Novel Lepas
Ki Saleh (5)
Edisi Kelima
By Pak Amin
XVIII
DUUUUP … duuup … duuup …
Kraaak … kelekek …
Si badan besar, yang baru saja ketawa karena puas mengalahkan
Mang Kur, Mang Dul dan Mang Sen, terpental beberapa meter ke belakang.
Bruuuk …
Duuuup …
Pinggang badan besar menghantam batang pohon. Sesaat ia tak
sadarkan diri. Namun, setelah Ki Saleh berusaha mendekat, dia buka mata. Sambil
melotot tajam melihat ke atas dan sekitarnya, ia pun ba ngun dan duduk.
Huuuup …
Melompat. Sudah berdiri dan siap meladeni Ki Saleh.
“Menyerahlah sebelum babas bingkas, Bung.” Ki Saleh
memperingatkan lawannya yang terus melakukan perlawanan.
“Dalam hidup saya, tak ada kata menyerah. Tahu?” Sergah si
badan besar tak kalah gertak.
Ha ha ha ha …
“Dasar goblok. Badan saja yang besar. Otak tumpul,” ejek Ki
Saleh.
“Otak boleh tumpul. Tapi yang ini boleh elu coba,” tantang
si badan besar memperlihatkan perutnya yang buncit.
“Memang ada apa dengan perutmu itu, Bung?” Sindir Ki Saleh.
“Besi saja tak mempan,” kata si badan besar bangga.
“Besi apa Bung? Besi-besian ya …” Sindir Ki Saleh sambil
tertawa ngakak.
“Hei kutu busuk … Kamu boleh merasa jagoan. Tapi soal
perutku ini, jangan banyak tanya. Pukul kalau berani.”
“Oke …”
Ki Saleh menarik nafas dalam-dalam. Kaki kiri ke depan, kaki
kanan ke belakang. Kedua tangan serempak ditarik sejajar ke dada, lalu didorong
ke depan dalam mengepal.
Husyaaaa …
Buaaar ..
Tuuuut …
Sebuah pukul geledek berhasil didaratkan Ki Saleh ke perut
lawannya. Lawan memang tidak merasakan apa-apa. Masih berdiri. Cuma sempat
terkentut tadinya sebelum jatuh terlentang.
Bruuuk …
Dup .. breeegh …
Plak pak plak pak …
Mang Kur, Mang Dul dan Mang Sen yang telah siuman bertepuk
tangan. Mereka bangga dan berterima kasih kepada Ki Saleh karena telah berhasil
mengalahkan preman berbadan besar itu.
Menurut mereka, si badan besar bukanlah lawan yang ringan.
Sudah besar, nafasnya nafas kuda. Tangan nya kekar. Terbiasa bekerja keras.
Penampilannya tenang dan ilmu silat yang dia kuasai terbilang luma yan.
Namun menurut Ki Saleh, siapapun orang yang kita hadapi
dalam berduel, kuncinya adalah ketenangan diri. Selain tentunya mampu
mengontrol diri. Tidak gampang terpancing emosi dan mengatur pernafa san.
“Jangan terlalu
banyak mengobral tenaga. Menyerang boleh, tapi harus penuh perhitungan. Tidak
gra sah-grusuh, apalagi sampai berbuat yang aneh-aneh,” kata Ki Saleh.
Sebenarnya masih ada yang ingin dia sampaikan kepada
teman-temannya sesama pedagang. Namun, ka rena terusik oleh pertarungan Sakul
dengan seorang preman pasar baru, perhatian lantas teralih ke de kat tebing rerumputan.
“Rasakan ini,” kata lelaki berkepala lonjong itu pada Sakul
yang kelihatan senang dan lega setelah tenda ngan kerasnya berhasil mendarat
telak di perut lawan.
Sebuah pukulan bertubi-tubi
ke depan, Sakul kewalahan. Dia hanya bertahan dengan menangkis setiap pukulan yang
dilepaskan lonjong dengan kedua
tangannya.
Praaak …
Jegleeer …
Kali ini tepat mengenai dada Sakul. Sakit dan perih rasanya.
Saking kerasnya, penglihatan Sakul berku nang-kunang, walau tak sampai jatuh.
Degeeekh …
Guaaar …
Praaas …
Kali ini mengenai ulu hatinya. Sakul terjungkal. Dia muntah
tapi bukan darah. Sekujur tubuhnya
tiba-tiba lemah. Dia hanya menunduk sambil mengatur pernafasan.
Heeeceh …
Hiceeeh …
Heeekh …
HIceeeh …
Heeekh ..
Hiceeeh …
Si lonjong menunggu. Dia pantang menghabisi lawan duelnya
yang sekarat. Tidak adil itu namanya. Pasti pertarungan jadi berat sebelah.
Sementara Sakul terus berusaha berdiri. Sambil meringis
menahan sakit, dia arahkan kedua matanya ke dagunya lonjong. Ingin rasanya dia
mematahkan dagu itu agar duel ini cepat selesai.
Mang Kur, Mang Dul dan Mang Sen, ketiganya harap-harap
cemas. Mereka ingin Sakul segera menyuda hi
pertarungan ini. Sebelum warga lain pada tahu, Tugu Falah jadi kerumunan
massa. Duel ini bakal he boh dan diketahui khalayak ramai.
“Kita ke sebelah sana saja,” ajak Ki Saleh. Mereka mendekati
sebuah bangunan segi empat yang terbikin dari batu pualam.
Dari balik batu inilah mereka leluasa menyaksikan dengan
seksama duel antara Sakul dan si lonjong. Per tarungan satu lawan satu itu
berlangsung seru. Kendati Sakul sudah berdarah-darah, ia masih membe rikan
perlawanan.
Saat si lonjong lengah, sebuah pukulan Sakul mendarat di
bawah ketiak lawannya. Mengaduh kesakitan. Saking kuatnya, baju si lonjong
robek dan mengeluarkan darah.
“Ahaaa … Kena juga pukulan nyamuk ini,” ejek si lonjong.
Dia ambil beberapa tetes darah di bawah ketiaknya. Dia cium,
lalu dijilatinya.
Ha ha ha ha …
“Puas?”
“Belum,” jawab Sakul.
Sakul bergerak ke samping. Saat si lonjong melepaskan
pukulan ke mukanya, dia elakkan sedikit.
Kemu dian dia dorong tubuh si lonjong, jatuh bergulingan di tanah rerumputan.
Tidak sampai disitu. Keduanya pun bergumul seru.
Berguling-gulingan. Keduanya saling
jual beli puku lan. Saat si lonjong berada di atas, muka Sakul jadi sasaran
pukulan. Begitu juga sebaliknya.
Ketika Sakul berada di atas, muka si lonjong babak belur
kena pukulan. Pergumulan ini baru reda setelah keduanya terkena dinding
pembatas pinggiran tugu. Kepala pusing, saking kerasnya kepala membentur batu coran
itu.
“Apa perlu kita turun tangan Ki?” Tanya Mang Kur. Kasihan
melihat Sakul dan lonjong terus-terusan ber kelahi.
“Tunggulah dulu,” kata Ki Saleh.
Nanti juga duel itu akan berakhir, lanjut Ki Saleh. Soal
siapa yang menang, tergantung kepintaran masi ng-masing memanfaatkan kesempatan
dan kelemahan lawan.
Bisa jadi pertarungan ini tidak ada pemenangnya. Kedua belah
pihak sama-sama babak belur. Sama-sa ma ter kena pukulan. Tenaga habis, nafas
pun tersengal-sengal.
Kondisi ini bisa dilihat dari perilaku Sakul dan lonjong.
Tak ada lagi aksi pukul memukul. Tidak terlihat lagi tendangan geledek, pukulan
telak, apalagi serangan yang tadinya dilakukan bertubi-tubi.
Kini keduanya hanya saling pandang. Berjalan memutar dengan
kedua tangan dan kaki siap dengan jurus masing-masing. Tapi tak ada serangan
selain menggertak, mundur, maju dan mundur lagi.
Sakul misalnya. Sejak tadi hanya berputar-putar sambil
melihat pergerakan kaki si lonjong. Sekali waktu dia menggertak dengan
berpura-pura hendak memukul, lalu mundur lagi.
Begitu juga dengan si lonjong. Berpura-pura ingin memukul,
justru mundur beberapa langkah, sambil mengepalkan tinju.
“Membosankan. Yuk kita pulang,” ajak Mang Dul kecewa. Pasalnya, baik Sakul maupun
si lonjong yang sama-sama preman, menyajikan duel tak bermutu.
“Sakul gimana?” Mang Sen tak tega meninggalkan Sakul sebelum
tahu menang atau kalahkah dia.
“Kapan selesainya. Sebentar lagi pagi,” celetuk Mang Dul.
“Tapi belum kan pagi Mang Dul,” sahut Mang Kur. “Tunggulah
sebentar lagi.”
Bosan dengan berputar-putar, Sakul dan lonjong saling
berangkulan, memeluk kuat-kuat. Memeluk sam bil menjepit. Siapa yang ‘kencang’
pelukannya berarti menang. Karena yang pelukannya tidak keras alias kuat, pasti merasa kesakitan.
Auuugh … auuugh …
Sakul kepayahan. Matanya mulai berat. Si lonjong mengangkat
tinggi-tinggi badan Sakul, lalu dia banting dan hempaskan di tanah.
Bruuuk …
Sakul mengerang kesakitan. Sepertinya sulit bagi dia untuk
berdiri lagi. Sebab, rangkulan si lonjong ber hasil mematahkan tulang pinggang
Sakul.
Sakul hanya bisa terlentang. Semua badannya sakit. Pandangan
matanya gelap. Ingin rasanya dia mun tah. Kedua kakinya tak bisa digerakkan.
Mulutnya terkatup rapat. Hanya nafasnya yang masih terdengar, turun naik
melambat.
Ki Saleh melompat dari balik batu. Dalam hitungan detik ia
sudah berdiri di dekat Sakul. Dia raba ping ga ng itu. Dia usap dan bacakan
sesuatu.
“Aduuh … Sakit.” Jerit Sakul. Meski hanya diusap, karena
menggunakan tenaga dalam, seolah ditusuk-tusuk benda tajam.
Energi tenag dalam berhasil masuk ke sekitar pinggang Sakul.
Lewat tangan Ki Saleh, tulang pinggang yang patah itu berhasil dinormalkan
kembali.
Proses penormalan ini lah yang membuat Sakul terus-terusan
menjerit. Meronta-ronta disaksikan si lonjong dari kejauhan yang tampak puas
mengalahkan lawan beratnya itu.
Sakul mulai bisa duduk. Peluh membasahi sekujur tubuhnya.
Suaranya masih lemah, agak parau dan pandangan matanyanya kabur. Belum mampu melihat jelas suasana
sekitar.
Ki Saleh kemudian menepikan Sakul. Dekat tugu sebelum dihampiri Mang Dul, Mang
Kurd an Mang Sen. Ketiga rekan Ki Saleh ini menyemangati Sakul agar kuat bertahan dan segera pulih
sediakala, sekaligus melupakan kekalahan duel barusan.
Buat apa meratapi kekalahan. Karena setiap duel selalu ada
yang kalah dan menang. Yang menang ter tawa, bersuka cita, sementara mereka
yang kalah menangisi nasib dan kekalahannya.
“Sekarang kita berharap Ki Saleh bisa mengalahkan si
lonjong,” harap Mang Kur.
“Kita berdoa saja,” kata Mang Send an Mang Dul. Serempak
menunggu jurus apa gerangan yang bakal
diperlihatkan Ki Saleh untuk menaklukkan si lonjong.
XIX
TAK satu jurus pun yang diperagakan Ki Saleh dan si lonjong.
Keduanya cuma berdiri bengong. Lalu, entah sekadar ingin memanas-manasi, Mang
Kur nyeletuk …
“Kepala saja yang lonjong, mental keong .. ong .. ong …”
“Kalau takut bilang aja. Titik,” sahut Mang Sen.
“Jangan titik Mang Sen. Tapi koma. Kalau KO pulang sana.”
Ha ha ha ha …
Si lonjong sedikit demi sedikit mulai terusik. Hatinya mulai
panas. Mukanya memerah. Tapi belum juga bereaksi.
“Hei Ki. Kamu takut enggak sama si lonjong?” Pancing Mang
Kur.
“Enggak,” jawab Ki Saleh geleng-geleng kepala.
“Kenapa diam?” Tanya Mang Dul memanas-manasi.
“Nunggu adalah …”
“Adalah siapa?”
“Mau tahu aja.” Ki Saleh menirukan suara bencong. Mang Dul ketawa ngakak mendengarnya.
“Ya perlu dong kita tahu. Kalau sampai enggak tahu, kan
lucu.” Seloroh Mang Sen.
Si lonjong mulai beraksi.
“Hei kamu. Udah keok masih belagu. Muka saja kayak tebu …”
Puuuuih …
Si lonjong berludah.
Mang Sen tersinggung.
“Mau lagi? Ayo … ai ladeni.” Tantang Mang Sen dengan kaki
terpincang.
Priiiit …
“Sudah … sudah …” Kata Mang Dul. “Partai kita sudah
berakhir. Kini partainya Ki Saleh dan si lonjong.”
Sempat cekcok mulut. Untung sebentar. Kemudian berubah
hening. Senyap …
Si lonjong beraksi.
Dia renggangkan kedua kakinya. Juga tangannya. Tatapan mata
lurus ke depan. Kaki kiri dia dekatkan. Lalu yang kanan diangkat. Kemudian
dihentakkan ke kiri diikuti kepalan tangan kanan dan kiri seja jar dengan kaki
kiri.
Husyaaa …
Kemudian dia bergerak ke kanan. Sama seperti kaki kiri tadi,
hentakan kaki kanan diikuti kedua tangan searah posisi kaki kanan.
Husyaaa …
Ki Saleh membalasnya dengan satu gerakan melayang ke udara.
Melakukan gingkang. Dengan mudah di tangkis si lonjong lewat tepisan kedua
tangannya yang bergerak cepat ke kiri menahan gempuran kaki Ki Saleh.
Melihat Ki Saleh, kaki kirinya terkilir sebelah kiri, si
lonjong melepaskan tendangan menyusur tanah de ngan cepat. Ki Saleh melompat.
Sebelum menghindar ke kanan, kaki kirinya mengenai pelipis si lonjong.
“Aduuuh,” ringisnya.
Kendati tidak kuat, lecet dan berdarah, si lonjong segera
berdiri dengan melompat dan mendaratkan pu kulan bertubi-tubi ke badan Ki
Saleh. Hanya mengelak dengan sesekali melepaskan pukulan ringan untuk
memperkuat pertahanan.
Sempat terdesak, Ki Saleh melompat ke atas kepala si
lonjong. Sebelum kedua kaki menyentuh tanah, kaki kanannya mengenai kepala
lawan. Nyaris tersungkur. Lonjong memutar badannya. Kini ia bertekad akan
mencederai Ki Saleh.
Dia pejamkan mata. Kedua tangan disilangkan. Lalu berlari
sambil melepaskan pukulan satu dua, diseli ngi
tendangan kaki kanan dan kiri.
Hiyaaaat …
Si lonjong tampil all out. Ia kerahkan segenap kemampuannya.
Pukulan kurus menyilang ke kiri dan ka nan. Belum lagi tendangan memutar, lurus
ke depan. Menyusur tanah. Kurang apalagi ..
Hanya saja, Ki Saleh mampu menangkis dan menghindarinya. Dia
tetap tenang, meski sudah terdesak. Beberapa temannya kuatir Ki Saleh bakal
takluk.
Tapi kekuatiran itu sirna setelah dengan satu kali lompatan
ke kanan sambil bergulingan ke tanah, mem buat lonjong kelabakan. Saat hendak
memutar badan ke kanan, Ki Saleh sudah berada di sebelah kiri.
Ceklaak …
Deeeep … deep …
Tendangan ganda berhasil mengunci batang leher si lonjong.
Meringis kesakitan. Karena gengsi, dia
tak perlihatkan ringisan itu. Justru dibalasnya dengan mencabut pisau kecil
yang terselip di pinggangnya.
Pisau itu ia lipatkan ke sela jari tangan. Dia baru hujamkan
ke dada Ki Saleh saat menangkis tendangan dan pukulan yang ia lepaskan. Taktik
lonjong sepertinya membawa hasil.
Tapi sebelum mengenai dada, satu kelebatan tangan kiri Ki
Saleh berhasil menggagalkannya. Pisau itu terpelanting jauh. Menancap di batang
pohon.
“Si lonjong curang,” komentar Mang Sen.
“Sudah curang belagak pula,” kata Mang Dul.
“Hei Jong. Kalau jantan, jangan pakai pisau dong.” Teriak
Mang Kur.
“Pakai apa Mang Kur?” Tanya Mang Dul.
“Pakai duit …”
Ha ha ha ha …
Sesaat lonjong berdiri mematung. Dia mengatur nafasnya.
Setelah berkali-kali menyerang tiada henti, anggota badannya seperti kaki,
tangan dan punggung terasa sakit dan memar.
Dia tarik nafas dalam-dalam. Ki Saleh tak mau memukulnya.
Walaupun kesempatan itu ada. Saat seperti ini sangat mudah baginya untuk
menghabisi lawannya.
Ki Saleh memulihkan tenaganya yang juga terkuras setelah
banyak menahan pukulan dan tendangan ya ng dilepaskan si lonjong. Tidak
mengalami cedera bukan berarti harus berleha-leha. Justru lebih siaga. Bisa
jadi lawan punya taktik kotor.
Taktik apakah itu?
Ketika keduanya berjibaku kembali, dari genggaman tangan si
lonjong keluar butiran pasir. Pasir segeng gam itu ia lemparkan persis ke muka
Ki Saleh.
Kelilipan. Mata Ki Saleh tak bisa melihat. Penuh pasir. Si
lonjong memanfaatkannya dengan melepaskan tendangan ke perut, dada dan muka.
Kini Ki Saleh kena batunya. Berkali-kali pukulan yang
dilepaskan lawan tepat mengenai perutnya, tanpa memberikan perlawanan sedikit
pun.
Bukan cuma itu. Sebuah tendangan menghantam kepalanya,
membuat pendekar muda ini tersungkur. Teman-temannya ingin membantunya. Namun,
ketika si lonjong hendak mendaratkan pukulan ke pe rutnya, Ki Saleh berhasil
mengelak dengan cara ‘membanting’ cepat badannya ke depan.
Lalu berguling-gulingan di tanah. Setiap kali kaki lonjong
hendak menghantam kepalanya, dengan cepat ia putar badannya ke depan. Begitulah
seterusnya sampai Ki Saleh, dengan tenaga yang tersisa, berhasil berdiri dan
pandangan matanya mulai jelas.
Deeep …deep …
Kali ini lonjong mundur beberapa langkah ke belakang. Dia
terpaksa mundur setelah tendangan keras Ki Saleh mengenai dadanya.
Ki Saleh tak mau gegabah. Dia tetap menunggu diserang lawan,
baru membalasnya dengan mendarat kan pukulan.
Cara ini dinilai lebih aman.
Berbeda halnya dengan si lonjong. Dia tak mau menunggu. Dia
ingin opensif. Maka itu, melihat Ki Saleh tak mau menyerang, dia justru
mengambil inisiatif melepaskan pukulan terlebih dulu.
Selain pukulan jarak jauh menggunakan tenaga dalam, si
lonjong juga mengganggu konsentrasi Ki Saleh dengan melepaskan tendangan
menyusur tanah sehingga tanah dan batu kerikil beterbangan ke sekitar Ki Saleh
berdiri.
Dengan cepat Ki Saleh bersembunyi di balik tugu. Batu
kerikil yang berterbangan itu hanya melintas dan menghantam tugu. Tak satu pun
yang kena, termasuk pukulan tenaga dalam si lonjong. Hanya menghan tam batu dan
kayu yang patah teronggok dekat batang pohon.
Si lonjong geram dan marah. Kenapa bisa tak satupun pukulan
dan tendangan yang ia lepaskan me nge nai sasaran. Semua meleset. Dia bertambah
geram manakala Mang Kur dan kedua temannya bertepuk tangan menyemangati Ki Saleh.
“Habisi saja Ki.” Teriak Mang Kur berkali-kali.
“Iya Ki. Biar kita cepat pulang. Sudah lapar nih ..” Sahut
Mang Dul memperlihatkan perutnya yang
mulai mengempis dan keroncongan.
“Cepat Ki. Pukullah si lonjong agar kepalanya bertambah
lonjong.” Mang Sen berteriak dengan suara parau. Sejak pergi dari rumah sampai
sekarang belum minum. Padahal kerongkongan
sudah kering.
Ki Saleh mulai beraksi. Dia tak ingin menunggu lagi. Dia
mulai opensif. Dia tarik nafas dalam-dalam. Lalu ia rentangkan kedua tangan,
didekatkan kembali dan menempelkannya di dada.
Setelah itu dia kepalkan kedua telapak tangannya. Ditarik ke
belakang sedikit. Lurus ke depan.
Lalu …
Jegaaar …
Craaash …
Guaaaarrrr …
Sebuah pukulan menggunakan tenaga angin berhasil menjungkir
balikkan si lonjong. Melayang ke udara sebelum jatuh dan berguling-gulingan di tanah
rerumputan.
Lonjong sempat memandang Ki Saleh. Dari mulutnya keluar
darah segar. Rambutnya kusut masai. Pakaiannya berlubang dan mukanya penuh
luka.
Mengerikan …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar