Minggu, 12 Februari 2017

Kota Lama (3)





Cerita  Fiksi

Kota Lama (3)
Ditulis oleh  aminuddin

XIII
“SERSAN …!” Bisik Mayor Latif. “Saya rasanya sudah tak kuat lagi menemanimu untuk meneruskan perjuangan ini sersan.”
Sersan Madi belum menjawab. Dia hanya merebahkan kepala Mayor Latif di pangkuannya.
“Senyumlah untukku sersan,” kata Mayor Latif.” Saya tahu kamu jarang tersenyum kepadaku.”
Sersan Madi pun tersenyum. Manis nian dia tersenyum. Lega rasanya Mayor Latif melihatnya. Berbunga-bunga perasaannya. Hilang sesaat rasa sakit seluruh raga.
“Dan …”
“Panggil saja aku mayor, sersan.”
Sersan Madi meluruskan kedua kaki Mayor Latif sehinga lebih elok dipandang.
“Mayor harus kuat,” ucap Sersan Madi memberi semangat.
Mayor Latif hanya ketawa walau berat terasa.
“Kamu yang harus kuat sersan.”
“Mayor juga harus kuat.”
“Saya tak sekuatmu lagi sekarang sersan. Seperti kau lihat aku berjalan saja tak kuat lagi. Terpaksa kau gendong. Walau saya tahu itu berat di saat kita sama-sama menghindari gempuran pasukan musuh.”
“Itu sudah tugas saya mayor,” ucap Sersan Madi. Dia tak mau memindahkan kepala sang komandan dari pangkuannya. Karena dia tahu pangkuannya lebih nyaman ketimbang harus direbahkan di tanah parit.
Sejenak hening. Subuh sudah tiba. Tapi tak ada suara azan. Dari kejauhan hanya terlihat asap tebal mem bubung tinggi dan reruntuhan bangunan Benteng Kota Lama.
“Sersan …”
“Saya mayor.”
“Bagaimana pendapat kamu tentang perang yang baru saja kita lakoni ini?” Suara Mayor Latif kian mele mah. Sersan Madi harus merapatkan telingannya supaya jelas terdengar.
“Belum berakhir mayor. Kita belum menyerah kalah,” kata Sersan Madi dengan nada pelan tapi jelas dan tegas.
“Apa rencanamu sersan?”
“Saya akan berjuang bersama rakyat. Saya bersumpah mayor. Saya akan kalahkan Jenderal Kick dan pa sukannya. Saya akan enyahkan dia bersama pengikutnya dari negeri ini …”
Mayor Latif tersenyum. Diam-diam bangga dengan tekad  salah satu anak buahnya  terbaik ini.
“Itu tidak mudah sersan. Butuh waktu lama sementara rekan-rekan kita yang lain sudah pada tiada.”
“Saya harus yakin mayor. Tak ada yang mustahil di dunia ini kalau kita yakin.  Dan saya yakin rakyat su dah lama membenci Jenderal Kick karena  kebiadaban dan kesewenang-wenangannya.  Tapi mereka ti dak tahu harus berbuat apa. Senjata tak ada, hidup pun susah. Mereka sibuk dengan urusan masing-ma sing. Nah, saya akan dekati mereka dan yakinkan mereka bahwa sesungguhnya penjajah di negeri ini harus dilawan dan bukan dijadikan teman.”
“Tapi sersan …” Mayor Latif  berusaha untuk duduk, tapi dicegah  Sersan Madi karena dalam kondisi badan yang melemah ini lebih baik dan aman jika tetap berada di pangkuan.
“Anda harus berjuang sendiri sersan.”
“Kan ada mayor.”
“Saya rasanya sudah tidak kuat lagi sersan. Penglihatanku tiba-tiba kabur …”
“Sebaiknya kita istirahat dulu mayor. Nanti setelah hari terang baru kita pergi dari sini.” Dia betulkan letak kepala Mayor Latif yang sempat miring ke kanan tadinya.
“Sersan …”
“Siap mayor.”
“Bantu saya ucapkan ini …”
“Siap mayor …”
“Laaa …
“ilaaha …”
“Ilaaha …”
“Illal …”
“Illal …”
“lallahu …”
“Lallahu …”
“Muhammadur ..”
“Muhammadur …
“Rasulullah ..”
“Rasulullah …”
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun …
Setelah menutup pelan kedua mata Mayor Latif, Sersan Madi merebahkan tubuh teman dan juga koman dannya itu di tanah.
Dia menangis sesunggukan.
Dia menjerit sekuat-kuatnya di tengah percikan api yang melayang-layang di udara dan pesta kemena ngan  Jenderal Kick beserta pasukannya yang mulai beranjak pergi meninggalkan pangkalan sementara mereka di simpang tiga Kota Lama. (TAMAT)
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar