Novel …
Bedeng Seng (2)
Oleh Wak Amin
IV
SORE harinya David diperbolehkan pulang ke rumahnya dengan syarat wajib lapor beberapa kali ke Gra ha Police. Dia pulang sendirian dengan berjalan kaki. Dia menolak diantar Mr Clean. Karena jalan kaki di sore hari itu enak dan menyenangkan hati. Teduh, sejuk dan bersua banyak orang di jalan dan trotoar.
Setibanya di kawasan perumahan, David dibuntuti sebuah mobil sedan berwarna hitam. Mulanya jauh. Lalu mendekat dan di sebuah pertigaan tempat yang sepi, mobil itu berhenti.
“Vid, apa kabar Vid?” Sapa Steven sesaat setelah turun dari mobil. Diikuti Mahmud dan beberapa anggota dari Geng Mawar.
David tidak menjawab. Dia memilih ambil langkah seribu. Cepat sekali dia berlari. Steven tidak menge jarnya. Dia hanya memerintahkan anak buahnya masuk ke dalam mobil, dan selanjutnya mengejar David.
David bersembunyi di balik pohon besar. Ia tahu Sang Bos pasti mengikutinya kemana pergi. Dia belum bereaksi apa-apa ketika mobil sedan tadi berhenti di seberang pohon tempatnya bersembunyi.
Mahmud turun dari mobil. Cengar-cengir. Dia menoleh ke kiri dan kanan.
Mau apa dia?
Mendekati pagar di balik warung. Dia buka resluiting celananya.
Cuuuuur …
Kencing rupanya dia. Sedangkan Sang Bos, Steven asyik menelepon seseorang. Dua anak buahnya yang lain duduk-duduk di trotoar sambil memandang seliweran mobil yang tidak terlalu banyak melintas sore hari itu.
“Bos … sebaiknya kita berputar sekali lagi,” saran Mahmud. “Mana tahu, si David nya masih ada dan bersembunyi di sekitar sini …”
“Oke .. Kita putar sekali lagi,” kata Steven ketawa setengah ngakak mendengar teman teleponannya yang seorang perempuan muda mengajaknya adu bibir.
Ketika mobil melesat cepat ke kanan, David keluar dari persembunyiannya. Dia berlari sekencang mungkin ke arah kiri. Ada sebuah lorong di kanan, dia masuk ke lorong itu.
“Aman,” pikirnya dalam hati. Dia istirahat sejenak untuk mengatur nafas.
Dia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Selain lebih tenang dan menghemat tenaga, para pejalan kaki lainnya tidak menaruh curiga padanya. Lebih bersikap ramah dan bersahabat.
Saat memasuki lorong tempat tinggalnya, David singgah sebentar di warung langganannya. Dia membeli rokok ketengan. Maklum lagi bokek. Dia hisap rokok kretek itu beberapa kali, kemudian pergi meninggalkan warung itu.
“Itu dia Bos!” Teriak Mahmud pada Steven. Memutuskan segera mendekat dan menangkap David.
Karena mengira tak bakalan dibuntuti lagi oleh Sang Bos, David berjalan sesantainya saja. Meleng gang kangkung, kata orang kebanyakan. Dia baru sadar setelah kedua tangannya ditarik paksa seseorang, sementara kepalanya dipukuli.
Setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi. Dia baru ingat setelah sekujur tubuhnya disiram air dingin oleh teman-temannya sesama anggota Geng Mawar.
Ha ha ha ha …
Steven menuruni anak tangga sambil tertawa. Dia mendekati David yang basah kuyup kena siram air barusan.
“Apa kabar Vid?”
David diam. Tak enak hati dia menjawabnya.
Praaak …
Buuuk .. buuuk …
Auuugh …
Entah kenapa, semua teman satu gengnya memandang sinis pada David. Mereka meludahi dan memukulinya di bagian wajah, perut dan kepala berulangkali.
Padahal selama ini mereka berteman baik. Seia sekata. Satu susah, dibantu. Jadi semua merasa terbantu. Termasuk anak dan isteri anggota geng yang telah bergabung.
Di mata Sang Bos, David adalah anak buah yang baik. Semua pekerjaan berhasil ia kerjakan dengan baik. Walaupun bukan yang terbaik. Paling tidak David termasuk anggota Geng Mawar yang baik dan punya loyalitas tinggi.
“Pengkhianat. Bunuh saja Bos,” pekik beberapa temannya yang sebelum ini justru selalu mengelu-elukannya.
“Iya Bos. Gara-gara dia dibawa ke kantor polisi, semua yang kita punyai ini habis dikasih tahu,” sahut si sontoloyo.
“Iya Bos.”
“Daripada bikin susah. Kita habisi saja dia …”
Steven tak ingin gegabah.
V
KEESOKAN paginya, warga dikejutkan dengan penemuan sesosok mayat di pinggir jalan. Pertama kali menemukannya adalah Muhsin. Dia buru-buru memberitahu Nona Sabrina.
Bersama Mr Clean, Nona Sabrina segera meluncur ke TKP. Setelah diselidiki ternyata mayat yang sudah mulai menebar bau anyir dengan muka separo rusak itu adalah David. Di beberapa anggota badan yang lain, seperti kaki, perut dan dada penuh luka.
Mr Clean amat terpukul dengan kematian Steven. Sebab, dia banyak berharap, dari pengakuan David banyak terungkap sepak terjang Geng Mawar dan beberapa kelompok geng lain di kota ini.
Dengan tewasnya David, Muhsin kini lebih waspada. Dia merasa Geng Mawar pasti menginginkannya ju ga untuk mati. Entah dengan cara dibunuh, disiksa sampai mati atau dipaksa untuk bergabung dengan kelompok Steven.
“Tak usah pula berlebihan Mas. Yang penting kamu waspada,” nasehat Nona Sabrina sesaat sebelum Muhsin meninggalkan TKP.
“Yang penting, kalau menemukan sesuatu atau apa saja kejadian yang menimpa kamu, kontaklah kami secepatnya,” pesan Mr Clean.
Muhsin yang semula kuatir dengan keselamatan dirinya pasca kematian David, kini sedikit tenang. Langkah kakinya mantap dan terasa lebih ringan ketika menaiki bus kota.
Bus kota ramai penumpang. Penuh sesak. Dia turun di sebuah halte. Lalu naik mikrolet bersama penum pang yang lain. Dia ingin secepatnya sampai di rumah. Dia ingin menenangkan pikiran. Dia ingin melupa kan kematian David. Dia ingin bebas dari rasa takut.
Bisakah?
Tok … tok … tok …
Pintu rumah diketuk. Di rumah hanya Muhsin sendirian. Anggota keluarga lainnya sedang keluar karena ada keperluan. Ada yang bekerja, ke pasar dan pergi ke sekolah.
Sreeeen …
Pintu dibuka.
“Ayo ikut kami!” Ucap salah seorang anak buah Steven, menarik paksa tangannya. Sedangkan teman satunya menutupi kepala dan muka Muhsin dengan baju.
Muhsin tak sempat berteriak minta tolong. Dia dimasukkan ke dalam sebuah mobil boks besar. Dia di pukuli beberapa kali sampai pingsan. Mobil boks pun melaju dengan kecepatan sedang. Meluncur ke jalan raya.
Tak seorang pun yang melihatnya. Kejadian itu berlangsung amatlah cepat. Hilangnya Muhsin baru diketahui kedua orangtuanya setelah sore hari. Rumah kosong, tidak terkunci. Namun tidak diketemukan hal-hal yang mencurigakan.
Kejadian hilangnya Muhsin ini sampai juga akhirnya ke telinga Nona Sabrina setelah kedua orang tuanya datang melapor ke petugas piket di Graha Police.
Mereka menemui Mr Clean yang baru saja masuk ke ruangan kerjanya. Sementara Nona Sabrina masih dalam perjalanan dari rumah ke kantor.
Kepada Mr Clean, kedua orang tua Muhsin berharap anak mereka bisa diketemukan secepatnya.
“Kami mohon dia selamat Pak,” kata Pak Broto, ayahnya Muhsin.
“Jangan sampai dia kenapa-kenapa, Tuan,” sahut Bu Broto. Menangis sedih. Karena baru kali pertama inilah dia mengalami kejadian seperti ini.
“Biasanya kalau dia pergi, ke warung saja, dia pasti pamitan Pak. Kali ini tidak sama sekali. Telepon saja tidak,” ujar Pak Broto sembari menenangkan isterinya yang menangis tersedu sedan.
(Tobe Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar