Cerita Lepas
Pusy Cat (3)
Oleh Wak Amin
VII
NGEOOOOONG …
Pusy duduk manis di pangkuan Sang Nyonya. Matanya liar
memandang ke sekitar ruangan lurus meman jang dan tempat lalu-lalangnya petugas
medis menjalankan aktivitasnya sepanjang pagi, siang dan ma lam hari.
Bukan cuma Mpok Surti yang kaget. Mrs Bram juga tidak
menyangka kucing kesayangannya itu siuman lebih cepat dari perkiraan semula.
“Padahal tadi sepertinya mau mati ya Nya,” kata Mpok Surti,
turut senang Pusy telah bangun dan ber sama mereka lagi.
Ngeooong …
Pusy melompat ke pelukan Mpok Surti. Ia tak menyangka Pusy berpindah pangkuan.
Padahal Mrs Bram sedang enak-enaknya membelai ekor manis dan sering bergerak
lucu itu.
“Nyonya Bram.” Sapa suster muda sesaat setelah membuka pintu
kamar tempat Mr Bram dirawat. Ce wek bermata sipit itu memberitahu bahwa
suaminya ingin bicara dengan dia.
“Sekarang Sus?”
“Iya Nyonya.”
Seakan tak percaya. Moga-moga saja tak ada hal yang aneh
pada suaminya. Karena dari kemarin malam sampai dia dan Mpok Surti mengaso
sejenak di luar ruangan rawat inap, Mr Bram pulas tidurnya.
“Papa ingin pindah kamar, Ma.” Bisiknya penuh harap.
Mrs Bram tak tega menanyakan alasan kepindahan kamar itu.
Padahal kamar yang sekarang ditempati suaminya justru lebih nyaman. Ada AC,
pesawat televisi, kulkas dan seperangkat kursi tamu khusus bagi anggota
keluarga pasien yang membesuk dan menjaga.
Andaipun terasa kurang, karena lokasi kamar rawat inap Mr
Bram seolah terpisah dari kamar pasien lain nya. Berada di lantai paling atas
dari tiga lantai rumah sakit swasta ini, pembesuk yang hendak membe suk memang
harus menaiki lift dan tangga penghubung ke masing-masing tingkat.
Sesampainya di atas, tak banyak anggota keluarga pasien yang
terlihat duduk-duduk dan mengobrol. Justru di lantai pertamalah suasananya
sangat ramai karena masing-masing orang bertemu, entah te man lama atau kolega
usaha, seolah menyatu dalam kata, canda dan sharing satu dengan lainnya.
Makanya, setelah meminta pendapat Mpok Surti dan tim medis
yang merawatnya, Mrs Bram memenuhi keinginan hati suaminya. Dia berharap,
pemindahan kamar perawatan ini mendatangkan manfaat ketimbang mudharat.
Ngeooong …
Dimana kamar baru Mr Bram?
“Paling ujung, Nyonya Bram,” kata perawat bermata biru.
Setelah mengetik di depan komputer, dia memprint-outnya. Hasil print-out ini dia berikan kepada Mrs Bram.
“Nyonya silakan tunggu. Biar kami yang menyelesaikannya,”
ujar si perawat. Setelah mendapat persetu juan dari Mrs Bram, perempuan
langsing tapi berisi itu menelepon teman kerjanya untuk secepatnya memindahkan
pasien bernama Mr Bram.
Mr Bram tampak berusaha turun dari dari tempat tidurnya
dengan dibantu seorang petugas medis. De ngan menggunakan kursi roda, dia turun
ke lantai satu menggunakan lift. Hanya sepersekian menit sudah sampai di depan
pintu kamar barunya.
Dia disambut dengan sukacita dan pelukan hangat isteri tercinta.
Dipapah turun dari kursi roda, bersama Mpok Surti, Mr Bram akhirnya sudah bisa
beristirahat lagi di atas tempat tidurnya yang baru.
“Terima kasih Sus,” ucap Mrs Bram. Dia mengantar Sang Perawat hingga ke depan pintu. Tak lama
sete lah itu, pintu kamar ditutup kembali.
Ngeoooong …
Pusy
menggeliat-geliat di dekat Mr Bram berbaring. Bulunya yang indah dan lucu
dengan badan yang tampak sehat dan bugar, membikin gemas Mpok Surti. Dia
berkali-kali ingin mengambil Pusy dan memin tanya memilih ke tempat yang lain,
tapi tak berhasil.
Malah dengan lucunya, Pusy dengan cepat melompat ke sebelah
kanan Mr Bram saat Mpok Surti mau mengambilnya untuk digendong. Ulah jenaka
Pusy ini membuat Mr Bram dan isteri tertawa geli.
“Sudah Mpok. Sudah,” kata Mrs Bram. Kasihan dia melihat Mpok
Surti dipermainkan Pusy yang terus menerus menghindar ke sana kemari.
“Biarkan sajalah Mpok,” kata Mr Bram. Merasa belum fit, dia
meminta isterinya menyalakan kipas angin. Dia ingin tidur.
Sementara Mr Bram tertidur beberapa saat kemudian, Pusy juga
ikut-ikutan tidur. Tapi tidak di atas ran jang. Dia tidur di depan pintu keluar
masuk kamar yang memang tidak terkunci. Sedangkan Mpok Surti lebih memilih
beristirahat di lantai dekat kamar kecil. Membentang tikar yang disediakan
pihak rumah sakit. Tidur beralaskan bantal guling yang sengaja dibawa dari
rumah.
Mrs Bram sendiri memilih tidur di kursi panjang khusus buat
tamu yang berkunjung. Dia tampak lelah. Sudah dua hari ini dia kurang tidur
menjaga suaminya. Tapi baginya itu belum seberapa dibandingkan kesehatan
suaminya segera pulih sediakala.
Dengan pulihnya kesehatan, Mr Bram bisa bekerja lagi seperti
semula. Tentu saja bisa mengajak Sang Isteri, Mpok Surti dan Pus jalan-jalan ke
mana suka. Dalam dan luar kota, tinggal pilih mana yang suka.
Sejak menikah, Mr Bram memang banyak mnyimpan harapan.
Misalnya, ingin punya anak perempuan yang cantik. Karena selama ini di
lingkungan keluarganya tidak ada perempuan. Cowok semuanya. Em pat bersaudara.
Tak heran jika kepada Sang Isteri, Mr Bram menaruh harapan
besar. Meski belum lama menikah, belum ada tanda-tanda kehamilan, ia selalu
merindukan lahirnya si buah hati. Pulang dari bekerja ada yang bisa diajak
bercanda. Bermain di teras atau sekadar lompat-lompat di dalam rumah.
Keinginan dan harapan itu bagi Mrs Bram tidak masalah.
Walaupun di dalam hati kecilnya dia mengingin kan anak laki-laki yang sehat, normal dan bisa
menemaninya dalam keadaan suka dan duka.
Bukankah Mr Bram sering melakukan perjalanan dinas ke luar
kota. Selama ini Sang Isteri ditemani Pusy dan Mpok Surti yang setia
menemaninya hingga kini. Dengan hadirnya anak laki-laki berarti lebih leng kap
rumah tangga ini. Dua laki-laki, dua perempuan dan satu jantan.
“Apa perlu cari betinanya Nya?” Tanya Mpok Surti suatu sore,
beberapa hari setelah menempati rumah
yang baru dibeli majikannya ini.
“Carinya dimana Mpok?” Mrs Bram tak pula serius
menanggapinya. Namanya juga ngobrol ringan sambil memotong dan merapikan bunga
di taman.
“Di pasar ada, Nya.” Jawab Mpok Surti sembari menyiram bunga
dengan air selang yang mengalir dari kran taman.
“Lho, baru dengar Mpok. Apa iya ada? Setahu saya di pasar
enggak ada, kecuali pasar hewan.”
“Oh iya Nya. Mpok lupa. Keliru saya Nya. Di pasar hewan.”
Buru-buru Mpok Surti mematikan air kran ka rena seluruh bunga selesai disiram.
“Nantilah kita carikan pasangan hidupnya,” kata Mrs Bram
seraya mengajak Mpok Surti masuk ke dalam rumah. Hampir Magrib, banyak nyamuk
di luar rumah.
Sampai kini obrolan teman hidup Pusy seolah hilang begitu
saja. Masih banyak obrolan lain yang lebih penting dari itu. Lagi pula, Pusy
selama ini tak begitu peduli dengan teman pendampingnya, ada atau tidak
menemaninya bermain di dalam dan luar rumah.
Kendati sering berteman dengan kucing dari berbagai jenis,
Pusy seolah terkesan jual mahal. Dia lebih senang berada di dekat majikannya.
Dia hanya tinggal memilih. Bosan dengan Sang Nyonya, bisa ber pindah ke Tuan
Besar. Pengen suasana yang beda, dia pun berlari masuk ke kamar Mpok Surti
sekadar melepas kangen dan menginginkan belaian.
Bagi Pusy, keceriaan majikan dan Mpok Surti sudah jauh lebih
penting dari pada mencari pasangan hi dupnya. Bukankah dia sudah hidup enak
saat ini. Tidak kepanasan dan tidak pula kedinginan.
Pusy tak ingin mengecewakan Mr Bram dan isterinya. Mereka
yang telah berbuat baik padanya, tak pan tas rasanya dibalas dengan air tuba.
Jangankan berbuat yang aneh-aneh dengan
merusak barang ber harga kepunyaan Sang Majikan, ngeloyor ke luar rumah tanpa
pamit saja dia tak suka.
Pusy sangat sayang pada Tuan dan Nyonya. Rasa sayangnya
melebihi segala-galanya. Terkadang ia ingin membalas semua kebaikan yang telah
diberikan padanya. Tapi dengan cara apa dan bagaimana melaku kannya.
Ngeoooong …
“Tidur lagi ah,” bisik Pusy dari depan pintu.
VIII
MR X berhasil
memasuki rumah sakit setelah sukses mengelabui petugas keamanan yang berjaga di
depan dengan cara berpura-pura jadi anggota keluarga pasien yang hendak besuk
pada malam hari.
Malam hari ini pengamanan rumah sakit diperketat menyusul
instruksi dari pihak kepolisian kota
yang menyebutkan ada pelaku teror yang menyusup dan hendak melakukan pembunuhan
terhadap Mr Bram dan isterinya.
Tentu saja ini berlaku khusus terhadap rumah sakit yang
merawat Mr Bram. Sampai saat ini, Mr Bram masih menjalani perawatan di rumah
sakit besar dan kesehatannya berangsur-angsur pulih.
Bagi Mr X, pulih tidaknya kesehatan Mr Bram tidaklah
penting. Karena yang penting sekaranglah saatnya ia menuntaskan dendam,
menghabisi nyawa seterunya itu, termasuk isterinya.
Dengan berpura-pura bertanya pada seorang petugas medis, dia
sempat melihat daftar nama-nama pa sien yang berobat jalan dan rawat inap di
papan tulis. Di situ tertera sejumlah nama pasien berikut ala mat rumah dan
kantor di mana yang bersangkutan bekerja.
Saat Mr X bertanya,
saat itulah Pusy melihatnya. Dia dekati
Mr X, lalu bersembunyi di balik dinding kayu pos jaga perawat. Dia
pandangi lekat-lekat. Dia hanya ingin memastikan bahwa benar lelaki itu adalah
Mr X. Lelaki bengis yang telah menyiksa majikannya.
Melewati pintu belakang, Pusy berhasil nyelonong pergi tanpa
sepengetahuan petugas jaga medis dan Mr X yang masih terlibat pembicaraan
serius dengan salah seorang perawat yang
jumlahnya lebih dari empat dengan shift malam sampai pagi hari.
Pusy terus berlari. Melewati satu pintu ke pintu yang lain,
menelusuri jalan panjang setapak menuju ka mar rawat nap pasien. Dia baru
sampai di depan pintu bersamaan dengan keluarnya dokter ahli penyakit
dalam dari memeriksa kesehatan lanjutan
Mr Bram.
Sang dokter sempat melempar senyum dan mengusap-usap
kepalanya sebelum pergi ke ruangan beri kutnya.
Ngeooong …
Pusy mencium-cium kedua belah pipi Mr Bram. Berlanjut ke isterinya dan Mpok Surti yang
tengah me nyiapkan segelas air susu hangat buat sang majikan.
Ngeooong …
Pusy tiada henti turun naik dari tempat tidur Mr Bram. Kalender yang tergantung di dinding
dekat jen dela ia lompati dan jatuh ke lantai.
Tak cukup sampai disitu. Ia juga menekan tombol pesawat
televisi. Lalu terlihat seorang wanita muda tengah membacakan Breaking News
berita kriminal.
Pusy kemudian melompat-lompat dan turun naik dari atas
pesawat televisi. Kemudian mendekati Mrs Bram sambil mengeong panjang. Lirih
terdengar, menimbulkan tanda tanya.
“Mas, jangan-jangan …” Mrs Bram sudah bisa membaca isyarat
yang diperlihatkan Pusy.
“Ah, tak mungkinlah Ma.” Kata Mr Bram. Dia percaya, meskipun
Mr X belum tertangkap, pihak kepolisi an tetap berusaha keras untuk
menangkapnya.
“Tapi Mas …”
“Sudah .. kan ada Pak Polisi yang ikut menjaga keamanan
rumah sakit ini,” jelas Mr Bram, meminta isteri nya tidak pergi keluar kamar. Tetap duduk
menemaninya rebahan di atas tempat tidur.
Mrs Bram percaya suaminya jujur dalam berucap. Makanya ia
tidak kuatir dan takut lagi. Ia berharap pe lakunya segera tertangkap dan
suaminya bisa secepatnya meninggalkan rumah sakit. Kembali ke rumah nya yang
selama tiga hari tak didiami, dijaga pihak kepolisian demi keamanan.
Walaupun rumah itu kosong dan tak berpenghuni, pihak
keamanan yang dimintai pengamanan, keluar masuk rumah untuk sekadar menyalakan
lampu, memeriksa lanjutan keamanan rumah. Tak heran jika pada malam hari
kediaman Mr Bram terang benderang seperti lazimnya, saat ia beserta isteri,
Pusy dan Mpok Surti menempatinya.
Warga sekitar juga tak pula berlebihan menyikapi pengamanan rumah
Mr Bram. Sebab, menurut penda pat mereka, demi terciptanya rasa aman dari
gangguan pelaku kejahatan, pihak kepolisian bukan seka dar mengamankan kediaman
salah seorang warga mereka yang selamat dari percobaan pembunuhan. Tapi juga
ikut menciptakan rasa aman bagi seluruh warga.
Apalagi belakangan ini memang banyak terjadi tindak
kejahatan. Mulai dari penjambretan, pemerasan hingga pembegalan. Warga mulai
cemas. Jika dibiarkan mereka bakal merasa tak nyaman bila beper gian, dekat
maupun jauh.
Soalnya, pelaku bukan cuma merampas tas berisi uang dan
barang berharga lainnya di dalam becak, ro da empat juga tak pula luput dari
sasaran.
Bagaimana bisa?
Sudah biasa. Saat berkendara misalnya, salah seorang petugas
menyetopnya dan meminta pengemudi memperlihatkan SIM dan perlengkapan surat
menyurat kendaraan. Saat pengemudi percaya, saat itulah mereka bereaksi.
Menodongkan senjata, menguras apa yang pengemudi punya.
Mereka biasanya mengambil tempat yang sepi, jauh dari
keramaian. Bisa malam hari, bisa juga tengah hari. Mereka sudah mengetahui mana
jalan yang sepi dilalui, mana yang ramai. Mana jalan yang sebe lumnya ramai
saat tertentu bisa jadi sepi.
Mereka sudah bisa memperkirakan pengemudi tak bakalan
melakukan perlawanan. Karena kebanyakan dari pemilik kendaraan lebih memilih
rasa aman ketimbang harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyelamatkan
uang yang jumlahnya tak seberapa itu.
Ngeooong …
Diam-diam, ketika Mr Bram tidur lelap, hanya ditemani Mpok
Surti, Mrs Bram dan Pusy nekat keluar kamar. Dia mengajak Sang Nyonya menemui
perawat yang ditemui Mr X tadi. Namun sia-sia karena orang dimaksud tidak
berada di tempat.
Kenapa?
Karena ruang khusus jaga perawat kosong. Bukantidak ada
orang. Tapi lagi bertugas di kamar rawat inap pasien. Menemani dokter ahli yang
justru melakukan pemeriksaan sebelum jam sembilan malam.
Sebelum beranjak pergi, Pusy melompat ke pelukan Mrs Bram.
Saat mengusap-usap lembut bulu indah dan bersih itu, seorang perawat dengan
langkah tergesa-gesa menuju pos jaga. Dia kelupaan sesuatu. Makanya, dia
kembali ke ruang tempat pemeriksaan pasien setelah mengambil beberapa obat yang
di perlukan pasien.
Namun dengan agak terburu-buru sang perawat mengaku pernah
bicara dengan Mr X. Dia menanyakan kamar pasien atas nama Mr Bram. Namun untuk
penjelasan lebih lanjut, si perawat sudah ditunggu pa sien yang mendadak koma
lagi setelah siuman beberapa lama.
Ngeooong …
Kendati belum puas, karena kedua tangannya terus
ditarik-tarik Pusy, Mrs Bram baru sadar sudah saat nya dia harus kembali ke
kamar menemui suaminya. Dengan nafas
terengah-engah, dia membangunkan Mpok Surti dari tidur ayamnya.
Mpok Surti kemudian menemui beberapa suster perawat.
Menjelaskan alasan kenapa Mr Bram harus pindah kamar lagi. Salah satunya, demi
menjaga rahasia keamanan, sudah lebih sehat dan memilih ka mar rawat inap yang
lebih besar namun tak begitu jauh dari pintu utama keluar masuk rumah sakit.
Semula ditolak dengan alasan sudah penuh dan ada yang
memesan. Namun karena terus didesak Mrs Bram, pihak rumah sakit bersedia
mengingat tak lama lagi Mr Bram sudah diperbolehkan pulang ke ru mahnya.
Malam itu juga, dibantu kursi roda, Mr Bram pindah ke kamar
depan. Tak butuh waktu lama. Hanya ku rang dari lima belas menit, mereka sudah menempati kamar yang baru.
Sementara aman …
Namun kembali terusik setelah lampu rumah sakit sempat mati,
sebelum akhirnya menyala kembali. Se
telah diperiksa petugas rumah sakit, terjadinya lampu padam karena ‘down’nya
sekring lampu di pusat instalasi lantai dasar rumah sakit.
Benarkah?
Benar memang. Tapi sebenarnya Mr X lah yang membuat ulah.
Dia hanya melakukan uji coba. Ternyata hasilnya bagus. Dia baru akan beraksi
setelah lamp rumah sakit padam seketika.