Jumat, 10 Februari 2017

Kota Lama (2)





Cerita  Fiksi

Kota Lama (2)
Ditulis oleh  aminuddin

VIII
MAYOR Latif dan Sersan Madi yang mendengar suara tembakan dari ruangan bawah tanah, sambil mengendap-endap mendekati sebuah pintu yang diduga kuat tempat keluar masuknya asal suara tembakan itu.
“Biar aku saja Dan yang bukanya,” bisik Sersan Madi. Keduanya masuk dan tidak ada seorang pun di sana selain dua mayat bergelimpangan di lantai.
“Dan …!”
Sersan Madi menunjuk ke samping kanan. Dengan tergesa-gesa dia mendekatinya. Betapa geram dan marahnya ia setelah tahu mayat itu adalah Sersan Rijan dan Sersan Zaini.
“Habis kita Dan.” Ucap Sersan Madi. Dia meragukan apa mungkin berdua Mayor Latif dia dapat menga lahkan Jenderal Kick beserta pasukan terlatihnya.
“Sampai titik darah penghabisan, sersan,” kata Mayor Latif sembari menepuk pundak Sersan Madi.
Kreseeek …
Mayor Latif dan Sersan Madi bergerak ke kiri. Keduanya bersembunyi tak jauh dari pintu masuk. Pintu di buka. Masuklah dua anak buah Sersan Botak bersenjatakan lengkap. Keduanya bermaksud memeriksa ruangan itu setelah mendengar ada suara orang berbicara barusan.
Belum sampai melangkah ke tengah ruangan …
Praaak …
Gedebuug …
Degiiig  
Keduanya roboh seketika dengan kepala berlumuran darah akibat terkena pukulan besi dan tikaman belati yang dilesakkan Mayor Latif dan Sersan Madi.
Pintu ditutup. Mayat kedua anggota pasukan lawan itu diseret dan ditempatkan dekat mayat Sersan Rijan dan Sersan Madi.
Tanpa membuang waktu lagi, keduanya bergegas ke luar ruangan. Baru beberapa langkah ke kanan su dah diberondong dengan tembakan yang dilepaskan Sersan Botak dan anak buahnya.
“Cepat sersan!” Kata Mayor Latif mengingatkan. Desingan peluru berhasil mereka elakkan. Memutar ke kiri. Ada lorong kecil sepanjang satu meter. Mereka bersembunyi di sana.
“Kamu kesana … kamu ke sebelah sini!” Perintah Sersan Botak pada anggota pasukannya. Mereka kepu ng dari kiri ke kanan, agar Mayor Latif dan Sersan Madi tak bisa melarikan diri lagi.
Namun taktik itu dibalas Mayor Latif dengan melepaskan beberapa  tembakan ke pasukan lawan. Ada ya ng terkena, juga ada yang tidak. Tembakan ini tentunya membuat mereka tersentak dan nyaris kocar kacir.
Melihat anak buahnya ada yang terluka kena tembakan, Sersan Botak dengan penuh kemarahan, mele paskan tembakan ke tempat persembunyian Mayor Latif. Menembak sambil mendekat, diikuti beberapa anak buahnya dari belakang, tak membuahkan hasil karena bersama Sersan Madi, yang bersangkutan sudah bersembunyi di tempat lain.
Bergeser ke dekat tangga. Lalu menuruni beberapa anak tangga. Di bawah anak tangga itulah mereka bersembunyi. Terdengar jelas suara hentakan sepatu Sersan Botak dan anak buahnya. Hilir mudik dekat tangga sambil mencela Mayor Latif sebagai komandan pasukan yang pengecut.
“Kamu ke sana … kamu ke situ!” Sersan Botak meminta anggota pasukannya menyebar ke seluruh rua ngan dan tembak di tempat bila ada menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Sejenak senyap.
Tak lama kemudian seorang anggota pasukan menuruni anak tangga. Entah kelelahan atau sekadar me ngaso sejenak, dia duduk sambil menyandarkan senjatanya ke dinding.
Setelah itu dia mengeluarkan sebatang rokok. Disulut dan dihiasapnya dalam-dalam sembari berbicara sendirian …
“Kalau begini terus, kapan selesainya. Kawin belum, gaji habis tiap bulan.”
Dia membuka topinya. Dikipas-kipaskannya ke muka dan sekitar lehernya yang memang berkeringat. Topi itu kemudian dia kenakan lagi.
“Sudah. Memang sudah nasibku  membujang terus,” keluhnya. 
Dia pun berdiri tegap dengan senjata melekat di pundak. Menaiki anak tangga dengan rokok di jari tangan kanan.



IX
HI HI HI HI …
Sssssst …
Tentara bujangan tadi menoleh.
“Ah, beginilah kalau buntu. Ada-ada saja yang didengar,” ucapnya berlalu pergi.
Hi hi hi hi hi …
Mayor Latif kembali tertawa, yang sempat terhenti tadinya. Begitu juga dengan Sersan Madi. Malam ki an larut. Keduanya masih bersembunyi di bawah anak tangga   
“Apa yang lucu dari teman kita itu tadi sersan?” Tanya Mayor Latif.
“Bujangannya itu Dan,” ucap Sersan Madi terus terang.
“Kalau begitu sama dengan aku sersan,” Kata Mayor Latif   
Pembicaraan keduanya terhenti ketika Sersan Botak menemukan anak buahnya berjalan melenggang sambil memegang sebatang rokok.
“Siapa yang menyuruh kamu merokok kopral?” Bentak Sersan Botak.
“Saya sendiri Dan.”
“Buang sana …”
Sebagai hukumannya, si anak buah disuruh melakukan push-up sebanyak seratus kali sambil berputar. Sersan Botak ketat mengawasinya. Kaki kurang lurus dia injak dan tendang berkali-kali. Setelah push-up pun masih dia tampar berkali-kali.
“Lain kali jangan coba-coba lagi kopral. Mengerti?”
“Mengerti Dan.”
“Sana … cari si Latifnya sampai ketemu,” perintah Sersan Botak dengan nada tinggi membentak.
Dia kemudian menelepon beberapa anak buahnya yang berusaha sekuat tenaga menemukan Mayor Latif dan Sersan Madi. Karena jawaban yang ia terima sangat mengecewakan, sumpah serapah keluar dari mulutnya.
“Cari sampai dapat malam ini juga. Jangan tunggu sampai besok,” jerit Sersan Botak. Ketika balik kanan, ia pun tercengang dengan apa yang dilihatnya sekarang …
“Saya sudah berdiri di depan anda sekarang sersan,” kata Mayor Latif. Sersan Madi masih bersembunyi. Dia baru akan keluar dari tempat persembunyiannya manakala komandannya dalam keadaan terkepung atau tertekan.
“Heem … boleh juga bodi anda mayor. Laki-laki tulen,” sindir Sersan Botak yang masih tak percaya lelaki di depannya ini adalah Mayor Latif.
“Daripada anda botak tak punya sehelai pun rambut,” balas menyindir Mayor Latif.
Ha ha ha ha …
“Anda tidak tahu cerita botak di kepala saya mayor. Granat saja tak jadi meledak bila ditaruh di sini,” kata Sersan Botak mengelus-elus kepala botaknya.
Ha ha ha ha …
Gantian Mayor Latif yang ketawa.
“Itu kecil sersan,” kata Mayor Latif. “Anda tahu kan bom?”
“Tahu,” jawab Sersan Botak.
“Saya pegang tak meledak dia. Hebat kan. Apalagi granat. Saya telan saja sersan. Besoknya ek ek kan.”
He he he he …
“Jadi apa maksud mayor dengan semuanya ini?” Memerah muka sersan. Dia mulai bersiap-siap menarik senjata yang melilit di pinggangnya.
“Lho .. anda kan mau menangkap saya. Tangkaplah. Kenapa anda berlagak bengong sersan?”
Ha ha ha ha …
“Maaf mayor, saya lupa …”
“Lupa apa takut?”
“Lupalah. Masa saya takut dengan anda yang .. yaaach, menurutku … tak layak disebut komandan,” ejek Sersan Botak.
Naik darah Mayor Latif. Tapi dengan cepat pula ia turunkan lagi setelah dengan tenangnya ia menjawab ejekan itu.
“Anda juga Sersan Botak. Bodi anda itu kalau saya perhatikan persis bodi  ‘anak mami’. Lembut kayak perempuan. Entah saya bingung, atas pertimbangan apa Jenderal Kick memilih anda sebagai pemimpin pasukan. Apa mungkin anda masih ada hubungan saudara dengan beliau?”
Hua ha ha ha …
“Tak usahlah belagu mayor. Kecil anda itu di mata saya.”Sersan Botak mulai tegang. Nafasnya mulai turun naik tak beraturan.
Sedangkan Mayor Latif biasa-biasa saja.  Pikirnya, dia tarik pistol gue langsung tembak dulu kepala botaknya sampai terbelah dua.

X
HUSYAAAA …
Sersan Botak pasang aksi. Kaki kanan ke belakang, kaki kiri ke depan. Juga kedua tangan dalam posisi yang sama dan dikepalkan.
“Ayo mayor. Maju!”
Ha ha ha ha …
“Begitu saja sersan? Kecil. Itu karatenya anak kecil,” ejek Mayor Latif.
“Jangan banyak omong mayor …”
Hiyaaat …
Empat pukulan dan tendangan yang dilepaskan Sersan Botak tak satu pun yang mengena. Baru kena setelah tendangan kelima, tepat mengenai perut dan selangkangan Mayor Latif.
Karena datangnya itu tendangan sangat cepat dan tak terduga sebelumnya, membuat Mayor Latif terpental dengan kepala mengenai lantai walau tidak terlalu keras.
Sersan Botak tidak main-main. Dia tarik kedua kaki Mayor Latif. Dia pelintir. Lalu ditariknya paksa sambil melepaskan tendangan ke selangkangan.
Tak cuma itu. Dia angkat kepala Mayor Latif, lalu dihentakkannya ke kedua pahanya, sebelum dilempar ke dekat  tangga, dekat tempat persembunyian Sersan Madi.
Ingin rasanya Sersan Madi menolong sang komandan yang tampak kepayahan itu. Namun dengan kedi pan matanya, Mayor Latif meminta anak buahnya itu tetap berada di tempat dan tidak melakukan aksi apa pun.
Mayor Latif berusaha bangkit. Berat rasanya. Meski akhirnya dia bisa. Sedangkan Sersan Botak menele pon Letnan Ben. Dia mengaku telah berhasil melumpuhkn Mayor Latif.
“Tak ada apa-apanya dia letnan,” kata Sersan Botak tertawa terpingkal-pingkal melihat Mayor Latif terja tuh lagi setelah sempat berdiri tadinya.
“Tak ada apa-apanya gimana sersan?” Letnan Ben mengira anak buahnya ini hanya bersenda gurau. Ma na mungkin  Mayor Latif yang hebat dan perkasa itu dengan mudahnya ditaklukkan.
“Letnan tak percaya?”
“Bukan tak percaya sama kamu sersan. Kamu kan tahu siapa Mayor Latif itu. Bukan anak kemarin sore. Dia pejuang hebat sersan.” Letnan Ben sekadar mengingatkan.
“Tapi buktinya tidak seperti itu letnan. Dia mudah ditaklukkan. Dia telah kalah dan menyerah …”
Hua ha ha ha …
“Hebat kamu sersan. Kamu tembak atau apakan dia sersan?”
“Saya ajak duellah dia. Letnan kan tahu kalau saya bisa karate. Jagonyalah kalau soal begituan. Nah, ke betulan dia mau saya ajak duel. Oke kata saya … dia belum tahu rupanya siapa saya letnan.”
Sersan Botak kembali tertawa melihat Mayor Latif harus berdiri tertatih-tatih sambil bersandar ke din ding agar tidak jatuh lagi. Penglihatannya masih kabur, nafas juga belum teratur.
“Sersan!”
“Saya letnan.”
“Terus bagaimana kelanjutan ceritanya?”
“Sesuai prediksi saya letnan. Saya KO dia. Sayalah pemenangnya,” ujar Sersan Botak membanggakan diri.
“Bagaimana keadaan beliau sekarang. Penasaran saya sersan.” Sudah lama Letnan Ben ingin menghabisi Mayor Latif.  Tapi jangankan dibunuh, ditangkap saja sulitnya minta ampun. Selalu berhasil meloloskan diri.
“Kalau letnan tak percaya, datanglah kemari. Tak jauh dari tangga bawah tanah,” kata Sersan Botak. Me rasa lebih pede setelah berhasil mengalahkan Mayor Latif.
Bagaimana reaksi Sersan Madi?
Dia tarik paksa Mayor Latif saat tak lama setelah bersandar ke dinding dan Sersan Botak masih asyik tele pon-teleponan deng an Letnan Ben.
Ketika ingin memutar badannya dan mendekati Mayor Latif yang diduga telah sekarat, Sersan Botak ka get bukan kepalang.  Apa yang harus dia lakukan sekarang ketika lawannya yang baru saja di kalakan dan digadang-gadang akan diperlihatkan pada Letnan Ben, ternyata sudah tidak ada lagi di tempatnya semu la.

XI        
“DIA dekat langsung sikat,” bisik Mayor Latif. Sersan Madi siap membidikkan senjatanya.
Sersan Botak yang penasaran karena Mayor Latif tiba-tiba menghilang dari penglihatan, entah sembunyi di mana, mencoba mendekati tangga dengan sangat hati-hati.
“Mayor … mayor … keluarlah. Aku tidak akan mengapa-apakan di kau. Kamu ganteng deh,” kata Sersan Botak yang sengaja memancing sang mayor agar keluar dari persembunyiannya. Sebab, dia yakin yang bersangkutan sengaja bersembunyi karena takut kena tangkap dan mengalami siksaaan yang berat.
Sersan Madi cuma tersenyum gel mendengar rayuan Sersan Botak barusan. Begitu juga dengan Mayor Latif.
“Kayak bencong ya Dan. Padahal gede badannya,” bisik Sersan Madi.
“Halo mayor.  Di manakah di kau?” Sersan Botak menghentikan langkahnya. Dia mengontak beberapa anak buahnya, apakah melihat Mayor Latif atau tidak. Karena dia kini kehilangan jejaknya.
“Sekaranglah sersan, atau tidak sama sekali.” Sersan Madi memicingkan matanya dan …
Door …
Door …
Dua kali tembakan mengenai kepala. Sersan Botak roboh seketika. Letnan Ben dan dua anak buahnya yang sempat mendengar suara tembakan itu tampak lega. Dia mengira  tembakan berasal dari senjata nya  Sersan Botak.
“Ayo cepat!”
Dengan cepat dan penuh semangat, Letnan Ben berlari menemui Sersan Botak. Dia akan mengucapkan terima kasih karena telah berhasil mengalahkan  musuh lamanya itu. Walaupun dia juga tak kuasa me nyembunyikan rasa kecewanya karena tak berhasil menangkap Mayor Latif.
Sayang, kelegaan itu hanya sesaat.  Karena setelah menemukan mayat Sersan Botak lah yang tergeletak di lantai bersimbahkan darah dan bukan mayat Mayor Latif, amarah dan dendam kesumat pun muncul seketika.
“Bangsat. Mayor keparat.” Teriak Letnan Ben dengan suara bergetar. Duduk bersimpuh. Tak kuasa ia melihat kepala Sersan Botak nyaris terbelah dua.
“Prajurit … Angkat mayatnya dan lempar ke luar! Perintah Letnan Ben.
Kini Letnan Ben dihadapkan pada masalah besar. Apa? Mayor Latif masih hidup dan entah di mana dia sekarang berada.
Dia kemudian melaporkan tewasnya Sersan Botak kepada Jenderal Kick. Selain meminta pendapat bos nya itu apa yang sebaiknya dilakukan saat ini. Apakah terus berusaha mencari dan menangkap Mayor Latif, atau justru menyiapkan startegi baru.
“Cepatlah kau kemari letnan …”
“Siap jenderal.”
Sersan Madi yang sudah sejak tadi mengarahkan senjatanya ke kaki Letnan Ben, melepaskan tembakan satu kali.
“Aduh …”
Gedebug.
Letnan Ben jatuh. Kakinya tertembak. Dia menoleh ke kiri, asal tembakan dilepaskan.
Cekreeek …
Dia menarik senjata di pingggangnya. Sebelum dikokang dan siap ditembakkan, Sersan Madi sudah mendahuluinya.
“Adow …”
“Hantu jalang …”
Kali ini tangan yang terkena. Senjata terlepas , terlempar ke lantai. Letnan Ben berusaha untuk meng ambilnya.
Hampir dapat.
Door 
Door …
Senjata itu terlempar lagi. Kali ini jauh karena terkena tembakan. Membentur dinding sebelum hancur berantakan, berserakan di lantai.
“Latif … tunggu pembalasanku. Dasar bencong,” umpat Letnan Ben sambil memegang tangan kanannya yang terluka dan penuh darah karena terkena timah panas.
Sambil merangkak, dia berusaha untuk bersembunyi. Paling tidak menghindari tembakan lanjutan yang bakal dilepaskan Sersan Madi.



XII
DOOOOR …
“Auuuuw.  Sakiiiit …!”
Tembakan Sersan Madi kali ini tepat mengenai pantat Letnan Ben. Meringis kesakitan. Belum juga mati. Terus merangkak.
Dooor …
Duaaar …
Dua kali tembakan mengarah ke penis dan leher belakang, Letnan Ben tak bergerak lagi. Seketika tewas dalam keadaan tertelungkup. Anak buahnya yang baru saja keluar dari ruangan Jenderal Kick, panik sete lah menemukan salah seorang pemimpin mereka sudah tidak bernyawa lagi.
Saat itu juga kematian Letnan Ben dilaporkan pada Jenderal Kick. Mengetahui satu persatu bawahan ter baiknya tewas di tangan Mayor Latif, lelaki tinggi kurus tapi berotot ini  segera memerintahkan para per wiranya untuk berkumpul di ruangannya.
Pertemuan tertutup  yang secara khusus membahas langkah lanjutan pasca tewasnya Letnan Ben itu berlangsung dalam suasana panas. Marah, kecewa dan dendam kesumat berkecamuk jadi satu, dan mewarnai setiap keli mat  yang meluncur dari mulut Jenderal Kick.
“Detik ini juga kita bergerak meninggalkan benteng ini. Setelah itu kita hancur leburkan benteng berse jarah ini.”
“Apa tidak ada cara lain jenderal?” Tanya salah seorang perwira berpangkat kolonel yang berhidung mancung.
“Tidak ada. Saya tak ingin ada korban lagi. Anda semua siap?”
“Siap jenderal.”
Pertemuan yang digelar  amat singkat itu, tak lebih dari sekitar sepuluh menit, disepakati semua pasukan bergerak serentak keluar dari Benteng Kota Lama.
Ada apa?
Jenderal Kick ingin, selain meratakan dengan tanah Benteng Kota Lama, juga mengubur hidup-hidup Mayor Latif dan Sersan Madi.
Sementara itu …
Di balik tangga.
“Bagaimana Dan? “
“Tunggulah sebentar lagi,” kata Mayor Latif yang masih merasa kesakitan setelah berduel seru dengan Sersan Botak.
Untuk berdiri saja masih harus dibantu Sersan Madi. Berjalan masih tertatih-tatih. Tapi semangatnya tak pernah kendur. Pantang menyerah. Inilah yang dikagumi Sersan Madi.
“Sepertinya saya mendengar sesuatu Dan.” Sersan Madi berinisiatif memanjat dinding dekat tangga dan melihat keluar untuk memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ternyata pasukan tank mulai bergerak meninggalkan benteng. Disusul  mobil yang ditumpangi Jenderal Kick.  Konvoi kendaraan itu berjalan dalam tempo sedang sambil meneriakkan yel-yel  ‘Hidup Jenderal Kick’ berkali-kali, sampai pasukan terlatih itu benar-benar telah menjauh dari benteng.
Suasana benteng seketika senyap.
“Yang kuat Dan …” Kata Sersan Madi.  Sang Komandan, ketika berjalan dia papah. Namun baru separo perjalanan sudah tidak kuat lagi.
“Gendong ya Dan.”
Agak berat mulanya.  Mayor Latif mencoba untuk bertahan, tapi tak bisa. Dia akhirnya merelakan Sersan Madi menggendongnya sampai pintu gerbang luar benteng.
Setelah itu  terdengar  suara tembakan dan ledakan puluhan kali. Satu persatu bangunan benteng han cur.  Percikan api yang semula kecil, kini mulai membesar dan memakan dinding sehingga berwarna hi tam kecoklat-coklatan.
Jegaaar …
Duaaam …
“Lompat Dan!” Teriak Sersan Madi. Dia dan Mayor Latif jatuh tersungkur akibat dahsyatnya suara leda kan barusan.
Keduanya bersembunyi di dalam parit besar. Dari tempat inilah mereka hanya bisa menyaksikan dengan mata telanjang bagaimana hancur leburnya bangunan benteng.
Entah tak terhitung lagi berapa persis jumlah granat dan bahan peledak berdaya ledak tinggi menghan tam bangunan benteng itu. Api semakin membesar. Menjilati setiap sisi bangunan.
Dari kejauhan Jenderal Kick tampak tersenyum puas.
“Kali ini dia benar-benar mampus,” katanya  pada Kapten Muck yang baru saja tiba dan bergabung dengan pasukan tank menjelang pagi.

              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar