Novelet
Senja di Kaki Candi
Oleh Mas Amin
I
SENJA di kaki candi …
Ketika sedang asyik duduk sendiri menyepi sambil membaca buku fiksi di kaki candi, Wati
dikejutkan oleh tepukan pundak yang lembut dari seorang wanita berparas ayu dan
keibuan.
“Hei Wati kan …?” Sapa Esti, wanita tadi. Dia melompat ke
bangku panjang, dan tanpa basa basi me meluk Wati yang masih bengong sendiri.
“Esti. Temanmu kuliah dulu. Masa lupa,” kata Esti,
melepaskan pelukannya, lalu …
“Esti yang …” Wati masih mengingat-ingat nama itu.
“Yang suka jahil itu, Wati.”
Keduanya pun berpelukan kembali. Pelukan kedua ini atas
inisiatif Wati. Sahabat lama yang terpisah. Sa tu kuliah dan satu jurusan
dulunya. Keduanya mengambil jurusan tanah.
Sesaat saling melepas rindu dengan ketawa. Cubitan pipi dan
tangan, saling menggelitik dan
tepuk-tepuk pundak silih berganti.
Pangunjung di kaki candi ikut senang melihat keduanya. Sudah ayu dan cantik, ulah mereka
menambah segar dan sejuk suasana di sekitar kaki candi.
“Maaf Ti. Aku dulu tak sempat mengundangmu,” jelas Esti menjawab pertanyaan
Wati ikhwal statusnya kini yang sudah jadi isteri orang.
“Ya enggak apa-apalah,” jawab Wati, memberi teman
sebangkunya itu sebotol air mineral. Dua botol air dingin ia selalu bawa kemana
pergi. Satu diminum, satunya lagi untuk tambahan sekiranya cuaca terik ya ng
mengharuskan minum air putih lebih banyak dari biasanya.
“Anakku baru dua Wati,” aku Esti sambil ketawa menahan geli.
“Masih mau nambah lagi kan?”
Ha ha ha ha …
“Enggaklah dalam waktu dekat. Dua aja sudah repot banget
ngurusnya Ti. “Esti membuka tutup botol
air mineral. Ia tuangkan air itu ke gelas kecil kepunyaan Wati.
Diminumnya penuh dahaga. Sejak pagi dia memang belum minum karena sibuk
berkeliling kota dengan suami tercinta.
“Suamimu mana Esti? Tak tengok aku …”
“Tuh …!” Rumi, sang suami melambaikan tangan pada keduanya
dari dalam mobil sedan yang parkir tak jauh dari pintu masuk kaki candi.
“ ‘Ntar ya kenalannya. Sekarang gue mau senang-senang dulu
sama kamu Wati. Mumpung ketemuan dan kami masih di sini …”
Esti ikut suaminya mendatangi kota tempat dia menimba ilmu
dulunya ini untuk menghadiri perkawinan Evi, adik Rumi yang paling bungsu.
“Sekalian jalan-jalanlah, termasuk ke kaki candi ini,”
terang Esti.
Wati ikut senang mendengarnya. Walau dia sendiri masih
senang hidup melayang hingga kini.
“Apaaaaa?!” Esti tak percaya Wati belum berumah tangga.
Karena setahu dia, Wati banyak teman co
wok saat masih kuliah dulu. Tak heran jika teman cewek satu jurusan seringkali
ngeledeki dengan ka limat gurauan
‘Jangan banyak pilih, ambil saja satu, yang lain berikan kepada kami.’
“Dengan Nazar enggak jadi, Ti?”
Wati mengangguk lemah sembari tetap melepas senyum manisnya
yang sering ditunggu teman-teman cowoknya satu kampus satu jurusan.
“Kenapa? Kamu putus?”
“Belum jodoh aja kali, Esti,” jawab Wati. Dia buka kotak
roti yang ia beli di supermarket siang tadi.
Sambil melahap roti kacang hijau, keduanya pun beralih
cerita. Jika tadi menyangkut sepenggal kehi dupan pribadi, kini masuk ke soal
pekerjaan.
Wati mengaku senang tinggal di kota yang dia diami saat ini.
Udaranya sejuk, jauh dari polusi. Juga ba nyak yang bisa dilihat dan dinikmati
di sini. Selain kawasan kaki candi dan pantai, juga wisata budaya hingga ‘pesta
rakyat’ yang dihelat sederhana setiap malam.
“Tapi jangan sampai kelupaan lho, Wati. Umur kita kan sudah
kepala tiga. ‘Ntar lagi sudah ubanan pula,” seloroh Esti yang tak
henti-hentinya melepas senyum dan tawa, seakan semua rindu dia tumpahkan di
pertemuan kali pertama ini.
Aku, terang Wati, sesuai latar pendidikan terakhir, mengajar
di Faperta tempat menimba ilmu S1. Sudah bergelar S2, tapi S3 belum ada
rencana. Berteman dengan sesama dosen yang rata-rata perempuan, ke banyakan
sudah menikah dan punya momongan.
Wati tidak lagi berteman denga banyak cowok. Hal ini dia
lakoni karena di kampus tempat dia mengajar lebih banyak dosen wanita ketimbang
dosen pria.
“Aku disini tinggal bersama kedua orangtuaku. Masih ingat
kan kamu denga wajah mereka, Ti?”
“Masihlah. Masa lupa. ‘Ntar ajak gue ya singgah ke rumah
elu. Awas kalau enggak. Soalnya, aku kangen ju ga sama mereka. Sudah seperti
orangtuaku sendiri. Kamu tahu kan betapa
seringnya aku dulu main ke rumahmu saat masih kuliah dulu …”
Wati cuma tersenyum, lalu menuangkan air mineral ke gelas
Esti yang sudah kosong.
“Aku sempat kaget barusan.” Esti buru-buru minum air putih
itu.
“Kaget kenapa?” Wati ikut minum pula.
“Kamu betah amat sih sama kedua orang tuamu.”
“Ya, mereka kan orang tuaku,” kata Wati separo bercanda.
Keduanya pun tertawa lepas.
Tanpa terasa, senja kian merayap. Sebentar lagi mentari
tenggelam.
Malam pun tiba …
II
NING .. Nooooong …
Niiiiiing … Nong …
Dengan langkah malas, Wati beranjak dari tempat tidurnya.
Keluar ia dari kamarnya. Menuruni anak tangga, menuju ke pintu depan rumah.
Kletek …
Teek ..
Cekleeek …
“Baaaa …!”
Esti ketawa lebar, langsung cium hangat kedua belah pipi
Wati yang tampak kaget melihat kedatangan nya yang tiba-tiba malam ini. Padahal
sesuai janji dan kesepakatan kemarin, kalau mau datang, Wati yang mengundang. Paling tidak telepon dulu, biar semuanya
serba siap dalam penyambutan.
“Maaf ya Wati,” bisik Esti. Dia memperkenalkan Rumi,
suaminya beserta kedua anaknya yang sudah menginjak usia belasan tahun, kini
duduk di bangku sekolah menengah atas.
“Rumah Tante Wati kok sepi,” komentar Wina, tanpa sungkan
duduk di sofa ruang tamu, lalu rebahan berselimutkan bantal tebal.
“Wina. Malu tuh sama Tante Wati,” tegur Sang Mama. Wini sang
adik menarik tangan kakaknya agar kembali duduk yang sopan di sofa.
“Udaah. Enggak apa-apa. Capek barangkali, Ti.” Wati
mendekati si sulung. Mengajaknya tepuk silang telapak tangan. Malas awalnya,
mau akhirnya.
Sejenak Esti mengarahkan pandangannya ke sekitar rumah.
“Udah banyak yang berubah ya Wati,” kata Esti, yang sempat
mnceritakan kepada Rumi betapa dekat nya ia dulu dengan keluarga Wati.
“Tante ke belakang dulu ya Wina, Wini, Mas Rumi.” Wati
beranjak pergi, namun baru beberapa langkah kaki menapaki lantai serba putih,
sudah dipanggil Wina. Dia ingin menemani sahabat karib mamanya itu ke belakang.
Mau ngapain Wati?
“Gimana Mas?”
“Sejuk sekali,” aku Rumi terus terang. Dia tampak senang
berlama-lama di kediaman orang tua Wati. Se lain dihiasi aneka bunga
berwarna-warni dan lukisan dinding dengan latar belakang pemandangan area
persawahan, warna cat dindingnya tidak
mencolok dan menyejukkan mata. Perpaduan semua warna mulai dari putih, pink,
kuning susu, biru muda, cokelat dan hijau.
“Ini rumah kedua bagi saya Mas,” kata Esti. Letak rumah
nenek Esti tak jauh dari kediaman Pak Refli dan Bu Juwita. Kini rumah itu sudah
tidak ada lagi. Sudah dijual setelah neneknya meninggal dunia sesaat se telah
Esti diwisuda.
“Pasti mama suka nginap di sini kan?”
“Iya dong Mas.”
“Enggak takut apa?”
“Enggaklah …”
“Hebat kamu Ma. Aku salut sama kamu …” Puji Mas Rumi.
Esti dan Wati, keduanya sangat dekat. Namun setelah menamatkan studi S1, Esti
kembali ke kota tempat tinggal orangtuanya. Sejak itulah kedua terputus kontak
sama sekali.
“Sombong kamu Ma,” bisik Mas Rumi. “Mama tak boleh begitulah
sama Wati dan kedua orang tuanya. Mereka sudah baik sama mama. Masa mama tak
bisa membalas kebaikan mereka, dengan menelepon nya sesekali …”
Esti tak sempat mengomentari
ucapan suaminya barusan, karena secara bersamaan Pak Refli dan Ny Juwita
Refli sudah keluar dari kamarnya, ditemani Wina, menemui keduanya di ruang
tamu.
“Apa kabar… apa kabar,” sapa Pak Refli pada Rumi. Berpelukan
hangat, berjabat tangan erat. Sedangkan Esti menangis terharu dalam pelukan
ibunda Wati. Walau sudah berusia sepuh, masih sehat, tetap ingat sama Esti dan
kuat berjalan kaki.
“Sebaiknya kita ke ruang tengah saja. Enak ngobrol disana,”
ajak Pak Refli. Di ruang tengah bisa duduk lesehan sambil menonton acara
televisi.
Berlapiskan karpet permadani dengan bantal guling yang
besar, Wina dan Wini segera rebahan dan si buk bermain games di hape android
yang mereka bawa.
Bersama Esti, Wati menyiapkan makanan sekadarnya berupa bolu
cake yang baru dibikin siang tadi, pem pek dan sedikit bubur kacang hijau. Bersama
pempek, kudapan terakhir ini dipanaskan terlebih dulu sebelum dihidangkan agar
lebih nikmat saat disantap.
“Horeeee … Ada pempek ..!” Teriak Wina dan Wini, penggemar
berat pempek. Keduanya bergegas mem bantu membawakan tapsi berisi pempek adaan
dan pistel berikut cukanya. Pempek itu baru saja digo reng Esti dan Wati.
“Sedaaap!” Ucap Wina, mengusap-usap kerongkongannya.
Sedangkan sang adik masih malu-malu mengambil pempek adaan karena belum ada
yang memulai mengudap.
Acara makan bersama ala kadarnya ini baru dimulai setelah
semua hidangan lengkap tersaji. Masih be
rasap dan serba panas. Bubur panas, pempek
juga panas kecuali bolu dan kerupuk dalam kaleng seng berkaca.
“Ayo kita mulai …!” Pak Refli memulai makan bersama ini
dengan mengambil pempek adaan diselingi
dengan minum air putih.
“Seperti buka puasa ya Pak,” kata Esti yang serasa kembali
muda saat masih kuliah dulu. Santap malam seperti ini sering ia jalani dan
nikmati jika menginap di rumah Wati untuk belajar bersama menyambut datangnya
semesteran.
Teng … teng .. teng …
Jam dinding berdentang sembilan kali. Semua kudapan tak
bersisa lagi. Yang tersisa kini cuma
gelak ta wa, sharing masa lalu yang lucu, kesan-kesan yang tak terlupakan dan
berbagi pengalaman hidup yang tengah dijalani saat ini.
III
RIIIIIING …
Riiiiing …
Kretek …
“Haloooo …”
“Selamat pagi. Saya Pak Refli, ayahnya Wati. Ibu Esti ada
enggak ya. Saya mau bicara sebentar …”
“Ada . Tunggu sebentar ya Pak,” ucap Evi bergegas ke teras
menemui kakak iparnya yang sedang mera pikan letak kursi pelaminan bersama beberapa wanita, anggota sanak keluarga
terdekat.
Esti yang diberitahu ada telepon dari Pak Refli, menuruni
anak tangga pelaminan. Dia mendekati sua minya yang tengah menelepon keluarga
calon adik iparnya.
Kendati masih pagi, kediaman orang tua Rumi sudah ramai
dikunjungi kerabat terdekat dan warga se kitar . Hal ini dikarenakan esok
harinya, Minggu, akan dilangsungkan aqad nikah
sekaligus walimah pa sangan calon pengantin Evi dan Ruli.
“Betul sekali Pak. Tapi Watinya enggak cerita lebih tentang
itu,” jelas Esti ketika ditanya Pak Refli ikhwal kandasnya hubungan asmara antara Nazar dan Wati.
“Bapak sebenarnya manut sajalah Nak Esti. Nurut apa maunya
Wati. Terserah dia pilih calon suami yang mana. Asalkan seiman …”
“Sama dong Pak dengan saya. Kemarin-kemarin itu sudah saya
sindir Wati. Jangan lupo nikah lho. Soal nya, nikah itu penyambung keturunan
dan sunnah Nabi. Tidak ada alasan untuk tidak menikah. Cuma Wati kayaknya
menutup diri. Esti jadi serba enggak enak Pak. Baru pertama ketemuan, maunya
gembira an gitu dong Pak …”
Ha ha ha ha …
“Bapak paham itu. Bapak tahu kalian sudah lama menjalani
pertemanan. Sangat akrab. Berteman baik. Makanya bapak minta tolong sama kamu
Esti. Cobalah bujuk si Watinya agar mau menikah,” pinta Pak Refli
seraya melihat keluar jendela tengah rumah. Wati yang mengenakan stelan
jas warna biru muda keluar dari garasi dengan mobil kesayangannya, Fredi.
“Insya Allah Pak. Nanti saya ingin ketemuan lagi sama dia.
Oh ya, ngomong-ngomong Watinya ada di rumah Pak?”
“Baru aja berangkat mengajar,” kata Pak Refli. Dia sehat
walafiat, Wati jarang sakit, alhamdulillah.
Kepada Pak Refli, Esti mengundangnya untuk hadir pada acara
perkawinan adik iparnya esok pagi, seka ligus berkenalan dengan kedua orang tua suaminya dan kerabat
terdekat.
Perkawinan Evi dan Ruli dihelat sangat sederhana. Bukan di
gedung mewah, tapi mengambil tempat di dalam dan luar rumah.
Aqad nikah dilangsungkan pagi hari sekitar pukul tujuh pagi
di ruang tengah kediaman Pak Samsir, ayah nya Rumi. Sedangkan walimah dihelat
di pelataran depan rumah. Karena cukup luas, dipasanglah tenda dengan lima
ratus kursi undangan.
Ada pelaminan pengantin. Acara diawali dengan tarian selamat
datang, tarian penghibur tamu unda ngan dan musik pengiring dari group band serta
artis lokal. Semua kursi terisi penuh. Undangan yang datang berasal dari semua
lapisan dan usia.
Mulai dari anak-anak yang masih menetek dengan ibunya,
remaja hingga lansia yang sudah bertongkat dan harus dipapah kalau berjalan.
Tampak di antara yang hadir, Wati dan kedua orangtuanya.
Mengenakan kebaya paduan warna kuning dan cokelat muda dengan kerudung putih
dibalut warna keemasan, Wati tampil lebih anggun.
Kehadirannya menjadi pusat perhatian banyak orang. Mereka banyak yang bertanya, dimana pacar dan
suami tercinta. Apakah masih single, kenapa belum menikah, dan tetek bengek
lainnya.
Esti tampak senang
melihat Wati ceria. Berbincang-bincang dengan banyak orang, lalu menerima
jabat tangan dan perkenalan dengan
beberapa lelaki yang penasaran dengannya.
Wati memang fokus mengajar. Dia jarang ke luar rumah kecuali
ada hal penting yang harus dia kerjakan. Tidak urusan kerja, sekadar
refreshing, menyegarkan otak dan raga, menghilangkan rasa jenuh.
Kendati dia tahu banyak pria yang coba mendekatinya, Esti
tetap tidak bergeming. Ia tidak sombong, te tap ramah kepada siapa saja, walau
sesungguhnya dia tak tertarik membina hubungan lebih jauh lagi.
Karena itulah dia membatasi diri, sehingga dia tak begitu
banyak berteman dengan lelaki. Ia lebih suka dengan sesamanya. Kaum hawa. Bisa
lebih memahami dan tak sungkan untuk saling sharing dan me numpahkan segala
uneg-uneg.
Apalagi teman-teman wanitanya tahu diri. Mereka tak pernah
menyinggung perasaan, apalagi mende sak Wati agar secepatnya berumah tangga.
Karena mereka tahu hubungan pertemanan tak boleh terga nggu hanya gara-gara hal
sepele. Jauh lebih penting melanggengkan hubungan yang sudah ada lewat kegiatan
positif.
Saling menunjang keberlangsungan karier, membantu menyelesaikan
masalah yang mendera, dan mem beri
manfaat satu sama lain demi lancarnya roda kehidupan yang terasa kian berat
dijalani sehari-hari.
IV
DI News Café …
“Ayolah Wati … Pertimbangkanlah usulanku tadi itu,” kata
Esti pada Wati ketika keduanya menyeruput kopi dan roti bakar di News Café,
siang menjelang sore.
Wati diam.
Terdengar alunan musik lembut. Menghiasi ruangan News Café
yang teduh dengan banyaknya pengun jung berpasang-pasangan singgah di sana.
Tak ada yang sendirian …
“Kamu lihat kan Wati. Berpasangan semuanya,” ucap Esti
mengarahkan pandangan matanya ke seputar ruangan bagian tengah. Ada dua puluh lima tempat duduk, sudah terisi
penuh. Uniknya, berpasang-pa sangan, baik sesama lelaki, perempuan, atau
laki-laki dan perempuan.
“Wati. Tatap dong wajahku!” Pinta Esti sungguh-sungguh.
“Males ah. Gitu-gitu aja. Tetap cantik seperti dulu …”
Eheeem …
“Maksudku .. Ada enggak yang berubah dari aku sekarang?”
“Ada …”
“Apa coba?”
“Dulu kami masih single. Sekarang sudah jadi ibu rumah
tangga dan beranak dua …”
Ha ha ha ha …
Pengunjung café lain ikut tertawa mendengar komentar Wati
barusan. Tidak semuanya. Hanya mereka yang duduk dekat Esti dan Wati saja.
“Maksudku … Setelah aku nikah dan kini punya anak, kan
hampir kagak ada.”
“Tergantunglah …”
“Loh pakai tergantung-tergantung segala. Emangnya pakaian
apa gue Wati. Digantun-gantung …”
“Maksudku .. Tergantung orang yang melihatnya. Tapi terus terang aku melihatnya hampir
enggak ada kecuali agak gemukan sedikit. Terus rambut dibiarkan terurai, terus
pakai kacamata …”
“Nah itu dia … “Esti mencolek hidung Wati. Meski geli, Wati
membiarkannya.
“Artinya, dulu dan sekarang aku tetaplah Esti. Padahal aku
sudah beranak dua sekarang. Betul kagak?”
“Betul …”
“Coba kamu …”
”Cobain apa?”
“Coba tatap wajahku. Diam dan biarkan aku yang menatapmu.
Oke?”
“Aku minum dulu ah. Boleh kan?”
“Boleh … Ayo! Tos dululah …”
Mengalun lembut tembang ‘Wherever You Are’ nya One Ok Rock …
“I’am telling you
I Softly whisper
Tonight, tonight
You are my angle
Ai shiteru you
Futari wa hitotsu ni
Toninght, tonight
I just to say?
Wherever you are,
I’ll always make you smile
Wherever you are,
I’am always by your side
Whatever you say,
Kimi wo omou kimochi
I promise you “forever” right now
I don’t need a reason
I just want you, baby
Alright, alright
Day after day
Kono saki nagai koto zutto
Douka konna boku to zutto
Shinu made
Story with me
We carry on?
Wherever you are,
I’ll always make you
smile
Wherever you are,
I’am always by your side
Whatever you say,
Kimi wo omou kimochi
I promise you “forever”
right now
Wherever you
are,
I’ll never
make you cry
Wherever you
are,
Kimo wo omou kimochi
I promise you
“forever” right now
Bokura ga deatta hi wa
Futari ni totte ichiban
Me no
kinen subeki
Hidane
Kokoro kora aiseru hito
Kokoro kora itoshi hito
Kono boku ni ai no mannaka niwa
Itsumo kimi ga iru kara
Wherever you are,
I’ll ways make you smile
Wherever you are,
I’am always by your side
Whatever
you say,
Kimi wo omou kimochi
Wherever you are
Wherever you
are
Wherever you are …”
V
“WATI … Mau enggak?” Esti memperlihatkan sebuah foto
lelaki. Cakep sih enggak. Cuma
lumayanlah. Tidak mengecewakan.
“Adik Lu?”
“”Kandung sih bukan,” jawab Esti, memasukkan kembali itu
foto ke dompet kulitnya.
“Jadi mau jodohin ke gua gitu …?”
“Enggak juga sih. Masa udah segede ini masih mau dijodohin
segala. Enggak zamannya lagi lah. Maksudku … Lu mau kagak kalau kapan-kapan dia
bertamu ke rumahmu …?”
“Mau ngapain?”
“Ya ilah. Mau
kenalanlah. Masa mau bertamu aja.”
“Terus …”
“Ya siapa tahu kalian berdua bisa cocokan gitu …”
“Kamu yakin Es?” Agak ragu Wati. Soalnya, si cowok belum
tahu sifat dia sebenarnya.
“Ya kita coba dululah Wati. Siapa tahu kalian cocokan. Aku
ikut senang lho kalau kalian bisa jadian,” kata Esti meminta pelayan café
menambah segelas air kopi susu manis dan roti bakar isi kacang hijau.
Namanya Abu Bakar. Tengah dari empat bersaudara. Sudah
kerja, tapi bukan pegawai negeri. Cuma
pe gawai swasta. Meski swasta, gajinya lumayan besar lho. Bayangin ajalah,
masih bujang, sudah kebeli ru mah, tanah dan mobil juga.
Orangnya rada pendiam. Sampai usia kepala tiga lebih
sedikit, belum juga punya pacar. Bukan enggak suka pacaran. Enggak sempat aja.
Soalnya, ini cowok hampir tak punya hari libur.
Kalaupun ada hari libur, pasti ada-ada saja yang dia lakukan.
Enggak jalan-jalan sama ortu, dan saudara, mancing sama teman-teman sekerja.
Pokoknya tak ada waktu untuk melamun.
Tak heran manakala si Abu Bakar ini sering diledeki
teman-teman sekerjanya sebagai lelaki
yang anti ce wek. Anehnya, dia enggak pernah marah, apalagi tersinggung berat.
Karena memang benar. Dia hampir tak ada waktu untuk berduaan, atau sekadar ngobrol
berdua sama cewek.
Selain dengan adiknya, itupun sebatas bercanda dan kangenan
adik kakak. Selebihnya punya kesibukan masing-masing. Yang satu sekolah,
satunya lagi cari uang dengan bekerja seharian.
Meski tak begitu dekat dengan cewek, Abu Bakar tetap ramah.
Jika lagi ketemu cewek di halte misalnya, dia tegur si cewek. Teman sekantor
yang punya urusan sama dia, dia ladeni. Akrablah. Teman-temannya pada bengong,
sama cewek begitu akrabnya, walaupun baru kali pertama kenalan.
Kepada ibunya dia hormat, patuh dan sayang. Saudaranya yang
laki-laki dia sayang. Termasuk adik pe rempuannya. Sering jalan berdua. Tidak
ke mal, ya nonton film di bioskop.
Ketika ditanya kapan marriage, dia tak sungkan menjawabnya.
‘Tunggu tanggal mainnya.’ Kata-kata inilah yang selalu dia ulang saat ditanya
sang adik dan ibunda tercinta.
Ketika ditanya suka enggak sama cewek, Abu Bakar bilang,
‘suka’. Kalau enggak suka bukan laki-laki namanya. Sebab, laki-laki itu memang
harus ditemani wanita. Enggak boleh sendiri.
Mau bukti?
Silakan tanya sama sang bunda, apa pernah menyakiti hati
beliau. Juga silakan tanya pada adik perem puan satu-satunya, apakah pernah cuekin
dia.
Apa jawab mereka?
Pasti sama yang dirasakan Abu Bakar. Mereka pasti menjawab
senang dengan anak dan kakak mereka yang tidak banyak ulah, apalagi sampai
menyusahkan orangtua.
Kepada teman-teman adiknya yang berjenis kelamin wanita, Abu
Bakar selalu bilang jangan sungkan ma in ke rumah. Anggap sajalah rumah sendiri.
Mau datang sendiri boleh, ngajak teman-teman monggo. Mau nginap tak masalah.
“Itulah sedikit profilnya Wati. Aku yakin kamu pasti enggak
bakalan nyesal dan kecewa kalau dapetin dia,” kata Esti, berharap Wati tak
banyak pertimbangan lagi.
Wati mengutak-atik hape androidnya. Dia mencari foto dan
biofilenya.
“Wati …!”
“Coba kau tengok ini dulu …” Esti melihat foto Wati dan
membaca biofilenya.
“Cek .. ceek … Siplah.” Kata Esti. Atas izin Wati, foto dan
biofile itu ia transfer ke HP miliknya. Untuk ke mudian, bila ketemuan dengan
Abu Bakar sepulangnya dari menghadiri pernikahan Evi dan Ruli, dia akan print
out dan berikan langsung kepada yang bersangkutan.
“Mudah-mudahan bisa secepatnya,” harap Esti penuh semangat
dan percaya diri.
“Enggak via email aja Es?”
“Jangan ah. Lebih bagus ketemu langsung sama dianya …”
Bersambung …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar