Jumat, 19 Mei 2017

Bedeng Seng (1)

Novel …

Bedeng Seng (1)
Oleh Wak Amin

I
KETIKA sedang melakukan patroli di jalan raya, siang hari bersama Nona Sabrina, Mr Clean dikejutkan dengan aksi kejar-kejaran di jalan menuju pusat kota. Semula di trotoar depan pertokoan, berlanjut ke  kawasan kompleks perumahan.
Seorang lelaki muda usia dikejar beberapa pria  tanggung sambil membawa pentungan. Mereka tampak beringas dan sangat bernafsu untuk menangkap serta menghabisi si pemuda. Mereka mengejar tidak satu arah. Ada dari kiri, kanan dan juga dari depan.
Ketika berada di bawah pohon besar nan rindang, si pemuda berhenti.  Dia sepertinya bingung mau me nempuh jalan yang mana. Ke kiri sudah dihadang, ke kanan juga. Ke depan yang belum. Tapi kalau lari ke depan, selain hanya lurus, tak ada jalan pintasan.
Si pemuda akhirnya pasrah. Dia hanya diam. Namun dalam hatinya dia bertekad, jika ada peluang untuk meloloskan diri saat dihadang, tentu ia akan lakukan.
“Mau kemana haaa?” Hardik pria berantingan besar, berkulit hitam sambil memukul-mukulkan pentu ngan kayu ke telapak tangannya.
“Sikat sajalah Bos,” kata teman-temannya yang lain. Mereka sudah tak tahan lagi ingin secepatnya me mukuli lelaki di depan mereka ini yang seringkali lolos saat mereka kejar.
“Cepat. Serahkan apa yang kau punya itu!” Pria brewokan mendekat, lalu mengambil paksa bungkusan berupa kotak itu.
“Coba kamu buka sendiri!” Perintah si brewokan. Lelaki berambut lurus itu, dengan gemetar, membuka kotak bungkusan itu.
Namun, sebelum kotak itu dibuka, Mr Clean tiba di lokasi. Lalu bersama Nona Sabrina keluar dari mobil, meminta para lelaki jalanan itu untuk tetap di tempat.
“Cepat. Serahkan kotak itu kemari!” Perintah Mr Clean. Ketika rambut lurus berusaha mengambil kotak itu,  si brewokan menghalanginya.
“Tendang saja kemari. Cepat!”
Deguuug …
Seeeret …
Kotak itu sudah berpindah tempat dan tangan. Mr Clean belum mau membukanya. Dia dan mitra kerja nya, dengan senjata di tangan, meminta para begundal ini tetap berdiri.
“Jangan macam-macam,” kata Nona Sabrina. Sikapnya yang serius dan seolah marah itu justru ditang gapi santai oleh brewokan dan kawan-kawan.
“Hei Mbak. Godain kita dong,” rayu brewokan sambil cengar-cengir dan merapikan rambutnya yang basah oleh keringat dengan jari tangannya.
Praaak …
Auuugh …
Sebuah tendangan keras mendarat di selangkangan brewokan. Mengaduh kesakitan. Teman-temannya,  termasuk berambut lurus, hanya ketawa geli.
“Kenapa ketawa haaa?”
“Lucu Bos,” jawab si rambut lurus. Tadinya takut, kini mulai tenang dan tidak merasa takut lagi.
“Apanya yang lucu?”
“Masa kena tendang cewek enggak dibalas. Didiamkan saja. Mana kejantananmu Bos.”
“Apa?”
Hiyaaaat  …
 Brewokan dan kawan-kawan serta merta mengeroyok si rambut lurus. Tembakan peringatan yang dilepaskan Mr Clean ke atas tidak mereka hiraukan sama sekali.Mereka terus memukul sampai puas. Sebelum melarikan diri lewat jalan pintas.
Sementara Nona Sabrina menolong rambut lurus yang pingsan setelah terkena banyak pukulan, Mr Clean mengejar para pengeroyok yang memencar ke beberapa jalan.
Mr Clean sendiri, pada akhirnya memfokuskan pada seorang lelaki berkulit  hitam legam. Agak gemuk, dan larinya tidak terlalu cepat, sehingga dengan mudahnya dikejar Mr Clean.
“Berhenti!”  Teriak Mr Clean sambil mengarahkan senjatanya ke kaki hitam legam.
Dasar keras kepala, si kulit hitam bukannya mau berhenti,  justru berusaha mempercepat larinya. Karena meleng ,  kaki kanannya mengenai batu besar, jatuh tersungkurlah ia.
Bruuuuk …
“Bangun cepat!”
“Iya Pak Polisi. Tapi jangan bunuh saya,” rengek si hitam legam.
“Siapa yang mau bunuh kamu?”
“Itu .. pistol di bapak itu, buat apa kalau tidak untuk membunuh saya.”
Mr Clean menyelipkan kembali pistol ke pingang sebelah kanan.
“Sudah  … cepat bangun!”
“Baik Pak Polisi …”
Sementara Nona Sabrina memapah rambut lurus yang sudah siuman masuk ke dalam mobil, kini tinggal menunggu Mr Clean dan pria berkulit hitam legam untuk dibawa dan dilakukan pemeriksaan intensif di Graha Police.

II
SESAMPAINYA di Graha Police, si hitam legam dan rambut lurus diperiksa secara terpisah. Keduanya ditempatkan di ruangan berbeda. Jika si rambut lurus menempati ruangan kerja Nona Sabrina, hitam legam ditangani Mr Clean.
“Nama anda, sebutkan!”
“David,” jawab si hitam ketika diperiksa Mr Clean di ruangan kerjanya. Tak ada paksaan, pemeriksaan berjalan lancar. Sambil minum air kopi dan sedikit kue, David dengan lancar menjawab pertanyaan yang diajukan Mr Clean.
“Sudah punya pacar?”
“Belum Pak Polisi.”
“Mau saya carikan?”
“Tak usahlah Pak Polisi. Merepotkan. Biar saya mencari sendiri saja,” jawab David sembari  melanjutkan minum air kopi, sampai habis segelas.
“Mau tambah lagi air kopinya Vid?”
“Cukup Pak. Sudah kenyang.”
“Kuenya?”
“Cukup Pak. Benar, sudah kenyang.”
David mengaku hanya ikut-ikutan saja mengejar si rambut lurus. Karena ada sesuatu yang dia bawa. Mereka penasaran. Ingin menangkap dan memukulinya sampai babak belur.
“Ketika kami berhasil tangkap dia, bapak sama ibu yang tadi itu datang. Jadi kami belum tahu dan buka kotak yang dibawa si rambut lurus Pak …”
“Bos kalian siapa Vid?” Tanya Mr Clean.
“Satu brewokan, satunya lagi pake anting-anting, Pak.” Jawab  David terus terang dengan suara gemetar karena takut.
“Namanya Vid?”
“Yang brewokan namanya Steven. Sedangkan yang pake anting-anting bernama Mahmud …”
David menyeka peluh di mukanya dengan tangan. Mr Clean menyodorkan sekotak tisu, diambil David beberapa helai, lalu dengan tisu itu dia usap mukanya yang masih berkeringat itu.
“Sudah berapa lama anda bergabung Vid?”
“Baru beberapa bulan terakhir Pak.”
“Kenapa anda bergabung? Apa mungkin sekadar cari teman atau kerja Vid?”
“Dua-duanya Pak Polisi. Saya tertarik bergabung karena dengan bergabungnya saya dengan kelompok Steven cs, saya banyak teman. Mereka kan banyak. Hampir ada di mana-mana.”
“Lalu?”
“Daripada saya nganggur di rumah, saya piker boleh juga kalau bergabung. Mana tahu dari mereka saya dapat kerjaan Pak.”
“Sudah dapat?”
“Sudah Pak Polisi.”
“Apa pekerjaan anda Vid?”
“Macam-macam Pak Polisi,” terang David. Kini dia tak takut lagi. Berani dan mau buka-bukaan dengan Mr Clean.
“Macam-macam itu, apa saja Vid?”
“Banyak Pak. Ibarat kerja bangunan, saya itu borongan. Kerja apa saja, asalkan bangunan yang kita kerjakan itu cepat selesai …”
“Sebutkan yang anda lakukan saja Vid?”
“Baik Pak. Saya disuruh meminta uang dan menagih uang jaga keamanan, itu di antaranya Pak.”
“Anda pasti pernah memukul mereka yang tidak mau kasih uang kan?”
“Belum pernah, Pak. Soalnya, ketika misalnya saya menagih uang kepada pemilik toko, saya tidak tetapkan besarnya uang yang saya tagih itu …”
“ Rugi dong Vid. Pasti anda kena marah Sang Bos kan?”
Ha ha ha ha …
David ketawa …
‘Rugi tidak, kena marah juga tidak, Pak Polisi.
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena Sang Bos tidak menetapkan besarnya jumlah uang yang diminta itu. You minta ke dia, usahakan dapatlah, paham? Saya jawa, paham Bos.”
“Duit itu disetor ke Bos, Vid?”
“Betul Pak.”
“Anda dapat komisi?”
“Kalau komisi tidak ada Pak. Tapi kalau dikasih berapa saja oleh Sang Bos, saya terima. Tak mungkin saya tolak. Sebab, kalau saya tolak, berarti saya menentang beliau …”

III
“SIAPA namanya Mas?” Baru saja masuk dari membikin air kopi di ruang sebelah, Nona Sabrina memper silakan Muhsin minum terlebih dahulu. Supaya tidak tegang, dan ini bukan pemeriksaan, tapi lebih pada perkenalan.
“Saya belum tahu, makanya saya tanya nama ya Mas. Enggak usah takut. Saya tak bakalan menggigit, apalagi sampai ngapa-ngapain kamu …”
“Muhsin Bu,” jawab Muhsin sekenanya. Dia mau minum, tapi tak jadi. Karena air kopinya masih panas.
“Coba aja dululah .. Enggak panas kok. Ayo Mas Muhsin!”
Sambil meniup air dalam gelas, ia dekatkan mulut, lalu …
Huuurp …
Huuurp …
“Nah kan, enggak apa-apa.”
“Iya Bu.”
“Jangan panggil saya ibu, Mas. Mbak ajalah …”
Muhsin tersenyum, lalu mengiyakan. Pikirannya masih tak karuan. Banyak pertanyaan di benaknya. Salah satunya adalah ‘Apakah saya harus menginap di Graha Police ini?”
“Ah … mudah-mudahan saja tidak,” katanya dalam hati. Dia betulkan letak duduknya, sehingga tampak lebih rapi dan sopan dengan kedua kaki merapat ke lantai.
“Oke. Sekarang kita mulai ya Mas. Tak usah gugup. Sebab, kalai Mas gugup, kita tunda dulu tanya menanya ini …”
Sebenarnya Muhsin lebih memilih bisa pulang cepat ke rumah. Jangan berlama-lama di Graha Police. Di rumah dia bisa istirahat, tidur atau mengerjakan aktivitas lain yang dia senangi.
“Mas!”
“Ya Mbak.” Muhsin menaruh kedua pergelangan tangannya di atas meja.
“Melamun ya?”
“Enggak Mbak.”
“Oke .. sekarang coba Mas ceritakan kenapa bisa sampai dikejar dan dikeroyok para pemuda tanggung itu?”
“Singkat saja ya Mbak …?”
“Boleh.”
“Dari rumah saya disuruh mengantarkan barang ini,” kata Muhsin sambil menunjuk kotak yang masih terbungkus rapi di sebelah kanannya.”
“Kemana?”
“Ke rumah seseorang tak jauh dari Graha Police ini,” jelas Muhsin.
“Apa isi kotak itu, Sin?”
“Boleh dibuka ya Mbak?”
“Boleh dong Mas. Kan itu kotak punya Mas Muhsin sendiri …”
Jreeet ..
Sreeet …
Kresek … freeesh …
Bungkus kotak sudah dibuka. Sekarang tinggal membuka kotaknya.
Treeek  …
Jreeesh …
“Nah Mbak. Inilah isinya. Bagus kan Mbak?” Muhsin memperlihatkan sebuah boneka perempuan cantik jelita.
Nona Sabrina terkesima. Bukan soal bonekanya. Tapi kemiripannya itu. Hampir mirip dengan manusia sungguhan.
“Yang bikin kamu Mas Muhsin?”
“Bukan Mbak.”
“Lalu?”
“Boneka ini pesanan seseorang. Saya hanya disuruh mengantar oleh kedua orang tua saya. Kata mereka, ini pesanan buat seseorang. Jadi saya antarkanlah … Eeee taunya Mbak, di tengah jalan, karena dikira bawa uang banyak, dihadanglah saya, dikejar dan mau dirampok. Untunglah Mbak sama …”
“Mr Clean,” sambung Nona Sabrina.
“Mr Clean datang. Kalau tidak, habislah saya dihakimi. Kotak ini diambil dan saya … “Muhsin agak malu mengatakannya.
“Kenapa Mas?”
“”Ditelanjangi.”
Ha ha ha ha ….

(Tobe Continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar