Pusy Cat (2)
V
SATU persatu pakaian yang dikenakan Mr Bram dipreteli.
Berawal dari baju, dilepas paksa sampai robek. Untuk menimbulkan shock pada
korbannya, Mr X, setelah melepas baju, menggunakan pisau kecil, me nyayat dari atas
ke bawah dada Mr Bram.
Terasa sakit memang.
Mr Bram hanya bisa memejamkan matanya. Sempat meringis menahan rasa
sakit.
“Eeeem … Sakit kan Bos?” Kata Mr X dengan ekspresi menakutkan. Mata melotot, mulut mancung ke
depan sementara raut muka tegang mencekam.
Ceraaasss …
Ceraaassss …
Ceraaasss …
Tiga kali sayatan membuat dada Mr Bram berlumuran darah.
Walau tidak banyak dan mengalir ke mana-mana, warna putih dada berubah merah.
Mr Bram semampunya bertahan saat celana panjang yang ia
kenakan dirobek paksa Mr X. Saking marah nya, itu celana dirobek habis dan
dilemparkan ke dekat lemari hias.
Ha ha ha ha …
Kini Mr Bram hanya mengenakan celana dalam saja. Sama
seperti sebelumnya, dia tak kuasa melihat kea daan dirinya yang nyaris
telanjang bulat. Apalagi tatapan mata pelaku yang seolah liar ke sekitar selang
kangannya.
Ha ha ha ha …
“Aku foto dulu ah …” Kata Mr X. Dia keluarkan kamera kecil dari saku celananya. Lalu ia jepret
berkali-kali sampai mendapatkan gambar yang benar-benar bagus dan layak
ditonton orang banyak.
Ceklak ..
Ceklek …
Flesssh …
Mr X mengambil foto dari beberapa sudut. Dari belakang,
kiri, kanan dan dari depan. Dia memaksa Mr Bram membuka matanya. Memandang ke
depan kamera dengan ekspresi wajah gembira, seolah tak terjadi apa-apa.
Hasil jepretan itu ia simpan terlebih dulu di tempat
penyimpanan foto. Baru akan disebarkan beberapa saat kemudian. Menunggu saat
yang tepat …
Hua ha ha ha ha …
“Matilah kau Mr Bram. Sebentar lagi hasil foto kamu akan aku
kirim lewat sosial media. Dan semua orang akan melihat tuan bugil. Eeeem …
mereka pasti terkejut dan tuan sendiri pasti akan menanggung malu …..”
Ha ha ha ha …
Puiiih …
Puiiih …
Puiiiih …
Mr Bram berhasil meludahi muka Mr X ketika hendak menggigit
batang hidungnya.
Ha ha ha ha …
“Dasar penjahat kelas teri,” ucap Mr Bram ketawa ngakak.
Kelepak …
Duuup …
Deeep …
Murka, Mr X melepaskan bogem mentahnya ke muka Mr Bram
sebanyak tiga kali. Bukannya meringis kesakitan. Malah ketawa ngakak sambil
mengejek …
“Mr X loyooo … Mirip orang bodo … Sudah loyo sontoloyo …”
Jegaaar …
Deeep …
Buuuk …
Mr Bram sampai terjungkal jatuh ke lantai bersama kursi yang duduki,
saking kerasnya tendangan ber tubi-tubi yang dilakukan Mr X. Mencoba bangun,
kena tendang lagi. Kali ini membentur dinding pemba tas ruang tamu dan ruang
keluarga.
“Bangun cepat!” Hardik Mr X. Kali ini ia hunjamkan pisau
kecil ke punggung Mr Bram sebanyak tiga kali.
“Eeeeekhhh ...
Terdengar, walau cuma pelan, suara kesakitan dari mulut Mr
Bram. Mr X justru ketawa lega.
“Inilah yang kutunggu-tunggu .. Ini baru permulaan Tuan
Bram. Berikutnya saya jamin anda akan shock.” Mr X tertawa lebar.
Jegaaar …
Praaak …
“Aduuuh!” Teriak Mr X kesakitan. Lemparan botol plastik yang
tiba-tiba itu tepat mengenai rudal kesa yanganya.
Masih belum seberapa rasa sakitnya, ketimbang misalnya, yang
dilempar itu benda tajam, bukan tidak mungkin rudal Mr X akan terpotong dua,
sehingga dapat mengganggu nilai kejantanan diri.
Mr X mencari tahu dari manakah lemparan itu berasal. Meski
yang terkena bagian depan, karena tidak terlihat, bisa saja dari samping.
Soalnya, tak sempat tengok kapan botol itu dilempar. Tahu-tahu sudah mengenai
batang penis.
“Keluar …!” Teriak Mr X. Sambil menahan rasa sakit di
sekitar penis, dia mendekati dinding dan lemari serta beberapa pintu, seperti
pintu kamar kecil, kamar buat tamu yang menginap dan gudang tempat penyimpanan
barang.
“Nya!” Mpok Surti sudah tidak sabar ingin menolong
majikannya. Namun keburu dicegah Mrs Bram.
Ngeooong …
Pusy berlari ke dapur. Dia melompat ke lemari gantung tempat
menyimpan peralatan memasak, terma suk bumbu dapur, gula, kopi dan pisau kecil
untuk memotong bawang.
Dengan menggunakan mulut dan tangannya, Pusy berhasil
membuka lemari kecil deret itu. Dia ambil sebuah pisau, lalu dia letakkan pisau
itu di atas meja makan.
Pintu lemari knock down itu ia tutup lagi. Setelah itu,
sambil menggigit pisau, dia berlari cepat menemui Sang Nyonya dan Mpok Surti
yang was-was terhadap keselamatannya.
Ngeooong …
“Pusy?”
Mpok Surti dan Mrs Bram tak sempat mencegah Pusy yang secara
tiba-tiba berlari kencang mendekati Mr Bram. Sementara Mr X masih mencari asal
lemparan botol tadi, Pusy dengan cepat menaruh pisau kecil itu di
genggaman tangan majikannya yang masih dalam
keadaan terikat.
Kletok …
Reeooot …
Paaar …
Pot bunga jatuh ke lantai. Tidak pecah. Tapi bunga yang ada
di dalam pot berserakan. Sempat kesenggol Pusy yang berlari menemui Mrs Bram
dan Mpok Surti.
Mr X yang buru-buru kembali ke ruangan di mana Mr Bram
disiksa, melihat pot bunga jatuh, dia langsu ng bereaksi.
“Mau lari wahai Tuan?”
Mr Bram menggelengkan kepalanya.
“Lari taunmu …” Ejek Mr Bram yang harus bersusah payah duduk
kembali seperti semula.
Kraaak …
Jeguuur …
Ceraaass …
“Nya … Auuuw.” Teriakan tak sengaja dari Mpok Surti didengar
Mr X. Dia menoleh ke belakang. Meng hentikan pukulan dan tendangannya yang
mengarah ke Mr Bram.
Praaak …
Guaaar …
Lemari, kursi dan perabot penghias ruang keluarga disabet
habis. Berserakan semua pakaian, kursi bero da terguling dan pintu lemari
terbuka, bahkan ada yang terlepas dari engselnya setelah membabi buta dipukul Mr X.
Mpok Surti ketakutan. Takut ketahuan Mr X yang hampir
menemukan mereka sembunyi dekat pintu penghubung ruang keluarga dan ruang
depan.
Sssst …
Mrs Bram tetap menyuruhnya diam, kendati Mr X kembali dengan
tangan hampa dan penuh kemara han. Dia bersama Mpok Surti hanya berharap
suaminya yang hanya mengenakan ‘kolor’ itu selamat dan tidak sampai dibunuh,
apalagi dimutilasi.
“Nya, Mpok takut.” Bisik Mpok Surti setelah melihat Mr X
mendekati majikannya. Lalu memasukkan se suatu di selangkangannya.
“Tuhan, selamatkanlah suamiku,” ucap Mrs Bram. Pusy di
dekatnya mengendap-endap. Tanpa sepenge
tahuan Mpok Surti dan Sang Nyonya, dia mendekati tuannya dari sebelah kanan
yang agak gelap.
Huuup …
Dia melompat ke kepala Mr X. Lalu menggigit dan mencakarnya
berkali-kali sampai mengeluarkan darah.
“Kucing sialan!” Umpat Mr X. Pusy ditariknya paksa, lalu
menembaknya dan tepat mengenai perut.
Sebelum bersembunyi, Pusy sempat melukai tangan Mr X,
sehingga berdarah dan mengerang kesakitan.
Saat itulah, Mr Bram berhasil menjepit kaki pelaku dengan
kaki kursi yang ia gerak refleks kan sesaat setelah Pusy bersembunyi.
VI
DENGAN satu kali pukulan mengarah ke dada, setelah berhasil
melepaskan tali yang melilit tangan dan anggota badan lainnya, Mr X terjungkal
dengan kepala membentur dinding.
“Mrs Bram …”
Mrs Bram memeluk haru suaminya yang terluka dengan hanya
mengenakan celana dalam.
“Cepat kesana!” Kata Mr Bram. Dengan kaki yang agak
terpincang, dan dipapah isterinya, lelaki
penyuka sambal ini bergegas menuju pintu depan rumah yang tertutup tapi
tidak dikunci.
Di luar rumah sudah berdatangan aparat kepolisian. Dengan
tangkasnya mereka membawa Mr Bram dan isteri ke mobil, juga Mpok Surti dan Pusy
yang datang kemudian menyusul mereka.
Sementara Mr Bram, isteri, Mpok Surti dan Pusy, dilarikan ke
rumah sakit terdekat untuk dilakukan pe ngobatan, aparat kepolisian berhasil
masuk ke dalam rumah dengan melewati dua pintu. Pintu depan dan pintu belakang.
Mereka bersenjatakan lengkap dan siap melepaskan tembakan bila pelaku nekat
melawan dan mencederai aparat.
Di mana Mr X?
Dia sudah berhasil melarikan diri lewat pintu belakang.
Beberaa detik sebelum aparat memasuki rumah Mr Bram. Dari pintu belakang, dia
melompat kea tap. Dari atap beberapa rumah tetangga Mr Bram, Mr X melompat
turun menuju jalan raya besar.
Pagi belum menjelang. Tengah malam sudah lewat. Jam
menunjukkan pukul 03.00. Lengang sekitar. Me mbuat pelarian Mr X tak menemui
hambatan. Dia bersembunyi di dekat sebuah rumah tinggal yang seki tarnya banyak
ditanami padi dan berbagai tanaman seperti kangkung, bayam, kol an terong.
Dalam keadaan terluka parah di bagian perut dan kaki, Mr X
memasuki sebuah tempat kosong di bela kang rumah. Sambil meringis menahan sakit, dia merebahkan
tubuhnya di lantai. Setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi. Dia tertidur pulas
sampai keesokan harinya.
Sementara suaminya dan Pusy kucing kesayangan dirawat tim
medis, Mrs Bram dan Mpok Surti dengan setia menunggu di ruang tunggu pasien.
Keduanya berharap, baik Mr Bram maupun Pusy, keduanya segera pulih dari kondisi
kritis. Berangsur-angsur sembuh dan tentunya bisa berkumpul bersama lagi
seperti hari-hari yang kemarin.
Saat lelap tertidur di bangku ruang tunggu kerabat pasien,
Mpok Surti tampak terharu melihat keadaan Sang Nyonya. Saking terharunya, dia
hampir menitikkan air mata.
Belum lama jadi pengantin baru, bisiknya dalam hati, sudah
mengalami cobaan sebesar ini. Apa mungkin Mrs Bram mampu mengatasinya sementara
saat memasuki gerbang perkawinan dia boleh jadi tak per nah memikirkan bakal
mengalami nasib tak mengenakkan ini. Diteror, diancam hendak dibunuh.
Mpok Surti kuatir pelakunya, Mr X, belum tertangkap. Bila
ini terjadi maka keselamatan Tuan dan Sang Nyonya masih terancam. Sebab, dalam
satu kesempatan, Mr X bisa saja meneror mereka kembali.
Kekuatiran Mpok Surti menjadi kenyataan setelah menonton
tayangan berita criminal di televisi. Dia me lihat Mr X belum berhasil dibekuk.
Aparat kepolisian masih mencarinya. Diharapkan segera tertangkap dalam waktu
dekat.
“Nya … Nya …!”
Beberapa kali Mpok Surti membangunkan Mrs Bram dari
tidurnya. Ketika terbangun, sinar matahari sudah masuk menembus jendela kamar
rawat pasien.
“Anu … Nya.”
Mpok Surti tak tega melihat keadaan Sang Nyonya. Ketakutan
terus. Makanya dia berani berterus terang ikhwal Mr X.
“Mpok …!”
Mpok Surti diam. Lalu dia meneteskan air matanya. Memeluk
haru Sang Nyonya.
“Mpok takut Nya,” ucapnya sambil sesunggukan. Membuat
beberapa perawat bersimpati kepadanya.
“Takut kenapa Mpok?” Mrs Bram mengusap-usap rambutnya. Dia
heran bercampur haru karena tak biasanya Mpok Surti bersikap seperti itu.
Mpok Surti baru berani bicara setelah Mrs membujuknya berkali-kali. Dan tentu saja, dari pengakuan
nya orang kepercayaannya itu, Sang Nyonya kaget.
Namun rasa kaget dan takut itu dia simpan di dalam hati
ketika melihat Mpok Surti belum juga reda dari tangis harunya.
“Sudah Mpok. Sabar ya,” kata Mrs Bram. Keduanya, atas saran
perawat yang khusus merawat Mr Bram, dipersilakan memasuki kamar pasien. Kamar
itu tidak terlalu luas. Tapi mampi menampung tiga sampai empat pasien rawat
inap.
Di ruangan berhawa dingin itu, selain Mr Bram, juga
disebelahnya dirawat Pusy. Terbaring lemah dan mendapat perawatan intensif dari
tim medis.
“Mas … Mas Bram,” bisik isterinya yang sedari tadi berharap
suami tercinta segera siuman.
Begitu juga dengan Mpk Surti. Wanita paruh baya ini tak
henti-hentinya melepas senyum melihat betapa bersih dan mengkilatnya bulu Pusy.
Ingin sekali rasanya ia membelai-belai bulu halus putih kecoklat-coklatan
iu. Namun itu tak ia lakukan karena kuatir Pusy terpaksa bangun. Padahal yang
dia harapkan kucing kesayangan sang majikan itu bangun dengan sendirinya dan
bisa bercengkrama lagi.
“Mama!”
Lemah sekali suara itu. Nyaris tak terdengar. Andai saja
banyak anggota keluarga pasien yang membe zuk, tak bakalan terdengar oleh Mrs
Bram.
“Mas Bram …”
Tak kuasa ia membalas tatapan sayu mata suami tercinta. Dia
hanya bisa tersenyum bahagia karena suami terkasih telah sadar kembali kini.
“Pusy mana Ma?” Tanya Sang Suami setelah Mrs Bram
menggenggam erat tangannya.
Tak ada yang salah memang, saat isteri sudah di depan mata,
suami tercinta malah tanya Pusy segala. Hewan piaraan yang jinak dan baik hati
itu. Ingin rasanya mendekat, tapi karena belum cukup kuat, Mr Bram Pusy segera
sembuh.
“Kalau dia sembuh, mama ka nada teman bermain. Enggak
bakalan sedih melulu melihat papa seperti ini keadaannya. Betul kan Ma?”
“Ah papa bisa aja,” ucap Mrs Bram tersipu malu. Dia lepaskan
genggamannya. Jari jemari lentik itu pun dengan lembutnya berpindah ke bibir
sang suami. Sengaja membiarkannya agar sang isteri merasa lebih nyaman dan tak
kuatir lagi dengan keadaannya saat ini.
“Mama berdoa biar papa cepat sembuh gitu loh …”
Mrs Bram cuma diam. Lalu dia kecup hangat kedua belah pipi
suaminya. Dia berusaha tetap gembira di hadapan suaminya. Meski dalam hatinya
sedang galau dan takut setelah pelaku terror di kediamannya belum tertangkap.
Mpok Surti, bosan menunggu Pusy belum juga siuman, akhirnya
mendekati tepi ranjang Mr Bram di sebelah kiri, mendampingi Sang Nyonya
menemani suami tercinta.
Tak lama dia berdiri disitu. Ingin dia keluar ruangan
sebentar. Melihat suasana lain, sambil sesekali memikirkan keselamatan
majikannya.
Mpok Surti memilih duduk di bangku yang disediakan pihak
rumah sakit. Bangku ini khusus
diperuntuk kan bagi anggota keluarga pasien enggak masuk ruangan, atau
beristirahat sejenak setelah jenuh menu nggu pasien dirawat.
Pikiran Mpok Surti melayang jauh menembus awan, menerobos
malam dan luasnya lautan. Dia seolah sedang berjalan sambil berteriak lantang … ‘Selamatkan majikanku …
Selamatkan majikanku … Selamat kan majikanku … Selamatkan majikanku.”
Berlari sambil berteriak nyaring ke sana kemari. Sayang,
teriakan itu tak didengar orang. Karena mema ng tidak ada orang di sana.
Lho, kenapa?
Karena Mpok Surti hanya berada di kamarnya. Di depan cermin
sebagaimana setiap kali ia berhias sebe lum melakukan aktivitasnya sehari-hari
di kediaman Mr Bram.
“Mpok Surti …”
Mpok Surti terhenyak dari lamunannya. Dia berdiri dan
mempersilakan Mrs Bram duduk di sebelahnya. Keduanya sama-sama melepas senyum,
membalas senyuman seorang perawat yang dengan ramahnya lewat di depan mereka
berdua.
“Dingin ya Mpok?”
“Iya Nya. Tapi disini tidak,” aku Mpok Surti.
“Saya dingin lho Mpok,” kata Mrs Bram sembari menepuk lembut
Mpok Surti yang tampak senang bera da di dekat majikannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar