Novelet
Senja di Kaki Candi
(2)
Oleh Mas Amin
VI
“ASSALAMUALAIKUM … Selamat sore Pak.” Ucap Abu Bakar, setelah turun dari taksi,
mendekati pintu pagar kediaman Pak Refli yang sore itu tengah merapikan aneka
bunga di halaman rumah.
“Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh. Sore Nak. Ada
apa ya?”
“Kenalkan dulu Pak. Nama saya Abu Bakar.”
“Pak Refli.”
Mobil taksi melaju …
Kletek …
Pintu pagar dibuka.
“Ini Pak. Numpang bertanya. Apa betul ini rumahnya ibu
Wati?” Abu Bakar mencium tangan Pak Refli, setelah diberitahu yang dia singgahi
saat ini adalah kediaman Wati.
“Silakan Nak. Masuk dulu. Sambil menunggu Bu Wati pulang
mengajar, kita ngobrol dululah ..” Kata Pak Refli menyilakan Abu Bakar masuk ke
dalam rumah.
“Tak usah Pak. Disini saja …”
“Baiklah kalau begitu … Tunggu sebentar ya.”
“Iya Pak.”
Sampai di ruang tengah, Pak Refli menelepon Esti. Menanyakan
apa betul Abu Bakar sengaja datang ke rumahnya sore hari ini, berikut ciri-ciri
yang bersangkutan.
Mendapat jawaban Esti, Pak Refli lega. Dia bergegas menemui
isterinya di kamar yang lagi menunaikan salat Ashar.
Kepada isterinya, Pak Refli mengatakan mereka kedatangan
tamu dari jauh. Abu Bakar, bakal calon me nantu. Juwita tampak senang.
Sepeninggal suaminya menemui Abu Bakar di teras, dia menyiapkan minuman dan kue
ala kadarnya.
“Inilah kediaman bapak. Maaf Nak Abu Bakar. Tempatnya kecil
..”
“Tak mengapa Pak. Memang kalau orangnya banyak terasa kecil.
Sempit. Coba kalau sendiri atau berdua saja, pasti terasa luas …”
Ha ha ha ha …
“Betul kata Nak Abu Bakar barusan. Oh ya, kamu di sini
nginap dimana?”
“Di rumahnya teman Pak.”
“Jauhkah dari sini?”
“Lumayan Pak kalau jalan kaki.”
Ha ha ha ha …
“Tadinya mau minta ditemani. Cuma karena si teman ada
kesibukan yang tak bisa ditinggalkan, saya co ba sendiri. Supaya gampang, kata
si teman, menumpang taksi. Kasih alamat
dulu. Kalau katanya oke dan siap antar ke alamat, baru naik dan siap berangkat
…”
Ha ha ha ha …
“Eeee … rupanya benar juga saran si teman Pak. Saya akhirnya
tiba juga di kediaman Wati. Sepertinya saya tak asing lagi di kota ini,” terang
Abu Bakar.
Piiiin …
Piiiiin …
“Nah itu dia Watinya. Pulang mengajar. Tunggu ya Nak Abu
Bakar …”
“Iya Pak.”
Pak Refli, sesaat setelah membukakan pintu pagar,
membisikkan sesuatu di telinga Wati, yang tampak percaya Abu Bakar sudah
menunggunya di teras rumah sedari tadi.
“Cepat. Temui dia ya Nak …!”
“Baik Pak.”
Abu Bakar buru-buru minum teh hangat setelah ditawati
ibundanya Wati. Sudah lama ia tidak minum teh. Makanya, perasaannya lebih
tenang setelah minum teh bikinan wanita berkulit hitam manis itu.
Dia tak sungkan menerima jabat perkenalan dari Wati.
Walaupun baru kali pertama bertemu dan kena lan, tak ada rasa canggung karena
merasa yakin kedatangannya sore ini bermaksud baik.
“Masuk aja Mas,” ajak Wati. Di luar memang enak, apalagi
sore hari. Tapi banyak nyamuknya. Mending di dalam, tak ada nyamuk, lebih aman
dan nyaman. Bisa ngobrol panjang lebar.
Ketika berada di kamarnya, wati ketawa geli. Membuat ibunya yang menyusul dari belakang
jadi tak mengerti.
“Wati …?”
“Ibu tengok tidak celananya?”
“Tidak,” jawab ibunya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Ibu tengok kakinya enggak?”
“Enggak sempat.”
“Bajunya?”
“Apalagi Nak. Ibu enggak sempat.”
“Ya udah …”
Penasaran, Sang Bunda menanyakan hal barusan, seusai Wati
mandi sore. Mulanya Wati tak mau, kuatir Sang Ibu jadi salah mengerti. Tapi
akhirnya mau juga berbagi cerita dengan syarat hanya mereka berdua saja yang
tahu.
Ada yang aneh?
“Kakinya itu Bu. Kok pakai sandal jepit. Celananya kecil dan
sempit lagi bagian bawahnya. Lalu bajunya kebalik Bu. Bagian dalam di luar,
yang di luar ke bagian dalam …”
He he he he …
“Bu?”
Ha ha ha ha …
“Ibu?”
Hi hi hi hi …
Sang Ibu sampai sakit perut mendengarnya. Dia tak
membayangkan, apa jadinya jika kejadian barusan justru terjadi di tengah orang
ramai. Pesta perkawinan misalnya.
“Apa enggak tahu dia ya?”
Ssssst …
Pak Refli membuka pintu kamar.
“Wati …!”
“Siap Yah. Bu, temeni Wati ya ke ruang tengah sekarang …”
“Ai ai son …”
VII
“BU … Bolehkah saya membaca pantun?” Tanya Abu Bakar. Dia
merasa dengan membaca pantun isi hatinya mudah dicerna oleh Wati dan ibundanya.
Tak ada yang disembunyikan, apalagi dan dipura-purakan.
“Boleh … Silakan Nak Abu Bakar,” jawab Bu Juwita setelah
mendapat anggukan kepala dari Wati.
“Kalau mau dijawab, boleh Bu, dik Wati. Tapi jika tidak,
didiamkan saja misalnya, taka pa-apa,” kata Abu Bakar percaya diri.
Bismillahirrohmanirrohim
Waktu kecil bermain ekar
Sudah besar bermain tali
Nama saya Abu Bakar
Mohon saya perkenalkan diri …
“Tadi udah kan Mas,” jawab Wati. Sang Ibu yang duduk di
dekatnya hanya tersenyum geli.
Lanjut …
Saya suka makan roti
Dimakan berdua sama si dia
Selamat sore adikku Wati
Kedatangan saya tolong diterima …
“Tadi udah juga kan Mas …”
Lanjut …
Makan siang di Prambanan
Jangan lupa memakai topi
Ayo adik kita jalan-jalan
Mas ingin utarakan isi hati …
“Capek Mas. Baru aja pulang dari mengajar,” kata Wati.
Pak Refli yang duduk membaca Koran edisi sore di depan
pesawat televsi batuk-batuk. Dia batuk karena terlalu lama menahan tawa. Begitu
juga dengan isterinya. Sesekali menunduk supaya tawanya tak lepas, kedengaran
Abu Bakar.
Lanjut lagi …
Naik delman cuma berdua
Berhenti dekat pabrik roti
Izinkan saya ayah dan bunda
Menginap semalam di tempat ini …
“Maaf Mas, enggak ada kamar …”
Ha ha ha ha …
Lanjut …
Alangkah enak makan mangga
Di teras rumah sama air kopi
Boleh adik Mas bertanya
Berapa kali boleh kesini …
“Terserah Mas lah …”
Lanjut …
Burung pipit main di kali
Airnya tenang enak berenang
Bolehkah Mas Abu mandi disini
Agar segar waktu sembahyang …
“Enggak ada salinan Mas …”
Hi hi hi hi …
Lanjut …
Perut lapar badan gemetar
Mau makan takut dimarahi
Mas Abu pingin tidur sebentar
Sebelum pulang malam nanti …
“Enggak ada kasur Mas …”
Lanjut …
Perut lapar makan gorengan
Setelah kenyang tidur lagi
Bolehkah ibu kami pacaran
Sebelum tiba hari pernikahan nanti …
“Boleh,” kata Bu Juwita.
Lanjut …
Buah manggis buah durian
Dijual orang di tengah kota
Kalau suka tolong katakan
Biar Mas lega mendengarnya …
“Oke …”
Gantian Wati yang membaca pantun. Abu Bakar, Pak Refli dan
isterinya menjadi pendengar yang baik. Pantun apa gerangan yang dibacakan Wati?
Inilah dia …
Selamat datang Mas Abu Bakar
Di kediaman kami tak besar ini
Tak usah takut apalagi gemetar
Kami senang Mas Abu
Bakar kunjungi
“Alhamdulillah, ya Allah.” Ucap Abu Bakar sambil
menengadahkan kedua tangannya, lalu mengusap lembut mukanya. Dia meminta Wati
melanjutkan bacaan pantunnya.
Jalan-jalan ke Pekalongan
Singgah sebentar ke rumah si dia
Wati siap diajak berjalan-jalan
Asal seizin ayah dan bunda …
“Subhanallah … Terima kasih Tuhan.” Berkali-kali Abu Bakar
mengusap mukanya dengan telapak tangan. Dia kini sudah bisa tersenyum senang.
Tinggal selangkah lagi …
“Giliran ibu Nak Abu Bakar,” kata Nyonya Juwita. Dia
menggantikan suaminya yang menolak membaca pantun. Bukan tak mau, tapi tak bisa
ia berpantun.
Indah nian kota ini
Banyak pendatang yang berdatangan
Habis Magrib Nak Abu mengaji
Agar selamat sampai ke pelaminan …
VIII
“MAS Abu … Surat Ali Imran ayat 70,” kata Wati. Membetulkan
letak liharnya yang belum terbuka lebar.
Karena belum terbiasa membuka Al-Quran, Abu Bakar harus
membolak-balik membuka lembaran kitab suci itu.
Karena bertuliskan huruf Arab, biasa membaca dalam bahasa Indonesia,
kalang kabutlah ia.
“Wati …!”
“Apa Mas?”
“Enggak ketemu suratnya, “ kata Abu Bakar, mulai berkeringat
dingin.
Dibantu Sang Ibu, Wati membantu Abu Bakar menemukan halaman
yang dicari. Hanya beberapa lembar ia buka, ketemulah surat dan ayat yang
dicari.
“Ini Mas. Jadi nanti kita baca mulai dari ayat ini …” ujar
Wati.
“Kita ngaji sama-sama. Kapan berhentinya kita ikuti saja
kapan bapak menyudahi membaca ayat suci,” jelas Bu Juwita.
“Paham ya Mas?”
“Paham dik Wati.”
Bismilillahirrohmanirrohim …
“Mari kita sama-sama membaca ayat suci. Pelan tapi jelas,
Nak Abu.”
“Siap Pak Refli,” jawab Abu Bakar. Dalam hatinya apa yang
mesti dia baca. Huruf-huruf hijaiyah dia tahu sedikit-sedikit. Tapi
menyambungnya itu yang belum dia tahu. Dia sudah lupa.
Pernah waktu masih kecil, Abu Bakar mengaji bersama
teman-teman sebayanya di surau. Tak lama me mang. Setelah pindah rumah,
kebiasaan mengaji sehabis magrib tidak
diteruskan lagi.
Agar tak membuat malu, walaupun cuma dihadapan bakal calon
isteri, mertua perempuan dan laki-laki, Abu Bakar bertekad semampunya. Mulut
saja digerakkan, kayak orang komat-kamit begitu, bacaannya dipelankan agar
sampai tak kedengaran.
“Saya harus coba,” bisik Abu Bakar di dalam hati.
Audzubiilahi inasysyaithaanir rojim. Bismillahirrohmanirrohim …
Yaa ahlal kitaabi lima takfuruuna
biayaatillaahi waantum tasyhaduuun (70)
Yaa ahlal kitaabi lima talbisuunal haqqa bil baathili wa
taktumuunal haqqa wa antum ta’lamuun (71)
Waqaalath thaa-ifatum min ahlil kitaabi aaminuu bil
ladzii unzila ‘alal ladziina aamanuu wajhan nahaari
Wakfuruu aakhirahu la’allahum
yarji’uun (72)
Walaa
tu-‘minuu illa liman tabi’a diinakum. Qul innal hudaa hudallaahi ayyu-‘taa
ahadum
Mitsl maa
uutiitum au yuhaajjuukum ‘inda rabbikum. Qul
innal fadhla biyadillaahi yu-‘tiihi
Mayyasyaa’. Wallaahu waa si’un ‘aliim (73)
Yakhtashshu birahmtihi mayyasyaa-‘u wallahu dzul fadhlil ‘adhiiim (74)
Wamin
ahlil kitaabi man in ta-’manhu bi qinthaariy yu-addihi ilaika wamin hum man
In
ta-‘manhu bidiinaarin layu-iaddihi
ilaika illa ma damta ‘alaihi qaa-iman
dzaalika
Biannahum qaaluu laysa ‘alaika fil ummiyyiina sabiila. Wa
yaquuluuuna ‘alal
Laahil
kadziba wa hum ya’lamuun (75)
Balaa man aufa bi’ahdihii wattaqaa fainnallaaha yuhibbul muttaqiin (76)
Innal
ladziina yasy taruuna bi’ahdillaahi wa aimaanihim tsamanan qaliila. Ulaa’ika
la
khalaqa lahum fil aakhiraati walaa yukallimuhuml laahu walaa yandzuru ilai
him yaumal qiyaamati walaa
yuzakkiihim wa lahum ‘dazzbun aliim (77)
wa
inna minhum lafariiqay yal-’uuna al sina tahum bil kitaabi litahsabuuhu minal
kitaabi wamaa huwa minal kitaabi wa yaquuluuna huwa min ‘indillaahi wa
maa
huwa min ‘indillaahi wayaquuluuna ‘alal laahil kadziba wahum ya’lamuun
(78)
Shadaqallaahul adhiiim ….
IX
“BAGAIMANA Wati?” Tanya sang ayah saat ketiganya secara
bersamaan menyiapkan makan malam di dapur. Sedangkan Abu Bakar asyik membaca
koran di ruang tamu.
Hi hi hi hi …
Ssssst …
“Jangan terlalu kenceng ketawanya Wati,” nasehat ibunya.
Kalau sampai kedengaran Abu Bakar, kan berabe. “Bisa-bisa salah mengerti
nantinya …”
“Wati. Sini sebentar. Ayah mau tanya sesuatu pada kamu …”
Pak Refli meminta Wati duduk sebentar di kursi makan.
“ Biar ibu yang
nyiapin semuanya …” Kata Juwita sambil mengaduk-aduk pindang patin agar rasa sedap [i]kuwahnya
lebih merata dan maknyus saat dinikmati.
“Waktu baca tadi Yah,
enggak jelas apa yang dibaca. Misalnya … ‘Ya ahlal kitaabi lima takfuruuna” dan
seterusnya. Kalau ibu jelas, kedengaran. Kalau Mas Abu kayaknya …”
“Kenapa Wati. Ada yang janggalkah?”
“Ada. Cuma enggak
sempat perhatikan betul. Karena namanya juga membaca ayat suci Al-Quran, harus konsentrasi. Tak boleh main-main …”
“Ya ayah tahu itu …”
“Cuma perasaan Wati kayaknya enggak bisa deh …”
“Enggak bisa baca Al-Quran begitu?”
“Ya Yah …”
“Enggak mungkinlah.
Tapi … apa kamu punya bukti?”
“Tadi waktu minta carikan surat dan ayat berapa gitu, Mas
Abu nya tampak bingung. Enggak percaya, tanya saja sama ibu Yah.”
Sang isteri yang lagi menaruh mangkok besar kuwah pindang
patin di atas meja makan cuma tersenyum saja.
“Ibu saja sempat enggak percaya Yah …”
Ha ha ha ha …
Abu Bakar yang serius membaca lembaran koran berita kriminal
sama sekali tak mengetahui kalau di sampingnya sudah berdiri Wati. Disapa tiga
kali tak ada sahutan.
Kali keempat …
Praaaak …
“Mas Abu …!” Wati terpaksa memukul pundak lelaki di dekatnya
itu dengan lembaran koran yang terge letak di kursi tamu.
Abu Bakar terperanjat. Tak menduga Wati yang memukulnya
barusan.
“Maafkan Mas ya Wati. Serius soalnya,” jawab Abu Bakar. Dia
tadi baca berita kriminal tentang wanita yang dihipnotis sampai harus
kehilangan uang dan barang berharga lainnya.
“Dapat pelakunya Mas?”
“Belum sih kayaknya. Kan masih dalam laporan. Korban mengadu
ke polisi. Setelah itu baru ditindaklan juti …”
“Mas Abu suka ya yang serba hipnotis?”
“Enggak juga ah. Cuma pingin tahu saja. Terus kasihan gitu. Lagi sial perempuan itu barangkali …”
“Kok barangkali?”
“Lum sempat nanya dik Wati …”
He he he he …
Abu Bakar merasa tersanjung diajak makan malam bersam oleh
orang tua Wati. Padahal dia belum lama kenal. Dia sudah merasa seperti di rumah
sendiri. Sangat akrab dan bukan orang asing lagi di rumah ya ng sangat enak didiami ini.
Makanya, selepas makan malam, ketika diajak ngobrol berdua
oleh Pak Refli, dia tampak bersemangat dan sangat senang. Inilah ke sempatan
buat dia untuk promosi dan mengambil hati bakal calon mertua. Jangan
disia-siakan. Kesem patan tak pernah datang dua kali.
Bahan oborolan tak serius amat. Hanya selingan menikmati
perut yang kenyang sehabis makan. Cuma
berkisar soal perempuan. Bagi laki-laki yang sudah berumah tangga tentu
punya pandangan yang berbe da ter hadap perempuan dibandingkan mereka yang
masih lajang. Karena mungkin yang lajang belum mengalami suka dukanya hidup
bersama dengan seorang wanita dalam ikatan resmi pernikahan.
“Menurut Nak Abu, perempuan yang baik itu, yang seperti
apa?”
“Yang sayang sama keluarga. Sabar dan taat menjalankan
perintah agama.”
“Sayang yang dimaksud Nak Abu yang bagaimana. Bapak pingin
tahu …”
“Perhatian yang sungguh-sungguh, tanpa diminta sekalipun.
Selalu ada saat diperlukan. Tak sungkan-sungkan menolong dalam bentuk materi
dan non materi …”
“Maaf Nak Abu, bukan bapak menyinggung. Biasanya waktu
pacaran adem ayem. Sebulan setelah be rumah tangga, berantem. Gimana itu Nak ya?”
“Mungkin belum saling kenal lebih mendalam, Pak. Sebab,
kalau sudah tahu kelakuan dan sifat baik dan buruk kedua belah pihak, disertai
sabar, insya Allah enggak bakalan berantem.”
“Kamu sendiri pilih yang mana Nak. Maksud bapak yang adem
ayem atau suka berantem?”
“Dua-duanya Pak.”
“Bisa dua ya. Enggak satu saja Nak?”
Ha ha ha ha …
“Maksud saya Pak. Kita juga terkadang tak bisa menghindari
masing-masing pihak, yang karena stres misal nya, sering marah-marah, kalau tidak secepatnya
diantisipasi, bisa barentem dan tak seteguran sampai seminggu lamanya. Menghadapi ini tidak mudah. Tapi kalau kedua
belah pihak tidak menurut kan rasa
egonya, mudah-mudahan bisa diatasi.”
Pak Refi menyeruput kopi.
Wati dan ibunya masih di belakang. Keduanya mencuci
peralatan makan danmerapikan meja makan.
“Tapi sekali lagi Pak Refli. Saya lebih suka rumah tangga
itu adem ayem. Berjalan rukun dan damai,” terang Abu Bakar.
X
BELANJA di pasar …
“Jadilah Bu, 50 …” Kata Wati. Ditemani sang ibu, dia
bermaksud membelikan satu kemeja batik buat ayahnya.
“Enggak bisa Bu. Ngambilnya aja 60. Berarti saya rugi 10
kalau ibu tetap beli 50,” jelas ibu muda penjual kemeja batik dengan ramah.
Abu Bakar yang berdiri tak jauh dari belakang keduanya,
tampak harus joget-joget. Bukan joget lagu dangdut. Tapi menghindar ke kiri dan
kanan, belakang dan depan. Maklum, di depan toko kemeja ada jalan kecil tempat
lalu-lalangnya pembeli, penjual dan pembawa barang.
“Permisi Pak,” ucap seorang bapak ketika hendak melewati Abu
Bakar yang berdiri agak ke tengah jalan karena di belakangnya ada ibu-ibu
sedang berbelanja pakaian wanita.
“Silakan …”
“Jadilah Bu. Kalau 50 saya ambil dua,” tawar Wati.
“Sudahlah Bu. Habis di 55 lah. Saya kasih. Ikhlas,” kata si
ibu, berharap Wati jadi membeli kemeja batik dagangannya.
Wati berpikir sejenak.
“Jadilah Bu 50. Kalau ibu kasih 50, saya ambil dual ah,”
ujar Wati. Ia dan ibunya sepakat, 50 oke, di atas 50, cari ke toko yang lain.
Abu Bakar yang tampak berhimpit-himpitan, sama sekali belum
tahu Wati dan ibunya sudah pergi ke toko pakaian yang lain. Baru sebentar dia
ditinggal pergi. Setelah melihat di
depan toko, tak ada lagi keduanya.
“Bu .. Bu … dua orang ibu yang belanja disini tadi mana ya?”
“Udah pergi Pak.”
“Kemana ya kalau boleh tahu?”
“Kesana …!” Jelas si ibu sambil menyuap bayinya yang baru
bangun dari tidur di kain gendongan yang tergantung di tengah toko.
Ke kanan sedikit, tanya sini situ, akhirnya ketemu juga. Abu
Bakar lega. Sebab, jika sampai tidak ketemu, bisa berabe. Malunya itu yang enggak
ketulungan.
“Mas Abu. Haus kagak?” Tanya Wati. Dia melihat mukanya Abu
mulai berkeringat, pasti haus.
“Enggak dik.”
“Bener enggak?”
“Bener …”
“Ya udah. Kami minum dulu ya,” sahut sang ibu. Mengajak
singgah sejenak ke restoran mini di tengah pasar.
Keduanya memesan air es kelapa muda dua gelas. Sementara Abu
Bakar, karena tak merasa haus saat ditawari tadi, hanya berdiri di dekat kasir.
Kursi tempat duduk sudah terisi penuh, diduduki pengunjung
yang sebagian besar memesan es kelapa muda. Sambil menunggu Wati dan ibunya
minum es, Abu Bakar menyalakan Hape androidnya. Main ga me.
Beberapa orang anak yang duduk di dekatnya berdiri ketawa
geli melihat ulah Abu Bakar yang senyum-senyum sendiri. Ada apa gerangan ya?
“Ma .. Lihat Om itu Ma!” Colek seorang anak. Si ibu yang
tangannya dicolek, hanya senyum-senyum saja.
“Ada yang lucu sayang barangkali …”
“Apa ya Ma?”
“Tanya aja sama Om itu …”
“Boleh ya Ma?”
“Boleh. Masa enggak boleh. Coba aja sana …”
Berdirilah si anak. Memberanikan diri bertanya.
“Om, kenapa Ok Om senyum-senyum sendiri?”
“Nih …” Tanpa sengaja Abu Bakar memperlihatkan game sepak
bola kepada si anak dengan harapan tahu penyebab dia senyum-senyum sendiri.
Sialnya, si anak bukannya mau main, malah ketawa lucu sambil berteriak ‘Ok Om main game … Ok
Om main game …’
Sementara ibu-ibu yang lain, termasuk Wati dan Bu Juwita,
menoleh serentak kea rah si anak. Abu Bakar masih berdiri. Tapi malu banget
karena semua mata tertuju ke dia.
“Mas Abu …!”
“Mas Abu …!”
“Mas Abu …!”
“Sini dong …!” Panggilan ketiga baru menoleh.
“Sudah minumnya?” Tanya Abu Bakar. Dia bertanya karena dua
gelas air es kelapa muda di atas meja masih menyisakan separo.
“Mas ngapain?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“”Lho. Coba lihat mereka Mas Abu …!” Beberapa orang anak
menunjuk-nunjuk Hape yang ada di gengga man Abu Bakar. Hape itu masih menyala.
Terlihat di layar beberapa pemain sepakbola berusaha mema sukkan bola ke gawang
lawan.
“Coba tengok Hape nya Mas Abu …” Wati penasaran. Kenapa
anak-anak yang lagi menunggu pesanan es kelapa muda pada serentak melihat Hape
nya Abu Bakar.
“Ok … oooo … pantesan.”
“Kenapa Nak?” Tanya si ibu yang sempat batuk-batuk kecil karena kebanyakan
minum air es kelapa muda.
Juwiita hanya ketawa setelah diperlihatkan game sepakbola di
Hape miliknya Abu Bakar.
“Duduk Mas.”
Kursi cuma dua, terisi semuanya.
“Dimana?”
“Sebelahan dengan Wati aja Nak Abu …” Kata Bu Juwita sembari
tersenyum melihat anak-anak yang masih curi pandang ke Abu Bakar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar