Novel ….
Cak Luy (2)
By Wak Amin
12
KARENA sudah tengah malam, disepakati oleh empat orang
suruhan Tuan Murdoch, mengakhiri penca rian terhadap Mr Clean dan Yulia pada
hari ini. Pencarian dilanjutkan keesokan harinya sampai buruan mereka ini diketemukan
dalam keadaan hidup atau mati.
Sementara Mr Clean dan Yulia bermalam di salah satu rumah
warga. Beruntung pemilik rumah bersikap ramah dan mau menerima mereka, tanpa
curiga dengan mempersilakan keduanya untuk beristirahat, makan dan minum seadanya.
Malam itu berlalu dengan aman dan lancar. Si mata sipit cs
memilih bermalam di atas speed boat yang
ditambatkan di pinggiran sungai.
Mereka terpaksa tidur di speed boat, karena untuk kembali ke rumah empu
nya ‘motor tempel’ ini, cukup jauh sementara mereka yakin tempat persembunyian
Mr Clean dan Yulia sudah dekat.
“Kita bertekad besok harus
dapat,” kata si Gimbal, diiyakan bodiguard berkulit putih dan hitam.
“Kamu yakin betul bakal menemukan mereka Bal.” Mata sipit
ragu. Bisa jadi Mr Clean sudah sangat jauh dari tempat mereka bermalam di
speedboat saat ini.
“Harus Fit. Sebab kalau tidak yakin, buat apa kita
berpayah-payah mencari dan mengejar mereka. Betul tidak kawan-kawan?”
“Betuuul,” jawab si putih dan si hitam serempak.
“Okelah … Kalau begitu tunggu apalagi. Yuk kita bobok
sekarang.” Sipit memilih tidur di belakang, dekat mesin speed boat. Karena tak
muat kalau berselonjor, terpaksa melipat kedua kaki saat tidur.
Malam terus bergerak. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan
dengan gemerik air sungai dan riak ombak nya yang menggoyang lembut bodi speed
boat.
Tidur pulas. Ketika bangun keesokan harinya badan terasa
lebih segar dan bugar. Itulah yang dirasakan mata sipit dan ketiga rekannya.
Apa saja yang mereka temui saat pagi menjelang, mereka makan
karena mereka tidak membawa bekal sebelumnya. Mulai dari ikan mentah yang
mereka tangka rame-rame berempat, sampai harus memanjat pohon kelapa bergantian
hanya untuk mengganjal perut agar tidak kelaparan.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyusuri tepian
sungai. Pemandangan sekitarnya masih alami dengan panorama hutan yang masih
perawan, asri dan sangat indah meski terkesan lenga ng terkecuali sayup-sayup
terdengar menggoda kepak suara burung.
Beberapa saat kemudian, Gimbal cs baru menemukan rumah penduduk.
Beberapa warga tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang
menjemur ikan dan kemplang ikan, mandi dan juga ada yang mencuci pakaian.
Ada beberapa buah perahu yang ditambatkan. Belum satu pun
dinaiki sementara anak-anak bermain dan sebagian lagi bersiap berangkat ke
sekolah.
Sepanjang mata memandang nyiur seolah melambai-lambai. Tanah
putih kecoklatan dengan rumah tanpa tiang. Mereka kelihatan hidup rukun dan
damai.
“Apa perlu kita mampir Bal?” Tanya si mata sipit.
“Bagaimana kawan-kawan?” Mata sipit melempar tanya. Dia Melirik si putih dan hitam tertawa senang melihat
kelucuan anak-anak di tepian sungai. Berkejar-kejaran lalu terjun, berenang dan
menyelam ke sana kemari.
“Mana baiknya saja, kami menurut.” Jawab keduanya. Singgah boleh,
tak singgah juga tidak apa-apa. So alnya, yang penting saat ini adalah
menemukan secepatnya Mr Clean dan Yulia. Tugas selesai dan bisa pulang lebih
awal.
Demi efisiensi pengejaran, mereka urungkan untuk singgah
walau hanya sebentar. Mereka terus melaju sampai ke ujung sungai yang sedikit
melebar bentuk dan posisinya.
Ada dua jalan yang bisa ditempuh. Lurus ke depan atau belok
kanan. Bedanya, jika menempuh jalur lu rus, kanan dan kiri hutan dan beberapa
jam kemudian baru bertemu rumah penduduk.
Sedangkan jalur ke kanan, walau ada hutan, jaraknya dengan
pemukiman warga, tak terlalu jauh. Jalur ini banyak digunakan pengguna
transportasi laut karena lebih ramai dan bisa singgah sewaktu-waktu bila
kepingin dan ada keperluan.
13
“ITU mereka Cuy …!” Teriak Gimbal. Dia menunjuk ke pemukiman
warga. Ada jalan dua tapak yang menghubungkan antar kampung. Tampak dengan
santainya Mr Clean membonceng Yulia.
Tak sedikit pun ia kuatir dengan Gimbal cs. Meski tak lagi
menggunakan sepeda motor, cuma bersepeda kepunyaan warga, tembakan yang
dilepaskan si mata sipit dijawab Mr Clean dengan meliuk-liukkan sepe da sementara
Yulia yang dibonceng di belakang, tertawa terpingkal-pingkal sambil melambaikan
tangan ketika speed boat mulai merapat ke pinggir sungai.
Jeredup …
Gedebug ….
Yulia makin terpingkal-pingkal melihat , karena terlalu
cepat merapat, mata sipit dan
kawan-kawan terlempar dari speed boat dan berguling-gulingan di atas tanah
berpasir.
Warga terheran-heran menyaksikan ulah empat lelaki asing di
mata mereka itu. Kenapa dan mau apa mereka kemari, lantas mengapa sampai
jungkir balik dari speed boat.
Gimbal sc cuek saja. Mereka mengejar ke mana arah Mr Clean
mengayuh sepedanya. Mereka pun, dengan sedikit memaksa, akhirnya meminjam dua
sepeda warga. Sepeda ontel orang kampung me nyebutnya.
“Cepat sedikit Mister. Mereka bersepeda juga,” kata Yulia.
Dia sudah tidak tertawa lagi. Sama-sama bersepeda. Tinggal lagi siapa yang
cepat mengayuh dan lihai bermanuver.
“Bisa ketangkep kita Mister.” Yulia mulai berkeringat
dingin.
“Tenang saja Yulia,” bisik Mr Clean. Mempercepat laju
sepeda, sampai di pertigaan mereka belok kanan. Lalu melewati jembatan gantung sepanjang dua puluh lima
meter.
Jembatan itu masih kokoh. Hasil swadaya warga kampung. Dari atas
jembatan gantung itu kita leluasa melihat air sungai jernih mengalir di sela
bebatuan. Sering digunakan warga untuk memancing dengan menggunakan sampan.
Keduanya turun dari sepeda. Berjalan lambat karena jembatan
terus bergoyang bila ditapaki, apalagi ha rus menggandeng sepeda.
“Auuuu Mister!” Teriak Yulia. Badannya oleng karena jembatan
gantung seolah miring ke kanan dan me laying-layang.
“Pegang stang sepeda Yul.”
Yulia malu-malu.
“Daaagh ah, jangan malu-malu. Cuma pegang stang sepeda saja
malu,” ledek Mr Clean.
“Telunjuk Mister turunkan sedikitlah.”
“Oh sori ya.” Mr Clean buru-buru menurunkan jari telunjuknya
yang sempat menunjuk ke atas karena menahan sepeda yang juga ikut oleng
tadinya.
“Auuuw …!”
Yulia nyaris jatuh. Cepat ditarik Mr Clean. Berpegangan
kembali di stang sepeda, keduanya memper cepat langkah agar lebih cepat sampai
di kampung seberang.
Yulia tak henti-hentinya berteriak setelah melihat badan Mr
Clean berkali-kali miring ke kiri menahan goyangan jembatan gantung berbahan
seling dan tali besar itu.
“Naik sepeda saja Yulia, mau kan?”
“Tak usah Mister. Bertambah berat,” jawab Yulia.
“Atau pegang saja baju saya.”
“Biar begini sajalah Mister. Di samping Mister dan
berpegangan di stang sepeda,” kata Yulia.
Di tengah rasa takut jatuh dari atas jembatan gantung ,
Yulia berharap mereka tak sampai tertangkap Gimbal Cs. Dia masih kuat berjalan dan siap dibawa ke
manapun oleh Mr Clean.
“Itu mereka!” Jerit si mata sipit. Dia melihat Yulia harus
jatuh bangun untuk sampai ke seberang jemba tan.
Trot … tot … trot … tot …
Mata sipit melepaskan tembakan saat Mr Clean dan Yulia
berhasil tiba di seberang dengan
melompat ke semak-semak.
“Aduuuh!” Ringis Yulia. Tangannya lecet karena tergores batu
kala jungkir balik tadi.
14
DARI balik semak, Mr Clean masih menunggu apa gerangan yang
bakal dilakukan Gimbal dan ketiga re kannya. Ternyata mereka berusaha untuk
bersepeda di atas jembatan. Karena bergoyang, tentu saja sepeda oleng, terbalik
. Hitam dan putih yang berada di atas sepeda jatuh tertimpa sepeda.
“Bodoh betul kalian berdua ini,” kata Gimbal meledeki dua
rekannya yang tertimpa sepeda.
“Badan saja yang
gede, otak didengkul,” sahut si mata sipit.
Merasa tersinggung, si kulit putih mengangkat tinggi sepeda
yang dia ambil paksa dari tangan Gimbal, lalu dilempar jauh ke sungai.
Gimbal tak terima. Dia pun, setelah mengambil paksa sepeda
yang stangnya dipegang si hitam, dilempar juga ke sungai.
Kini mereka berempat tidak punya sepeda lagi.
Lalu?
Si Gimbal menodongkan senjata ke bodiguard putih dan hitam,
menyuruh keduanya berjalan lebih dulu ke seberang.
“Cepat sana!” Sergah sipit. Walau badan kalah besar, di
bawah todongan senjata, dua bodiguard kesa yangan Tuan Murdoch ini dibuat tak
berkutik.
Berjalan di atas
jembatan gantung baru pertama kali ini mereka lakukan. Jadi wajar bila saat
pertama kali kedua kaki menginjak tali, harus jatuh bangun. Tali sempat
ngelendot karena beban terlalu berat menahan badan yang tinggi besar.
“Kenapa lihat-lihat?” Hardik sipit.
“Orang bukan itu?” Si putih balik bertanya.
Ketika Sipit dan Gimbal menoleh ke belakang, siputih
berhasil merebut senjata di tangan Gimbal, ber balik menodongkan senjata ke dua
rekannya yang jago tembak itu.
“Cepat sana bodoh!” Hardik si putih sambil menendang bokong
si sipit sementara rekannya hitam melakukan hal yang sama pada si Gimbal.
“Jangan begitulah,” kata sipit dengan wajah memelas.
“Mentang-mentang pakai senjata,” omel si Gimbal dengan mata
melotot. Dia berharap sikapnya ini membuat gentar si putih.
“Kenapa melotot-melotot. Melawan ya?” Tanya si putih seraya
menempelkan muncung senjata ke perutnya Gimbal.
“Tembak kalau berani!” Tantang Gimbal gemetaran.
Guaaam …
Senjata meletus. Peluru yang mengenai perutnya, membuat Gimbal sempoyongan sebelum akhirnya jatuh dari
atas jembatan dengan kepala pecah menghantam batu, lalu disapu arus sungai,
hanyut diba wa air mengalir deras.
Melihat temannya jatuh, si sipit naik pitam. Dia meninju
mukanya hitam. Kena. Jatuh dengan kepala tersangkut di tali.
Guaaam …
Guaaam …
Si putih tak tinggal diam. Dia tembak kepalanya sipit. Tewas
seketika. Mayatnya dia lemparkan bersama si hitam ke sungai.
Kini hanya berdua.
Hitam dan Putih. Sambil memegang pagar, tali kiri dan kanan jembatan,
keduanya terus melangkah walau lambat.
Mr Celan belum juga beraksi. Dia masih menunggu hitam dan
putih lebih mendekat ke seberang jem batan .
“Apa tidak lebih baik sekaranglah kita bertindak Mister,”
kata Yulia. Bersama Mr Clean sudah menyiap kan betetan (ketapel) dan siap
dibidikkan ke sasaran.
“Tunggulah sebentar Yulia,” kata Mr Clean.
Si hitam dan putih kian lama kian mendekat. Kini hanya
berjarak kira-kira tiga meter dari tempat persem bunyian Mr Clean dan Yulia.
“Oke Yulia?”
“Oke Mister.”
Huuup …
Celetek
Daaag …
Beberapa batu kerikil mengenai kepala si hitam dan putih. Berdarah
dan sempoyongan. Terlempar dan jatuh ke dalam air.
15
TENGAH malam …
Grenteeeeng …
Cokleeeek …
“Tuan Sanders. Ada seseorang yang ingin bertemu anda di
luar,” kata Pak Sipir tanpa senyum.
Tuan Sanders yang hampir seharian tak tidur mendekat ke
pintu sel. Juga tanpa senyum tapi sedikit tegang.
“Dengar tidak Tuan?” Pak Sipir melotot dibalas Tuan Sanders
dengan melotot pula.
Traaak …
“Aduh …!”
Tuan Sanders meringis kesakitan setelah tangannya ditarik
Pak Sipir ke luar sel. Lalu dia pelintir dan tekuk ke besi sel.
“Mau saya patahkan tangannya Tuan Sanders?”
“Jangan, jangan Pak Sipir. Kalau tangan saya dipatahkan,
bagaimana saya makan. Ini kan tangan kanan Pak Sipir,” jawab Tuan Sanders
meminta maaf dan ampun.
Dia dorong tangan kanan Tuan Sanders masuk lewat lubang sel,
lalu dia tarik tangan kiri lewat lubang di sebelahnya.
“Jangan juga Pak Sipir. Tangan ini buat saya becebok. Bagaimana
becebok kalau tak ada tangan kiri. Enggak mungkinlah pakai tangan kanan saya
becebok.”
Deruuuuk …
Jegeeer …
Setelah mendorong masuk tangan kiri Tuan Sanders, Pak Sipir
membuka gembok kunci pintu sel. Aneh nya,
teman Rifshan ini belum mau keluar dari dalam sel.
“Bisa minta tolong enggak Pak Sipir?”
“Apa?”
“Suruh kemari saja beliau yang di luar itu Pak.”
Pak Sipir diam.
“Mau ketemu beliau atau tidak sama sekali malam ini Tuan
Sanders.” Pak Sipir menarik kerah baju Tuan Sanders sebelum dilepaskan lagi
setelah Tuan Sanders meminta maaf dan mengiyakan permintaan lelaki bertampang
seram itu.
“Baiklah, saya akan temui beliau,” kata Tuan Sanders dengan
langkah gontai ke luar dari sel.
Dia sama sekali tidak tahu orang yang ingin bertemunya
malamini adalah Tuan Murdoch. Sang Tuan memang sengaja datang berkunjung ke
penjara luar kota. Dia sengaja menemui
dua koleganya yang masuk bui secara diam-diam.
Buat keperluan apa?
Treeeeng …
“Terus saja Tuan. Lurus .. Lalu belok kanan,” kata Pak
Sipir. Dia tak ikut mengantar karena harus memeriksa tahanan lain pada tengah
malam ini.
Tuan Murdoch melepas senyum dari kejauhan. Dia menyambut
hangat kedatangan koleganya itu. Dia dikawal bebera pa anak buahnya yang jarang
tersenyum, apalagi tertawa.
Kemudian memeluk hangat Tuan Sanders. Menanyakan kabarnya
kini, lalu meminta maaf karena baru kali ini dia bisa menjenguk lantaran ada
kesibukan mengelola bisinis baru. Bisnis ekspor impor.
“Rifshan mana Ders?”
“Kami dipisah ruangan Tuan.” Jawa Tuan Sanders. Ikut merokok
setelah ditawati Tuan Murdoch rokok. Nikmat rasanya merokok. Sejak masuk sel
dia tak pernah bersentuhan dengan yang namanya rokok.
“Tuan Sanders.”
“Ya Tuan Murdoch.”
“Anda mau saya bebaskan?”
“Maulah Tuan. Tak enaklah di penjara ini. Lainlah dengan di
rumah sendiri. Betul kan kan Tuan Murdoch?”
Ha ha ha ha …
“Namanya juga penjara Tuan Sanders. Mana enaklah …”
Hua ha ha ha …
“Saya akan bantu kamu, tapi tolong bantu juga saya Tuan
Sanders.”
“Apa yang bisa saya bantu Tuan?”
Tuan Murdoch membisikkan sesuatu di telinga Tuan Sanders.
Tuan Sanders terkejut.
16
SAAT makan siang …
Tuan Sanders sudah lima menit menunggu Rifshan di meja
makan. Nafi lain yang lagi makan di dekat tempat duduknya serempak pada
ngeledek …’Sanders nunggu pacar …pacarnya kesasar .. sudah tahu wakuncar ..
taunya jalan-jalan ke pasar …’
Ha ha ha ha …
Karena ngeledeknya rame-rame, riuhlah suasana tempat makan.
Salah seorang petugas mendekati Tuan Sanders sambil berkacak pinggang dengan
kaki kanan menginjak kursi makan.
“Eeeeh .. bosan makan ya?”
“Ini sudah makan Pak,” jawab Tuan Sanders. Menyendok nasi
dan potongan ayam, lalu dimakan.
“Kenapa nasi tuan masih banyak?” Tanya si petugas
sambil menurunkan kakinya. Soalnya, napi
yang lain sudah pada dua kali tambah nasi dan lauk pauk.
“Menikmati Pak.”
“Ok oooo. Cepat ya. Jangan lama-lama menikmatinya. Sebentar
lagi jam makan siang habis,” pesan si petugas, berlalu pergi memeriksa
sekelompok napi paling ujung yang nyaris baku hantam gara-gara rebutan lauk.
“Hei Bos!” Tegur
Rifshan dari samping kanan.
Tuan Sanders menoleh ke kanan, yang negur tidak ada.
“Kemana dia?”
“Di kiri Bos ..”
Menoleh ke kiri, Tuan Sanders tak juga menemukan Rifshan.
“Kampret tuh orang,” maki Tuan Sanders dalam hati.
Bosan menoleh ke kiri dan kanan, dia berdiri agar bisa
melihat secara jelas keberadaan Rifshan. Mana tahu dia bersembunyi di balik
kerumunan napi yang berebutan lauk.
“Aku di depanmu Bos.” Kata Rifshan tersenyum menarik kursi
makan.
“Ah kamu. Sompret lu.”
“Sabar. Yuk kita makan dulu,” ajaknya. Menyendok sop daging
panas lengkap dengan potongan kentang dan wortel.
Sesaat diam.
Karena sama-sama makan.
Menikmati santap siang berdua.
“Semalam aku ketemu Tuan Murdoch, Shan.”
Rifshan kaget. Hampir saja nasi di mulut keluar lagi.
“Dimana, dimana?”
“Ya disinilah. Beliau sengaja datang untuk menemui aku
Shan.”
“Aku enggak diajak?”
“Bukan enggak diajak. Tempatmu saja aku tak tahu. Jadi wajar
kau tak kuajak, apalagi Tuan Murdoch tak lama.”
“Ya apa salahnya kasih tahulah Pak Sipir, Ders. Kan beres,”
ucap Rifshan kecewa.
Kesal, Tuan Sanders menginjak kaki Rifshan. Meringis
kesakitan.
Napi yang lain serempak menoleh. Heran bercampur lucu. Menurut
mereka, Tuan Sanders dan Rifshan tak cocok disebut napi karena licin dan
kelimis.
Ha ha ha ha …
“Mereka cocok jadi bencong,” komentar napi penuh tato. Dari
betis hingga kepala ditato berbagai bentuk dan corak.
Mereka baru diam setelah dari pengeras suara, terdengar
suara petugas yang mengingatkan para napi waktu makan siang tersisa lima menit
lagi.
“Mau dengar ceritaku Rifshan?”
“Maulah Ders.”
“Beliau menyuruhku membunuh kamu malam ini …”
Gredeg ..
Triiing …
Sendok dan garpu sampai jatuh ke bawah meja makan panjang.
Sesak rasanya nafas Rifshan. Dia buru-buru minum dan dtenangkan Tuan Sanders.
Rifshan masih batuk-batuk. Mukanya sampai merah karena terus
menerus batuk.
“Kamu serius Ders?” Rifshan menduga temannya ini bersenda
gurau. Hanya ingin balas dendam karena merasa ‘dikadali’ barusan.
Ketika Tuan Sanders mengangguk, penglihatan Rifshan mulai
berkunang-kunang.
17
ADA apa dengan Rifshan?
Dia hanya terlalu kaget. Badannya tiba-tiba merasa lemas.
Dia sebenarnya ingin bicara lebih banyak lagi dengan Tuan Sanders. Karena
jadwal makan siang sudah habis, mereka pun harus masuk sel lagi.
Di dalam sel, keduanya asyik dengan lamunan masing-masing.
Rifshan misalnya, dia kini merasa nasib nya ada di tangan sobatnya, Tuan
Sanders.
Sedangkan Tuan Sanders berat hati untuk membunuh teman
sendiri hanya sekadar ingin menghirup udara bebas, keluar dari penjara
‘menakutkan’ ini.
“Apa iya bisa begitu?” Tanyanya dalam hati.
“Lantas dengan cara apa Tuan Murdoch membebaskan saya?”
“Ah …” Bisik Tuan Sanders. Dia mulai kuatir dan ragu.
Keraguannya itu pada janji Tuan Murdoch untuk membebaskannya setelah menghabisi
Rifshan.
“Jangan, jangan .. setelah aku bunuh Rifshan justru aku pula
yang disangkakan kelak. Iya kalau dia realisa sikan janjinya, kalau tidak?”
Taruhlah, entah kenapa Tuan Sanders sampai berpikir sejauh
itu, Rifshan berhasil dibunuh. Kalau ketahu an pasti gempar.
“Pasti aku duluan yang ditanyai. Semua mata tertuju padaku.
Mereka menyalahkanku karena selama di penjara ini memang tidak ada satu napi
pun yang mengganggu aku dan Rifshan.
Jadi kalau bukan aku, siapa lagi.”
“Biarkan saya yang membereskannya Tuan Sanders,” kata Pak
Sipir dari balik pintu sel. Sebelumnya pelit senyuman, malam ini dia tiba-tiba
murah senyum dan ketawa tak lebar.
“Pak Sipir!”
“Saya sudah diberitahu Tuan Murdoch. Dia menawari saya
bekerjasama dengan anda untuk menghabisi Rifshan. Saya jawab mau kerjasama
asalkan tuan dilibatkan juga,” jelas Pak Sipir.
Tuan Sanders belum berkomentar.
“Oke kata Tuan Murdoch. Beliau setuju dengan syarat yang
saya ajukan. Ya, saya oke. Nah, kini tinggal persetujuan dari Tuan Sanders
lagi. Kalau oke, kita siap bergerak malam ini juga.”
“Caranya Pak Sipir?” Tak sengaja pertanyaan ini keluar dari
mulut Tuan Sanders.
“Kalau perkara itu gampanglah. Serahkan sama aku …”
Tuan Sanders masih ragu. Tak tega rasanya dia membunuh teman
sendiri. Tapi dia tak punya pilihan. Soalnya, Pak Sipir sudah tahu rencana dan
pemufakatan jahat ini. Dia sudah diberi lampu hijau oleh Tuan Murdoch untuk membantunya.
“Pak Sipir …”
“Tuan tak bisa menolaknya lagi. Jika tuan menolak maka saya
tak bertanggung jawab soal keselamatan tuan selama ditahan di sel ini.” Terang
Pak Sipir. Bukan mengancam, hanya menjelaskan kemungkinan Tuan Murdoch murka
dan mengambil jalan pintas serta nekad.
“Maksud Pak Sipir?”
“Kalau tuan menolak, saya juga tak mungkin mengelak, atas
suruhan Tuan Murdoch, menghabisi tuan dan sahabat tuan itu …”
Tuan Sanders terdiam.
“Kita tak punya banyak waktu lagi tuan. Jawab saja, ya atau tidak.
Mau atau tidak mau … kan beres.”
Setelah Tuan Sanders mengatakan ya, bersama Pak Sipir,
keduanya bergegas menuju ruang tahanan Rif shan. Suasana sel sepi mencekam. Tak seorang napi pun yang berani mendekati
pintu sel yang lazim me reka lakukan setiap penghuni baru memasuki sel.
Semua napi pada istirahat. Ada yang tidur, atau sekadar
rebahan dad duduk bersemedi. Hanya sedikit yang melakukan sharing sesama teman
satu sel.
Ketika sampai di depan pintu sel Rifshan, Pak Sipir dan Tuan Sanders heran karena yang
bersangkutan tidak ada di tempatnya.
Kemana dia?
18
“SAYA disini Pak,” jawab Rifshan. Dia tidak kemana-mana. Dia
berdiri di bailik tempat tidur. Tidak keliha tan karena memang rada gelap.
Tidak menjawab panggilan barusan karena malas. Sebab, Rifshan tahu sebentar
lagi nyawanya akan melayang.
“Masuklah Pak Sipir dan temanku Tuan Sanders.” Rifshan
mempersilakan keduanya masuk. Namun Pak Sipir lebih senang berdiri di luar
pintu sel bersama Tuan Sanders.
“Tidak keberatan ikut kami Tuan Rifshan. Hanya sebentar …
Tidak lama.”
“Boleh. Tapi hendak kemana kita Pak?”
“Tidak kemana-mana. Santai sajalah. Kita hanya makan angin
di luar. Sharinglah begitu …” Kata Pak Sipir, tersenyum lebar.
Tuan Sanders mengiyakan. Tapi Rifshan masih ragu dan curiga.
“Ayolah Tuan Sanders. Saya ada perlu sebentar sama kalian
berdua.” Pak Sipir ingin semua berjalan
se suai rencana. Tidak ada pemaksaan yang berujung pada kekerasan dan keributan
di dalam dan luar sel tahanan.
“Yuk Shan. Kita came on …” Ajak Tuan Sanders. Mereka pergi
meninggalkan sel menuju pintu gerbang ketiga. Pintu ini kerap digunakan petugas
penjara (lapas) untuk keluar masuk melakukan aktivitas kerja seharian.
Dari pintu ini ketiganya memutar ke kanan, lalu balik menuju
jalan setapak tempat parkir khusus kenda raan. Disinilah Rifshan dihabisi
dengan cara ditembak kepalanya oleh Pak Sipir.
Sebelumnya Pak Sipir meminta Tuan Sanders lah yang menembak.
Karena tak tega, dia menolak keras walau
sempat diancam dengan bentakan dan dibawah todongan pistol dikening.
Tuan Sanders hanya diam saat eksekusi berlangsung. Dia tak
mampu berbuat apa-apa. Meski hanya se kadar meng gerakkan tangan untuk merebut
pistol dari tangan Pak Sipir agar tak terjadi tembakan.
Hatinya luluh. Sanubarinya menjerit. Tapi semua itu tak ada
gunanya jika tak mampu melakukan apa pun. Hanya terpana, lalu ikut membantu Pak Sipir menggotong
Rifshan yang kepalanya berlumuran darah segar dan sudah sekarat.
Saat digotong berdua menuju lautan lepas, Rifshan masih
sempat menatap wajah Tuan Sanders. Tak lama. Senyum dikembangkan, dan setelah
itu tak bernafas lagi.
“Rifshan,” ucapnya dalam hati. Ingin rasanya mencium dan
memeluk Rifshan terakhir kalinya. Tapi tak ia lakukan karena harus bergegas melewati
terowongan kecil menuju pintu belakang.
Sesampainya di dermaga, semacam pelabuhan kapal, mayat Rifshan dilempar ke laut. Beberapa
menit dibiarkan hanyut dibawa air lautan, lalu tenggelam dan tak kelihatan
lagi.
“Beres kan Tuan?”
Tuan Sanders tak menjawab.
Tak lama kemudian terdengar letusan kecil. Sebuah peluru
jarak dekat dilepaskan Pak Sipir dari mun cung pistolnya, tepat mengenai ulu
hati. Seketika itu juga Tuan Sanders tewas.
Dengan satu kali dorongan ke depan, Tuan Sanders yang sudah
sekarat itu jatuh ke dalam air dengan posisi terlentang. Sebelum tenggelam, Pak
Sipir melepaskan tembakan beberapa kali sebelum pergi meninggalkan dermaga terbikin
dari besi yang usianya sudah sangat tua itu.
Pak Sipir menghela nafas.
Dia menelepon seseorang.
Siapa dia?
“Tuan Murdoch. Semua sudah dibereskan …”
“Oke. Kapan kita bisa ketemu?” Tanya Tuan Murdoch yang
merasa lega setelah mendengar kedua ko leganya sudah tewas.
“Saya sangat perlu uang sekarang Tuan Murdoch.”
“Oke. Nanti saya kirim anak buah saya secepatnya pagi nanti.
Anda tunggu sajalah.”
“Baik Tuan Murdoch.”
“Oh ya Pak Sipir. Saya ucapkan terima kasih. Semoga
kerjasama kita ini bisa dilanjutkan pada hari-hari berikutnya …”
“Sama-sama Tuan …”
19
TERJADI tembak menembak antara aparat kepolisian yang
dipimpin Letnan Salam dengan anak buah Tuan Murdoch di pelabuhan laut pada
tengah malam. Bongkar muat baru saja usai. Permata baru ditu runkan dari kapal,
diangkut dan diletakkan di belakang truk tronton.
Ada sekitar 500 kotak yang berisi permata berkilau hasil
kiriman dari negara luar. Permata ini sengaja di datangkan Tuan Murdoch karena
yang bersangkutan selain mengelola beberapa klub malam, kafe dan bar juga jual
beli permata.
Tak banyak yang tahu transaksi bisnis ratusan miliaran rupiah
itu sudah berlangsung lama. Namun bebe rapa tahun belakangan ini kiriman permata dari luar itu
sudah dibarengi dengan pemasokan narkoba.
Tepung-tepung putih itu dimasukkan ke dalam bongkahan permata
dan juga diletakkan di bawah perma ta. Jadi kalau diperiksa sekali lewat tak bakalan
ketahuan. Justru di bagian terbawah
kotak itu juga di tempatkan sediktnya 30-40 bungkus barang haram tapi nikmat
itu.
Tepung-tepung itu, sebelum dilempar ke distributornya,
diperiksa terlebih dahulu oleh tim ahli yang di bentuk Tuan Murdoch. Pemeriksaan dilakukan di sebuah
laboratorium khusus narkoba. Setelah dinya takan asli dan berkualitas baik
barulah dilempar ke pasaran.
Pihak kepolisian telah mencium gelagat ini pasca tewasnya Samuel, terakhir Tuan Sanders
dan Rifshan. Mr Clean sudah memberitahu rekan-rekannya untuk waspada dan terus
meningkatkan pengintaian atas transaksi illegal dan terselubung yang dijalankan
Tuan Murdoch.
Karena hasil serapan dari beberapa informan di lapangan,
beberapa bulan terakhir transaksi gelap yang dijalankan Tuan Murdoch semakin
meningkat. Di beberapa tempat sering ditemukan sekelompok orang dengan mudahnya
membeli barang super lezat itu.
Tentu pihak kepolisian tidak serta merta mempercayai
informasi yang masuk ke lingkungan tempat kerja mereka. Merekamembentuk tim yang diketuai Letnan
Salam. Mereka menyisir ke beb rapa tempat. Mu lai dari klub-klub malam, rumah
sekolah, perkantoran hingga hotel dan penginapan dari kelas bawah, menengah
hingga atas.
Penyisiran tahap pertama belum membuahkan hasil. Baru pada
tahap kedua sudah ada titik terang. Ada beberapa orang menjadi penjual dan
pemasok, bahkan pemakainya yang sebagian besar berusia muda.
Mereka yang tertangkap tangan menjual, menadah dan
menggunakan narkoba sudah diamankan. Ada yang masuk bui, tak sedikit
direhabilitas di tempat rehabilitasi narkoba. Disayangkan memang, mayori tas
mereka yang terlibat narkoba adalah generasi emas bangsa.
Mereka adalah pelajar, mahasiswa, artis, musisi, karyawan
swasta dan pemerintahan. Ironisnya, ada ju ga dari kalangan pejabat,
orang-orang berpengaruh dan punya nama di masyarakat. Tokoh-tokoh terke nal dan
cukup disegani.
Aparat kepolisian, pada tahap selanjutnya atau ketiga, tidak
lagi memfokuskan penyisiran di tempat-tem pat tertentu seperti yang dilakukan pada tahap satu dan
dua. Kini mereka menyisir ke pelabuhan dan bandara.
Di pelabuhan, aparat kepolisian mencium adanya pengiriman
dalam jumlah besar permata tepat tengah malam.
Mereka mulai beraksi dengan mengepung sebuah pelabuhan laut terbesar.
Namun belum ada tanda-tanda yang mencurigakan.
Sampai akhirnya ada dua unit mobil sedan besar berhenti di
depan pintu gerbang pelabuhan. Letnan Sa lam belum memberi perintah pada Sersan
James dan kawan-kawan untuk beraksi. Masih menunggu apa yang bakal dilakukan
orang yang ada di dalam mobil produksi terbaru itu.
Lima menit menunggu, ternyata tak seorang pun yang keluar
dari dalam mobil itu. Beberapa petugas pelabuhan tampak mondar-mandir keluar
masuk pintu gerbang. Selebihnya lelaki lelaki berkacamata yang duduk di jok
belakang menelepon seseorang.
“Letnan …”
“Sebentar Sersan James,” kata Letnan Salam. Jangan gegabah
bertindak sebelum melihat secara jelas apa yang terjadi. Boleh jadi hanya
suasana yang sepi, tapi dikelilingi orang-orang tertentu yang sengaja
dipersiapkan bila transaksi dan pengiriman barang jadi terhambat.
“Letnan. Coba lihat!” Ucap Sersan Steven. Seorang laki-laki
besar berkulit sawo matang keluar dari mobil sedan terdepan. Dia melihat ke
sekitar pelabuhan. Lalu menelepon seseorang sebelum masuk lagi dan mobil pun
melaju pergi.
Dua menit kemudian, satu truk tronton datang. Berhenti
sebentar. Kemudian mundur dan maju lagi. Ber henti, mundur beberapa meter ke
belakang. Peti-peti besar diturunkan menggunakan derek, dan saat itulah Letnan
Salam beserta anak buahnya mulai bergerak.
Kehadiran aparat kepolisian yang semua tidak terdeksi,
akhirnya diketahui oleh salah seorang anak buah Tuan Murdoch yang secara tak
sengaja melihat Sersan Mc Cartney melompat dari balik pintun gerbang pelabuhan.
“Polisi .. polisi …!” Teriaknya sambil berlari. Teriakan
lelaki bertubuh kecil ini menyentakkan teman-temannya yang lain.
Serempak mereka bersembunyi di balik belakang truk dan
gudang pelabuhan. Saling melepaskan temba kan pun tak terhindarkan. Sesekali terlihat desingan peluru melewati
bagian kiri, kanan dan atas kepala Letnan Salam serta orang suruhan Tuan
Murdoch. Selebihnya memilih bersembunyi
dan kedua belah pi hak belum mau menampakkan diri.
“Letnan …”
“Coba kau pancing mereka keluar menyerang,” kata Letnan
Salam pada Sersan James.
“Siap Letnan.”
Sersan James bergeser ke kiri, di belakangnya Sersan Mc
Cartney dan Sersan Steven. Sementara Letnan Salam berada di sebelah kanan.
Tarik nafas sebentar.
Ciyaaah …
Sersan James berlari mendekati truk. Saat berlari dia
dikawal teman-temannya dengan tembakan bebe rapa kali ke arah truk dan gudang
besar. Tak memberi kesempatan sedikit pun pada kawanan bertato itu membalas tembakan.
“Giliran kamu Sersan Mc Cartney.”
“Siap Letnan.”
20
“ADUH …!” Teriak Sersan Mc Cartney. Letnan Salam dan Sersan
Steven tak kuasa menyembunyikan rasa gelinya melihat teman mereka ini
melompat-lompat seperti orang yang kedua kakinya menginjak bara api.
Bruuuk …
Dia terjatuh. Lalu ditarik Letnan Salam dan Sersan Steven
kedua kakinya sehingga tembakan yang
dile paskan kawanan sindikat tidak mengenai sasaran.
Haaah …
Haaah …
Sersan Mc Cartney mengas-mengas.
“Sersan Steven.”
“ Siap Letnan.”
Kebetulan tak terdengar lagi suara tembakan. Sersan Steven
pun berjalan melenggang. Sempat joget sebelum bersua Sersan James.
“Sersan.”
“Siap Letnan.” Jawab Sersan Mc Cartney dengan suara pelan.
Tampak masih berat menarik nafas.
“Saya duluan sersan.”
“Baik Letnan. Biarkan saja saya sendiri di sini.” Kata
Sersan Mc Cartney. “Mudah-mudahan saja tak terjadi apa-apa pada diri saya
Letnan.”
“Oke …”
Karena kawanan sindikat masih mengisi peluru yang habis
dimuntahkan ke Sersan James dan Mc Cartney,
selamatlah Letnan Salam dari desingan peluru.
Kini tinggal Sersan Mc Cartney.
“Cepatlah sersan,” ucap Sersan James lewat telepon seluler.
“Masih mengas, sersan.”
“Nanti digaet hantu lho sersan. Di belakang sersan itu
banyak hantunya,” ledek Sersan Steven.
Hi hi hi hi …
Tatkala ketiganya sama tertawa, ada orang melempar sesuatu
di dekat mereka. Karena gelap, mereka tentu tak bisa melihatnya secara jelas.
Hanya dalam hitungan detik, terdengar ledakan ‘kecil’ di
sekitar persembunyian Letnan Salam cs. Berun tung mereka tidak tewas. Hanya
mengalami luka ringan di tangan dan kaki. Berhasil menghindar dan me lompat ke
samping kanan gudang.
“Letnan … Letnan!” Bisik Sersan Mc Cartney melalui telepon
seluler. Dia kuatir atasan dan kedua teman nya tewas akibat ledakan barusan.
“Letnan … Sersan!”
“Halo .. Sersan .. Letnan!”
“Letnan … Sersan!”
“Ya disini Sersan Steven.”
“Kalian terluka ganti.”
“Sedikit. Cepatlah kau kemari,” kata Sersan Steven. Dengan
nafas yang masih tersengal-sengal, Sersan Mc Cartney memberanikan diri keluar
dari persembunyiannya.
Setengah perjalanan barulah terdengar suara tembakan. Sersan
Mc Cartney menghindarinya dengan jungkir balik sambil meloncat kodok untuk
sampai ke dekat gudang.
“Posisinya Letnan.”
“Di belakangmu sersan,” kata Sersan James. Jika saja tak
terdengar suara tembakan pastilah mereka akan ketawa lebar.
“Ada-ada saja sersan ini,” sahut Sersan Steven. “Sudah sakit
terluka, mau disuruh ketawa lagi.”
Sementara itu …
“Segera kirim pasukan sergap,” perintah Letnan Salam
kepada anak buahnya yang masih siaga di
kantor pusat kepolisian. Sedangkan kepada Sersan James diperintahkan terus
melepaskan tembakan.
“Paling tidak barang kiriman tidak jadi dibawa dengan truk
tronton,” kata Letnan Salam.
Sambil menunggu kedatangan Tim Sergap, Letnan Salam yang
mulai bergerak belakangan, menyusup ke bawah tronton.
Kemudian melompat dan menyelinap masuk ke bak belakang. Dia melihat
sudah separo lebih peti beri sikan
permata indah berkilau berjejer rapi dan
siap diangkut.
“Kita ubah rencana Sersan James.”
“Siap Letnan.”
“Saya di belakang tronton. Kalian bertiga naiklah lewat
pintu depan dan bawa moil ini seceparnya
dari pelabuhan.”
“Siap laksanakan Letnan.”
Kepada Tim Sergap, Letnan Salam melaporkan mereka akan
membawa lari tronton. Jangan menghada ng, apalagi sampai melepaskan tembakan.
Sergapan difokuskan pada sekelompok orang yang mencuriga kan di kawasan pelabuhan dan sekitarnya.
Aksi nekat Letnan Salam ini membuat kaget kawanan penjahat.
Mereka sama sekali tak menyangka truk tronton bermuatan permata itu dibawa
kabur dengan sangat mudahnya. Padahal jarak mereka dengan tronton hanya
beberapa meter.
Tentu saja mereka tak tinggal diam. Mereka mengejar tronton
dengan menggunakan motor trail dan kendaraan roda empat. Aksi kejar-kejaran ini
berlangsung seru dan mendebarkan.
Betapa tidak. Saat motor trail sudah mendekat ke pintu
tronton, Sersan James melakuan zig-zug. Akibat nya, si pengendara trail yang
berboncengan terpaksa mengerem dan tertinggal jauh di belakang.
“Kampret tuh orang. Hebat juga dia bawa tronton. Mungkin
sebelum jadi polisi, tuh orang sopir truk,” ejek pembonceng, lelaki berambut
keriting.
Reeen …
Reeen …
“Kenapa tertawa? Cepat kejar sana! Makan saja taunya.”
Bentak pengendara trail di belakangnya.
Tak lain adalah bosnya.
TOBE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar