Senin, 29 Mei 2017

Bedeng Seng (6)



Novel 

Bedeng Seng (6)
Oleh Wak Amin


16
HAAAA …?
Setelah mengintip dari luar dan menemukan jambang cs tidur pulas di ruang tamu, salah seorang warga yang mendapat giliran meronda bersama rekan-rekannya berlari ke simpang empat.
Ada apa di simpang empat?
Banyak orang yang berkumpul. Selain jaga malam secara bergiliran, mereka juga bisa gabung main gaple sampai menjelang waktu subuh.
Tidak setiap malam mereka berkumpul bersama. Ada malam-malam tertentu. Misalnya malam minggu atau hari libur kerja.
Setiap malam warga bergiliran meronda. Siskamling. Masing-masing bawa bekal dari rumah. Duduk berempat atau berlima. Giliran berkeliling komplek, kadang pakai sepeda, berjalan kaki dan menggunakan sepeda motor.
Nah, pemuda yang tadi mengintip, kebetulan Pak Erte ikut main gaple, membisikkan sesuatu di telinga bapak lima anak itu. Berkali-kali ia menggosok lubang telinganya. Bukan karena gatal, tapi …
“Ah, yang benar kamu? Kalau salah lihat kali?”
“Betul Pak Erte. Ane enggak bohong,” terang si pemuda.
“Ayo Pak Erte. Kita kesana rame-rame,” ajak seorang laki-laki gemuk, sehari-hari berdagang pakaian di pasar.
“Bagaimana dengan yang lain?” Tanya Pak Erte. Berharap jangan hanya 3-4 orang, semuanya ikut melihat apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah kosong itu.
“Aku ikut Pak Erte …”
“Aku ikut …”
“Aku juga ikut Pak Erte …”
Akhirnya semua ikut. Sama-sama menuju rumah kosong. Sementara jambang cs masih tertidur pulas. Mereka tidak tahu Pak Erte dan beberapa warga kampung bakal membawa mereka ke kantor polisi.
Mereka baru tahu setelah diamankan di pos ronda. Beberapa warga hampir saja naik pitam ketika jambang  bersikeras tak tahu menahu ikhwal tewasnya Bos Steven.
Pak Erte dan beberapa tokoh masyarakat segera turun tangan melerai.  Demi keamanan, Pak Erte kemudian menelepon Mr Clean yang masih berpatroli di kawasan pinggiran kota.
Mendapat kabar dari Pak Erte, Mr Clean berbelok arah, kembali ke jalan dimana dia keluar dari sebuah gang tadinya.  Karena sepi, dia mempercepat lajunya mobil, sehingga dalam tempo kurang dari dua puluh  menit sudah tiba di pos kamling.
Melihat kedatangan Mr Clean dan Nona Sabrina, wajah jambang cs berubah pucat seketika. Ketiganya sangat takut karena memang tahu Bos mereka telah terbunuh.
Di Graha Police, jambang cs mengaku terus terang, laki-laki yang terbunuh tadi malam itu adalah bosnya. Tapi mereka sama sekali tidak tahu siapa yang membunuhnya.
“Kemana kalian malam itu?” Tanya Nona Sabrina dengan sabar. Berkali-kal dia menenangkan hati Mr Clean yang sempat naik pitam melihat keangkuhan jambang. Berbelit-belit ketika menjawab pertanyaan yang diajukan.
Jambang akhirnya bercerita pada malam itu mereka mencari Muhsin yang lepas dari tawanan mereka. Tak lama setelah Bos Steven datang, mereka diperintahkan Sang Bos mencari Muhsin sampai dapat.
Setelah mencari kesana kemari, karena tak ketemu juga, kata jambang, mereka kembali menemui Bos Steven.
“Kami terkejut melihat Bos kami sudah tewas,” aku muka bulat terus terang.
“Kami panik Pak Polisi,” kata lonjong. “Saat kami panik bapak dan ibu datang. Kami sembunyi dan setelah itu bapak dan ibu pergi sama petugas lain. Karena lelah, kami putuskan menginap di rumah kosong itu …”

17
“SELAMAT pagi Bang jambang, muka bulat dan lonjong,” ucap Nona Sabrina dan Mr Clean serempak saat ketiganya memasuki ruang pemeriksaan.
“Pagi juga Pak, Ibu,” jawab ketigaya, setengah membungkukkan badan sebelum dipersilakan duduk di kursi yang telah disediakan.
“Nama kalian bertiga ini sebenarnya siapa? Pasti jambang ini panggilan sesama kalian saja kan?” Tanya  Nona Sabrina sembari menulis sesuatu di buku agenda kepunyaannya.
“Betul sekali Bu. Saya,” kata jambang, “bernama Yusuf, sedangkan dua teman saya ini masing-masing muka bulat dan lonjong punya nama Yunus dan Yakub.
“Anda bertiga ini senang tidak dipanggil nama yang bukan sebenarnya?”
“Mau gimana ya Bu. Semua teman tidak memanggil nama. Hanya gelaran yang muncul di saat tertentu,” jelas lonjong.
“Misalnya?” Gantian Mr Clean yang bertanya.
“Waktu kumpul-kumpul. Ada teman bilang ke teman satunya,” kata muka bulat, “Hai Jong, ngapain lu sampe terlambat segala.  Sudah jadi Bos ya?”
Ha ha ha ha …
Nona Sabrina meninggalkan ruang pemeriksaan setelah Letnan Salam memintanya ke ruangan kerjanya karena ada sesuatu yang harus dibicarakan.
Pemeriksaan diambil alih Mr Clean. Kali ini mereka ditanyai satu persatu tentang seberapa jauh kedeka tan mereka dengan Bos Steven. Berapa lama suadah bergabung dengan jaringan Geng Mawar dan hubu ngannya dengan sesama geng serta  kelompok lain di luar jaringan.
“Kami banyak kenal pedagang Pak. Makanya Bos Steven seringkali dipanggil Bos Apek atau toke,” terang  Yusuf.
“Bos Steven di mata kalian, seperti apa? Baik, penolong atau justru anda bertiga hanya terpaksa senang saja karena telah terlanjur bergabung dengan Geng Mawar?”
“Kalau saya,” ujar Yusuf, “Baik Pak. Memang suka marah kalau ada tugas dari beliau yang tidak bisa saya atau kami kerjakan. Tapi untuk yang lain, soal duit misalnya, beliau tidak pelit. Kita perlu uang, dia kasih.”
“Kamu Nus?”
“Sama jugalah Pak. Maksud saya Mr Clean. Di mata saya, beliau itu orangnya baik, peduli dengan anak buah dan suka menolong …”
“Kamu Kub?”
“Kalau saya Mister, karena baru bergabung, belum mengenal betul kepribadian Bos saya. Hanya saja, saya lihat orangnya ramah, baik dan tidak ganas seperti pimpinan geng kebanyakan.”
“Oke. Terima kasih …”
Kriiiing …
Gleduk …
“Halo ..”
“Clean. Coba ke ruangan saya dulu sekarang.”
“Siap Let.”
Sebelum meninggalkan ruangan, Mr Clean berpesan kepada Yusuf, Yunus dan Yakub untuk duduk yang sopan dan tenang. Tidak membuat keributan, apalagi sampai melarikan diri dari ruang pemeriksaan.
Kenapa Mr Clean dipanggil?
“Saya hanya mengkonfirmasi kalian berdua saja Clean .. tentang  …”
“Boneka Mister.” Potong Nona Sabrina seraya ketawa geli mendengar penjelasan dari Letnan Salam sebelumnya.
“Betul apa kata Nona Sabrina, Clean.” Kata Letnan Salam, juga ketawa. Clean pun akhirnya ikut ketawa.
“Info yang saya terima, pembunuh Bos Steven adalah boneka. Saya tak percaya. Makanya saya panggil kalian berdua ke ruangan saya …”
“Infonya dari mana Let?”
“Dari orang pintar, Clean dan Nona Sabrina.”

18
MESKI Yusuf cs tidak terbukti  melakukan pembunuhan terhadap Bos Steven, mereka tetap diinapkan di Graha Police karena terbukti secara bersama-sama menculik Muhsin.
Hal ini diperkuat dengan keterangan Muhsin di Graha Police. Ketika dipertemukan dengan Yusuf, Yunus dan Yakub, dia merasa yakin ketiganyalah orang yang menculiknya beberapa waku lalu.
Setelah dipertemukan dengan Yusuf cs, Muhsin merasa lega karena pelaku penculikan terhadap dirinya sudah tertangkap dan  diamankan.
Sebaliknya, pasca dibebaskan dari dugaan pelaku pembunuhan Bos Steven, dan berharap bisa pulang ke rumah secepatnya, harus gigit jari.
“Izinkanlah kami pulang Bu Sabrina,” rengek Yusuf, sementara Yunus dan Yakub menangis  setelah diberi tahu mereka akan bermalam beberapa hari di Graha Police.
“Tahankan sajalah,” ujar Nona Sabrina. “Disini anda bertiga merasa lebih nyaman. Tak perlu mikir mau makan apa. Semua tersedia …”
“Iya Bu, tapi …” Yunus bicara tersendat-sendat. Matanya berkaca-kaca.
“Tapinya apa Mas?”
“Nanti kami digebuki Bu,” jawab Yunus terus terang.
“Kenapa memang? Takut digebuki apa? Kalian kan sudah biasa gebuk-gebukan?”
Heee …
Heeee …
Huuuu …
Ketiganya menangis serempak, persis seperti anak kecil tak diberi uang jajan. Mereka berharap kepada Nona Sabrina dan Mr Clean untuk memperbolehkan mereka pulang.
“Asal jangan disini Pak kami tidurnya,” kata Yakub dengan wajah memelas. Meski anggota Geng Mawar, dia mengaku belum pernah sekalipun merasakan yang namanya ‘Hotel Prodeo.’
“Sekali-kali cobalah dulu,” jelas Mr Clean, sebelum berlalu pergi meninggalkan ketiganya untuk melakukan patrol di berbagai sudut kota.
Salah seorang petugas kepolisian, dibantu dua rekannya, kemudian mempersilakan Yusuf cs keluar dari ruangan secara bersama-sama.
“Mau dibawa kemana kami Pak?” Tanya Yunus seolah kebingungan.
“Ikut saja kami,” ujar petugas berbadan tegap besar tapi murah senyum.
Setelah berjalan tiga ratus meter, Yusuf, Yunus dan Yakub tiba di sebuah tempat yang tampak sunyi dari luar. Namun, begitu masuk ke dalam ruangan yang besar itu, suasana berubah ramai.
Treeeng …
Reeeng …
Pintu terbuka.
Ada ruangan tak begitu besar.
Ada satu tempat tidur bertingkat tiga. Ada tikar, toilet dan kamar mandi. Petugas tadi mempersilakan Yusuf cs masuk dan melihat fasilitas yang tersedia.
“Bagaimana? Nyaman bukan? Nah, disinilah anda tinggal buat sementara waktu. Setuju tidak setuju anda bertiga harus menerimanya …”

(Tobe Continued)
   

Minggu, 28 Mei 2017

Bedeng Seng (5)





Novel 

Bedeng Seng (5)
Oleh Wak Amin

XIII
“SE … set … setaaan … Lariiii!” Hape terjatuh. Lari tak bisa. Entah bagaimana, jambang, muka bulat dan lonjong saling tarikan baju. Maju mundur jadinya.
Hi hi hi hi …
Semakin nyaring suara ketawa dari hape jambang. Kali ini dia meminta jambang cs menari. Seketika menarilah mereka bertiga. Goyang pinggul, adu muka, angkat kaki dan melompat-lompat.
“Push up!” pinta suara dari hape itu..”
Jambang cs pun dengan berat hati melakukan push-up. Namanya juga jarang berolah raga, baru tiga kali push-up sudah ngos-ngosan.
“Yang cepaaat!”
Karena sudah kehabisan nafas, jambang menyerah. Dia duduk saja menonton kedua rekannya melakukan push-up.
Namun, sekuat-kuat push-up, kalau sudah kelelahan, menyerah juga akhirnya. Itulah yang dialami lonjong dan muka bulat. Sama dengan jambang, keduanya duduk terseler dekat tiang pondokan.
“Bro …” kata lonjong dengan suara yang nyaris tak kedengaran.
“Apa?” Jambang mendekatkan telinganya, dibuka lebar-lebar.
“Kena tipu kita.”
“Masa?”
“Coba kau tengok hapemu itu …”
Hape jambang tiba-tiba mati. Suara aneh tadi seketika hilang. Jambang mengutak-atiknya. Dia coba nyalakan, tapi tak juga bisa.
Karena terjatuh tadi?
Enggak juga. Buktinya, saat hape tergeletak di tanah, suara itu masih ada.
“Betul kan?” Lonjong menduga ada seseorang yang sengaja mempermainkan mereka bertiga lewat jalur hape.
“Tak mungkinlah Jong. Dari mana dia tahu nomor hape jambang. Ya enggak Bang?”
“Betul kata muka bulat, Jong. Tapi aku heran …”
“Heran kenapa Bang?” Serempak muka bulat dan lonjong bertanya.
“Apa maksudnya dia menggoda kita bertiga ini. Duit enggak punya, tampang pas-pasan. Heran aku …”
“Atau jangan-jangan ini ulahnya si Muhsin sama orang tuanya Bro,” kata muka bulat. Buktinya, jambang tadi dipermainkan oleh Pak Broto dan isterinya.
Tak habi-habisnya berspekulasi, jambang cs memutuskan pergi meninggalkan pondokan. Meski harus berjalan kaki lumayan jauh, bersua cepat dengan Sang Bos lebih bagus. Paling tidak berada dekat Bos, kita tak bakal kelaparan. Perut kenyang.
Itulah yang ada di benak jambang cs. Mereka tampak bersemangat untuk menemui Bos Steven. Tapi …
“Kita pasti kena marah Bro. Karena tak berhasil membawa kembali Muhsin dan menculik kedua orang tuanya,” ucap muka bulat. Sontak berubah pucat karena sudah membayangkan bakal mendapat hukuman berat karena gagal menjalankan perintah.
“Jangan kuatir, kan ada aku.” Jambang mencoba menenangkan kedua rekannya yang sangat takut dengan hukuman dari Sang Bos.
“Apa bisa kamu mengatasinya Bro?” Tanya muka bulat. Dia masih ragu. Pasalnya, selama ini mereka bertiga dengan jambang, kalau salah tak pernah lepas dari menerima hukuman.
“Bereslah itu … Nich jambang ..” Sambil menepuk-nepuk dadanya, membanggakan diri.
“Caranya Bro?”
“Gampang Jong. Kita beritahu Bos, sesampainya di rumah Muhsin, yang bersangkutan tidak ada. Juga orang tuanya. Tidak ada. Rumah dalam keadaan kosong …”

XIV
“AHAAA … mobilnya masih ada Bro,” kata muka bulat pada jambang, berjingkrak-jingkrak kesenangan.
“Tapi gue heran …” Jambang memandang ke sekitar rumah penuh selidik.
“Heran kenapa Bro?” Lonjong merasa tidak ada sesuatu yang aneh. Namanya juga hampir tengah malam. Sepi itu biasa.
“Enggak ada orang …” Jambang mempercepat langkah kakinya. Begitu juga dengan muka bulat dan lonjong. Ketiganya sudah tak sabar ingin bertemu Bos Steven.
Tapi dimana?
Dicari ke ruang tamu tidak ada. Setiap kamar dimasuki. Mereka baru menemukan Bos Stevendi belakang rumah.
“Bos …” Jambang, muka bulat dan lonjong berlutut di hadapan jasad Bos Steven yang terbujur kaku. Sudah dingin, tapi belum menebarkan aroma busuk.
Bos Steven diketemukan tewas dalam posisi terlentang dengan kedua mata terbuka dan mulut menganga. Tak ada luka sedikit pun di sekujur tubuhnya.
“Tapi di lehernya ada sedikit lebam,” kata jambang,  setelah melihat ada bekas cekikan di leher Bos Steven.
“Siapa ya Bro?” Lonjong belum bisa menebak siapa pelakunya.
“Muhsin barangkali.” Muka bulat coba menerka. Kalau bukan dia, katanya, siapa lagi.
“Jangan-jangan …” Jambang tak melanjutkan ucapannya.
“Jangan-jangan kenapa Bro?”
“Hantu …”
“Haaa …?”
Lonjong dan muka bulat ketawa. Masa ada hantu membunuh manusia. Tak mungkinlah. Kalau pun ada, itu bukan hantu namanya. Tapi hantu jadi-jadian. Manusia yang berubah wujud menjadi menjadi hantu.
“Ya mana tahu …” Jambang masih bersikeras yang membunuh Bos Steven adalah hantu. Apa alasannya,  bisa jadi karena menaruh dendam pada Bos Steven.
Syiiiit ..
Dreeen …
Cekreesh ..
Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Melihat ada orang turun dari mobil, jambang, muka bulat dan lonjong bergegas sembunyi di balik pagar pembatas belakang rumah. Cukup aman bersembunyi di sana. Selain dilindungi aneka tanaman pagar, juga ada jalan pintas untuk melarikan diri.
Reeeet …
“Tak terkunci Mister …” Kata Nona Sabrina. Setelah Mr Clean mendekat, dia baru masuk ke dalam rumah.
Setiap kamar mereka masuki. Lalu ruang dapur dan tempat makan. Dari balik kaca ruang tamu, Mr Clean mengintip ke luar. Gelap.
Reeet …
Haaa?
“Mister … Cepat kemari!”
Nona Sabrina menemukan jasad Bos Steven tergeletak di teras belakang rumah. Bersama Mr Clean, dia memeriksa setiap anggota badan Bos para begundal itu.
“Sepertinya dicekik Mister.” Nona Sabrina memperlihatkan sebuah goresan warna hitam di leher Bos Steven.
“Tak salah lagi,” ucap Mr Clean. Dia mengontak rekan sekerjanya di Graha Police untuk segera datang ke TKP pada tengah malam ini juga setelah ditemukan jasad korban pembunuhan Bos Steven, pimpinan Geng Mawar.

15

“GIMANA ini Bro?” Bisik lonjong. Dia mulai kuatir jejak mereka, cepat atau lambat, akan segera diketahui oleh polisi.
“Sssst … tenang,” ucap jambang. Berpikir sejenak. “Sebaiknya kita menjauh pelan-pelan.”
“Apa tidak ketahuan?” Muka bulat ragu karena Nona Sabrina sempat melihat ke arah persembunyian mereka sepintas, sebelum masuk sambil membawa mayat Bos Steven ke dalam, menuju ruang tamu.
“Sssst …” bisik jambang. “Cepaaat ..”
Mereka mengendap-endap mundur beberapa langkah ke belakang. Ke tempat persermbunyian baru ini lebih lebih rawan ketimbang sebelumnya. Selain penuh semak belukar, suasana sekitar sangat gelap dan lebih sunyi. Hanya ditemani suara jangkrik dengan sesekali katak ‘bernyanyi secara bergantian.
Tapi, seperti kata jambang pada kedua rekannya, di tempat persembunyian mereka sekarang ini jauh lebih aman karena tidak terpantau Mr Clean dan Nona Sabrina yang masih berdiam di rumah kosong milik warga tersebut.
Mr Clean dan Nona Sabrina menemui beberapa warga dan bertanya tentang beberapa hal kepada me reka.  Namun kebanyakan dari mereka tidak tahu karena rumah kosong itu tak pernah ditempati pemiliknya.
“Pemiliknya ada. Tapi hanya sekali dua kami melihat mereka. Setelah itu tidak lagi. Jadi kami benar-benar tidak tahu Pak Polisi,” ujar seorang bapak berusia sepuh yang hanya mengenakan baju kaos dalam dan kain sarung.
“Kami sebenarnya kurang setuju kalau rumah yang sudah dibeli tidak dihuni. Kalau memang belum mau dihuni, ya dikontrakkan atau sewakanlah. Atau kalau tidak mau, suruhlah orang menempatinya. Biar kita ini tidak was-was lagi,” jelas Ketua RT.
“Nah, sekarang kejadian kan. Siapa yang tanggung jawab. Alamat pemiliknya tidak jelas. Walaupun jelas, karena kesandung masalah pembunuhan ini, tak mungkinlah ia mau memberitahu dimana mereka berada,” sambung Ketua RT di depan warga, Mr Clean dan Nona Sabrina.
Tak ingin berpanjang lebar, Mr Clean dan Nona Sabrina mohon diri. Namun sebelum meninggalkan rumah kosong itu, keduanya mengharapkan bantuan warga.
“Teleponlah saya atau Nona Sabrina ini, sekecil apapun informasi sangat penting bagi kami,” kata Mr Clean sebelum memasuki mobil patroli untuk kembali berpatroli di kawasan pinggiran dan pusat kota.
Warga lega karena tewasnya Bos Steven tidak menimbulkan kepanikan di kalanga mereka. “Mudah-mudahan begitu,” kata Pak Ketua RT,  sebelum bubaran dari depan rumah kosong, untuk kembali ke rumah masing-masing.
Bukan cuma warga yang lega. Jambang cs pun lebih dari lega. Kini mereka merasa plong. Sebab, Pak Polisi tak bakalan kembali lagi ke rumah kosong.
“Kalau ternyata kembali, bagaimana Bro?” Tanya si muka bulat. Karena bisa saja, untuk memperjelas penyelidikan, Mr Clean dan Nona Sabrina kembali lagi keesokan harinya.
“Kalau begitu, kita tinggalkan saja tempat ini,” saran jambang. Dua rekannya setuju, tapi mereka kecewa karena mobil Bos Steven sudah tidak ada lag di tempatnya semula.
“Gimana Bro?” Muka bulat tertunduk lesu. Untuk berjalan kaki tak mungkin karena sudah lelah dan bosan melakukannya lagi.
“Atau kita nginap dulu di rumah ini. Besok baru kita berpikir lagi mau kemana …” Usul lonjong.
“Oke Bro. Paling tidak pegal-pegal seluruh badan ini hilang kalau kita istirahat dulu malam ini,” kata muka bulat.
Jambang setuju …

(Tobe Continued)
  

Jumat, 26 Mei 2017

Bedeng Seng (4)





Novel 

Bedeng Seng (4)
Oleh Wak Amin


IX
“GOBLOK semuanya!” Bos Steven marah besar. Dia tempeleng satu persatu anak buahnya. Hanya diam dan pasrah. Memag salah mereka, sengaja membiarkan Muhsin kabur dari dalam kamar tawanan.
“Makan saja kerjanya kalian. Ngurus Muhsin saja tak becus.” Bos Steven meminta pertanggung jawaban jambang, muka bulat dan lonjong.
“Saya minta maaf Bos. Saya mengaku salah,” kata jambang, berharap Sang Bos tidak menghukumnya.
“Saya juga Bos,” ujar muka bulat. Saya siap menerima hukuman, tapi yang ringan-ringan saja Bos. Saya tak kuat lagi kalau yang berat-berat.”
“Saya juga Bos,” sambung lonjong. “Saya minta yang ringan-ringan saja hukuman buat saya. Kalau untuk mereka terserah Bos lah.”
“Enak saja. Sekarang, kalian bertiga harus cari Muhsin sampai dapat. Cepaaaat!”  Bentak Bos Steven.
“Kemana Bos? Kami sudah cari kemana-mana. Dia tetap tidak ada,” kata jambang.
“Bodoh. Pakai otak kalau ngomong.” Bos Steven menunjuk-nunjuk jidat ketiga anak buahnya.
“Cari ke rumahnya.”
“Tapi Bos … “Lonjong menduga Muhsin pasti melapor ke polisi.
“Tapi kenapa? Takut?”
“Kalau di rumahnya dia tidak ada, gimana Bos?”
“Culik kedua orang tuanya bila perlu.”
“Kasihan Bos. Mereka kan sudah tua. Lagi pula yang kita culik itu hanya Muhsin, bukan orang tuanya,” jelas jambang.
“Sejak kapan Bang kamu tahu dengan kasihan? Kita tak mengenal apa yang namanya kasihan itu. Mengerti?”
“Mengerti Bos,” jawab ketiganya serempak.
“Sekarang, cari ke rumahnya. Cepaaat!” Perintah Bos Steven. Dia menelepon wakilnya Mahmud. Memintanya ikut mencari informai kemana Muhsin melarikan diri dan bersembunyi sekarang ini.
Ternyata Muhsin sudah sampai di rumahnya dengan menumpang ojek. Dia disambut kedua orang tua nya dengan suka cita. Mereka berpelukan hari. Lama sekali. Terutama Bu Broto. Wanita berparas ayu ini tak henti-hentinya menangis.
“Ibu kuatir kamu kenapa-kenapa Nak. Syukurlah sekarang kamu sudah kembali dalam keadaan sehat walafiat.
“Kamu sudah lapor ke polisi Nak?” Tanya Pak Broto.
“Belum Pak.”
“Sudah. Sekarang istirahatlah dulu. Biar nanti bapak yang bicara sama Mr Clean,” kata Pak Broto dengan raut muka ceria. Tidak seperti sebelumnya, tegang dan selalu gelisah.
“Yuk, ibu antar kamu ke kamar sekarang,” ajak Bu Broto. Menggandeng tangan Muhsin yang tampak dingin menuju kamar yang biasa ia tempati itu.
“Bu .. aku lapar sekali,” kata Muhsin. Dia tiba-tiba rindu masakan ibunya.
“Tunggu ya Nak. Ibu ambilkan …”
Sementara  Pak Broto masih berbicara dengan Mr Clean. Dia mengatakan anaknya Muhsin telah kembali ke rumah dalam keadaan selamat dan sehat walafiat.
“Dia berhasil kabur saat para begundal itu sedang bermain gaple,” kata Pak Broto. Dia meminta Mr Clean menangkap penculik anaknya itu.
“Jangan dibiarkan bebas berkeliaran. Takutnya nanti aksi mereka kian menjadi-jadi Mister.”
“Baik Pak Broto. Kita akan cari tahu secepatnya keberadaan mereka. Kita akan tangkap mereka,” janji Mr Clean, bersama Nona Sabrina dalam mobil patroli menuju pertigaan air mancur.
Keduanya singgah sejenak di lapak pinggir jalan yang ramai pengunjung. Bermacam-macam makanan dijaja di sana.  Mulai dari bakso segala rasa, tahu dan tempe goreng, hingga soto dan sate ayam.
Mr Clean memesan sate dan roti bakar. Malam ini dia khusus mentraktir Nona Sabrina yang sedang berulang tahun ke 25.



X
“Ai  Bro … Kenapa aku tiba-tiba merinding. Ada apa ya?” Lonjong ragu untuk masuk ke kediaman orang tua  Muhsin. Muka bulat nyeletuk …
“Bilang aja takut ..”
“Betul Bro.” Lonjong ngotot. Selain merinding dia juga  merasa berat untuk membuka pintu pagar.
“Masa buka pintu saja repot,” kata jambang. Menyuruh lonjong dan muka bulat minggir. Dia pegang kuat-kuat pintu pagar dan …
Kreeeeng …
Pintu pagar terbuka.
Nyaring suaranya, membuat Pak Broto keluar dari rumah lewat pintu depan . Dia melihat ke sekitar.  Pintu pagar terbuka.
“Yah, hati-hati …” Pesan Bu Broto, ketika suaminya hendak menutup pintu pagar rumah yang separo terbuka.
“Rasanya tadi tertutup. Kenapa bisa terbuka ya. Ah, macam-macam saja. Mudah-mudahan saja tak terjadi apa-apa …”
Kletek …
Kreeet …
Dia tutup lagi pintu pagar. Kepada isterinya, Pak Broto mengaku heran kenapa pintu pagar tiba-tiba terbuka.
“Padahal tadi sudah ayah tutup, Bu.” Kata Pak Broto, meminta isterinya menutup pintu depan karena sudah malam.
“Mungkin ayah kelupaan,” jawab Bu Broto. Setelah mengunci  pintu, dia mengajak suaminya menunaikan salat Isya berjamaah di ruang tamu.
Hi hi hi hi …
Ssssst ..
“Jangan keras-keras,” bisik lonjong tak kuasa menahan perasaan gelinya.
“Aku bingung Bro.” Muka bulat menggaruk-garuk kepalanya.
“Bingung kenapa Bro?” Tanya jambang sambil melihat rambut muka bulat yang mulai ditumbuhi uban.
“Katanya kita mau culik orang tuanya Muhsin. Kenapa tidak langsung kita culik saja mereka?”
Jambang  dan lonjong baru sadar. Mereka lupa karena fokus untuk bisa masuk ke kediaman Pak Broto.
“Kamu punya usul Lat?”
“Eeeem .. masih bingung Bang, aku.”
“Kamu Jong?”
“Tengoklah sebentar lagi,” saran lonjong.
“Tapi banyak nyamuk disini lonjong?” Keluh muka bulat. Bisa habis darah ini dihisap nyamuk.
“Besar-besar  lagi nyamuknya. Iiich .. ngeri aku. Lihat tanganku …!” Muka bulat memperlihatkan tangannya yang penuh dengan bekas gigitan nyamuk.
Jambang berpikir sejenak. Diputuskan mereka masuk bertiga.
Tapi bersembunyi dimana?
“Dekat garasi saja,” ujar lonjong melompati pagar.  
Huuuup …
Mereka berlai  mendekat ke garasi. Tapi tak bisa masuk arena terkunci rapat. Mereka beralih ke samping. Ada tumpukan barang di sana.
“Disini saja dulu,” bisik jambang, “Buat sementara saja.”
Kedua orang tua Muhsin masih menunaikan salat Isya berjamaah. Sementara Muhsin mulai terlelap. Sejak tadi dia selalu gelisah. Belum mau memejamkan matanya.
Tujuh menit kemudian …
“Assalamualaiku warohmatullahi wabarokatuh …” Dua kali mengucap salam. Pak Broto mulai berzikir, dilanjutkan dengan berdoa memohon keselamatan, ampunan dan dimudahkan segala urusan.
“Gimana Bro?” Lonjong sudah tak sabar ingin masuk.
“Gimana apanya?”
“Masuklah Bang, dan culik mereka.”
“Sekarang?”
Lonjong mengangguk.
“Gimana Lat?
“Okeee …”
Mereka pun  bergeser ke kiri. Mendekati pintu  belakang. Setelah dicoba untuk dibuka, pintu tak juga mau terbuka. Mati akal, jambang cs berusaha cari jalan lain.
“Ahaaa .. aku puny aide” ucap jambang tersenyum lebar.
“Pasti suruh aku yang masuk kan? Tak mau ah,” kata muka bulat. Justru ia menyuruh lonjong lah yang masuk lebih dulu.
“Enggak mau ah,” jawab lonjong.  Saling tarik dorong ke depan pintu, jambang akhirnya membisikkan sesuatu di telinga kedua rekannya itu.
Apa bisikannya?
“Ahaaa … Kalau itu aku mau Bro.” Muka lonjong berubah berseri-seri.
“Aku juga,” sahut si muka bula melonjak kegirangan.

XI
TOK .. tok .. tok …
Tok … tok … tok …
Tok … tok … tok …
Pak Broto mengintip dari balik kaca jendela ruang tamu. Dia sibakkan gorden. Sementara isterinya, Bu Broto berdiri di dekatnya.
“Ada orangnya Yah?”
Pak Broto geleng-geleng kepala.
Setelah lonjong, kini giliran muka bulat yang mengetuk pintu. Pak Broto melihat jelas siapa orang yang mengetuk pintu itu..
“Telepon polisi saja Yah,” saran isterinya mulai ketakutan.
“Sssst … kita tunggu dulu. Lebih baik sekarang ibu pergi ke dapur bawa pentungan dua buah. Untuk ayah satu, ibu satu.” Pinta Pak Broto.
Sementara Bu Broto ke dapur, si muka bulat yang masih berdiri dekat pintu, coba mengetuk pintu lagi. Kali ini lebih keras.
Pak Broto cuma diam.
Dia melihat muka bulat mulai kesal. Dengan langkah gontai dia menemui kedua rekannya yang sembunyi di balik pohon besar nan rindang.
“Gimana Bro?” Tanya jambang, berharap ada reaksi dari Pak Broto.
“Nihil Bro.”
“Di dalam ada orang tidak?”
“Tak tengok aku Bang,” jawab muka bulat terus terang.
“Coba kau intip. Ada tidak orang di dalam?”
“Siap Bro.”
Dengan langkah malas, muka bulat mendekati kaca jendela luar ruang tamu. Dia tengok ke dalam. Tak seorang pun ada di sana. Dia kembali menemui rekannya yang menunggu dengan harap-harap cemas.
“Kosong Bro. Tak ada orang di dalam rumah,” kata muka bulat dengan raut muka kecewa.
Saat  jambang cs masih kompromi, Pak Broto meminta isterinya yang baru kembali dari dapur, segera mendekat.
“Mereka tadi mengintip ke dalam Bu,” jelas Pak Broto tertawa geli.
“Lalu Yah?”
“Ayah sembunyi lah di balik gorden.”
“Terus …?”
“Mungkin bosan ngintip ke dalam rumah, si laki-laki itu balik lagi.”
“Yah …” Sambil memberikan sebuah pentungan, Bu Broto meminta suaminya segera melapor ke polisi.
“Mr Clean, Yah. Kan ayah sudah pernah ketemu beliau sebelumnya.”
“Nantilah …”
“Tapi Yah …” Mulut Bu Broto buru-buru ditutup suaminya dengan telapak tangan.
“Sssst …” Memberi isyarat pada isterinya agar diam.
Kenapa?
Karena, jambang yang mendapat giliran terakhir mengetuk pintu, mulai berjalan mendekati pintu terbuat dari kayu jati itu. Dia melihat sejenak ke dalam. Lalu mulai pasang gaya. Mengetuk pintu.
Tok .. tok .. tok …
Tok .. tok .. tok …
Tok .. tok … tok …
Pak Broto memberanikan diri membuka pintu. Dengan hanya satu kali putaran anak kunci, dia tarik ke delam, pintu pun terbuka.
Nyeeeet …
Jambang bersembunyi di balik garasi. Dia wait and see saja. Begitu juga dengan kedua rekannya. Berharap Pak Broto keluar. Mereka sergap dan bawa kabur.
Anehnya, tiga menit berlalu, Pak Broto tak kunjung keluar. Jambang belum bereaksi.  Malu dibilang takut  oleh muka bulat dan lonjong, dia memberanikan diri mendekat ke pintu yang terbuka.
Praaak …
Gedebug …
 “Aduuuh … Toloooong!”
Jambang lari terbirit-birit setelah kepalanya kena pentung Pak Broto. Sedangkan isterinya mementung punggungnya.
Melihat jambang terbirit-birit mengaduh kesakitan menuju pintu pagar, muka bulat dan lonjong langsung mengambil  langkah seribu. Pontang-panting menyelamatkan diri.

XII
JAMBANG cs, karena tak kuat lagi berlari, mereka berhenti di sebuah pondokan, bekas pos ronda jaga malam. Kebetulan sepi. Jadi mereka aman-aman saja.
“Kamu sih Bang. Berani-beraninya,” celetuk muka bulat dengan nafas tersengal-sengal. Karena tak kuat lagi duduk, ia rebahan di alas tikar lusuh.
“Tak pula kutahu kalau ada orang. Kalau kutahu pasti kupanggil kalian berdua. Kita keroyok sama-sama,” kata jambang membela diri.
“Tak kusangka, kuat juga bapak emaknya si Muhsin itu. Aku juga, pasti lari lah. Tak kuat aku dipentung itu. Sakitlah rasanya badan ini,” ujar lonjon tertawa lebar.
“Ngomong-ngomong Bro. Sakit tidak badan kau kena pentung bapak emaknya si Muhsin itu? Tanya muka bulat penasaran.
“Sakit lah.  Apa kau tak dengar tadi aku kesakitan, mengaduh minta tolong sama kamu berdua. Dasar kamu saja tak mau menolong aku. Teman macam apa kalian berdua ini.” Kesal tampaknya jambang.  Berkali-kali ia hendak memukul dua temannya itu. Tapi urung karena tak tega.
“Maafkan kami Bro. Bukannya kami tak mau menolong kau,” ujar lonjong. “Tapi kami terpaksa berlari karena melihat kau berlari juga …”
“Iya. Maksudku. Waktu aku kena pentung, kalian berdua kan lihat. Nah, saat itulah kalian membantuku ikut memukul orang tuanya si Muhsin itu. Tau?”
“Tau Bro. Cuma …” Lonjong tak melanjutkan ucapannya setelah barusan dia melihat ada orang melintas di depannya.
“Kamu lihat Bro?” Tanya lonjong kemudian. Bulu kuduknya mulai merinding.
“Lihat apa?” Jambang balik bertanya.
“Lat .. Oii Lat.” Setelah dicolek berkali-kali, muka bulat baru bangun dari rebahannya. Dia sempat terlelap rupanya.
“Apa Bro .. apa?”
“Lihat apa Bro?” Muka bulat mengucek-ucek bola mataya yang memerah.
“Orang lewat tadi?”
Muka bulat mengatakan tidak melihatnya. Dia mengaku terlelap beberapa saat tadi. Untung ada yang membangunkan. Sebab kalau tidak, bisa semalaman ngoroknya.
Triiing …
Kelonteeeeng …
Suara orang melempar kaleng dekat pondokan. Kali ini, karena sama-sama mendengarnya, lonjong tersentak kaget. Turun dari dudukan pondok. Berdiri sambil berpegangan erat satu sama lain.
Suasana sekitar memang sepi. Jarum jam menunjukkan ke angka sepuluh malam. Tak seorang pun war ga malam ini yang lalu-lalang. Hanya sesekali terlihat satu dua kendaraan roda dua dan empat melintas lambat.
“Kita lari saja Bro.” Ajak jambang. Ajakan ini diamini kedua rekannya. Daripada menunggu di pondokan, gelap dan sepi. Lebih baik pergi dan kembali menemui Sang Bos.
Kriiiing …
Kriiiing …
“Jong. Hapemu …” Kata jambang mengingatkan lonjong yang setahu dia suara hape itu berasal dari saku baju lonjong.
“Hapeku hilang Bro,” jawab lonjong sambil menarik saku bajunya.
Kriiing …
Kriiing …
“Lat. Hapemu …”
Kali ini suara hape berasal dari saku celana muka bulat.
“Enggak Bro. Aku tak bawa hape. Hapemu barangkali,” ujar muka bulat memperlihatkan kedua kantong celananya yang kosong. Jangan kan hape, uang sepeser pun dia tak punya.
“Oha iya,” ujar jambang. Hape di saku celananya memang nyala. Sama-sama tengok. Mereka pikir pesan dari Bos Steven.
Tahunya …
Hi hi hi hi …
Hu hu hu hu …
He he he he …

(Tobe Continued)
 


Selasa, 23 Mei 2017

Bedeng Seng (3)

Novel …

Bedeng Seng (3)
Oleh Wak Amin

VI
DIMANAKAH Muhsin disekap?
Dia disekap di salah satu rumah kosong tak jauh dari kediaman Bos Steven. Kedua tangannya diikat dan matanya ditutupi dengan kain hitam, posisi duduk di atas kursi.
Hampir lima belas menit Muhsin sendirian di kamar tengah rumah semi permanen itu. Dia belum diapa-apakan Bos Steven dan anak buahnya.
Yang menjaga dan mengawasi Muhsin ada empat orang lelaki berperawakan sedang. tangan kanan Bos Steven. Mengisi waktu senggang, mereka lebih memilih bermain gaple di teras. Mereka baru beraksi setelah mendapat perintah dari Sang Bos.
“Sekarang kita main gaple dululah,” kata si gondrong tertawa lebar. Sudah dua gelas air kopi hitam ma nis dia habiskan. Perutnya semakin buncit  sementara rokok tak putus-putusjya ia hisap sedari tadi.
“Tapi tangan gue sudah gatal ini Bro,” sahut si jambang sambil ‘mengocok’ kartu domino sebelum dibagikan ke rekan-rekannya.
“Gosok saja pake cabe kalau gatal, Bro,” jawab gondrong. Dia taruh rokoknya di atas asbak karena harus menimang-menimang kartu sebelum permainan dimulai.
“Kalau ditanya Bos, bagaimana Bro?” Tanya si muka bulat. Mendapat giliran pertama menjatuhkan kartu di atas meja.
Praaak …
“Gampang itu Bro. Bilang saja sudah,” ujar gondrong. Lama berpikir. Padahal baru satu kartu yang akan dijatuhkan.
“Kalau nanti Bos tengok si dia yang kita culik itu enggak ngapa-ngapain. Mukanya berdarah tidak, lecet apalagi bekas pukulan, bagaimana Bro?” Giliran si lonjong yang bertanya. Dia terbatuk-batuk karena terlalu kuat menghisap rokok.
“Bilang saja ke Bos. Tahan pukul dia,” jawab gondrong santai. Dia tertawa melihat rekan di sebelahnya, si jambang ‘lewat’ karena tak ada buah yang sama dengan dia jatuhkan barusan.
Praaak …
Ceglaaak ..
“Apa itu?” Teriak si muka bulat. Lonjong berdiri kaget. Cuma benda jatuh, kayaknya dari arah dapur.
“Sudah lat. Kamu kan sudah berdiri. Tengoklah dulu …!” Pinta gondrong, khusyuk menghitung buah  yang berderet di atas meja kayu dengan  kartu di genggamannya.
“Woi lat. Belum juga pergi kau. Takut ya?” Ledek jambang.
“Bilang saja, kamu minta ditemani,” lonjong memanas-manasinya. Merasa disindir, dengan langkah mantap dia berjalan menuju dapur.
Ketiga rekannya tertawa geli.
Triiing …
Geuuur …
Creeesh …
Sampai di dapur terdengar suara piring berbunyi. Rak piring bergeser dan panci-panci yang seolah ditabuh.
Anehnya, ketika muka bulat mendekati rak piring dan peralatan dapur lainnya, suara itu hilang. Sebentar. Karena setelah itu …
Gedebug …
Jebleeesh …
Kraaash …
Seperti suara benda jatuh. Tapia pa. Muka bulat dengan perlahan-lahan mendekati ruang tengah. Dia lihat satu-satu. Mulai dari lemari pecah belah hingga keramik di samping buffet dan berjejer di lantai.
Enggak ada yang jatuh.
Muka bulat garuk-garuk kepala. Dia mulai kesal. Dia bermaksud menemui kembali ketiga rekannya. Tapi dia baru ingat, Muhsin tawanan mereka belum disamperi.
Apakah tidur, atau justru …
Nyeeeet …..
Pintu dibuka.
Muhsin ternyata sudah tidak ada di kamarnya.
Kemana gerangan dia?
“Gondrong … Jambang … Lonjong … Dia hilang!” Teriak si muka bulat dengan nafas tersengal-sengal.

VII
“ADA apa teriak-teriak lat. Bilang saja kamu takut kencing sendirian kan?” Sindir gondrong. Si muka bulat bilang Muhsin hilang. Tidak ada lagi di kamarnya.
Haaaa …?
“Pasti bohong kan?” Gondrong tak percaya. Jika memang benar Muhsin kabur, lewat mana.
“Belakang bisa Bro,” ujar lonjong.
“Cepat lat. Kamu cari sampai dapat,” perintah jambang.
“Ogah ah … Masa aku sendirian. Temanilah aku Bro…”
“Oke … Jong, kamu temani muka bulat. Cari Muhsin sampai dapat,” kata gondrong.
“Ogah ah … Masa berdua, berempatlah supaya adil.”
Jambang berpikir sejenak. Dia minta pendapat gondrong. Gondrong tak mau. Dia memilih lebih baik menunggu di rumah saja.
“Sekalian berjaga-jaga. Mana tau Bos datang,” tambah gongdrong.
“Ayo drong. Jangan begitulah. Berempatlah kita, biar adil,” rengek lonjong.
Gondrong tetap tak mau.
“Ya sudah,” kata jambang, “Kita bertiga saja cari Muhsin. Gondrong jaga tempat ini sampai Bos besar datang …”
Mencari kemana?
“Pasti masih di sekitar sini,” ucap lonjong. Santai sajalah. Tak kan lari gunung dikejar. Bentar juga Muhsinnya datang …”
Gerinciiiing …
Kresek .. kresek .. kresek …
“Suara apa ya?” Gondrong bicara sendiri.
Dia tak jadi duduk di ruang tamu. Dia cari asal suara itu.
“Sepertinya di teras,” katanya dalam hati.
Dia buka pintu. Dia lihat ke sekeliling teras, tak ada yang mencurigakan. Sunyi senyap.
Hanya terdengar suara jangkrik. Makin lama makin ramai kedengarannya.
Kletek …
Dia tutup lagi pintu. Terdengar lagi suara aneh tadi itu. Dia buka pintu lagi. Kali ini dia berjalan ke sekitar teras. Dia cari asal suara itu.
“Ah, cuma  kaleng bekas,” katanya, lalu mengambil kaleng itu dan diletakkan di balik tanaman bunga.
Angin bertiup lambat.
Si gondrong terkejut. Karena pundaknya seperti ada yang menepuk-nepuknya.
Gondrong menoleh ke belakang. Tak ada siapa pun di sana.
“Siapa ya?”
Gondrong mulai dihinggapi rasa takut. Sebab, tak mungkin rekan-rekannya yang melakukannya. Mereka masih mencari Muhsin. Kalau sudah kembali pasti mereka bilang. Tak mungkin sembunyi-sembunyi, apalagi sampai menakut-nakutinya.
Bruuuuk …
Badan giondrong terdorong ke depan. Saking cepatnya dorongan itu, dia jatuh tersungkur. Sakit juga rasanya. Walau cuma tersungkur di teras, lecet  juga dia punya tangan.
“Kampret …”
Gondrong mulai kesal. Ingin rasanya dia menyusul ketiga rekannya. Namun menyusul kemana. Kalau disusul, bagaimana jika Sang Bos datang sementara rumah ini ditemukan kosong, tak ada orangnya.
“Masuk sajalah lagi.”
Gondrong menghempaskan tubuhnya di atas tikar ruang tamu. Dia mengistirahatkan badan dan pikiran. Tapi hanya sebentar. Karena haus, dia menuju dapur. Dia tuangkan segelas air botol yang dibeli bersama jambang di warung tadi.
Setelah minum, dia kembali ke ruang tamu. Rebahan di atas tikar. Saat itulah tiba-tiba lehernya ada yang mencekiknya. Mulanya pelan, sedang dan berangsur-angsur kuat.
Gondrong meronta-ronta. Dia berusaha sekuat tenaga melepaskan cekikan itu. Sampai berguling-gulingan di lantai. Kedua kaki bergerak kesana kemari.
Guaaam …
Draaak .. draaak … draaak …
Berulangkali mengenai pintu, kedua kaki gondrong itu pun akhirnya tidak kuasa bergerak lagi. Gondrong tewas.

VIII
KARENA tak berhasil menemukan Muhsin, jambang, lonjong dan muka bulat memutuskan kembali mene mui rekan mereka gondrong. Mereka berharap ada jalan keluar terbaik mengatasi kaburnya Muhsin.
Tapi apa nyana, setibanya di rumah kosong tempat menawan Muhsin, gondrong sudah diketemukan te was. Tewasnya gondrong memukul mental jambang cs. Mereka tak menduga gondrong tewas dengan cara mengenaskan.
Siapa yang telah membunuhnya?
“Siapa lagi kalau bukan Muhsin,” kata si muka bulat, yang sudah tak sabar ingin menghabisi Muhsin.
“Menurutku bukan,” ujar lonjong berspekulasi.
“Alasannya?” Jambang berkeyakinan, siapa pun orangnya, pasti lebih kuat dan hebat dari gondrong.
“Kalian kan bisa lihat bagaimana Muhsin, dan bagaimana pula gondrong. Teman kita itu bukan orang sembarangan. Setahu saya, dia belum terkalahkan bertarung dengan kita-kita ini, termasuk kawanan dari geng lain,” terang lonjong.
“Sementara Muhsin,” lanjut lonjong, “”Orangnya tak sekuat yang kita kira. Kalau dia memang kuat dan hebat, mengapa tak bisa mengalahkan kita.”
“Tapi belum tentu jong. Jangan dikira orangnya loyo itu tidak kuat. Pada saat tertentudia bisa berubah jadi kuat,” jelas muka bulat.
“Oke. Kalau dia memang kuat, kenapa dia tidak mencoba melawan saat diculik?”
“Mungkin hanya taktiknya saja. Kalau dia melawan kita, okelah dia menang. Tapi dia juga pasti terluka. Nah, jadi dia pilih melawan dengan cara tidak melalui kekerasan …”
“Ngelantur kamu lat …”
Muka bulat tertawa …
Jambang meminta muka bulat meneruskan ucapannya …
“Biar lebih jelas,” katanya penuh harap.
“Caranya ya seperti sekarang inilah … dia kita tawan. Lalu kita main gaple. Dia keluar. Kan aman. Dia tak terluka. Kita yang keki dibuatnya.”
“Ah enggak percaya aku. Aku tetap berpendapat bukan Muhsin yang membunuh gondrong. Pasti orang lain,” jelas lonjong percaya diri.
“Muhsin ..”
“Bukan …”
“Muhsin …”
“Bukan …”
Priiiiiit ..
“Sudah .. sudah.” Jambang menengahi. Ribut-ributan reda. Ketika Bos Steven datang dengan raut muka biasa-biasa saja.”
Jambang menyambutnya.
“Bagaimana? Oke semua?” Tanya Sang Bos. Berharap ada cerita baru dari pengakuan Muhsin.
Sampai Sang Bos duduk bersila di ruang tamu, jambang cs saling pandang. Mereka sangat takut jika Sang Bos tahu Muhsin melarikan diri.
“Panggil Muhsinnya!” Perintah Sang Bos pada jambang.
Jambang melirik lonjong, aga dia saja yang memanggil Muhsin. Lonjong tak mau. Begitu juga dengan si muka bulat.
“Kenapa masih berdiri disitu Bang? Cepat panggil tawanan kita itu!” Bentak Sang Bos. Bentakan ini mem buat rokok yang belum disulut terjatuh ke atas tikar.
“Baik ..baik Bos,” jawab jambang. Berlalu pergi untuk membawa jasad gondrong. Tak lama kemudian dia kembali menemui Sang Bos. Dibantu lonjong dan muka bulat, meletakkan jasad teman satu gengnya itu di atas tikar ruang tamu. 
 “Apa-apaan ini Bang?”
“Gondrong Bos.”
“Kenapa? Tidur” Cepat bangunkan!” Perintah Sang Bos, segera berdiri sambil menelepon seseorang.
Jambang berharap Sang Bos tidak terkejut.
“Bos …”
“Bos …”
“Bos …”
“Apa?” Bos Steven mematikan hape selulernya.
“Gondrong tewas Bos.”
“Apa?”
“Tewas?”

(Tobe Continued)