Rabu, 05 April 2017

Empat Langkah Membangun Keluarga Sakinah









Tausiyah

Empat Langkah Membangun Keluarga Sakinah
Oleh  Aminuddin

Menurut Syaikh ‘Abdussalam Abu Fadhl dalam kitabnya yang terkenal, ‘ Ibad  ar-Rahman (Mereka yang Dicintai Allah), ada empat langkah membangun keluarga sakinah.
-          Pertama, menikahi isteri yang salehah
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menikah dengan memilih calon isteri yang berasal dari keluarga saleh. Rasulullah SAW memberikan tuntunan dalam memilih calon pendamping hidup dengan sabdanya:

“Wanita dinikahi karena empat hal hal, hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka utamakanlah agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim).

“Barang siapa menikahi wanita karena harta dan kecantikannya, niscaya ia tak akan mendapat kan harta dan kecantikannya, dan barang siapa menikahi wanita karena agamanya, niscaya Allah SWT akan mengaruniakan kepadanya harta dan kecantikan wanita itu.” (HR Thabrani).

-          Kedua, menghindarkan diri dari lingkungan yang tidak baik
Ini adalah langkah kedua setelah langkah pertama mencari pasangan salehah dari keluarga yang saleh. Tidak cukup seseorang mencari pasangan hidup dari garis keturunan yang baik. Tetapi bu tuh usaha lebih lanjut untuk membangun keluarga yang baik, yaitu menghindari dari segala ma cam faktor dan stimulus yang mengarah pada keburukan.

Sabdanya:

“Barang siapa mengikuti perilaku suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” (HR Abu Daud dan Ahmad).

Cara yang ditawarkan Rasulullah SAW  sangatlah sederhana, yaitu janganlah mencontoh perila ku orang lain yang buruk. Apabila mencontoh mereka  yang buruk, maka kita akan ikut buruk. Sebaliknya, mencontoh perilaku yang baik akan membuat kita berperilaku yang baik pula.

Seorang ulama berkata: “Belajarlah dan ajari (perkara agama) seluruh keluargamu dan malulah  karena ketidak-tahuan mereka dan ketidaktahuan dirimu.”


-          Ketiga,  menanamkan visi ukhrawi dalam keluarga
Visi ukhrawi membuahkan kemuliaan, baik di dunia maupun di akherat. Kemuliaan ini adalah target dan tujua utama umat Muslim yang ingin menjadi kekasih Allah.

Imam Abu Hasan as-Sadzili mengatakan dalam doanya: “Ya Allah, kami memohon kemuliaan du nia dan akherat sebagaimana jalan yang dilalui oleh nabi-Mu panutan kami Nabi Muhammad SAW.  Kemuliaan dunia adalah keimanan dan makrifah, kemuliaan akherat dengan bertemu dan memandang Engkau, karena sesungguhnya Engkau Zat Yang Mahadekat lagi Maha Mengabulkan doa.”

Tanpa visi ukhrawi, sebuah keluarga dapat terjerumus ke dalam jurang kesesatan, lebih bodoh daripada binatang, dan lebih hina dari sesuatu yang hina. Sebaliknya, bilamana visi ukhrawi su dah tertanam kuat, maka kebahagiaan abadi, baik di dunia dan keluarga, baik di dalam jiwa mau pun anggota keluarga, akan segera kita raih.

Sesuai dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams 9-10).

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari kei nginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal  (nya).” (QS an-Naazi’aat 40-41).
   

-          Keempat, menetapkan kriteria agama untuk calon menantu
Langkah keempat untuk membangun keluarga bergantung pada pihak keluarga besar, sebelum pernikahan dilangsungkan. Bagi pihak keluarga yang anak-anak mereka dipinang sebelum perni kahan, maka kesalehan dan kepribadian mulia adalah kriteria utama dalam diri calon menantu.
Ingatlah, kemuliaan akhlak harus dijadikan standar menantu, jangan materi yang banyak.

Firman-Nya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (membina rumah tangga) dari para hamba sahaya kamu yang laki-laki dan para ham ba sahaya kamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS an-Nur 32).



  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar