara kematian di belakang kami, kubur di depan kami, kiamat adalah masa
perjanjian kami, jahanam adalah jalan kami dan di depan Allah SWT-lah berdiri
kami?”
Suatu saat, Hasan Bashri bertemu
dengan seorang pemuda yang tertawa terpingkal-pingkal bersama sekelompok orang.
Hasan lalu bertanya kepada pemuda
itu:
“Hai pemuda, apakah engkau dapat
melewati sirath?”
Pemuda itu menjawab: “Tidak.”
“Apakah engkau tahu, ke neraka
atau ke surga engkau nanti? Tanya Hasan Bashri lagi.
“Tidak,” jawab pemuda itu.
“Kalau demikian, mengapa engkau
tertawa?”
Si pemuda tadi tidak pernah
tertawa lagi setelah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar