Minggu, 15 Januari 2017

Senja di Kaki Candi (3-Habis)

Novelet 

Senja di Kaki Candi  (3)
By  Mas Amin

XI
TOOOOOS …
Taaaar …
Celeduk …
Celeduk …
Ban mobil pecah.
“Pinggirkan aja dulu Mas Abu,” kata Wati. Dia tengok kaca spion.
“Sepi Mas …”
Abu Bakar turun dari mobil. Dia tengok ban mobil. Ke belakang oke, balik ke depan, dia kernyitkan dahi. Ban depan sebelah kanan pecah. Apa boleh buat, harus ditambal atau ditukar cepat.
“Betus Wat …”
“Ya udah. Gantiin aja dengan yang baru,” ujar Wati. Dia Meminta Abu Bakar membuka pintu belakang. Ada ban serep, baru dibeli beberapa minggu yang lalu.
“Bisa sendirian ya Mas?!”
“Bisa … bisa.”
Abu Bakar pasang gaya. Kedua lengan baju dia singsingkan. Dia naik ke mobil dan mendorong keluar ban anyar itu.
Huuup …
Bergeser sedikit.
“Berat juga ini ban. Apa ya isinya sampai seberat ini?” Tanyanya dalam hati.
Wati dan ibunya berteduh di depan sebuah warung nasi. Keduanya berbincang-bincang dengan sesekali tertawa geli. Alhamdulillah, semua yang dibeli sudah dibungkus rapi. Mulai dari pakaian, sepatu, celana dalam, bra hingga handuk dan peralatan memasak dengan harga lumayan murah.
Sementara Abu Bakar masih terus berusaha  mengeluarkan ban mobil.  Meski lambat akhirnya bisa juga. Wati dan ibunya serta beberapa pengunjung yang membeli dan makan nasi di warung pada kaget men dengar suara benda jatuh.
Suara itu berasal dari belakang mobl Wati.  Saat Abu Bakar mendorong keluar, tepat di pinggir pintu, ban miring sebelum akhirnya jatuh terhempas.
“Wati … “
Wati menoleh.
“Sini dong sebentar.” Abu Bakar bilang, dia belum begitu mahir dan cekatan mengganti ban mobil.
“Tolong ya say?”
“Ya udah. Wati bantuin …”
Ban lama dilepas. Tak mudah memang. Karena harus menggunakan alat. Alat ada dan tersedia. Wati co ba mengutak-atiknya. Lama juga. Sampai berkeringat.
Abu Bakar, yang merasa kasihan melihat Wati bermandikan keringat, mengambil alih pekerjaan mema sang ban baru, dibantu seorang warga. Hanya perlu waktu lima belas menit, ban baru sudah terpasang. Mobil pun siap melaju.
“Mas … udah kepalang basah nih.” Kata Wati sambil menyeka peluh di seputaran lehernya.
“Bawa salinan kagak?”
Ha ha ha ha …
Sang ibu tertawa …
“Maksud Wati. Karena sudah ada warung, sekalianlah kita makan …”
“Oooo begitu.” Abu Bakar baru mengerti. “Sudah. Minum aja dulu. Makannya di rumah aja. Sebentar juga sampai. Nanti biar Mas yang beliin ya?”
“Bu!”
“Boleh juga …”
Panas mulai terik. Jalanan macet dimana-mana. Perjalanan yang semula hanya ditempuh setengah jam dari pasar ke rumah, kini bisa satu sampai dua jam.
Abu Bakar baru tahu bensin mobil tersisa sedikit. Perjalanan masih jauh. Dia pun berinisiatif membeli ‘ketengan’ di POM bensin.
Tapi bagaimana caranya?
“Udah. Nak Abu yang beli, biar Wati yang nyetir.”  Nurbaya memberi  jalan tengah.
“Tapi dirijennya enggak ada Mas. Gimana ya?”
“Udah … Biar Mas aja yang ngusahainnya.” Tanpa bertanya lagi, Abu Bakar berlari mencari SPBU.
Kemana?
“Tahu enggak dia Wati?”
“Mudah-mudahan aja tahu, Bu …”
He he he he …
Berlari ke utara mencari SPBU sambil membawa dirijen yang dia pinjam di rumah makan, Abu Bakar ha rus berjibaku dengan para pejalan kaki yang mulai memadati trotoar jalan. Belum lagi pengendara mo tor, yang karena harus menghindari macet, terpaksa ‘naik’ trotoar sebelum menemukan jalan pintas agar tepat waktu sampai di kantor dan rumah.
Wati berharap bensin mobil tidak sampai habis sebelum Abu Bakar pulang dari SPBU. Mau berhenti tak bisa, karena di pinggir jalan dipenuhsesaki kendaraan roda dua dan empat.
“”Udah. Kalau habis, Mas mu itu belum juga datang, kita dorong aja ini mobil,” saran ibunya.
“Ibu mau?”
“Harus maul ah. Masa enggak mau.”
“Sendirian?”
“Berdualah Wati.”
“Sama siapakah?”
“Sama kamu lah. Masa sama yang lain …”
Ha ha ha ha …
“Kok ketawa?”
“Kalau Wati ikut dorong, Bu, yang nyetir mobil ini siapa dong?”
“Biarin jalan sendiri aja lah …”
“Eeeeeem …”
“Gampang sayang. Kita dorong. Kalau ada mobil di depan, kita tarik dan tahan. Mobil pasti berhenti. Beres kan?”

XII
TERUS mendorong, berhenti dan mendorong. Itulah yang dilakukan Wati dan ibunya, Juwita.  Sementa ra Abu Bakar masih mengantri membeli bensin. Kepada Wati, dia minta bersabar  karena banyaknya ora ng yang mengantri di SPBU untuk mengisi bensin.
“Coba usahain cari tanah lapang. Kalau ada cepat-cepat pinggirkan.” Kata Abu Bakar yang terpaksa berpanas-panas mengantri.
“Kamu masih lama enggak Mas?”
“Enggak jugalah …”
“Enggak jugalah gimana?”
“Lema benar sih enggak. Sebentar juga enggak. Mungkin kira-kira 15-20 menit lah …Sabar ya ..!”
Tak jauh dari warung …
“Bu … Bu … sini!” Salah seorang juru parkir, setengah berlari mendekati Wati dan Juwita. Dia menawar kan jasa parkir di depan warung miliknya.
“Bu … Mau enggak?” Wati minta pendapat ibunya yang sudah kecapekan.
Si ibu menyerahkan sepenuhnya pada Wati. Dia menurut saja.
“Oke Mas.”
Bersama teman-teman yang lain, mobil Wati didorong ke pinggir, persis berhenti di depan warung lelaki tambun itu.
Suara klakson mobil bersahut-sahutan. Ada yang marah, memaki namun juga tak sedikit yang menaruh rasa kasihan setelah melihat Juwita dan Wati bemandikan keringat.  Nafas turun naik tak beraturan, muka pucat pasi.
Keduanya dipersilakan laki-laki empunya warung tadi bersitirahat di dalam warungnya yang tak terlalu besar. Lantaran sepi, keduanya menolak halus. Lebih enak dan nyaman duduk di depan warung. Tengok orang belanja dan lalu-lalangnya kendaraan.
Kriiiing …
Kriiiing …
Kriiiing …
“Ya.”
“Udah belum?”
“Dua orang lagi Wat. Sabar ya!”
“Kami menunggu di depan warung,” kata Wati yang mulai kelihatan tenang setelah tadinya berpacu dengan macet dan mendorong mobil yang mogok karena kehabisan bensin.
“Sebelah mana …?”
“Eeeem … depan jembatan penyeberangan. Tahu kan Mas?”
“Jembatan penyeberangan ada berapa banyak Wat?”
“Berapa ya? Eeem … gini aja.  Kalau kamu dari SPBU, gampang kok. Nanti kalau ketemu dan udah dekat jembatan yang warnanya kuning dan biru, ya telepon lagilah Wati, ya Mas?!”
“Okeee …”
Perut lapar. Kebetulan di dekat  warung ada penjual gado-gado. Wati dan Nurbaya memesan dua piring gado-gado. Sekadar pengganjal perut yang sudah minta segera diisi.
Ditemani air putih hangat, perut yang semula keroncongan, mulai terasa kenyang. Sambil makan, anak dan ibu ini cerita soal mobil yang mereka dorong dan parkir di depan warung kelontonga di pinggir jalan raya besar.
“Apa enggak salah kita Wat?” Sang ibu kuatir. Pasalnya, tak ada satu pun mobil yang parkir di sekitar tempat mereka duduk menyantap gado-gado sekarang ini.
“Tenang ajalah Bu. Bilangin aja mobil Mas yang punya warung, kalau ditanya petugas. Kan beres.”
“Oh iya ya …” Kata Sang Ibu sambil memasukkan sesendok gado-gado sepiring yang ditaburi kempelang merah ke  dalam mulutnya.
Bagaimana dengan Abu Bakar?
“Kembaliannya Mas,” kata petugas SPBU ketika Abu Bakar buru-buru hendak pergi membawa dirijen pinjaman itu.
Tidak mudah menemukan Wati dan ibunya saat ini. Bukan karena jauh, tapi mata sudah berkunang-kunang sementara perut sudah berbunyi sedari tadi … ‘kerooook  .. kerooook … kerooook …’ Badan gemetar dan muka, tak pula sempat tengok di kaca, pucat atau tidak.
“Mas udah dimana?”
“Ini depan kamu …!” Abu Bakar tertawa lebar. Dia berdiri sambil menenteng dirijen berisi bensin.
“Cukup apa Mas?”
“Mudah-mudahan cukup sampai di rumah ..” kata Abu Bakar. Dia mengajak Wati bersama-sama mengisi bensin.
Wati menawari Abu Bakar makan gado-gado setelah mengisi bensin dan mengembalikan dirijen pinja man itu kepada pemiliknya. Dia kuatir nanti, terlalu lama menahan lapar, jatuh sakit. Dia tahu lelaki di sampingnya ini pasti sudah sangat lapar.
Orangtua yang jauh dan hanya beberapa hari singgah di kota ini, Wati memang merasa bertanggung jawab pada keselamatan, keamanan dan kenyamanan, paling tidak selama Abu Bakar berada di dekat nya.
Bukankah dia telah menunjukkan I’tikad baik baik pada Wati dan orangtuanya. Kenapa harus menaruh curiga dan melaku kan sesuatu yang enggak-enggak. Tapi, seperti  kata Pak Refli, meminta bantuan Abu Bakar melakukan pekerjaan yang tidak terlalu berat, boleh saja.
“Agar dia lebih dekat dengan kita dan terutama kau Wati. Jadi dia tak gagap lagi sekiranya nanti, kalau diizinkan Allah SWT, kamu bisa menikah dengannya.”
“Ah ayah, pikirannya sampai kesana. Lamaran aja belum, ” kata Wati malu-malu tapi manja. Sudah lama dia tak dekat dengan ayahnya. Bermanja-manja saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas du lunya.

XIII
DI kampus …
“Mas tunggu aja ya?!” Kata Abu Bakar saat membukakan pintu mobil agar Wati bisa dengan mudah keluar sebelum memasuki gedung bertingkat dimana dia mengajar sore hari ini.
“Enggak kelamaan Mas?” Beberapa mahasiswa sudah mengerubunginya. Mereka menanyakan peruba han jadwal perkuliahan semester genap.
“Mudah-mudahan enggak …”
Tak sempat Wati mendengarnya karena harus menjawab pertanyaan mahasiswanya. Namun sebelum dia melangkah masuk ke pintu utama gedung bercat putih dan kecoklatan muda itu, sempat melambai kan tangan yang dibalas Abu Bakar dengan senyuman menawan.
Karena sepi, sebagian besar mahasiswa berbagai jurusan mulai mengikuti perkuliahan, Abu Bakar mene pikan mobil ke pelataran parkir kantor pusat. Beberapa mobil dari berbagai merek tampak terparkir rapi di sana. Serba baru dan keluaran terbaru.
Abu Bakar turun dari mobil. Dia menoleh ke sekitar kantor pusat. Ada tanah lapang rerumputan dengan bangku panjang   berderet di sana. Dia duduk tak jauh dari beberapa mahasiswa yang tengah asyik disku si, membaca buku dan tukar pikiran  di tanah rerumputan.
Kriiiing …
Kriiiing …
Kriiiing …
Esti yang baru pulang dari mengantar anaknya les, belum tahu kalau yang menelepon sekarang ini ada lah Abu Bakar. Karena kesibukannya, dia sampai lupa menanyakan kabar teman karibnya Wati dan Abu Bakar.
“Apa kabar Mbak Esti?”
“Baik kabarnya. Maaf ya Mbak sampai lupa. Enggak nelepon-nelepon kamu sama Wati.”
“Eggak apa-apa Mbak.”
Gimana-gimana, beres kan?”
“Beres.  Besok saya pulang. Karena besok sudah harus masuk kerja lagi,” kata Abu Bakar yang tersenyum  melihat seorang mahasiswa rebahan di bangku sambil membaca buku.
“Ya ya … hubungan kalian itu lho. Mbak pengen tahu. Lancar kagak?”
“Lancar aja Mbak.”
“Oke .. siiplah. Kamu sekarang dimana dik?”
“Di kampus Mbak. Mengantar Wati mengajar. Sekalian menunggunya pulang.”
“Asyiiik.”
Esti lega mendengarnya.
“Dik Abu …!”
“Ya Mbak.”
“Benar nih lancar.”
“Benar. Saya dan Wati baik-baik saja komunikasinya.”
“Maksud Mbak. Tanggapan Watinya, gimana gitu?”
“Kalau itu saya enggak tahu Mbak.”
“Kok bisa enggak tahu? Katanya tadi lancar …”
“Ya namanya hati orang Mbak. Apa Wati suka sama saya, saya belum tanya. Tetapi orangtuanya baik dan ramah sama saya, Mbak. Kayaknya mereka open aja gitu.”
“Ya baguslah. Tapi ingat lho dik. Kamu itu dengan Watinya, bukan orangtuanya.”
Ha ha ha ha …
“Mbak ini ada-ada saja. Ya tentulah. Cuma mereka kan orangtuanya Wati. Suara mereka pasti masih didengar Wati …”
“Tapi kamu harus terus terang dong dik. Sebelum pulang kamu harus minta kepastian gitu. Jadi enggak percuma kamu jauh-jauh datang, eee pulangnya cuma bawa kaki doang …”
Ha ha ha ha …
“Bilang apa Mbak?”
“Bilang apalah. Masa udah segede ini masih harus diajarin.”
“Malas Mbak.”
“Kenapa? Kamu malu apa?”
“Bukan Mbak. Belum terbiasa aja ngomong yang gituan …”
“Harus dibiasakan dong dik. Gimana Wati tahu kamu suka kalau kamu enggak bilang suka ke dianya.”
“Nantilah Mbak.”
“Jangan nanti-nanti dik. Sekaranglah saatnya. Kamu harus berani. Kamu pasti bisa. Coba dululah …”
Abu Bakar berpikir sejenak.
“Dik …!”
“Boleh minta tolong enggak Mbak?”
“Tolong apa?”
“Mbak juga telepon Wati. Bilangin ke dia soal hubungan kami berdua ini Mbak.”
“Oke. Nanti Mbak telepon. Tetapi kamu harus berani lho bilangin ke Wati, kalau kamu suka sama dia. Kamu suka kan?”
Abu Bakar diam.
“Dik ..!”
“Ya Mbak. Sukalah sama dia.”
“Alhamdulillah … ya udah. Nanti Mbak ngomong ke Watinya …”
“Makasih Mbaaaaak …”
Wati yang baru keluar dari ruang kuliah, belum langsung pulang. Dia masih harus merapikan ruang ker janya terlebih dulu . Kemudian menerima beberapa mahasiswa yang melaporkan siap mengikuti ujian akhir fakultas dengan melengkapi berbagai persyaratan yang diminta pihak perguruan tinggi.

XIV
“SUSAH amat sih nelepon elu, Wat?”
“Ini kan bisa. Dasar bawel,” kata Wati menjawab sindiran Esti. Lama dia tak menelepon, sore ini tiba-tiba menelepon, ada apa gerangan.
“Kemana aja sih kamu?”
“Di kampuslah. Masa di dapur. Dasar bawel …”
“Bawel juga …”
Hi hi hi hi …
Keduanya pun tertawa. Sejak masih kuliah dulu, lepas bercanda yang enggak ada ujung pangkalnya, ketawa juga akhirnya.
Berlanjut di rumah makan, di kamar tidur dan bahkan di kampus, bersama teman kuliah satu jurusan. Dengan cara itulah, Esti dan Wati tetap akur dan akrab sampai kini.
“Elu itu serius apa enggak sih sama Abu itu, Wat?”
“Menurut elu gimana?”
“Lho .. kok tanya ke gue. Kan elu yang punya gawean …”
“Elu kagak apa. Dasar pengangguran …”
“Bawel lu ah …”
Hi hi hi hi …
“Wati …”
“Apa dong?”
“Serius ah …”
“Lanjut aja tuan puteri …” Wati memilih berdiri di dekat jendela ruang kerjanya. Melihat keluar, hampa ran rerumputan dan pepohonan nan hijau.
“Gini .. elu itu naksir kagak sih sama si beliau itu?” Esti hak berharap Wati tak menolak alias enggak nak sir Abu Bakar. Kasihan dia. Umur bertambah, sudah tua belum juga nikah. Payah …
“Naksir sih enggak …”
“Ah yang benar Wat?”
“Cuma fall in love aja …”
“Ha …!”
Ha ha ha ha   
 “Nah gitu dong. Sekarang, apa rencana elu Wat?”
“Pulang,” jawab Wati sekenanya.
Sesaat diam. Wati melihat dari kejauhan Abu Bakar duduk termenung seorang diri. Di dekatnya ada beberapa mahasiswi semester akhir tengah mendiskusikan mata ujian akhir dan studi banding.
“Wati …!”
“Eeeem …”
“Apa eeem .. em tu bawel?”
“Gue tengok Mas Abu lagi …” Abu Bakar berdiri, lalu masuk mobil setelah melihat jam tangannya. Kuatir terlambat menjemput Wati, padahal  jarak antara dia dengan sang pujaan hati amatlah dekat.
“Lagi ngapain?”
“Kayaknya mau jemput gue deh …”
“Baguslah,” ucap Esti. Dia minta Wati membuka pintu hatinya. Sebab, Abu Bakar memang sudah siap maju, kini berdiri di depan pintu. Sayang, pintunya masih tertutup rapat. Biar enggak lama menunggu, segeralah buka sayang …
“Sssst .. ini rahasia kita berdua lho Wati.”
“Rahasia apaan sih …?”
“Tadi, Abu Bakar telepon gue. Curhatlah dia soal hubungan kalian berdua. Dia bilang …”
“Bilang apa?”
“Bawel lu.”
“Cepetan bawel. Aku mau turun nih.” Wati sudah berkemas. Siap menuruni anak tangga, keluar gedung menemui Abu Bakar.
“Bawel ah!”
“Tutup teleponnya ya!”
“Jangan … jangan bawel.” Esti bilang, Abu Bakar suka sama anak perempuannya Pak Refli dan Bu Juwita Refli.  Itu saja.
“Masa?!”
“Gue ini temen elu atau setan sih?”
“Ya dua-duanyalah. Kadang temen, lain waktu setan juga …”
He he he he …
Piiiin …
Sebelum mematikan telepon selulernya, Abu Bakar sudah turun dari mobil. Membuka pintu dan menyi lakan Wati masuk.
“Sekarang Mas?” Wati melirik jam tangannya. Sudah pukul setengah enam sore.
“Nanti juga boleh.”
“Pulang yuk!” Ajaknya. Kalau sudah malam, di sekitaran kampus, sering  macet di jalan. Sampai di rumah bisa-bisa tengah malam. Apa kata orang.  
Kampus masih ramai. Pedagang gerobak mulai memasang tenda, kursi dan meja makan. Beberapa pe ngunjung mulai berdatangan. Memesan gorengan, bakso dan aneka kudapan ringan. Langit cerah. Ja lanan tak macet. Kendaraan roda dua dan empat berseliweran, lewat pertigaan dan simpang empat  menuju pusat kota.
Esti dan Wati, keduanya belum juga saling bertutur kata. Keduanya masih fokus dengan lamunan ma si ng-masing. Wati ingat pesan Esti barusan yang memintanya tak berlama-lama membuk pintu gerbang cinta. Sementara Abu Bakar berharap keinginannya untuk mengutarakan isi hati tak menemui kendala.
Mereka berdua baru bicara setelah Wati meminta Abu Bakar menepikan mobil.  Singgah di Pondok Anu gerah, sekadar untuk menikmati  aneka kudapan ringan dan teh manis penghangat perut dan kerongko ngan.

XV  
 “ENAAAK …!”
“Sebenarnya …”
Hi hi hi hi …
Wati tersipu malu, sementara Abu Bakar tertawa lucu. Dua kali ‘ngucap’ barengan sambil menunggu pesanan.
Sayup-sayup terdengar tembang manis ‘Fall in Love’ dari Prilly Latuconsina …

                  Baru kali ini
                  Kurasakan ada yang beda
                  Tadinya tak pernah
                  Menatapnya lebih lama

                      Awalnya biasa
                      Semakin hari semakin berbeda
                      Getarannya tak lagi sama

                          Can you see the secret of my eyes
                          Can you feel what I feel here inside
                          I feel in love with you

                                Haruskah kukatakan cinta
                                Kuragu tuk mengatakannya
                                I feel  in love with you (with you)

                                       Dan waktu pun melambat
                                       Saat aku tak ada di dekatnya
                                       Persahabatan ini mulai berubah

                                          Can you see the secret of my eyes
                                          Can you feel what I feel here inside
                                           I feel in love with you

                                             Haruskah kukatakan cinta
                                             Kuragu tuk mengatakannya
                                             I fall in love with you (with you)

                                                  Dan aku tak bisa lagi menahan
                                                  Rasa ini di dada
                                                  Haruskah kukatakan padanya
                                                  Kujatuh cinta
                                                  Aaah …
                                                  Uuuuuh ….

                                                        Can you see the secret of my eyes
                                                        Can you feel what I feel here inside
                                                        I fall in love with you

                                                            Haruskah kukatakan cinta
                                                            Kuragukan tuk menyatakannya
                                                            I fall in love (I fall in love)
                                                            I fall in love (I fall in love)
                                                            I fall in love with you

“Wati … Bantu aku untuk mengatakannya ..” Abu Bakar berusaha tetap tenang, walau hatinya galau, apa mungkin bisa tenang saat isi hati dibuka.
“Katakanlah Mas. Aku siap mendengarkannya,” ucap Wati. Sulit beralih pandang. Sungguh sejuk mena tap mata itu.
“Wati, aku …” Mulut terasa berat untuk berucap, walau hanya sepatah dua patah kata. Seakan orang ramai mengelilingi keduanya.
“Atur nafas Mas.”
Tarik … hembuskan. Tarik … hembuskan. Tarik … hembuskan. Sampai tujuh kali Abu Bakar mengatur na fasnya.
“Gimana Mas?”
“Lumayanlah …” Kata Abu Bakar. Lidahnya tak kelu lagi. Perasaannya kini lebih tenang.
Pesanan datang …
“Minumlah dulu, Mas.” Kata Wati, sesaat setelah pelayan wanita kedai teh menyilakan keduanya untuk menyeruput teh dan mencicipi kudapan ringan beda rasa.
Celeguk …
Celeguk …
Aaaah …
“Gimana sekarang Mas”
“Alhamdulillah, sudah fit  seratus persen kayaknya.”
“Mau ngomong atau terus minumnya?”
Abu Bakar jadi malu hati. Sebenarnya dia mau menyantap martabak telur yang tersaji. Perut lapar, minta segera diisi. Tapi, belum lega rasanya sebelum isi hati ini diutarakan dan didengar oleh si dia.
“Wati …”
“Ya udah. Cintanya Mas Abu, Wati terima …”
“Alhamdulillah …” Ucap Abu Bakar. Sesaat menunduk, sebelum membalas tatapan sendu Wati yang lain dari biasanya.
“Udah kan?”
Abu Bakar mengangguk.
“Pulang yuk!”
“Sekarang?”
Gantian Wati yang mengangguk. Dia tersenyum puas.
Hal serupa juga dilakukan pasutri yang belum lama menikah dari deretan kursi paling belakang.

TAMAT                     
  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar