Novel Lepas
Ki Saleh (4)
Edisi Keempat
By Pak Amin
XV
ENAM sekawan dagang pakai perahu beratap …
“Daging .. daging .. masih segar
Siapa makan pasti bugar dan
Langsung ilang rasa lapar
Daging – daging .. murah harganyo
Siapa yang embeli dijamin kayo
Banyak duit banyak harto
Wong enjingok pasti melongok
Daging duhai bapak ibu …
Kito jual kamu beli
Keluar duit dua puluh ribu
Biso bawa sekantong ayam ini …….”
Teriakan ini terus diulang-ulang Mang Dul. Masuk kompleks
perumahan warga yang tergenang air.
Bagaimana dengan Mang Kur?
“Daging murah siapo galak
Boleh ngutang besok bayar
Ini daging dimakan lemak
Kapan dimakan badan teraso kekar
Daging ayam daging sapi
Beli banyak dapat potongan
Kalu kamu masih ragu nak embeli
Cicipi bae di pucuk genangan
Bukan daging sembarang daging
Daging diembek dari tempatnyo
Kalu daging pastila garing
Renyah dimakan samo cuko
…”
Berdua Mang Sen menyusuri tepi anak sungai, tukang iwak ini
tak pernah berhenti meneriakkan daga ngannya.
Setiap rumah dia singgahi. Kalau si empunya rumah tidak keluar dan enggan
membeli, Mang Sen merayu dengan kata-kata …
“Iwak betok iwak gabus
Tinggal pilih mana suka
Sudah murah iwaknyo bagus
Kapan dimakan lemak terasa
Pegi beduwo ngadiri kondangan
Balik kondangan langsung tiduk
Sudah makan sehatlah badan
Badan segar ilangla batuk
Makan nasi lauk betok
Abis sepiring saro nak bejalan
Ini betok bukan sembarang betok
Kapan dimakan melayang rasonyo badan
Aku jualan nyari duit
Duit dapat hati lego
Payu dulur kami nak pamit
Idak embeli idak apo-apo …”
Mang Jaiz yang sejak tadi mangkal dekat dermaga kayu dengan
Mpok Leni, kebanjiran rezeki. Buah-buahan dan manisan yang mereka jual dibeli
banyak orang. Mulai dari ibu-ibu, remaja puteri hingga orang lanjut usia.
Mereka membeli tidak dalam jumlah besar. Paling satu orang
satu sampai dua kilo buah-buahan. Tapi, karena pembelinya banyak, lebih dari
sepuluh, untung yang diperoleh Mang Jaiz lumayan banyak.
“Alhamdulillah. Tak sangka aku Mpok. Rupanya banjir seperti
ini banyak orang yang membeli buah-buahanku .. Kamu juga kan Mpok?”
Mang Jaiz bertanya karena dia tak sempat menengok Mpok Leni,
apakah dagangannya banyak dibeli orang
atau tidak.
“Alhamdulillah Mang Jaiz,” ucap Mpok Leni sambil merapikan
kue dalam gelok plastik besar dan bebe rapa jenis manisan buah-buahan, termasuk
aneka macam kudapan.
Tapi yang banyak dibeli justru makanan gorengan semisal
tempe dan tahu goreng, lontong dan pempek serta nasi uduk.
“Lucu ya Mpok,” ujar Mang Jaiz. Dagangan utama tak dibeli,
eeh yang nyambi dijaja justru ludes
dalam sekejap.
“Mungkin karena dingin Mang Jaiz. Sedangkan gorenganku dan
lontong sama pempek kan hangat. Jadi klop. Penghangat perut, perut kenyang,
keringat keluar dan sehatlah badan,” kata Mpok Leni tertawa senang.
“Yach begitulah dunia ini ya Mpok . Kadang yang kita
inginkan tak terwujud, yang kita tak inginkan justru terwujud,” ujar Mang Jaiz.
Menghitung buah-buahan, lalu dideretkan ke tengah. Bagian tengah perahu ini
diatapi plastik sehingga tidak terkena sinar matahari dan percikan air.
Bagaimana dengan Ki Saleh?
Selain menjual pakaian dan buku-buku agama seadanya, Ki
Saleh juga dengan senang hati juga menjual goreng-gorengan, ketupat sayur, air
teh dan air kopi manis. Setiap rumah dia singgahi dan berhenti persis dekat
ibu-ibu yang biasa mencuci pakaian dan peralatan dapur.
“Ayu Bu ketupat sayur
Beli sepiring ditanggung kenyang
Kalau sudah yuk kita sama menghibur
Makan ketupat sambil bergoyang
Ayo ibu goreng-gorengan
Ada tempe enak rasanya
Kopi ada nikmat diminum
Dijamin puas tak lapar lagi …”
“Ki … kopi!” Teriak anak muda dari atas jembatan kayu.
Mengenakan kaos dalam dan kain sarung, rema ja berambut gondron ini sengaja
memanggil Ki Saleh setelah meneriakkan ‘kopi hangat kopi manis.’
Setelah remaja itu mendekat, ibu-ibu yang berada di jembatan
sebelahnya melompat turun ke tanah becek tapi masih bisa ditapaki. Mereka menyerbu
perahu Ki Saleh yang mangkal di dekat mereka.
“Kopi Ki,” pesan seorang ibu muda dengan tergopoh-gopoh dan
kedinginan.
“Aku juga Ki,” kata rekan si ibu yang juga mulai kedinginan.
Mereka sudah satu jam berada di pangkalan. Mereka mencuci di
ujung jembatan. Jembatan ini ada dua
tapi satu jalur. Lima belas meter dari daratan ada tangga,
dan tangga itu menghubungkan lagi ke jembatan berikutnya.
Batas akhir dari jembatan ini agak besar persegi empat.
Disanalah ibu-ibu mencuci pakaian kalau air surut. Tapi bila air pasang dan
banjir sehingga air sungai meluap, mereka mencuci dekat tangga penghubung dua
jembatan tadi.
Jembatan kayu ini bertiang kayu. Semakin panjang jembatannya
semakin banyak tiangnya. Walau terge nang air, jembatan kayu ini tahan
bertahun-tahun , asal tidak melewati batas ketahanan jembatan. Pa ling yang diganti kayu atasnya yang lapuk
atau berlubang.
Selain jembatan kayu, ada juga jembatan coran. Jembatan
coran ini lebih kuat dan tahan lama. Aman dan nyaman dilewati.
Namun kenapa warga lebih suka jembatan kayu ketimbang
jembatan coran, selain karena sejak lama
su dah terbiasa menggunakan jembatan kayu, juga tak perlu repot mengerjakannya.
Pasang tiang saat air surut, kayu dibentangkan di atas tiang, dan dipaku sana
sini. Kelar.
Tapi bukan itu alasan sebenarnya. Jika menggunakan coran
biayanya lebih mahal karena coran itu tidak bisa setengah-setengah, tapi harus
keseluruhan. Mulai dari bagian atas hingga tiang penyangganya. Pengerjaannya
harus rapid an tepat agar tahan lama.
Kegunaan jembatan ini adalah
mengantisipasi jika air surut. Sebab, kalau air surut maka jarak dari
daratan ke air sungai sangat jauh. Malah sampai ke tengah sungai.
Lewat jalan tanah juga bisa sebenarnya. Tapi itu jarang
dilakukan. Kenapa? Karena becek dan banyak benda tajam seperti beling dan
pecahan piring. Kaki bisa terluk dan kaki juga terasa berat saat melang kah
karena menapak di tanah separo berair.
Karena agak tinggi, pemukiman warga paling ujung Kampung
Falah ini tak terkena banjir. Kecuali banjir besar yang biasanya terjadi
antara satu hingga lima tahun sekali.
Itu pun hanya sebatas pekarangan bawah rumah yang dimanfaatkan oleh anak-anak
untuk mengail ikan.
Ikan-ikan seluang itu berseliweran di bawah rumah. Juga
anakan gabus. Jika seluang dipancing pakai umpan cacing, sebaliknya anak-anak ikan gabus ditangkap
menggunakan tangguk berukuran sedang. Enak digoreng dengan gandum. Lauk makan
siang.
Banjir datang tidak selamanya mendatangkan kesusahan. Selain
ikan pada ikut naik dan berseliwerangan di bawah pekarangan rumah, juga bisa
mengangkut kayu menggunakan rakit atau racikan gedebong pisang.
Bahkan perahu bisa digunakan pemiliknya untuk mengangkut
warga dari rumah ke jalan raya besar. At au untuk keperluan menyeberang ke
kampung tetangga. Yang terakhir ini sudah lama berjalan. Tidak harus menunggu
air pasang.
Begitu juga dengan pedagang. Mang Dul dan kawan-kawan bisa
meraup rezeki lumayan banyak dengan menjajakan barang dagangan mereka
menggunakan angkutan perahu.
Banjir akibat pasang biasanya sudah kembali surut satu atau
dua hari. Begitu juga dengan pasang air su ngai yang kerap dialami warga. Tidak
terlalu lama. Pagi pasang, sore dan malam harinya sudah surut kembali airnya.
Mang Dul cs memanfaatkan betul momen terbakarnya Pasar Falah
dan banjir datang. Meski perahu itu bukan milik sendiri, tapi disewa dengan
harga sukarela, bahkan ada yang sengaja
dipinjamkan pemilik nya karena hubungan famili dan pertemanan, untung yang
didapat cukup melegakan.
Perolehan keuntungan itu, sebagian dibelikan beras dan lauk
pauk, sebagian lagi disimpan dan baru digunakan bila keuangan mulai menipis.
Mang Dul beserta teman-temannya sesama pedagang menyadari
hal ini. Makanya, saat banjir berang sur-angsur surut, kendati harus kembali berjualan
di pelataran Pasar Falah, mereka tak risau. Paling tidak jatah untuk dua hari
ke depan sudah terantisipasi.
Lantas, bagaimana setelahnya?
XVI
KARENA dari hari ke hari, pasca banjir dan musim penghujan,
pembeli makin sepi. Membuat pedagang resah dan gelisah. Selain pendapatan yang
diperoleh terus berkurang, pemasukan dari parkir ikut mero sot. Karena jauh
menurun jumlah kendaraan roda dua yang biasa parkir di pelataran luar Pasar
Falah.
Sakul dan beberapa anak buahnya yang sudah tahu penyebab
sepinya pasar kaget ini, langsung tancap gas kea rah utara.
Ke mana mereka?
Rupanya mendatangi lokasi pasar dadakan yang masih
sembunyi-sembunyi, buka pada pagi dan jelang siang.
Tanpa basa basi lagi, Sakul tendang sepeda motor yang lagi
parkir di depan pasar itu. Roboh seketika. Membikin kaget pengunjung pasar.
Beberapa preman menghampiri Sakul.
“Jangan begitulah Bos. Kita cari makan dari sini,” kata
preman berambut cepak. Bermaksud mencabut goloknya tapi keburu dicegah
teman-temannya sesama preman.
“Pendapatan kami jauh berkurang setelah kalian buka pasar
ini,” jelas Sakul dengan nada geram dan emosional.
“Kami tidak merasa mengambil jatah anda Bos,” jawab si
cepak.
“Memang tidak. Tapi setelah pasar ini buka, warga yang
belanja kan terbelah dua. Padahal sebelum ini tidak,” terang Sakul.
“Kalau soal itu saya tidak tahu Bos. Saya kan cuma tukang
parkir. Motor atau sepeda yang masuk, saya atur. Lagian kalau mereka tak mau
parkir, saya juga tak memaksa. Bos tak percaya tanya saja sama pengunjung pasar
dan pedagang,” kilah si cepak.
“Mana bosmu?”
“Ada. Lagi makan di warteg,” jawab si cepak.
“Tolong panggilkan. Bos Sakul ingin ketemu, bilang.”
“Baik Bos.”
Beberapa preman pasar baru bahu membahu menyusun ulang
sepeda motor yang jatuh akibat diten dang Sakul. Termasuk sepeda jengki yang
sempat dia lempar ke dinding pembatas antara pasar dan rumah warga.
“Tak usah.” Sakul melarang anak buahya membantu menyusun
parkiran. Mereka hanya diperbolehkan menonton dan berharap tidak terjadi
keributan besar di lokasi pasar.
“Jangan takut. Jangan mudah keder. Mereka main kasar, kita
juga begitu. Mengerti?”
“Mengerti Bos,” jawab empat anak buah Sakul serempak.
Tak lama kemudian datanglah si cepak, tapi sendirian, bukan
berdua sama bosnya. Sakul tersinggung dan merasa tidak dihargai.
“Aku minta bosmu yang kesini, bukan kamu,” bentak Sakul.
Ingin rasanya dia menempeleng Sang Bos.
“Baik Bos,” jawab si cepak.
Pergilah si cepak kali kedua menemui bosnya di warteg. Dia
lega karena Sang Bos sudah makan. Tapi masih asyik mengobrol dengan pria
berkacamata minus yang berprofesi sebagai penyalur kredit kope rasi.
“Bos … ditunggu,” kata si cepak sambil membungkukkan badan.
“Sebentar,” jawab Sang Bos, mengisap nikmat rokok filter.
Kembali si cepak menemui Bos Sakul. Karena sudah empat kali
bolak-balik si cepak menemuinya, Sakul akhirnya marah besar.
“Ikut aku …!” Perintah Sakul.
Sakul bersama empat anak buahnya menemui bos preman. Rupanya
Sang Bos sudah tidak ada lagi di warteg.
Pontang-pantinglah si cepak mencarinya ke sana kemari.
Karena Sang Bos tak diketemukan juga. Si cepak jadi sasaran kemarahan Bos Sakul.
Sakul memang tidak memukulnya. Dia hanya menyaksikan betapa
kerasnya Eki dan kawan-kawan me mukul dan menendang si cepak. Dalam sekejap
badan si cepak sudah babak belur. Dari mulut dan hi dungnya keluar darah segar.
Dia mengerang kesakitan.
Sepeninggal Sakul dan anak buahnya, bos pasar baru nongol
dari belakang pasar. Dia tidak tahu ada keributan di warteg. Dia hanya tahu si cepak anak buahya dikeroyok
sesama preman.
“Sudah, bangun cepat,” ucap Sang Bos. Dia tuntun si
cepak ke sebuah kios besar di ujung
pasar. Dia tenangkan anak buahnya itu.
Dia kemudian meminta anak buahnya yang lain berbagi tugas.
Ada yang tetap menjaga parkiran, ada juga mengawasi pasar.
“Coba kamu ceritakan kejadian yang sebenarya,” pinta Sang
Bos setelah si cepak berangsur-angsur pulih setelah diobati lukanya dengan obat
oleh anak buahnya.
“Bos sih kagak ada,” kata si cepak sejujurnya.
“Kenapa aku yang disalahkan?”
“Coba kalau bos langsung temui itu preman, kan aku bakalan
aman. Tidak harus babak belur seperti ini,” jelas si cepak.
Takut juga si cepak berkata sebenarnya. Kuatir Sang Bos
malah mendampratnya. Tapi jika tidak dijelas kan duduk perkaranya, maka
persoalannya menjadi berlarut-larut dan semakin tidak jelas.
“Orang berapa mereka?”
“Semuanya lima orang bos.”
Sang Bos tampak geram dan marah-marah. Dia kepalkan tinju,
lalu tiang kios jadi sasaran kemarahan nya.
Saking kuatnya pukulan itu, beberapa pedagang sempat
menoleh, sebelum melanjutkan lagi
aktivitas mereka meladeni pembeli dari
berbagai usia dan jenis kelamin itu.
“Sore nanti kita hajar mereka,” ucap Sang Bos yang belum juga
reda amarahnya. Saking marahnya, keti ka
hendak menyulut rokok, salah sulut. Yang pangkal disulut, sedangkan ujungnya
masuk ke mulut.
Ha ha ha ha …
“Lucu Om itu,” kata seorang anak bersama ibunya hendak
keluar pasar setelah belanja sayur dan ikan. Si anak berubah takut setelah
dipelototi bos preman. Dia pegang
kuat-kuat tangan ibundanya. Sambil berja lan menyembunyikan kepalanya di sela
baju kebaya ibundanya.
Sore hari.
Eki dan Egi berboncengan hendak pulang ke rumah mereka
masing-masing. Motor berjalan lambat. Tepat di tikungan terdengar suara orang melempar
sesuatu.
Praaak …
Siiit …
Braaak …
Papan besar tepat mengenai sepeda motor yang dikemudikan
Eki. Motor terbalik dan keduanya terjatuh ke aspal.
Jalanan sepi. Karena bukan di jalan raya umum kejadiannya,
tapi di jalan tembus melewati perumahan dan kebun warga.
Keduanya, dengan bersusah payah, berhasil bangun dan berdiri
lagi. Motor yang terbalik sudah bisa di-starter. Mesin menyala dan motor siap
melaju.
“Tungguuuu …!” Teriak bos preman pasar baru dengan tiga anak
buahnya.
Eki dan Egi tak ciut nyali. Walaupun ditunjuk-tunjuk oleh
Sang Bos, keduanya tetap diam dengan mata tertuju ke mulut ‘komandan’ preman
itu.
“Nantang gue haaa?” Bos preman tersinggung karena sejak tadi
Eki dan Egi menatapnya. Tetap tenang. Jauh dari rasa takut dan nervous.
Praaak …
Buuuuk …
Sebuah kayu gelam berhasil menghantam kepala Eki dan Egi.
Keduanya langsung terkapar. Tak sadarkan
diri.
Dompet, jam tangan dan anting-anting di telinga Eki dan Egi,
disikat habis. Termasuk sepeda motor. Ya ng tersisa cuma gelimpangan tubuh
keduanya.
Sebelum pergi, beberapa anak buah bos preman sengaja
meminggirkan tubuh Eki dan Egi ke dekat parit dalam posisi terlentang dengan
baju terbuka kancingnya.
Kabar mengenai pemukulan Eki dan Egi ini baru sampai di
telinga Bos Sakul pada malam harinya. Setelah diberitahu anak buahnya lewat
laporan warga yang secara tidak sengaja melihat Eki dan Egi terkapar berlumuran
darah di pinggir jalan.
Malam itu juga, setelah Eki dan Egi siuman sepulangnya
berobat dari rumah terdekat, diberitahu yang punya kerjaan adalah para preman
pasar baru. Bos Sakul mencari tahu keberadaan Sang Bos.
Melalui informasi dari beberapa rekan preman lainnya, Sakul
dan kawan-kawan akhirnya mengetahui di mana Sang Bos biasa mangkal pada malam
hari. Minum-minum dan menghabiskan malam bersama te man-temannya satu profesi.
Ada sebuah kafe di pinggir jalan. Kafe itu sangat indah luar
dan dalam. Sore menjelang malam baru ra mai dikunjungi. Beragam orang dengan
profesi berbeda biasa mangkal di sana.
Ada pengusaha, pegawai swasta, bahkan preman berdasi. Kafe
ini sudah lama terkenal. Makanya tak he ran jika puluhan mobil mewah keluaran
terbaru terparkir rapi di depan gedung berlantai dua itu.
Selain menyajikan aneka makanan dan minuman sesuai selera,
pengunjung disuguhi live music dengan menampilkan penyanyi kenamaan dari dalam dan luar negeri.
Ruangan yang kedap suara, membuat kita yang berada di luar
hanya bisa mengintip dari balik kaca yang diterangi sorot lampu berwarna kuning
keemasan. Puluhan set kursi tersusun rapi. Beberapa di antara nya telah terisi.
Kebanyakan kaum laki-laki.
Kursi itu baru terisi penuh setelah mendekati tengah malam.
Sambil duduk dan mencicipi aneka hida ngan lezat yang tersaji di atas meja,
pengunjung disuguhi suara emas biduanita.
Suara merdu itu mampu menghipnotis pengunjung yang tampak terpukau. Mereka bukan
hanya terpe sona oleh suara merdu sang biduanita, tapi juga bentuk tubuhnya
yang tinggi langsing tapi seksi tanpa perlu menggunakan asesoris berlebihan.
Pengunjung seakan menyatu padu dengan liukan tubuh sang
biduanita. Ketika turun panggung dan me nyodorkan mikroponnya ke beberapa
pengunjung, spontan beberapa lelaki berumur ikut bernyanyi bersama. Mereka
tampak senang, gembira.
Begitu juga saat sang biduanita berada di atas panggung.
Pengunjung diajak tampil menemaninya,
joget dan duet bersama. Tentu dengan gaya yang mengundang ‘selera’ kaum pria. Akrab di atas panggung
sampai pengunjung tadi turun dan kembali ke tempat duduknya.
Tepuk tangan sesekali terdengar. Semakin menambah semarak
pertunjukan. Semakin malam semakin mengasyikkan. Pelayan kape sangat ramah. Murah senyum dan siap melayani
pengunjung untuk memesan menu yang diinginkan.
Lalu, di mana gerangan Sang Bos pasar baru?
XVII
TERNYATA bos pasar baru berjualan gorengan di dekat Kafe.
Selain gorengan berupa pisang, pempek dan tempe serta tahu, dia juga menjual
air kopi dan teh. Dia berjualan menggunakan gerobak kayu beroda.
Selain warga, terkadang pengunjung kafe juga membeli
dagangan preman pasar baru. Namun mereka membeli setelah keluar dari kafe,
bermaksud pulang atau ada urusan penting yang harus dikerjakan di luar kafe.
Dagangan Sang Bos lumayan laris. Hampir setiap malam
dagangannya ludes terjual. Kalaupun ada yang tersisa, tak seberapa dibandingkan
untung yang diperoleh malam itu. Dia ditemani seorang anak belasan tahun.
Itulah anak sulungnya yang selalu ia ajak berjualan gorengan setiap malam.
Sang Bos pulang dari berjualan tak tentu jam. Namun biasanya
dia bersama anaknya pulang sebelum te ngah malam. Maka itu, ketika pengunjung
datang lewat jam sepuluh malam, gerobak dorong itu sudah tidak ada lagi di
tempatnya.
Begitulah kerja si bos pasar baru. Pagi harinya dia mengawasi
pasar dan parkir kendaraan. Karena pasar buka tidak setiap hari, Sang Bos
mengisi hari-harinya yang ‘lowong’ dengan membuka warung di depan rumahnya.
Rumah sudah punya sendiri. Tidak lagi menyewa. Kendati kecil, hanya dengan dua
kamar ya ng tidak terlalu besar, dia tak perlu lagi memikirkan uang sewa setiap
bulan seperti anak buahnya dan rekan preman lainnya.
Hidupnya tenang. Namun ketenangan itu terusik setelah
kedatangan Bos Sakul dan dua anak buahnya. Isterinya sampai menjerit, walau
kemudian diam setelah ditutup mulutnya oleh Refli, ketika Sakul meng hajarnya
sampai babak belur.
Kejadian itu sangat cepat. Uang hasil jualan gorengan yang
tersimpan di saku celana habis diambil Sa kul. Sementara
bos pasar ditelanjangi di depan isterinya, sebelum dipatahkan kedua tangannya
oleh Sakul.
Tidak berhenti hingga di situ. Badannya mulai dari kepala
sampai kaki diinjak Sakul dan dua anak buah nya secara bergantian. Lalu
ditendang, diinjak dan ditendang lagi.
Agar tak menimbulkan suara berisik, mulutnya disempal dengan
gulungan baju sehingga suaranya terta han dan tidak kedengaran. Hanya mata yang
sesekali berkedap-kedip menahan sakit akibat kena pukul secara bergantian.
Sebelum pulang, Sakul beserta dua anak buahnya melukai pipi,
perut dan dada Sang Bos dengan pisau kecil. Disayat tipis sehingga mengeluarkan
darah segar. Sakitnya bukan main.
Tetangga sebelah baru berhamburan ke luar rumah setelah anak
dan isteri Sang Bos berteriak minta tolong. Darah berceceran, dan Sang Bos
malam itu juga dilarikan ke rumah sakit.
Warga menyayangkan kenapa tega-teganya si penganiaya main
hakim sendiri. Apapun alasannya, balas dendam bukanlah tindakan terpuji. Karena
bila sampai menghilangkan nyawa orang lain, samalah arti nya dengan melakukan
dosa besar.
Mereka berharap pelakunya diseret ke meja hijau untuk
mempertanggung jawabkan perbuatannya. Se bab,
jika dibiarkan akan selalu berulang-ulang kejadiannya. Apalagi nyawa
manusia dipandang sebelah mata, seolah tak punya harga. Dengan mudahnya
dihabisi, dilenyapkan tanpa bekas.
Sebagian warga, terutama yang masih muda, ikut berjaga-jaga
pada malam itu di kediamannya. Menyu sul kedatangan beberapa anak buah dan
rekan bos pasar baru. Mereka sangat geram dan ingin segera membalaskan dendam
malam hari ini juga.
Tanpa sepengetahuan anak dan isteri Sang Bos, yang ikut
mengantarkan dan sekaligus menjaga korban dirawat intensif di rumah sakit,
teman-teman dan anak buah Sang Bos sepakat malam ini juga mencari tahu
keberadaan Bos Sakul beserta dua anak buahnya.
Mereka sudah tahu siapa pelakunya setelah isteri Sang Bos
memberikan cirri-ciri pelaku penganiaya sua minya. Mereka berbagi tugas. Ada
yang menjaga di rumah sakit, dan sebagian lagi mendatangi kediaman Sakul.
Sakul dan dua anaknya sengaja tidak pulang ke rumah. Mereka
kuatir akan jadi sasaran balasan kelom pok preman pasar baru. Anak dan isteri
sudah diberitahu untuk secepatnya bermalam dulu di tempat teman atau orangtua,
family sampai suasana kembali tenang.
Mang Dul, Mang Kur dan Mang Sen, demi kesetiakawanan sepakat ikut membantu Sakul
dan dua anak buahnya dari amukan preman pasar baru. Mereka berkumpul di Tugu
Falah. Mereka sudah janjian untuk bertemu di tanah lapang tempat biasa
muda-mudi mangkal, menghabiskan malam minggu sambil me ngudap aneka kudapan.
“Abang Saleh tetap juga pergi tengah malam begini?” Ucapan
ini keluar dari mulut Sri Hapsari setelah melihat Ki Saleh suaminya
mondar-mandir di depan jendela kamar.
“Menurutmu gimana Sri?”
“Terserah abanglah. Kalau mau pergi juga, ya pergilah abang
sana. Tapi kalau tidak jadi pergi, tidurlah la gi bersama aku di sini, di
samping aku abang,” kata Sri mempersilakan suaminya membaringkan tubuh di
sebelah kanannya.
Ki Saleh menuruti keinginan isterinya. Tapi dia tidak ikut
berbaring. Hanya duduk-duduk di dekat isteri tercinta.
“Gimana kalau abang pergi saja ya Sri?” Ki Saleh memutuskan
tetap pergi karena teman-temannya sesa
ma pedagang sudah lebih dulu pergi.
“Tak enaklah abang kalau tak pergi sayangku,” kata Ki Saleh
merayu isterinya dengan harapan membiar kannya pergi membantu Sakul dan dua anak buahnya yang dikejar preman
pasar baru.
“Pergilah abang. Tapi jangan lama-lama,” ujar Sri Hapsari.
Sebelum pergi dia mencium hangat pipi Ki Saleh.
Di lapangan Tugu Falah …
Terjadi perkelahian seru antara Mang Kur dan kawan-kawan
dengan kawanan preman pasar baru. Ada yang membawa pentungan kayu, golok dan
besi. Sayang tak ada penonton. Warga pada tertidur lelap.
Mang Kur, satu kali pukulan telak mengarah ke perut berhasil
menyungkurkan preman berkepala rata. Berguling-gulingan menahan sakit. Ketika
mau bangun, pukulan telak kembali mendarat di dagunya. Pingsan seketika.
Mang Dul lain lagi. Tak sempat mengambil kayu, terpaksa
menghindari serbuan lawan yang mengguna kan kayu dengan kemejanya. Itu kemeja
dia gulung panjang, lalu diputar-putar seperti memainkan pedang.
Jegaaar …
Gulungan kemeja Mang Dul tepat mengenai pergelangan tangan
lawan. Seketika itu juga kayu itu ter lepas dari tangan preman ceking itu.
Belum sempat diambil, tendangan keras Mang Dul mengenai lehernya.
Auugh …
Lawan sempoyongan.
Melihat lawannya hilang keseimbangan, Mang Dul kembali menggganas.
Dipukulnya berkali-kali ping gang, pantat dan kepala lawannya. Jatuh
tersungkur, dan tak bangun lagi.
Sebaliknya Mang Sen justru kewalahan. Selain badan lebih
besar, kayu digenggaman Mang Sen lepas
se telah ditinju lawannya yang berkulit hitam legam itu. Akibatnya, dia
jadi sasaran empuk pukulan lawan.
Beruntung Mang Kur dan Mang Dul segera menolongnya. Mereka
tendang pantat lawan, namun tak bergeming. Justru dengan satu kali pukulan,
Mang Kur dan Mang Dul terjengkang.
Mang Sen tak tinggal diam. Dia melompat dan bermaksud
mencekik leher lawannya. Tapi tak berhasil. Ia malah kena banting dengan badan
mengenai akar pepohonan.
Ha ha ha ha …
“Preman sayur …” Ledek si badan besar tertawa lebar.
“Cocoknya kalian ini tukang masak di dapur.”
Mang Kur dan Mang Dul muak dengan ledekan si badan besar.
Keduanya kembali menyerang. Kali ini sama-sama melepaskan tendangan mengarah ke
kepala lawannya.
Duuup …
Jreeeng …
Lawan tersentak kaget. Hampir saja tersungkur. Lalu melotot
tajam.
“Kutu busuk. Ayo majulah bertiga!”
Tanpa berpikir panjang, Mang Kur dan kedua rekannya secara bergantian
melepaskan pukulan ke perut, dada dan muka. Dari sekian banyak pukulan itu, hanya
satu yang mengena, yakni di bagian perut.
Mang Sen berharap tendangannya kali ini benar-benar telak
dan membuat lawannya terhuyung-huyung. Harapan itu tak kesempaian. Pasalnya,
lawan tak merasakan apa-apa.
“Ayo serang aku lagi!”
Kali ini Mang Kur, Mang Sen dan Mang Dul menyerang
habis-habisan. Mereka tak hiraukan lagi muka pada babak beluk belur kena tinju
lawan. Darah mengucur dari mulut, hidung dan mata pun milai mem bengkak.
Hiyaat …
Mang Sen terus memberikan perlawanan. Dia berhasil berdiri
dan menendang ke bagian perut lawan, se cara bertubi-tubi. Dia tahan tendangan itu, tarik sedikit
telapak kakinya, lalu diarahkan lagi ke bagian perut.
Buuuk …
Auuugh ..
Mang Kur mengerang kesakitan. Tinju yang ia daratkan ke muka
lawannya itu, berhasil ditangkis kemu dian membuangnya ke kanan.
Badan Mang Kur seolah melayang. Mendekati tangan kanan
lawan, lalu dia putar bahu, terpental cukup jauh setelah tendangan cepat
mengenai selangkangannya.
Mang Dul tak rela Mang Kur kalah. Mereka harus menang. Maka
itu, dengan kaki terpincang-pincang dia berhasil bangkit dari jatuhnya,
melepaskan pukulan ke leher belakang lawan.
Saat bersamaan Mang Sen menendang perut lawan. Lalu dengan
cara membalikkan badan, dia lepa kan tendangan secara beruntun.
Uuukgh …
Lawan sengaja membiarkan Mang Sen terus menyerang. Dia tak
hiraukan perut dan dada sampai memar kena pukulan. Juga leher dan dadanya. Karena
dia tak merasa sedikitpun goyah, apalagi sampai jatuh ter sungkur dan tak
sadarkan diri.
Lawan berhasil menerapkan taktik ‘dipukul da dibiarkan’.
Karena tak lama kemudian, karena kehabisan nafas, mulanya berdiri, akhirnya
jongkok dan setelah itu rebah ke tanah.
Lalu ….?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar