Cerita Fiksi
Kota Lama (1)
Ditulis oleh aminuddin
1
“KOMANDAN. Kita sudah
terkepung …” Ucap Sersan Madi. Lewat teropong alias keker, dia melihat pasu kan
musuh sudah bergerak dan mengepung Benteng Kota Lama.
“Coba kulihat sersan!” Sersan Rijan mengambil alih keker.
Lama dia mengamati sebelum akhirnya me nyerahkannya kembali kepada Sersan Madi.
“Dan!”
“Geser. Kau kemari sersan.” Ke kanan, Mayor Latif mengamati
sungguh-sungguh pasukan tank dan berkuda itu. Mulai dari perkiraan jumlah, keleluasaan
bergerak dan melakukan penyerangan serta persenjataan yang dimiliki.
“Ke belakang sebentar sersan …!”
Ada ruang kecil menuruni anak tangga. Komandan Latif bersama
lima anak buahnya menggelar rapat ki lat untuk mengatur strategi menghadapi serangan pasukan musuh.
“Mereka jelas-jelas menggunakan pasukan tank komandan.
Artinya, mereka betul-betul ingin mengha bisi tempat ini termasuk kita semua
yang ada di sini,” kata Sersan Zaini. Untuk melawannya sangat sulit
karena yang mereka punyai saat ini hanya meriam, granat dan senjata laras panjang.
“Apa perlu kita menyingkir saja komandan,” usul Sersan
Rijan. Bukan hanya dari segi jumlah personil pa sukan, persenjataan saja
bagaikan langit dan bumi. Sangat jauh tidak berimbang.
“Menyingkir kemana Sersan Rijan?” Tanya temannya, Sersan
Permana.
“Di belakang benteng yang kita diami sekarang ini ada jalan
setapak. Kita lewati saja jalan itu sekarang. Mumpung pasukan musuh belum
mendekat dan merapat,” jelas Sersan Rijan.
“Saya setuju kalau begitu. Cuma boleh saya tahu sersan
kemana tujuan kita setelah ini?” Sersan Daus ragu dan kuatir tempat
persembunyian baru justru lebih memungkinkan musuh menemukan kebera daan
mereka.
“Di sana kan hutan. Kita bisa bersembunyi sejenak di sana.
Menghindari serangan pasukan musuh. Dari pada kita bertahan di sini,” terang
Sersan Rijan.
Para sersan akhirnya sepakat untuk segera meninggalkan
Benteng Kota Lama demi menghindari gempu ran bertubi-tubi yang bakal dilakukan
pasukan musuh.
Namun tidak demikian halnya
dengan Mayor Latif. Berat rasanya untuk meninggalkan benteng berse jarah
ini. Sebab, inilah satu-satunya benteng yang tersisa.
“Tapi Dan, nyawa lebih penting,” kata Sersan Madi.
Maksudnya, buru-buru Sersan Madi menjelaskan, dengan mereka memutuskan
mengungsi dari benteng ini, perlawanan masih bisa mereka lakukan dan kobarkan.
“Kalau kita tetap bertahan
di sini komandan, perlawanan kita bakal berakhir sementara rakyat di
bela kang kita tidak bakalan tahu kalau musuh sebenarnya sudah hampir menguasai
negeri ini,” terang Ser san Daus.
“Betul komandan. Kami berlima siap berada di depan komandan.
Nyawapun kami rela korbankan asal kan komandan selamat,” tegas Sersan Zaini.
“Terima kasih sersan-sersanku. Tapi bukan itu maksudku …”
Suara komandan Latif terdengar lantang. Tak sedikit pun ada rasa gentar, takut,
cemas, apalagi gugup menghadapi situasi yang mencekam ini.
Kelima sersan tak bertanya lebih lanjut.
“Benteng ini adalah saksi perjuangan kita sersan. Menurutku,
aku lebih baik mati mempertahankan negeri ini
di benteng ini. Daripada meninggalkan tempat ini hancur rata dengan
tanah sementara aku selamat …”
“Tapi Dan, pertempuran kita sangat tidak berimbang. Jika
kita tetap bertahan di tempat ini apa
bukan berarti kita sama artinya memberi peluang kepada mereka untuk menghabisi
kita,” jelas Sersan Daus memberikan pertimbangan.
“Betul komandan,” potong Sersan Madi, “ dengan meninggalkan
tempat ini tidak berarti kita penakut, pengecut dan melarikan diri dari
pertempuran. Tidak komanda. Kita siap tempur. Kita siap mati dan kita siap
berjuang sampai titik darah penghabisan.”
“Saya setuju dengan apa yang barusan dijelaskan Sersan Madi,
komandan. Kita harus tetap ada. Kita harus tetap hidup untuk mempertahankan
pertempuran ini. …” Kata Sersan Permana berapi-api.
Mayor Latif belum memutuskan, pergi atau tidak. Sementara
Sersan Zaini dan Sersan Madi bergantian meneropong dari atap benteng keadaan
terkini posisi pasukan musuh.
Keduanya saling tatap. Lalu buru-buru turun menemui teman
dan komandan mereka. Mereka tampak cemas karena pasukan musuh sudah kian
mendekat. Sebelumnya hanya samar terlihat
pasukan tank, kini semakin jelas dengan jumlahnya tidak sedikit.
“Dan. Karena mereka sudah semakin dekat, apa tak sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini.” Sersan
Madi berharap sang komandan bisa secepatnya
mengubah keputusan.
2
DEEEEP …
DEEEEEP …
Anak panah menancap persis di atas kepala Mayor Latif. Tentu
saja sangat mengagetkan. Bersama lima anak buahnya, dia memilih tidak melakukan
serangan balasan. Tapi berlari secepat mungkin menelusuri jalan setapak
belakang benteng.
Jegaaam …
Guaaar …
Jegaaam …
Guaaar …
Bersamaan terdengarnya dentuman tembakan, lemparan granat
dan anak panah, Mayor Latif dan anak buahnya melompat sambil berguling-gulingan
ke semak belukar. Bukan saja tanah di
sekitar benteng ya ng mengalami retak-retak, tapi juga dinding benteng,
walaupun kokoh, karena terus menerus dibombar dir, akhirnya jebol juga.
Membentuk lubang besar yang menganga.
Tak lama kemudian, pasukan berkuda tiba di depan benteng.
Seorang pria tegap dan mahal senyum, Jenderal Kick namanya, turun dari kudanya.
Dia memandang tajam ke pintu gerbang dan sekitarnya.
Beberapa saat kemudian, dia memerintahkan beberapa anak
buahnya memeriksa pintu gerbang yang tertutup. Ternyata tidak dikunci. Jenderal
Kick pun masuk ke dalam benteng dengan menunggangi kuda berwarna putih.
“Kurang ajar. Pengecut …!” Teriak Jenderal Kick setelah
menerima laporan dari beberapa anggota pasu kan terlatih seusai memeriksa
setiap ruangan dalam benteng. Mereka tak berhasil menemukan jejak Mayor Latif
dan anak buahnya.
Jenderal Kick marah
besar.
Jeguuur …
Kraaak ...
Guaaaar …
Pasukan tank berhasil
mendobrak paksa pintu dan dinding bagian depan pintu gerbang, sehingga
rusak berat. Sesampainy di lapangan
utama bagian dalam benteng, keluar dari tank puluhan lelaki tegap. Me reka
melompat turun, lalu berteriak dan
bersorak sorai seolah baru saja memenangi sebuah pertem puran.
“Kapten Muck!”
“Siap Jenderal.”
“Suruh anak buahmu berhenti berpesta,” perintah Jenderal
Kick. Dia sangat tidak suka berpesta semen tara incaran mereka masih leluasa
berkeliaran di luar benteng.
Seketika senyap. Tak ada suara yang terdengar. Sebanyak lima
ratus anggota pasukan terlatih itu seren tak memandang ke depan tanpa berkedip
sedikit pun. Mereka bersiap mendengarkan seruan jenderal yang mereka patuhi,
segani dan takuti itu.
“Anda siap perang untukku?”
“Siaaap …”
“Anda siap berperang
untuk kedaulatan negara kita?”
“Siaaap …”
“Mulai detik ini saya perintahkan kalian untuk menangkap
Mayor Latif.”
“Siap jenderal …”
“Jika kalian tidak berhasil menangkapnya , hidup atau mati,
kalian siap menanggung akibatnya?”
“Siaaap …”
“Siap mati?”
“Siaaap jenderal …”
“Terima kasih. Untuk sementara kita beristirahat dulu di
benteng ini. Sedangkan beberapa anggota pasukan berkuda yang ditunjuk Kapten
Muck harus sudah bergerak meninggalkan tempat ini.”
“Siap laksanakan …!”
Di jalan setapak …
“Dan. Apa tidak sebaiknya kita memanjat pohon sekarang, biar
aman.” Saran Sersan Madi.
“Buat apa sersan? Bukankah perjalanan kita masih jauh sementara
pasukan musuh sudah berhasil merebut benteng Kota Lama?”
“Mengatur ulang strategi, Dan.”
“Tak usah. Hari belum sore. Sebaiknya kita lanjutkan dulu
perjalanan ini dengan cara melingkar …”
“Siap laksanakan …”
Pasukan berkuda bersiap meninggalkan benteng. Mereka
bergerak lepas tengah hari dengan diper senjatai pistol, panah dan pedang.
Dipimpin langsung Kapten Muck, dua puluh lima anggota
pasukan berkuda terlatih ini melaju kencang menyusuri jalan memutar .
3
DARI atas pepohonan, dengan sabar Sersan Madi menunggu giliran penunggang kuda terakhir lewat. Sa yang, entah atas dasar pertimbangan apa, Kapten Muck memerintahkan anak buahnya memperlambat laju kuda.
DARI atas pepohonan, dengan sabar Sersan Madi menunggu giliran penunggang kuda terakhir lewat. Sa yang, entah atas dasar pertimbangan apa, Kapten Muck memerintahkan anak buahnya memperlambat laju kuda.
Kelepak …
Kelepak …
“Stop!” Perintah Kapten Muck. Berhenti persis di bawah pohon
rindang tempat Sersan Madi bersembu nyi.
“Kopral …!” Dengan bahasa isyarat, Kapten Muck memerintahkan
berapa anak buahnya memeriksa ke adaan sekitar, terutama pepohonan yang biasanya dijadikan tempat yang nyaman untuk
bersembunyi.
Hampir setengah jam Kapten Muck menunggu. Saat menunggu
itulah, dia menginstruksikan anggota pa sukannya untuk lebih waspada dan bersiaga
penuh guna mengantisipasi serangan dadakan. Selain bisa mematikan juga membuat
pasukan kocar-kacir dan tidak lagi konsentrasi untuk melakukan pengejaran dan penangkapan.
“Lapor kapten. Sudah diperiksa, Mayor Latif dan anak buahnya
tidak diketemukan,” kata Kopral Robert.
“Oke … Kita lanjutkan pencarian.” Perintah Kapten Muck.
“Siap laksanakan …!”
Sersan Madi yang hampir jatuh terpeleset dari atas pohon
baru bisa bernafas lega setelah pasukan ber kuda bergerak melanjutkan
pencarian. Dalam hatinya ia ingin sekali melompat dan menghabisi penung gang
kuda paling buncit.
“Tak usah dikejar sersan.” Cegah Mayor Latif saat Sersan
Madi hendak mengejar penunggang kuda ter akhir yang agak memperlambat laju
kudanya.
“Kita ubah saja strategi,” jelas Mayor Latif. Meminta anak
buahnya berkumpul sejenak di bawah pohon sambil lesehan.
Mayor Latif menyampaikan arahan kepada lima anak buahnya
untuk secepatnya mendekati benteng Ko ta
Lama.
“Apa tidak berisiko Dan?” Tanya Sersan Rijan.
“Apa tidak ditunda dulu komandan. Kita fokus dulu mengejar
pasukan berkuda. Kita habisi dan senja tanya kita ambil, baru kita serang
pasukan di benteng itu,” saran Sersan Daus.
“Betul Dan. Kita akan lebih mudah melakukan penyerangan bila
bersenjatakan lengkap.” Sahut Sersan Zaini.
“Tapi itu memerlukan waktu yang lama sersan. Apa mungkin
bisa dengan cepat kita susul dan lumpuh kan pasukan berkuda itu. Menurutku
fifty-fifty lah. Lagian jarak kita dengan benteng lebih dekat. Mum pung ada
kesempatan, ” jelas Mayor Latif.
“Kalau begitu apa sasaran utama penyerangan kita komandan?”
Tanya Sersan Pramana.
“Jenderal Kick,” tandas Mayor Latif penuh semangat.
“Siap Dan.”
“Kapan penyerangan dimulai?” Sersan Daus sudah tak sabar.
Dia berharap misi mereka, walau terasa mustahil, bisa sukses sehingga
pertempuran ini secepatnya diakhiri.
Mereka sepakat mulai bergerak lepas Magrib. Mengendak-endap,
Mayor Latif beserta lima anak buah nya memanjat dinding belakang benteng yang dijaga beberapa anggota
pasukan tank bersenjatakan lengkap.
Setelah sampai di atap, mereka dihadapkan pada tiga anggota
pasukan musuh yang berjaga-jaga di seki tar tumpukan besi rongsokan bekas
meriam yang hancur terkena tembakan.
Dengan cepat Sersan Madi, Sersan Rijan dan Sersan Zaini
bergerak. Tidak mudah memang. Karena ketiga prajurit terlatih berbadan tegap
itu melakukan perlawanan.
On by one. Sersan Madi menghadapi si mancung. Pertarungan
berlangsung seru. Saling jual beli pukulan. Sama-sama terkena pukulan di dagu.
Ketika si mancung hendak memukul bagian belakang kepala
Sersan Madi, Mayor Latif dengan sigap me nahannya untuk kemudian, sambil membalikkan badan,
melepaskan tendangan keras mengarah ke tengkuk lawan.
“Uuuuukh …”
Tak berdaya. Sersan Madi mendekatinya. Lalu dia angkat
kepala si mancung dan …
Keraaak ..
Kraaak …
Leher patah.
Tewas seketika.
Lain lagi dengan Sersan Rijan. Lawan yang dia hadapi berbadan
kekar, sangat kuat dan sulit ditaklukkan begitu saja. Kendati terus menerus
dihujani pukulan dan tendangan, tetap tak bergeming. Bukannya mundur, malah
terus mendekat.
Merasa terdesak, Sersan Rijan terus melepaskan pukulan.
Namun terhenti setelah kedua tangannya berhasil ditangkap si kekar. Sambil
melotot tajam, dia tendang perut dan buah zakar Sersan Rijani.
“Eeeekh …”
“Aduh. Biji pelirku kemana.” Ringisnya.
Tak sampai di situ. Dibantingnya Sersan Rijan sebelum Sersan
Madi menolongnya dengan menendang balik perut si kekar. Sempat terpundur
beberapa langkah.
4
MELIHAT Kekar agak
sempoyongan, Sersan Madi melepaskan tendangan ke dada, lalu menyusur tanah
sambil berputar .
Gedebug …
Keker terjengkang.
Dengan satu kali pukulan menghantam perut, Keker akhirnya berhasil dikalahkan. Sementara
Sersan Zaini dan Mata Besar masih uring-uringan, saling ejek dan mengancam.
Sampai akhirnya …
Praaak …
Deeep …
Guaaar …
Sersan Zaini terjengkang. Punggungnya mengenai dinding
benteng. Dia mencoba bangkit. Namun
belum sempat mengambil ancang-ancang melakukan pembalasan, dadanya terkena
tendangan keras si Mata Besar.
Masih sempat mengelak ke kanan, sehingga tendangan kali
berikutnya dari si Mata Besar, tak mengena. Saking kerasnya tendangan itu, dinding benteng bergetar sesaat.
Praaak …
Traaach …
Paaak …
Pukulan keras dengan senjata
oleh Sersan Madi dan Rijan, membuat Mata Besar terhuyung-huyung. Se
belum jatuh terjerembab kena bogem
mentah Mayor Latif yang mengarah tepat ke mukanya.
Kini Mayor Latif dan anak buahnya sudah memiliki senjata
baru kepunyaan tiga prajurit lawan yang baru saja dilumpuhkan. Melengkapi
persenjataan yang ada, sehingga lebih leluasa untuk bergerak,melancar kan dan
sekaligus mengantisipasi serangan dadakan.
“Berpencar sersan!” Perintah Mayor Latif. Begitu selesai
menuruni anak tangga, mereka memencar da lam
tiga kelompok. Kelompok pertama Mayor Latif da Sersan Madi, kelompok
kedua Sersan Rijan dan Sersan Zaini, dan kelompok ketiga adalah duet antara
Sersan Daus dengan Sersan Permana.
Mereka menuju pintu yang berbeda. Kelompok satu pintu paling
ujung sebelah kanan. Kelompok kedua masuk lewat pintu tengah, sedangkan
kelompok ketiga melewati pintu depan
bawah tangga.
Ketika memasuki pintu, beberapa orang pengawal sedang
melakukan patrol mengelilingi setiap ruangan dalam Benteng Kota Lama. Ruangan
itu terdiri dari beberapa buah pintu, dan untuk bisa masuk lewat pintu, ada
jalan setapak berlapiskan semen coran
serba putih.
Patroli pasukan Jenderal Kick ini dilakukan secara bergantian per sepuluh menit. Dua-dua,
tiga-tiga, dan di tempat tertentu bisa satu orang anggota pasukan atau lebih
dari empat.
Prajurit yang masih muda muda usia itu dilengkapi senjata
laras panjang yang siap ditembakkan bila ada hal-hal yang mencurigakan dan
dapat mengganggu keamanan dan keselamatan Jenderal Kick.
Jenderal Kick sendiri
berada di ruangan yang sangat dirahasiakan. Sulit untuk menemukannya karena tak
bisa diduga dengan pengawalan yang sangat ketat.
Namun bagi Mayor Latif, serahasia apapun tempat
persembunyian Jenderal Kick, tak menyurutkan te kadnya dan anak buahnya untuk
menemukan jenderal yang sudah berkepala
empat itu secepat mung kin.
Sebab, dengan diketemukannya Jenderal Kick, kemenangan sudah
separo di tangan. Untuk mewujudkan hal itu,
mereka harus berburu waktu. Karena bila lambat mendapatkan Jenderal
Kick, bakal menemui hambatan besar karena pasukan berkuda yang dikomandoi
Kapten Muck akan segera kembali ke ben teng untuk melaporkan segala kejadian
yang mereka temui di lapangan kepada pimpinan mereka, Jenderal Kick.
“Sersan …!” Bisik Mayor Latif. Di dekat mereka ada seorang
prajurit tengah duduk menjaga pintu masuk menuju ruangan tengah utama. Mungkin
kecapekan, sesekali dia mengantuk, untuk kemudian membu ka matanya. Berdiri
dan duduk lagi.
Lelaki berhidung mancung dan tampan itu diberi tugas menjaga
pintu masuk. Selain anggota pasukan, ti dak diperbolehkan masuk melewati pintu
itu, selain tamu khusus yang telah
mendapat izin masuk dari Jenderal Kick.
5
SALAH seorang anggota pengawal Jenderal Kick memberitahu ada
penyusup yang berhasil menyusup masuk ke dalam Benteng Kota Lama. Kendati belum
mendapat laporan pasti siapa penyusup itu, Sang Jenderal memastikan si penyusup adalah Mayor Latif dan
anak buahnya.
“Letnan! Tambah anggota pasukan pengawal,” perintah Jenderal
Kick. Ruangan yang semula hanya dijaga empat orang pengawal, kini bertambah
menjadi dua belas.
Jenderal Kick memerintahkan untuk menutup pintu keluar masuk
benteng dan tentunya menangkap hidup-hidup Mayor Latif. Dia mengerahkan pasukan terbaiknya menyebar
ke setiap ruangan benteng.
“Tangkap dan siksa mereka,” kata Jenderal Kick geram. Ingin
rasanya dia menghabisi Mayor Latif secepat nya. Karena hanya dia penghalang
satu-satunya pasukan yang dia pimpin untuk menaklukkan negeri ini.
Penyebaran anggota pasukan musuh ini tanpa sepengetahuan
Mayor Latif. Dia tak menyangka begitu ce patnya melakukan pengepuangan dengan menutup setiap ruang yang memungkinkan
mereka bisa menemukan jejak Jenderal Kick.
Sersan Daus dan Sersan Permana, mereka berdualah yang
pertama kali melihat anak buah Jenderal Kick beraksi. Awalnya mereka berdua
mengira ada sesuatu di luar benteng, tapi ternyata tidak. Mereka, sete lah
terlihat salah seorang anggota pasukan, justru dikejar secara membabi buta.
Walau sempat menghin dar dari kejaran, lama kelamaan terdesak juga.
“Itu mereka letnan! “ Teriak sersan berkepala botak. Sersan
Daus dan Sersan Pramana bersembunyi di balik dinding pembatas ruangan tengah.
Dooor …
Dooor …
Terdengar suara tembakan beberapa kali. Sersan Rijan dan
Sersan Permana mendengar suara tembakan itu. Demikian juga halnya dengan Mayor
Latif dan Sersan Madi.
“Tangkap mereka!” Perintah Letnan Ben. Hanya dalam tempo
kurang dari lima menit, Sersan Daus dan Sersan Permana berhasil ditangkap.
Keduanya diseret paksa Letnan Ben ke ruangan atasannya.
Tugas Letnan Ben sendiri diambil alih sersan botak yang
telah bergerak cepat mencari keberadaan Ma yor Latif dan tiga anak buahnya yang
masih tersisa.
Jenderal Kick yang sudah memuncak emosinya, memerintahkan
Letnan Ben menyiram keduanya dengan air agar siuman kembali.
Ketika sadar, Jenderal Kick yang sempat diejek dengan panggilan ‘Jenderal Murahan’ dihardik Letnan Ben. Tiga pukulan keras
menghantam muka Sersan Daus dan Permana sampai
mengeluarkan darah.
“Hai pejuang tengik. Kenapa tertangkap. Bodoh kan? Dasar
sersan bego. Mana nyali kalian?” Tantang Jenderal Kick. Dia angkat kedua dagu
sersan senior itu, untuk kemudian ditendangnya menggunakan dengkul.
Terpental …
Belum sempat berdiri, Letnan Ben menyeret paksa kedua sersan
itu masuk ke ruangan gelap. Di ruangan inilah keduanya sudah ditunggu lima
bodyguard yang bertugas mengawal dan
mengamankan Jenderal Kick.
Selain menanyakan maksud dan tujuan menyusup masuk ke
Benteng Kota Lama, Sersan Daus dan Ser san Permana mendapat siksaan yang berat
dengan dipukuli seluruh bagian tubuh mereka secara ber gantian menggunakan
tangan kosong dan benda tajam.
Pintu tertutup. Tak pula tahu apa yang bakal dilakukan
kelima bodyguard itu kepada keduanya . Yang ki ta tahu kemudian Jenderal Kick
mengucapkan terima kasih kepada Letnan Ben yang sukses menjalankan misinya
dengan menggelar pesta minum keci-kecilan.
“Ayo kita minum,” kata Jenderal Kick ketawa lebar sembari
mengangkat tinggi gelas berisi air
minuman keras.
Ha ha ha ha …
Malam ini tampaknya menjadi malam yang istimewa bagi
Jenderal Kick. Kenapa? Karena tak lama
kemu dian sersan botak menemuinya sambil menyeret masuk Sersan Rijan dan Sersan
Zaini.
“Ha ha ha ha … Cecunguk mana lagi yang dibawa sersan?” Ejek Letnan
Ben. Menatap sejenak Sersan Rijan dan Sersn Zaini, lalu dia ludahi satu persatu
muka keduanya. Sebelum memerintahkan sersan botak untuk melempar mereka ke
lantai.
6
“SIAP sersan?” Mayor Latif berencana melumpuhkan tiga
anggota pasukan pengawal yang berjaga-jaga di sekitar pintu masuk menuju
ruangan Jenderal Kick.
Sersan Madi menyatakan lebih dari siap dan segera beraksi.
Namun, ketika salah seorang dari ketiga pe ngawal itu beranjak pergi, Mayor
Latif mencegahnya.
“Tunggu dan lihat,” bisik Mayor Latif. Lelaki brewokan itu
ternyata hendak ke toilet, mau buang air ke cil. Toilet berada dekat Sersan
Madi berdiri.
Kebetulan, kata Sersan Madi dalam hati, inilah saatnya aku
unjuk gigi.
Sekreet …
Kraaak …
Degup …
Saat belok ke kanan, Sersan Madi mencengkram leher si brewokan.
Sempat melawan, namun setelah kepalanya membentur dinding benteng,
penglihatannya kabur. Dengan satu kali
gerakan memutar ke kiri, Sersan Madi berhasil mematahkan leher lawannya.
Roboh seketika.
Tersisa dua. Mayor Latif mengeluarkan badik curiannya.
Mengendap-endap bersama Sersan Madi, ke dua pengawal yang masih muda dan asyik
mengobrol itu, sama sekali tak menyangka
tubuh mereka tiba-tiba seolah melayang dan terdorong dengan cepatnya ke depan.
Kepala membentur dinding sementara senjata yang melilit di
pingang terjatuh ke lantai.
Gek …
Ceklek …
Breaaak …
Keduanya tewas ditikam Mayor Latif dan Sersan Madi. Agar tak
ketahuan teman-temannya yang lain, mayat ketiga pengawal itu ditaruh dan
ditumpukkan menjadi satu dekat tangga menuju ruang bawah tanah.
Setelah itu keduanya mendekati pintu, namun sulit
dibuka. Dua pengawal Jenderal Kick
bergegas menu ju di mana Mayor Latif dan Sersan Madi berdiri. Keduanya bermaksud untuk menemui pimpinan
terting gi mereka untuk melaporkan
situasi terkini di sekitar benteng.
Ceklek …
Reeet …
Dengan mudahnya pintu dibuka. Baru sedikit terbuka, Mayor
Latif dan Sersan Madi secara bersamaan menyergap kedua pengawal itu. Menariknya ke belakang, lalu menghujani
keduanya dengan pukulan bertubi-tubi ke perut dan dada. Terakhir, menghantam
kepala mereka dengan menggunakan gagang senjata.
Setelah diseret dan ditumpukkan bersama ketiga rekan mereka
sesama pengawal tadi, Sersan Madi dan Mayor Latif dengan perlahan membuka separo
lebar pintu rahasia itu. Keduanya berhasil masuk dan me nutup rapat pintu itu
kembali.
Ssssst …
Tak ada seorang pun di ruangan itu. Namun Mayor Latif
meminta Sersan Madi tetap waspada dan tidak bertindak gegabah dengan mendekati
meja kerja Jenderal Kick.
“Sebaiknya kita dekati pintu itu dulu,” bisik Mayor
Latif. Sebuah pintu menuju ruangan
penyiksaan yang dialami Sersan Daus dan Sersan Permana. Sedangkan Sersan Rijan dan
Sersan Zaini diinterogasi di rua ngan
yang lain.
Gelap. Tak ada suara. Sersan Madi yang semula ingin keluar,
dicegah Mayor Latif.
“Terus saja sersan. Siapa tahu kita menemukan sesuatu,” kata
Mayor Latif.
Traaang …
Kaki Sersan Madi menyenggol besi panjang bulat tak jauh dari
tempat dia berdiri. Untung tak jatuh. Dari luar
tak terdengar suara apa pun, sehingga tidak ketahuan kalau mereka kni tengah
berada di dalam ru angan pengap dan menyeramkan itu.
Dindingnya dipenuhi coret-coretan dengan warna cat yang
sudah mulai kusam. Bagian atap plafonnya sudah ada yang retak, belum lagi
sarang laba-laba yang menghiasi pinggiran plafon kanan dan kiri. Sera kan
sampah terlihat di sana sini.
Lantas, dibawa kemana Sersan Daus dan Sersan Permana?
Sersan Madi menemukan sebuah peti kayu. Dia sengaja belum
membukanya. Dia lebih suka Mayor Latif yang membukanya.
Peti itu terkunci. Namun berhasil dibuka Mayor Latif
menggunakan potongan besi kecil yang teronggok di sekitar peti. Peti pun dibuka.
Haaaa …
Isinya bikin kaget dan marah Mayor Latif dan Sersan Madi.
Mayat manusia ber tumpuk jadi satu. Jum lahnya dua orang. Keduanya adalah
Sersan Daus dan Sersan Permana.
Mayor Latif meneteskan air mata. Tak kuasa ia menahan haru. Hancur
hatinya. Demikian juga Sersan Madi yang berkali-kali memukul peti sebagai
pelampiasan rasa marahnya. Dalam hatinya dia berjanji akan membalas perbuatan
mereka yang telah membunuh secara keji kedua rekan sepasukannya itu.
7
“KATAKAN sersan, di mana Mayor Latif sekarang berada?” Hardik Letnan Ben pada Sersan Rijan
yang dimasukkan dalam bak berisi air yang sangat dingin.
Sedangkan Sersan Zaini dengan kedua tangan dan kaki terikat
di tiang gantungan, dipaksa melihat ba gaimana
berat dan sadisnya siksaan yang dialami rekannya Sersan Rijan.
Berulangkali Letnan Ben membenamkan kepala Sersan Rijan ke
dalam air, dengan maksud agar yang ber sangkutan mau mengaku di mana Mayor
Latif bersembunyi.
“Katakan sersan!” Paksa Letnan Ben. Sersan Rijan tetap
bersikukuh tak mau mengatakan dimana koman dan pasukan mereka berada.
Malah Sersan Rijan menantang Letnan Ben dan beberapa
pengawal Jenderal Kick untuk membunuhnya sekarang juga.
Ha ha ha ha …
“Bosn hidup sersan?” Sindir pengawal beralis tebal ketawa
mengejek.
“Bukan bosan, tapi
….” Pengawal berambut cepak mendekati Sersan Rijan yang tampak ngos-ngosan
dengan mulut separo terbuka (ngangap).
Praaak …
Byuuur …
Dibenamkannya kepala Sersan Rijan dengan penuh emosional.
Temannya yang beralis tebal cepat-cepat menarik tangannya.
“Sabar. Suruh dia mengaku lebih dulu, baru door door, kita
tembak kepalanya,”kata si alis tebal ketawa histeris.
Melihat Sersan Rijan masih bersikukuh tak mau mengatakan
dimana Mayor Latif berada, Jenderal Kick yang baru keluar dari ruang rahasianya
memerintahkan Letnan Ben untuk mencambuk Sersan Zaini.
Cambukan itu dengan tujuan agar Sersan Rijan kecut nyalinya
dan mau mengubah keputusannya. Cam bukan itu dimulai dari punggung, pantat
hingga betis dan kaki, dilakukan Letnan Ben dan beberapa pe ngawal secara silih
berganti.
Karena sangat kuatnya cambukan itu mengenai badan Sersan
Zaini, darah pun mengucur walau tidak deras. Rasa perih, sakit dan ngilu
beraduk jadi satu.
“Sersan. Lihat temanmu itu!” Kata Letnan Ben menarik rambut
Sersan Rijan, sehingga kepalanya terang kat dari permukaan air. Dalam posisi
duduk ia dipaksa melihat Sersan Zaini dicambuk.
“Jangan katakana sersan,” ucap Sersan Zaini dengan suara
yang nyaris tak kedengaran.
Traash …
Sebleeek …
Tissss …
Sampai sepuluh kali Letnan Ben melepaskan cambukan, membuat
Sersan Zaini tak mampu lagi ber tahan. Dia pingsan.
“Tidaaaak!” Jerit
Sersan Rijan. Dia melompat dari dalam bak, lalu mencuri senjata salah seorang
penga wal, dan melepaskan tembakan.
Tembakan secara membabi buta itu berhasil menewaskan
pengawal Jenderal Kick. Sayang, saat hendak mengarahkan muncung senjata dan
melepaskan tembakan ke arah Letnan Ben, peluru sudah habis.
Ha ha ha ha …
“Tembaklah sersan …” Ejek Letnan Ben sembari membuka kancing
baju yang ia kenakan. Kelihatan dada nya yang putih bersih. Siap ditembak kapan
pun Sersan Rijan mau.
Plaaak …
Bruuuk …
Kali ini Jenderal Kick yang turun tangan. Dia pukul tengkuk
Sersan Rijan. Tersungkur. Dihantam dengan tendangan keras menyilang Letnan Ben
yang mengarah ke dagu, hingga terpental
membentur dinding.
“Habisi letnan!” Perintah Jenderal Kick sembari berlalu
pergi memasuki ruangan rahasianya.
Dengan satu kali tembakan ke kepala, Sersan Rijan tewas
seketika. Begitu juga dengan Sersan Zaini. Dia lepaskan ikatan tali dan
turunkan dari tiang gantungan.
Praaak …
Guarrr …
Lepas ditendang berkali-kali di bagian kepala, perut dan
dada, Letnan Ben mengarahkan mncung sen jatanya ke muka Sersan Zaini.
Ternyata masih hidup. Dia masih sempat melihat Letnan Ben
dengan pandangan sayu. Mulutnya tak lagi bisa berucap sepatah kata pun. Lalu …
Dooor …
Dooor …
8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar