Novel …
Bedeng Seng (3)
Oleh Wak Amin
VI
DIMANAKAH Muhsin disekap?
Dia disekap di salah satu rumah kosong tak jauh dari kediaman Bos Steven. Kedua tangannya diikat dan matanya ditutupi dengan kain hitam, posisi duduk di atas kursi.
Hampir lima belas menit Muhsin sendirian di kamar tengah rumah semi permanen itu. Dia belum diapa-apakan Bos Steven dan anak buahnya.
Yang menjaga dan mengawasi Muhsin ada empat orang lelaki berperawakan sedang. tangan kanan Bos Steven. Mengisi waktu senggang, mereka lebih memilih bermain gaple di teras. Mereka baru beraksi setelah mendapat perintah dari Sang Bos.
“Sekarang kita main gaple dululah,” kata si gondrong tertawa lebar. Sudah dua gelas air kopi hitam ma nis dia habiskan. Perutnya semakin buncit sementara rokok tak putus-putusjya ia hisap sedari tadi.
“Tapi tangan gue sudah gatal ini Bro,” sahut si jambang sambil ‘mengocok’ kartu domino sebelum dibagikan ke rekan-rekannya.
“Gosok saja pake cabe kalau gatal, Bro,” jawab gondrong. Dia taruh rokoknya di atas asbak karena harus menimang-menimang kartu sebelum permainan dimulai.
“Kalau ditanya Bos, bagaimana Bro?” Tanya si muka bulat. Mendapat giliran pertama menjatuhkan kartu di atas meja.
Praaak …
“Gampang itu Bro. Bilang saja sudah,” ujar gondrong. Lama berpikir. Padahal baru satu kartu yang akan dijatuhkan.
“Kalau nanti Bos tengok si dia yang kita culik itu enggak ngapa-ngapain. Mukanya berdarah tidak, lecet apalagi bekas pukulan, bagaimana Bro?” Giliran si lonjong yang bertanya. Dia terbatuk-batuk karena terlalu kuat menghisap rokok.
“Bilang saja ke Bos. Tahan pukul dia,” jawab gondrong santai. Dia tertawa melihat rekan di sebelahnya, si jambang ‘lewat’ karena tak ada buah yang sama dengan dia jatuhkan barusan.
Praaak …
Ceglaaak ..
“Apa itu?” Teriak si muka bulat. Lonjong berdiri kaget. Cuma benda jatuh, kayaknya dari arah dapur.
“Sudah lat. Kamu kan sudah berdiri. Tengoklah dulu …!” Pinta gondrong, khusyuk menghitung buah yang berderet di atas meja kayu dengan kartu di genggamannya.
“Woi lat. Belum juga pergi kau. Takut ya?” Ledek jambang.
“Bilang saja, kamu minta ditemani,” lonjong memanas-manasinya. Merasa disindir, dengan langkah mantap dia berjalan menuju dapur.
Ketiga rekannya tertawa geli.
Triiing …
Geuuur …
Creeesh …
Sampai di dapur terdengar suara piring berbunyi. Rak piring bergeser dan panci-panci yang seolah ditabuh.
Anehnya, ketika muka bulat mendekati rak piring dan peralatan dapur lainnya, suara itu hilang. Sebentar. Karena setelah itu …
Gedebug …
Jebleeesh …
Kraaash …
Seperti suara benda jatuh. Tapia pa. Muka bulat dengan perlahan-lahan mendekati ruang tengah. Dia lihat satu-satu. Mulai dari lemari pecah belah hingga keramik di samping buffet dan berjejer di lantai.
Enggak ada yang jatuh.
Muka bulat garuk-garuk kepala. Dia mulai kesal. Dia bermaksud menemui kembali ketiga rekannya. Tapi dia baru ingat, Muhsin tawanan mereka belum disamperi.
Apakah tidur, atau justru …
Nyeeeet …..
Pintu dibuka.
Muhsin ternyata sudah tidak ada di kamarnya.
Kemana gerangan dia?
“Gondrong … Jambang … Lonjong … Dia hilang!” Teriak si muka bulat dengan nafas tersengal-sengal.
VII
“ADA apa teriak-teriak lat. Bilang saja kamu takut kencing sendirian kan?” Sindir gondrong. Si muka bulat bilang Muhsin hilang. Tidak ada lagi di kamarnya.
Haaaa …?
“Pasti bohong kan?” Gondrong tak percaya. Jika memang benar Muhsin kabur, lewat mana.
“Belakang bisa Bro,” ujar lonjong.
“Cepat lat. Kamu cari sampai dapat,” perintah jambang.
“Ogah ah … Masa aku sendirian. Temanilah aku Bro…”
“Oke … Jong, kamu temani muka bulat. Cari Muhsin sampai dapat,” kata gondrong.
“Ogah ah … Masa berdua, berempatlah supaya adil.”
Jambang berpikir sejenak. Dia minta pendapat gondrong. Gondrong tak mau. Dia memilih lebih baik menunggu di rumah saja.
“Sekalian berjaga-jaga. Mana tau Bos datang,” tambah gongdrong.
“Ayo drong. Jangan begitulah. Berempatlah kita, biar adil,” rengek lonjong.
Gondrong tetap tak mau.
“Ya sudah,” kata jambang, “Kita bertiga saja cari Muhsin. Gondrong jaga tempat ini sampai Bos besar datang …”
Mencari kemana?
“Pasti masih di sekitar sini,” ucap lonjong. Santai sajalah. Tak kan lari gunung dikejar. Bentar juga Muhsinnya datang …”
Gerinciiiing …
Kresek .. kresek .. kresek …
“Suara apa ya?” Gondrong bicara sendiri.
Dia tak jadi duduk di ruang tamu. Dia cari asal suara itu.
“Sepertinya di teras,” katanya dalam hati.
Dia buka pintu. Dia lihat ke sekeliling teras, tak ada yang mencurigakan. Sunyi senyap.
Hanya terdengar suara jangkrik. Makin lama makin ramai kedengarannya.
Kletek …
Dia tutup lagi pintu. Terdengar lagi suara aneh tadi itu. Dia buka pintu lagi. Kali ini dia berjalan ke sekitar teras. Dia cari asal suara itu.
“Ah, cuma kaleng bekas,” katanya, lalu mengambil kaleng itu dan diletakkan di balik tanaman bunga.
Angin bertiup lambat.
Si gondrong terkejut. Karena pundaknya seperti ada yang menepuk-nepuknya.
Gondrong menoleh ke belakang. Tak ada siapa pun di sana.
“Siapa ya?”
Gondrong mulai dihinggapi rasa takut. Sebab, tak mungkin rekan-rekannya yang melakukannya. Mereka masih mencari Muhsin. Kalau sudah kembali pasti mereka bilang. Tak mungkin sembunyi-sembunyi, apalagi sampai menakut-nakutinya.
Bruuuuk …
Badan giondrong terdorong ke depan. Saking cepatnya dorongan itu, dia jatuh tersungkur. Sakit juga rasanya. Walau cuma tersungkur di teras, lecet juga dia punya tangan.
“Kampret …”
Gondrong mulai kesal. Ingin rasanya dia menyusul ketiga rekannya. Namun menyusul kemana. Kalau disusul, bagaimana jika Sang Bos datang sementara rumah ini ditemukan kosong, tak ada orangnya.
“Masuk sajalah lagi.”
Gondrong menghempaskan tubuhnya di atas tikar ruang tamu. Dia mengistirahatkan badan dan pikiran. Tapi hanya sebentar. Karena haus, dia menuju dapur. Dia tuangkan segelas air botol yang dibeli bersama jambang di warung tadi.
Setelah minum, dia kembali ke ruang tamu. Rebahan di atas tikar. Saat itulah tiba-tiba lehernya ada yang mencekiknya. Mulanya pelan, sedang dan berangsur-angsur kuat.
Gondrong meronta-ronta. Dia berusaha sekuat tenaga melepaskan cekikan itu. Sampai berguling-gulingan di lantai. Kedua kaki bergerak kesana kemari.
Guaaam …
Draaak .. draaak … draaak …
Berulangkali mengenai pintu, kedua kaki gondrong itu pun akhirnya tidak kuasa bergerak lagi. Gondrong tewas.
VIII
KARENA tak berhasil menemukan Muhsin, jambang, lonjong dan muka bulat memutuskan kembali mene mui rekan mereka gondrong. Mereka berharap ada jalan keluar terbaik mengatasi kaburnya Muhsin.
Tapi apa nyana, setibanya di rumah kosong tempat menawan Muhsin, gondrong sudah diketemukan te was. Tewasnya gondrong memukul mental jambang cs. Mereka tak menduga gondrong tewas dengan cara mengenaskan.
Siapa yang telah membunuhnya?
“Siapa lagi kalau bukan Muhsin,” kata si muka bulat, yang sudah tak sabar ingin menghabisi Muhsin.
“Menurutku bukan,” ujar lonjong berspekulasi.
“Alasannya?” Jambang berkeyakinan, siapa pun orangnya, pasti lebih kuat dan hebat dari gondrong.
“Kalian kan bisa lihat bagaimana Muhsin, dan bagaimana pula gondrong. Teman kita itu bukan orang sembarangan. Setahu saya, dia belum terkalahkan bertarung dengan kita-kita ini, termasuk kawanan dari geng lain,” terang lonjong.
“Sementara Muhsin,” lanjut lonjong, “”Orangnya tak sekuat yang kita kira. Kalau dia memang kuat dan hebat, mengapa tak bisa mengalahkan kita.”
“Tapi belum tentu jong. Jangan dikira orangnya loyo itu tidak kuat. Pada saat tertentudia bisa berubah jadi kuat,” jelas muka bulat.
“Oke. Kalau dia memang kuat, kenapa dia tidak mencoba melawan saat diculik?”
“Mungkin hanya taktiknya saja. Kalau dia melawan kita, okelah dia menang. Tapi dia juga pasti terluka. Nah, jadi dia pilih melawan dengan cara tidak melalui kekerasan …”
“Ngelantur kamu lat …”
Muka bulat tertawa …
Jambang meminta muka bulat meneruskan ucapannya …
“Biar lebih jelas,” katanya penuh harap.
“Caranya ya seperti sekarang inilah … dia kita tawan. Lalu kita main gaple. Dia keluar. Kan aman. Dia tak terluka. Kita yang keki dibuatnya.”
“Ah enggak percaya aku. Aku tetap berpendapat bukan Muhsin yang membunuh gondrong. Pasti orang lain,” jelas lonjong percaya diri.
“Muhsin ..”
“Bukan …”
“Muhsin …”
“Bukan …”
Priiiiiit ..
“Sudah .. sudah.” Jambang menengahi. Ribut-ributan reda. Ketika Bos Steven datang dengan raut muka biasa-biasa saja.”
Jambang menyambutnya.
“Bagaimana? Oke semua?” Tanya Sang Bos. Berharap ada cerita baru dari pengakuan Muhsin.
Sampai Sang Bos duduk bersila di ruang tamu, jambang cs saling pandang. Mereka sangat takut jika Sang Bos tahu Muhsin melarikan diri.
“Panggil Muhsinnya!” Perintah Sang Bos pada jambang.
Jambang melirik lonjong, aga dia saja yang memanggil Muhsin. Lonjong tak mau. Begitu juga dengan si muka bulat.
“Kenapa masih berdiri disitu Bang? Cepat panggil tawanan kita itu!” Bentak Sang Bos. Bentakan ini mem buat rokok yang belum disulut terjatuh ke atas tikar.
“Baik ..baik Bos,” jawab jambang. Berlalu pergi untuk membawa jasad gondrong. Tak lama kemudian dia kembali menemui Sang Bos. Dibantu lonjong dan muka bulat, meletakkan jasad teman satu gengnya itu di atas tikar ruang tamu.
“Apa-apaan ini Bang?”
“Gondrong Bos.”
“Kenapa? Tidur” Cepat bangunkan!” Perintah Sang Bos, segera berdiri sambil menelepon seseorang.
Jambang berharap Sang Bos tidak terkejut.
“Bos …”
“Bos …”
“Bos …”
“Apa?” Bos Steven mematikan hape selulernya.
“Gondrong tewas Bos.”
“Apa?”
“Tewas?”
(Tobe Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar