Novel …
Bedeng Seng (6)
Oleh Wak Amin
16
HAAAA …?
Setelah mengintip dari luar dan menemukan jambang cs tidur
pulas di ruang tamu, salah seorang warga yang mendapat giliran meronda bersama
rekan-rekannya berlari ke simpang empat.
Ada apa di simpang empat?
Banyak orang yang berkumpul. Selain jaga malam secara
bergiliran, mereka juga bisa gabung main gaple sampai menjelang waktu subuh.
Tidak setiap malam mereka berkumpul bersama. Ada malam-malam
tertentu. Misalnya malam minggu atau hari libur kerja.
Setiap malam warga bergiliran meronda. Siskamling.
Masing-masing bawa bekal dari rumah. Duduk berempat atau berlima. Giliran
berkeliling komplek, kadang pakai sepeda, berjalan kaki dan menggunakan sepeda
motor.
Nah, pemuda yang tadi mengintip, kebetulan Pak Erte ikut
main gaple, membisikkan sesuatu di telinga bapak lima anak itu. Berkali-kali ia
menggosok lubang telinganya. Bukan karena gatal, tapi …
“Ah, yang benar kamu? Kalau salah lihat kali?”
“Betul Pak Erte. Ane enggak bohong,” terang si pemuda.
“Ayo Pak Erte. Kita kesana rame-rame,” ajak seorang
laki-laki gemuk, sehari-hari berdagang pakaian di pasar.
“Bagaimana dengan yang lain?” Tanya Pak Erte. Berharap
jangan hanya 3-4 orang, semuanya ikut melihat apa yang sebenarnya telah terjadi
di rumah kosong itu.
“Aku ikut Pak Erte …”
“Aku ikut …”
“Aku juga ikut Pak Erte …”
Akhirnya semua ikut. Sama-sama menuju rumah kosong.
Sementara jambang cs masih tertidur pulas. Mereka tidak tahu Pak Erte dan
beberapa warga kampung bakal membawa mereka ke kantor polisi.
Mereka baru tahu setelah diamankan di pos ronda. Beberapa
warga hampir saja naik pitam ketika jambang bersikeras tak tahu menahu ikhwal tewasnya Bos
Steven.
Pak Erte dan beberapa tokoh masyarakat segera turun tangan melerai. Demi keamanan, Pak Erte kemudian menelepon Mr
Clean yang masih berpatroli di kawasan pinggiran kota.
Mendapat kabar dari Pak Erte, Mr Clean berbelok arah,
kembali ke jalan dimana dia keluar dari sebuah gang tadinya. Karena sepi, dia mempercepat lajunya mobil,
sehingga dalam tempo kurang dari dua puluh
menit sudah tiba di pos kamling.
Melihat kedatangan Mr Clean dan Nona Sabrina, wajah jambang
cs berubah pucat seketika. Ketiganya sangat takut karena memang tahu Bos mereka
telah terbunuh.
Di Graha Police, jambang cs mengaku terus terang, laki-laki
yang terbunuh tadi malam itu adalah bosnya. Tapi mereka sama sekali tidak tahu
siapa yang membunuhnya.
“Kemana kalian malam itu?” Tanya Nona Sabrina dengan sabar.
Berkali-kal dia menenangkan hati Mr Clean yang sempat naik pitam melihat keangkuhan
jambang. Berbelit-belit ketika menjawab pertanyaan yang diajukan.
Jambang akhirnya bercerita pada malam itu mereka mencari
Muhsin yang lepas dari tawanan mereka. Tak lama setelah Bos Steven datang,
mereka diperintahkan Sang Bos mencari Muhsin sampai dapat.
Setelah mencari kesana kemari, karena tak ketemu juga, kata
jambang, mereka kembali menemui Bos Steven.
“Kami terkejut melihat Bos kami sudah tewas,” aku muka bulat
terus terang.
“Kami panik Pak Polisi,” kata lonjong. “Saat kami panik
bapak dan ibu datang. Kami sembunyi dan setelah itu bapak dan ibu pergi sama
petugas lain. Karena lelah, kami putuskan menginap di rumah kosong itu …”
17
“SELAMAT pagi Bang jambang, muka bulat dan lonjong,” ucap
Nona Sabrina dan Mr Clean serempak saat ketiganya memasuki ruang pemeriksaan.
“Pagi juga Pak, Ibu,” jawab ketigaya, setengah membungkukkan
badan sebelum dipersilakan duduk di kursi yang telah disediakan.
“Nama kalian bertiga ini sebenarnya siapa? Pasti jambang ini
panggilan sesama kalian saja kan?” Tanya Nona Sabrina sembari menulis sesuatu di buku
agenda kepunyaannya.
“Betul sekali Bu. Saya,” kata jambang, “bernama Yusuf,
sedangkan dua teman saya ini masing-masing muka bulat dan lonjong punya nama
Yunus dan Yakub.
“Anda bertiga ini senang tidak dipanggil nama yang bukan sebenarnya?”
“Mau gimana ya Bu. Semua teman tidak memanggil nama. Hanya
gelaran yang muncul di saat tertentu,” jelas lonjong.
“Misalnya?” Gantian Mr Clean yang bertanya.
“Waktu kumpul-kumpul. Ada teman bilang ke teman satunya,”
kata muka bulat, “Hai Jong, ngapain lu sampe terlambat segala. Sudah jadi Bos ya?”
Ha ha ha ha …
Nona Sabrina meninggalkan ruang pemeriksaan setelah Letnan
Salam memintanya ke ruangan kerjanya karena ada sesuatu yang harus dibicarakan.
Pemeriksaan diambil alih Mr Clean. Kali ini mereka ditanyai
satu persatu tentang seberapa jauh kedeka tan mereka dengan Bos Steven. Berapa
lama suadah bergabung dengan jaringan Geng Mawar dan hubu ngannya dengan sesama
geng serta kelompok lain di luar
jaringan.
“Kami banyak kenal pedagang Pak. Makanya Bos Steven
seringkali dipanggil Bos Apek atau toke,” terang Yusuf.
“Bos Steven di mata kalian, seperti apa? Baik, penolong atau
justru anda bertiga hanya terpaksa senang saja karena telah terlanjur bergabung
dengan Geng Mawar?”
“Kalau saya,” ujar Yusuf, “Baik Pak. Memang suka marah kalau
ada tugas dari beliau yang tidak bisa saya atau kami kerjakan. Tapi untuk yang
lain, soal duit misalnya, beliau tidak pelit. Kita perlu uang, dia kasih.”
“Kamu Nus?”
“Sama jugalah Pak. Maksud saya Mr Clean. Di mata saya,
beliau itu orangnya baik, peduli dengan anak buah dan suka menolong …”
“Kamu Kub?”
“Kalau saya Mister, karena baru bergabung, belum mengenal
betul kepribadian Bos saya. Hanya saja, saya lihat orangnya ramah, baik dan
tidak ganas seperti pimpinan geng kebanyakan.”
“Oke. Terima kasih …”
Kriiiing …
Gleduk …
“Halo ..”
“Clean. Coba ke ruangan saya dulu sekarang.”
“Siap Let.”
Sebelum meninggalkan ruangan, Mr Clean berpesan kepada
Yusuf, Yunus dan Yakub untuk duduk yang sopan dan tenang. Tidak membuat
keributan, apalagi sampai melarikan diri dari ruang pemeriksaan.
Kenapa Mr Clean dipanggil?
“Saya hanya mengkonfirmasi kalian berdua saja Clean ..
tentang …”
“Boneka Mister.” Potong Nona Sabrina seraya ketawa geli
mendengar penjelasan dari Letnan Salam sebelumnya.
“Betul apa kata Nona Sabrina, Clean.” Kata Letnan Salam,
juga ketawa. Clean pun akhirnya ikut ketawa.
“Info yang saya terima, pembunuh Bos Steven adalah boneka.
Saya tak percaya. Makanya saya panggil kalian berdua ke ruangan saya …”
“Infonya dari mana Let?”
“Dari orang pintar, Clean dan Nona Sabrina.”
18
MESKI Yusuf cs tidak terbukti melakukan pembunuhan terhadap Bos Steven,
mereka tetap diinapkan di Graha Police karena terbukti secara bersama-sama
menculik Muhsin.
Hal ini diperkuat dengan keterangan Muhsin di Graha Police.
Ketika dipertemukan dengan Yusuf, Yunus dan Yakub, dia merasa yakin
ketiganyalah orang yang menculiknya beberapa waku lalu.
Setelah dipertemukan dengan Yusuf cs, Muhsin merasa lega
karena pelaku penculikan terhadap dirinya sudah tertangkap dan diamankan.
Sebaliknya, pasca dibebaskan dari dugaan pelaku pembunuhan
Bos Steven, dan berharap bisa pulang ke rumah secepatnya, harus gigit jari.
“Izinkanlah kami pulang Bu Sabrina,” rengek Yusuf, sementara
Yunus dan Yakub menangis setelah diberi tahu
mereka akan bermalam beberapa hari di Graha Police.
“Tahankan sajalah,” ujar Nona Sabrina. “Disini anda bertiga
merasa lebih nyaman. Tak perlu mikir mau makan apa. Semua tersedia …”
“Iya Bu, tapi …” Yunus bicara tersendat-sendat. Matanya
berkaca-kaca.
“Tapinya apa Mas?”
“Nanti kami digebuki Bu,” jawab Yunus terus terang.
“Kenapa memang? Takut digebuki apa? Kalian kan sudah biasa
gebuk-gebukan?”
Heee …
Heeee …
Huuuu …
Ketiganya menangis serempak, persis seperti anak kecil tak
diberi uang jajan. Mereka berharap kepada Nona Sabrina dan Mr Clean untuk
memperbolehkan mereka pulang.
“Asal jangan disini Pak kami tidurnya,” kata Yakub dengan
wajah memelas. Meski anggota Geng Mawar, dia mengaku belum pernah sekalipun
merasakan yang namanya ‘Hotel Prodeo.’
“Sekali-kali cobalah dulu,” jelas Mr Clean, sebelum berlalu
pergi meninggalkan ketiganya untuk melakukan patrol di berbagai sudut kota.
Salah seorang petugas kepolisian, dibantu dua rekannya,
kemudian mempersilakan Yusuf cs keluar dari ruangan secara bersama-sama.
“Mau dibawa kemana kami Pak?” Tanya Yunus seolah
kebingungan.
“Ikut saja kami,” ujar petugas berbadan tegap besar tapi
murah senyum.
Setelah berjalan tiga ratus meter, Yusuf, Yunus dan Yakub
tiba di sebuah tempat yang tampak sunyi dari luar. Namun, begitu masuk ke dalam
ruangan yang besar itu, suasana berubah ramai.
Treeeng …
Reeeng …
Pintu terbuka.
Ada ruangan tak begitu besar.
Ada satu tempat tidur bertingkat tiga. Ada tikar, toilet dan
kamar mandi. Petugas tadi mempersilakan Yusuf cs masuk dan melihat fasilitas
yang tersedia.
“Bagaimana? Nyaman bukan? Nah, disinilah anda tinggal buat
sementara waktu. Setuju tidak setuju anda bertiga harus menerimanya …”
(Tobe Continued)