Senin, 30 Januari 2017

Pusy Cat (3)



Cerita Lepas

Pusy Cat (3)
Oleh Wak Amin

VII
NGEOOOOONG …
Pusy duduk manis di pangkuan Sang Nyonya. Matanya liar memandang ke sekitar ruangan lurus meman jang dan tempat lalu-lalangnya petugas medis menjalankan aktivitasnya sepanjang pagi, siang dan ma lam hari.
Bukan cuma Mpok Surti yang kaget. Mrs Bram juga tidak menyangka kucing kesayangannya itu siuman lebih cepat dari perkiraan semula.
“Padahal tadi sepertinya mau mati ya Nya,” kata Mpok Surti, turut senang Pusy telah bangun dan ber sama mereka lagi.
Ngeooong …
Pusy melompat ke pelukan Mpok Surti.  Ia tak menyangka Pusy berpindah pangkuan. Padahal Mrs Bram sedang enak-enaknya membelai ekor manis dan sering bergerak lucu itu.
“Nyonya Bram.” Sapa suster muda sesaat setelah membuka pintu kamar tempat Mr Bram dirawat. Ce wek bermata sipit itu memberitahu bahwa suaminya ingin bicara dengan dia.
“Sekarang Sus?”
“Iya Nyonya.”
Seakan tak percaya. Moga-moga saja tak ada hal yang aneh pada suaminya. Karena dari kemarin malam sampai dia dan Mpok Surti mengaso sejenak di luar ruangan rawat inap, Mr Bram pulas tidurnya.
“Papa ingin pindah kamar, Ma.” Bisiknya penuh harap.
Mrs Bram tak tega menanyakan alasan kepindahan kamar itu. Padahal kamar yang sekarang ditempati suaminya justru lebih nyaman. Ada AC, pesawat televisi, kulkas dan seperangkat kursi tamu khusus bagi anggota keluarga pasien yang membesuk dan menjaga.
Andaipun terasa kurang, karena lokasi kamar rawat inap Mr Bram seolah terpisah dari kamar pasien lain nya. Berada di lantai paling atas dari tiga lantai rumah sakit swasta ini, pembesuk yang hendak membe suk memang harus menaiki lift dan tangga penghubung ke masing-masing tingkat.
Sesampainya di atas, tak banyak anggota keluarga pasien yang terlihat duduk-duduk dan mengobrol. Justru di lantai pertamalah suasananya sangat ramai karena masing-masing orang bertemu, entah te man lama atau kolega usaha, seolah menyatu dalam kata, canda dan sharing satu dengan lainnya.
Makanya, setelah meminta pendapat Mpok Surti dan tim medis yang merawatnya, Mrs Bram memenuhi keinginan hati suaminya. Dia berharap, pemindahan kamar perawatan ini mendatangkan manfaat ketimbang mudharat.
Ngeooong …
Dimana kamar baru Mr Bram?
“Paling ujung, Nyonya Bram,” kata perawat bermata biru. Setelah mengetik di depan komputer, dia memprint-outnya. Hasil print-out  ini dia berikan kepada Mrs Bram.
“Nyonya silakan tunggu. Biar kami yang menyelesaikannya,” ujar si perawat. Setelah mendapat persetu juan dari Mrs Bram, perempuan langsing tapi berisi itu menelepon teman kerjanya untuk secepatnya memindahkan pasien bernama Mr Bram.
Mr Bram tampak berusaha turun dari dari tempat tidurnya dengan dibantu seorang petugas medis. De ngan menggunakan kursi roda, dia turun ke lantai satu menggunakan lift. Hanya sepersekian menit sudah sampai di depan pintu kamar barunya.
Dia disambut dengan sukacita dan pelukan hangat isteri tercinta. Dipapah turun dari kursi roda, bersama Mpok Surti, Mr Bram akhirnya sudah bisa beristirahat lagi di atas tempat tidurnya yang baru.
“Terima kasih Sus,” ucap Mrs Bram. Dia mengantar  Sang Perawat hingga ke depan pintu. Tak lama sete lah itu, pintu kamar ditutup kembali.
Ngeoooong …
 Pusy menggeliat-geliat di dekat Mr Bram berbaring. Bulunya yang indah dan lucu dengan badan yang tampak sehat dan bugar, membikin gemas Mpok Surti. Dia berkali-kali ingin mengambil Pusy dan memin tanya memilih ke tempat yang lain, tapi tak berhasil.
Malah dengan lucunya, Pusy dengan cepat melompat ke sebelah kanan Mr Bram saat Mpok Surti mau mengambilnya untuk digendong. Ulah jenaka Pusy ini membuat Mr Bram dan isteri tertawa geli.
“Sudah Mpok. Sudah,” kata Mrs Bram. Kasihan dia melihat Mpok Surti dipermainkan Pusy yang terus menerus menghindar ke sana kemari.
“Biarkan sajalah Mpok,” kata Mr Bram. Merasa belum fit, dia meminta isterinya menyalakan kipas angin. Dia ingin tidur.
Sementara Mr Bram tertidur beberapa saat kemudian, Pusy juga ikut-ikutan tidur. Tapi tidak di atas ran jang. Dia tidur di depan pintu keluar masuk kamar yang memang tidak terkunci. Sedangkan Mpok Surti lebih memilih beristirahat di lantai dekat kamar kecil. Membentang tikar yang disediakan pihak rumah sakit. Tidur beralaskan bantal guling yang sengaja dibawa dari rumah.
Mrs Bram sendiri memilih tidur di kursi panjang khusus buat tamu yang berkunjung. Dia tampak lelah. Sudah dua hari ini dia kurang tidur menjaga suaminya. Tapi baginya itu belum seberapa dibandingkan kesehatan suaminya segera pulih sediakala.
Dengan pulihnya kesehatan, Mr Bram bisa bekerja lagi seperti semula. Tentu saja bisa mengajak Sang Isteri, Mpok Surti dan Pus jalan-jalan ke mana suka. Dalam dan luar kota, tinggal pilih mana yang suka.
Sejak menikah, Mr Bram memang banyak mnyimpan harapan. Misalnya, ingin punya anak perempuan yang cantik. Karena selama ini di lingkungan keluarganya tidak ada perempuan. Cowok semuanya. Em pat bersaudara.
Tak heran jika kepada Sang Isteri, Mr Bram menaruh harapan besar. Meski belum lama menikah, belum ada tanda-tanda kehamilan, ia selalu merindukan lahirnya si buah hati. Pulang dari bekerja ada yang bisa diajak bercanda. Bermain di teras atau sekadar lompat-lompat di dalam rumah.
Keinginan dan harapan itu bagi Mrs Bram tidak masalah. Walaupun di dalam hati kecilnya dia mengingin kan  anak laki-laki yang sehat, normal dan bisa menemaninya dalam keadaan suka dan duka.
Bukankah Mr Bram sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Selama ini Sang Isteri ditemani Pusy dan Mpok Surti yang setia menemaninya hingga kini. Dengan hadirnya anak laki-laki berarti lebih leng kap rumah tangga ini. Dua laki-laki, dua perempuan dan satu jantan.
“Apa perlu cari betinanya Nya?” Tanya Mpok Surti suatu sore, beberapa hari setelah  menempati rumah yang baru dibeli majikannya ini.
“Carinya dimana Mpok?” Mrs Bram tak pula serius menanggapinya. Namanya juga ngobrol ringan sambil memotong dan merapikan bunga di taman.
“Di pasar ada, Nya.” Jawab Mpok Surti sembari menyiram bunga dengan air selang yang mengalir dari kran taman.
“Lho, baru dengar Mpok. Apa iya ada? Setahu saya di pasar enggak ada, kecuali pasar hewan.”
“Oh iya Nya. Mpok lupa. Keliru saya Nya. Di pasar hewan.” Buru-buru Mpok Surti mematikan air kran ka rena seluruh bunga selesai disiram.
“Nantilah kita carikan pasangan hidupnya,” kata Mrs Bram seraya mengajak Mpok Surti masuk ke dalam rumah. Hampir Magrib, banyak nyamuk di luar rumah.
Sampai kini obrolan teman hidup Pusy seolah hilang begitu saja. Masih banyak obrolan lain yang lebih penting dari itu. Lagi pula, Pusy selama ini tak begitu peduli dengan teman pendampingnya, ada atau tidak menemaninya bermain di dalam dan luar rumah.
Kendati sering berteman dengan kucing dari berbagai jenis, Pusy seolah terkesan jual mahal. Dia lebih senang berada di dekat majikannya. Dia hanya tinggal memilih. Bosan dengan Sang Nyonya, bisa ber pindah ke Tuan Besar. Pengen suasana yang beda, dia pun berlari masuk ke kamar Mpok Surti sekadar melepas kangen dan menginginkan belaian.
Bagi Pusy, keceriaan majikan dan Mpok Surti sudah jauh lebih penting dari pada mencari pasangan hi dupnya. Bukankah dia sudah hidup enak saat ini. Tidak kepanasan dan tidak pula kedinginan.
Pusy tak ingin mengecewakan Mr Bram dan isterinya. Mereka yang telah berbuat baik padanya, tak pan tas rasanya dibalas dengan air tuba. Jangankan berbuat  yang aneh-aneh dengan merusak barang ber harga kepunyaan Sang Majikan, ngeloyor ke luar rumah tanpa pamit saja dia tak suka.
Pusy sangat sayang pada Tuan dan Nyonya. Rasa sayangnya melebihi segala-galanya. Terkadang ia ingin membalas semua kebaikan yang telah diberikan padanya. Tapi dengan cara apa dan bagaimana melaku kannya.
Ngeoooong …
“Tidur lagi ah,” bisik Pusy dari depan pintu.

VIII
MR  X berhasil memasuki rumah sakit setelah sukses mengelabui petugas keamanan yang berjaga di depan dengan cara berpura-pura jadi anggota keluarga pasien yang hendak besuk pada malam hari.
Malam hari ini pengamanan rumah sakit diperketat menyusul instruksi  dari pihak kepolisian kota yang menyebutkan ada pelaku teror yang menyusup dan hendak melakukan pembunuhan terhadap Mr Bram dan isterinya.
Tentu saja ini berlaku khusus terhadap rumah sakit yang merawat Mr Bram. Sampai saat ini, Mr Bram masih menjalani perawatan di rumah sakit besar dan kesehatannya berangsur-angsur pulih.
Bagi Mr X, pulih tidaknya kesehatan Mr Bram tidaklah penting. Karena yang penting sekaranglah saatnya ia menuntaskan dendam, menghabisi nyawa seterunya itu, termasuk isterinya.
Dengan berpura-pura bertanya pada seorang petugas medis, dia sempat melihat daftar nama-nama pa sien yang berobat jalan dan rawat inap di papan tulis. Di situ tertera sejumlah nama pasien berikut ala mat rumah dan kantor di mana yang bersangkutan bekerja.
Saat  Mr X bertanya, saat itulah Pusy melihatnya. Dia dekati  Mr X, lalu bersembunyi di balik dinding kayu pos jaga perawat. Dia pandangi lekat-lekat. Dia hanya ingin memastikan bahwa benar lelaki itu adalah Mr X. Lelaki bengis yang telah menyiksa majikannya.
Melewati pintu belakang, Pusy berhasil nyelonong pergi tanpa sepengetahuan petugas jaga medis dan Mr X yang masih terlibat pembicaraan serius dengan  salah seorang perawat yang jumlahnya lebih dari empat dengan shift malam sampai pagi hari.
Pusy terus berlari. Melewati satu pintu ke pintu yang lain, menelusuri jalan panjang setapak menuju ka mar rawat nap pasien. Dia baru sampai di depan pintu bersamaan dengan keluarnya dokter ahli penyakit dalam  dari memeriksa kesehatan lanjutan Mr Bram.
Sang dokter sempat melempar senyum dan mengusap-usap kepalanya sebelum pergi ke ruangan beri kutnya.
Ngeooong …
Pusy mencium-cium kedua belah pipi Mr Bram.  Berlanjut ke isterinya dan Mpok Surti yang tengah me nyiapkan segelas air susu hangat buat sang majikan.
Ngeooong …
Pusy tiada henti turun naik dari tempat tidur  Mr Bram. Kalender yang tergantung di dinding dekat jen dela ia lompati dan jatuh ke lantai.
Tak cukup sampai disitu. Ia juga menekan tombol pesawat televisi. Lalu terlihat seorang wanita muda tengah membacakan Breaking News berita kriminal.
Pusy kemudian melompat-lompat dan turun naik dari atas pesawat televisi. Kemudian mendekati Mrs Bram sambil mengeong panjang. Lirih terdengar, menimbulkan tanda tanya.
“Mas, jangan-jangan …” Mrs Bram sudah bisa membaca isyarat yang diperlihatkan Pusy.
“Ah, tak mungkinlah Ma.” Kata Mr Bram. Dia percaya, meskipun Mr X belum tertangkap, pihak kepolisi an tetap berusaha keras untuk menangkapnya.
“Tapi Mas …”
“Sudah .. kan ada Pak Polisi yang ikut menjaga keamanan rumah sakit ini,” jelas Mr Bram, meminta isteri nya  tidak pergi keluar kamar. Tetap duduk menemaninya rebahan di atas tempat tidur.
Mrs Bram percaya suaminya jujur dalam berucap. Makanya ia tidak kuatir dan takut lagi. Ia berharap pe lakunya segera tertangkap dan suaminya bisa secepatnya meninggalkan rumah sakit. Kembali ke rumah nya yang selama tiga hari tak didiami, dijaga pihak kepolisian demi keamanan.
Walaupun rumah itu kosong dan tak berpenghuni, pihak keamanan yang dimintai pengamanan, keluar masuk rumah untuk sekadar menyalakan lampu, memeriksa lanjutan keamanan rumah. Tak heran jika pada malam hari kediaman Mr Bram terang benderang seperti lazimnya, saat ia beserta isteri, Pusy dan Mpok Surti menempatinya.
Warga sekitar juga tak pula berlebihan menyikapi pengamanan rumah Mr Bram. Sebab, menurut penda pat mereka, demi terciptanya rasa aman dari gangguan pelaku kejahatan, pihak kepolisian bukan seka dar mengamankan kediaman salah seorang warga mereka yang selamat dari percobaan pembunuhan. Tapi juga ikut menciptakan rasa aman bagi seluruh warga.
Apalagi belakangan ini memang banyak terjadi tindak kejahatan. Mulai dari penjambretan, pemerasan hingga pembegalan. Warga mulai cemas. Jika dibiarkan mereka bakal merasa tak nyaman bila beper gian, dekat maupun jauh.
Soalnya, pelaku bukan cuma merampas tas berisi uang dan barang berharga lainnya di dalam becak, ro da empat juga tak pula luput dari sasaran.
Bagaimana bisa?
Sudah biasa. Saat berkendara misalnya, salah seorang petugas menyetopnya dan meminta pengemudi memperlihatkan SIM dan perlengkapan surat menyurat kendaraan. Saat pengemudi percaya, saat itulah mereka bereaksi. Menodongkan senjata, menguras apa yang pengemudi punya.
Mereka biasanya mengambil tempat yang sepi, jauh dari keramaian. Bisa malam hari, bisa juga tengah hari. Mereka sudah mengetahui mana jalan yang sepi dilalui, mana yang ramai. Mana jalan yang sebe lumnya ramai saat tertentu bisa jadi sepi.
Mereka sudah bisa memperkirakan pengemudi tak bakalan melakukan perlawanan. Karena kebanyakan dari pemilik kendaraan lebih memilih rasa aman ketimbang harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyelamatkan uang  yang jumlahnya tak seberapa itu.
Ngeooong …
Diam-diam, ketika Mr Bram tidur lelap, hanya ditemani Mpok Surti, Mrs Bram dan Pusy nekat keluar kamar. Dia mengajak Sang Nyonya menemui perawat yang ditemui Mr X tadi. Namun sia-sia karena orang dimaksud tidak berada di tempat.
Kenapa?
Karena ruang khusus jaga perawat kosong. Bukantidak ada orang. Tapi lagi bertugas di kamar rawat inap pasien. Menemani dokter ahli yang justru melakukan pemeriksaan sebelum jam sembilan malam.
Sebelum beranjak pergi, Pusy melompat ke pelukan Mrs Bram. Saat mengusap-usap lembut bulu indah dan bersih itu, seorang perawat dengan langkah tergesa-gesa menuju pos jaga. Dia kelupaan sesuatu. Makanya, dia kembali ke ruang tempat pemeriksaan pasien setelah mengambil beberapa obat yang di perlukan pasien.
Namun dengan agak terburu-buru sang perawat mengaku pernah bicara dengan Mr X. Dia menanyakan kamar pasien atas nama Mr Bram. Namun untuk penjelasan lebih lanjut, si perawat sudah ditunggu pa sien yang mendadak koma lagi setelah siuman beberapa lama.
Ngeooong …
Kendati belum puas, karena kedua tangannya terus ditarik-tarik Pusy, Mrs Bram baru sadar sudah saat nya dia harus kembali ke kamar menemui suaminya.  Dengan nafas terengah-engah, dia membangunkan Mpok Surti dari tidur ayamnya.
Mpok Surti kemudian menemui beberapa suster perawat. Menjelaskan alasan kenapa Mr Bram harus pindah kamar lagi. Salah satunya, demi menjaga rahasia keamanan, sudah lebih sehat dan memilih ka mar rawat inap yang lebih besar namun tak begitu jauh dari pintu utama keluar masuk rumah sakit.
Semula ditolak dengan alasan sudah penuh dan ada yang memesan. Namun karena terus didesak Mrs Bram, pihak rumah sakit bersedia mengingat tak lama lagi Mr Bram sudah diperbolehkan pulang ke ru mahnya.
Malam itu juga, dibantu kursi roda, Mr Bram pindah ke kamar depan. Tak butuh waktu lama. Hanya ku rang dari lima belas menit,  mereka sudah menempati kamar yang baru.
Sementara aman …
Namun kembali terusik setelah lampu rumah sakit sempat mati, sebelum akhirnya  menyala kembali. Se telah diperiksa petugas rumah sakit, terjadinya lampu padam karena ‘down’nya sekring lampu di pusat instalasi lantai dasar rumah sakit.
Benarkah?
Benar memang. Tapi sebenarnya Mr X lah yang membuat ulah. Dia hanya melakukan uji coba. Ternyata hasilnya bagus. Dia baru akan beraksi setelah lamp rumah sakit padam seketika.

   

Minggu, 29 Januari 2017

Abi Dzar Bertanya, Rasulullah SAW Menjawab



Tausiyah

Abi Dzar Bertanya, Rasulullah SAW Menjawab
By  Aminuddin

ABU Dzar berkata, saya masuk masjid tiba-tiba  Nabi SAW duduk sendiri, maka aku berkata,  beliau tidak akan duduk sendiri kecuali karena menanti wahyu atau suatu hajat. Kemudian Nabi SAW memang gil aku.  Dekat lah padaku hai Jundub. Maka segera saya mendekat dan mengambil kesempatan untuk bertanya:
“Y Rasulullah, engkau menyuruh kami berwudhu’, maka apakah hikmah wudhu’ itu?”
“Hai Abi Dzar, tidak sah sembahyang  kecuali dengan wudhu’, dan wudhu’ itu dapat menebus dosa-dosa yang terjadi sebelumnya,” jawab Nabi SAW.
“Ya Nabi Allah, engkau menyuruh kami sembahyang, maka apakah sembahyang itu?”
“Sembahyang itu sebaik-baik perbuatan, maka siapa suka boleh mempersedikit atau memperbanyak,” kata Nabi.
“Ya Nabi Allah, apakah zakat itu?”
“Hai Abu Dzar, tiada iman bagi orang yang  tidak dapat diamanati (dipercaya), dan tiada sembahyang bagi orang yang tidak mengeluarkan zakat, dan Allah SWT telah mewajibkan atas orang-orang kaya me ngeluarkan zakat harta mereka sekedar untuk menutup kekurangan orang-orang fakir miskin, dan Allah SWT akan menuntut orang-orang kaya tentang zakat dan akan menyiksa yang tidak menaatinya.”
“Hai Abu Dzar, tidak akan berkurang harta karena dikeluarkan zakat dan tidak hilang harta di darat atau di laut melainkan karena tidak dikeluarkan zakatnya.”
“Hai Abu Dzar, tidak akan mengeluarkan zakat harta dengan senang hati kecuali seorang mukmin, dan tidak akan menolak pemberian zakat kecuali orang musyrik.”
“Ya Nabi Allah, apakah puasa itu?” Tanya Abu Dzar lagi.
“Puasa itu perisai, dan pahalanya dijamin Allah SWT, dan bagi orang yang berpuasa ada dua kali kese nangan, yaitu ketika berbuka dan kedua ketika menghadap Tuhannya, dan bau mulut orang yang berpu asa di sisi Allah lebih harum dari kasturi (misik), dan akan disiapkan hidangan pada hari kiamat untuk manusia, maka yang pertama makan daripadanya orang-orang yang berpuasa.”
“Ya Nabiyallah, apakah sabar itu?”
“Perumpamaan sabar itu bagaikan seorang yang membawa sekantong kasturi, dan ia di tengah-tengah gerombolan manusia, semua orang itu ingin mendapatkan baunya.”
“Ya Nabiyallah, apakah sedekah itu?”
“Untung hai Abu Dzar, sedekah rahasia itu dapat memadamkan murka Tuhan, dan sedekah terang-te rangan menghalaukan tujuh ratus bahaya dari orang yang bersedekah, dan sedekah itu menghapus do sa, memadamkan api neraka dan memadamkan murka Tuhan, dan sedekah itu perbuatan yang ajaib baik, sedekah itu sesuatu yang ajaib, dan sedekah itu sesuatu yang ajaib.”
“Ya Rasulullah, memerdekakan budak manakah yang lebih utama?”
“Yang lebih mahal harganya.”
“Ya Nabiyallah, hijrah manakah yang lebih afdhal?”
“Yaitu meninggalkan kejahatan.”
“Ya Nabiyallah, siapakah manusia yang benar-benar Islamnya?”
“Siapa yang selamat semua manusia dari gangguan lidah dan tangannya.”
“Ya Nabiyallah, siapakah manusia yang sangat lemah?”
“Siapa yang malas berdoa.”
“Ya Nabiyallah, siapakah manusia yang sangat bakhil?”
“Yang bakhil untuk memberi salam.”
“Ya Nabiyallah, siapakah pejuang (mujahid) yang paling utama?”
“Siapa yang terbunuh kudanya dan tertumpah darahnya.”
“Ya Nabiyallah, beritahukan kepadaku tentang shuhuf Ibrahim dan kitab-kitab itu bilakah turunnya?”
“Shuhuf Nabi Ibrahim telah diturunkan tanggal satu bulan Ramadhan, dan Injil diturunkan pada tanggal dua belas Ramadhan, Zabur diturunkan tanggal delapan belas Ramadhan, Taurat diturunkan pada tanggal delapan Ramadhan, dan Alquran diturunkan pada tangga dua puluh empat Ramadhan.”
“Ya Nabiyallah, berapakah banyaknya nabi, dan berapa banyak Rasul?”
“Banyaknya para Nabi seratus dua puluh empat ribu Nabi, dan banyaknya Rasul tiga ratus tiga belas Ra sul, dan adakalanya Nabi bukan Rasul, dan adakalanya Nabi adalah juga Rasul atau (setiap Rasul pasti Nabi dan belum tentu seorang Nabi menjadi Rasul).”     
“Ya Nabiyallah, waktu malam yang manakah yang lebih afdhal?”
“Tengah malam yang telah lewat (gelap).”
“Ya Nabiyallah, apakah yang utama dalam sembahyang?”
“Lama berdiri.”
“Sedekah manakah yang lebih utama?”
“Sekuatnya orang yang tidak punya, miskin, diberikan kepada orang fakir.”
“Siapakah Nabi yang pertama?”
“Adam.”
“Apakah Adam itu Rasul?”
“Allah menjadikannya dengan tangan-Nya, dan meniupkan ruh ke dalamnya.Dan empat dari Nabi-nabi itu Suryani, yaitu Adam, Syits, Idris dan Nuh as. Dan empat bangsa Arab yakni Hud, Shaleh, Syu’aib dan Nabimu (Muhammad SAW).”
“Berapakah kitab yang diturunkan Allah pada nabi-nabi-Nya?”
 “Seratus empat kitab: Allah menurunkan pada Nabi Syits lima puluh shahifah, pada Nabi Idris tiga puluh shahifah, pada Nabi Ibrahim sepuluh shahifah, kepada Nabi Musa sebelum Taurat sepuluh shahifah, dan taurat, injil, zabur serta furqan (Al-Quran).”
“Ya Nabiyallah, nasehatilah aku!”
“Jagalah taqwamu kepada Allah SWT, sebab itu pokok dari segala hajat kepentinganmu.”
“Ya Rasulullah, tambahkan kepadaku!”
“Lazimilah selalu dzikrullah dan membaca Al-Quran, sebab itu akan menjadi cahaya penerangan bagimu di langit dan kemuliaan, juga menjadi ingatan (sebutan) bagimu di bumi. Dan jagalah panggilan jihad fi sabilillah, sebab itu sebagai pertapaan umatku, dan jagalah diam kecuali untuk kebaikan, sebab diam itu mengusir syaithan serta membantu kamu untuk melaksanakan tuntunan agama dengan baik, dan awas lah dari tertawa, karena tertawa itu dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya muka (mnghi langkan wibawa).”
Wallahu a’lam bishshawab.




Tebok Ulu Ati (3-TAMAT)





Cerita Fiksi

Tebok Ulu Ati  (3-TAMAT)
By  Wak Amin


XI
LANDAK samo jerawat batu dak terimo dibabak- belurke Mang Jen cs. Akhirnyo ngadu ke konco-konco nyo. Dasar bae budak tanggung, dak mikir lagi, siangtula pegi enggari yang enggocoh taditu.
Taunyo dak katik lagi. Panas niyan ati si landak. Makkayo tegak pucuk kuwali yang ado minyaknyo. La panas berasep pulo. Kalu soal nyumpahi dak usah omongke lagila, la berapo kali tesebut. Kito yang endengernyo bae yang dak kelemakan.
Si landak umpamanyo. Ngatoke Ceper cs anjing, taun, kampang, mecem-mecemla. Nak kupatike, lum tau siapo landak, kupeliteske gektu batang lehernyo baru tahu dio siapo aku.
Jerawat batu lain lagi. Dio dak mak itu. Dio lebih halus tapi nyelekit. Apo misalnyo? Ngatoke Mang Jen, la tuwo katik malu. Lum tau dio dengan budak mudo. Janganke uwong, tiang rumah bae kalu kusepak, pa cak roboh tako rumahnyo.
Ha ha ha ha …
Ketawola limo konconyo endanger ocehan jerawat batu. Dak pacak nak idak ketawo. Ngomong bae,  nak nya ri idak. Ampir  setengah jam teduduk di tamanni. Ari lenak sore, denget lagi malem.
Dari pado cak ini, nunggu dak ado ujungnyo, kato Jabrik, lemakla kito bubar bae. Pacak cari lokak lain. Ngenek apo.  Amun cak inila, badan capek, aus en lapar, kelepit dak berisi.
“Sudah, kito bubar bae,” kato Jabrik, lenak ngajak konco-konconyo pegi ninggalke jerawat batu samo landak yang masih dak berenti ngoceh.
“Tunggu duken!” Uji jerawat batu. La kepalang tanggung kito disini. Lanjakkela bae …
“Aku tau dari kau kalu soal lanjak ngelanjakketu. Tapi mano dio uwong yang nak dilanjakketu. La gatel ta ngan akuni .. tau dak kau.” Jabrik mulaki kesal enjingok landak plintat-plintut pecak uwong separo lolo separo bengak.
“Tenang … tenang,” uji  landak nyubo nengahi. “Sekarang kito minum-minum duken …”
Ha ha ha ha …
“Itula yang kutunggu-tunggu,” kato Kris ketawo ngakek. Budak sikokni memang hobi minum. Sehari bae dak minum pecak nak matila.
“Tunggu yo denget …” Jerawat batu nancep ke warung parak tamantula. Embeli minuman botol samo roti biar ilang raso asem di mulutni.
Dak lamo idak. Paling lamo limo menit la sudah. Tapi, yang namomnyo nunggu, limo menit pecak sete ngah jam. Padohal idak …
Minuman lum dibuka, masih di jeru kantong asoy, la berebutan milih yang masih anyar botolnyo. Dak galak yang buruk. Sebab, kalu botolnyo buruk pertando la kadaluwarsa.
Ado-ado bae …
“Tos dukenla kito …” Kato Jabrik.  Endeketke botol, saling kenoan.
 Dahtu …
Glek geek …
Glek geek …
Ado yang langsung abis, cuma separo. Jugo ado yang baru seteguk, ledak tahan, berenti minum. Tebatuk-batuk, ampir temuntah.
“Payu rotinyo. Jangan malu-malu embat bae,” uji Jabrik. Ngupil duwo kali, roti isi kacang ijotu abis masuk perut galo.
MInuman abis. Enjingok ado botol yang masih seteguk diminum yang punyonyo, dio embat bae.
Karno lum banyak uwong di taman, kelakuan budak mudoni dak pulo nyedot perhatian. Sekali jingok bae. Dahtu melingus.  Takut.
Uwong apo monyet.

XII
“STOOOP Mang Pir …!” Teriak Jabrik sambil ngepas-ngeposke asap rokok.
Mamang sopirni, karno landak samo jerawat batu penesan, jadi ribut. Dak tedengerla dio suwaro Jabrik yang ngongkon mobil berenti.
Jeguaaar …
Praaaak …
Kursi opelet jadi sasaran. Digocoh Jabrik. Pas berenti ngejut,  ngelompat dari pucuk mobil.  Sudah  ngun talke punting rokok, dideketinyola mamang sopir yang kecik kerempenganni.
“Awaktu endanger dak yo Mang kusuruh berenti taditu?” Segak Jabrik sambil ngemelototke matonyo yang separo abang.
“Idak Kak,” kato si sopir terumpak tepucet   
 “Ngapo idaktu. Pekak apo kuping kautu?”
“Idak. Uwong ribut. Jadi aku dak tedenger dari depanni,” uji Mang Sopir. Nak metu dari mobil dak pacak karno lawangnyo opelet diteken Jabrik pakek tangannyo.
“Uwong mano?”
“Kawan kakaktula …”
“Cubo tunjukke yang mano uwongnyo.” Ngongkon Mang Sopir turun. Nunjukke siapo niyan yang ributtu.
Ditunjuknyola si landak samo jerawat batu. Yang ditunjuk, dikongkon Jabrik cepat turun dari mobil.
“Dak,” kato Jabrik samo landak, “Apo benar kau samo jerawat batu taditu ribut di pucuk opelet?”
“Idak, “ uji landak.
“Na, idak katonyo. Ngapo kato awak ributtu Pak Sopir. Apo awak sengajo nak ngolahke kami, haaa?”
“Idak Kak. Aku denger niyan kakak beduwoni,” sambil nunjuk landa samo jerawat batu,” ngomong kuat-kuat. Pecak nak marahtu ..”
“Makmano Dak? Benar dak kato adik kitoni?”
“Benar kalu ngomong. Tapi kalu aku samo jerawat batu ribut, idakla. Buktinyo aku samo jerawat batu dak apo-apo …”
Jerawat batu ngiyoke.
“Sudah kalu mak itu,” kato Jabrik, “Manjangke tali kelambu bae. Let’s go …”
Nyelik Jabrik samo konco-konconyo langsung pegi mak itu bae, Mang Sopir nutul dari buri. Dicuilkenyola bahu Kris.
“Ngapo?” Nyegak sambil noleh. Karno kuat segakantu, konconyo yang lain serempak noleh jugo.
“Nak ngapo kau Pak Sopir?” Tanyo Jabrik. Pecak kesal, nyepakke botol plastik, masuk jeru got ... Kanyut dibawak banyu .
“Ongkosnyo Kak …”
“Ongkos? Kris enjelit sambil nyegak. Ditariknyo kerah baju Mang Sopir.
“Kautu tau dak kami betujuhni siapo?”
“Idak Kak.”
“Kaminila yang nguasoi tempat inini. Ngapo nak embayar pulo samo awak. Awaktu yang harusnyo embayar samo kami.”
Mang Sopir tediem.
Pegila uwong tujuni. Kiro-kiro semester ditutulnyo lagila oleh mamang kitoni.
“Kalu mak itu aku mintak tulung niyan samo kakak betujuni ….”
“Tulung apo, cepetla ngomong?” Kato Jabrik. Caro diola, ngomong sambil enjelitke mato.
“Duit bensin baela Kak. Bensin aku tinggal dikit.”
“Dak katik duit, tau dak awak.” Segak Jabrik la mulaki kepanasan.
“Dak tau, Kak.”
“Kalu dak tau, cepetla pegi sano sebelum tangan akuni  mampir ke rai awak. Ngerti?”
“Ngerti. Ngerti Kak,” uji Mang Sopir ketakutan. Begancang ngidupke mesin, dak pulo teidup-idup.
“Matila gancang …” Kato landak enjeroke.
“Sopir buyan,” uji jerawat batu.
“Bukan buyan,” simbat Kris, “Tapi lolo bin bengak.”
Hua ha ha ha ha …

XIII
GUK … GUK … GUK …
Tigo ikok anjing besak item Om Hasan yang galak enjago kebunnyo metu serempak dari Rumah Belabuh. Ngapoi?
Ruponyo ngejar Jabrik samo-samo konco-konconyo yang la masuk jeru pagar tapi dak pacak me tu lagi.
Ngapo biso mak itutu?
Lawang pagar la tetutup. Nak embukaknyo dak sempat lagi, karno anjing la engguk-guk. Takut la jelas. Cuman dak kejingokan bae. Ngomong bae yang besak, cak keiyoan. Betatuan kato uwongtu. Jago sini jago situ. Pas diguk-guk anjing mati kutu, bukan kepinding.
Budak-budak di Rumah Belabuh, temasukla Om Hasan samo Mang Jen, ketawo setengah mati enjingok Jabri sampe tekoyak-koyak celanonyo keno gigit anjing.
“Kecik jugo nyali budaktu,” kato Om Hasan. Metuke pipa betembaku, dienjuknyo api, ngudutlatu dio, sambil ketawo pulo.
“Lanjakkela guk. Picul-picul kela palaknyo,” pekik Ceper.  Ngelompat keperi senangnyo nyelik landak dimain-mainke anjing bekuping libar.
“Kesiyan ye …” Uji Dakian.
“Kesiyan-keiyan. Kalu dak katik anjingtu, mati galo kito-kitoni digebukinyo. “
“Yo Mang yo?”
“Iyo. Yang jelas kito-kitoni bakal melok babak belur jugola,” terang Mang Jen.
“Ngapo biso cak itutu. Apo mamang takut?”
“Bukan takut. Tapi kito kan melok bebalah.  Dakken adola kito yang begocohan dak ado yang beret. Pasti ada, walau dak banyak. Benar dak Per?”
“Benar Mang. Dasar Dakian bae. Kesiyan-kesiyan …”
Sssst …
“Kito nonton bae …” Uji Om Hasan. Serempak duduk di teras, lesehan bebaris. Nyaksike apo yang bakal dilanjakke tigo ikok anjingtu.
Taunyo, entah makmano ujung pangkalnyo, tuju ikok budak tanggungni kompak duduk belutut di depan anjing.
Idak enggukguk lagi memang. Cuman yo itula. Lidahnyo yang ngeri. Dimetu-metukenyo. Nafasnyo makka yo mesin kapal yang lenak berangkat.
Dibaukinyo seluruh badan,  temasuk burit. Sampe di depan burit Jabrik, tibo-tibo anjing engguk-guk.
 Ado apo?
Usut punyo usut, keperi la mati akalnyo, Jabrik tekentut. Endengar suwaro kentut dari burit Jabrik, marahla anjing.
Baru berenti narik waktu Jabrik ngelepaske dewek celanonyo. Tinggal bekolor bae … Konco-konconyo yang sempat  nyelik cuman pacak mejemke mato bae.

“Ancur-ancuran pokoknyo,” kato Om Hasan. Pipa rokok lum dilepaske dari mulutnyo. Masih dio isap. Tapi la agak ngelambat. Dakdo cak taditu. Kuat-kuat. Ngebut dak berenti cak kereto api.
“Lajukela guk.” Pekik Tato. Sikok-sikok lanang tuju ikokni ngelepaske celano. Dikongkon anjing. Kalu daktu keno gigit. Malunyo setengah mati. Dijingoki uwong banyak.
La, kan sepi?
Tadinyo iyo. Endenger suaro anjing  yang dak berenti engguk-guk, penasaranla uwong yang diem parak Rumah Belabuh.
Perkiroan wargo, pasti ado uwong nak maling, ketauan anjing . Kan siang? Idak malam idak siang mak ini ari. Tengah uwong rame bae keno lanjak.
Untung bae Om Hasan becepet ngenjuk tau lanang-lanang mudo yang la siap nak ngelanjakke wong tu jutu. Dak jadi akhirnyo enggebuk rame-rame.
Guk .. guk … guk …
Lawang pagar tebukak.
“Lari gancang …” Jerit  jerawat batu. Keperi cepatnyo belari, numbur kunci pagar dak dirasoke. Mak itu jugo konco-konconyo yang lain. Ampir nyampak. Tesungkur kalu dak cepet bepegagan.
Wargo yang nyeliknyo pado endehem galo. Rato-rato ngomentari kalu lanang tuju ikoktu la kelewat lolo.

XIV     
“AI Dak … kau dak ngomong kalu ado anjing,” kato Jabrik mengas-mengas. Marah ado, kesiyan jugo ado. Dio samo enam ikok konconyoni istirahat denget parak pohon pisang.
“Maaf oi iyo,” uji landak, tubuh dak tau niyan kalu ado anjing. Masih untung kito ketemu rumahnyo. Pa cak kito inget-ingetla …”
“Nginget aponyo?”
“Kalu kito ngeraso dak puas, kito pacak datangi lagi rumahtu. Kapan bae,” terang landak cak keiyoan ni yan.
“”Nak ngapoi?”
“Nak enggocoh budak tula,” simbat jerawat batu. Pecak masih kepanasan karno lum ketemu jugo samo Ceper cs.
“Ai dak usahla kalu …” Kato Jabrik, diiyoke Kris.
“Makmano kalu uji awak To?” Tanyo Jabrik. Totoni yang jarang ngomong, punyo pendapat dewek.
Apo pendapatnyo?
“Lemakla kito balik bae. Banyak nyamuk disinini. Sedenget lagi malam.”
“Jadi kito lupoke masalah konco duwo ikokni. Cak itu kan?”
“Betul Brik. Nak ngapo pulo kito saro-saro nyari budaktu. Kagek kan pasti ketemu jugo, entah di mano …..”
“Kalu ketemu ngapo?”
“Yo omongke bae. Kamu nak ngamen-ngamenla … asal bae jatah kakak kamukni jangan lupo. Berapo bae teserahla.  Kuraso ngeper juga budak-budaktu.  Kito aman, kito dak dimusuhi uwong …”
“Kalu budak-budaktu dak galak, cak mano?” Landak masih nak enggocok Ceper cs tula, biar puas.
“Dakken ado budak-budaktu dak galak, Dak. Aku yakinla, kalu kito mintak benar-benar pasti dienjuk nyola. Asal bae jangan makso, apolagi sampe meres …”
“Idak makan kito To kalu mak itu caronyo. Awak kan tau dewek, budak-budakni mak ini la ngelawan galo. Kalu kito diemke biso kepalak kitoni diinjaknyo …”
“Kalu ujiku,” nyimbatla Kris,” kito bubarla bae. Lupokela. Masih banyak gawean lain. Makmano kiro-kiro?”
Tediem galo-galo …
“Payula kalu mak itu,” kato Jabrik nyimpulke rasanan, “Kito lupokela, Dak samo jerawat batu. Kito cari lokak lain …”
Apo boleh buat. Dak katik pilihan lagi caknyo. Landak samo jerawat batu cuman pacak nyenge-nyenge bae. Dahtu melok ketawo, tapi dak kelemakan, waktu nyetopke opelet, naik samo-samo.
Di rumah Bi Cek …
“Abah lum balik Buk?” Tanyo Lia.  Bi Cek yang baru bae balik dari ngerumpi di garang rumahnyo Bu Rijal, senyum-senyum enjingok Lia bebawakan.
“Berat bawaannyotu Lia ..”
“Ai ibuk. Cak la tau niyan. Berattu idak pulo. Cuman pegal samo sakit tanganni kalu lamo igo nyekelnyo.”
“Bukan. Apo dio isinyo pecak berat niyantu. Cubo sinike duken …”
Lia narokke tas asoy item besak pucuk meja.
“Cubo bukak duken Lia …” La dak sabaran lagi Bi Cek kitoni. Lapar la pasti, cuman apo duken di jeru tas plastiktu …”
Kreseeek …
Kreseeek …
Haaaa …
“Apo dio inini Lia?” Bi Cek lupo apo namonyo.
Jangan-jangan …
“Inini Buk ye. Kue. Ado duwo ikok. Sikok namonyo wajik, sikoknyo lagi bolu lapan jam namonyo.”
“Dak salah apo Lia?”
“Madaki pulo Buk aku nak embudike wong tuwo.”
Ha ha ha ha …
“Ai cacam .. kalu mak itu .. inini besuwo kawan lamo namonyo  Lia.”
“Maksud ibuk?”
“Waktu kecik cak kaunila dulu, la biaso ibukni makan inini. La biaso abis sekali duwo. Cepetla bukak!”
“Jangan lupo baca bismillah, Buk.”
“Sudah gancang. Telat dikit gek selero ibukni ilang …”

XV
MALAMNYO, Om Hasan samo Ceper beserto konco-konconyo bekunjung ke rumah Mang Jen. Karno me ndadak,  lupo niyan ngenjuk tau anak bininyo. Kelabakanla Bi Cek. Untung bae Lia idak. Dio la tebiaso nulung ibu gurunyo ngeladeni uwong banyak.
“Masuk … silakan masuk Om …” Kato Lia. Di burinyo, Bi Cek. Senyum-senyum bae. Badan ampir samo.  Samo gemuk, samo tegep. Bedanyo cuman sikok. Badannyo Om Hasan lebih tinggi. Itu bae …
Rumah kecik. Bayangkela oleh dulur-dulur. Makmano nak ngemuatkenyo. Ngaparla tepakso. Ampir tigo puluh ikok galo-galonyo. Yang duduk cuman Om Hasan samo Mang Jen bae. Ampir tejungkel pulo dio.
Ngapo mak itu?
Badan gemuk tinggi. Pantat la jelas besak. Duduk pulo di kursi rotan.
Kletak …
Nyeeeet …
Miring ke kanan. Bi Cek nak ketawo enjingoknyo. Mak itu jugo Lia. Yang idak ketawo Mang Jen, Ceper samo budak lainnyo. Dak lemak pulola kalu nak ketawo. Uwong tubuh dewek.
“Biarkela Mang. Aku ngapar bae,” kato Om Hasan. Waktu duduk di lantai terumpak begoyang kaki kursi keperi beratnyo pantat Om Hasan.
“Abah. Sini duken …!” Bi Cek ngongkon lakinyo embawakke banyu minum putih samo kue sedikit bawakan Lia.
“Ini jugo gektu yo Bah.” Lia narokke sepiring pempek samo kacang rebus.
“Payu Pak Hasan. Kito guyuri baela.” Mang Jen ngembek sebiji kacang rebus. Lum sempat tetelen  la disikat Ceper cs. Bekumpul jadi sikok parak piring. Berebutan.
“Ya cacam Lia. Kau jingok duken.” Bi Cek tejelit enjingok budak-budaktu mecem uwong dak makan setaun. Kelaparan galo.
“Cakmanola Buk ye?” Lia bingung. Banyu abis, makanannyo jugo. La, Om Hasan makmano. Lum sempat makan. Dio pasti lapar niyan …
“Iyoye … cakmanola.” Bi Cek dewek bingung.
“Kalu mak itu, ibuk tunggu denget yo …”
“Kautu nak kemano?”
“Ke warung sinila. Ngembek kerupuk, besok baru bayar.”
“Melok ah ibuk …”
“Gek uwong nyari ibuk mak mano?”
“Biarkela. Kan ada abah kau …”
“Payula kalu mak itu.”
Lewat buri. Ado gang kecik muat motor sikok kalu lewat. Duwo beranakni nancep ke warung . Dak jauh igo. Kelang duwo ikok rumahla.
Cuman, entah makmano, Om Hasan nanyo Bi Cek. Ado yang nak diomongkenyo.
“Tolong Mang panggil duken. Aku ado perlu dikit bae samo bini mamangtu.”
Becarianla mamang kitoni. Waktu nak metu lewat buri rumah, metula Lia samo Bi Cek. Lego rasonyo. Kalu bae rejeki.
“Abah bawakke kerupuk ini bae.” Becepet Mang Jen ngambek kerupuk dari tangan Lia. Bi Cek ngelambat jalannyo. Sengajo. Syukur-syukur dak jadi dipanggil Om Hasan.
“Buk cepat sini …!” Naik tanggo bae pecak payah niyan. Ditarik Lia tangannyo idak tetarik. Akhirnyo naik dewekla Bi Cek kitoni.
Om Hasan ketawo waktu Bi Cek samo Lia duduk di dekatnyo. Dak ngapo-ngapo. Dio cuman ngenjuk tau bae kalu mulaki besok Mang Jen begawe samo dio di Rumah Belabuh.
“Cuman aku nak ngomong dukenla samoooo …”
“Bi Cek,” kato Mang Jen, sekalian ngenalke.
“Iyo, Bi Cek. Soalnyo, Bi Cek kan bininyo Mang Jen. Aku ngarep niyan Bi Cek galak. Cak ituna …”
“Kiro-kiro apo yang nak digaweke lakikuni Pak Hasan?”
“Om Hasan …”
“Yo, Om Hasan.”
“Idak saro idak Bi Cek. Tenang bae. Santai bae. Aku pecayoke Rumah Belabuhni samo mamangni. Aku kan banyak keluar kota. Na, jadi kuserahke gawean akuni samo mamangni. Cak asistenla. Makmano kiro-kiro Bi Cek?”
“Maaf Om kalu aku lancang. Begaji dak kiro-kiro?”
Ha ha ha ha …
“Adola Bi Cek. Dakken ado pulo dak begaji.  Bi Cek tenang baela. Abis bulan mamang kitoni pasti nyekel duit. Disedioke tempat jugo buat  Bi Cek samo …”
“Lia.”
“Yo, Lia.  Nak datang diaturi. Nginep jugo asak galak bae.
Bi Cek diem bae.
Lia bebisik …”
“Lajukela Buk. Gaji ado …”

TAMAT