Cerita Fiksi
Kota Lama (2)
Ditulis oleh aminuddin
VIII
MAYOR Latif dan Sersan Madi yang mendengar suara tembakan
dari ruangan bawah tanah, sambil mengendap-endap mendekati sebuah pintu yang
diduga kuat tempat keluar masuknya asal suara tembakan itu.
“Biar aku saja Dan yang bukanya,” bisik Sersan Madi.
Keduanya masuk dan tidak ada seorang pun di sana selain dua mayat
bergelimpangan di lantai.
“Dan …!”
Sersan Madi menunjuk ke samping kanan. Dengan tergesa-gesa
dia mendekatinya. Betapa geram dan marahnya ia setelah tahu mayat itu adalah
Sersan Rijan dan Sersan Zaini.
“Habis kita Dan.” Ucap Sersan Madi. Dia meragukan apa mungkin
berdua Mayor Latif dia dapat menga lahkan Jenderal Kick beserta pasukan
terlatihnya.
“Sampai titik darah penghabisan, sersan,” kata Mayor Latif
sembari menepuk pundak Sersan Madi.
Kreseeek …
Mayor Latif dan Sersan Madi bergerak ke kiri. Keduanya
bersembunyi tak jauh dari pintu masuk. Pintu di buka. Masuklah dua anak buah
Sersan Botak bersenjatakan lengkap. Keduanya bermaksud memeriksa ruangan itu
setelah mendengar ada suara orang berbicara barusan.
Belum sampai melangkah ke tengah ruangan …
Praaak …
Gedebuug …
Degiiig …
Keduanya roboh seketika dengan kepala berlumuran darah
akibat terkena pukulan besi dan tikaman belati yang dilesakkan Mayor Latif dan
Sersan Madi.
Pintu ditutup. Mayat kedua anggota pasukan lawan itu diseret
dan ditempatkan dekat mayat Sersan Rijan dan Sersan Madi.
Tanpa membuang waktu lagi, keduanya bergegas ke luar
ruangan. Baru beberapa langkah ke kanan su dah diberondong dengan tembakan yang
dilepaskan Sersan Botak dan anak buahnya.
“Cepat sersan!” Kata Mayor Latif mengingatkan. Desingan
peluru berhasil mereka elakkan. Memutar ke kiri. Ada lorong kecil sepanjang
satu meter. Mereka bersembunyi di sana.
“Kamu kesana … kamu ke sebelah sini!” Perintah Sersan Botak
pada anggota pasukannya. Mereka kepu ng dari kiri ke kanan, agar Mayor Latif
dan Sersan Madi tak bisa melarikan diri lagi.
Namun taktik itu dibalas Mayor Latif dengan melepaskan
beberapa tembakan ke pasukan lawan. Ada
ya ng terkena, juga ada yang tidak. Tembakan ini tentunya membuat mereka
tersentak dan nyaris kocar kacir.
Melihat anak buahnya ada yang terluka kena tembakan, Sersan
Botak dengan penuh kemarahan, mele paskan tembakan ke tempat persembunyian Mayor
Latif. Menembak sambil mendekat, diikuti beberapa anak buahnya dari belakang,
tak membuahkan hasil karena bersama Sersan Madi, yang bersangkutan sudah
bersembunyi di tempat lain.
Bergeser ke dekat tangga. Lalu menuruni beberapa anak
tangga. Di bawah anak tangga itulah mereka bersembunyi. Terdengar jelas suara hentakan
sepatu Sersan Botak dan anak buahnya. Hilir mudik dekat tangga sambil mencela
Mayor Latif sebagai komandan pasukan yang pengecut.
“Kamu ke sana … kamu ke situ!” Sersan Botak meminta anggota
pasukannya menyebar ke seluruh rua ngan dan tembak di tempat bila ada menemukan
sesuatu yang mencurigakan.
Sejenak senyap.
Tak lama kemudian seorang anggota pasukan menuruni anak
tangga. Entah kelelahan atau sekadar me ngaso sejenak, dia duduk sambil menyandarkan
senjatanya ke dinding.
Setelah itu dia mengeluarkan sebatang rokok. Disulut dan
dihiasapnya dalam-dalam sembari berbicara sendirian …
“Kalau begini terus, kapan selesainya. Kawin belum, gaji
habis tiap bulan.”
Dia membuka topinya. Dikipas-kipaskannya ke muka dan sekitar
lehernya yang memang berkeringat. Topi itu kemudian dia kenakan lagi.
“Sudah. Memang sudah nasibku membujang terus,” keluhnya.
Dia pun berdiri tegap dengan senjata melekat di pundak.
Menaiki anak tangga dengan rokok di jari tangan kanan.
IX
HI HI HI HI …
Sssssst …
Tentara bujangan tadi menoleh.
“Ah, beginilah kalau buntu. Ada-ada saja yang didengar,”
ucapnya berlalu pergi.
Hi hi hi hi hi …
Mayor Latif kembali tertawa, yang sempat terhenti tadinya.
Begitu juga dengan Sersan Madi. Malam ki an larut. Keduanya masih bersembunyi
di bawah anak tangga
“Apa yang lucu dari teman kita itu tadi sersan?” Tanya Mayor
Latif.
“Bujangannya itu Dan,” ucap Sersan Madi terus terang.
“Kalau begitu sama dengan aku sersan,” Kata Mayor Latif
Pembicaraan keduanya terhenti ketika Sersan Botak menemukan
anak buahnya berjalan melenggang sambil memegang sebatang rokok.
“Siapa yang menyuruh kamu merokok kopral?” Bentak Sersan
Botak.
“Saya sendiri Dan.”
“Buang sana …”
Sebagai hukumannya, si anak buah disuruh melakukan push-up
sebanyak seratus kali sambil berputar. Sersan Botak ketat mengawasinya. Kaki
kurang lurus dia injak dan tendang berkali-kali. Setelah push-up pun masih dia
tampar berkali-kali.
“Lain kali jangan coba-coba lagi kopral. Mengerti?”
“Mengerti Dan.”
“Sana … cari si Latifnya sampai ketemu,” perintah Sersan
Botak dengan nada tinggi membentak.
Dia kemudian menelepon beberapa anak buahnya yang berusaha
sekuat tenaga menemukan Mayor Latif dan Sersan Madi. Karena jawaban yang ia
terima sangat mengecewakan, sumpah serapah keluar dari mulutnya.
“Cari sampai dapat malam ini juga. Jangan tunggu sampai
besok,” jerit Sersan Botak. Ketika balik kanan, ia pun tercengang dengan apa
yang dilihatnya sekarang …
“Saya sudah berdiri di depan anda sekarang sersan,” kata
Mayor Latif. Sersan Madi masih bersembunyi. Dia baru akan keluar dari tempat
persembunyiannya manakala komandannya dalam keadaan terkepung atau tertekan.
“Heem … boleh juga bodi anda mayor. Laki-laki tulen,” sindir
Sersan Botak yang masih tak percaya lelaki di depannya ini adalah Mayor Latif.
“Daripada anda botak tak punya sehelai pun rambut,” balas
menyindir Mayor Latif.
Ha ha ha ha …
“Anda tidak tahu cerita botak di kepala saya mayor. Granat
saja tak jadi meledak bila ditaruh di sini,” kata Sersan Botak mengelus-elus
kepala botaknya.
Ha ha ha ha …
Gantian Mayor Latif yang ketawa.
“Itu kecil sersan,” kata Mayor Latif. “Anda tahu kan bom?”
“Tahu,” jawab Sersan Botak.
“Saya pegang tak meledak dia. Hebat kan. Apalagi granat.
Saya telan saja sersan. Besoknya ek ek kan.”
He he he he …
“Jadi apa maksud mayor dengan semuanya ini?” Memerah muka
sersan. Dia mulai bersiap-siap menarik senjata yang melilit di pinggangnya.
“Lho .. anda kan mau menangkap saya. Tangkaplah. Kenapa anda
berlagak bengong sersan?”
Ha ha ha ha …
“Maaf mayor, saya lupa …”
“Lupa apa takut?”
“Lupalah. Masa saya takut dengan anda yang .. yaaach,
menurutku … tak layak disebut komandan,” ejek Sersan Botak.
Naik darah Mayor Latif. Tapi dengan cepat pula ia turunkan
lagi setelah dengan tenangnya ia menjawab ejekan itu.
“Anda juga Sersan Botak. Bodi anda itu kalau saya perhatikan
persis bodi ‘anak mami’. Lembut kayak
perempuan. Entah saya bingung, atas pertimbangan apa Jenderal Kick memilih anda
sebagai pemimpin pasukan. Apa mungkin anda masih ada hubungan saudara dengan
beliau?”
Hua ha ha ha …
“Tak usahlah belagu mayor. Kecil anda itu di mata
saya.”Sersan Botak mulai tegang. Nafasnya mulai turun naik tak beraturan.
Sedangkan Mayor Latif biasa-biasa saja. Pikirnya, dia tarik pistol gue langsung
tembak dulu kepala botaknya sampai terbelah dua.
X
HUSYAAAA …
Sersan Botak pasang aksi. Kaki kanan ke belakang, kaki kiri
ke depan. Juga kedua tangan dalam posisi yang sama dan dikepalkan.
“Ayo mayor. Maju!”
Ha ha ha ha …
“Begitu saja sersan? Kecil. Itu karatenya anak kecil,” ejek
Mayor Latif.
“Jangan banyak omong mayor …”
Hiyaaat …
Empat pukulan dan tendangan yang dilepaskan Sersan Botak tak
satu pun yang mengena. Baru kena setelah tendangan kelima, tepat mengenai perut
dan selangkangan Mayor Latif.
Karena datangnya itu tendangan sangat cepat dan tak terduga
sebelumnya, membuat Mayor Latif terpental dengan kepala mengenai lantai walau
tidak terlalu keras.
Sersan Botak tidak main-main. Dia tarik kedua kaki Mayor
Latif. Dia pelintir. Lalu ditariknya paksa sambil melepaskan tendangan ke
selangkangan.
Tak cuma itu. Dia angkat kepala Mayor Latif, lalu
dihentakkannya ke kedua pahanya, sebelum dilempar ke dekat tangga, dekat tempat persembunyian Sersan
Madi.
Ingin rasanya Sersan Madi menolong sang komandan yang tampak
kepayahan itu. Namun dengan kedi pan matanya, Mayor Latif meminta anak buahnya
itu tetap berada di tempat dan tidak melakukan aksi apa pun.
Mayor Latif berusaha bangkit. Berat rasanya. Meski akhirnya
dia bisa. Sedangkan Sersan Botak menele pon Letnan Ben. Dia mengaku telah
berhasil melumpuhkn Mayor Latif.
“Tak ada apa-apanya dia letnan,” kata Sersan Botak tertawa
terpingkal-pingkal melihat Mayor Latif terja tuh lagi setelah sempat berdiri
tadinya.
“Tak ada apa-apanya gimana sersan?” Letnan Ben mengira anak
buahnya ini hanya bersenda gurau. Ma na mungkin
Mayor Latif yang hebat dan perkasa itu dengan mudahnya ditaklukkan.
“Letnan tak percaya?”
“Bukan tak percaya sama kamu sersan. Kamu kan tahu siapa Mayor
Latif itu. Bukan anak kemarin sore. Dia pejuang hebat sersan.” Letnan Ben
sekadar mengingatkan.
“Tapi buktinya tidak seperti itu letnan. Dia mudah
ditaklukkan. Dia telah kalah dan menyerah …”
Hua ha ha ha …
“Hebat kamu sersan. Kamu tembak atau apakan dia sersan?”
“Saya ajak duellah dia. Letnan kan tahu kalau saya bisa
karate. Jagonyalah kalau soal begituan. Nah, ke betulan dia mau saya ajak duel.
Oke kata saya … dia belum tahu rupanya siapa saya letnan.”
Sersan Botak kembali tertawa melihat Mayor Latif harus
berdiri tertatih-tatih sambil bersandar ke din ding agar tidak jatuh lagi.
Penglihatannya masih kabur, nafas juga belum teratur.
“Sersan!”
“Saya letnan.”
“Terus bagaimana kelanjutan ceritanya?”
“Sesuai prediksi saya letnan. Saya KO dia. Sayalah pemenangnya,”
ujar Sersan Botak membanggakan diri.
“Bagaimana keadaan beliau sekarang. Penasaran saya sersan.”
Sudah lama Letnan Ben ingin menghabisi Mayor Latif. Tapi jangankan dibunuh, ditangkap saja
sulitnya minta ampun. Selalu berhasil meloloskan diri.
“Kalau letnan tak percaya, datanglah kemari. Tak jauh dari
tangga bawah tanah,” kata Sersan Botak. Me rasa lebih pede setelah berhasil
mengalahkan Mayor Latif.
Bagaimana reaksi Sersan Madi?
Dia tarik paksa Mayor Latif saat tak lama setelah bersandar
ke dinding dan Sersan Botak masih asyik tele pon-teleponan deng an Letnan Ben.
Ketika ingin memutar badannya dan mendekati Mayor Latif yang
diduga telah sekarat, Sersan Botak ka get bukan kepalang. Apa yang harus dia lakukan sekarang ketika
lawannya yang baru saja di kalakan dan digadang-gadang akan diperlihatkan pada
Letnan Ben, ternyata sudah tidak ada lagi di tempatnya semu la.
XI
“DIA dekat langsung sikat,” bisik Mayor Latif. Sersan Madi
siap membidikkan senjatanya.
Sersan Botak yang penasaran karena Mayor Latif tiba-tiba
menghilang dari penglihatan, entah sembunyi di mana, mencoba mendekati tangga
dengan sangat hati-hati.
“Mayor … mayor … keluarlah. Aku tidak akan mengapa-apakan di
kau. Kamu ganteng deh,” kata Sersan Botak yang sengaja memancing sang mayor
agar keluar dari persembunyiannya. Sebab, dia yakin yang bersangkutan sengaja
bersembunyi karena takut kena tangkap dan mengalami siksaaan yang berat.
Sersan Madi cuma tersenyum gel mendengar rayuan Sersan Botak
barusan. Begitu juga dengan Mayor Latif.
“Kayak bencong ya Dan. Padahal gede badannya,” bisik Sersan
Madi.
“Halo mayor. Di
manakah di kau?” Sersan Botak menghentikan langkahnya. Dia mengontak beberapa
anak buahnya, apakah melihat Mayor Latif atau tidak. Karena dia kini kehilangan
jejaknya.
“Sekaranglah sersan, atau tidak sama sekali.” Sersan Madi
memicingkan matanya dan …
Door …
Door …
Dua kali tembakan mengenai kepala. Sersan Botak roboh
seketika. Letnan Ben dan dua anak buahnya yang sempat mendengar suara tembakan
itu tampak lega. Dia mengira tembakan
berasal dari senjata nya Sersan Botak.
“Ayo cepat!”
Dengan cepat dan penuh semangat, Letnan Ben berlari menemui
Sersan Botak. Dia akan mengucapkan terima kasih karena telah berhasil
mengalahkan musuh lamanya itu. Walaupun
dia juga tak kuasa me nyembunyikan rasa kecewanya karena tak berhasil menangkap
Mayor Latif.
Sayang, kelegaan itu hanya sesaat. Karena setelah menemukan mayat Sersan Botak
lah yang tergeletak di lantai bersimbahkan darah dan bukan mayat Mayor Latif,
amarah dan dendam kesumat pun muncul seketika.
“Bangsat. Mayor keparat.” Teriak Letnan Ben dengan suara
bergetar. Duduk bersimpuh. Tak kuasa ia melihat kepala Sersan Botak nyaris
terbelah dua.
“Prajurit … Angkat mayatnya dan lempar ke luar! Perintah
Letnan Ben.
Kini Letnan Ben dihadapkan pada masalah besar. Apa? Mayor
Latif masih hidup dan entah di mana dia sekarang berada.
Dia kemudian melaporkan tewasnya Sersan Botak kepada
Jenderal Kick. Selain meminta pendapat bos nya itu apa yang sebaiknya dilakukan
saat ini. Apakah terus berusaha mencari dan menangkap Mayor Latif, atau justru
menyiapkan startegi baru.
“Cepatlah kau kemari letnan …”
“Siap jenderal.”
Sersan Madi yang sudah sejak tadi mengarahkan senjatanya ke
kaki Letnan Ben, melepaskan tembakan satu kali.
“Aduh …”
Gedebug.
Letnan Ben jatuh. Kakinya tertembak. Dia menoleh ke kiri,
asal tembakan dilepaskan.
Cekreeek …
Dia menarik senjata di pingggangnya. Sebelum dikokang dan
siap ditembakkan, Sersan Madi sudah mendahuluinya.
“Adow …”
“Hantu jalang …”
Kali ini tangan yang terkena. Senjata terlepas , terlempar
ke lantai. Letnan Ben berusaha untuk meng ambilnya.
Hampir dapat.
Door …
Door …
Senjata itu terlempar lagi. Kali ini jauh karena terkena
tembakan. Membentur dinding sebelum hancur berantakan, berserakan di lantai.
“Latif … tunggu pembalasanku. Dasar bencong,” umpat Letnan
Ben sambil memegang tangan kanannya yang terluka dan penuh darah karena terkena
timah panas.
Sambil merangkak, dia berusaha untuk bersembunyi. Paling
tidak menghindari tembakan lanjutan yang bakal dilepaskan Sersan Madi.
XII
DOOOOR …
“Auuuuw. Sakiiiit …!”
Tembakan Sersan Madi kali ini tepat mengenai pantat Letnan
Ben. Meringis kesakitan. Belum juga mati. Terus merangkak.
Dooor …
Duaaar …
Dua kali tembakan mengarah ke penis dan leher belakang,
Letnan Ben tak bergerak lagi. Seketika tewas dalam keadaan tertelungkup. Anak
buahnya yang baru saja keluar dari ruangan Jenderal Kick, panik sete lah
menemukan salah seorang pemimpin mereka sudah tidak bernyawa lagi.
Saat itu juga kematian Letnan Ben dilaporkan pada Jenderal
Kick. Mengetahui satu persatu bawahan ter baiknya tewas di tangan Mayor Latif,
lelaki tinggi kurus tapi berotot ini segera memerintahkan para per wiranya untuk
berkumpul di ruangannya.
Pertemuan tertutup
yang secara khusus membahas langkah lanjutan pasca tewasnya Letnan Ben itu
berlangsung dalam suasana panas. Marah, kecewa dan dendam kesumat berkecamuk
jadi satu, dan mewarnai setiap keli mat
yang meluncur dari mulut Jenderal Kick.
“Detik ini juga kita bergerak meninggalkan benteng ini. Setelah
itu kita hancur leburkan benteng berse jarah ini.”
“Apa tidak ada cara lain jenderal?” Tanya salah seorang
perwira berpangkat kolonel yang berhidung mancung.
“Tidak ada. Saya tak ingin ada korban lagi. Anda semua
siap?”
“Siap jenderal.”
Pertemuan yang digelar amat singkat itu, tak lebih dari sekitar
sepuluh menit, disepakati semua pasukan bergerak serentak keluar dari Benteng
Kota Lama.
Ada apa?
Jenderal Kick ingin, selain meratakan dengan tanah Benteng
Kota Lama, juga mengubur hidup-hidup Mayor Latif dan Sersan Madi.
Sementara itu …
Di balik tangga.
“Bagaimana Dan? “
“Tunggulah sebentar lagi,” kata Mayor Latif yang masih
merasa kesakitan setelah berduel seru dengan Sersan Botak.
Untuk berdiri saja masih harus dibantu Sersan Madi. Berjalan
masih tertatih-tatih. Tapi semangatnya tak pernah kendur. Pantang menyerah.
Inilah yang dikagumi Sersan Madi.
“Sepertinya saya mendengar sesuatu Dan.” Sersan Madi
berinisiatif memanjat dinding dekat tangga dan melihat keluar untuk memastikan
apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ternyata pasukan tank mulai bergerak meninggalkan benteng.
Disusul mobil yang ditumpangi Jenderal
Kick. Konvoi kendaraan itu berjalan dalam
tempo sedang sambil meneriakkan yel-yel ‘Hidup Jenderal Kick’ berkali-kali, sampai
pasukan terlatih itu benar-benar telah menjauh dari benteng.
Suasana benteng seketika senyap.
“Yang kuat Dan …” Kata Sersan Madi. Sang Komandan, ketika berjalan dia papah.
Namun baru separo perjalanan sudah tidak kuat lagi.
“Gendong ya Dan.”
Agak berat mulanya.
Mayor Latif mencoba untuk bertahan, tapi tak bisa. Dia akhirnya
merelakan Sersan Madi menggendongnya sampai pintu gerbang luar benteng.
Setelah itu terdengar suara tembakan dan ledakan puluhan kali. Satu
persatu bangunan benteng han cur. Percikan api yang semula kecil, kini mulai
membesar dan memakan dinding sehingga berwarna hi tam kecoklat-coklatan.
Jegaaar …
Duaaam …
“Lompat Dan!” Teriak Sersan Madi. Dia dan Mayor Latif jatuh
tersungkur akibat dahsyatnya suara leda kan barusan.
Keduanya bersembunyi di dalam parit besar. Dari tempat
inilah mereka hanya bisa menyaksikan dengan mata telanjang bagaimana hancur
leburnya bangunan benteng.
Entah tak terhitung lagi berapa persis jumlah granat dan
bahan peledak berdaya ledak tinggi menghan tam bangunan benteng itu. Api
semakin membesar. Menjilati setiap sisi bangunan.
Dari kejauhan Jenderal Kick tampak tersenyum puas.
“Kali ini dia benar-benar mampus,” katanya pada Kapten Muck yang baru saja tiba dan
bergabung dengan pasukan tank menjelang pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar