Minggu, 05 Februari 2017

Kota Lama (1)





Cerita  Fiksi

Kota Lama (1)
Ditulis oleh  aminuddin

1
“KOMANDAN.  Kita sudah terkepung …” Ucap Sersan Madi. Lewat teropong alias keker, dia melihat pasu kan musuh sudah bergerak dan mengepung Benteng Kota Lama.
“Coba kulihat sersan!” Sersan Rijan mengambil alih keker. Lama dia mengamati sebelum akhirnya me nyerahkannya kembali kepada Sersan Madi.
“Dan!”
“Geser. Kau kemari sersan.” Ke kanan, Mayor Latif mengamati sungguh-sungguh pasukan tank dan berkuda  itu. Mulai dari perkiraan jumlah, keleluasaan bergerak dan melakukan penyerangan serta persenjataan yang dimiliki.
“Ke belakang sebentar sersan …!”
Ada ruang kecil menuruni anak tangga. Komandan Latif bersama lima anak buahnya menggelar rapat ki lat untuk mengatur strategi  menghadapi serangan pasukan musuh.
“Mereka jelas-jelas menggunakan pasukan tank komandan. Artinya, mereka betul-betul ingin mengha bisi tempat ini termasuk kita semua yang ada di sini,” kata Sersan Zaini. Untuk melawannya  sangat sulit  karena yang mereka punyai saat ini hanya  meriam, granat dan senjata laras panjang.
“Apa perlu kita menyingkir saja komandan,” usul Sersan Rijan. Bukan hanya dari segi jumlah personil pa sukan, persenjataan saja bagaikan langit dan bumi. Sangat jauh tidak berimbang.
“Menyingkir kemana Sersan Rijan?” Tanya temannya, Sersan Permana.
“Di belakang benteng yang kita diami sekarang ini ada jalan setapak. Kita lewati saja jalan itu sekarang. Mumpung pasukan musuh belum mendekat dan merapat,” jelas Sersan Rijan.
“Saya setuju kalau begitu. Cuma boleh saya tahu sersan kemana tujuan kita setelah ini?” Sersan Daus ragu dan kuatir tempat persembunyian baru justru lebih memungkinkan musuh menemukan kebera daan mereka.
“Di sana kan hutan. Kita bisa bersembunyi sejenak di sana. Menghindari serangan pasukan musuh. Dari pada kita bertahan di sini,” terang Sersan Rijan.
Para sersan akhirnya sepakat untuk segera meninggalkan Benteng Kota Lama demi menghindari gempu ran bertubi-tubi yang bakal dilakukan pasukan musuh.
Namun tidak demikian halnya  dengan Mayor Latif. Berat rasanya untuk meninggalkan benteng berse jarah ini. Sebab, inilah satu-satunya benteng yang tersisa.
“Tapi Dan, nyawa lebih penting,” kata Sersan Madi. Maksudnya, buru-buru Sersan Madi menjelaskan, dengan mereka memutuskan mengungsi dari benteng ini, perlawanan masih bisa mereka lakukan dan kobarkan.
“Kalau kita tetap bertahan  di sini komandan, perlawanan kita bakal berakhir sementara rakyat di bela kang kita tidak bakalan tahu kalau musuh sebenarnya sudah hampir menguasai negeri ini,” terang Ser san Daus.
“Betul komandan. Kami berlima siap berada di depan komandan. Nyawapun kami rela korbankan asal kan komandan selamat,” tegas Sersan Zaini.
“Terima kasih sersan-sersanku. Tapi bukan itu maksudku …” Suara komandan Latif terdengar lantang. Tak sedikit pun ada rasa gentar, takut, cemas, apalagi gugup menghadapi situasi yang mencekam ini.
Kelima sersan tak bertanya lebih lanjut.
“Benteng ini adalah saksi perjuangan kita sersan. Menurutku, aku lebih baik mati mempertahankan negeri ini  di benteng ini. Daripada meninggalkan tempat ini hancur rata dengan tanah sementara aku selamat …”
“Tapi Dan, pertempuran kita sangat tidak berimbang. Jika kita tetap bertahan di tempat ini  apa bukan berarti kita sama artinya memberi peluang kepada mereka untuk menghabisi kita,” jelas Sersan Daus memberikan pertimbangan.
“Betul komandan,” potong Sersan Madi, “ dengan meninggalkan tempat ini tidak berarti kita penakut, pengecut dan melarikan diri dari pertempuran. Tidak komanda. Kita siap tempur. Kita siap mati dan kita siap berjuang sampai titik darah penghabisan.”
“Saya setuju dengan apa yang barusan dijelaskan Sersan Madi, komandan. Kita harus tetap ada. Kita harus tetap hidup untuk mempertahankan pertempuran ini. …” Kata Sersan Permana berapi-api.
Mayor Latif belum memutuskan, pergi atau tidak. Sementara Sersan Zaini dan Sersan Madi bergantian meneropong dari atap benteng keadaan terkini posisi pasukan musuh.
Keduanya saling tatap. Lalu buru-buru turun menemui teman dan komandan mereka. Mereka tampak cemas karena pasukan musuh sudah kian mendekat. Sebelumnya hanya samar  terlihat pasukan tank, kini semakin jelas dengan jumlahnya tidak sedikit.
“Dan. Karena mereka sudah semakin dekat, apa tak sebaiknya  kita segera tinggalkan tempat ini.” Sersan Madi  berharap sang komandan bisa secepatnya mengubah keputusan.
2  
DEEEEP …
DEEEEEP …
Anak panah menancap persis di atas kepala Mayor Latif. Tentu saja sangat mengagetkan. Bersama lima anak buahnya, dia memilih tidak melakukan serangan balasan. Tapi berlari secepat mungkin menelusuri jalan setapak belakang benteng.
Jegaaam …
Guaaar …
Jegaaam …
Guaaar …
Bersamaan terdengarnya dentuman tembakan, lemparan granat dan anak panah, Mayor Latif dan anak buahnya melompat sambil berguling-gulingan ke semak belukar.  Bukan saja tanah di sekitar benteng ya ng mengalami retak-retak, tapi juga dinding benteng, walaupun kokoh, karena terus menerus dibombar dir, akhirnya jebol juga. Membentuk lubang besar yang menganga.
Tak lama kemudian, pasukan berkuda tiba di depan benteng. Seorang pria tegap dan mahal senyum, Jenderal Kick namanya, turun dari kudanya. Dia memandang tajam ke pintu gerbang dan sekitarnya.
Beberapa saat kemudian, dia memerintahkan beberapa anak buahnya memeriksa pintu gerbang yang tertutup. Ternyata tidak dikunci. Jenderal Kick pun masuk ke dalam benteng dengan menunggangi kuda berwarna putih.
“Kurang ajar. Pengecut …!” Teriak Jenderal Kick setelah menerima laporan dari beberapa anggota pasu kan terlatih seusai memeriksa setiap ruangan dalam benteng. Mereka tak berhasil menemukan jejak Mayor Latif dan  anak buahnya.
Jenderal  Kick marah besar.
Jeguuur …
Kraaak ...
Guaaaar …
Pasukan tank berhasil  mendobrak paksa pintu dan dinding bagian depan pintu gerbang, sehingga rusak berat. Sesampainy  di lapangan utama bagian dalam benteng, keluar dari tank puluhan lelaki tegap. Me reka melompat turun,  lalu berteriak dan bersorak sorai seolah baru saja memenangi sebuah pertem puran.
“Kapten Muck!”
“Siap Jenderal.”
“Suruh anak buahmu berhenti berpesta,” perintah Jenderal Kick. Dia sangat tidak suka berpesta semen tara incaran mereka masih leluasa berkeliaran di luar benteng.
Seketika senyap. Tak ada suara yang terdengar. Sebanyak lima ratus anggota pasukan terlatih itu seren tak memandang ke depan tanpa berkedip sedikit pun. Mereka bersiap mendengarkan seruan jenderal yang mereka patuhi, segani dan takuti itu.
“Anda siap perang untukku?”
“Siaaap …”
“Anda  siap berperang untuk kedaulatan negara kita?”
“Siaaap …”
“Mulai detik ini saya perintahkan kalian untuk menangkap Mayor Latif.”
“Siap jenderal …”
“Jika kalian tidak berhasil menangkapnya , hidup atau mati, kalian siap menanggung akibatnya?”
“Siaaap …”
“Siap mati?”
“Siaaap jenderal …”
“Terima kasih. Untuk sementara kita beristirahat dulu di benteng ini. Sedangkan beberapa anggota pasukan berkuda yang ditunjuk Kapten Muck harus sudah bergerak meninggalkan tempat ini.”
“Siap laksanakan …!”
Di jalan setapak …
“Dan. Apa tidak sebaiknya kita memanjat pohon sekarang, biar aman.” Saran Sersan Madi.
“Buat apa sersan? Bukankah perjalanan kita masih jauh sementara pasukan musuh sudah berhasil merebut benteng Kota Lama?”
“Mengatur ulang strategi, Dan.”
“Tak usah. Hari belum sore. Sebaiknya kita lanjutkan dulu perjalanan ini dengan cara melingkar …”
“Siap laksanakan …”
Pasukan berkuda bersiap meninggalkan benteng. Mereka bergerak lepas tengah hari dengan diper senjatai  pistol, panah dan pedang.
Dipimpin langsung Kapten Muck, dua puluh lima anggota pasukan berkuda terlatih ini melaju kencang menyusuri jalan memutar .

3
DARI atas pepohonan, dengan sabar Sersan Madi menunggu giliran penunggang kuda terakhir lewat.  Sa yang, entah atas dasar pertimbangan apa, Kapten Muck memerintahkan anak buahnya memperlambat laju kuda.
Kelepak …
Kelepak …
“Stop!” Perintah Kapten Muck. Berhenti persis di bawah pohon rindang tempat Sersan Madi bersembu nyi.
“Kopral …!” Dengan bahasa isyarat, Kapten Muck memerintahkan berapa anak buahnya memeriksa ke adaan sekitar, terutama pepohonan yang  biasanya dijadikan tempat yang nyaman untuk bersembunyi.
Hampir setengah jam Kapten Muck menunggu. Saat menunggu itulah, dia menginstruksikan anggota pa sukannya untuk lebih waspada dan bersiaga penuh guna mengantisipasi serangan dadakan. Selain bisa mematikan juga membuat pasukan kocar-kacir dan tidak lagi konsentrasi untuk melakukan pengejaran dan penangkapan. 
“Lapor kapten. Sudah diperiksa, Mayor Latif dan anak buahnya tidak diketemukan,” kata Kopral Robert.
“Oke … Kita lanjutkan pencarian.” Perintah Kapten Muck.
“Siap laksanakan …!”
Sersan Madi yang hampir jatuh terpeleset dari atas pohon baru bisa bernafas lega setelah pasukan ber kuda bergerak melanjutkan pencarian. Dalam hatinya ia ingin sekali melompat dan menghabisi penung gang kuda paling buncit.
“Tak usah dikejar sersan.” Cegah Mayor Latif saat Sersan Madi hendak mengejar penunggang kuda ter akhir yang agak memperlambat laju kudanya.
“Kita ubah saja strategi,” jelas Mayor Latif. Meminta anak buahnya berkumpul sejenak di bawah pohon sambil lesehan.
Mayor Latif menyampaikan arahan kepada lima anak buahnya untuk secepatnya mendekati  benteng Ko ta Lama.
“Apa tidak berisiko Dan?” Tanya Sersan Rijan.
“Apa tidak ditunda dulu komandan. Kita fokus dulu mengejar pasukan berkuda. Kita habisi dan senja tanya kita ambil, baru kita serang pasukan di benteng itu,” saran Sersan Daus.
“Betul Dan. Kita akan lebih mudah melakukan penyerangan bila bersenjatakan lengkap.” Sahut Sersan  Zaini.
“Tapi itu memerlukan waktu yang lama sersan. Apa mungkin bisa dengan cepat kita susul dan lumpuh kan pasukan berkuda itu. Menurutku fifty-fifty lah. Lagian jarak kita dengan benteng lebih dekat. Mum pung ada kesempatan,  ” jelas Mayor Latif.
“Kalau begitu apa sasaran utama penyerangan kita komandan?” Tanya Sersan Pramana.
“Jenderal Kick,” tandas Mayor Latif penuh semangat.
“Siap Dan.”
“Kapan penyerangan dimulai?” Sersan Daus sudah tak sabar. Dia berharap misi mereka, walau terasa mustahil, bisa sukses sehingga pertempuran ini secepatnya diakhiri.
Mereka sepakat mulai bergerak lepas Magrib. Mengendak-endap, Mayor Latif beserta lima anak buah nya memanjat dinding  belakang benteng yang dijaga beberapa anggota pasukan tank bersenjatakan lengkap.
Setelah sampai di atap, mereka dihadapkan pada tiga anggota pasukan musuh yang berjaga-jaga di seki tar tumpukan besi rongsokan bekas meriam yang hancur terkena tembakan.
Dengan cepat Sersan Madi, Sersan Rijan dan Sersan Zaini bergerak. Tidak mudah memang. Karena ketiga prajurit terlatih berbadan tegap itu melakukan perlawanan.
On by one. Sersan Madi menghadapi si mancung. Pertarungan berlangsung seru. Saling jual beli pukulan. Sama-sama terkena pukulan di dagu.
Ketika si mancung hendak memukul bagian belakang kepala Sersan Madi, Mayor Latif dengan sigap me nahannya  untuk kemudian, sambil membalikkan badan, melepaskan tendangan keras mengarah ke tengkuk lawan.
“Uuuuukh …”
Tak berdaya. Sersan Madi mendekatinya. Lalu dia angkat kepala si mancung dan …
Keraaak ..
Kraaak …
Leher patah.
Tewas seketika.
Lain lagi dengan Sersan Rijan. Lawan yang dia hadapi berbadan kekar, sangat kuat dan sulit ditaklukkan begitu saja. Kendati terus menerus dihujani pukulan dan tendangan, tetap tak bergeming. Bukannya mundur, malah terus mendekat.
Merasa terdesak, Sersan Rijan terus melepaskan pukulan. Namun terhenti setelah kedua tangannya berhasil ditangkap si kekar. Sambil melotot tajam, dia tendang perut dan buah zakar Sersan Rijani.
“Eeeekh …”
“Aduh. Biji pelirku kemana.” Ringisnya.
Tak sampai di situ. Dibantingnya Sersan Rijan sebelum Sersan Madi menolongnya dengan menendang balik perut si kekar. Sempat terpundur beberapa langkah.

 4
MELIHAT Kekar  agak sempoyongan, Sersan Madi melepaskan tendangan ke dada, lalu menyusur tanah sambil berputar .
Gedebug …
Keker terjengkang.
Dengan satu kali pukulan menghantam perut, Keker  akhirnya berhasil dikalahkan. Sementara Sersan Zaini dan Mata Besar masih uring-uringan, saling ejek dan mengancam.
Sampai akhirnya …
Praaak …
Deeep …
Guaaar …
Sersan Zaini terjengkang. Punggungnya mengenai dinding benteng. Dia mencoba bangkit.  Namun belum sempat mengambil ancang-ancang melakukan pembalasan, dadanya terkena tendangan keras si Mata Besar.
Masih sempat mengelak ke kanan, sehingga tendangan kali berikutnya dari si Mata Besar, tak mengena. Saking kerasnya tendangan itu,  dinding benteng bergetar sesaat.
Praaak …
Traaach …
Paaak …
Pukulan keras dengan senjata  oleh Sersan Madi dan Rijan, membuat Mata Besar terhuyung-huyung. Se belum  jatuh terjerembab kena bogem mentah Mayor Latif yang mengarah tepat ke mukanya.
Kini Mayor Latif dan anak buahnya sudah memiliki senjata baru kepunyaan tiga prajurit lawan yang baru saja dilumpuhkan. Melengkapi persenjataan yang ada, sehingga lebih leluasa untuk bergerak,melancar kan dan sekaligus mengantisipasi serangan dadakan.
“Berpencar sersan!” Perintah Mayor Latif. Begitu selesai menuruni anak tangga, mereka memencar da lam   tiga kelompok. Kelompok pertama Mayor Latif da Sersan Madi, kelompok kedua Sersan Rijan dan Sersan Zaini, dan kelompok ketiga adalah duet antara Sersan Daus dengan Sersan Permana.
Mereka menuju pintu yang berbeda. Kelompok satu pintu paling ujung sebelah kanan. Kelompok kedua masuk lewat pintu tengah, sedangkan kelompok  ketiga melewati pintu depan bawah tangga.
Ketika memasuki pintu, beberapa orang pengawal sedang melakukan patrol mengelilingi setiap ruangan dalam Benteng Kota Lama. Ruangan itu terdiri dari beberapa buah pintu, dan untuk bisa masuk lewat pintu, ada jalan setapak berlapiskan semen coran  serba putih.
Patroli pasukan Jenderal Kick ini dilakukan  secara bergantian per sepuluh menit. Dua-dua, tiga-tiga, dan di tempat tertentu bisa satu orang anggota pasukan atau lebih dari empat.
Prajurit yang masih muda muda usia itu dilengkapi senjata laras panjang yang siap ditembakkan bila ada hal-hal yang mencurigakan dan dapat mengganggu keamanan dan keselamatan Jenderal Kick.
Jenderal  Kick sendiri berada di ruangan yang sangat dirahasiakan. Sulit untuk menemukannya karena tak bisa diduga dengan pengawalan yang sangat ketat.
Namun bagi Mayor Latif, serahasia apapun tempat persembunyian Jenderal Kick, tak menyurutkan te kadnya dan anak buahnya untuk menemukan jenderal  yang sudah berkepala empat  itu secepat mung kin.
Sebab, dengan diketemukannya Jenderal Kick, kemenangan sudah separo di tangan. Untuk mewujudkan hal itu,  mereka harus berburu waktu. Karena bila lambat mendapatkan Jenderal Kick, bakal menemui hambatan besar karena pasukan berkuda yang dikomandoi Kapten Muck akan segera kembali ke ben teng untuk melaporkan segala kejadian yang mereka temui di lapangan kepada pimpinan mereka, Jenderal Kick.
“Sersan …!” Bisik Mayor Latif. Di dekat mereka ada seorang prajurit tengah duduk menjaga pintu masuk menuju ruangan tengah utama. Mungkin kecapekan, sesekali dia mengantuk, untuk kemudian membu ka matanya.   Berdiri dan duduk lagi.
Lelaki berhidung mancung dan tampan itu diberi tugas menjaga pintu masuk. Selain anggota pasukan, ti dak diperbolehkan masuk melewati pintu itu, selain  tamu khusus yang telah mendapat izin masuk dari Jenderal Kick.

5
SALAH seorang anggota pengawal Jenderal Kick memberitahu ada penyusup yang berhasil menyusup masuk ke dalam Benteng Kota Lama. Kendati belum mendapat laporan pasti siapa penyusup itu, Sang Jenderal  memastikan si penyusup adalah Mayor Latif dan anak buahnya.
“Letnan! Tambah anggota pasukan pengawal,” perintah Jenderal Kick. Ruangan yang semula hanya dijaga empat orang pengawal, kini bertambah menjadi dua belas.
Jenderal Kick memerintahkan untuk menutup pintu keluar masuk benteng dan tentunya menangkap hidup-hidup Mayor Latif.   Dia mengerahkan pasukan terbaiknya menyebar ke setiap ruangan benteng.
“Tangkap dan siksa mereka,” kata Jenderal Kick geram. Ingin rasanya dia menghabisi Mayor Latif secepat nya. Karena hanya dia penghalang satu-satunya pasukan yang dia pimpin untuk menaklukkan negeri ini.
Penyebaran anggota pasukan musuh ini tanpa sepengetahuan Mayor Latif. Dia tak menyangka begitu ce patnya melakukan pengepuangan  dengan menutup setiap ruang yang memungkinkan mereka bisa menemukan jejak Jenderal Kick.
Sersan Daus dan Sersan Permana, mereka berdualah yang pertama kali melihat anak buah Jenderal Kick beraksi. Awalnya mereka berdua mengira ada sesuatu di luar benteng, tapi ternyata tidak. Mereka, sete lah terlihat salah seorang anggota pasukan, justru dikejar secara membabi buta. Walau sempat menghin dar dari kejaran, lama kelamaan terdesak juga.
“Itu mereka letnan! “ Teriak sersan berkepala botak. Sersan Daus dan Sersan Pramana bersembunyi di balik dinding pembatas ruangan tengah.
Dooor …
Dooor …
Terdengar suara tembakan beberapa kali. Sersan Rijan dan Sersan Permana mendengar suara tembakan itu. Demikian juga halnya dengan Mayor Latif dan Sersan Madi.
“Tangkap mereka!” Perintah Letnan Ben. Hanya dalam tempo kurang dari lima menit, Sersan Daus dan Sersan Permana berhasil ditangkap. Keduanya diseret paksa Letnan Ben ke ruangan atasannya.
Tugas Letnan Ben sendiri diambil alih sersan botak yang telah bergerak cepat mencari keberadaan Ma yor Latif dan tiga anak buahnya yang masih tersisa.
Jenderal Kick yang sudah memuncak emosinya, memerintahkan Letnan Ben menyiram keduanya dengan air agar  siuman kembali.
Ketika sadar, Jenderal Kick yang  sempat diejek dengan panggilan ‘Jenderal  Murahan’  dihardik Letnan Ben. Tiga pukulan keras menghantam muka  Sersan Daus dan Permana sampai mengeluarkan darah.
“Hai pejuang tengik. Kenapa tertangkap. Bodoh kan? Dasar sersan bego. Mana nyali kalian?” Tantang Jenderal Kick. Dia angkat kedua dagu sersan senior itu, untuk kemudian ditendangnya menggunakan dengkul.
Terpental …
Belum sempat berdiri, Letnan Ben menyeret paksa kedua sersan itu masuk ke ruangan gelap. Di ruangan inilah keduanya sudah ditunggu lima bodyguard  yang bertugas mengawal dan mengamankan Jenderal Kick.
Selain menanyakan maksud dan tujuan menyusup masuk ke Benteng Kota Lama, Sersan Daus dan Ser san Permana mendapat siksaan yang berat dengan dipukuli seluruh bagian tubuh mereka secara ber gantian menggunakan tangan kosong dan benda tajam.
Pintu tertutup. Tak pula tahu apa yang bakal dilakukan kelima bodyguard itu kepada keduanya . Yang ki ta tahu kemudian Jenderal Kick mengucapkan terima kasih kepada Letnan Ben yang sukses menjalankan misinya dengan menggelar pesta minum keci-kecilan.
“Ayo kita minum,” kata Jenderal Kick ketawa lebar sembari mengangkat  tinggi gelas berisi air minuman keras.
Ha ha ha ha …
Malam ini tampaknya menjadi malam yang istimewa bagi Jenderal Kick.  Kenapa? Karena tak lama kemu dian sersan botak menemuinya sambil menyeret masuk Sersan Rijan dan Sersan Zaini.
“Ha ha ha ha … Cecunguk mana lagi yang dibawa sersan?” Ejek Letnan Ben. Menatap sejenak Sersan Rijan dan Sersn Zaini, lalu dia ludahi satu persatu muka keduanya. Sebelum memerintahkan sersan botak untuk melempar mereka ke lantai.

6
“SIAP sersan?” Mayor Latif berencana melumpuhkan tiga anggota pasukan pengawal yang berjaga-jaga di sekitar pintu masuk menuju ruangan Jenderal Kick.
Sersan Madi menyatakan lebih dari siap dan segera beraksi. Namun, ketika salah seorang dari ketiga pe ngawal itu beranjak pergi, Mayor Latif mencegahnya.
“Tunggu dan lihat,” bisik Mayor Latif. Lelaki brewokan itu ternyata hendak ke toilet, mau buang air ke cil. Toilet berada dekat Sersan Madi berdiri.
Kebetulan, kata Sersan Madi dalam hati, inilah saatnya aku unjuk gigi.
Sekreet …
Kraaak …
Degup …
Saat belok ke kanan, Sersan Madi mencengkram leher si brewokan. Sempat melawan, namun setelah kepalanya membentur dinding benteng, penglihatannya kabur.  Dengan satu kali gerakan memutar ke kiri, Sersan Madi berhasil mematahkan leher lawannya.
Roboh seketika.
Tersisa dua. Mayor Latif mengeluarkan badik curiannya. Mengendap-endap bersama Sersan Madi, ke dua pengawal yang masih muda dan asyik mengobrol  itu, sama sekali tak menyangka tubuh mereka tiba-tiba seolah melayang dan terdorong dengan cepatnya ke depan.
Kepala membentur dinding sementara senjata yang melilit di pingang terjatuh ke lantai.
Gek …
Ceklek …
Breaaak …
Keduanya tewas ditikam Mayor Latif dan Sersan Madi. Agar tak ketahuan teman-temannya yang lain, mayat ketiga pengawal itu ditaruh dan ditumpukkan menjadi satu dekat tangga menuju ruang bawah tanah.
Setelah itu keduanya mendekati pintu, namun sulit dibuka.  Dua pengawal Jenderal Kick bergegas menu ju di mana Mayor Latif dan Sersan Madi berdiri.  Keduanya bermaksud untuk menemui pimpinan terting gi mereka  untuk melaporkan situasi terkini di sekitar benteng.
Ceklek …
Reeet …
Dengan mudahnya pintu dibuka. Baru sedikit terbuka, Mayor Latif dan Sersan Madi secara bersamaan menyergap kedua pengawal itu.  Menariknya ke belakang, lalu menghujani keduanya dengan pukulan bertubi-tubi ke perut dan dada. Terakhir, menghantam kepala mereka dengan menggunakan gagang senjata.
Setelah diseret dan ditumpukkan bersama ketiga rekan mereka sesama pengawal tadi, Sersan Madi dan Mayor Latif dengan perlahan membuka separo lebar pintu rahasia itu. Keduanya berhasil masuk dan me nutup rapat pintu itu kembali.
Ssssst …
Tak ada seorang pun di ruangan itu. Namun Mayor Latif meminta Sersan Madi tetap waspada dan tidak bertindak gegabah dengan mendekati meja kerja Jenderal Kick.
“Sebaiknya kita dekati pintu itu dulu,” bisik Mayor Latif.  Sebuah pintu menuju ruangan penyiksaan yang dialami Sersan Daus dan Sersan Permana. Sedangkan Sersan Rijan dan Sersan Zaini diinterogasi  di rua ngan yang lain.
Gelap. Tak ada suara. Sersan Madi yang semula ingin keluar, dicegah Mayor Latif.
“Terus saja sersan. Siapa tahu kita menemukan sesuatu,” kata Mayor Latif.
Traaang …
Kaki Sersan Madi menyenggol besi panjang bulat tak jauh dari tempat dia berdiri. Untung tak jatuh. Dari luar  tak terdengar suara apa pun, sehingga tidak ketahuan kalau mereka kni tengah berada di dalam ru angan pengap dan menyeramkan itu.
Dindingnya dipenuhi coret-coretan dengan warna cat yang sudah mulai kusam. Bagian atap plafonnya sudah ada yang retak, belum lagi sarang laba-laba yang menghiasi pinggiran plafon kanan dan kiri. Sera kan sampah terlihat di sana sini.
Lantas, dibawa kemana Sersan Daus dan Sersan Permana?
Sersan Madi menemukan sebuah peti kayu. Dia sengaja belum membukanya. Dia lebih suka Mayor Latif yang membukanya.
Peti itu terkunci. Namun berhasil dibuka Mayor Latif menggunakan potongan besi kecil yang teronggok di sekitar peti.  Peti pun dibuka.
Haaaa …
Isinya bikin kaget dan marah Mayor Latif dan Sersan Madi. Mayat manusia ber tumpuk jadi satu. Jum lahnya dua orang. Keduanya adalah Sersan Daus dan Sersan Permana.
Mayor Latif meneteskan air mata. Tak kuasa ia menahan haru. Hancur hatinya. Demikian juga Sersan Madi yang berkali-kali memukul peti sebagai pelampiasan rasa marahnya. Dalam hatinya dia berjanji akan membalas perbuatan mereka yang telah membunuh secara keji kedua rekan sepasukannya itu.

7
“KATAKAN sersan, di mana Mayor Latif sekarang  berada?” Hardik Letnan Ben pada Sersan Rijan yang dimasukkan dalam bak berisi air yang sangat dingin.
Sedangkan Sersan Zaini dengan kedua tangan dan kaki terikat di tiang gantungan, dipaksa melihat ba gaimana  berat dan sadisnya siksaan yang dialami rekannya Sersan Rijan.
Berulangkali Letnan Ben membenamkan kepala Sersan Rijan ke dalam air, dengan maksud agar yang ber sangkutan mau mengaku di mana Mayor Latif bersembunyi.
“Katakan sersan!” Paksa Letnan Ben. Sersan Rijan tetap bersikukuh tak mau mengatakan dimana koman dan pasukan mereka berada.
Malah Sersan Rijan menantang Letnan Ben dan beberapa pengawal Jenderal Kick untuk membunuhnya sekarang juga.
Ha ha ha ha …
“Bosn hidup sersan?” Sindir pengawal beralis tebal ketawa mengejek.
“Bukan bosan,  tapi ….” Pengawal berambut cepak mendekati Sersan Rijan yang tampak ngos-ngosan dengan mulut separo terbuka (ngangap).
Praaak …
Byuuur …
Dibenamkannya kepala Sersan Rijan dengan penuh emosional. Temannya yang beralis tebal cepat-cepat menarik tangannya.
“Sabar. Suruh dia mengaku lebih dulu, baru door door, kita tembak kepalanya,”kata si alis tebal ketawa histeris.
Melihat Sersan Rijan masih bersikukuh tak mau mengatakan dimana Mayor Latif berada, Jenderal Kick yang baru keluar dari ruang rahasianya memerintahkan Letnan Ben untuk mencambuk Sersan Zaini.
Cambukan itu dengan tujuan agar Sersan Rijan kecut nyalinya dan mau mengubah keputusannya. Cam bukan itu dimulai dari punggung, pantat hingga betis dan kaki, dilakukan Letnan Ben dan beberapa pe ngawal secara silih berganti.
Karena sangat kuatnya cambukan itu mengenai badan Sersan Zaini, darah pun mengucur walau tidak deras. Rasa perih, sakit dan ngilu beraduk jadi satu.
“Sersan. Lihat temanmu itu!” Kata Letnan Ben menarik rambut Sersan Rijan, sehingga kepalanya terang kat dari permukaan air. Dalam posisi duduk ia dipaksa melihat Sersan Zaini dicambuk.
“Jangan katakana sersan,” ucap Sersan Zaini dengan suara yang nyaris tak kedengaran.
Traash …
Sebleeek …
Tissss …
Sampai sepuluh kali Letnan Ben melepaskan cambukan, membuat Sersan Zaini tak mampu lagi ber tahan. Dia pingsan.
“Tidaaaak!”  Jerit Sersan Rijan. Dia melompat dari dalam bak, lalu mencuri senjata salah seorang penga wal, dan melepaskan  tembakan.
Tembakan secara membabi buta itu berhasil menewaskan pengawal Jenderal Kick. Sayang, saat hendak mengarahkan muncung senjata dan melepaskan tembakan ke arah Letnan Ben, peluru sudah habis.
Ha ha ha ha …
“Tembaklah sersan …” Ejek Letnan Ben sembari membuka kancing baju yang ia kenakan. Kelihatan dada nya yang putih bersih. Siap ditembak kapan pun Sersan Rijan mau.
Plaaak …
Bruuuk …
Kali ini Jenderal Kick yang turun tangan. Dia pukul tengkuk Sersan Rijan. Tersungkur. Dihantam dengan tendangan keras menyilang Letnan Ben yang mengarah ke dagu, hingga terpental  membentur dinding.
“Habisi letnan!” Perintah Jenderal Kick sembari berlalu pergi memasuki ruangan rahasianya.
Dengan satu kali tembakan ke kepala, Sersan Rijan tewas seketika. Begitu juga dengan Sersan Zaini. Dia lepaskan ikatan tali dan turunkan dari tiang gantungan.
Praaak …
Guarrr …
Lepas ditendang berkali-kali di bagian kepala, perut dan dada, Letnan Ben mengarahkan mncung sen jatanya ke muka Sersan Zaini.
Ternyata masih hidup. Dia masih sempat melihat Letnan Ben dengan pandangan sayu. Mulutnya tak lagi bisa berucap sepatah kata pun.  Lalu …
Dooor …
Dooor …

8


    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar